Disclaimer : Masashi Kishimoto

A/N :

Hanya fic iseng yang mempertanyakan 'pendapat' sebagian penulis fanfiction yang menganggap bahwa berciuman dalam waktu lama—dan hot—akan membuat pelakunya kehabisan napas dan mau tak mau harus berhenti berciuman untuk mengambil napas. Apa benar kejadiannya akan selalu seperti itu?


Naruto muncul secara tiba-tiba dan bertengger di jendela kamar Sasuke. Sasuke hanya melirik sekilas, lalu kembali membaca. Naruto mengerutkan kening saat melihat apa yang sedang dibaca oleh Sasuke, lalu mendengus pelan.

"Teme, menurutmu, berapa lama kita bisa berciuman?" tanya Naruto sambil melompat masuk ke dalam kamar, sekonyong-konyong.

Sasuke mengangkat kepalanya, memandang Naruto lekat-lekat. Draftpertama novel Paradise:Kissingkarya Hatake Kakashi—yang dimaksudkan untuk meneruskan IchaIchaParadisekarya mendiang Jiraiya—kini tak lagi menarik baginya. Ya, daripada hanya membaca kisah dua tokoh fiktif yang berciuman, tentunya akan lebih menarik mendiskusikannya dengan Naruto. Syukur-syukur jika Naruto tak berkeberatan melakukannya….

"Entahlah. Kurasa sampai kita berdua kehabisan napas atau jantung kita berdua berdebar terlalu kencang sehingga kita perlu menenangkan diri," jawab Sasuke serius.

"Ayolah, kita berdua adalah orang-orang terlatih yang terbiasa bertarung sejak kecil. Kita bisa mengatur napas kita agar pada saat berciuman, kita tidak akan kehabisan napas. Kupikir tidak jauh berbeda antara keadaan kita pada saat berciuman dengan keadaan pada saat kita bertarung," sanggah Naruto.

"Oh ya? Entahlah, hal itu tak terpikirkan olehku sebelumnya. Kita 'kan belum pernah berciuman sebelumnya, Dobe," balas Sasuke, "maksudku, benar-benar berciuman. Bukan ciuman karena ketidaksengajaan seperti pada saat kita masih anak-anak dulu…."

"Jadi, kau setuju bahwa dengan mengatur pernapasan kita, maka kita dapat berciuman dalam waktu lama?" tanya Naruto sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Sasuke.

"Hn," jawab Sasuke tanpa melepaskan pandangan dari wajah Naruto.

Naruto pun demikian, tetap memandang Sasuke lekat-lekat. Kemudian, untuk beberapa lama, tak terdengar apa-apa lagi dari dalam kamar Sasuke. Hening.***


Rumah Kakashi, dua jam kemudian.

"Kakashi-sensei, tadi sore Sasuke-kun menitipkan ini padaku," kata Iruka sambil menyerahkan sebuah amplop besar pada Kakashi yang baru saja tiba di rumah. Setelah itu, Iruka kembali meneruskan kegiatan memasak makan malam untuk mereka berdua.

"Wah, cepat sekali dia membacanya. Ada baiknya kalau untuk seterusnya, anak itu tetap kujadikan proofreader-ku," komentar Kakashi sambil membuka amplop.

"Baguslah kalau kau sudah menemukan penggantiku. Terus terang, aku tidak suka membaca novelmu yang penuh dengan adegan mesum itu," sahut Iruka dari dalam dapur, di sela-sela kesibukannya memasak.

Kakashi tersenyum tipis menanggapi komentar Iruka. Dengan tak sabar ia mengeluarkan naskah yang terjilid rapi. Keningnya berkerut dan sorot mata sayunya semakin meredup saat membaca tulisan yang ditulis besar-besar di sampul naskah.

PERBAIKI SEMUA ADEGAN CIUMAN!***

END


A/N :

Kesimpulannya, ciuman tidak akan membuatmu kehabisan napas :D