Disclaimers : Masashi Kishimoto

Sasuke membuka jendela kamar Naruto lebar-lebar. Naruto membiarkan saja meskipun merasa bahwa perbuatan Sasuke tidak seperti biasanya. Sebab, Sasuke adalah orang yang paling tidak peduli pada lingkungan di sekitarnya. Jendela kamar terbuka atau tertutup, baginya sama saja.

"Aku tidak mengerti," kata Sasuke sambil menengok ke sisi kiri jendela kamar, "apa bagusnya tumbuhan merambat itu?"

"Kau bicara apa?" tanya Naruto lalu duduk tepi jendela, "tumbuhan itu punya hak untuk hidup. Biarkan saja di situ. Lagipula, aku menyukainya, kok."

"Aku tahu hobimu yang suka sekali pada tanaman. Tapi, apakah kau tidak khawatir tumbuhan merambat itu akan merusak meteran listrik itu?" balas Sasuke sambil 'menunjuk' ke arah meteran listrik dengan dagunya. Nada suaranya terdengar seperti enggan menjelaskan.

Naruto ikut melihat ke arah yang sama. Benar juga, puncak tumbuhan merambat yang melingkari pipa air itu sudah menyentuh bagian bawah meteran listrik. Namun, ia tetap saja tak mengerti, apa yang harus ia khawatirkan dari tumbuhan itu? Tumbuhan itu tidak mungkin dapat merusak meteran listrik seperti kata Sasuke.

"Tumbuhan itu juga akan mengganggu aku," kata Sasuke lagi. Masih dengan nada 'malas'.

"Mengganggu bagaimana?"

Sasuke berpaling pada Naruto dengan pandangan tak suka. Seperti berkata bahwa ia tidak mengerti mengapa Naruto tak mengerti juga maksudnya.

"Mengganggu bagaimana?" ulang Naruto.

Sasuke menghela napas lalu menjawab dengan berat, "aku akan kesulitan memanjat pipa air itu jika hendak ke kamarmu."

"Kenapa kau harus memanjat pipa itu segala? Kau 'kan bisa lewat pintu?"

"Iya, tapi itu hanya terjadi jika kau sedang berada di sini. Bagaimana jika aku sedang ingin menemuimu tapi kau sedang tak berada di kamarmu?"

Naruto tercengang. Setelah berpikir sejenak, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke.

"Kalau begitu, kau punya dua pilihan. Pertama, kau bisa memiliki kunci duplikat dari kamarku ini," kata Naruto serius.

"Lalu... apa pilihan kedua?" tanya Sasuke, penasaran sekaligus curiga.

"Kau bisa pindah ke kamar ini sekaligus memiliki kunci duplikat kamarku," jawab Naruto diikuti senyuman lebarnya yang khas.

Sasuke ikut tersenyum. Lupa bahwa ia adalah seorang Uchiha.

"Apapun yang kau pilih, aku akan menyukainya. Asalkan kau tidak lagi memanjat pipa air dan membahayakan dirimu, Teme-ku," lanjut Naruto sambil mengedipkan mata.

Sasuke tersenyum lagi. Ia sudah menentukan pilihannya.