Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto


Naruto mencibir. Ia memang pernah menjadi murid terbodoh di kelas Iruka-sensei, tapi ia yakin, setidaknya ia punya satu hal yang bisa ia banggakan di depan Teme yang sombong itu. Setelah perdebatan mengenai kemampuan dan kepantasan menjadi seorang shinobi yang semuanya dimenangi oleh Sasuke, Naruto yakin bahwa kali ini ia akan membungkam kesombongan dan kesinisan Sasuke.

"Tapi kau tidak punya siapa-siapa! Aku punya Iruka-sensei! Sedangkan kau tinggal sendirian di rumahmu yang besar itu. Weee!" sergah Naruto lalu menjulurkan lidahnya.

Sesuai harapan Nauto, Sasuke terdiam. Teman satu timnya itu membuang muka. Naruto merasa di atas angin.

"Iya, 'kan? Kau sendirian. Yah, dengan sikap seperti itu, mana ada yang mau menjadi temanmu," lanjut Naruto sambil meletakkan kedua tangan di balik tengkuknya, lalu tertawa penuh kemenangan. Merasa belum puas, ia menggeser posisi tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Sasuke. Melihat wajah Sasuke yang telah kalah itu.

"Kalau kau..." Naruto menggantung ucapannya. Ia tertegun melihat ekspresi Sasuke yang di ljuar dugaannya. Tidak ada wajah Sasuke yang kesal karena 'kalah' berdebat. Juga tak ada wajah stoic khas Sasuke yang—herannya—mampu melelehkan hati para gadis penggemarnya. Yang ada hanya wajah yang—menurut Naruto—aneh jika ditunjukkan oleh seorang Uchiha Sasuke.

Naruto tahu betul ekspresi wajah itu. Dahulu Naruto pernah menunjukkan ekspresi wajah seperti itu saat melihat ayah Shikamaru menjemput putranya dan Choji usai bermain di taman bermain. Juga, saat Naruto mendengar para orang tua melarang anak-anak mereka bermain bersama seorang jinchuurikiseperti dirinya. Itu... ekspresi wajah menahan rasa sakit akibat luka. Bukan luka pada tubuh, melainkan luka pada hati, tempat yang paling sulit untuk disembuhkan. Luka hati karena merasa seorang diri di dunia ini.

"Mmmm, Teme, sebenarnya ada yang kulupakan. Aku lupa bahwa ternyata aku juga memliki Tim 7. Aku punya Sakura, Kakashi-sensei dan... kau juga, Teme. Kau juga memilikimereka, 'kan?" tanya Naruto hati-hati.

Sasuke membuang muka lagi, kali ini ke arah yang berlawanan. Naruto menghembuskan napas keras. Tampaknya ia gagal menghibur Si Teme yang menyebalkan itu. Yah, lagipula, untuk apa ia menghiburnya? Bukankah Sasuke itu...

Sasuke beranjak meninggalkan Naruto tanpa mengucapkan apa-apa. Naruto agak kesal, tapi kali ini diam saja.

Namun baru beberapa langkah, Sasuke sudah berhenti dan menoleh pada Naruto.

"Dobe," kata Sasuke dengan wajah stoicyang khas, "sampai kapan kau akan berdiri saja di sana? Kita harus menemui Sakura dan Kakashi secepatnya. Sebentar lagi hari akan gelap."

Naruto tercengang. Sasuke rupanya sudah kembali menjadi Sasuke yang ia kenal! Apakah kata-kata Naruto barusan membawa pengaruh padanya?

"Dobe! Jangan membuat teman-teman kita menunggu!" sergah Sasuke setengah membentak. Tampak kesal melihat Naruto yang masih berdiri saja.

Teman... katanya? Jadi Sasuke pun merasa memiliki Tim 7? Jadi...

"Baik, Teme! Tunggu aku!"

Naruto—dengan wajah tersenyum lebar—bergegas menyusul Sasuke. Temannya. Salah seorang yang Naruto miliki di dunia ini.

END


A/N:

Inspirasinya sih dari adegan pertengkaran Amaru dan Naruto di Naruto Shippuden The Movie : Bonds ;) Anggap aja ini awal dari niat saya untuk nerusin lagi multichapter yang terbengkalai.