Part 34 Jalan ke Charnau
Di suatu tempat di jalanan sebelah barat kota Eklaire
Rafael, salah satu budak laki-laki yang baru saja dibeli di kota Anteinde oleh beberapa prajurit Ghazi. Entah berapa lama dia dan budak lainnya berada di sebuah kendaraan besar yang disebut "Truk" dan bergerak tanpa ditarik oleh hewan apapun. Mereka sesekali berhenti dan melihat prajurit hitam yang mengawal dan mengantar mereka di perjalanan melakukan semacam ritual berdiri, duduk, dan bersujud.
Rafael tidak pernah mengetahui ada agama yang memiliki ritual seperti itu sebelumnya. Belum lagi mereka terlihat bersujud ke arah yang tidak jelas dan tidak ada objek apa pun yang sama setiap mereka melakukan ritual. Hal ini membuatnya penasaran agama apa yang mereka anut dan apa yang mereka sembah? Apa dirinya nanti juga akan dipaksa menyembah apa yang mereka sembah? Atau sebaliknya seperti pengikut dewa Solus, mereka malah akan didiskriminasi dan dilarang melakukan apa pun yang berkaitan dengan agama atau kepercayaan mereka?
Pada akhirnya Rafael berhenti memikirkannya. Lagipula dirinya masihlah seorang budak dan apapun yang mereka perintahkan nanti, dirinya dan budak yang lain tidak akan memiliki pilihan lain selain menurut. Di sisi lain, Rafael dan budak yang lain tidak pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang mereka alami dengan majikan mereka yang lain. Mereka tidak pernah dibentak, dipukul, dan bahkan diberikan makanan yang layak. Mungkin sekedar kata "Layak" tidak dapat mewakilkan makanan yang mereka dapat karena makanan itu bahkan lebih enak dari makanan apapun yang pernah mereka makan seumur hidup mereka.
Kendaraan yang mereka naiki juga sangat berbeda dengan kereta manapun yang pernah mereka naiki. Sangat nyaman dan guncangan apapun yang dialami oleh kendaraan itu seolah tidak akan dirasakan oleh penumpangnya. Kecepatannya juga jauh lebih cepat dari kuda manapun yang pernah mereka naiki. Semakin ke arah barat, semakin sering mereka melihat kendaraan lain yang berlalu lalang dengan bentuk yang berbeda-beda, tetapi memiliki satu kesamaan, mereka bergerak tanpa ada hewan apapun yang menariknya. Bahkan sebagian besar yang lain memiliki bagian luar yang nampak keseluruhannya terbuat dari logam. Bagaimana bisa kendaraan yang sepenuhnya terbuat dari logam dan pastinya sangat berat itu bisa bergerak dengan sangat cepat? Untuk sementara ini mereka hanya dapat mewakilkannya dengan satu kata.
"Sihir yang luar biasa."
Salah satu truk yang dia ketahui mengangkut anak-anak dan perempuan berpisah di salah satu persimpangan jalan beberapa jam yang lalu. Tampaknya mereka akan dikirim ke dua tempat yang berbeda. Hal ini akan segera diketahui oleh Rafael dan budak laki-laki lain mengapa mereka dikirim ke tempat berbeda. Akhirnya mereka tiba di sebuah tepi pantai yang berada di wilayah barat daerah Scotia. Sebuah dermaga sedang dalam proses pembangunan dengan ribuan pekerja di sana. Bahkan di bagian-bagian dermaga yang sudah di bangun juga terdapat kapal-kapal dengan ukuran yang sangat besar dan seperti kendaraan lain yang selama ini dia lihat sebelumnya, kapal itu memperlihatkan bahwa hampir keseluruhan bagiannya terbuat dari logam.
"Bagaimana benda itu dapat mengapung?"
Mereka pun akhirnya diminta untuk turun dari truk dan berkumpul di salah satu tempat dimana seorang prajurit hitam lainnya menunggu di balik meja. Seorang prajurit hitam berbicara di depan mereka memberikan penjelasan dan arahan.
"Baiklah, kalian lihat proyek-proyek itu? Itu adalah kunci kebebasan kalian. Kalian akan bekerja untuk kami selama beberapa bulan sebagai ganti penebusan kebebasan kalian. Mereka yang ingin tetap bekerja di sini setelah bebas akan mendapatkan upah yang layak dan mereka yang ingin pergi ke tempat lain, kalian bebas untuk pergi kemanapun kalian mau. Untuk informasi tambahan, di sebelah selatan dari sini, kami membangun kota kecil yang berjarak sekitar 40 kilometer dari sini. Kalian bisa tinggal dan menetap di kota itu jika kalian mau. Untuk hari ini, kalian bisa beristirahat setelah perjalanan panjang di tempat yang disediakan. Pekerjaan kalian akan dimulai besok."
Setelah pengarahan itu, mereka mengantri untuk mendapat seragam dan perlengkapan proyek dasar seperti helm dan sabuk pengaman. Pakaian seragam itu terlihat cukup bagus, sama dengan yang dikenakan oleh pekerja yang lain di area proyek itu. Bagi yang berniat untuk makan, mereka boleh mengantri ke bagian kantin di jam-jam yang telah ditentukan. Tetapi sebelum itu, mereka diarahkan ke sebuah camp-camp yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama bekerja. Di sana mereka juga akan dicampur dan diintegrasikan dengan pekerja lama.
Rafael memasuki salah satu tenda pekerja yang nampaknya muat untuk ditinggali sekitar 10 orang. Mereka bahkan mendapat kasur yang juga bisa dibilang cukup nyaman untuk tempat tidur ditambah meja dan lemari untuk setiap orang. Di tenda itu penghuninya berasal dari berbagai macam shift. Salah satu orang yang berada di samping tempat tidur Rafael nampaknya sedang tidak dalam shift bekerja dan hanya tidur-tiduran sambil menulis di suatu buku, mungkin itu adalah buku hariannya.
"Ano…" Rafael mencoba menyapanya, tapi tidak tahu harus bilang apa.
"Oh, kau orang baru di sini ya, kau bahkan belum mengganti bajumu."
Orang itu berbicara dengan bahasa Leonia, membuat Rafael sedikit terkejut, memikirkan bahwa kemungkinan dia adalah orang Leonia. Kenapa ada orang Leonia yang bekerja di sini?
"Oh, kau sepertinya bukan orang Leonia ya. Tampak dari wajahmu yang seolah terkejut melihatku berbicara dengan bahasa Leonia. Apakah kau bisa memahami kata-kataku?"
Rafael mengangguk.
"Bagus, mungkin kita berdua bisa akrab. Ngomong-ngomong namaku Romeo, aku sudah berada di sini selama 3 bulan. Mereka menyebut tempat ini 'Dar el Bahri'"
"Aku Rafael, apakah kau juga menjadi budak orang-orang hitam?"
"Budak ya, aku tidak tau mereka menyebut kami budak atau hanya tahanan perang. Aku adalah bagian dari pasukan Leonia yang menyerang mereka dan ditangkap di dekat terowongan ajaib di dekat bukit Daria. Aku dan 15 ribu pasukan lainnya diberi pilihan untuk menebus diri kami sendiri. Bekerja untuk mereka selama beberapa bulan atau mengajari prajurit hitam membaca dan menulis. Setiap yang memilih untuk mengajari prajurit hitam membaca dan menulis hanya diwajibkan mengajari 1 orang saja. Harga yang cukup murah untuk menebus kebebasan kami bukan?"
"Jadi kenapa kau dan yang lain memilih ada di proyek ini dan malah membantu pasukan hitam membangun kapal-kapal mereka?"
"Oh, sepertinya kau salah paham. Aku sebelumnya memilih mengajari seseorang membaca dan menulis untuk menebus kebebasanku. Tapi aku dengar mereka yang mau bekerja untuk pasukan hitam ternyata mendapat gaji yang cukup menggiurkan."
"Jadi kau datang sendiri kesini untuk bekerja dan mendapat upah?"
"Begitulah, kebanyakan mereka yang disini juga akan seperti itu. Mungkin kau juga akan memilih untuk tetap bekerja untuk mereka bahkan setelah bebas nanti. Aku dengar mereka akan membangun beberapa pabrik dan pemukiman di sini setelah proyek dermaga selesai."
###
Markas Ghazi, pinggiran kota Anteinde
Sirine di markas Anteinde berbunyi berulang-ulang, tanda agar semua pasukan yang ada diminta untuk mempersiapkan diri. Di antara ribuan pasukan yang berlarian kesana-sini menyiapkan diri mereka dan pasukan mereka masing-masing, terdapat Ahmed dan juga anggota kompinya masing-masing. Mereka melangkah dengan cepat untuk menuju ke gudang senjata, mengambil peluru, granat, dan semua kebutuhan tempur mereka.
"Kapten, semua perwira tinggi diminta untuk menemui kolonel untuk briefing." Ucap Suleiman yang baru saja datang di gudang senjata ketika Ahmed sibuk mengumpulkan peralatan tempurnya.
"Aku mengerti."
Ahmed pun menyelesaikan kegiatan pengumpulan peralatannya sebentar sebelum bergerak keluar dari gudang senjata dan berjalan ke arah tenda komando. Ahmed sendiri masih belum mengerti kenapa markas tiba-tiba menjadi ramai dan semua prajurit menjadi sangat sibuk. Di parkiran kendaraan tempur, Ahmed juga melihat kru-kru tank dan lapis baja lainnya juga sibuk mengumpulkan dan memasukkan amunisi ke kendaraan masing-masing. Beberapa kru lain juga ada yang mengecek mesin-mesin kendaraan mereka.
Kejadian ini mengingatkan Ahmed pada kejadian 2 bulan lalu ketika Leonia menyerang benteng Andalusia. Apakah pasukan Leonia kembali menyerang mereka? Menurut Ahmed itu adalah kemungkinan terbesar yang saat ini terjadi. Tapi bagaimanapun Ahmed juga akan mengetahuinya di tengah briefing nanti dan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya terlebih dahulu.
Memasuki tenda komando, di dalam sana sudah ada beberapa perwira lain yang juga memegang komando dari kompi lain. Ahmed berdiri di antara mereka dan tak lama kemudian, kolonel Umar masuk ke tenda dan menyalakan sebuah proyektor. Proyektor itu menunjukkan rekaman pembicaraan raja Cheldric di istana Leonia yang saat ini disadap oleh gabungan pasukan khusus Hittin.
"Assalamualaikum semuanya, aku akan menjelaskan kenapa kalian semua dipanggil kemari secara mendadak karena apa yang akan kita hadap memang situasi darurat. Video ini baru saja ditangkap pagi ini. Seperti yang kalian lihat, mereka berencana untuk melakukan penjarahan dan pembumihangusan kota Charnau. Tentu saja kita tidak bisa membiarkan ini begitu saja. Jika ini terjadi, nyawa warga sipil akan mulai berjatuhan, belum lagi kerugian harta benda yang akan ditanggung seluruh kota."
Gambar pun berganti dan kali ini menunjukkan gambar tangkapan dari drone disertai tangkapan gambar dari citra satelit Al Huda.
"Kita juga mendeteksi pergerakan pasukan Leonia di kota Charnau dan sekitarnya. Memang jumlah mereka tidaklah banyak dan estimasi kasar kami sekitar 10 sampai 20 ribu personel pertahanan. Tapi ingat, jangan pernah sekalipun meremehkan kekuatan tempur musuh. Ketika kita meremehkan kekuatan musuh, di waktu itu lah kita menggali kuburan kita sendiri."
Kali ini gambar berganti lagi ke jalanan yang menghubungkan antara kota Anteinde dan Charnau.
"Musuh kita nampaknya sudah mulai beradaptasi. Memang dari rekaman itu mereka baru saja menyepakati tentang strategi perang baru. Tapi bukan berarti strategi itu belum dilancarkan sama sekali. Beberapa petinggi musuh sudah mencoba beradaptasi terlebih dahulu bahkan sebelum perintah itu sampai ke mereka. Kalian bisa melihat di suatu tempat di jalanan antara kota ini dengan Charnau, mereka membuat pertahanan parit dan bahkan terdapat bunker berisi balista dan ketapel juga. Mereka sudah mulai menerapkan teknik berperang modern yang berarti, pertempuran yang akan kita hadapi tidak akan sama lagi dengan pertempuran sebelumnya."
Proyektor pun dimatikan dan kolonel Umar memberikan informasi terakhir.
"Jarak dari Anteinde ke kota Charnau sekitar 200 Kilometer, itu artinya kita membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk sampai ke sana. Di sisi lain, kita juga tidak tahu kapan perintah pembumihangusan itu akan sampai ke otoritas kota Charnau. Mungkin kalian berpikir jarak berkuda dari kota Charnau ke Leon seharusnya ditempuh dalam hitungan hari atau bahkan minggu, tapi kalian juga harus ingat bahwa orang-orang Leonia memiliki penunggang wyvern yang dapat mencapai Charnau dalam hitungan jam. Kita tidak boleh membuang waktu karena semakin cepat kita sampai kesana semakin banyak nyawa yang bisa diselamatkan. Luruskan niat kalian dan berjuanglah untuk Allah."
Briefing pun diakhiri dan semua personil di ruangan itu diperbolehkan untuk kembali ke pasukan mereka masing-masing. Ahmed pun berniat menemui pasukannya lagi dan keluar dari tenda untuk menyampaikan hasil dari briefing yang didengarnya. Ternyata di luar tenda itu sudah ada dua wanita yang menunggunya dan sudah siap dengan peralatan mereka masing-masing.
"Vania? Cecilia?"
Yah, siapa lagi kalau bukan kedua istrinya. Mereka berdua sudah bertekad untuk selalu mengikuti Ahmed dan kali ini keduanya mencoba memenuhi tekad mereka.
"Kami akan ikut juga Ahmed." Ucap Sylvania yang sudah siap dengan pakaian tempurnya membawa busur barunya dan di punggungnya sudah ada sekumpulan anak panah.
"Kita sudah sepakat bukan kalau kamu akan membiarkan kami berdua bertarung bersamamu? Aku tidak akan membiarkanmu bertempur sendiri, wahai kesatriaku. Lagipula Charnau adalah kota Scotia, itu artinya sebagai seorang putri Scotia, mereka yang berada di kota Charnau masih menjadi tanggung jawabku juga." Cecilia mengenakan sebuah baju besi ringan yang seolah didesain untuk perempuan berbentuk gaun. Di samping kiri baju besinya terdapat pedang pendek yang disarungkan sedangkan di sisi kanannya terdapat tongkat sihir atau lebih tepatnya katalis Mana.
Ahmed pun yang tidak dapat mengelak hanya dapat tersenyum dan mengangguk, membuat kedua wanitanya ikut tersenyum juga.
"Baiklah, aku tidak akan melarang kalian, tapi kalian harus tetap berada di belakang kami dan ikut perintah dariku."
Keduanya pun mengangguk setuju.
"Aku mengerti Ahmed."
"Kata-katamu adalah perintah bagiku, kesatriaku."
Mereka bertiga pun akhirnya bergegas mencari posisi pasukan Ahmed yang lain. Mereka ternyata sudah berada di sekitar lapis baja Safir yang juga sudah mulai membentuk kolom konvoi. Kompi Ahmed pun ditugaskan di barisan paling depan. Karena ruang di dalam lapis baja Safir tidak akan cukup untuk semua orang, sebagian akan naik di atas Safir atau tank-tank yang ada di depan. Salah satu yang menaiki tank terdepan adalah Ahmed sendiri. Sylvania dan Cecilia juga sempat meminta untuk ikut di atas tank yang ditempati Ahmed, tapi Ahmed pun melarang keras dan meminta keduanya masuk ke salah satu lapis baja Safir.
Konvoi mulai berjalan setelah Ahmed menaiki tank terdepan. Di tank itu juga terdapat salah satu perwira yang memimpin pleton lapis baja yang berangkat bersamanya, letnan Zakir Nikolavic, perwira muda dari Bosnia..
"Senang bekerja sama denganmu kapten Ahmed. Aku sudah mendengar tentang banyak aksimu di Longnard, Orluire, dan di Anteinde."
"Ah letnan, sepertinya berita yang beredar terlalu dilebih-lebihkan. Aku hanya menjalankan perintah saja seperti halnya dirimu."
Keduanya mengobrol tentang aksi-aksi Ahmed sebelum mereka bertemu. Letnan Zakir sendiri belum sempat melihat pertempuran besar semenjak dirinya berada di Edela. Pleton tank nya baru saja memasuki Edela bulan lalu dan satu-satunya pertempuran yang pernah dihadapinya di Edela hanyalah operasi pembersihan dan pengamanan Anteinde di mana pasukan Leonia sudah banyak yang gugur ataupun kabur keluar dari kota.
Hampir 4 Jam berlalu semenjak konvoi berjalan. Kru tank dan lapis baja lainnya masih berjalan tanpa ada hambatan. Sebagian kru mengamati pemindai yang ada di instrumen lapis baja mereka, mencari tanda-tanda sergapan dari Leonia. Adanya kabar tentang perubahan strategi militer Leonia menyebabkan kekhawatiran adanya unit gerilya Leonia yang mungkin dapat menyergap mereka kapan saja.
Sebagian pasukan logistik yang berada di bagian belakang konvoi juga menerbangkan drone kecil untuk mengamati dan mendeteksi musuh dari jauh sebelum mereka melakukan kontak dengan pasukan garda depan. Salah satu staf yang mengoperasikan drone pun melapor ke atasannya. Informasi itu pun akhirnya disebarkan ke seluruh pasukan yang berada di konvoi, khususnya yang ada di garis depan.
"[bzzz] Perhatian, garis pertahanan musuh terdeteksi 500 meter di depan. Lanjutkan perjalanan dengan waspada. Beberapa SU90 akan membantu melunakkan pertahanan mereka untuk kita."
Ahmed yang berada di depan konvoi pun saling memandang dengan letnan Zakir dan mengangguk bersama seolah keduanya menyetujui sesuatu. Memang dari posisi keduanya, Ahmed dan Zakir pun juga dapat melihat garis pertahanan yang berupa parit itu dari kejauhan. Ahmed pun menghubungi seluruh pasukannya melalui radio.
"Perhatian untuk seluruh kompi J, kita akan menghadapi garis pertahanan Leonia. Turun dari kendaraan kalian masing-masing dan menyebar membentuk perimeter."
Setelah memberikan perintah itu lewat radio, Ahmed pun menuruni tank yang tadinya dia naiki diikuti oleh seluruh infanteri dari kompinya dan kompi yang lain. Mereka mulai menyebar hingga membentuk garis perimeter. Kendaraan lapis baja dan juga tank yang tadinya membentuk konvoi mulai ikut menyebar dan berjalan di depan infanteri menjadi pelindung mereka.
Mereka terus bergerak maju mendekati posisi musuh. Bahkan Sylvania dan Cecilia yang tadinya berada di dalam salah satu Safir, sekarang juga ikut turun dan berada di dekat Ahmed. Dari kejauhan mereka dapat mendengar suara gemuruh jet. Tak lama kemudian 4 pesawat SU90 melewati posisi mereka sambil meluncurkan masing-masing 2 roket.
SHOOOSSHHH
Delapan roket meluncur mengarah ke parit yang menjadi garis pertahanan Leonia. Ketika mengenai targetnya, delapan roket itu menimbulkan ledakan dan api besar seolah membakar apa saja yang berada di area ledaknya. Setiap orang di pasukan Ghazi yang melihat itu pasti tahu bahwa roket itu mengandung peledak napalm. Namun bukan berarti ledakan itu akan menghabisi seluruh orang Leonia yang ada di sana. Mereka semua tahu bahwa pertahanan parit sangat cocok untuk digunakan berlindung dari berbagai macam bom.
"Seharusnya tidak ada yang bisa lolos dari ledakan seperti itu." Ucap Cecilia dengan nada ketakutan melihat kedahsyatan bom yang ditunjukkan di depannya.
"Kita tidak pernah tahu sebelum kita mencari tahu langsung, jangan turunkan kewaspadaanmu Cecilia." Ujar Ahmed yang mendengar ucapan Cecilia.
Mereka terus bergerak mendekati posisi Leonia. Jarak mereka saat ini sekitar 400 meter dari pertahanan parit itu. Ahmed bisa melihat dengan jelas api yang membakar beberapa bunker dan pos yang terlihat di tengah-tengah parit itu. Menggunakan kacamata taktisnya untuk memperdekat pandangannya, Ahmed juga dapat melihat pasukan Leonia masih berlarian di tengah parit itu. Di tengah pengamatannya, ada salah satu atap pos yang terbakar, tetapi atap itu tiba-tiba dibuka dan di dalamnya terdapat ketapel yang masih utuh.
"Musuh masih memiliki kekuatan tempur yang besar, bersiap untuk serangan." Ucap Ahmed melalui radio.
Berbagai suara klik terdengar dari seluruh pasukan, mengindikasikan bahwa mereka mulai menyiapkan senjata mereka atau memeriksa peluru mereka. Tidak perlu waktu lama setelah peringatan dari Ahmed, sebuah bola api dilontarkan dari posisi Leonia yang mengarah ke posisi para Ghazi.
"AWAS SERANGAN!"
Bola api itu jatuh di tengah infanteri melewati barisan tank dan lapis baja. Wajar saja karena bola api itu datang dari atas, menyebabkan unit lapis baja tidak dapat melindungi infanteri dari serangan langsung bola api itu. Tidak hanya satu, bola api lainnya juga mulai ditembakkan dari posisi Leonia, beberapa mengenai posisi infanteri dan beberapa lainnya mengenai tank. Hal ini mirip dengan serangan artileri atau mortar bagi pasukan Ahmed.
"Laporan korban."
"[bzzz] 3 Orang gugur, 10 lainnya luka."
Ahmed dapat melihat tank dan lapis baja seperti safir tidak terlalu terpengaruh meskipun terkena serangan langsung dari bola api itu dan hanya meninggalkan bekas hitam saja.
"Semuanya, balas menembak!" Perintah Ahmed yang langsung direspon oleh pasukannya dalam bentuk tembakan ke arah garis pertahanan Leonia. Tak hanya infanteri tapi juga tank dan kendaraan ringan lainnya ikut menembakkan meriam mereka.
"[bzzz] Semua tank, fokuskan serangan kalian ke ketapel musuh." Suara letnan Zakir terdengar di radio.
BOOM BOOM BOOM
DUARR DUARR DUARRR
Satu persatu, posisi ketapel berhasil dihancurkan oleh tank. Sayangnya ketapel bukanlah satu-satunya ancaman karena selain ketapel juga terdapat balista yang anak panahnya sebesar tombak dan terbuat dari besi.
CLANG CLANG
Didesain untuk melawan naga, nyatanya balista itu tidaklah cukup untuk menembus lapis baja tebal dari tank CV-7 dan CV-8. Sayangnya lapis baja ringan dengan armor tipis seperti Safir, Hisan, dan Jamal masih dapat ditembus oleh balista itu.
Dengan anak panah yang disulut api, salah satunya bahkan mampu meledakkan salah satu jip jamal yang mungkin karena tembakan balista itu mengenai amunisi atau peledak di dalamnya. Sebagian besar Safir yang terkena balista masih dapat beroperasi dan menyerang tanpa ada masalah. Tetapi sebagian lain berhenti bergerak, kemungkinan anak panah itu mengenai operator yang ada di dalamnya.
Di tengah tembakan balista dan lemparan bola api, pasukan Ghazi terus bergerak maju mendekati parit pertahanan pasukan Leonia. Sylvania yang ada di antara pasukan ghazi juga turut mencoba membantu menembakkan beberapa anak panah yang ditargetkan ke arah operator balista atau ketapel. Ahmed sendiri masih terkagum dengan kemampuan Sylvania yang dapat menembakkan panah dengan akurasi tinggi meskipun dari jarak yang sangat jauh. Padahal Sylvania pernah bilang bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan seperti penguatan penglihatan atau tatapan elang. Mungkin kemampuannya murni dia dapatkan dari latihan dan pengalaman.
Memasuki jarak 200 meter, mereka mulai dihujani dengan anak panah kecil, tentu saja para ghazi membalas dengan tembakan senapan mereka disertai dengan senapan mesin dari tank. Mengingat bahwa anak panah itu ditembakkan dengan crossbow, anak panah itu ditembakkan dengan lurus dan hasilnya tank dan kendaraan lapis baja pun masih dapat melindungi pasukan Ghazi meskipun sebagian kecil masih ada yang terkena tembakan anak panah.
Pada titik ini, bola api pun akhirnya berhenti berdatangan. Balista pun sudah tidak terlihat lagi, hanya tersisa pasukan pemanah yang berlindung di balik parit. Cecilia pun akhirnya dapat unjuk gigi ketika jarak mereka sudah dirasa cukup dekat. Dengan menggunakan energi Mananya, Cecilia menembakkan beberapa bola api ke parit-parit pasukan Leonia. Tak butuh waktu lama bagi pasukan Leonia untuk mulai terdesak. Sebagian pasukan Leonia mulai berusaha berlari ke belakang untuk melarikan diri.
FLUSH FLUSH
Dari dalam parit itu, tiba-tiba muncul sihir api yang berbeda dari biasanya. Sihir itu berbentuk tombak dan berasal dari dua tempat yang berbeda. Salah satunya mengenai sebuah tanck CV-7 dan satu lagi mengenai Safir. Masing-masing berhasil meledakkan target yang dikenainya. Ahmed dan pasukan lainnya terkejut melihat pertama kali sebuah tank CV-7 berhasil dihancurkan di Edela. Belum pernah sebelumnya pasukan Leonia menggunakan serangan yang dapat meledakkan satu tank pun.
"Tombak api…" Gumam Cecilia.
Ahmed yang mendengarnya ingin sekali menanyakan itu ke Cecilia. Tetapi karena waktunya kurang tepat, Ahmed memutuskan untuk fokus dengan pertempuran di depannya dan menanyakannya nanti.
"Semua pasukan, mulai menyerbu! Allahu Akbar!" Perintah Ahmed yang disambung dengan kalimat takbir.
""""Allahu Akbar!""""
Para ghazi mulai berlari maju menerjang masuk ke parit-parit Leonia dengan bayonet yang terpasang atau pun pedang Scimitar yang mereka hunuskan. Terjadi pertempuran jarak dekat yang singkat di beberapa titik. Meskipun pasukan Leonia seharusnya lebih terlatih di pertarungan jarak dekat, namun mereka yang moralnya sudah jatuh seolah tidak dapat berbuat banyak. Di sisi lain, sebagian besar mereka juga tidak membawa perisai dan hanya membawa pedang mengingat sebagian besar persenjataan mereka sudah diganti dengan busur dan panah. Itu pun jika mereka sempat menghunuskan pedang untuk melawan.
Ahmed berlari memasuki salah satu parit, menembaki setiap pasukan Leonia yang terlihat sampai senapannya mengeluarkan bunyi klik. Tidak ada waktu untuk mengisi peluru, kali ini Ahmed mengeluarkan pistolnya, menembak prajurit Leonia yang tersisa. Salah satu prajurit Leonia menembakkan crossbow, Ahmed berguling ke samping menghindar sambil membalas dengan tembakan pistolnya.
KLIK
Peluru pistolnya habis, sedangkan di belakangnya terdapat seseorang yang berlari dan berteriak, membuat Ahmed segera berbalik sambil mengeluarkan katananya. Ahmed menggunakan katananya menahan seorang prajurit Leonia yang hendak menebasnya dari atas. Salah satu kelemahan katana yang ukurannya kecil, membuatnya sulit untuk tetap menahan pedang besar yang masih ditekan oleh prajurit Leonia itu, membuat Ahmed berlutut sambil masih menahan serangannya. Ahmed berniat membuat gerakan kesamping dan memberikan serangan balasan, namun belum sempat dilakukan, ternyata prajurit Leonia itu ditusuk dari belakang menggunakan pedang pendek yang mungkin lebih mirip belati.
Prajurit Leonia itu terjatuh ketika pedang yang menusuknya ditarik kembali, memperlihatkan sosok yang membantu Ahmed.
"Cecilia?"
"Ahmed, kau tidak apa-apa?"
Ahmed mengangguk.
"Aku sudah bilang padamu untuk tetap di belakang bukan?"
"Memang, sampai aku melihatmu menerjang ke dalam parit dan menghadapi banyak orang Leonia sendirian. Melihatmu dalam bahaya, aku tidak bisa diam saja bukan?"
ZEP ZEP
Ahmed menoleh ke belakang dan melihat seorang prajurit Leonia lain yang mencoba mengendap-endap di belakangnya tertusuk dua anak panah di kepala dan di lehernya. Di atas parit, Sylvania berdiri sambil membawa busurnya.
"Cecilia benar, kami berdua tidak akan membiarkanmu di tengah bahaya sendirian Ahmed."
"Kalian berdua…"
Sylvania mengamati sekitarnya di dalam parit dari atas, memastikan bahwa tidak ada orang Leonia lain yang mencoba menyerang mereka lagi.
"Tunggu, orang ini…"
Sylvania ikut melompat ke dalam parit, lalu menghampiri salah seorang prajurit Leonia yang berpakaian mencolok seperti bangsawan atau pengguna sihir dan bersandar di dinding parit sambil menutup matanya. Anehnya orang itu tidak memiliki satu pun luka di tubuhnya. Sylvania mengarahkan telapak tangannya dan telapak tangan itu mengeluarkan cahaya putih.
"Dia masih hidup, hanya pingsan saja karena kehabisan mana." Ucap Sylvania setelah selesai dan menurunkan kembali telapak tangannya.
"Sepertinya dia adalah salah satu orang yang meluncurkan tombak api sebelumnya." Cecilia ikut menanggapi.
"Tombak api?"
"Serangan yang dapat menghancurkan kendaraan besimu yang kau sebut 'tank'. Salah satu serangan terkuat dari pengguna elemen api yang bahkan tidak dimiliki oleh elemen lain sampai saat ini. Pengguna sihir biasa umumnya akan langsung pingsan hanya dengan menggunakannya satu kali. Aku sendiri pernah mencoba menggunakannya dan jatuh pingsan setelah dua kali menembakkan tombak api berturut-turut. Tombak api sangat jarang digunakan karena menghabiskan mana penggunanya dan area ledaknya juga cukup kecil, sehingga tidak sebanding dengan mana yang dikeluarkan. Aku dengar serangan ini hanya digunakan ratusan tahun lalu ketika naga api agung muncul karena waktu itu hanya tombak api yang dapat melukai naga api agung."
Ahmed mengangguk paham sambil berlutut mengikat pengguna sihir yang tidak sadarkan itu untuk dijadikan sebagai tawanan. Cecilia melihat tongkat sihir yang digunakan oleh pengguna sihir itu dan mengambilnya. Tongkat itu terlihat cukup bagus, mungkin bangsawan yang di depannya bisa dibilang cukup kaya untuk memilikinya. Cecilia berniat memberikannya ke Ahmed untuk dikumpulkan dengan barang rampasan perang lain.
"Simpan saja untukmu Cecilia, aku tahu kau menginginkannya. Lagipula hanya kau yang membuhtuhkan tongkat katalis di sini."
"Benarkah? Terima kasih kesatriaku!"
Cecilia bereaksi dengan memeluk Ahmed. Mendapat pelukan yang mendadak itu, Ahmed mengusap ujung kepala Cecilia yang tertutup kain kerudung. Sylvania hanya menggeleng tersenyum melihat pemandangan itu sambil memunguti anak panah milik Leonia yang bisa dia gunakan untuk mengisi sarung anak panahnya. Kadang kala wajah polos Cecilia membuat Sylvania tidak dapat memusuhinya sama sekali meskipun di dalam hatinya ada rasa sedikit cemburu ketika melihat Ahmed-nya dipeluk oleh perempuan muda itu.
"Kemarilah Sylvania."
Nampaknya Ahmed juga memahami tatapan Sylvania. Setelah menuruti Ahmed dan berdiri di sampingnya, Sylvania juga mendapat rangkulan dari salah satu tangan Ahmed yang masih memegang katana, membuat senyum di wajah Sylvania melebar. Sylvania pun menyerah dan menunjukan sisi manjanya dengan mengubur wajahnya di celah leher Ahmed.
"[bzzz] Di sini mubarizun 4, kami berhasil mengamankan parit di bagian kami."
"[bzzz] Di sini mubarizun 3, kami mendapati beberapa tentara Leonia yang menyerah."
Laporan keberhasilan mulai terdengar di radio. Tak lama kemudian, beberapa pasukan mulai mengumandangkan takbir, disusul oleh pasukan yang lainnya.
"""Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"""
Ahmed tersenyum lega melihat pertempuran yang telah usai dan diakhiri dengan takbir dari para ghazi. Ahmed melepas pelukannya di kedua istrinya, lalu pedang katana yang tadinya dihunuskan pun sempat dilap dengan sapu tangan sebelum dikembalikan ke sarungnya. Ahmed pun terduduk lelah di dalam parit, mengambil dan meminum botol airnya untuk melepaskan rasa lelah sekaligus menghilangkan dahaga.
Cecilia dan Sylvania ikut duduk di kedua sisinya sambil bersandar di bahu Ahmed, sedangkan kedua tangan Ahmed bergerak merangkul mereka. Siapapun yang melihatnya mungkin akan sedikit cemburu dengan kemesraan ketiganya. Untungnya setiap ghazi yang ada di sana tidak sempat memperhatikan Ahmed dan sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
"[bzzz] Laporan korban dari pertempuran, 30 prajurit luka-luka dan 10 prajurit gugur. Dari pihak Leonia, kita berhasil menumbangkan sekitar 2000 prajurit Leonia sedangkan 2000 lainnya sedang melarikan diri. Saat ini sebagian pasukan Ghazi sedang mencoba mengejar mereka."
Ahmed menghela nafas setelah mendengar laporan itu. Padahal awal mereka datang ke Edela, bisa dibilang mereka hampir tidak pernah mendapatkan korban gugur di pihak mereka. Sekarang musuh mereka benar-benar mencoba beradaptasi dan strategi baru mereka bahkan mulai membuahkan hasil. Ahmed berpikir bahwa peperangan ini harus segera diselesaikan sebelum Leonia bisa beradaptasi lebih jauh lagi yang akan mengakibatkan pertempuran dengan mereka akan semakin sulit.
"Aku bersyukur kalian berdua tidak terluka."
"Apa yang kamu katakan? Aksimu ikut menerjang musuh ke dalam parit malah lebih membuat kami berdua khawatir!"
"Kesatriaku, aku tahu kalau kamu ingin mengejar syahid, tapi setidaknya pikirkan juga nasib kami berdua sebagai istrimu."
Ahmed terkekeh menyadari bahwa aksinya yang tadi dilakukannya memang bisa dibilang cukup sembrono. Mungkin karena adrenalin perang dan juga seperti yang dikatakan Cecilia, mungkin jauh di dalam hatinya Ahmed juga ingin mengejar syahid seperti para ghazi yang lain. Tetapi perkataan Sylvania dan Cecilia sedikit menyadarkannya, terlepas dari keinginannya mendapat syahid, Ahmed tetap tidak boleh sembrono. Setiap nyawa seorang muslim berharga, termasuk nyawanya sendiri, apalagi sekarang Ahmed juga tidak sendiri dan memiliki tanggung jawab mengurus kedua istrinya.
"Aku mengerti, selanjutnya Insyaallah aku akan lebih berhati-hati."
Ketiganya menutup mata dan saling bersandar menikmati ketenangan sejenak yang mereka punya. Sayangnya ketenangan itu tak berlangsung lama. Salah seorang prajurit yang ada di bawah komando Ahmed ternyata sedang mencarinya. Prajurit itu adalah Rasyid, salah satu anggota regu yang dulunya di bawah komando Ahmed langsung dan untuk sementara ini masih diambil alih oleh Karim.
"Kapten, Sersan Karim sedang mencarimu. Katanya ada hal mendesak yang harus dia beritahukan."
"Baiklah, aku akan segera kesana."
Ahmed pun bangkit berdiri sambil kedua tangannya bersamaan mengusap kedua kepala wanitanya. Setelah naik keluar dari parit, Ahmed mengikuti langkah Rasyid yang mengantarkannya ke posisi Karim. Di dekat salah satu Safir, Karim ternyata sedang memegang radio dan berbicara dengan seseorang di balik sana. Entah siapa yang berbicara dengannya, Ahmed belum bisa mendengar suara orang yang ada di balik radio. Setelah berada di depan Karim, radio yang tadinya dipegang Karim pun diberikan ke Ahmed.
"Kapten, kolonel Umar ingin berbicara denganmu."
Ahmed mengangguk dan menerima radio dari Karim.
"Kolonel, kapten Ahmed di sini."
"[bzzz] Kapten, kerja bagus mengamankan pertahanan Leonia. Sayangnya aku memiliki 2 kabar buruk yang harus aku sampaikan kepadamu."
"Apa itu kolonel?"
"[bzzz] Pasukan Leonia yang mundur baru saja membakar jembatan untuk menyebrang sungai di jalur kalian menuju kota Charnau. Akan membutuhkan waktu beberapa jam untuk membawa dan memasang jembatan ponton di sungai itu. Kabar buruk yang kedua, nampaknya pengirim pesan dari kota Leon sudah sampai ke Charnau sekitar 3 jam yang lalu. Dari tampilan drone pengawas, orang-orang Leonia sudah mulai menjarah dan membumihanguskan kota."
Ahmed membelalakkan matanya ketika mendengar berita terakhir itu. Nampaknya situasi yang terjadi jauh lebih buruk dari yang mereka perkirakan.
"Kolonel, pasukan utama tidak akan bisa sampai tepat waktu. Begitu kita sampai di sana, Charnau pasti sudah diratakan dengan tanah!"
"[bzzz] Kau benar kapten. Pasukanmu bersama pasukan utama yang lain tidak akan pernah sampai tepat waktu. Itu sebabnya aku sedang meminta mobilisasi pasukan gerak cepat dari Longnard dan Orluire, sayangnya jarak mereka terlalu jauh dari Charnau dan akan membutuhkan waktu juga. Karena itu aku ingin kau dan berapapun pasukan yang bisa kau bawa berangkat ke Charnau dengan helikopter dan kendalikan situasi di sana sebisa mungkin sampai bala bantuan tiba."
Kolonel Umar menganggap Ahmed dan anggotanya merupakan pasukan yang paling berpengalaman di Edela. Dengan alasan itu lah kolonel pun memilih Ahmed dan anggotanya yang akan diberangkatkan.
"Aku mengerti kolonel."
"[bzzz] Baiklah, seluruh helikopter yang ada di Anteinde sekarang sedang diterbangkan untuk menjemputmu bersama dengan berapa pun pasukan tersisa yang bisa kami kumpulkan di Anteinde. Semoga Allah bersama kita, karena tidak ada kemenangan yang tidak datang dari Allah. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Radio pun ditutup dan Ahmed memandang ke arah Karim. Tanpa berkata apa-apa, Karim langsung mengangguk seolah mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Ahmed.
"Aku mengerti kapten, aku akan memanggil semua anggota kita yang bisa berangkat."
