Apa yang jauh lebih baik dari sekedar kembali ke Hogwarts? Benar sekali! Menjadi kapten tim quidditch.
Rasanya seperti mimpi ketika Profesor McGonagall dan Profesor Slughorn mengatakan padanya kalau ia akan menggantikan Adrian Pucey sebagai kapten. Ia tahu ia adalah pengganti tapi tidak jadi soal sekarang. Ia tetap seorang kapten.
Seleksi sudah berjalan dan tim sudah terbentuk. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena sejauh ini, sejauh yang ia ingat, ini adalah tim terbaik yang pernah Slytherin punya. Ia makin tidak sabar untuk memulai pertandingan pertama melawan Gryffindor.
"Kau di sini rupanya."
Draco mengangkat kepalanya dan menemukan Pansy duduk di seberangnya. Dia tampak tidak senang sama sekali.
"Kau mencariku?" Draco memasukkan foto tim qudditch ke dalam salah satu halaman buku pelajarannya dan memasukkan buku itu ke dalam tas sekolahnya. "Kau tampak kacau."
"Aku memang kacau," Pansy hampir berteriak tapi bisa mengatur suaranya agar tetap pelan. Ruang Rekreasi cukup penuh, sepertinya dia tidak ingin mengundang perhatian orang lain.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Draco bingung. Pansy seperti habis dihantam bludger.
"Bantu aku, Malfoy," pinta Pansy frustasi dan hampir menangis.
Draco mengerutkan dahi melihat keanehan yang terjadi pada Pansy. Gadis yang ia kenal sejak mereka kecil tidak pernah bingung dan kacau. Bahkan ketika orang tuanya menjadi buronan Pelahap Maut, Pansy tidak sekacau ini.
"Kenapa kau membutuhkan bantuanku?"
Pansy mengeluarkan tongkat dari saku jubahnya dan merapalkan mantra diam. "Aku pasti sudah gila, Draco. Aku pasti sudah tidak waras."
"Sepertinya sih begitu."
"Kau tidak membantuku sama sekali."
"Itu karena kau tidak memberitahuku apa yang terjadi padamu, Parkinson."
Pansy menarik napas panjang dan mendesah lelah sebelum berkata, "Aku mencium dengan Neville Longbottom."
Kini Draco yang merasa wajahnya lah yang habis terkena hantaman bludger. Pansy habis melakukan apa? Siapa yang diciumnya?
Pansy menutup wajahnya sambil berteriak. "Aku pasti sudah gila karena berpikir kalau dia keren. Aku menghabiskan waktu 2 hari bersamanya mengerjakan tugas Herbologi dan... dan... Merlin! Aku menciumnya."
"Kau yang menciumnya?"
"Aku tidak punya muka untuk bertemunya lagi, Malfoy."
"Kau malu hanya karena kau mencium Longbottom? Kau bodoh atau bagaimana?"
Wajah gadis di depannya kini merah layaknya tomat. "Dia tidak menciumku balik. Itu yang membuat aku malu."
Draco mendengus. Bukan rahasia baginya jika Pansy selalu bersikap agresif terhadap pria. Namun, untuk kasus yang satu ini sangat di luar dugaan. Neville Longbottom?
"Apa yang merasukimu sampai menciumnya?" tanya Draco jijik.
"Dia wangi sekali. Tubuhnya tinggi dan otot lengannya terlihat begitu mengagumkan."
Draco kehabisan kata untuk merespons ucapan Pansy. Penampilan Neville Longbottom memang berubah tapi tidak menyangka kalau perubahannya tersebut dapat membuat Pansy tertarik padanya.
"Kau tertarik padanya hanya karena dia wangi?"
Pansy mengigit bibirnya dan mengangguk malu-malu.
"Konyol sekali, Pans," kata Draco tak habis pikir. "Ini pertama kalinya kau tertarik pada seorang Gryffindor."
Pansy mendengus dan menyandarkan punggungnya sembari melipat tangan. "Setidaknya aku tidak sendiri."
"Memangnya ada juga yang tertarik pada Longbottom?"
"Bukan tertarik padanya tapi pada Hermione Granger."
Draco diam sebentar mendengar ucapan Pansy lalu bertanya, "Siapa yang tertarik Granger?"
"Kau."
"Aku?"
"Jangan pura-pura bodoh, Malfoy," kata Pansy menyeringai penuh kemenangan. "Apa yang membuatmu tertarik padanya, Draco?" tanya Pansy lagi dengan sedikit godaan.
"Aku tidak tertarik padanya."
"Kau yakin?" Pansy masih menyeringai. "Lantas, kenapa aku kerap kali melihatmu memperhatikan Granger di kelas?"
Draco menyipitkan menatap Pansy tajam. Ia tertawa hambar dan tidak berniat menjawab pertanyaan Pansy.
"Kau menyukainya kan, Draco?" tanya Pansy sebelum Draco pergi meninggalkannya ke luar Ruang Rekreasi.
.
Draco meninggalkan Pansy yang masih dalam kondisi tidak stabil meskipun masih dia masih mempunyai tenaga untuk menggoda Draco. Ia tidak peduli. Bukan urusannya jika Pansy merasa kacau karena Longbottom tidak balas menciumnya. Namun, bagaimana bisa Pansy tahu kalau Draco kerap kali memerhatikan Hermione Granger? Tidak sering, hanya beberapa kali. Ia juga tidak menampik, ia memang tertarik pada Hermione Granger.
Ia masih bertanya-tanya pada dirinya, kenapa Hermione bisa sebaik itu, memberikan kesaksian untuknya? Karena itu Draco sering kali memperhatikan Hermione.
Terlebih ketika seleksi beberapa hari yang lalu. Ia hampir terjatuh dari sapu begitu melihat Hermione sedang menatapnya. Yang lebih memalukan, Draco merasa senang karena dia ada di sana.
Draco berjalan tanpa arah dan tanpa sadar, ia tiba di bawah Menara Astronomi. Ia langsung menghentikan langkahnya ketika menyadari ia berada di tempat di mana Profesor Dumbledore meninggal.
Langkahnya ragu tapi ia tetap berjalan menaiki anak tangga satu per satu sambil memberitahu dirinya kalau semua kini baik-baik saja.
Begitu ia sampai di atas, betapa terkejutnya dia karena Hermione Granger ada di sana. Dia sama terkejutnya karena dia memekik dan menjatuhkan bukunya.
"Kenapa kau datang tanpa suara, Malfoy?" seru Hermione kesal sambil berjongkok mengambil bukunya.
"Memangnya aku harus melakukan apa? Menghentak-hentakkan kakiku? Lagi pula, aku tidak kau ada di sini," Draco mendengus.
"Terserah padamu," kata Hermione yang sudah duduk menekuk kaki dan kembali membaca buku seakan Draco tidak ada di sana.
Lagi-lagi, Draco tertegun pada cara Hermione duduk dan membaca buku. Apa dia memang selalu cantik seperti ini?
"Kenapa kau selalu membaca buku, Granger?" Draco mengambil satu langkah kecil lalu duduk tak jauh dari Hermione.
"Aku tidak selalu membaca buku, Malfoy."
"Baiklah, baiklah. Aku ganti pertanyaanku. Kenapa kau suka membaca, Granger?"
Hermione mendesah pelan dan menutup bukunya. Dia sedikit mengangkat ujung bibirnya sebelum menjawab pertanyaan Draco. "Pikiranku bebas ketika aku membaca, Malfoy."
"Apa pikiranmu terperangkap jika kau berhenti membaca?"
"Tidak juga tapi membaca adalah salah satu cara agar aku berhenti memikirkan hal-hal yang tidak aku inginkan."
Draco menjadi penasaran, apakah Hermione pernah memikirkannya?
"Contohnya?"
Hermione menatap Draco sebentar, seperti mengamati sesuatu lalu menjawab, "Perang dan orang tuaku."
Jawaban yang tidak ingin Draco dengar.
"Tenang saja, Malfoy," Hermione tertawa hambar. "Aku tidak akan membicarakan itu denganmu."
"Kenapa kau tidak akan membicarakan perang dan orang tuamu padaku?"
Hermione menaikkan kedua bahunya. "Aku tidak tahu, tapi kurasa kau tidak akan mengerti."
"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku tidak akan mengerti?" Draco merasa tersinggung dengan ucapan Hermione. Bukan hanya dia yang kehidupannya terdampak karena perang. Hidup Draco sama berantakkannya dengan semua orang. Selain itu, ia juga ingin tetap berbicara pada Hermione.
"Orang tuamu masih mengenalimu tapi tidak denganku."
Draco menelaah ucapan Hermione, ia tidak paham kenapa orang tuanya tidak mengenalinya lagi? Ia hendak bertanya tapi ia mengurungkan niatnya karena dia sudah kembali membaca. Aneh. Ia ingin Hermione tetap berbicara padanya tapi ia tidak ingin bertanya kembali. Draco tersenyum melihatnya. Kenapa ia telat menyadarinya kalau gadis di depannya ini benar-benar cantik?
"Baca yang keras, Granger."
"Apa?"
"Baca yang keras."
Hermione memberikan tatapan penuh tanda tanya tapi Draco hanya memberikan balasan berupa senyuman.
"Aku ingin tahu apa yang kau baca. Aku tidak tertarik untuk membaca saat ini tapi aku ingin kau yang membacakannya untukku karena aku ingin mendengar suaramu, Granger."
