"Anda mencari saya, Profesor?"
"Ah, Mr Malfoy, silakan masuk."
Draco pun melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam kantor kepala sekolah. Ia sudah beberapa kali masuk ke ruangan ini jadi ia sudah terbiasa dengan bisik-bisik dari lukisan para mantan kepala sekolah. Hanya dua lukisan yang tidak berbisik, bahkan tidak menampakkan diri mereka sama sekali.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu," kata Profesor McGonagall begitu Draco duduk nyaman.
"Anda selalu menyampaikan sesuatu setiap kali saya berada di sini, Profesor."
"Kau benar," Profesor McGonagall tertawa. Dia pun lalu berdeham seraya mengambil perkamen dari laci mejanya dan memberikannya pada Draco.
Ekspresi menjadi tidak bagus dan perasaannya tidak enak. Ia sangat mengenal emblem pada perkamen yang diberikan Profesor McGonagll padanya.
"Ibu saya mengirim surat pada Anda, Profesor?" tanya Draco. Ia berusaha agar suaranya tetap terdengar sopan.
"Ibumu sudah beberapa kali menulis surat padaku untuk menanyakan keadaanmu, Mr Malfoy."
"Kenapa ibu saya tidak menuliskan surat langsung kepada saya?"
"Itu adalah pertanyaan yang tidak aku tahu jawabannya," kata Profesor McGonagall. "Alasanku memintamu ke sini adalah karena ibumu meminta atau lebih tepatnya, memaksa dengan kerendahan hati agar kau dan timmu bisa menggunakan sapu terbang yang lebih baik sepanjang musim."
Draco masih mencerna informasi yang diberikan kepala sekolah.
"Tujuh sapu Milenium Firebolt diberikan oleh ibumu untuk Tim Quidditch Slytherin tahun ini."
"Apa?" Draco merasa tidak perlu menutupi keterkejutannya. Apa yang dipikirkan ibunya?
"Dia membelikan kami apa?"
"Milenium Firebolt, Mr Malfoy."
Draco tidak habis dengan pikiran ibunya. Kenapa harus sampai melakukan itu? Ia sendiri sama sekali tidak ada keinginan untuk mengganti Nimbus 2001-nya padahal ia bisa membelinya sendiri. Sapu yang digunakan rekan-rekannya pun bukan sapu jelek seperti Sapu-Bersih atau Komet. Milenium Firebolt adalah eksklusif yang dibuat hanya jika ada yang memesannya. Sejauh ini, hanya Montrose Magpies dan Puddlemore United yang menggunakan sapu itu di musim ini.
"Saya menolaknya, Profesor," kata Draco yakin.
"Sayangnya aku memintamu datang ke sini hanya untuk memberitahumu saja, Mr Malfoy, bukan untuk menolak."
"Saya harus menerimanya?"
"Jika kau membaca surat dari ibumu, kau akan tahu apa yang akan terjadi jika kau menolaknya."
Draco mengambil perkamen dari atas meja dan membuka surat ibunya. Ia membaca cepat sampai menemukan informasi yang ia butuhkan,
"Jika Draco menolak pemberianku maka kau bisa memberikan sapu-sapu itu untuk Tim Gryffindor, Minerva."
Apa yang dipikirkan ibunya?
"Aku tidak akan berbohong padamu, Mr Malfoy. Aku akan senang memberikan Tim Gryffindor Milenium Firebolt. Mereka tidak akan menolaknya sekalipun mereka tahu kalau sapu itu pemberian dari ibumu."
Kepalanya tiba-tiba sakit. Ia ingin sekali kembali ke rumah, bertemu dengan ibunya dan menanyakan maksud dari tindakannya. Sungguh di luar dugaan.
"Semua orang akan berpikir kalau saya membeli tim lagi, Profesor. Mereka akan berpikir saya memberikan sapu agar bisa menjadi kapten."
"Sayangnya semua orang tahu kenapa aku dan Profesor Slughorn memilihmu untuk menjadi kapten, Mr Malfoy."
Draco mengerang sampai menjambak rambutnya yang tidak panjang. Ia tidak suka tidak dapat berpikir dan bingung seperti ini.
"Apa kau ingin Gryffindor memenangkan piala tahun ini?"
"Tentu saja tidak," ucap Draco tanpa berpikir.
"Jadi, apa keputusanmu?"
.
"Aku menerimanya tapi tidak akan memakainya," kata Blaise, yang tidak seperti rekan timnya yang lain, yang seperti anak-anak kegirangan karena mendapatkan hadiah.
"Terserah kau," kata Draco seraya menutup lemari di ruang ganti. Ia pun sama seperti Blaise yang menerima sapu pemberian ibunya tapi tidak akan menggunakannya.
Mereka pun keluar dari ruang ganti dan bergegas menuju lapangan untuk latihan.
"Kenapa banyak sekali yang datang?" keluh Blaise begitu mereka tahu tribun penonton cukup ramai.
"Mereka ingin melihatku," jawab Draco yang dibalas tatapan menjijikkan oleh Blaise.
"Termasuk Granger?"
"Apa?"
Draco sontak mencari sosok yang disebut Blaise. Matanya menyusuri tiap kursi penonton tapi tidak menemukan Hermione Granger di sana.
Blaise pun tertawa melihat Draco yang kecewa karena tidak menemukan Hermione. "Kau memang menyukainya, kan?"
Draco menggerong, tidak ingin memberikan jawaban sama sekali. Ia lalu berjongkok untuk membetulkan tali sepatunya.
"Pansy memberitahuku kalau dia melihatmu bersama Granger minggu lalu di ruang kelas kosong di sore hari."
Draco memutar bola matanya seraya ia berdiri dan meraih gagang Nimbus 2001-nya. "Kau mempercayainya?"
"Pansy tidak pernah berbohong padaku."
"Apa dia memberitahu alasannya dia melihatku bersama Granger di ruang kelas itu?"
Blaise diam sejenak lalu menggeleng.
Draco mendecih. Dasar perempuan licik.
"Apa yang kau lakukan dengan Granger?"
"Pertanyaan itu yang seharusnya kau tanyakan pada Pansy."
Blaise tampak kebingungan.
Draco menyeringai lalu menepuk pelan pundak Blaise. "Kau akan terkejut jika tahu kenapa Pansy melihatku bersama Granger hari itu."
.
Draco menghindari Blaise setelah latihan. Ia langsung menghilang tanpa mengganti pakaian dan bergegas ke ruang rekreasi untuk mengambil buku dan melesat ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang sudah terlambat 3 hari. Ia yakin kalau Madam Pince akan menceramahinya.
Tingkahnya agak bodoh ketika ia masuk ke perpustakaan yang tidak terlalu ramai. Ia melonggok untuk mencari Madam Pince dan menemukan pustakawati itu sedang menulis sesuatu.
"Maafkan aku, Madam Pince," kata Draco pelan seraya memberikan buku-buku kepadanya.
"Terlambat lagi, Mr Malfoy?" sindir Madam Pince.
Draco tidak menjawab lalu mengeluarkan 1 galleon dan beberapa sickle dari dalam saku jubahnya.
"Oh, kau sudah tahu rupanya denda yang harus kau bayar," ujar Madam Pince agak berang.
"Bisakah aku meminjam buku lagi, Madam Pince?"
"Apa kau berjanji untuk mengembalikannya tepat waktu?" tanya Madam Pince galak.
"Yeah," jawab Draco pelan dan tidak bersungguh-sungguh.
"Aku akan menaikkan dendanya, khusus untukmu, jika kau terlambat lagi. Apa waktu 3 hari tidak cukup untukmu mengerjakan tugas menggunakan buku-buku yang kau pinjam? Kau butuh waktu berapa – ah, Miss Granger."
Draco tertegun karena Madam Pince yang sedang mengomel tiba-tiba menjadi ramah karena kedatangan Hermione. Gadis itu tampak terkejut melihat Draco.
"Mr Malfoy," kata Madam Pince lagi. "Kau bisa bertanya pada Miss Granger bagaimana caranya memaksimalkan penggunaan buku yang kau pinjam agar tidak terlambat mengembalikannya."
"Dengan senang hati, Madam Pince," jawab Draco dan dibalas kerutan dari oleh Hermione Granger.
.
"Kau tidak harus mengikutiku, Malfoy."
"Tapi aku ingin mengikutimu," jawab Draco sembari memperhatikan Hermione yang sedang menyusuri rak buku di bagian Rune Kuno.
"Apa kau tidak ada kegiatan?" tanya Hermione tanpa memberikan perhatiannya pada Draco.
"Aku baru saja selesai latihan," jawab Draco. "Semua tugasku untuk minggu ini sudah selesai. Jadi, tidak, Granger, aku tidak ada kegiatan lagi setelah ini."
Draco dapat mendengar Hermione menggerutu dalam pelan. Merlin, kenapa dia begitu manis?
"Jadi itu alasannya kau masih mengenakan seragam dan jubah quidditchmu?"
Draco mengangguk meskipun ia tahu Hermione tidak melihatnya. "Kenapa kau tidak ada di sana?"
"Apa?"
"Kenapa kau tidak kembali memata-mataiku lagi bersama Weasley?"
"Aku tidak pernah memata-mataimu," Hermione memberikan penekanan di setiap kata-katanya.
Draco tertawa menyebalkan.
"Lagipula, kenapa aku harus berada di sana?" Hermione kembali menggerutu, kini suaranya lebih kencang. "Aku tidak ada urusan denganmu atau teman-temanmu, jadi untuk apa aku harus berada di sana?"
Jawaban Hermione memang benar tapi Draco mengharapkan jawaban lain yang lebih bisa diterima oleh hatinya.
"Aku tadi membantu Susan menyortir lemari bahan ramuan Profesor Slughorn," kata Hermione lagi. "Ginny mengajakku tapi aku sudah terlebih dahulu membuat janji dengan Susan."
Draco masih bergeming meskipun ia tahu Hermione sudah berjalan kembali menyusuri rak buku. Dia memberikan penjelasan meskipun Draco tidak memintanya.
"Jika kau belum membuat janji, apa kau akan menerima tawaran Weasley untuk melihat Slytherin berlatih?"
Hermione yang sedang membuka buku, menoleh dan tampak berpikir. "Tidak," jawab Hermione lalu kembali pada bukunya. "Aku tidak akan menerima ajakan Ginny untuk melihat Slytherin berlatih."
Hati Draco rasanya seperti terpotong menjadi dua bagian. Jawaban Hermione seperti penolakan yang membuat hati dan juga jiwa sakit.
"Oke," kata Draco. Ia masih mengawasi Hermione yang masih membaca dan tampak sama sekali tidak terganggu. "Aku akan kembali ke ruang rekreasi," Draco langsung merasa bodoh karena memberitahu Hermione.
Ada secuil harapan kalau ia ingin Hermione memanggilnya begitu Draco membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari perpustakaan. Hermione tidak memanggilnya sampai Draco tiba di kamarnya. Ia membanting tubuhnya di atas kasur lalu kembali duduk dengan perasaan yang kacau.
"Sialan," umpatnya sambil melempar bantal ke lantai. Ia menghela napas lalu menekan dadanya, sakit.
