Katekyō Hitman REBORN! Hanya milik Amano Akira.
(Author hanya meminjam karakternya saja~)
A Special Thanks to MioRiChanRL.
.
.
.
Happy Reading, Minna-san~
.
.
.
Tsuna tercekat tidak dapat mengatur detak jantungnya. Merasakan sentuhan lembut dari handuk basah yang diusap oleh Hibari membuat bulu kuduknya merinding. Ia ingin mendorong jauh-jauh penjaga awannya, tetapi bahunya ditekan kuat oleh Hibari dimana mencegah dirinya untuk melarikan diri.
Sensasi asing menjalar ke sekujur tubuh Tsuna. Mengapa anak ini tak mampu berpikir secara kritis meskipun tekadnya sudah bulat untuk mencari tahu tujuan Hibari? Bertubi-tubi hujaman yang menusuk ulu hatinya, Tsuna jelas tidak akan bisa mempertahankan kewarasannya mengingat beberapa kejadian mengejutkan mentalnya.
Ranum merah bibir Tsuna terbuka tak sadar begitu pergerakan jemari kokoh milik Hibari masuk lebih dalam ke area cukup intim di balik kemeja seragam sang Juudaime. Setiap gesekan yang bersentuhan dengan kulitnya memberikan getaran listrik pada perut. Tsuna melenggak ke samping kanan, matanya terpejam tak berdaya.
Hibari menarik senyum mengerikan, reaksi Tsuna yang menggugah hasratnya berhasil merangsang bagian bawahnya. Ada yang mengeras di antara selangkangan Hibari, walau belum sepenuhnya berdiri tegak.
Sekali tarikan kasar, Hibari menyingkap pakaian Namimori pemuda brunette. Respon yang dikirim Tsuna berupa pekikan tertahan. Hibari menikmati setiap reaksi menggiurkan bos kesepuluh. Pemegang cincin awan itu memusatkan perhatiannya pada bahu Tsuna yang tanpa tertutupi kain baju.
Pundak seksi seputih dan selembut kapas Tsuna mengundang libido Hibari bertambah tajam. Surai hitam legam memajukan wajahnya mencapai bahu Tsuna yang terekspos. Saat hidungnya menjamah tulang selangka Decimo tersebut, Hibari menghirup perpotongan leher Tsuna dengan intens.
"H-Hibari-san—" Nafas hangat Hibari menggelitik hingga telinga Tsuna merah padam. Mulutnya ternganga meraup udara karena dirasa dadanya menyempit. Berharap dengan memanggil nama pelaku yang mendatangkan birahinya akan menjelaskan sesuatu.
Namun, Hibari belum berniat memberikan uraian apa pun. Ia mengacukan keinginannya untuk melepas hasrat terpendam yang sudah disimpan lama.
Ketika jari Hibari mulai menelusup ke sela-sela kancing Tsuna lalu meraba perut halus itu dengan gerakan menggoda, tiba-tiba sebuah pegangan lemah mendarat di dada bidang Hibari.
Sang pengguna tonfa pun memutuskan menghentikan tuntutan nafsunya. Bola mata Hibari bergulir menjemput tatapan Tsuna yang berkaca-kaca. Dia menemukan keraguan pada iris coklat kemarau Tsuna.
Seolah-olah memahami beban pikiran yang dipikul Tsuna, Hibari mengakhiri sejenak pemanasannya. Memang tidak akan berjalan baik bila salah satu dari mereka kebingungan menyikapi hal yang sedang terjadi.
"Tolong..." Untaian poni kakao Tsuna turun menghalangi sebagian mata jernihnya. Suaranya bergetar rendah tetapi masih terdengar menyenangkan di telinga Hibari.
Dengan sabar menunggu Tsuna menyelesaikan kalimat, Ketua Komite Kedisiplinan Namimori menyejajarkan kepalanya lurus menghadap rupa molek Juudaime muda dengan pandangan lekat. Tidak ingin melewatkan sekecil perubahan ekspresi yang diperlihatkan Tsuna.
"Hentikan—" Berusaha melaraskan antara irama jantung dan suara menggeligis Tsuna, ia kembali mengeluarkan kata-katanya meski dadanya naik turun kesulitan bernafas. "Aku... menyukai Kyoko-chan—" Sambung Tsuna, sembari memandang sorot mata Hibari yang dipenuhi kemauan kuat untuk menerkam mangsa tanpa ampun.
Sebagai seorang lelaki top maskulin nan gagah, Hibari menunjukan respon dengan mengangkat sudut bibirnya lebih tinggi.
"Aku pikir begitu." Punggung jari telunjuk Hibari menerka di telinga Tsuna. Perlahan menggerakkan ujung kukunya membelai seduktif pintu masuk lubang telinga bos Vongola.
"A—haa—" Badan Tsuna melonjak kaget kala bagian sensitifnya disentuh lihai.
"Perlu diingat jika dalam hubungan ada yang namanya top dan bottom bahkan versatile." Memulai pembeberan yang pasti tidak akan dipahami Tsuna, Hibari mengambil dasi pemuda rambut coklat.
Set.
Dasi yang mulanya terpasang rapi di sekeliling kerah Tsuna kini menghilang. Itu sedikit memudahkannya bernafas. Kadang-kadang dasi berpengaruh buruk dalam situasi genting seperti ini. Terasa mencekik lalu panas karena celah udara di sana sangat sedikit.
"Kau tau posisimu sendiri, Tsunayoshi?" Hibari menggulung dasi Tsuna pada jemari tangannya kemudian membentangkan dasi tersebut dalam satu hentakan. Dia tidak bermaksud mencambuk Decimo kita kan?
Tsuna tak langsung membalas. Melainkan bergidik ngeri mendengar bunyi hentakan dasi yang dihasilkan Hibari cukup keras.
"Tidak bisa menjawab, hm?" Tak ingin membiarkan Tsunayoshi-nya lolos dari pertanyaannya hanya dengan berdiam diri, Hibari menempatkan kedua tangannya yang saling menggenggam ujung ke ujung dasi itu di atas bahu pemuda brunette.
Alarm bahaya melalui intuisi Tsuna menyala. Terpaksa, bibir gemetarannya membuka lebar untuk menyahut apa yang dikatakan Hibari.
"Aku tidak mengerti... tapi posisiku tentu saja lelaki—"
Bruk.
Hibari menyilangkan dasi tersebut di sekitar area leher Tsuna seraya mendorong tubuh mungil bos kesepuluh menggunakan dua siku sang penjaga awan. Tidak lupa pula menyangga belakang kepala Tsuna oleh telapak tangannya.
Otomatis seluruh badan Tsuna menegang sempurna. Ludah ditelan susah payah begitu menyadari dasi yang seharusnya melingkar rapi di seragamnya malah digunakan Hibari untuk menyandera lehernya.
"Lelaki? He." Hibari sedang menindih Tsuna. Notasinya mengejek perkataan bos itu yang berbanding jauh dengan kenyataan. "Kau bahkan tidak berdaya melawanku."
Ibarat ditusuk jutaan jarum, harga diri Tsuna tercoreng.
"Kurang lebih seperti anak gadis yang akan ditelanjangi." Hibari menambahkan. Kali ini tidak ada seringaian yang membingkai rautnya.
Tanggapan Tsuna? Bukannya berusaha memperoleh martabatnya sebagai kedudukan laki-laki berkuasa, dia dengan ceroboh memampangkan semburat semanis strawberry pada pipi chubby nya. Sama sekali tak berkutik.
"...Jangan mem—" Elakan Tsuna tidak jadi meluncur lantaran Hibari memotongnya terlebih dahulu.
"Perempuan hanya ingin didominasi, Tsunayoshi." Pelan-pelan, wajah Hibari tertunduk menenggelami diri tepat di samping leher Tsuna. Membawakan hidungnya mendekat ke arah lekuk leher sang pimpinan langit.
'Didominasi?...' Pupil milik Tsuna membulat. Ucapan Hibari menggusur memorinya ketika Kyoko memberitahukan sesuatu.
"Aku berpacaran dengan Haru-chan."
Deg.
"Kami tidak melakukan hal yang buruk kok. Kami hanya saling mencintai."
Deg.
Apa itu mencintai? Seperti saat Tsuna menganggumi kecantikan Sasagawa Kyoko? Pertanyaannya, apakah Tsuna dapat membedakan antara cinta dan kagum? Rasa sayang sebatas sahabat? Rasa ingin melindungi semua orang yang dicintainya?
Cinta?...
Ada berapa bentuk cinta yang dimiliki Tsuna? Nyatanya makna cinta terbagi-bagi menjadi beberapa keping.
Eros, Agape, Storge, Ludus, Philautia, Philia dan berbagai macam lainnya.
"Lalu aku apa Hibari-san?..." Layaknya pangeran kecil yang tersesat, kepolosan Tsuna mengambil alih daya pikirnya. Melontarkan teka-teki dalam benaknya yang berhamburan di bawah kesadarannya.
Tsuna mengenal dirinya lebih baik dari orang-orang yang hanya mengetahui namanya. Ia dicap menjadi Dame-Tsuna karena tidak pernah berguna bagi teman kelasnya maupun untuknya sendiri. Kegagalan selalu mengitari kesehariannya.
Apa pun yang dilakukan Tsuna akan berakhir buruk. Jangankan mengurusi cinta, memikirkan siapa yang jatuh hati padanya memicu perutnya mual. Rasa takutnya terlalu berlebihan, Tsuna cenderung terpaku ke satu titik saja. Sehingga penolakan yang diterima dari orang-orang dianggap memalukan. Mungkin faktor terkena bullying?
Tsuna merasa insecure. Pasrah dengan keadaannya tanpa mau berubah. Ia menyerah setelah ribuan usaha mengkhianati ekspektasinya. Kalau dipaksa jujur, Tsuna benar-benar tidak tahu soal cinta.
Sekarang, cinta pertamanya pudar. Sasagawa Kyoko memilih Miura Haru. Ikatan pertemanan berubah mesra—Teringat masa lalu Tsuna disaat mood nya mengalami down parah. Ia pernah menulis diary di salah satu catatan kecilnya; Aku tidak peduli siapa pun itu, kemari dan cintai aku apa adanya.
Bi? Dipastikan Tsuna tak memusingkan gender untuk berhubungan asmara. Cuma—yah, dia kelewat payah menangani perasaannya, menyebabkan kebingungan panjang.
Kembali menyoroti sosok penjaga awan—Hibari menaikkan kepalanya ingin bertatapan dengan sang belahan jiwa. Senyum skeptis memahat pesonanya semakin tampan. Waktunya menanggapi keingintahuan Tsuna perihal; Lalu aku ini apa?
"Milikku, Tsunayoshi-ku." Hibari menyisir perlahan helaian surai coklat halus Tsuna. Memindahkan poni-poni itu ke pinggir telinga agar tidak menghalau mata rupawan bos kesepuluh.
"Eh?" Manik iris Tsuna melebar terkejut. Tadi—apa katanya?
"Bukankah itu sudah jelas?" Alis legam Hibari dinaikkan. Minat untuk menggoda Tsuna mengoyak gairahnya. "Bagian mana yang tidak kau pahami, Tsunayoshi?" Dilanjut oleh interogasi selanjutnya, Hibari melayangkan tatapan dalam menembus jiwa Tsuna.
"Kenapa Hibari-san selalu mengatakan hal yang tak bisa kumengerti?..." Jari mungil Tsuna meremat sprei ranjang sampai kusut. Keningnya mengerut rapat seperti tengah menahan sesuatu.
Mungkin air matanya? Tampak memerah.
"Dalam artian, aku memiliki seluruh jiwa dan ragamu. Yang memegang kekuasaan—"
"Tidak!..." Tsuna menutup kedua telinganya. Penglihatannya turut dipejamkan erat, menolak pembicaraan yang Hibari luncurkan. "Tolong jangan bermain-main denganku, Hibari-san..." Sang Decimo meneruskan kalimatnya.
Berani sekali—menyeringai liar. Hibari mengambil kedua tangan Tsuna, giliran sikunya yang menumpu bobot badannya. Didekatkannya jemari kecil lentik pemuda brunette ke depan bibir sembari mempertahankan kontak matanya dengan Tsuna.
"Jadilah kekasihku. Sawada Tsunayoshi." Netranya berkilat mengintimidasi. Sekali pun Hibari tak punya tujuan menakut-nakuti Herbivore-nya.
"?!" Kiamat? Bencana hebat akan turun ke wilayah kelahiran Tsuna? Sungguh di luar perkiraan bos Juudaime. Ia mengira Hibari mengutarakan keinginannya berupa menggigit dirinya atau bentuk penyiksaan lain.
Suasana menghening.
Tapi, ungkapan yang telah Hibari ucapkan membuat Tsuna berbunga-bunga. Apakah itu artinya dia juga menyimpan rasa kepada penjaga awannya? Lega karena ada orang yang menginginkannya sebagai kekasih? Pasangan—asmara?
Kenapa harus Hibari?!
"Arigatou, Hibari-san... Aku senang, iie, sangat senang tapi—kenapa aku? Hibari-san tau sendiri kalau aku tidak punya apa-apa... um—" Kata-kata Tsuna menggantung. Ia kebingungan memilih kalimat.
Hibari menggesek-gesekki bibirnya ke jari-jari Tsuna yang masih digenggam. Senyum licik mengembang pada wajahnya yang menawan.
"Tidak ada alasan khusus. Yang perlu kau tahu sekarang bahwa mulai hari ini Sawada Tsunayoshi adalah kekasihku. Tentu saja berlaku untuk selamanya." Nada suara Hibari yang berat menerobos lubuk hati Tsuna.
Ingatan bos kesepuluh berputar ibarat video analog hitam putih. Kenangan yang menggambarkan perhatian tulus dari Hibari untuknya muncul ketika atensinya sibuk menatapi sosok prefek Namimori, dimana Hibari membopongnya saat kakinya terluka. Tak hanya itu, Hibari juga melindunginya selama ia berbelanja di tengah-tengah lautan manusia.
Kenapa telat menyadari hal itu?!
Reflek pipi Tsuna memerah kentara. Dia sempat memalingkan mukanya menghindari sorot pandangan Hibari yang seakan-akan menghisap jiwanya.
Ini terjadi secara tiba-tiba. Tsuna tidak tahu harus bagaimana merespon pernyataan yang dikeluarkan Hibari. Membalas cinta penjaga awannya? Mengapa tidak? Bukankah ditembak cinta merupakan impiannya sejak kecil?
Jalani saja dengan perlahan. Waktu pasti membimbing keduanya untuk beradaptasi.
"Kau milikku. Kau akan selalu menjadi milikku. Sekalipun kau lari ke ujung bumi dan bersembunyi di balik satu triliun wajah itu tidak akan mengubah kehendakku. Tidak peduli berapa kali kau akan menolak, aku akan mengejarmu. Ketahuilah, aku pasti menandaimu, Tsunayoshi." Mengakhiri tuturan absolutnya, Hibari menuntun Tsuna masuk ke dalam ciuman ganas.
'Aku tidak tau... Tapi aku merasa Hibari-san bersungguh-sungguh ingin menjadikanku kekasihnya. Kehangatan yang baru pertama kali kurasakan... Ternyata tidak seburuk yang aku takutkan. Apa yang akan kujelaskan nanti soal hubungan kami kepada yang lain?' Sambil menggeluti batinnya, Tsuna menikmati lumatan lidah Hibari yang menyapu permukaan bibirnya tanpa melewatkan seinci pun.
Hibari menyiksa kekasih barunya dengan kenikmatan duniawi. Setelah puas mencumbu Tsuna, penjaga awan menuruni gerak bibirnya ke pangkalan leher bos Juudaime. Gigitan nafsunya menekan kulit pucat Tsuna hingga meninggalkan bercak kemerahan.
"A-ahh!" Kepala Tsuna jatuh menengadah ke belakang. Dadanya cukup terangkat membusung, gigi taring Hibari menancap kuat mengenai lehernya—Tsuna tidak sengaja meloloskan erangan erotis.
Mendapati tubuh Tsuna mengejang sekejap yang disebabkan oleh gigitan hasrat gelapnya, Hibari menyeringai vulgar. Ia tidak akan memberi sang Decimo beristirahat selama kegiatan nan menggairahkan itu berlangsung.
"Hari masih panjang, Tsunayoshi." Hibari menarik paksa kancing seragam Tsuna, mempertontonkan perut beserta pinggul semok bos kesepuluh. Lucky, celana longgar yang dikenakan Tsuna membawa keuntungan bagi Hibari.
Srek.
Hibari menurunkan sedikit celana Tsuna melalui jemarinya, diikuti dengan geraman tajamnya begitu dirinya menggigit celana dalam pemuda surai coklat. Dia sudah tidak sabar menyapa kejantanan Tsuna yang mungil.
"Saa, berikan dirimu padaku sepenuhnya." Ujar Hibari. Sengaja tidak melepaskan gigitannya dari celana dalam Tsuna. Terlebih, tatapan ketua komite kedisiplinan sukses melelehkan suhu tubuh Juudaime lebih panas.
"Nhh—" Mengerang untuk meredam rasa malunya, Tsuna menutupi wajahnya guna menjaga posisi yang berada di selangkangannya agar tidak langsung menegang.
Hibari mendengus nakal menyaksikan respon alami kekasihnya, berniat melanjutkan adegan tersebut lebih jauh.
'Hibari-san...'
Ah ya, Tsuna melupakan peristiwa penting yang terjadi di sekolahnya tempo lalu. Usai kegiatan ini, mungkin saja Hibari akan memberitahu detailnya.
Siapa dalangnya?—
Di Kokuyo Land, ada Chrome yang duduk di pojokan sembari mendekap tas kesayangan. Matanya terpejam tengah tertidur nyenyak, dengkuran halus menemaninya dari keheningan.
Ken dan Chikusa berada di lantai bawah sedang bermain game baru. Mereka berebut skor tertinggi dengan hadiah sejenis makanan ringan. Sejujurnya Chikusa tidak mengajak Ken berduel mendapatkan top score.
Kembali ke sisi Chrome—dia meracau tenang menyebutkan seseorang yang sangat penting di hidupnya, Rokudo Mukuro, pria tahanan Vindice.
"Chrome... gadisku yang manis."
Samar-samar suara khas milik Mukuro terdengar memekakkan pendengarannya dengan nyaman sekali.
Chrome tersenyum gembira menyambut kunjungan Mukuro ke alam mimpinya.
Tiba di sebuah pemandangan rerumputan dan sungai jernih nan biru, Chrome memandangi Mukuro berkaca-kaca. Gadis ini melangkahkan kakinya menghampiri sosok ilusionis heterochrome yang memunggunginya.
"Mukuro-sama?..." Chrome memanggil pelan, meminta perhatian Mukuro.
"Ah. Kau sudah di sini, Chrome." Mukuro membalikkan badannya, setengah menghadap Chrome.
"Mukuro-sama... apa ada kabar sesuatu?" Chrome memandangi Mukuro oleh binar matanya yang terkagum-kagum.
Mukuro menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga lalu menjawab, "Sepertinya aku kalah dalam permainan itu."
Chrome memiringkan kepala tidak paham. "Kalah dalam permainan?... Apa Mukuro-sama sudah mencoba bertanding di game barunya Ken?"
Mukuro tertawa kecil. "Betapa Chrome-ku yang polos..."
Gadis itu menunduk malu. Pipinya tak dapat menyembunyikan rona merahnya yang tebal.
"Mungkin aku akan memenangkannya di kesempatan lain." Mukuro menaruh satu tangannya ke bahu Chrome, mengusap perlahan.
Chrome terdiam membeku di tempat. Ia takut bila usapan yang diberikan Mukuro akan berhenti jika dirinya bergerak.
"Saat waktunya tiba... aku akan lebih banyak muncul untuk mengambil apa yang sudah seharusnya di tanganku." Mukuro menyeringai gelap. "Kufufufu..." Diakhiri tawa khasnya.
Chrome hanya menunjukkan senyum paling tulus. "Aku akan selalu mendukung apa yang Mukuro-sama inginkan."
Mukuro meletakkan dagunya di atas puncak kepala Chrome. Bayangan Tsuna ketika ketakutan melihat teman-temannya babak belur tampil pada sekelabat impresinya. Dan ia terkekeh.
Jangan menunggu diburu untuk bersembunyi. Aku akan memangsamu... Sawada Tsunayoshi.
Giotto dilanda gelisah bercampur rasa tidak enak badan selama berkendara bersama penjaga awan generasi pertama. Jendela mobil ditutup menghalau akses udara, padahal satu-satunya untuk menenangkan pikirannya adalah bersatu dengan angin.
Sang bos melirik sekilas ke arah Alaude yang masih tanpa ekspresi seperti biasa sedang fokus menyetir. Bola mata kuning cerahnya menilik-nilik bentuk tubuh Alaude—sekali lagi Giotto menahan nafas. Memalingkan muka demi menyembunyikan kondisi pipinya yang tersipu.
Wangi musk dari aroma Alaude menyerang hidung Giotto. Tidakkah memikirkan jalan keluar dibandingkan memerhatikan badan proposional Alaude? Dia menusuk telapak tangannya sendiri oleh kuku untuk mengalihkan godaan-godaan yang menumpuk di pikiran.
Ada berapa masalah yang mengganggu benak Giotto? Tak terhitung jumlahnya. Soal sekolah Decimo, soal kehadirannya yang mendadak ke zaman Decimo, soal—masih banyak lagi. Tapi yang menjadi beban utama untuk situasinya sekarang adalah—berada di dalam mobil.
Tunggu. Giotto gagap teknologi? Jangankan teknologi, bos ini belum terbiasa saat bertranportasi. Mabuk perjalanan? Tepat. Perutnya terasa penuh, kembung tak beralasan. Parahnya mulutnya hambar dan pahit.
Satu tangan mengepal menutupi bibir. Giotto mengamati bangunan tinggi ke pinggir jendela mobil. Mencoba bertahan dari perasaan mual yang menggerogoti tenggorokan. Sayangnya, dia tidak tahu jika melihat jalanan di samping hanya akan memperparah pusingnya.
Giotto memejamkan mata dirasa penglihatannya mulai berkunang-kunang. Ia tidak boleh terlihat menyedihkan di mata Alaude. Pokoknya jangan sampai muntah di mobil pria tersebut. Bahaya sekali kalau membiarkan kecerobohannya mengalahkan pertahanan dirinya.
Alaude menginjak pedal gas cukup lama, membanting setir hendak berbelok ke terowongan yang sepi. Kemana pun Alaude pergi ke suatu zaman, kemampuan beradaptasinya sangat cepat. Keahlian menguasai semua hal yang dia butuhkan benar-benar luar biasa.
Tapi, kalau Alaude terus menerus menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata—Author takut Giotto tidak akan mengatasi mabuk perjalanannya.
Dan benar saja. Giotto mencengkram perutnya kuat-kuat seraya mendongakkan kepalanya pertepatan mobil Alaude membelok cukup liar.
Alaude menurunkan kecepatan lajunya sambil menolehkan pandangannya untuk memeriksa keadaan Giotto yang berpenampilan mengkhawatirkan.
"Kenapa?" Penjaga awan Vongola Primo bertanya ingin tahu.
Giotto yang mempunyai kebiasaan fast respond dalam meladeni lawan bicaranya kini terdiam. Dua pundak Giotto turun naik dengan memburu, apa ada yang salah?
"..." Alaude menghela nafas pendek. Tidak ada pilihan lain selain menepikan mobilnya di sudut jalan. Beruntung sekarang hanya ada satu mobil yang terparkir di belakangnya jadi tak akan bertemu keramaian atau kemacetan. Toh, terowongan ini pada dasarnya selalu sunyi.
Menyadari mobil yang dikemudikan Alaude telah berhenti, Giotto membetulkan letak posisi duduknya sambil meluruskan kembali kepalanya ke depan.
"Ah... maaf, Alaude—" Giotto menampilkan senyum lembut. Namun dahinya mengerut tak leluasa.
Alaude menyerngit tajam. Kenapa Giotto-nya tidak mau jujur padanya? Tak mau memaksakan bosnya untuk bicara, Alaude memutuskan mengendurkan segelintir tatapannya melunak.
"Apa yang tidak nyaman?" To the point, penjaga terkuat di generasi pertama menerbangkan pertanyaan yang sepertinya akan sulit dijawab oleh kejujuran Giotto.
Bos Primo tertegun sebentar dengan pengamatan Alaude terkait situasinya yang kesusahan mengendalikan diri. Terutama rasa mual mengunggis perutnya. Ragu-ragu Giotto membawakan pandangannya untuk bertukar tatap bersama Alaude—
'Berhenti berpikir aneh-aneh... Alaude tak akan menyukai itu. Kumohon... berikan kekuatan untuk menghadapi penjaga awanku.' Berlama-lama menggeluti isi benaknya, akhirnya Giotto mengumpulkan kembali energinya untuk menutup-nutupi kelemahannya di hadapan orang taksiran.
"Hanya pusing biasa, bukan masalah besar. Terima kasih, Alaude." Ucap Giotto, berusaha memperoleh keyakinan pria berketurunan Prancis.
"Begitu ya." Gumaman Alaude terdengar dalam. Dia menyalakan lagi mesin mobilnya agar sampai lebih cepat ke tempat tujuan.
Naas, baru saja pria pirang yang berstatus komandan polisi memanaskan kendaraan—Giotto panik dan langsung mengeluarkan bunyi khas orang mau muntah.
"Ugh—" Kepala kuning cerah menunduk bawah-bawah dengan kedua tangan membekap mulutnya sendiri. Giotto tak kuasa memerangi mabuk perjalanannya yang semakin merepotkan.
Dengusan kecil beserta pejaman mata Alaude berselang beberapa detik. Ia menemukan kelucuan dari bosnya ini. Apa Giotto memang seimut itu?
"Kau mabuk rupanya." Alaude menegakkan badannya sembari melepaskan jas hitam polosnya.
Apa yang direncanakan pria pemilik borgol?—
Kala jas tersebut lepas dari tubuh atletis Alaude, keberuntungan memihak Giotto. Bila bos Primo memperhatikan gerakan tadi yang dilakukan penjaga awannya—hancur sudah benteng yang dibangun utuh Giotto untuk TIDAK menampakkan jelas RASA yang dipendamnya.
Srek. Srek.
Alaude menyampirkan jasnya di atas pundak Giotto tanpa ekspresi. Oh no, jarak keduanya terbilang sangat dekat.
"Aku sudah memakai jas—" Bertujuan menolak kebaikan yang Alaude berikan, Giotto mengapit jemarinya ke jas milik pria awan itu untuk ditanggalkan, tapi—
Kalimat sang Primo terpotong.
"Kau membutuhkannya. Pakai saja." Ujar Alaude dengan tenang. Seraya membebaskan diri dari sabuk pengaman.
Giotto menggulirkan bola matanya ke sembarang haluan. Jemari lentiknya meremas kuat kain jas yang awalnya dikenakan Alaude. Tidak sadar kalau sedari tadi penjaga awannya memantau Giotto dengan serius.
Bos Vongola pertama merekatkan jas itu hingga menutupi setengah wajahnya, menyembunyikan senyum antusias yang melukiskan kebahagiaan paling berarti di seumur hidupnya. Diam-diam ia menghirup aroma jas Alaude. Sontak pipinya memerah saat wangi itu memenuhi indra penciumannya.
"Terima kasih, Alaude." Giotto tak lupa mengungkapkan rasa syukurnya.
Hubungan yang tidak pasti itu melelahkan. Penantian yang tak kunjung selesai—entah mengapa digemari Giotto. Apa dia tipe masokis? Senang menyengsarakan diri sendiri?
Sejak kapan Giotto menyukai pendiri CEDEF? Mungkin waktu mereka bertemu pertama kali? Sudah lama sekali kejadian rincinya. Pistol Alaude yang teracung mengarah tepat ke leher bagian kanan Giotto—benar-benar masa lalu kelam.
Awal pertemuan mereka tidak berlangsung baik. Tapi, bagaimana kalau seandainya Alaude yang tertarik lebih dulu kepada Giotto? Ketertarikannya yang dalam mendominasi kemauannya untuk mencari informasi lebih jauh tentang Giotto. Menyeretnya ke Italia hanya ingin menemukan pemuda bersurai kuning karena suatu berita.
Tak ada yang tak mungkin BILA AUTHOR berkehendak. Semuanya tidak akan terungkap, biarkan kisah itu tetap misteri. Buruk hasilnya jika terus-menerus mengungkit sebuah cerita yang sudah berlalu~
Fokus ke alur—
Alaude membuka pintu mobil, menuruni satu kakinya. "Aku akan pergi sebentar." —berencana mengambil sesuatu yang membuat Giotto merasa baikan. Siapa bilang pria bermuka setebal tembok Berlin tidak mengkhawatirkan bosnya?
Pergi kemana?—Giotto menelan mentah-mentah keingintahuannya. Sepasang sepatu coklatnya ia pandangi dengan gusar. Jari kakinya menggulung tak melegakan. Akankah hubungannya hanya sampai situ? Kesempatan untuk berduaan bersama penjaga awannya tidak menjamin datang di lain waktu.
Apa yang harus aku lakukan?—Seorang bos mafia juga manusia. Ingat, dunia ini tidak luput dari kesalahan. Kesempurnaan adalah kebohongan yang bersembunyi di balik topeng seseorang. Bukan hal memalukan untuk menunjukkan sedikit perasaan—
"Boleh aku ikut?..." Suara Giotto cukup bergetar samar.
Dan permintaan bosnya berhasil menghentikan pergerakan Alaude yang berniat turun dari mobil.
Pria beriris biru muda menatap Giotto agak lama. Selangkah maju ke depan. Tak memerlukan bermenit-menit, Alaude menyetujui bujukan tersebut.
"Baiklah." Usai memberi izin, Alaude mencabut kunci mobilnya kemudian dimasukan ke saku celana.
Bup.
Pintu mobil ditutup. Alaude sudah di luar menunggu Giotto.
Deg... deg... deg...
Mati hari ini tidak meninggalkan penyesalan sepersen pun. Layaknya jatuh ke jurang yang dipenuhi bunga dan kupu-kupu beterbangan, Giotto tersenyum hingga deretan gigi putihnya terlihat.
Buru-buru Giotto membuka pintu mobil untuk menyusul Alaude. Ia tidak boleh mendiami penjaga awannya terlalu lama.
Eh?—kenapa pintunya tak mau terbuka? Rusak kah?
Tiga kali Giotto mendorong pintu mobil pada pegangan yang tersedia tapi dalam alasan tertentu itu tidak mau mempersilakan dirinya pergi.
Jantung Giotto berpacu kencang. Malu, panik, takut—semuanya tercampur menjadi satu layaknya adonan kue. Ada yang salah dengan bagaimana cara ia membuka pintu?
Celaka—Giotto mengutak-atik tombol bahkan apa pun itu yang dapat jarinya tekan. Hasil akhirnya? Sayangnya pintu masih tertutup.
Sudah 3 menit Alaude berdiri di samping mobilnya dan batang hidung Giotto belum juga datang. Diawali hembusan nafas kasar, kakinya melangkah cepat menghampiri pintu dimana Giotto duduk di dalam sana.
Klek.
Alaude membuka pintu mobilnya. "..."
Dengan helaian kuning Giotto yang berantakan karena dibingungkan oleh transportasi canggih—setetes peluh melewati ujung pelipisnya setelah menangkap penampakan tubuh tegap Alaude sedang di hadapannya.
Alhasil, pintu dibukakan Alaude. Sungguh fenomena langka.
Pria sedingin kutub utara itu tidak pernah memedulikan orang-orang yang hanya akan membuang waktunya. Beda kasus jika orang tersebut bukan Giotto, Alaude pasti sudah meninggalkannya di dalam.
"O—oh." Giotto menghindari tatapan Alaude. "Maaf—aku keluar sekarang." Dengan kikuk, Giotto mencoba menurunkan kakinya.
Tanpa disadari oleh bos Vongola Primo, Alaude menempatkan telapak tangannya di atas pembatas mobil—mencegah kepala Giotto terbentur karena pria awan sudah tahu bahwa mahkota hatinya gagap transportasi.
Tap.
Giotto sepenuhnya berada di luar. Terbebas jeratan pintu mobil bagai neraka.
Alaude kembali menutupi pintu mobil itu, lalu berkata, "Tunggu di sini."
Aku ingin ikut kan?—Menopengi kekecewaannya, Giotto mengangguk tidak mau memperpanjang persoalan yang tak disukai Alaude.
Tahu jelas seperti apa sosok bosnya, Alaude berjalan ke sebrang mobil sembari mengatakan, "Aku tidak akan lama."
Apa hanya perasaanku atau—Alaude lebih perhatian dari biasanya?—Ia mengekori Alaude. Langkah kaki Giotto melambat begitu penjaga terkuat Vongola menyebrang.
"Hm? Alaude? Aku tidak tahu tapi kupikir dia bukan orang jahat. Coba saja ajak dia bicara."
Giotto menyandarkan punggungnya ke pintu mobil. Tangannya memegang jas yang bertengger rapi di kedua bahunya dengan atensi mengikuti kemana Alaude pergi.
"Giotto. Percayalah pada dirimu sendiri."
Aku tahu. Terima kasih. Giotto mengulum kebahagiannya dengan seutas senyum sejuk. Berkat dukungan sahabatnya di masa lalu, keraguan yang membelenggu jiwanya perlahan-lahan mengurai seperti aliran sungai yang tenang.
Selang beberapa menit—
Alaude kembali membawa dua cangkir plastik peek.
"Minumlah." Tangan Alaude terulur ke depan. Dilihatnya, minuman tersebut masih mengepul—bertegur sapa dengan udara di musim dingin.
Giotto mengambil cangkir yang ditawari penjaga awannya. "Terima kasih, Alaude. Maaf merepotkanmu."
Shock? Jangan ditanya. Giotto tak pernah menduga kalau kepergian Alaude ternyata untuk membeli minuman hangat. Ah, pipinya merona tipis.
"Hn." Alaude bergumam singkat. Dia lebih dulu meminum minuman pesanannya, kopi hitam nan pahit. Selera—khusus bapak-bapak—ahem.
Giotto mulai meneguk teh hangat manis itu oleh kedua tangannya. Rasanya lezat dan merilekskan otot-ototnya.
"Kau pesan apa, Alaude?" Bertanya penuh ingin tahu. Siapa yang tak penasaran tentang semua kesukaan gebetan?
"Kopi." Alaude membalas sembari menjauhkan minumannya dari mulut.
Wajah Giotto berseri-seri. "Kopi apa itu?"
Posisi mereka berdua saling berhadapan. Giotto yang bersandar di pintu mobil sementara Alaude berdiri tegak di depan bosnya dalam jarak yang—terlalu dekat untuk sebatas teman?
Orang-orang mungkin salah paham mengartikan kedekatan mereka. Who cares?
"Mau?" Alaude menyodorkan cangkir berisikan kopinya.
Tentu saja!—Giotto menelan ludah. Mumpung Alaude sedang dalam mood bagus, kenapa tidak manfaatkan saja?
"Kau yakin? Membiarkan aku mencicipi minumanmu?" Untuk jaga-jaga, Giotto menanyakan keputusan penjaga awan.
"Hn." Tanggapan Alaude padat. Tapi itu cukup meyakinkan bosnya.
Deg.
Pelan-pelan Giotto merenggut lembut cangkir yang digenggam Alaude. Manik oranye jelita Primo gemetaran antusias. Kalau dirinya meminum di tempat yang sama dengan Alaude—itu artinya ciuman tak langsung?
Mendadak sekujur tubuh Giotto melemah membayangi fantasi romansanya. Tenanglah. Jangan bertingkah konyol.
1...
2...
3...
Gulp.
Penglihatan Giotto menyipit sempurna. Bulu matanya nan lentik menjadi nilai tambah paras menawan. Kopi milik Alaude sukses ditelan bulat-bulat tanpa reaksi aneh. Meski lidahnya tak nyaman oleh kandungan pahit yang dibawa kopi tersebut, ia menyukai apa yang disukai Alaude.
Dasar bucin.
Alaude mengawasi Giotto diam-diam. Jari jemari kekarnya sudah gatal ingin menghapus noda yang tersisa tepat di sudut bibir kemilau Giotto.
Bos Primo sepertinya terlalu bersemangat mencobai rasa minuman Alaude sampai-sampai tak memperhatikan gaya minumnya.
"Ini enak. Terima—"
Set.
Alaude merendahkan tinggi kepalanya agar sejajar dengan wajah Giotto. Jari telunjuk kokoh penjaga awan menyeka sisa-sisa kopi yang mengotori mulut Primo.
"..."
Pria surai pirang mengusap bibir Giotto dengan gerakan yang sengaja diperlambat.
Nafas memburu Alaude dapat dirasakan melalui kehangatan pada sekitar wajah Giotto. Dan keduanya membeku. Tidak ada yang berani bersuara selain alunan angin sepoi.
Anehnya, Giotto membukakan mulutnya dengan reflek. Betapa raut ekspresi yang mengundang nafsu.
Tidak ada yang harus disembunyikan lagi~
Bola mata tajam Alaude turun menelusuri bentuk wajah Giotto yang cantik dan berhenti ketika arah pandangannya terkunci pada bibir kenyal sang bos.
Slow motion, Alaude menghilangkan jarak. Akibatnya hidung mereka saling bergesekan. Penjaga awan meletakkan tangan kirinya ke atap mobil tepat di sebelah atas kepala Giotto untuk mengampu keseimbangan sekaligus menahan sang Primo melarikan diri.
Wajah Alaude memiring—menghirup nafas Giotto yang memabukkan. Mencoba terus lebih dekat, lebih menyatu dengan pujaan hatinya.
Reaksi Giotto tak lain ialah membatu ditemani degupan jantung yang berdenyut sampai ke ubun-ubun. Pipi merona dan memerah bersamaan. Dia kehabisan akal, bodohnya tidak berani memanggil pria awan tersebut. Bertanya kau kenapa? Atau ada yang salah?—Giotto enggan menuruti kuorisitasnya.
Habis karena memikirkan hal lain, Giotto tak diberi kesempatan untuk melakukan persiapan bila sesuatu terjadi—
Chup.
Alaude mengecup bibir mungil Giotto dengan lama. Tangan satunya lagi digunakan menahan dagu bos pertama agar pria berambut kuning tidak bisa lolos dari ciumannya.
Belum puas bersenang-senang dengan bibir Giotto saja, kini Alaude menggigit cukup kuat bibir bawah bosnya—memaksa Giotto membuka mulutnya lebih lebar agar Alaude dapat leluasa mengakses mulut dalam Giotto untuk dijamah.
"Mh—" Giotto melenguh kecil menerima gigitan nafsu Alaude yang mulai menyerangnya oleh sentuhan menggairahkan.
Pagutan mereka berperan sangat liar. Yang satu mendesak si uke dengan cumbuan beserta hisapan keras, satunya lagi pasrah sembari menengadahkan kepala mengikuti arus panas nan menggoda.
Jadi—mereka sudah resmi berpacaran? Selamat. Misi Author sukses 100%.
Dengan sigap, Alaude mengangkat tubuh ringan Giotto tanpa aba-aba. Kemudian membuka pintu mobil, mendudukan bos Primo ke atas jok untuk melanjutkan kegiatan erotis.
Alaude menarik dasinya sendiri. Lalu menjepit dua tangan Giotto di atas kepala seraya mengikatnya dengan dasi yang barusan pria awan lepas.
Buk.
Pintu mobil tertutup. Menyisakan goyangan pelan yang berasal dari dorongan lantang Alaude—oh, bagaimana jika orang-orang melihatnya?
Sayangnya, di belakang mobil Alaude terdapat satu mobil terpakir lebih dulu di terowongan. Seseorang itu duduk membisu mencermati setiap adegan Alaude dan Giotto dari awal.
Daemon Spade menyilangkan kaki sambil mengistirahatkan kepalanya di headrest mobil. Senyum sadis membentuk mimiknya menjadi mengerikan.
Di samping kursi pengemudi, tertata sangat rapi berupa buket bunga coreopsis kuning. Melambangkan makna paling dalam; ekspresi cinta.
Sepertinya Daemon berniat memberikan buket bunga itu kepada Giotto sepulang kerja. Padahal Daemon baru saja ingin berbaikan dengan bosnya dan merelakan kenangannya menyangkut Elena. Tapi... kenyataan memang pahit.
Perasaan Daemon dikorbankan lagi.
Tak bisa kukatakan padamu yang sebenarnya.
Tak mengapa karena aku suka rasa sakitnya.
Di tenggorokanku, aku tidak bisa bernafas.
Tinggi dalam cinta, mabuk dari rasa benci.
Rasanya aku sedang marah.
Bayangan kematian Elena mengelilingi angan-angan Daemon.
Tunggu—
Mau kemana kau?
Kau akan meninggalkanku?
Giliran senyum Giotto yang mengukir lembut pikiran Daemon.
Tak akan kubiarkan...
Kembalilah!
Darah mengalir dari mata kanan Daemon.
Ruang bawah tanah rahasia yang dirancang khusus oleh arsitektur terkenal—ada Giannini tengah memakai helm anti cahaya. Sudah ke-998 kali penelitiannya gagal. Reborn sudah mendatanginya kemarin kalau Vongola generasi pertama hadir ke zaman Tsuna.
Kalau begitu, semuanya beres kan? Giannini pikir masalahnya akan selesai tetapi Author belum memutuskan ending yang tepat untuk alur ini. Ahem.
"Duh, alatnya dimana sih? Itu yang paling penting!" Giannini menggarukkan kulit kepalanya yang botak.
Mondar-mandir mencari keberadaan benda berharga.
5 menit terlewati, benda yang dicari Giannini ditemukan di depan gerbang lab utama.
"Lho, sejak kapan ada di sini?" Tanpa curiga Giannini memungut benda tersebut dan menaruhnya di atas portal yang entah apa itu. Yang jelas, tampak berbahaya.
Giannini menekan tombol on.
"Semoga berhasil!!" Serunya bersemangat.
Serempak—gempa bumi, cahaya terang semuanya mengisi penuh ruangan Giannini.
Kali ini penelitian yang ke-999 kalinya berhasil, kah?
BOOOM!
Waktu di seluruh penjuru Kota Namimori terhenti.
Dan penduduknya menghilang entah diseret kemana.
Giannini—haruskah eksperimen yang dia lakukan dianggap berhasil? Atau gagal total?
Seantero orang di Namimori termasuk kenalan Tsuna dan Giotto di luar Namimori tersedot ke dalam portal misterius buatan Giannini.
Mereka dibawa ke parallel world.
Secara mistis—kembali ke tahun 1819. Era berjayanya monarki—
THE END.
Halo, pembaca setiaku! Bagaimana kabar kalian? Kuharap kalian baik-baik saja~
Terima kasih banyak atas dukungan kalian untuk fanfic absurd yang sudah kubuat... Aku harap tidak mengecewakan kalian...
Seperti yang sudah tertera di atas, Fanfic Misdirected akhirnya selesai. Ini semua berkat cinta kalian~
Aku akan kembali dengan membawa lanjutan dari fanfic ini~ (PART 2 dengan judul berbeda)
Meski aku masih belum yakin bakalan update cepat, hahaha XD
Arigatou gozaimasu!
Oh, terkait lanjutan fanfic ini... tentu saja pairing yang kubuat adalah Hibari x Tsuna dan Alaude x Giotto.
Sebenarnya sih... aku lebih suka Penjaga Vongola generasi pertama x Giotto dan Penjaga Vongola generasi kesepuluh x Tsuna.
Kayaknya bakalan begitu, hehehe~
TAPI, hati-hati ya! Soalnya lanjutan dari fanfic ini sedikit—dewasa. Hmm, untuk awal chapter masih aman kok.
Sekali lagi terima kasih banyak! Aku akan terus berusaha membuat fanfic yang lebih baik dari sebelumnya dan berlatih dengan giat!~
Semoga kita ketemu lagi... sesegera mungkin~
[28 April 2023]
