Yuhuuuuu~!

Saya kembali lagi, heheheee... ξ\(´`)/ξ

Ini adalah Chapter II dari Never Let You Go!

Terima kasih buat yang sudah mau review dan terima kasih juga buat yang sudah mau membaca fic ini. Arigatou

Sekali lagi saya nyatakan bahwa Naruto, dkk dalam fic ini bukanlah milik saya. Melainkan si Om-om yang di panggil Masashi Kishimoto itu lho! Hahaha ˆ)

Bletakkk! ::dijitak ma si om::

Huft! Oke kalau begitu monggo diwoco... (◦^⌣^◦)


NEVER LET YOU GO

Chapter II

Hari semakin gelap, matahari yang seharian ini menyinari bumi sudah saatnya beristirahat dan digantikan oleh cahaya redup bulan. Bintang-bintang berkelap-kelip mendampingi bulan dalam menjalankan tugasnya. Di kantor Hokage terlihat Naruto sedang berjingkrak-jingkrak gembira dengan cengiran khas yang menghiasi wajahnya. Sungguh hal yang sulit dipercaya bahwa pekerjaan Naruto hari ini bisa terselesaikan semua. Ini berkat bantuan Sasuke tentunya.

"Hahhhaa! Yatta! Yatta! Yatta tebayo! sulit dipercaya pekerjaanku bisa terselesaikan! Aku pikir akan menghabiskan waktu sampai 3 hari untuk dapat menyelesaikannya. Ini semua berkat kau Teme! Arigatou ne~! Hehehe..." tanpa sadar Naruto mendekap Sasuke dalam pelukannya. Merasakan hal itu Sasuke tersenyum dan membelai rambut Naruto.

"Hnm." Sasuke hanya berdehem untuk membalas rasa terima kasih Naruto.

"O, iya Teme! Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?" ajak Naruto penuh semangat.

"Hnm, kau ingin pergi kemana?" tanya Sasuke kalem.

"Ah, kalau mengenai itu besok saja, yang penting besok pagi kau temui aku di Ichiraku Ramen ya?!" Naruto menepuk pundak Sasuke yang dibalas senyuman oleh Sasuke.

"Yosh, ayo kita pulang Sasuke!" Naruto melangkahkan kakinya dengan mantap keluar dari ruang kerjanya.

Di perjalanan pulang Naruto bertemu dengan teman-temannya. Ada Shikamaru, Kiba, Choji, Ino, dan Sakura. Mereka berencana untuk makan malam bersama malam ini.

"Oi! Sakura-chan~!" panggil Naruto sembari berlari menghampiri rombongan itu. Sasuke berjalan dengan tenang di belakang Naruto.

"Kalian mau kemana?" tanya Naruto pada Shikamaru.

"Kami mau makan daging panggang!" jawab Choji menggantikan Shikamaru.

"Hei, hei, Choji. Kau jangan makan daging terus badanmu bisa bertambah besar. Dan kau bisa semakin GENDUT nanti!" Tanpa Naruto sadari, sudah muncul urat-urat berbentuk siku-siku memenuhi kepala Choji. Teman-temannya yang melihat hal itu mundur selangkah dari Naruto.

"GENDUT katamu?! Aku tidak peduli! Walau kau Hokage sekalipun!" Amarah Choji sudah di ujung tanduk.

"Aku ini tidak gendut tapi aku ini cuma SEMOK BEGO! Hiaaattttt!" Choji melayangkan pukulan mautnya kearah Naruto. Namun dia tak sempat mengelak dan ...

GREPPP!

Semua orang terkesima menyaksikan hal itu. Choji pun kaget. Sasuke menahan serangan Choji untuk tidak mengenai Naruto.

'Ku-kuat sekali.' Batin Choji.

'Sa-Sasuke.' Sakura tidak menyangka refleks Sasuke sangat cepat dan mampu menghentikan serangan Choji secepat kilat.

"Ba-BAKA!"

BLETAKK! Ino menjitak kepala Choji. Membuat semua orang semakin terpaku menyaksikan rombongan Ninja Konoha itu.

"Kalau Naruto sampai kena pukulanmu tadi bagaimana coba?! Apa kau sudah gila Choji?!"

"Ha-habis dia mengataiku gendut!" Jawab Choji polos.

"Kau ini Choji. Jangan seperti itu!" Kiba ikut mengomeli Choji. Ino memarahi Choji habis-habisan. Sasuke menghela napas dan berbalik menatap Naruto yang masih shock.

"Apa kau tidak apa-apa Dobe?" tanya Sasuke sembari mengulurkan tangannya menarik pemuda berambut pirang itu. Naruto menerima uluran tangan Sasuke yang berhasil membuatnya berdiri.

"Hahh~ aku kira, aku akan mati tadi." Ucap Naruto lega.

"Sudah, sudah. Aku lapar. Apa kalian tidak lapar? Dasar merepotkan saja!" Shikamaru menghela napas panjang dan berlalu masuk ke sebuah resto daging panggang. Ino dan Kiba berhenti mengomeli Choji. Naruto dan Sasuke juga ikut masuk ke dalam resto mengikuti rombongan Ninja itu. Setelah memesan menu mereka asik mengobrol, begitu pula dengan Naruto. Dia melambai-lambaikan tangannya pada Sakura dan mendekatkan wajahnya. Sakura yang mengerti maksud Naruto mendekatkan telinganya. Naruto membisikkan sesuatu yang tampaknya menarik bagi Sakura karena terlihat jelas wajahnya menjadi lebih cerah setelah mendengar kata-kata Naruto. Sasuke yang melihat hal itu hanya diam dan mengerutkan dahinya tanda tak suka. Cih.


Sang mentari kembali hadir membawa cahaya terangnya yang sangat menyilaukan. Cahaya itu menyusup dibalik tirai jendela kamar seorang pemuda yang masih tertidur lelap. Suara kicauan burung yang bertengger di dahan pohon samping jendela kamar pemuda itu berhasil membangunkannya.

"Berisik!"

Dia membuka selimutnya. Terlihatlah dada bidang dengan perut six pack tanpa sehelai kain pun menutupinya dari balik selimut itu. Pemuda itu segera berdiri untuk membuka tirai jendela kamarnya. Segera saja dan tanpa ragu lagi cahaya mentari langsung menerpa wajah putih pucatnya. Membuatnya silau.

"Ternyata sudah pagi... Aku harus segera menemuinya, di kedai Ichiraku Ramen ya." Pemuda bermata onyx itu melangkahkan kakinya dengan santai menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Basuhan air dingin yang mengalir membasahi tubuhnya membuat pikirannya menjadi lebih tenang. Dia memejamkan mata menikmati dinginnya air yang menyentuh tiap pori-pori kulit putih pucatnya.

.

.

Sementara itu ...

Di Apartemen Naruto 08.15 AM

Naruto sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya. Tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Ekspresi wajahnya berubah-ubah tiap 3 detik. Dan akhirnya ...

"Aaarrrggghhh! Aku penasaran! Bagaimana ini?" tiba-tiba saja dia bangkit berdiri di atas tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian dia menghela napasnya dan membaringkan tubuhnya kembali.

"Apa akan berjalan lancar ya?" setelah bertanya entah pada siapa, Naruto terdiam. 'Teme...' ucapnya lirih dalam hati.


Saat ini Sasuke sedang berjalan menuju ke tempat yang disebutkan Naruto kemarin. Ichiraku Ramen. Langkah kaki Sasuke berhenti saat ia sampai pada tempat tujuannya. Dia tidak melihat Naruto di depan kedai, jadi dia rasa pasti Naruto ada di dalam sedang menikmati semangkuk penuh ramen porsi jumbo kesukaannya. Sebelum masuk ke dalam Sasuke menghela napasnya dan meneruskan langkahnya untuk masuk ke kedai Ichiraku Ramen. Sayangnya, sosok yang berjanji untuk bertemu dengannya itu tak dia temukan di sana. Mata onyx kelamnya menangkap senyum manis seorang gadis yang sedang duduk di depannya. Haruno Sakura.

Gadis berambut soft pink itu beranjak dari tempat duduknya menghampiri Sasuke. Sasuke tak bergeming.

"Ohayou... Sasuke-kun." Sapa Sakura.

"Hnm... Apa kau tidak melihat Dobe?" tanya Sasuke dengan wajah tenang tanpa menghiraukan ucapan Sakura.

"Aku tidak tahu. Memangnya kalian janji bertemu di sini? Aku tidak melihatnya dari tadi."

"Oh." Sasuke hanya ber-oh ria sembari akan melangkah pergi tetapi sempat dicegah oleh Sakura.

"Bagaimana jika kau menemaniku sebentar?" tanya Sakura penuh harap. Sasuke menatap mata emerald milik Sakura sesaat dan hanya mengangguk kecil. Betapa bahagianya Sakura saat itu. Ini pertama kalinya Sasuke mendengarkan permohonannya. Biasanya dia akan menolak begitu saja dan meninggalkan Sakura pergi. Sejak Sasuke kembali ke Konoha, Sakura tak pernah punya kesempatan untuk berdua saja dengannya seperti saat ini. Setiap hari Sasuke habiskan untuk berada di samping Naruto. Jadi dia akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Sakura dan Sasuke memutuskan untuk pergi ketempat lain. Mereka meninggalkan Ichiraku Ramen dan berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang akan membawa mereka ke puncak patung kepala Hokage yang menjadi ciri khas bagi Desa Konoha sama seperti halnya simbol Daun yang selalu terpampang sebagai simbol Desa Konoha.

"Sasuke..."

Sasuke menghentikan langkahnya. Sakura memberanikan diri untuk memanggil pemuda bergaya rambut emo di sampingnya itu, yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Sasuke menatap Sakura. Ditatap seperti itu Sakura segera mengalihkan pandangannya. Seketika itu juga semburat-semburat kemerahan muncul di wajahnya. Dia malu.

"Maaf..." kata Sakura.

"Aku... aku telah membuat seseorang berbohong." Lanjutnya.

"Aku sudah tahu."

Sakura terhenyak dengan perkataan singkat Sasuke. Dia cukup kaget. Padahal dia tidak mengatakan apapun. 'Kenapa Sasuke bisa bicara seperti itu? Apa dia bisa membaca pikiranku?' Pikir Sakura.

"Da-darimana kau tahu? A-akukan belum mengatakan apapun padamu?"

"Dari matamu."

Sakura terdiam. Tak berani memandang pria di hadapannya itu. Dia gugup.

"Aku... Ma-maafkan aku Sasuke. Aku tidak bermaksud begitu... ta-tapi jika tidak begitu aku tak akan pernah bisa bicara berdua saja denganmu." Bibir Sakura mulai bergetar. Cairan bening mulai terlihat di sudut-sudut matanya. "Sejak kau kembali ke desa aku tak pernah punya kesempatan untuk bisa berada di dekatmu... Kau selalu menghindariku. Menolakku. I-itu... sangat menyakitiku..." Air matanya sudah tak dapat dibendung lagi. Cairan bening itupun meleleh membasahi kedua pipinya yang merona di hadapan Sasuke. Sakura menguatkan dirinya dan mulai berbicara lagi.

"Kemarin aku meminta tolong pada Naruto untuk membantuku agar bisa berada di dekatmu. Tanpa kuduga Naruto sudah membuat janji denganmu dan tadi malam dia memintaku menggantikannya menemuimu." Sakura terisak dalam tangisnya. Dia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya yang tak mau berhenti mengalir. Sasuke masih berdiri di hadapannya nyaris tanpa ekspresi. Mata kelamnya menatap Sakura yang masih menangis. Sedetik kemudian, Sakura merasa hangat dalam dekapan Sasuke. Ya, pemuda itu memeluknya. 'Sasuke...' Sakura membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu. Untuk beberapa saat mereka masih dalam posisi itu sampai Sakura mulai berhenti menangis. Sasuke perlahan melepaskan Sakura dari dekapannya. Sakura mendongakkan kepalanya menatap wajah pemuda tampan nan gagah yang berdiri dihadapannya saat ini.

"Aku merindukanmu Sasuke..." ucapnya lirih. Sekali lagi air matanya mengalir. "Aku mencintaimu..." Dalam satu tarikan napas Sakura melontarkan pernyataan cintanya pada Sasuke. Rasa cinta yang sudah dia pendam selama bertahun-tahun sejak dia bertemu dengan Sasuke di Akademi Ninja. Entah keberanian yang berasal darimana dia mampu mengucapkan kata-kata itu. Mungkin karena saking cintanya jadi dia tak mampu menahannya lagi (Plokk! ::author dilempar sendal oleh Sakura::).

Angin berhembus cukup kencang menerpa helaian lembut rambut soft pink Sakura dan rambut hitam kelam milik Sasuke. Untuk beberapa saat mereka berdiri berhadapan dalam diam. Sakura tampak mulai kebingungan karena tak ada reaksi dari Sasuke atas pernyataannya.

.

.

.

Di Apartemen Naruto 09.00 PM

Naruto menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur sembari menghela napas panjang. Seharian ini dia hanya mondar-mandir saja di ruang kerjanya, sampai akhirnya Hinata menyuruhnya pulang dan beristirahat. Mata biru sapphire itu menerawang menatap langit-langit kamarnya. Sepi. Tak ada siapapun. 'Kemana perginya Sasuke? Apa dia terlalu asik dengan Sakura ya? Sampai lupa waktu begini ... lupa denganku juga.'

Srekkk... Naruto terbangun saat menyadari apa yang barusan dipikirkannya. 'Lupa denganku juga.' Pikiran itulah yang membuat Naruto tersentak dari apa yang dipikirkannya.

"Me-memangnya kenapa kalau si Teme dengan Sakura-chan?" tanyanya pada dirinya sendiri lalu menggaruk-garuk kepalanya. "Kenapa aku harus mengkhawatirkan mereka? Toh mereka juga kelihatannya serasi..."

Nyutt, seperti ada sesuatu yang mencubit perut Naruto. Perasaan yang aneh muncul begitu saja. Rasanya menyesakkan. Sakit. Pemuda berambut kuning cerah secerah mentari itu tertunduk lesu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian memutuskan mandi. Sambil termenung dia menanggalkan satu per satu pakaian yang dikenakannya. Air mengalir membasahi tubuh berkulit tan miliknya, yang tampak begitu sexy dengan otot-otot lengan dan perutnya yang terlihat rata dengan 6 benjolan yang membuatnya nampak gagah. Menikmati tetesan-tetesan air yang membasahi rambut dan tubuhnya. Setelah beberapa menit Naruto keluar dari kamar mandi sudah dengan memakai piyama kesukaannya. Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menutup matanya. Dibiarkannya kamarnya gelap tanpa cahaya, kecuali cahaya bulan yang memaksa masuk dari celah-celah tirai jendelanya. Saat ini dia hanya ingin merasakan kesunyian malam dan berharap itu dapat menenangkan pikirannya mengenai Sasuke.

Malam pun telah semakin larut. Udara begitu dingin di luar sana. Sampai terdengar suara derap langkah kaki seseorang mendekat pada pintu kamar. Naruto yang saat ini telah tertidur pulas tak menyadari itu. Cklek! Pintu kamar terbuka. Terlihat sosok samar-samar seseorang yang berdiri disamping Naruto. Naruto terlihat resah dalam tidurnya. Keringat bermunculan didahinya. Napasnya tak beraturan. Sepertinya dia sedang bermimpi buruk. Orang itu mengitari tempat tidur Naruto lalu membaringkan tubuhnya di samping Naruto. Memperhatikan wajah pemuda berambut pirang yang terlihat mengkilat karena keringat didahinya. Dia menyeka keringat Naruto dengan lengan bajunya. Menarik pemuda itu kedalam pelukannya. Mencoba untuk menenangkannya.

"Jangan pergi... jangan pergi lagi... nggg, jangan... jangan pergi Sasuke..." Naruto mengigau dan membalas pelukan orang itu, erat. Menyaksikan hal itu, terlihat segaris senyum tipis menghiasi wajah orang itu.

"Aku tidak kemana-mana Naruto." Katanya.

Cupp. Dia mengecup lembut bibir Naruto. Walau hanya menempelkan bibirnya saja (BrakBrukBrak! ::author dilempari buku oleh Naruto dengan wajah blushingnya, haha::). Dia menutup matanya dan tertidur bersama Naruto dalam pelukannya.

.

.


Matahari bersinar cerah. Burung-burung berkicauan, menyambut datangnya pagi ini seperti biasanya. Cahaya matahari yang menyusup dari celah-celah tirai jendela, membangunkan pemuda yang berambut secerah mentari itu dari tidurnya.

"Nggg..." Naruto merasa silau. Dia menguap lebar-lebar. Hari sudah pagi. Saat akan meregangkan sendi-sendinya dia merasa sulit bergerak. Tepatnya ada yang menahannya. Dan seketika itu juga dia membatu. Melihat sosok yang berada di dekatnya yang setia sejak semalam menemani tidur Naruto dalam dekapannya.

"Sa, Sa, .ke..." Naruto tergagap. Seakan tak percaya orang yang dinanti-nantikan kedatangannya sejak semalam kini berada di dekatnya dan memeluknya erat. Wajah tenang Sasuke dalam tidurnya terlihat tampan. Bagaikan manusia tanpa dosa (?) membuat wajah Naruto merona dan jantungnya langsung berdegup kencang seperti sedang ada yang menabuh genderang tanda perang di dalam sana. Di saat Naruto masih shock. Sasuke perlahan membuka matanya.

"Kau Sudah bangun?" tanyanya tanpa sedikit pun merasa bersalah.

"I-iya... ke-kenapa kau ada di si-sini Teme?" Naruto terbata-bata. Dia berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya dengan selimut akan tetapi sudah terlambat. Sasuke sudah tahu bahwa saat ini wajahnya telah 11:12 dengan warna kepiting rebus. Sasuke tersenyum geli melihatnya. Timbul pikiran ingin menjahili Naruto.

"Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah kau yang semalam ingin aku tidak pergi? Semalaman kau mendekapku dengan erat sampai aku kepanasan jadi kuputuskan untuk membuka bajuku. Dan ..." Sasuke melirik Naruto. Sekilas dia melihat wajah penasaran Naruto yang menginginkan dia untuk melanjutkan perkataannya.

"Dan aku juga membuka kancing bajumu... habis kulihat kau juga kepanasan. Hehe" Sasuke tersenyum jahil kearah Naruto. Naruto yang mendengar hal itu ternganga. Apa mungkin dia melakukan itu? Apa Naruto seberani itu mendekap Sasuke? Tapi bagaimana bisa dia melakukan itu sedangkan dia tak sedang bersama Sasuke saat dia akan tidur? Atau jangan-jangan Naruto mengigau? Naruto terlihat panik, sedangkan Sasuke hanya tertawa kecil. Senang melihat ekspresi Naruto yang terlihat lucu dan menggemaskan itu. Memang benar sih saat ini Sasuke bertelanjang dada karena memang sudah jadi kebiasaannya tidur tanpa mengenakan sesuatu yang menutupi dada bidang nan six packnya itu, hohoho... Naruto mana tahu hal itu.

.

.

"Kau menyebalkan Teme! Teme brengsek!" teriak Naruto yang tidak dihiraukan oleh Sasuke. Saat ini mereka berdua sedang berjalan menuju ke ruang kerja Naruto. Naruto masih shock dengan kejadian pagi tadi. Setelah mendengar ucapan Sasuke, dia melancarkan serangan-serangan yang berhasil ditangkis oleh Sasuke membuatnya bertambah kesal saja. Sampai akhirnya Sasuke bisa menenangkannya walau sampai detik ini dia masih saja memaki Sasuke. Ketika sampai di depan pintu ruang Hokage mereka berhenti. Pemilik rambut berwarna pink lembut yang sudah tak asing lagi berdiri di depan pintu. Melihat Naruto dan Sasuke, dia tersenyum.

"Ohayou~!" Sapanya.

"Ohayou." Sasuke menjawab sapaan Sakura. Lalu masuk ke ruang kerja Naruto. Naruto hanya melongo kayak orang bego.

"Oi, Sakura-chan!" Panggil Naruto. Sakura berpaling, baru saja ia akan masuk mengikuti Sasuke.

"Ada apa Naruto?"

"Hnmmm... ini hanya perasaanku saja atau memang sudah terjadi sesuatu dengan kalian kemarin?"

"Ee? Maksudmu?"

"Tumben sekali si Teme balas menyapamu? Biasanya kau tau sendirikan..." Naruto memasang cengirannya lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Jangan-jangan kau dan Teme sudah jadian ya? Apa kemarin berhasil?" Naruto tersenyum jahil. Wajah Sakura langsung memerah yang menurut Naruto itu sudah menjawab pertanyaannya.

"Oh. Jadi kalian benar-benar jadian? Selamat ya Sakura-chan!" Naruto tertawa senang namun jauh dilubuk hatinya yang paling dan sangat dalam (lebay!) dia merasakan sakit luar biasa. Dia juga tidak mengerti kenapa. Jadi dia tak menghiraukannya. Sebelum melangkah masuk keruang kerjanya Naruto memalingkan wajahnya kepada Sakura.

"Kau berhutang 10 mangkuk ramen padaku... hehehe." Sosok Naruto menghilang di balik pintu meninggalkan Sakura yang masih berdiri mematung di depan pintu.

"Naruto..." ucapnya lirih.

.

.


Hari sudah siang. Matahari begitu terik hari ini sama dengan hari-hari sebelumnya. Musim panas memang selalu bisa membuatmu berkeringat walau kau tak melakukan aktivitas sekalipun. Semua orang tak terlalu menghiraukan hawa panas yang sedari tadi begitu mengganggu aktivitas mereka. Dari depan gerbang Desa Konohagakure nampak 4 orang pendatang yang baru saja sampai.

"Kita sudah sampai Kazekage-sama." ucap seorang diantara mereka kepada pemuda berambut merah kelam yang didahinya terdapat sebuah tatto bertuliskan "Ai".

"Ayo kita masuk Matsuri." balasnya pada gadis yang memanggilnya Kazekage-sama tadi.

"Baik."

Mereka berempat melangkah masuk ke Desa Konoha. Ninja pengawas di gerbang Konoha sedikit kaget melihat kedatangan mereka.

"Eh, itukan?!" ucap salah satu dari ninja pengawas itu.

"Kenapa tak ada pemberitahuan sebelumnya mengenai kedatangan mereka?" tanya yang lain.

"Hahh... Naruto no Baka! Pasti dia belum memeriksa semua dokumennya. Merepotkan saja! Aku akan menemui mereka." Jawab pemuda berambut yang diikat satu menyerupai buah nanas itu. Nara Shikamaru, seorang yang cukup dekat dengan Naruto atau bisa juga dikatakan sebagai sahabat Naruto.

"Oi..." Dia melambaikan tangannya ke arah 4 pendatang baru itu.

.

.

To Be Continue...

Ripiuwwwww~