Yuhhuuuu~!
Selamat datang bagi para pembaca sekaliannn, hehehe
Masih semangat kan?!
Dhii kembali lagi ni untuk Chapter ke 3 Never Let You Go!
Tararararaammmm~ ξ\(´▽`)/ξ
Tidak lupa dhii akan selalu mengingatkan pembaca bahwa Naruto cs adalah milik si om Sakito (Masashi Kishimoto)!
Dan sepertinya cerita mulai memanas bahkan hampir mendidih! Nyahahahaa!
Cup! ::cium pipi SasuNaru secepat kilat::
Nah, silahkan bacaaaaa~!
Don't forget to review yakkk...
::plakk! Bletakkk! Dilempar segala macam benda oleh SasuNaru, huhu (╥﹏╥)::
NEVER LET YOU GO
Chapter III
"Teme, panas sekaliiii~!" Naruto mengeluh terus sepanjang hari ini. Sasuke tidak terlalu menanggapi. Seolah-olah dia sudah kebal. Dari pagi sampai siang ini yang dilakukan Naruto adalah terus memaki-maki Sasuke karena kejadian pagi tadi. Sekarang dia berhenti karena semakin banyak dia mengeluarkan energi akan membuatnya semakin berkeringat, jadi dia hanya bisa menggerutu dan mengeluhkan cuaca yang begitu panas di musim panas ini. Sasuke duduk tenang membaca sebuah buku sambil mengibas-ibaskan kertas pada Naruto yang kelihatan kehabisan energi karena lelah dan kepanasan.
"Kau baca apa sih Teme?"
"Hnm." Sasuke menunjuk pada sampul buku yang dibacanya.
"Oh ... kenapa kau membaca buku aneh itu?" Tanyanya lagi dengan tampang polos. Sebelum Sasuke menjawab pertanyaannya, terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
Tok tok tok...
"Masuk!" Naruto mempersilahkan dengan semangat. Lalu muncul pemuda bergaya rambut seperti nanas dari balik pintu. Memberi hormat dan kembali memandang Naruto. Walau bagaimana pun saat ini kawannya itu adalah seorang Hokage jadi dia wajib memberi hormat.
"Ada apa Shikamaru? Tumben kau ke sini?"
"Tujuan saya datang kemari adalah ingin memberitahu anda bahwa tamu anda telah datang."
"Tamu? Memangnya siapa yang datang bertamu?" Naruto memiringkan kepalanya menopang jari telunjuk dan jempolnya di dagu. Bergaya sok mikir (Pluk! ::kali ini bantalpun melayang ke kepala author::).
"Hahhh..." Shikamaru menghela napas panjang. "Sebenarnya kau membaca dokumen-dokumenmu tidak sih Naruto? Setiap kali ada tamu penting pasti sebelumnya ada pemberitahuan masuk kan? Dan pemberitahuan itu datang dari kamu!"
"Eh? Itu... sebenarnya. Hehe" Naruto menggaruk-garuk kepalanya. Dan memalingkan wajahnya pada Sasuke.
"Heh Teme! Kenapa kau tidak bilang tentang akan adanya kunjungan dari negara lain ke Konoha?!" Naruto menunjuk Sasuke, tapi yang ditunjuk malah berdiri dan beranjak pergi.
"Heh! Tunggu Teme!" teriak Naruto. Sasuke keluar tak mempedulikan Naruto dan Shikamaru. Saat keluar dari ruang kerja Naruto dia berpapasan dengan pemuda berambut merah kelam yang baru saja datang ke Konoha. Dia sama sekali tak menyapa atau memberi hormat. Lagi pula pemuda tanpa alis itupun juga sama saja, dia juga hanya melewati Sasuke, seolah-olah Sasuke tak ada disitu. Beda dengan Matsuri, gadis berambut sebahu kecoklatan yang ada di samping pemuda itu. Dia justru sangat terpesona melihat Sasuke. 'Keren...' pikirnya.
Cklekk... pintu terbuka.
Naruto menengok ke arah pintu. Dia tertegun sesaat, lalu cengiran lebar khasnya mulai terlukis diwajahnya. Tanpa babibu dia langsung menyerbu sosok yang muncul dari balik pintu.
"Gaara!" teriaknya seraya memeluk pemuda bertatto 'Ai' di dahinya itu.
"Kapan kau datang?" tanya Naruto antusias. Pemuda yang ternyata bernama Gaara itu hanya tersenyum tipis. Nama lengkapnya adalah Sabaku No Gaara. Dia adalah pemimpin termuda dalam sejarah Desa Sunagakure. Anak bungsu dari tiga bersaudara. Jika di Konoha pemimpin desanya disebut Hokage, maka di Suna pemimpin desanya disebut Kazekage.
"Baru saja." Jawabnya singkat.
.
.
"Apa tidak apa-apa kau meninggalkan Suna?"
"Tidak apa-apa, di sana ada Temari dan Kankuro yang menggantikanku sementara. Bagaimana kabarmu?"
"Hahaha! Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja. Padahal aku kira Temari akan ikut denganmu karena pastinya Shikamaru akan menyambutnya dengan rasa malasnya yang luar biasa itu. Hehehe"
Naruto begitu senang bisa berjumpa lagi dengan Gaara setelah sekian lama mereka tidak berjumpa. Gaara berbeda dengan Sasuke. Dia memang pendiam, tetapi dia ramah pada siapapun. Tidak sedingin Sasuke yang hanya ramah pada Naruto. Di lubuk hati Gaara yang paling dalam dia begitu mengagumi Naruto. Naruto adalah orang pertama yang mengubah kehidupan Gaara seutuhnya. Bahkan dia pernah menyelamatkan Gaara dari Akatsuki, walau pada akhirnya Nenek Chiyo yang memberikan nyawanya untuk menghidupkan Gaara kembali. Bahkan rasanya ada sesuatu yang berbeda dari rasa kagum itu. Gaara menatap wajah pemuda yang memiliki 6 garis halus yang menyerupai kumis kucing di wajahnya itu.
Beberapa saat kemudian keduanya sama-sama memejamkan mata menikmati udara sore yang sejuk di atap gedung Hokage. Angin sepoi menerpa lembut rambut mereka. Sore hari yang tenang.
.
.
Setelah mengantarkan Gaara ke penginapannya Naruto pamit pulang dan berjanji untuk mengajak Gaara berkeliling besok. Dia tidak ingin Gaara kecewa dengan kunjungannya ke Konoha. Setau Naruto tujuan kedatangan Gaara hanya untuk berlibur sejenak dari kegiatan memimpin desanya. Pemuda pirang itu tidak tau bahwa sebenarnya Gaara datang hanya untuk menemuinya. Dia lega karena ternyata Naruto baik-baik saja.
Naruto berjalan menyusuri jalan yang dipenuhi cahaya lampu dari depan toko-toko yang berjejer. Ya, hari sudah malam. Beberapa orang tersenyum menyapanya, dia membalas sapaan itu dengan lambaian tangan plus senyum pepsodentnya. Semuanya telah berubah sekarang. Jika dulu orang tidak memperdulikannya atau bahkan menganggapnya tak pernah ada, kini justru sebaliknya. Orang-orang sangat segan padanya. Mereka telah mengakui keberadaan Naruto. Sungguh perjuangan berat yang tak sia-sia bagi Naruto. Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benaknya.
"Oia?! Teme!" ucapnya sedikit berteriak dan bergegas menuju tempat tinggal Sasuke. Hosh hosh hosh... napas Naruto sedikit terengah-engah karena berlari. Tepat di depannya berdiri pintu gerbang kediaman Uchiha. Saat Sasuke kembali ke Konoha, dia memutuskan untuk tinggal di rumah kediaman klannya, Klan Uchiha.
Naruto buru-buru masuk ke dalam tanpa permisi. Ingin segera bertemu Sasuke. Namun, ketika bertemu dengan seorang pelayan yang bekerja di rumah Sasuke. Naruto mengurungkan niatnya. Pemuda pantat ayam itu tak ada di rumah sejak tadi siang. Naruto kesal. Dia berjalan seorang diri menuju ke apartemennya. Dia membuka pintu dengan kuncinya yang selalu dibawanya kemana-mana. Gelap. Kembali menutup pintunya dan menyalakan lampu. Kini ruangan itu dipenuhi cahaya. Naruto menghela napas lalu melangkah menuju kamarnya. Dia sedikit kaget pintu kamarnya sedikit terbuka. Perasaan dia sudah menutupnya tadi pagi sebelum meninggalkan rumah. Dia menatap curiga. Dengan was-was dia menuju ruang gelap itu. Secepat kilat dia menyalakan lampu.
Ctekk... Naruto melongo. Di atas tempat tidur terbaring seseorang yang dicari-carinya di kediaman Uchiha tadi. Pemuda pirang itu segera sadar bahwa Sasuke memiliki kunci cadangan apartemen Naruto. Naruto sendiri yang memberikannya. Dia sedang tidur. Wajahnya begitu damai. Naruto memperhatikannya. Rambutnya. Matanya. Hidungnya. Dan bibirnya...
"Eh?!" Naruto tersentak. "Apa yang kupikirkan?! Sialan!" umpatnya pelan agar tidak membangunkan pemuda itu. Ia melepas jubah kebesarannya dan berjalan menuju kamar mandi. Ingin segera menyegarkan badannya dari rasa letih. Setelah beberapa menit dia keluar dengan rambut basah yang sibuk digosok-gosokkannya dengan handuk kecil ditangannya. Sampai dia menyadari bahwa pemilik mata onyx di kasurnya telah bangun dan memperhatikan kegiatannya itu. Sasuke menatap mata biru langit dihadapannya tanpa berkedip. Yang ditatap menjadi salah tingkah.
"Te-teme... kau sudah bangun?"
"Hnm." Sasuke membuang muka memandang ke arah luar jendela kamar Naruto. Naruto berjalan menghampirinya terlihat dari pantulan bayangan pada kaca jendela. Lalu duduk dipinggir kasurnya membelakangi Sasuke.
"Bocah panda itu sudah pergi?" Sasuke mulai membuka percakapan.
"Ha?!" Naruto memalingkan wajahnya melihat kearah Sasuke. Dengan tampang bodoh dia lalu bertanya "Memangnya kenapa Sasuke?" Sasuke diam saja. Tak menjawab atau lebih pada tak ingin menjawab.
"Apa kau tidak senang dengan kedatangan Gaara?" tebak Naruto yang berhasil membuat Sasuke mengalihkan pandangannya pada Naruto. Kemudian dia menghela napas, terlihat berat.
"Tidak juga." Jawabnya singkat. Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu kamar Naruto. Sebelum bayangnya menghilang dari balik pintu dia menyempatkan diri berkata, "Maaf aku tak sopan."
Naruto buru-buru menyusulnya. "Maksudmu?" tanya Naruto tak mengerti. Sasuke berhenti melangkah namun tak membalikkan badannya.
"Aku sudah tidur di tempat tidurmu. Maaf." Katanya sambil berlalu pergi meninggalkan Naruto seorang diri.
"Tunggu Teme!"
Sasuke kembali menghentikan langkahnya masih tak mau berbalik.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu!" Sasuke bisa merasakan nada suara Naruto sedikit berubah dengan yang sebelumnya. Dia melirik dari sudut matanya.
"Apa kau dan Sakura telah menjalin hubungan?" tanyanya yang membuat Sasuke sedikit kaget. Namun tentu saja dia tak akan menunjukkan rasa kagetnya itu. Sasuke memalingkan wajahnya menatap mata biru Shapphire itu.
"..."
"Kenapa diam saja? Jawab aku Teme! Aku ingin tau?" kata Naruto memaksa. Sasuke berpikir sejenak lalu menghela napas dan ...
"Iya." Jawabnya singkat. Yang membuat jantung Naruto serasa ditusuk beribu kunai. Dia tak mengerti kenapa. Hanya saja dia paham rasa ini sangat menyesakkannya. Dia menarik napas panjang dan menjauhkan pandangannya dari tatapan Sasuke. Segera masuk ke dalam kamar.
"Selamat, ya." Hanya kata itu yang sempat terdengar dari mulutnya sebelum dia menghilang dari balik pintu.
.
.
'Rasa apa ini? Sesak sekali! Membuatku mual saja. Jantungku juga berdebar terus kalau mengingat pernyataan Sasuke semalam!' Naruto menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Dia menyandarkan bahunya pada kursi dibelakang meja kerjanya. Tangan kanannya mengurut-urut dahinya yang terasa tegang dan berdenyut-denyut.
Tok tok tok ...
"Masuk..."
Sampai detik ini dia belum bertemu Sakura maupun Sasuke. Dia memang tidak mengharapkan itu. Walau dia cukup menduga salah satu dari nama itu yang mengetuk pintu ruangannya.
Cklek! Terdengar suara pintu terbuka. Muncul seorang pemuda dengan rambut merah kelam tanpa alis dengan lingkaran hitam mengelilingi matanya yang menyerupai panda, bersama dengan gadis berambut pendek berwarna kecoklatan.
"Gaara?" Naruto bangkit berdiri. Gaara tersenyum padanya dan menghampiri pemuda pirang itu.
"Mau jalan-jalan?" tawarnya.
"Hehehe, baiklah!" jawab Naruto penuh semangat.
.
.
Naruto mengajak Gaara dan Matsuri untuk makan siang di Ichiraku Ramen. Entahlah apa Gaara suka makan ramen atau tidak. Setelah menunggu beberapa saat, kini telah terhidang 3 mangkok ramen dengan asap mengepul di hadapan mereka.
"Itadakimasu!" ucap Naruto bersamaan dengan Matsuri, menepuk tangannya sekali dan mulai menikmati makanannya. Naruto baru menyadari Gaara, yang ternyata sedari tadi tertegun menatap hidangan yang ada di hadapannya. Naruto dan Matsuri melongo.
"Kau kenapa Gaara?" Naruto heran. Gaara juga tak menjawab.
"Apa anda tidak suka makanan ini Kazekage-sama?" tanya Matsuri.
"Bukan begitu. Aku ... aku belum pernah makan makanan seperti ini." Gaara sedikit ragu menjawab pertanyaan Matsuri.
"Kalau begitu kau harus mencobanya! Ini... buka mulutmu?" Naruto menyumpit potongan daging ayam dan mie lalu menggulungnya pada sumpitnya. Bersiap menyuapi Gaara. Dengan ragu Gaara membuka mulutnya seperti anak kecil yang sedang disuapi. Dia mengunyah pelan-pelan lalu menelan makanannya. Naruto dan Matsuri menatap Gaara penuh rasa ingin tahu. Bagaimana reaksi Gaara setelah itu?
"Enak." katanya tak percaya.
"Hahahaa! Tentu saja! Ichiraku Ramen memang nomor 1!" Naruto begitu antusias. Senyum pepsodent atau cengiran khasnya itu terlihat begitu cerah bahkan jauh melampaui cerahnya cahaya mentari hari itu.
Setelah kenyang mereka kembali berjalan-jalan. Sungguh sulit dipercaya Gaara yang cool dan irit kata-kata seperti Sasuke itu mampu menghabiskan lima mangkok ramen kesukaan Naruto.
'Baru kali ini Gaara-sama makan sampai seperti itu.' Batin Matsuri. kemudian mengalihkan pandangannya pada Naruto. Dia berjalan di belakang Naruto dan Gaara yang sepertinya sedang asik membicarakan sesuatu. 'Tiap bersama pemuda ini, Gaara-sama seperti menjadi orang yang berbeda. Aneh sekali.'
"Yak! Kita sudah sampai!" mereka bertiga tengah berdiri di depan sebuah gerbang yang bertuliskan Kolam Renang Umum Konoha. Di musim panas seperti ini memang paling menyenangkan berendam di air dingin untuk menghilangkan hawa panas. Kolam Renang Umum Konoha menjadi tempat tujuan yang tepat.
Diruang ganti, sekali lagi Naruto melihat Gaara tertegun di depan loker penyimpanan barangnya.
"Kau kenapa lagi Gaara? Jangan bilang kau belum pernah pergi ke kolam renang ya?"
"Belum."
Gubrakk! Naruto benar-benar tak percaya.
"Ya-yang benar saja sih?!" tanya Naruto memastikan.
"Aku tak terlalu suka berlama-lama di air. Itu akan membuat pasir-pasirku lembek terkena air." Katanya menjawab pertanyaan Naruto. Yang membuat Hokage kita ini mematung.
"Ja-jadi apa kau akan ikut berenang?"
"Hnm, aku rasa iya."
Naruto menghela napas lega. 'Gaara ini sebenarnya seperti apa sih? Apa saja yang dikerjakannya diwaktu luang? Sampai-sampai berkunjung ke kolam renang saja belum pernah. Apa di Suna itu tidak ada kolam renang? Kapan-kapan aku akan melakukan kunjungan kesana!' Naruto sudah memutuskan.
Sebelum mereka mulai berenang Naruto menyarankan Gaara untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu agar tidak kram pada saat berenang. Gaara tersenyum melihat Naruto mempraktekkan gaya-gaya pemanasan padanya yang segera diikuti oleh Matsuri.
"Hei! Naruto!" sapa seseorang diseberang kolam renang. Rambut itu? Cengiran itu? A-alis itu?!
Naruto segera mengenalinya.
"Alis tebal?!" katanya. Sebenarnya yang dimaksud alis tebal oleh Naruto itu adalah Rock Lee. Dengan semangat masa mudanya dia menghampiri Naruto. Diikuti pria berambut coklat panjang yang ujungnya diikat dan seorang gadis bercepol 2.
"Ahh!" Rock Lee berhasil membuat semuanya tersentak kaget dan sweatdroped. Kecuali sang Kazekage yang tetap terlihat cool.
"Gaara-kun~! Teriaknya girang. " Kenapa kau ada di sini?" Lee mendekati Gaara dengan alisnya yang bergerak-gerak. Sesaat kemudian celingak-celinguk mencari seseorang. Tanpa sempat dijawab oleh Gaara, dia kembali bertanya pada Naruto.
"Mana Sakura-san?" mendengar nama yang disebutkan Lee, Naruto hanya mampu menelan ludah. Nama itu mengingatkannya pada Sasuke. Pada pernyataan Sasuke mengenai hubungannya dengan Sakura. Nyuutt, seperti ada yang mencubit perut Naruto. Sakit.
"A.. eh, itu... aku, aku tidak tau."
"Hee, masa kau tidak tau kemana sekretarismu pergi?" tanya Lee. Sesaat kemudian dia kelihatan seperti sedang berpikir.
"Hnmm, apa dia sedang pergi dengan Sasuke ya? Soalnya 2 hari yang lalu aku melihat mereka jalan-jalan berdua!" kata-kata yang diucapkan Lee berhasil membuat sebuah cubitan di jantung Naruto (?). Deg. Rasanya semangat Naruto menjadi hilang. Dia baru sadar kalau dari pagi sampai siang ini dia belum bertemu dengan Sasuke maupun Sakura.
"Kalau memang begitu, ya biarkan saja!" ucap Naruto, lalu menceburkan dirinya ke kolam renang. Mereka yang sedang berdiri di pinggir kolam itu tentu dapat menangkap kalau ada sedikit rasa kesal dalam nada bicara Naruto tadi. Gaara pun juga merasa begitu.
.
.
"Terima kasih, Naruto. Kau membuatku begitu senang. Dan maaf sudah merepotkanmu."
"Tidak masalah Gaara! Aku senang kau mau berkunjung ke Konoha. Jujur saja aku sebenarnya juga merindukanmu!" Mendengar ucapan Naruto itu, membuat detak jantung Gaara berdegup lebih cepat. Dia berusaha keras agar tetap terlihat tenang di depan Naruto, apalagi Matsuri ada disampingnya. Saat ini mereka sedang berada di depan penginapan tempat Gaara dan orang-orangnya menginap selama di Konoha.
"Besok aku akan kembali ke Suna."
"He?! Kenapa tiba-tiba kau akan kembali ke Suna?"
"Aku tidak bisa meninggalkan Suna terlalu lama Naruto. Banyak pekerjaan yang harus segera aku lakukan."
"Ya, ya. Aku tau. Tugas negara memang menyebalkan. Tak bisa melihat orang senang. Huh!" Naruto mencibirkan mulutnya. Membuat Gaara tersenyum geli melihat tingkah Naruto yang masih saja seperti anak-anak.
"Bagaimana jika nanti malam aku berkunjung ke apartemenmu?" tanya Gaara dengan senyum tipisnya itu.
"Be-benarkah?!" tanya Naruto antusias yang segera di jawab anggukan oleh Gaara.
"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu ya! Aku pulang dulu." Naruto pamit kepada Gaara dan Matsuri. dia berlari agar cepat sampai ke apartemennya. Diam-diam Gaara memperhatikan punggung pemuda yang dikaguminya itu. Cahaya senja yang menyinari Naruto membuatnya tampak berkilau di mata Gaara. Dia tersenyum.
Di Apartemen Naruto 06.30 PM
"Hahhhh~ ... lelah sekali..." Naruto membuka pintu apartemennya. Dia terdiam saat melihat siapa yang ada di hadapannya. 'Sasuke...'
Sasuke sedang duduk di sofa dengan santai, menghadap ke arah pintu dan menatap mata biru langit Naruto.
"Heiii! Kau ini Teme! Mengagetkanku saja!" Kata Naruto sambil berlalu melangkah menuju kamarnya. Langkahnya tertahan ketika Sasuke menarik tangannya. Dan tanpa sadar dia kini terbaring diatas sofa dengan badan Sasuke ada di atasnya. Kedua tangannya di cengkram kuat oleh Sasuke.
"Dari mana?" tanya Sasuke.
"Harusnya aku kan yang bertanya begitu?! Dari mana saja kau?!" Naruto mencoba bangun, akan tetapi Sasuke tak membiarkannya lepas dari cengkramannya. Matanya menatap mata hitam kelam Sasuke. Mereka begitu dekat. Naruto membuang muka. Menghindari mata onyx Sasuke. "Seharian ini aku tak melihatmu! Jangan-jangan ..." Sasuke mengerutkan keningnya mendengar ucapan Naruto yang terputus. "Jangan-jangan ... kau sedang asik dengan Sakura-chan ya?!" Naruto menduga-duga. Sasuke menarik wajah Naruto untuk memandangnya. Tanpa menunggu lama Sasuke menempelkan bibirnya ke bibir sang Hokage. Melumatnya dengan beringas. Mendapat perlakuan begitu Naruto segera memberontak agar bisa lepas dari dekapan Sasuke.
"Hmmphh ... Te-!"
Mata Naruto membulat ketika dia merasakan lidah Sasuke menyusup ke rongga mulutnya. Membuatnya tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia hanya memberontak.
Sasuke tau bahwa ketika Naruto memberontak, dia tak sepenuhnya menggunakan kekuatannya. Buktinya cukup lama mereka dalam posisi itu. Dan perlahan Naruto tak menunjukkan tanda-tanda penolakan, walau pun sesekali terasa tangan Naruto mencoba lepas dari cengkramannya. Sasuke membuat ciumannya menjadi begitu lembut bagi Naruto. Dia tau Naruto mulai menikmati perlakuannya begitu pula dengannya. Wajah Naruto merona merah ketika Sasuke menghentikan ciuman mereka. Masih tetap pada posisi semula. Wajah tenang Sasuke menatap Naruto yang sekarang masih panik. Berusaha menghindari tatapannya dan lepas dari dekapannya.
"Sudahlah. Tak usah memberontak begitu!"
Naruto membeku. Wajahnya semakin memerah. Pemuda Uchiha itu melepas cengkramannya dan duduk disamping Naruto yang masih dalam posisi berbaring di sofa. Naruto sungguh tak dapat mengatakan apa-apa. Kejadian barusan membuatnya benar-benar berhenti berpikir.
"Sa-Sasuke... ?"
Naruto menegakkan badannya lalu memperhatikan Sasuke yang tertunduk, menutup wajahnya dengan tangan kanannya. Naruto tak tau harus melakukan apa, yang pasti saat ini perasaannya sungguh tak karuan. Wajahnya masih seperti udang rebus dan dia yakin Sasuke juga begitu karena terlihat jelas bagian wajahnya yang tak tertutup tangannya memerah. Untuk beberapa saat mereka terdiam sampai akhirnya Sasuke bangkit berdiri dan tanpa menoleh dia berjalan menuju pintu apartemen Naruto.
"Berhenti..." Naruto mencoba menghentikan langkah Sasuke, sayangnya tak ada respon. Sasuke terus berjalan.
"TEME! BERHENTI KATAKU!" Pemuda berambut pirang itu bangkit berdiri dan membalik badan Sasuke untuk menatap mata biru sapphire miliknya. Ternyata dia salah besar. Sasuke sama sekali tak menunjukkan wajah udang rebusnya, yang ada hanya tampang stoic-nya yang menurut Naruto sangat menyebalkan.
"Kenapa?" tanya Sasuke seperti tak terjadi apapun pada mereka barusan.
"Ka-kau..." Naruto mengepalkan tangannya. Badannya bergetar menahan amarah. Sungguh dia tak habis pikir bahwa pemuda di hadapannya ini tetap bisa bersikap seperti itu setelah kejadian itu.
"KAU BRENGSEK TEME!"
Bukkk! Naruto menggampar wajah Sasuke, sampai pemuda itu terjatuh ke lantai.
"Kau ini manusia apa setan sih?! Bisa-bisanya kau tetap bersikap seperti itu setelah menciumku!" Amarah Naruto sudah sampai puncaknya. Napasnya terlihat memburu saat dia menyelesaikan ucapannya. Sasuke tetap tenang dan bangkit berdiri. Mengusap aliran darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Munafik!" tiba-tiba Sasuke mengucapkan kata itu yang berhasil membuat Naruto kaget.
"Cobalah untuk jujur pada dirimu sendiri! Berhenti untuk terus membohongi dirimu sendiri! BAKA!" Sasuke berbalik ke arah pintu dan membantingnya. Naruto masih tertegun menatap pintu di depannya. Suasana menjadi sepi. Ruangan yang biasanya selalu dia rasa nyaman saat pulang bekerja menjelma menjadi ruang yang terasa hampa. Rasanya begitu sesak berada di sana. Lutut pemuda pirang itu terasa lemas. Dia bahkan menjadi tak mampu berkedip. Tatapannya pun masih tertuju ke arah pintu.
Ini pertama kalinya Sasuke bersikap seperti itu sejak dia kembali ke Konoha. Dia tidak pernah membentak Naruto. Dia selalu tenang berada di samping Naruto walau tingkah Naruto sejujurnya sangat menjengkelkan. Naruto tak pernah menyangka akan terjadi hal seperti ini. Dia mengepalkan tangannya, menahan rasa kesal yang luar biasa. Selain itu Dia juga merasa bersalah karena telah secara spontan melayangkan pukulannya pada Sasuke. Sesuatu yang telah terlanjur terjadi tak mungkin bisa dihindari lagi. Yang ada saat ini hanya rasa kesal, marah, perasaan bersalah, dan keinginan untuk meminta maaf...
.
.
To Be Continue...
Yakkk! Cukup sampai di sini doeloe (˘▽˘)ง
Dhii sudah kehabisan ide, jadi mau bertapa ma mbah Jiraiya dulu ya! (•̀o•́)ง
Sapa tau dapet ide gila kayak buku karangan simbah Jiraiya yang Icha-icha apa gitu. Dhii lupa, hehheehee...
Dhii juga sedikit ragu di Konoha ada kolam renang ga sih ? Dhii dapet ide ini dari Naruto SD (Sugoi Doryoku) entah episode yang keberapa Dhii lagi-lagi lupa! Hahaaa~!
Oia, kalau ada yang bingung mengenai jalan ceritanya silahkan review aja OK OK?!
Dan semua yang tak jelas di Chapter sebelumnya sudah Dhii coba untuk memperjelasnya di Chapter 3 ini...
Sebelum tidur...
Cup! ( ˘ з˘( ‾-‾)
Cium Naru-kun yang lagi bobok, kawaii nee~
