Yuhhhuuuuu~!
Chapter 4 meluncurrrrr seperti air mancuuurrrr~
Akhirnya terjadi juga! Sasuke Naru-chan! Haha...
Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Mangga dibaca saja yakkk!
Disclaimer : Kalau boleh ma si Om (Masashi Kishimoto) Naruto-kun buatku aja ya?
WARNING! CERITA MENDEKATI YAOI! Bagi yang tidak suka silahkan putar haluan!
NEVER LET YOU GO
CHAPTER IV
Rambut pirang secerah mentari bergerak pelan tertiup angin malam. Mata yang berwarna sebiru langit tak menampakkan warnanya. Malam yang dihiasi cahaya remang-remang bulan terasa begitu menenangkan. Membuat seorang pemuda yang kini menikmati malam ini dari atas atap apartemennya terlihat hanyut dalam suasana damai.
Sedari tadi dia hanya memejamkan mata, membiarkan angin malam menerpa seluruh tubuhnya. Berharap segala beban ikut terlepas dan tertiup angin entah kemana.
Tap. Tap. Tap...
Srek.
"Naruto."
Naruto membuka mata, lalu dan ke arah suara itu berasal.
"Gaara."
"Sedang apa kau di sini? Tadi aku mengetuk pintu apartemenmu, tapi tak ada yang membukakan pintu."
"Hahaha! Maaf ya aku tidak dengar! Tapi bagaimana kau tahu aku di sini?" Gaara memperhatikan wajah Naruto. Senyum pepsodentnya terlihat tidak tulus di mata Gaara.
"Perasaanku mengatakan kau ada di sini... Karena biasanya saat pikiranku penat aku akan berada di atas atap dan memandang bulan seperti dirimu sekarang."
"Eh?!" Naruto kaget. Dia merasa Gaara bisa tahu apa yang dirasakannya saat ini. "Aku hanya lelah saja! Hehehe... aku pikir tadi kau tidak jadi datang ke tempatku." Naruto menggaruk-garuk kepalanya, tanda salah tingkah. Gaara tahu gerak-gerik itu.
"Besok aku akan kembali ke Suna. Dan tak tahu kapan akan bisa berkunjung ke sini lagi. Aku hanya ingin lebih lama didekatmu." Naruto tertegun memandang Gaara. Gaara hanya diam menatap mata biru shappire dihadapannya.
"Oh. Hehehe... kalau begitu bagaimana jika kau menginap saja di tempatku?" tawar Naruto.
"..."
Gaara tak menjawab. Sebenarnya saat ini Gaara sedang berusaha menahan diri. Dia sangat senang dengan tawar Naruto. Kapan lagi dia bisa menginap di tempat Naruto?
"Kenapa? Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa lho?"
"Sepertinya akan menyenangkan." Jawab Gaara dengan segaris senyum terlukis dibibirnya.
.
.
"Hei Gaara!"
"Hnm?"
"Jangan diam saja! Bantulah aku mengangkat benda ini!"
"Oh."
Sang Kazekage pun ikut turun tangan membantu Hokage kita yang sedang kesusahan mengeluarkan futon dari lemari penyimpanan barang di kamarnya. Sepertinya benda itu tersangkut sesuatu atau pintu lemarinya yang kekecilan sehingga sulit sekali untuk mengeluarkannya. Sesuai kesepakatan yang mereka bentuk tadi di atas atap, Naruto akan tidur dengan futon, sedangkan Gaara tidur di ranjang Naruto.
Dengan sekali tarikan kuat dari Gaara dan Naruto akhirnya mereka berhasil mengeluarkan futon dari dalam lemari.
Gubrakk!
Cup.
Futon itu jatuh menimpa Naruto dan Gaara, yang secara tak sengaja membuat Naruto menindih tubuh Gaara dan bibir mereka menempel. Naruto terbelalak begitu pula Gaara.
Mata mereka membulat. Naruto segera bangkit berdiri. Jantungnya berdegup kencang. Gaara masih terduduk di lantai. Keduanya sama-sama tak percaya. Kenapa ini bisa terjadi? Kemana perginya pasir Gaara yang biasanya akan secara refleks menompang tubuh Gaara agar tak terjatuh?
Wajah Naruto sedikit memerah, dia memalingkan wajahnya. Sedangkan Gaara masih dapat menyembunyikan detak jantung dan rona wajahnya.
"Ehm. Itu tadi hanya kecelakaan! Maaf! Hehehe..." Naruto nyengir dan menggaruk-garuk kepalanya yang sudah jadi kebiasaannya.
Pemuda bertatto "Ai" didahinya itu tak menanggapi ucapan Naruto. Dia ikut bangkit berdiri dan menatap mata biru shappire Naruto. Mereka terdiam untuk beberapa menit. Naruto mulai berpikir yang tidak-tidak.
'Ja-jangan-jangan Gaara marah?!' keringat dingin mengalir dari dahi Naruto. Masih tak ada reaksi dari Gaara. Dan tiba-tiba ...
Krak!
Naruto melongo dan berteriak histeris.
GYAAAAAAAA!
Semua orang yang mendengar teriakan itu terbangun dari tidur mereka. Bahkan teriakan Naruto terdengar sampai rumah Shikamaru dan mampu membangunkan tidur sang pemalas itu.
"Cih! Ada apa sih! Berisik!" Pemuda berambut nanas itu menutup telinganya dengan bantal.
Sasuke juga mendengar teriakan itu. Dia mengerutkan dahinya. dia yakin itu suara Naruto, tapi dia mencoba untuk tidak peduli karena tonjokkan Naruto padanya tadi sore membuat pipinya bengkak.
'Brengsek!' batinnya geram sembari mengelus pipinya yang nyut-nyutan.
Berbeda dengan reaksi para ninja pengawas. Sama seperti Sasuke mereka yakin itu teriakan dari sang Hokage. Mereka segera menuju ke kediaman Naruto.
Sementara itu...
"Tenanglah Naruto!"
"Ta-tapi wajahmu RE-TAK Gaara!" Naruto panik. Dia menunjuk-nunjuk ke arah Gaara yang menutup pipinya yang retak (?).
"Aku tidak apa-apa. Ini selalu terjadi jika aku sedang... ah sudahlah!" Gaara mengembalikan pipinya seperti semula. Mulus. Tanpa cacat. Bekas retakan itu menghilang seketika. Naruto masih tak percaya. Napasnya ngos-ngosan karena serangan jantung ringan barusan.
"HOKAGE-SAMA!" terdengar teriakan dari luar jendela. Pemuda pirang itu segera membuka jendela kamarnya dan...
Jreng-jreng!
Sekarang berdiri sekitar kurang lebih 20 orang ninja mengitari atap apartemennya dan atap-atap rumah penduduk. Naruto yang menyaksikan hal itu hanya bisa membatu!
"Kau tidak apa-apa Naruto?! Kenapa tadi kau berteriak?" tanya salah seorang ninja yang memiliki garis horizontal di atas hidungnya. Tampak raut wajahnya begitu khawatir dengan Naruto.
"I-Iruka-sensei? A-ada apa ini...?" tanya Naruto terbata-bata. Gaara kemudian menengok keluar jendela.
"Kenapa kau balik bertanya Naruto?! Kami kemari untuk melihat keadaanmu! Siapa tahu ada yang menyerangmu!" Ninja yang dipanggil Iruka-sensei oleh Naruto itu tampak kesal.
"A-anu... I-itu sebenarnya... tidak ada apa-apa! Hehehe" Naruto nyengir begitu saja, membuat seluruh ninja yang berdiri di hadapannya melongo.
"Kau ini! NARUTTOOO!"
Bletakkk! Iruka berhasil menjitak kepala Hokage yang terhormat itu dihadapan para ninja pengawas yang langsung sweatdropped. Setelah melakukan itu wajah Iruka tampak lega. Dia memberi aba-aba agar ninja yang lain kembali ke posisi masing-masing. Mereka memberi hormat kepada sang Hokage dan Kazekage lalu menghilang secepat kilat.
"Jangan lakukan hal ceroboh lagi Naruto! Kau mengagetkan seluruh desa dengan teriakanmu itu! Sekarang kembali tidur!" perintah Iruka. Naruto hanya mengangguk-angguk.
"Oia, Kazekage-sama maafkan kebodohan Hokage kami ini!" Iruka membungkukkan badannya lalu menghilang dari hadapan Naruto dan Gaara. Naruto segera menutup kembali jendela kamarnya. Tanpa sepengetahuannya ada sepasang mata dengan tatapan menyelidik sedang memperhatikannya dari kejauhan...
.
.
.
Pagi ini masih secerah hari-hari kemarin. Udara begitu sejuk dan segar. Naruto dengan jubah kebesarannya berjalan menuju pintu gerbang Desa Konoha. Dibelakangnya terlihat Gaara, Matsuri, dan 2 orang ninja Suna mengikutinya. Setelah sampai di depan gerbang Naruto menoleh kepada Gaara dan rombongannya.
"Terima kasih Gaara!" Naruto menepuk pundak Gaara. Mereka terlihat sangat akrab. Hari ini Gaara akan kembali ke Suna.
"Hnm." Gaara mengangguk kecil untuk menanggapi ucapan Naruto.
"Semoga kau tidak kapok untuk berkunjung ke Konoha lagi! Hehehe."
"Arigatou Hokage-sama." Gadis berambut coklat di samping Gaara membungkuk sopan pada Naruto. "Anda telah menyambut kedatangan kami dengan ramah. Dan saya rasa Kazekage-sama begitu menikmati kunjungannya ke Konoha." Matsuri tersenyum.
"Hahaha! Lain kali datanglah berkunjung lagi ya?!"
"Kalau begitu kami permisi dulu." Matsuri pamit diikuti 2 orang ninja pengawal Gaara. Mereka berjalan menjauhi Konoha. Naruto melambai-lambaikan tangannya. Setelah beberapa langkah Gaara berbalik menatap pemuda secerah mentari itu, lalu kemudian menyunggingkan senyumnya. Naruto sempat melihat bibir Gaara mengucapkan sesuatu. Kurang lebih seperti ini "Terima kasih ciumannya." Wajah Naruto seketika itu juga langsung mendidih, dia kembali teringat kejadian semalam.
'Sungguh memalukan!' batinnya. Dia menghela napas panjang. Dengan langkah gontai dia kembali masuk ke Konoha. Beberapa meter dari tempatnya berdiri dia melihat sosok yang dikenalnya. Naruto sedikit menyipitkan matanya agar sosok yang sedang dilihatnya dapat terlihat jelas.
"Hinata-chan!" Dia berteriak memanggil gadis berambut panjang dengan warna hitam kebiruan didepannya.
"Na-Naruto-kun?!"
Naruto berjalan dengan penuh semangat menghampiri Hinata. Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Hinata. Hinata terlalu sibuk mendampingi para murid di Akademi Ninja.
"Hai, Hinata-chan! Lama tak bertemu!" cengiran bak iklan pasta gigi Naruto membuat Hinata tersipu malu. Gadis bermata lavender itu terlihat gugup saat melihat Naruto yang sekarang berada cukup dekat dengannya.
"Ohayou Hokage-sama." Hinata membungkukkan badannya memberi hormat.
"Oi! Jangan begitu Hinata! Aku ingin kau bersikap biasa saja padaku! OK?!"
"Ba-baik..." semburat-semburat kemerahan tampak bermunculan di wajah Hinata.
"Aku merindukan bento buatanmu Hinata-chan! Kapan kau akan membuatkannya lagi untukku?" tanya Naruto tak tahu malu.
'Na-naruto-kun merindukan ma-masakanku?! Mimpikah ini?' Hinata tertegun mendengar ucapan Naruto. Wajahnya semakin memerah. Melihat tak ada reaksi dari Hinata, Naruto tampak kebingungan.
"Hei, Hinata-chan? Kau sakit ya?!" Naruto menempelkan punggung tangannya pada dahi Hinata yang berhasil membuat gadis itu jatuh pingsan. Naruto panik tak karuan. Meminta tolong pada orang-orang di sekitarnya. Dia segera membawa Hinata ke rumah sakit.
.
.
Hinata perlahan membuka matanya. Naruto sedang berbicara pada perawat yang memeriksa keadaan Hinata. Sampai ia sadar kalau Hinata telah sadarkan diri.
"Hinata?! Kau sudah sadar?" Naruto menghampiri Hinata. Perawat yang ada di samping Naruto tersenyum.
"Na-Naruto-kun?! Ke-kenapa kau ada di si-sini? Da-dan ini di mana?" Hinata menengok ke kanan dan kiri. Semua yang ada di ruangan itu terlihat dominan berwarna putih.
"Tentu saja kau sedang di rumah sakit, Hinata-chan!" Naruto menghela napas lega. Tadi dia sempat panik lalu menggendong Hinata dipundaknya dan berlari sekencang-kencangnya menuju rumah sakit.
"Syukurlah nona Hyuuga, Anda telah sadarkan diri. Tadi Hokage-sama yang membawa Anda kemari. Kelihatannya Anda terlalu banyak melakukan aktivitas yang melelahkan akhir-akhir ini, sehingga kondisi tubuh Anda terlalu lemah." Perawat itu menjelaskan.
"O-oh... A-aku... A-ano, arigatou Hokage-sama." Hinata menundukkan wajahnya yang telah merona. Perawat itu jelas taHu bahwa Hinata saat ini pastilah sedang tersipu malu. Akan tetapi sang Hokage kita yang tak peka ini sama sekali tak menyadari itu.
"Hnm. Kau harus banyak istirahat Hinata. Aku tidak mau karena tugas yang kuberikan membuatmu sakit! Wajahmu sampai merah begitu! Kau demam ya?!" Dengan tampang polosnya Naruto mendekatkan wajahnya pada Hinata dan entah apa yang sedang dipikirkannya dia secara tak sengaja menempelkan dahinya ke dahi Hinata. Mungkin maksudnya ingin mengecek suhu badan Hinata, tetapi akibatnya sangat fatal. Hinata kembali pingsan!
Naruto kembali panik. Perawat yang ada bersama mereka di ruang itu segera memeriksa Hinata. Setelah memperbaiki posisi tidur gadis berambut indigo dihadapan mereka, perawat itu memalingkan wajahnya dan tersenyum pada Naruto.
"Sepertinya Anda tidak boleh melakukan yang seperti tadi lagi Hokage-sama. Itu bisa membuat nona Hyuuga semakin parah kondisinya."
"Eh?! Ke-kenapa begitu? Aku tidak melakukan apa-apa kan?!" suster itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala serta menghela napas. Sungguh pemimpin yang tidak peka batinnya.
Di Akademi Ninja 10.00 AM
Kelas ninja sudah dimulai sejak pagi tadi. Ninja yang mengajar di depan kelas sedang menuliskan sesuatu. Hari ini murid-murid Akademi Ninja sedang belajar mengenai teknik dasar Ninja.
"Sensei?!" salah seorang murid mengangkat tangannya.
"Ya?" Ninja yang dipanggil sensei itu berbalik.
"Kemana perginya Hinata-sensei? Kenapa dia tidak datang hari ini?"
"Aku juga tidak tahu!" fuhhh~ pemuda dengan tatto menyerupai segitiga sama kaki terbalik itu menghela napas.
"Masa tidak tau?!" anak yang lain ikut berkomentar.
"Sejak pagi tadi aku tidak bertemu dengannya. Yang aku tau, aku dipanggil ke sini untuk menggantikan Hinata mengajar! Sudah! Cepat catat apa yang sudah aku tulis di papan tulis dan jangan banyak berkomentar!" ucapnya galak.
'Kemana perginya Hinata ya?' pikirnya. Anjingnya yang selalu setia menemaninya memperhatikan wajah pemuda itu. Dia tau bahwa sang majikan pasti sedang memikirkan sesuatu.
.
.
Setelah cukup lama berada di rumah sakit Hinata sudah kembali sehat. Dia dan Naruto sedang berjalan menuju gedung Hokage.
"Na-Naruto-kun, ma-maaf aku sudah me-merepotkanmu." Ucap Hinata lembut dengan wajah tertunduk.
"Ah, sudahlah Hinata! Harusnya aku yang meminta maaf karena sudah membuatmu pingsan. Aku sudah meminta tolong Kiba untuk menggantikanmu mengajar di Akademi."
"Ng, a-arigatou Naruto-kun..."
Naruto Cuma bisa nyengir mendengar ucapan terima kasih Hinata. Gadis di hadapannya ini begitu lembut dan terlihat rapuh. Tetapi saat menghadapi musuh dia begitu kuat. Ketika Naruto melawan Pain dulu, dia berjuang mati-matian untuk membantu Naruto. Bahkan dia sempat mengungkapkan perasaannya pada Naruto. 'Hah?!' Naruto teringat kembali. 'Oia, Hinata kan pernah mengungkapkan perasaannya padaku!' Naruto melirik wajah Hinata. Gadis yang berjalan di sampingnya itu masih merona.
Beberapa meter dihadapan mereka terlihat dua orang ninja Konoha sedang berjalan santai. Naruto mengenalnya. Dia menyipitkan matanya untuk melihat jelas kedua sosok itu. Setelah jarak diantara mereka hanya tersisa kurang lebih 2 meter. Naruto memicingkan matanya. Menatap mata onyx didepannya. Pemilik mata onyx itu terlihat santai dengan tampang stoic-nya balas menatap Naruto. Di sampingnya berdiri seorang gadis berambut soft pink.
"Huh!" keduanya memalingkan wajah secara bersamaan menoleh ke arah yang lain. Hinata dan Sakura yang melihat tingkah mereka tampak kaget.
"Hei! Hei! Ada apa ini?!" tanya Sakura.
"Ayo, Hinata! Kita pergi!" tanpa menghiraukan pertanyaan Sakura, Naruto segera menarik tangan gadis Hyuuga di sampingnya. Pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura. Sakura memandang Naruto dan Hinata. Ia lalu menghela napas panjang.
"Aneh sekali! Kenapa lagi si Naruto itu!" gumamnya. Sasuke tak terlalu ambil pusing. Dia melangkahkan kaki ikut meninggalkan Sakura.
"Eh?! Sasuke-kun! Tungguuuu~!" gadis itu berlari mengejar pemuda pantat ayam itu.
.
.
Wajah Naruto tampak kesal sekali. Kenapa dia harus bertemu dengan si Teme itu?! Mengingatkannya pada kejadian kemarin sore saja!
Dia berjalan sangat cepat. Hinata yang berjalan mengikuti langkahnya menjadi sedikit berlari. Genggaman tangan Naruto pada tangannya masih belum dilepas.
"Na... Naruto-kun. Bi-bisakah kita be-berjalannya pelan-pelan sa-saja?" tanya Hinata yang langsung membuat Naruto berhenti melangkah dan membuat Hinata menabrak punggungnya.
"Ma-maaf Hinata-chan! A-aku tadi hanya sedikit kesal saja! Hahaha!" Naruto melepas genggamannya pada tangan Hinata. Gadis bermata lavender itu memperhatikan wajah Naruto. 'A-apa karena Sakura-chan ya?' tanyanya dalam hati.
"A, ano... a-apa Naruto-kun baik-baik saja?"
"Eh? ... Iya, aku baik-baik saja. Kenapa Hinata?"
"A-apa kau kesal karena me-melihat Sakura-chan dengan Sa-Sasuke-kun?" tanya Hinata gugup.
"Oh, tidak. Aku hanya sedang kesal pada Sasuke saja. Kemarin ..." Naruto langsung menutup mulutnya agar dia tak keceplosan bercerita pada Hinata. Dipipinya muncul semburat kemerahan. "Hahahaha, sungguh aku baik-baik saja Hinata-chan! Tak usah terlalu dipikirkan ya! Ayo, kita ke kantorku!" Naruto segera berbalik dan mulai berjalan. Hinata mengikutinya dari belakang. Dia tahu pasti tetap ada yang tidak beres.
"Sasuke! Sebenarnya apa yang terjadi dengan kau dan Naruto?!" gadis bermata emerald di hadapan pemuda berambut emo itu menatap mata hitam kelamnya lekat. Saat ini mereka sedang berada di salah satu rumah makan yang ada di Konoha.
"Hnm, bukan urusanmu." Jawab Sasuke singkat.
"Tentu saja ini urusanku! Aku harus tau kenapa kalian jadi seperti ini? Bukannya beberapa hari yang lalu kalian masih terliat akrab?!"
Sasuke tak perduli dengan ucapan Sakura. Dia malah memejamkan mata, melipat tangan di dada bidangnya dan bersandar di kursi tempatnya duduk, seolah-olah tak mendengar apapun.
'Sialan! Kalau kau bukan orang yang kucintai, pasti aku sudah membunuhmu Uchiha Sasuke! Shanarrooooo~!' maki Sakura dalam hati.
"Sakura!" seseorang yang baru saja muncul dari balik pintu tempat Sakura dan Sasuke bersantai memanggilnya.
"I-Ino?!" gadis berambut merah muda itu bangkit berdiri.
"Wah, wah! Sedang apa kalian?" tanya Ino dengan tatapan menyelidik. Dia lalu berbisik pada Sakura. "Hei! Apa maksudnya ini? Bagaimana kau bisa berkencan dengan Sasuke di sini? Kemana perginya si Naruto itu?!"
Sakura balas berbisik. "Kau tak perlu tahu! Hanya saja aku rasa sekarang Sasuke dan Naruto sedang ada masalah." Ino yang mendengar bisikkan Sakura mengerutkan dahinya. dia lalu melihat ke arah Sasuke yang kini tidak memejamkan matanya lagi melainkan menatap ke luar jendela. Pemuda Uchiha itu tak menghiraukan kedua gadis dihadapannya.
"Berarti ini kesempatanmu Sakura!" Ino kembali berbisik pada Sakura. Mendengar itu Sakura menghela napas dan terlihat lesu. Ino cukup kaget dengan reaksi Sakura.
"Ino-san? Apa kau sudah memesan makanan?" tanya seseorang yang baru saja datang ke tempat itu pada Ino. Senyuman di wajahnya tampak terlihat manis sekali. "Oh. Ada Sakura-san juga ya?"
"Hei! Sejak kapan kau dan Sai sedekat ini?" Sakura menyikut lengan Ino.
"Hahaha! Ka-kami hanya mau makan siang bersama! Kebetulan akhir-akhir ini Sai sering datang ke Toko untuk melukis bunga." Ino terlihat tersipu malu dan salah tingkah.
Akhirnya mereka pun makan bersama dengan satu meja dan empat kursi. Sakura duduk di samping Sasuke dan berhadapan dengan Sai. Ino duduk di samping Sai dan berhadapan dengan Sasuke. Saat ini mereka berempat terlihat seperti sedang Double Date!
'Yipppppiiieeee!' teriak kedua gadis itu dalam hati. Sai hanya senyum-senyum saja, sedangkan Sasuke benar-benar tak perduli.
.
.
TO BE CONTINUE...
Author : "Cihuiiiiii~! Mbah Jiraiya! Chapter 4 akhirnya selesai!"
Mbah Jiraiya : "Hohoho, bagus-bagus! Muridku memang pintar. Kau mengikuti pelajaran dengan baik!" ( ˘ з˘ )ʃ(˘⌣ ˘) ::Palanya dielus-elus ma mbah::
Naruto : "Apa-apaan ini? Kok aku jadi ciuman ma Gaara juga?!" ::Naruto shock::
Author : "Hahaha! Maaf Naru-chan. Tadi Gaara yang telpon minta adegan ma kamu ada kiss-nya gitu."
BLETAKK! ::dijitak Naru-chan::
Author : "Itai! Naru-chan nyebelin! Jiraiya jii-san yang suruh aku nulis gitu! Huh!" (˘̩̩̩⌒˘̩̩̩)
Naruto : "DASAR KAKEK MESUM!" ╰(◣﹏◢)╯
Mbah Jiraiya : "Hahahahhaaa~!" ::lari-lari dikejar Naru-chan::
Nyahahahaaa~!
Itulah seputar percakapan saat fic ini di terbitkan, wkwkwk
Kelihatannya Naru-chan tidak terima, tetapi yang penting permintaan Gaara, Dhii kabulkan! (?)
Gaara : "Kapan aku minta ciuman ma Naruto?"
Author : "Halah, tak usah pura-pura bego gitu deh!" ::tepuk-tepuk pundak Gaara::
Nah, para pembaca sekalian apakah ceritanya semakin aneh? Bingung? Bosen? Atau terlalu berputar-putar bikin pusing? Silahkan untuk lipiuwww saja yakkkk... (ˆ▽ˆ)
Special thanks to Tsuki-san! Trims lipiuwnya ya, sungguh sangat bermanfaat, hehehe!
Trims juga buat lipiuwww dari , NamikazeNoah, nasusay, neko-tan, dan Augesteca...!
