Yuuuuhhhhhuuuu~!
Chapter 5 sudah terbit melejit sampai ke langittttt... (alay!)
Belum bosan kan para readers yang masih setia dengan SasuNaru? (•̪ o •̪)
Kalau belum nich Dhii kasih yang seger-seger di sini! (˘▽˘)ง
Mumpung imajinasi baru ga beres, gara-gara berguru ma mbah Jiraiya! Hahaha...
Disclaimer : udah sampai ratusan kali telpon om Sakito (Masashi Kishimoto) tapi ga diangkat-angkat gara-gara Dhii ngeyel terus minta Naruto cs jadi milik Dhii polepel! Huft! (˘_˘")
PERINGATAN! Bagi Anda yang suka hal-hal yang aneh dan tak biasa, silahkan baca! Bagi yang tidak monggo putar haluan! Cerita mendekati YAOI!
Enjoy it.
NEVER LET YOU GO
CHAPTER V
Panas. Musim panas kali ini sungguh membuat gerah. Keringat bercucuran di dahi sang Hokage Konohagakure. Dia terus menghela napas dan mengibas-ibaskan lembaran kertas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
'Hinata-chan kenapa lama sekali ya? Katanya mau beli ice cream!' Naruto kembali menghela napas.
Di saat seperti ini menikmati segelas ice cream pasti akan sangat menyegarkan. Air liur Naruto hampir saja menetes ketika tiba-tiba khayalannya menjadi kenyataan!
Dia atas meja telah tersaji segelas penuh parfait dengan berbagai macam rasa dan taburan choco chip yang begitu menggoda, serta potongan-potongan buah yang terlihat segar menggiurkan.
Naruto hampir saja melahapnya, namun ia segera mengurungkan niatnya! Saat ia sadar siapa yang membawakan 'benda surgawi' itu ke hadapannya. Dia lalu memutar kursinya menghadap ke jendela.
"Untuk apa kau bawa 'benda' itu ke ruanganku Teme?!"
"Hnm. Aku kira kau sedang membutuhkannya?"
"..." Naruto tak membalas kata-kata pemuda yang berdiri di depan meja kerjanya itu.
"Kalau kau tidak membutuhkannya akan kuberikan pada yang membutuhkan saja!" Sasuke segera mengambil kembali parfait itu dari atas meja. Tiba-tiba tangannya berhenti bergerak. Naruto telah menahannya. Pemuda itu sedikit terkejut, tapi dia lalu meletakkan kembali gelasnya.
"Berubah pikiran?" tanyanya tenang.
"Aku memang masih kesal padamu! Dan aku juga tidak akan meminta maaf karena menonjokmu kemarin! Tetapi aku akan berterima kasih karena ini! Hehehe..."
"Hnm."
Naruto nyengir menampilkan sederetan gigi putihnya. Dia menarik gelas parfait itu ke hadapannya. Matanya berbinar-binar. Segera dilahapnya benda berkilau itu.
Hokage kita ini begitu menikmati parfait yang diberikan oleh pemuda pantat ayam yang sedang duduk di sampingnya. Kelihatannya dia sedang serius dengan bukunya. Berbeda dengan Naruto, setiap suapan parfait yang masuk ke mulutnya selalu membuatnya berkomentar.
"Wow! Ini enak sekali Teme! Hehehe" dia kembali menyuap parfait-nya.
"Hnm." Si Teme hanya berdehem. Dalam hatinya, ia begitu senang karena Naruto mau menerima pemberiannya, apalagi saat melihat wajah Naruto yang berseri-seri setiap kali melahap parfait-nya. Bukan Uchiha namanya kalau secara langsung menunjukkan ekspresi senangnya dengan berjingkrak-jingkrak.
"Ngomong-ngomong di mana kau membelinya Sasuke?"
"Ya di toko ice cream-lah! Memangnya kau pikir di mana lagi Dobe?!" Sasuke menjawab apa adanya.
"Heh! Kau ini?! Bisa tidak sih sehari saja tak membuatku kesal?! Dengar ya aku masih kesal padamu! Kau pikir hanya dengan memberi parfait ini aku akan memaafkan ulahmu kemarin sore padaku?!" Naruto menunjuk-nunjuk wajah Sasuke dengan sendok ditangannya. Tanpa terduga Sasuke melahap ujung sendok itu. Naruto cukup terkejut dengan kelakuan Sasuke.
"A-apa yang kau la-lakukan Teme?!" Sasuke mengeluarkan ujung sendok itu dari mulutnya. Lalu menjilat bibirnya.
"Aku hanya ingin tahu rasanya." Pemuda itu menatap mata biru langit dihadapannya dan tersenyum menggoda. Naruto merasa jantungnya hampir saja meloncat mendengar jawaban Sasuke. Apalagi saat dia melihat ekspresi wajah Sasuke yang seperti itu. Membuatnya sweatdropped.
"Berhenti menatapku seperti itu! Kau membuatku tak nyaman!" Naruto memalingkan wajahnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Sasuke seolah-olah menantang.
"Apa harus ada alasan?!" Naruto balik bertanya.
"Tentu saja." Sasuke bangkit berdiri. Dia berdiri tepat di hadapan Naruto. Kemudian dia mendekatkan wajahnya pada Naruto. Kembali menatap mata biru shappire itu. Wajah dan telinga Naruto memanas dibuatnya. Jantungnya berdebar tak karuan. Keringat dingin mengalir dari dahinya.
Dia kembali teringat kejadian di apartemennya kemarin sore. 'A-apa dia berniat menciumku lagi?!' batin Naruto, dia menjadi panik 'Kenapa aku bisa berpikiran seperti ini?! BAKA!' dia memaki dirinya sendiri dalam hati.
"Aku ingin tahu rasanya Dobe." Sasuke menempelkan dahinya ke dahi Naruto. Membuat pemuda pirang itu benar-benar seperti tomat masak. Naruto bisa saja mendorong pemuda di hadapannya ini agar menjauh, tetapi tak tahu kenapa Naruto merasa dirinya tak bisa mengelak dari tatapan Sasuke saat ini. Dia tak bisa atau tak ada keinginan sama sekali untuk membuat Sasuke menjauh darinya.
"Ka-kalau kau ma-mau tahu, ya ka-kau coba sa-saja sendiri!" Naruto berusaha keras untuk membalas ucapan Sasuke, walau nada bicaranya menjadi aneh.
"Apa kau benar-benar mengijinkan aku untuk tahu rasanya?" Sasuke kembali bertanya.
"Te-tentu saja!" tanpa memikirkan akibat dari keputusannya. Naruto secara spontan mengijinkan Sasuke. Saat itu juga mata Naruto seakan mau melompat dari wadahnya. Begitu pula dengan jantungnya yang langsung berdegup kencang.
Sasuke memejamkan matanya. Bibirnya menempel dengan bibir Naruto. Tangannya menompang pada dua sisi kursi Naruto. Dia melumat bibir pemuda pirang itu dengan lembut. Menikmati setiap rasa kenyal pada bibir pink kemerahan pemuda itu, serta manisnya rasa parfait yang masih menempel di sana menambah sensasi yang menyenangkan. Dia benci makanan manis, namun saat ini berbeda. Dia terlihat begitu menyukai rasa itu sekarang. Tak ada rasa jijik sama sekali, yang ada hanya keinginan untuk terus merasakannya dari mulut pemuda dihadapannya ini.
Naruto tak dapat berkutik. Dia hanya diam saja. Tak membalas lumatan-lumatan kecil pada bibirnya. Badannya terasa beku. Bahkan untuk mengatakan satu kata pun saja dia tak sanggup. Dia takut jika saat dia membuka mulutnya untuk berbicara, Sasuke akan menggunakan kesempatan itu untuk menyusupkan lidahnya ke rongga mulut Naruto. Tangannya pun benar-benar tak berfungsi, bahkan otaknya juga menjadi lambat sekali untuk dalam mengirimkan sinya bagi seluruh anggota badannya. Dia hanya dapat berdoa supaya tak ada siapa pun yang masuk ke ruangannya sekarang!
Cuaca yang sudah cukup panas ditambah apa yang di alami Naruto sekarang ini, sangat membuatnya seperti berada di dalam oven. Ciuman itu berlangsung sudah berlangsung beberapa menit.
Dada Naruto mulai terasa sesak. Dia butuh oksigen lebih banyak. Sedari tadi dia terus menahan dirinya untuk berbicara. Bahkan desahan pun tak diijinkannya keluar dari mulutnya. Membuat napasnya pun menjadi sedikit tertahan. Dia sudah tak tahan lagi. Keringat bermunculan dikeningnya. Wajahnya terasa panas. Dadanya sesak! Dia butuh oksigen!
Naruto hampir saja memberontak namun tak sempat. Sepertinya Sasuke mengerti, dia segera melepaskan pagutannya pada bibir Naruto. Membuat pemuda itu dapat bernapas lega. Dadanya naik turun berirama. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi kantung paru-parunya. Tanpa sadar mulut Naruto sedikit terbuka.
Sasuke yang melihat kesempatan emas itu segera melancarkan aksinya lagi. Dia kembali 'menyerang' Naruto. Tak sempat Naruto kaget akan serbuan Sasuke. Dia sekejap serasa melayang di ruang hampa tanpa udara.
Lidah Sasuke berhasil menyusup ke dalam mulutnya. Menyapu tiap sudut rongga mulut Naruto. Menggelitik lidahnya. Menghisap dan meneguk saliva dari mulut pemuda mentari itu. Merasakan manisnya parfait yang diberikannya pada Naruto.
Naruto benar-benar melayang ke luar angkasa dibuatnya. Kakinya seolah-olah tak lagi berpijak di atas lantai. Dia tak tahu harus berbuat apa. Pikirannya begitu kacau. Dia sama sekali tak dapat berpikir! Tangannya mencengkeram baju di bagian dada Sasuke. Gigi beradu dengan gigi. Lidah beradu dengan lidah. Bibir beradu dengan bibir.
Entah sejak menit ke berapa Naruto mulai membalas setiap perlakuan Sasuke pada bibir, lidah, dan mulutnya. Merasa Naruto mulai menikmati semua ini. Sasuke sedikit memiringkan kepalanya. Dia berniat memperdalam ciumannya pada Naruto.
"Hnmm..." gumaman lembut terdengar keluar dari mulut Naruto. Diiringi napasnya yang sedikit memburu. Mendengar itu Sasuke menggerakkan tangan kanannya. Mengelus pipi pemuda mentarinya. Naruto merasakan hangatnya sentuhan Sasuke pada wajahnya menimbulkan rasa nyaman dan lega dalam dadanya.
Tangan kirinya perlahan membuka ritsleting jaket yang dikenakan sang Hokage. Kemudian menyusup ke dalam kaos Naruto. Meraba setiap senti kulit perut pemuda pirang itu.
Merasa sudah cukup, Sasuke lalu mengecup lembut bibir Naruto. Awalnya hanya bibir saja, namun semakin lama semakin turun ke area leher Naruto. Bibirnya mengecup tiap bagian leher Naruto. Bulu kuduk Naruto berdiri merasakan sensasi rangsangan dari kecupan Sasuke.
"Nggg..." Naruto sedikit menggeliat. Tangan kanan Sasuke memegang dagu Naruto dan memalingkan wajah Naruto ke kanan, sehingga area leher Naruto menjadi terpampang jelas. Pemuda dengan gaya rambut emo itu menjulurkan lidahnya, menyusuri kulit leher Naruto. Saat sampai ke bagian telinga Naruto, dia menghembuskan napasnya lembut lalu mengulum cuping telinga Naruto dalam mulutnya.
"Hhhnmm... nggg!" Pemuda pirang itu kembali bergumam mendapat perlakuan seperti itu.
Saat sedang asik-asiknya, tiba-tiba Sasuke menghentikan semua kegiatannya yang menyenangkan itu. Dia memalingkan wajahnya dan berkata, "Rapikan pakaianmu Dobe!"
Naruto agak kaget juga. Dia langsung merapikan pakaiannya yang berantakan dan memperbaiki ikat kepalanya yang terasa longgar. Sasuke kembali duduk dengan tenang di samping Naruto. Dia mengambil sebuah buku dan membacanya seolah-olah tak ada kejadian apa pun sebelumnya.
'Dasar UCHIHA brengsek!' maki Naruto yang memandang wajah stoic Sasuke yang telah serius dengan bukunya. Belum sempat dia bangkit berdiri untuk menghajar pemuda bertampang stoic itu...
Tok! Tok! Tok!
Hampir saja Naruto loncat dari kursinya. Jantungnya berdegup tak karuan.
'Sialan! Siapa sih itu?! Bikin jantungan saja!' lagi-lagi dia memaki dalam hatinya pada orang yang mengetuk pintu.
"Masuk!" ucapnya dengan nada kesal.
Cklek!
Seorang gadis dengan mata hampir tanpa pupil itu melangkah masuk. Dia cukup terkejut saat melihat ada Sasuke di dalam sana.
"Na-Naruto-kun... A-ano, ngg..." Hinata melirik ke arah Sasuke. Naruto mengerti. Kemudian dia menghampiri Hinata.
"Hei, Hinata-chan! Kupikir kau tidak akan kembali ke sini! Hehehe..." Naruto menampilkan cengiran lebarnya. Hinata tersipu malu. Rona kemerahan mulai tampak pada pipinya.
"I-ini Naruto-kun..." dia menjulurkan sebuah kantong plastik berwarna putih pada Naruto.
"Oh, kau benar-benar membelinya ya?!" Sasuke mengerutkan keningnya mendengar percakapan Naruto dan Hinata.
"I-iya... a-aku pikir Naruto pa-pasti ingin sekali me-memakan ini..." nada bicara Hinata terdengar begitu gugup.
"Hehehe... terima kasih ya Hinata!"
Hinata melirik ke atas meja. Dia melihat gelas besar yang sedikit menyisakan parfait didalamnya.
"Na-Naruto-kun... i-itu..." Hinata menunjuk gelas itu. Naruto yang melihatnya dengan tampang bodoh berusaha mencerna maksud Hinata.
"Oh. Kau mau tahu itu dari siapa?" tanya Naruto yang segera dijawab anggukan oleh Hinata.
"Hahaha! Itu dari Teme bego yang duduk di sana!" jawab Naruto sambil menunjuk Sasuke yang wajahnya sedikit tertutup oleh buku bacaannya. Sebenarnya di balik buku itu, Sasuke sedang menyembunyikan kekesalnya yang berusaha keras dia tutupi dengan tampang stoic-nya. Kupingnya panas mendengar percakapan Hinata dan Naruto. Apalagi ketika gadis yang menurutnya sok lembut dengan nada terbata-bata itu berbicara pada Naruto. Ingin sekali rasanya dia menjungkir balikkan meja di depannya saat itu juga.
Entah kenapa dia benci gadis berambut indigo itu. Tatapannya yang terlihat lemah, nada bicaranya yang kelewat lembut sampai-sampai suaranya hilang diterpa angin, dan wajahnya yang selalu tersipu kala berjumpa dengan Naruto.
'Sungguh memuakkan!' Batinnya. Makanya dia selalu memilih pergi ketika Naruto sedang bersama gadis Hyuuga itu. Kali ini pun sama. Dia bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Sa-Sasuke-kun?" gadis itu memanggilnya. Dia berpaling melihat ke arah gadis kepiting rebus yang ada di samping Naruto.
"Hnm?"
"A-ano... ma-maafkan Na-Naruto-kun yang su-sudah mengataimu be-bego ya..." ucapnya lembut. Naruto hanya diam saja. Sasuke masih menatap gadis itu intens. Dia lalu melirik ke arah Naruto yang dibalas juluran lidah oleh pemuda pirang itu. Dia kembali menatap Hinata yang segera memalingkan wajahnya. Cih. Sasuke membalik badannya segera keluar dari ruang itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Sudah! Tak usah pedulikan dia Hinata!"
"Ta-tapi..."
"Bagaimana kalau kita memakan ice cream ini bersama-sama?" tawar Naruto. Tentu Hinata tak mungkin menolak, dia menyetujui permintaan pemuda itu.
.
.
"Naruto-kun?" panggil Hinata lembut.
"Ya?"
"Bo-boleh aku bertanya?"
"Silakan saja Hinata-chan! Kau mau tanya apa?"
"Ngg, a-ano... ke-kenapa ya a-aku merasa ka-kalau..." Hinata berhenti sejenak untuk menghirup udara segar di sekitarnya. Naruto menunggu dengan sabar.
"Ka-kalau Sasuke-kun ti-tidak suka padaku...?" Hinata menundukkan wajahnya.
"Kenapa kau bisa berpikiran begitu Hinata?" Naruto balik bertanya. Dia cukup heran dengan pertanyaan Hinata padanya.
"Ha-habisnya setiap me-melihatku dia se-seperti ingin me-mengatakan aku membencimu be-begitu..." raut wajah Hinata tampak sedih. Dia memainkan jari-jari telunjuknya, yang menandakan dia sedang gusar. Naruto sudah hafal gerak-gerik itu. Akhir-akhir ini dia selalu memperhatikan Hinata. Mencoba mengerti jalan pikiran gadis itu. Terutama setelah pengakuan mengenai perasaannya pada Naruto. Naruto sendiri bingung, dia belum bisa menjawabnya sampai sekarang. Padahal sudah jelas gadis Hyuuga di hadapannya ini begitu manis, bahkan lebih manis daripada Sakura-chan, pikirnya. Dia juga lebih lembut.
Naruto kemudian tersenyum. Senyum yang begitu hangat dan lembut. Membuat gadis bermata lavender itu takjub akan keindahan senyuman itu.
"Sasuke memang seperti itu Hinata. Dia orang yang susah ditebak. Hehe..." Naruto menghela napas kemudian melanjutkan kata-katanya lagi.
"Aku sudah bersahabat dengannya sejak di Akademi ... walau kami lebih sering terlihat sebagai musuh daripada sahabat. Tapi sampai detik ini aku masih juga belum mengerti jalan pikirannya. Dia berbeda dari orang kebanyakan. Dia tidak suka banyak hal. Selalu menyembunyikan berbagai macam perasaannya dibalik tampang stoic-nya yang menyebalkan itu... Hei, apa kau tahu Hinata? Setiap kali melihat wajahnya itu aku selalu ingin menonjoknya! Hahaa..."
Naruto kembali menampilkan cengiran dahsyatnya itu dan memamerkan kepala tangannya pada Hinata. Gadis itu tersenyum. Betapa manisnya persahabatan Naruto dan Sasuke. Sampai ia yakin mereka memiliki ikatan yang kuat. Ikatan yang tak akan pernah membuat mereka terpisah. Waktu mungkin bisa terus bergulir. Jarak pun mungkin dapat memisahkan. Tapi ia yakin seyakin-yakinnya ikatan Naruto dan Sasuke tak akan semudah itu terputus.
"Nee, Hinata! Aku lebih suka melihat senyummu dari pada wajah cemberutmu yang barusan itu!" Hinata sedikit terkejut dengan pernyataan Naruto itu. Di lain pihak pemuda pirang yang bernama Uzumaki Naruto itu sama sekali tak menyadari dari arti ucapannya itu! Ckckck.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Gadis berambut soft pink muncul dari balik pintu, membawa setumpuk laporan untuk dilihat oleh sang Hokage. Naruto yang melihat itu begitu pasrah menerima nasib.
"Kenapa benda itu terus berdatangan sih Sakura-chan?!" protesnya.
"Bukan saatnya untuk mengeluh Ho-ka-ge-sama!" Sakura mengepalkan tangannya. Hinata dan Naruto langsung sweatdropped.
"Hahaha! Aku hanya bercanda Sakura-chan!"
"Waktu Anda untuk bersantai dengan nona Hyuuga sudah selesai! Sekarang kembali bekerja! Semua laporan kemarin harusnya sudah selesai hari inikan HOKAGE-SAMA!"
"Ma-maafkan aku... hehehe, kemarin belum sempat aku lihat. Ka-karena harus menemani Gaara!"
"A-ano, Sa-Sakura-chan... Na-..." Hinata mencoba mengutarakan sesuatu. Tapi...
"Cepat kerjakan!" bentak Sakura pada Naruto. Kemudian dia pergi dan menghilang dari balik pintu. Sayang disayangkan, suara Hinata yang kelewat lembut belum sempat sampai ke telinga Naruto dan Sakura sudah hilang tertutup teriakan Sakura.
"Nee, Hinata-chan. Apa kau tadi mengatakan sesuatu?" tanya Naruto bingung. Hinata maklum, jadi dia menghilangkan niatnya untuk bicara. Dia hanya menggeleng pelan.
.
.
Hari sudah semakin larut. Jalanan mulai sepi dengan orang yang berlalu lalang. Semuanya berpikiran sama. Sudah waktunya untuk tidur. Terlihat dari kejauhan salah satu jendela pada Gedung Hokage masih nampak cahaya menyinari sebuah ruangan.
Seorang pemuda berambut pirang sedang lembur rupanya. Wajahnya kusut. Matanya mengantung. Dia terlihat letih dan berusaha menahan kantuk yang menyerangnya tiap 10 detik. Dia menguap lebar-lebar, meluapkan rasa kantuknya yang begitu besar.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk..." jawabnya lemas tak berdaya.
"Hei, Naruto! Kau mau pulang jam berapa? Ini sudah malam!"
"Mungkin aku tidak pulang Sakura-chan. Pekerjaanku masih menumpuk..." dia menyandarkan kepalanya pada kursi empuknya. Memejamkan mata untuk membayar rasa kantuknya.
"... sudahlah! Sebaiknya kau pulang. Kau bisa menyelesaikan itu besok!"
"Hnm..." sudah tak ada tenaga untuk menjawab kata-kata gadis bermata hijau emerald itu. Melihat itu Sakura mengangkat salah satu alisnya. Kemudian menghela napas panjang sekali. Dia lalu duduk di samping Naruto.
"Aku ingin bicara denganmu Naruto..."
"..."
"Ini mengenai hubunganku dengan Sasuke." Naruto sedikit membuka matanya. Melirik ke arah gadis di sampingnya.
"Bukannya kalian sudah jadian? Seharusnya kau tak perlu khawatir akan hal lain kan?"
"Bukan begitu Naruto..."
"Lalu kenapa? Apa kau merasa bersalah karena belum mentraktirku 10 mangkok ramen untuk pajak jadianmu dengan si Teme?" Naruto tertawa lemah. Yah, kantuk memang sulit di lawan.
"Aku... aku ingin bercerita tentang kejadian waktu itu. Waktu kau mengatur pertemuan kami. Berkali-kali aku mencari kesempatan untuk bicara denganmu, tapi selalu saja ada orang yang mengganggu!" Sakura tampak kesal.
"Apa yang kau maksud itu Hinata? ... dengar Sakura, kau tidak boleh begitu. Dia tak pernah berniat menjadi pengganggu kehidupan orang lain. Kau tidak boleh kesal padanya, apalagi cemburu karena dia dekat denganku. Kau kan sudah punya Sasuke! Hehe..." Naruto tersenyum dengan mata terpejam. Maksud hati ingin bercanda tetapi malah ucapan itu justru memancing emosi Sakura.
"Sudahku bilang bukan begitukan!" Sakura membantah dengan setengah berteriak. "Sasuke menolakku Naruto!" Sakura kembali terlihat kesal. Naruto membuka matanya lebar-lebar. Mulutnya sedikit ternga-nga. Bukan, bukan kesal. Saat ini Sakura lebih terlihat seperti gadis yang sedang dilingkupi kesedihan dan amarah karena tak punya tempat berbagi rasa.
Perlahan cairan bening itu mulai memenuhi sudut matanya. Naruto dapat melihat itu. Dia berusaha keras menahan air mata itu agar tak menetes. Tubuhnya bergetar.
"Kalau kau ingin menangis... menangislah Sakura-chan." setelah mendengar ucapan Naruto, tangis gadis itu pun pecah. Dia menumpahkan segala rasa penat yang sudah ia tahan selama beberapa hari ini. Naruto bangkit berdiri. Lalu mendekap gadis itu dalam pelukannya.
Wajahnya memang selalu memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja. Dia bukan kunoichi Konoha yang lemah! Tetapi dibalik itu semua ia menyimpan rasa sakit yang luar biasa. Bertahun-tahun mencintai seseorang yang menghilang begitu saja. Setiap malam selalu berharap dia akan datang kembali dalam kehidupannya.
Dan saat semua itu tiba, hanya ada penolakan yang ia dapatkan. Penolakan yang begitu menyakitkan. Penolakan yang berhasil meyakinkannya bahwa penantiannya selama ini sia-sia. Pemuda itu tak mengharapkannya. Sasuke tak mencintainya!
"Di-dia bilang... sudah ada orang lain di hatinya Naruto!" Sakura terisak diikuti cairan bening yang terus mengalir di pipinya. Tangannya mencengkeram kuat baju kebesaran sang Hokage. Naruto dapat merasakan kesedihan Sakura. Tangisan Sakura kembali mengingatkannya tepat pada waktu Sasuke meninggalkan Konoha dulu.
Ketika itu dia berjanji pada gadis dalam pelukannya ini untuk membawa Sasuke kembali. Sampai ia rela mengorbankan rasa cintanya pada gadis ini, supaya ia dapat bersama dengan pemuda impiannya. Perlahan tapi pasti, dia menghapus semua rasa cintanya pada Sakura karena dia merasa tak berhak untuk mencintai gadis ini. Hanya karena gadis ini lebih menginginkan sahabatnya yang menghilang entah kemana. Dan karena rasa sayangnya kepada Sakura dan Sasuke menjadi alasan yang paling kuat.
Akhirnya dia berhasil membawa Sasuke pulang. Pulang ke Konoha. Pulang kemana dia seharusnya berada. Membawa pemuda itu kembali untuk gadis yang dulu sempat dicintainya. Dia merasa bersalah karena tak pernah berpikiran untuk berjanji agar memastikan bahwa Sasuke juga mencintai Sakura.
Naruto mempererat pelukannya pada tubuh mungil gadis berambut soft pink itu. Dia ingin gadis itu bisa menyadari bahwa ia akan aman berada di sana. Sakura masih terisak pelan. Rasa hangat dari tubuh Naruto terasa menenangkan baginya.
Dibalik pintu...
Tanpa Naruto ketahui ada hati yang terluka melihat adegan yang dimainkannya. Setetes air mata mengalir di pipinya. Sebelum mereka menyadari keberadaannya, dia segera menghilang dalam gelapnya malam.
.
.
TO BE CONTINUE...
Yattaaaaaa! "̮(ˆ▽ˆ)"̮
Akhirnya selesai juga chapter 5!
::High five ma mbah Jiraiya::
Mbah Jiraiya : Hahahahaa~! Tentu saja ini berkat ide gila yang selalu mengalir di otakku!
Author : ya ya yaaa~ trims lho buat adegan kiss SasuNaru! Aku rasa sudah cukup Hot! ::xixixixi, nyengir mesum bareng mbah::
Naru-chan : Dhii-san! Apa-apaan ini? Kenapa aku ciuman lagi ma si Pantat ayam?!
Sasuke -kun : BAKA! ::Bletakkk! Jitak kepala Naru::
Author : Yare, yaree! Naru-chan unyul-unyul deh!
Naru-chan : Ga butuh pujian dari lu! ::melet sambil ngelus kepale yang bengkak::
Author : Hiks! Naru jahat!
Sasuke : Ngomong-ngomong di Konoha ada parfait ya?
Author : Kata mbah ada tu? ::mikir::
Mbah Jiraiya : Tentu ada! Kalaupun tak ada ya akan tetap ada, buktinya di fic ini ada! Hahahaaa!
SasuNaru ::Siap-siap ngeluarin rasengan & chidori, Dhii Chu ngumpet aja ah biar mbah Jiraiya yang nanggung, hahaha::
Nah, buat semuanya bolehkan Dhii minta lipiuwwwnya?
Kritik dan Saran selalu Dhii terima dengan cengiran khas Naru-chan! (ˆ▽ˆ)
Bagi yang punya ide untuk cerita selanjutnya boleh lho di ungkapkan, Dhii pasti akan senang sekali...
Nantikan untuk Chapter 6 yaaaaa~! See u :*
.
Special thanks to : Readers AND Reviewers!
NamikazeNoah : ya ampun kelewatan 2 chap O.o"
fic ini sepertinya update kilat yah *o* wow
hyaa kelewat 2 chap dapet bonus kiss sasunaru and gaanaru #plak
hae, males deh lihat sasusaku #dibogem sakura
oke lanjut deh
.
Author : Noah-san, trims ya dah mau lipiuwww~!
Fic ini emang sengaja Dhii update kilat coz lagi semangat 45 buat bikin fic, hehe
. kalau Noah-san punya ide untuk chapter berikutnya boleh lho kasih tau Dhii, hahaiii~!
Ditunggu lipiuwnya untuk chapter 5 ini yakkk...
*Dhii juga ga terlalu suka dengan SasuSaku, hehe, tapi di chapter ini Dhii jadi kasihan pada Sakura-chan!
.
.
Koukei : Wow.. bagus-bagus.. ai laik dis(?) (I like this)
Cpetin ye apdet.y..
Oia.. q pengin adegan sasuke Cemburu banggeeett ma Hinata yg dket2 Naruto
deh..
.
Author : Yuhuuuuu~! Koukei-san...
Trims ya lipiuwwnya.
Silakan di baca untuk chapter 5 nya SasuNaru! Dhii tunggu kritik dan sarannya yaaaa~
Untuk adegan Sasuke cemburu pada Hinata di chapter 5 ini baru gambaran perasaan tak suka Sasuke pada Hinata saja, hehe...
