Yosh! Kembali lagi bersama Dhii Chuu~!
Terima kasih buat readers n reviewers yang masih setia dengan fic ini...
Langsung saja ini adalah Chapter ke-6 SasuNaru (•̀o•́)ง
Rasanya kok makin GJ gini yak! Ckckck,
Ya sudahlah, selamat membaca dan terus lipiuwww OK!
Disclaimer : Eum, Sakito-san (Masashi Kishimoto) yang punya Naruto cs, Dhii Cuma pinjem bentar, hehee~
PERHATIAN! Cerita ini mengandung unsur BL, jadi yang tak suka monggo belok kanan kiri terserah, grak! Haha!
NEVER LET YOU GO
CHAPTER VI
.
.
Di ruang kelas Akademi Ninja Konoha tampak ramai sekali pagi ini. Semua calon ninja Konoha sedang asik dengan kegiatan mereka masing-masing. Sepertinya sang sensei belum juga datang ke kelas. Di dekat jendela terlihat tiga orang calon ninja sedang duduk bersantai.
"Konohamaru-kun, Hinata-sensei kemana ya? Kemarin dia tidak datang ke kelas. Aku rasa sekarang pun sepertinya dia tidak datang." seorang gadis remaja dengan rambut dikucir dua yang terangkat ke atas berbicara pada teman di sebelahnya.
"Iya, Konohamaru. Apa kau tidak merasa aneh?" seorang laki-laki remaja dengan ingusnya yang tak berhenti meler ikut berbicara.
"Aku juga ti-"
Belum sempat laki-laki remaja bersyal panjang itu menjawab pertanyaan kedua temannya, tiba-tiba pintu kelas terbuka. Semua murid bergegas ke tempat duduk masing-masing. Dari sana muncul seorang pemuda dengan jubah kebesarannya yang berkibas. Senyum gigi cemerlang menghiasi wajahnya. Dia melangkah mantap memasuki kelas. Disusul dengan kunoichi berambut merah muda. Dan terakhir seorang ninja dengan garis melintang di atas hidungnya ikut masuk. Konohamaru langsung mengenali ketiga ninja itu.
"Yosh! Ohayou minna-san!" teriak pemuda yang pertama antusias.
"Haiiii! Ohayou Hokage-sama!" semua murid akademi ninja balas memberi salam.
"Maaf jika kami terlambat. Hari ini kita kedatangan tamu! Tentunya kalian semua pasti sudah mengenalnya bukan?" tanya ninja ketiga yang memiliki garis melintang di atas hidungnya. Semua murid mengangguk untuk membalas pertanyaannya. Sebelum ninja itu mulai berbicara lagi, Konohamaru segera mengangkat tangannya.
"Iruka-sensei!"
"Oh, ada apa Konohamaru?"
"Kemana Hinata-sensei?!" Iruka diam beberapa saat. Kemudian ia pun tersenyum.
"Tadi Neji-san datang ke kantor meminta ijin untuk Hinata-sensei. Dia bilang Hinata-sensei sedang sakit dan membutuhkan istirahat di rumah."
Sang Hokage sedikit kaget ketika mendengar penjelasan Iruka.
"Apa benar itu Iruka-sensei?" tanyanya memastikan.
"Iya, tadi Neji sendiri yang datang ke kantorku. Memangnya ada apa Hokage-sama?" sang Hokage hanya terdiam. Dia sedang berpikir kenapa Hinata bisa tiba-tiba sakit? Padahal baru saja kemarin mereka bertemu. 'Apa telah terjadi sesuatu ya pada Hinata?' batinnya. Iruka yang merasa sang Hokage tak menjawab segera mengalihkan perhatiannya pada semua muridnya.
"Hari ini kita akan belajar mengenai apa itu ninja medis dan teknik apa saja yang digunakan oleh ninja medis! Nah, Sakura-san-lah yang akan mengajar di kelas kita hari ini. Ingat perhatikan dan pahami semua yang Sakura-san ajarkan pada kalian. Mengerti!"
"Haiiiii senseiiiii~!" semua murid menjawab dengan serentak. Lalu kunoichi berambut soft pink di samping sang Hokage melangkah maju. Berdiri berdampingan dengan Iruka. Memperkenalkan dirinya kemudian membungkuk sopan. Semua murid terlihat bersemangat dalam mengikuti kelas hari ini. Walau bagaimanapun juga, ini merupakan suatu hal yang baru bagi mereka. Iruka tersenyum melihat murid-muridnya, dia pikir ini adalah cara yang bagus untuk mengetahui potensi murid-muridnya dalam dunia medis.
Beberapa saat kemudian terdengar pintu kelas sedang di ketuk oleh seseorang. Saat pintu digeser muncullah sosok pemuda yang membuat semua murid maupun sensei di kelas itu sweatdropped, termasuk sang Hokage juga!
"Le-LEE-san!" Sakura shock.
"Ohayou~ Sakura-san!" pemuda itu mengacungkan jempolnya, mengedipkan salah satu kelopak matanya, dan sekilas terlihat kilatan dari giginya yang berjejer sempurna. Semua yang ada di kelas itu kembali sweatdropped!
"Le-Lee? Ke-kenapa kau ada di sini?!" tanya Iruka terbata.
"Hahaha! Ohayou Iruka-san! Guy-sensei yang menyuruhku datang kemari! Katanya murid-murid akademi akan belajar perihal ninja medis hari ini, dan itu berarti berhubungan dengan stamina yang baik bukan? Nah, misi dari Guy-sensei adalah mengajarkan pada para calon ninja bagaimana cara menjaga stamina yang baik!" Lee kembali memasang pose nice guy-nya.
"Oh, be-begitu... hahaha, aku tidak tahu." Setelah mengatakan itu Iruka merasa ada aura gelap muncul dari tubuh Sakura. Semua yang ada di kelas itu langsung bergidik.
"Sa-Sakura-chan te-tenanglah..." Naruto berusaha nyengir dan melambai-lambaikan tangannya pada Sakura. Perlahan amarah Sakura meredam. Lee yang tak terpengaruh atau lebih dikatakan dia tak merasakan sama sekali aura gelap Sakura berjalan mendekati gadis itu.
"Sakura-san! Mohon kerjasamanya ya!" Lee membungkuk hormat pada Sakura.
"Haha.. i-iya Lee-san!" Sakura berusaha tersenyum.
"Baiklah kalau begitu! Sekarang sebaiknya kalian memulai pelajaran hari ini ya! Saya dan Hokage-sama permisi dulu. Belajar yang benar!" Iruka pamit kepada Sakura dan Lee, serta memperingatkan para muridnya. Naruto melangkah pergi keluar kelas mengikuti Iruka.
"Naruto-kun!" langkahnya tertahan. Dia berbalik menghadap sang empunya suara.
"Ada apa Alis Tebal?" Lee mendekat dan berbisik kepada Naruto. Sakura mengerutkan keningnya. Setelah berbisik Lee kembali memasang senyum mencling dengan jempolnya yang teracung mantap.
"Hahaha! Baguslah! Mohon bantuanmu ya Alis Tebal!" Naruto pergi keluar kelas. Saat pintu telah tertutup kembali. Sakura menatap Lee dengan rasa penasaran.
"Apa yang kau bisikan pada Naruto tadi?" Tanyanya.
"Aku hanya mengatakan kalau kau begitu cantik hari ini Sakura-chan!"
Cling! Gigi berkilau Lee kembali memancarkan cahayanya membuat Sakura hampir saja melayangkan bogem mentah ke wajah Lee.
Naruto masih berdiri dibalik pintu kelas. Mendengar suara ribut-ribut didalam kelas ia pun tersenyum.
"Aku harap kau bisa menghiburnya Alis Tebal!" setelah bergumam demikian, Naruto lalu melangkah pergi.
*Flashback*
.
"Alis Tebal!"
TOK! TOK! TOK!
"Oi! Bangun Alis Tebal!"
Naruto mengetuk pintu apartemen salah seorang ninja Konoha, Rock Lee. Sepertinya 'makhluk hijau' dengan alis super tebal itu masih terlelap dalam tidurnya. Yah, tentu saja! Karena ini masih subuh! Tapi tunggu dulu? Tumben Naruto bangun sepagi ini?!
Cklek! Pintu dibuka.
"Ada apa sih Naruto! Kau ini mengganggu tidurku saja!" setelah berkata begitu Lee kembali tertidur sambil berdiri. Naruto yang menyaksikan itu terdiam sesaat, sampai urat siku-siku muncul di pelipisnya.
"Oiiiii! BANGUN ALIS TEBALLLLLL!"
Naruto berteriak sekencang-kencangnya yang berhasil membuat Lee terjengkal ke belakang. Dia duduk sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit akibat terbentur lantai.
"Sebenarnya apa maumu Naruto?!" Lee tampak kesal.
"Bangun Alis Tebal! Aku ada misi untukmu!"
"Misi? Kenapa pagi-pagi begini Naruto?"
"Aku sudah tak punya waktu lagi! Apa kau tidak lihat kantung mataku sudah seperti ini! Aku ingin kau menggantikan aku Alis Tebal!"
"Kau ingin aku melakukan apa?" Lee kembali bersemangat. Kapan lagi Naruto membutuhkan bantuannya kalau tidak sekarang!
"Ini ada hubungannya dengan Sakura-chan!" Naruto melipat kedua tangannya di dada. Menatap Lee dengan serius.
"Sa-Sakura-san?!" Lee terbelalak tak percaya. "A-ADA APA DENGAN SAKURA-SAN NARUTOOO?!" Lee berjalan kesana kemari. Dia terlihat panik. Mulutnya bergumam tak jelas.
"Alis Tebal! Kau terlalu berlebihan!"
"Tentu saja aku jadi begini Naruto! Kalau terjadi apa-apa dengannya aku tidak akan memaafkan diriku sendiri! Aku sudah berjanji padanya untuk terus menjaganya dengan seluruh jiwa ragaku Naruto!Hueeekkkkk~!" Lee berlutut. Air matanya mengalir deras bak tanggul jebol!
"I-iya! Tenanglah Alis Tebal! Aku hanya ingin memintamu menemaninya mengajar di Akademi hari ini. Dan buatlah dia gembira! Mengerti?!" Lee yang mendengar ucapan Naruto hanya manggut-manggut. Dia tampak serius dengan posisi bersimpuh di hadapan sang Hokage.
"YOSH! Aku akan melakukannya dengan baik Naruto! Cinta adalah bagian dari semangat masa muda!" Lee memamerkan gerakan taijutsu-nya dengan mantap.
"Tapi jangan pernah bilang bahwa aku yang menyuruhmu ya?!"
"Tenang saja Naruto-kunnnn~!
*End Flashback*
Suara serangga musim panas saling bersahut-sahutan seolah mengatakan bahwa musim panas belum berakhir. Mereka hinggap pada pohon yang cukup besar dan teduh dekat kolam di Taman kediaman klan Hyuuga. Di bawah pohon itu terdapat sebuah ayunan yang sepertinya sedang digunakan oleh seseorang.
Angin bertiup pelan menyapu helaian rambut hitam kebiruan yang tergerai begitu indah. Wajah sang pemilik terlihat pucat. Matanya terpejam untuk menikmati segarnya udara pagi ini. Langit biru terbentang luas di angkasa tanpa adanya awan yang menutupinya. Bayang-bayang pemuda yang sangat dicintainya tergambar indah di sana. 'Naruto-kun...' gadis itu pun tersenyum.
"Hinata-sama." Suara itu sedikit mengagetkannya. Seorang pemuda berambut panjang yang pada ujungnya dikucir telah berdiri di sampingnya. Pemuda itu begitu mirip dengannya, hanya saja rambutnya yang berwarna cokelat gelap berbeda dengan warna rambut Hinata yang berwarna hitam kebiruan.
"Neji nii-san?"
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah Hiashi-sama menyuruhmu untuk tak keluar rumah?"
"A-aku hanya ingin menghirup udara segar saja..."
"Hinata-sama, Hiashi-sama begitu mengkhawatirkan dirimu. Jadi aku mohon dengarkan apa kata-kata beliau."
Hinata menundukkan wajahnya. Raut wajahnya terlihat murung. Neji yang melihatnya hanya bisa menghela napas. Akhir-akhir ini memang Hinata selalu seperti ini. Sejak bangun tidur sampai sekarang ini dia hanya melamun. Berdiam diri. Tak ingin diganggu oleh siapa pun.
Gadis Hyuuga ini seperti sedang memendam sesuatu dalam hatinya dan tak mau menceritakannya pada siapa pun, bahkan kepada Kiba dan Shino. Tetapi Kiba sempat mengatakan bahwa Naruto ikut terlibat dalam perubahan sikap Hinata, dia sangat yakin itu. Neji mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan amarahnya. Dari area sekitar matanya nampak urat-urat bermunculan dan iris matanyapun ikut berubah. 'Brengsek! Awas kau Naruto!' dia memaki dalam hati.
.
.
"Hiiii~ Ke-kenapa aku tiba-tiba merinding begini ya? Seperti akan terjadi sesuatu yang buruk padaku! Ahh! Mungkin hanya perasaanku saja!" Naruto bergegas pergi. Saat sampai pada tempat tujuannya dia berhenti berlari. Dia membuka pelan pintu gerbang kediaman Klan Uchiha. Pemuda pirang itu menengok ke kiri dan ke kanan. Tak ada siapa pun. Dengan langkah mengendap-endap seperti pencuri, dia lalu memberanikan diri masuk ke kediaman Uchiha sampai sebuah suara mengagetkannya.
"EHEM!"
Naruto langsung sweatdropped! Pemuda pirang itu memberanikan diri menengok ke belakang.
"Anda sedang apa Tuan HOKAGE?" tanyanya seorang pria paruh baya pada Naruto. Naruto yang salah tingkah langsung menjawab dengan gugup.
"A-ano! A-aku hanya ingin menemui Sa-Sasuke! Hehehe" dia menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Oh... Sepertinya Anda kurang beruntung. Saat ini tuan muda tak ada di rumah. Dia baru saja pergi" katanya yang langsung membuat Naruto kecewa.
"Kalau begitu saya permisi dulu paman." Naruto pamit.
.
.
'Kemana perginya Sasuke ya? Sejak kemarin sore aku tak lagi bertemu dengannya. Hmm, kemarin kami ciuman lagi...EH?! CIUMAN?!'
"Bodoh! Kenapa aku malah mengingat itu! Kurang ajar kau Sasuke!" Naruto berjingkrak-jingkrak kesal. Wajahnya memerah tak karuan. Orang-orang yang lalu lalang tampak heran dengan tingkah laku Hokage mereka itu.
Naruto terus berjalan sampai dia tiba di sebuah tanah lapang dengan tiga batang pohon berdiri berjejer. Tempat itu adalah tempat di mana timnya dulu sering berlatih. Tim 7. Dia kembali mengingat saat Tim 7 terbentuk. Di mana dia, Sasuke, dan Sakura menjadi satu tim.
Saat-saat pertama kali bertemu dengan Kakashi-sensei. Tes merebut 2 lonceng yang pada akhirnya mereka gagal melakukannya. Naruto yang mendapat hukuman karena mencuri makan siang harus diikat pada salah satu batang pohon besar itu dan tak diberi makan siang. Kenangan itu masih segar dalam ingatannya.
Naruto tersenyum lembut sembari mengusap batang pohon besar yang berada di tengah kedua batang pohon yang lain. Dia ingat betul bagaimana Sasuke dan Sakura diam-diam memberinya makan siang. Mereka menyuapinya seperti anak kecil karena kedua tangannya yang terikat tak dapat digunakannya untuk memegang sumpit.
"Aku yakin. Saat ini kau sedang ada di ruanganku Sasuke. Kuharap kau akan membaca pesanku dan menemuiku di sini." Gumam Naruto seorang diri.
.
.
Cklek!
Tap. Tap. Tap.
Mata onyx itu melihat ke sekeliling ruangan. Sosok yang ingin ditemuinya tak ada di sana. Saat akan pergi matanya melihat ke atas meja. Di sana terdapat secarik kertas dengan tulisan yang tak asing baginya.
Srek...
Untuk baka Teme!
Jika saat ini kau ada di ruang kerjaku dan menemukan kertas ini,
segeralah pergi ke tempat latihan tim 7 dulu!
Aku ada di sana!
Dari HOKAGE KONOHA yang terhormat!
Pemuda dengan gaya rambut melawan gravitasi itu mengeryit. Kemudian melipat kertas yang ditemukannya di atas meja kerja Naruto, lalu beranjak pergi meninggalkan ruang kerja sang Hokage.
.
Tak butuh waktu lama bagi seorang Uchiha Sasuke untuk sampai ke tempat Naruto berada. Kini ia berdiri di depan Naruto yang menatap lekat mata onyx-nya. Angin berhembus kencang. Membuat dedaunan beterbangan tak tentu arah.
Suasana hening menyelimuti tempat itu. Tidak ada seorangpun di sana selain dua pemuda yang sedang berdiri berhadap-hadapan dengan jarak kurang lebih 10 meter memisahkan mereka. Mata mereka saling bertatapan. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut masing-masing. Angin kencang terus berhembus menerpa helaian rambut pirang dan rambut hitam kelam kedua pemuda itu.
"Kenapa Anda memanggil saya kemari Hokage-sama?" akhirnya salah satu di antara mereka membuka suara untuk memecahkan keheningan itu.
"Aku ingin bicara denganmu Sasuke."
"Hnm."
"Kenapa kau berbohong padaku mengenai hubunganmu dengan Sakura?"
"..." tak ada jawaban.
"Kemarin Sakura menceritakan semuanya padaku. Kau menolaknya bukan? Kenapa kau harus begitu Sasuke? Dia begitu tulus mencintaimu. Bertahun-tahun dia menanti dirimu kembali, tapi apa yang dia dapat? Kenapa kau tidak bisa menerimanya SASUKE?!" Naruto hampir berteriak saat mengucapkan pertanyaan terakhirnya.
"Jadi untuk itu kau memeluk Sakura semalam?" Sasuke menghela napas. "Ada orang lain yang kucintai." Jawabnya singkat.
"Kau! Ukh!" Naruto mengepalkan tangannya. "Dari mana kau tahu?! lalu siapa? Siapa orang yang kau maksud?! Apakah cintanya jauh lebih besar dari cinta Sakura padamu?!"
"Aku tidak tahu." wajah Sasuke masih terlihat tenang.
"Kau bahkan tidak tahu apakah dia juga mencintaimu atau tidak!" Naruto semakin kuat mengepalkan tangannya. "Kau ... kau begitu menyebalkan TEMEEE!" Naruto berlari kencang, tangan kanannya bersiap melayangkan pukulan ke arah Sasuke.
Pukulannya hampir saja mengenai wajah Sasuke, kalau saja pemuda itu tak menghindar. Secepat kilat Sasuke mencengkeram tangan kanan Naruto dan memelintirnya ke belakang dengan kuat. Tangan kiri Naruto juga segera ditahannya.
"Ukh!" Naruto menahan sakit di kedua pergelangan tangannya.
"Emosi tidak akan bisa menyelesaikan masalah Dobe! Aku tidak akan membiarkanmu melayangkan pukulan ke wajahku lagi!" Naruto terbelalak mendengar ucapan pemuda yang kini ada di belakangnya, menahan kuat-kuat kedua tangannya.
"Lepaskan aku Teme!" bentak Naruto.
"Aku tidak bisa melepaskanmu sekarang."
Naruto menggeram. Dia benar-benar tak dapat bergerak sekarang. Sasuke begitu kuat mencengkeram kedua tangannya. Pemuda pirang itu melirik ke belakang. Kini mereka berdua begitu dekat, bahkan dia bisa merasakan napas hangat si Bungsu Uchiha menerpa daun telinganya. Detak jantung pemuda bermata kelam itu pun bisa dirasakannya karena dada bidang Sasuke yang menempel pada punggung Naruto.
"Apa tujuanmu sebenarnya Sasuke?! Kenapa kau menyakiti perasaan Sakura?!" Naruto kembali bertanya.
"Aku tidak pernah bermaksud menyakitinya. Aku tidak pernah memintanya untuk mencintaiku. Aku juga tidak pernah memintanya untuk terus menungguku!" Sasuke menjawab pertanyaan Naruto dengan tegas. Terasa Naruto memberontak berusaha melepaskan cengkeraman Sasuke. Pemuda bertampang stoic itu kembali meneruskan kata-katanya.
"Aku menyukai orang lain. Tidak hanya suka tapi aku juga begitu mencintainya. Bisa berada didekatnya adalah impianku selama ini."
DEG! Jantung Naruto seketika itu juga terasa ditabuh bagai genderang. Hatinya sakit. 'Siapa orang itu?!" tanyanya dalam hati.
"Si-siapa dia Sasuke?!" Naruto kembali bertanya. Ada nada ragu dalam pertanyaannya.
Lama Sasuke tak menjawab. Hening kembali menyelimuti tempat itu. Masih dalam posisi seperti tadi, Sasuke kemudian menghela napas.
"Kau ini benar-benar tidak peka Dobe! ... Apakah kau masih ingin tahu kenapa aku berbohong padamu?"
Mendengar itu Naruto tak menjawab. Dalam hatinya dia berkata 'Tentu saja! Baka!'.
"Aku kesal padamu karena telah berbohong padaku makanya aku melakukan itu. Saat aku pergi ke Ichiraku Ramen ternyata kau tidak ada di sana, tapi justru Sakura-lah yang aku temui. Dia memintaku untuk menemaninya. Tentu saja aku langsung dapat menebak pasti kau yang telah merencanakan semua ini, makanya aku menerima ajakannya. Mengenai perasaan Sakura, aku tidak pernah memberi harapan satu pun padanya sejak dulu. Berbeda denganmu yang selalu saja memberi harapan bagi gadis Hyuuga itu!"
Sasuke sepertinya sudah lupa akan sifat seorang Uchiha yang selalu irit akan kata-kata. Dia berbicara panjang kali lebar, kemudian memberi jeda pada ucapannya. Naruto tak mau menyela karena dia yakin Sasuke masih akan terus menjelaskan semuanya.
"Cinta itu tidak dapat dipaksakan Dobe! Ketika ada seseorang yang menyukaimu namun kau tidak merasakan hal yang sama dengannya, jangan pernah memberi harapan baginya! Itu akan sangat menyakitkan saat dia tahu kenyataan bahwa kau tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Jika tetap dipaksakan, maka yang akan tersakiti adalah kau dan dia!"
Naruto seperti menerima tamparan keras pada pipinya. Dia teringat pada Hinata. Pada semua perhatian yang gadis itu berikan. Pernyataan cinta yang sampai saat ini belum dia jawab, serta ucapan-ucapan tak sengajanya yang tampak memberikan harapan pada gadis itu, kembali berputar dalam ingatannya.
Tapi ingatan itu segera tergantikan oleh bayang-bayang Sasuke yang selalu berada di dekatnya. Memberi perhatian dan kasih sayang yang entah kenapa selalu membuatnya senang. Sentuhan tangan pemuda itu pun terasa nyaman baginya. Setiap waktu yang dilalui dengan pertengkaran kecil dan tak lama kembali berbaikan. Dia tak pernah bosan akan semua hal itu. Rasa sakit yang senantiasa bertengger dihatinya setiap kali Sakura mengatakan betapa dia mencintai Sasuke. Terlebih ketika mendengar ucapan 'iya' pemuda Uchiha itu ketika dia menanyakan mengenai hubungannya dengan Sakura.
Sungguh berbeda rasanya dengan saat di mana dia melihat keakraban Hinata dengan Kiba. Melihat Kiba mengobrol dengan Hinata sambil bersandau gurau justru membuat Naruto ikut tertawa juga. Tidak ada rasa sakit di sana. Tidak ada cubitan kecil di hatinya.
Kini dia mengerti. Naruto menyayangi gadis Hyuuga itu, tetapi itu bukan karena cinta melainkan hanya kasih sayang sebagai seorang sahabat. Dia tak pernah merasa cemburu ketika gadis itu bersama dengan laki-laki lain. Berbeda dengan Sasuke...
"Apa kau mengerti sekarang?" pertanyaan Sasuke membuyarkan lamunannya. Naruto sama sekali tak memberontak lagi dan Sasuke memutuskan untuk melepas genggamannya pada kedua pergelangan tangan Naruto.
"Jadi... siapa orang yang kau cintai itu?" tak ada emosi dalam ucapan Naruto.
"Apakah kau sungguh ingin tahu?" Sasuke justru balik bertanya. Naruto mengangguk pelan. Mungkin ini akan menyakitkan baginya, barusan ia sadar bahwa perasaannya pada Sasuke ternyata lebih dari sekedar seorang sahabat. Rasa sakit tiap Sakura bercerita tentang Sasuke benar-benar membuatnya sadar bahwa 'Aku mencintaimu Sasuke.' Naruto mengucapkan kalimat itu lirih dalam hatinya.
"Aku mencintaimu Dobe."
Sasuke benar-benar melupakan bahwa dirinya seorang Uchiha! Cinta memang buta!
Mata Naruto membulat. Mulutnya ternga-nga. Dia tak percaya akan apa yang diucapkan Sasuke barusan! Jantungnya berdegup tak normal. Pemuda pirang itu segera membalikkan badannya. Menatap pemuda berwajah tenang yang balas menatap mata biru sapphire miliknya dengan lembut.
"A-apa yang ka-kau katakan Sa-Sasuke?" sang Hokage Konoha itu bersusah payah mengeluarkan ucapannya karena lidahnya yang terasa kelu.
"Apa aku harus mengulangnya?"
Keringat dingin mengalir dari pelipis Naruto. 'A-apa ini mimpi?' tanyanya pada dirinya sendiri.
"Kau tidak sedang bermimpi Dobe!" Sasuke berusaha meyakinkan pemuda pirang yang terus mematung di hadapannya.
'Ke-kenapa dia seolah bisa membaca pikiranku?!' Naruto sungguh tak mengerti.
"Jadi? Apa jawabmu?" tanya pemuda dengan model rambut mencuat melawan gravitasi itu penuh rasa ingin tahu. "Kau tadi ingin tahukan apakah orang yang kucintai itu juga mencintaiku? Aku tidak bisa menjawab karena aku juga tidak tahu, maka sekaranglah saatnya untukku tahu apa dia juga mencintaiku atau tidak!"
Naruto masih belum juga menjawab. Sasuke merasa ada yang aneh di sini. Dia mengerutkan dahinya.
"Hei Dobe?" saat tangan Sasuke hampir menyentuh lengan Naruto. Seketika itu juga tubuh pemuda pirang itu ambruk. Dia pingsan! Sasuke refleks menangkapnya ke dalam pelukannya. "Dasar baka Dobe!"
.
.
.
"Sepertinya Hokage-sama kurang istirahat Uchiha-san. Tekanan darahnya turun. Saya rasa semalam dia tidak tidur dan banyak pikiran. Jadi biarkan dia istirahat sekarang." Seorang perawat mencoba menjelaskan kondisi Naruto saat ini.
"Hnm."
"Kalau begitu saya permisi dulu." Perawat itu tersenyum dan meninggalkan Sasuke yang duduk di samping tempat tidur Naruto. Mata onyx itu menatap lembut sosok pemuda yang tertidur pulas di atas tempat tidur pasien. Setelah Naruto pingsan tadi, Sasuke segera membawanya ke Rumah Sakit Konoha.
"Nggg..." Naruto menggeliat, memperbaiki posisinya menjadi menyamping, menghadap ke arah Sasuke. Wajahnya tenang, tidurnya begitu pulas. Sasuke bersandar pada sandaran kursi tempatnya duduk, melipat tangannya di dada mencoba untuk rileks. Sebelum Sasuke menutup mata sepenuhnya dia mendengar Naruto mengigau...
"Sasuke... aku juga." Sasuke mengangkat salah satu alisnya.
"Aku... aku juga." Ucap Naruto tak jelas. Pemuda itu pun semakin penasaran. Ditatapnya lekat-lekat bibir Naruto.
"Aku... juga mencintai... mu Sasuke..." Sasuke tersenyum bahagia. Kemudian Naruto kembali mengigau "Jangan pergi lagi..."
"Aku tidak kemana-mana Dobe..." pemuda Uchiha itu mengusap lembut helaian rambut pirang pemuda di hadapannya, lalu mengecup bibir sang Hokage yang masih terlelap dalam tidurnya.
Entah ia sadar atau tidak di depan pintu, ada seseorang yang melihatnya melakukan itu. Raut wajah orang itu begitu shock. Merasa tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Sa-SASUKE!"
.
.
TO BE CONTINUE...
.
OBSI (Obrolan Singkat):
Naru-chan : SASUKEEE! Kembalikan!
Sasuke : Tidak mau!
Naru-chan : RASENGAN!
DHUAAARRRR~!
Sasuke : Kalau mau maen bola angin jangan di sini! Kasian yang punya kamar Dobe!
Cklek! ::pintu terbuka::
Hening.
Hening.
.
Author : GYAAAAAAAA~! KUAMARRR GUEEE! (۳˚Д˚)۳
Naru-chan : Maaf Dhii-san! ...
Author : NARUTOOOO! SHANNNAAAAROOOOO!
BLETAKKK!
Sasuke : Ckckck... ::geleng-geleng::
Yahh, kamar yang udah kayak kapal pecah tambah mirip kapal ancur gara-gara baka Dobe! Hiks, (╥﹏╥)
Buat para pembaca, bagaimana tanggapannya tentang Chapter 6 ini? Silakan lipiuwww yaaa~!
Dan baca juga fic galau Dhii "Tulus Cintaku"! haha~
Special Trims :
Augesteca, kkhukhukhukhudattebayo, Koukei, NamikazeNoah, and widi orihara!
Ditunggu lipiuwwwnya lagi yaaa~!
