"Hoahhmmmm~!" Naruto menguap lebar-lebar, untung saja tak ada lalat yang kebetulan lewat. Pemuda pirang itu sangat puas karena bisa melampiaskan rasa kantuk yang menyerangnya sejak semalam. Kedua bola matanya menatap langit-langit ruangan tempat ia berada.

'Dimana ini?' pikirnya, baru ia sadar kalau sekarang dirinya tak berada di rumah. Badannya yang terasa lemas susah payah ia tegakkan, kepalanya sedikit terasa pening. Iris biru sapphire-nya menangkap senyum manis dari seorang gadis yang duduk di samping tempat tidur.

"Ka-kau sudah bangun, Naruto-kun?" tanya gadis itu lembut hampir tak terdengar.

"Hinata? Kenapa kau bisa ada di sini?" Naruto balik bertanya.

"E-eto... a-aku tadi mendengar seorang perawat mengatakan kalau kau ada di sini."

"Oh, jadi aku di rumah sakit ya...? Tadi pagi Iruka-sensei bilang kau sedang sakit. Kau sakit apa Hinata?"

"A-ano... aku, aku hanya kurang istirahat saja Naruto-kun. La-lalu Naruto-kun sendiri kenapa bisa ada di sini?"

"Hnmm... Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini Hinata. Seingatku tadi siang aku sedang berada di..." wajah Naruto merona karena teringat kembali akan apa yang terjadi dengan dirinya, tentang pernyataan cinta seorang pemuda dari Klan Uchiha padanya tadi siang.

"Ke-kenapa Naruto-kun?" tanya Hinata penasaran, yang segera dijawab oleh cengiran lebar pemuda pirang itu.

"Bu-bukan apa-apa Hinata-chan!Hahaha!" Ia menggaruk-garuk kepalanya seolah dirinya belum mencuci rambut dari kemarin. Hinata yang melihat itu hanya bisa diam. Pikirannya menerawang pada kejadian beberapa jam yang lalu, sebelum ia masuk ke kamar tempat Naruto beristirahat.

Gadis bermata lavender itu sempat melihat seorang gadis berdiri di depan pintu kamar Naruto yang terbuka. Gadis itu cukup lama berada di sana, sepertinya sedang berbicara dengan seseorang. Ia memilih bersembunyi untuk melihat apa yang dilakukan gadis berambut soft pink itu di sana. Tak lama kemudian dengan berurai air mata gadis itu berlari keluar, disusul oleh pemuda berambut hitam kelam yang langsung menarik lengannya. Mereka berbicara berhadap-hadapan hingga akhirnya pemuda itu memeluk gadis yang sebenarnya adalah Haruno Sakura. Sakura melepas pelukan Sasuke dan tersenyum. Hinata tak dapat mendengar percakapan mereka karena jarak yang terlalu jauh. 'Sebenarnya apa yang terjadi...?" batinnya.


.

NEVER LET YOU GO

Chapter VII

By : B Dhii Chu

Disclaimer : Naruto, cs Masashi Kishimoto

.

.

Tap.

Tap.

Tap.

Srettt... Langkah kaki jenjang itu terhenti ketika dilihatnya pemandangan yang sangat mengejutkan terpampang jelas dihadapannya. Pemilik mata emerald itu berdiri kaku dekat pintu geser kamar pasien yang baru saja ia buka.

"Sa-SASUKE!" teriaknya.

Pemuda berambut mencuat melawan gravitasi itu tersentak kaget saat seseorang berteriak memanggil namanya. Mata onyx-nya menangkap sosok seorang gadis berambut soft pink yang shock melihat apa yang dilakukannya barusan. Tanpa memperlihatkan rasa keterkejutannya, dia bangkit berdiri menghampiri gadis yang ada di depan pintu. Wajah pemuda itu terlihat datar, namun tatapan yang ditujukan pada sang gadis serasa menusuk sampai ke ulu hati. Langkah kakinya berhenti saat jarak di antara mereka hanya tersisa kurang lebih dua meter. Lama keduanya berdiri dalam diam. Pemuda itu kemudian menghela napas.

"Dia adalah orang yang kumaksud itu." ucapnya, menunjuk ke arah tempat tidur pasien dengan jempol tangan kirinya tanpa menoleh, tempat di mana seorang pemuda berambut kuning cerah tertidur pulas.

"Kau... Ja-jadi orang yang ka-kau cinta itu... Ke-kenapa dia? Ke-kenapa harus di-dia Sasuke?!" suara gadis itu bergetar. Ia sungguh tak percaya ini! Bagaimana bisa?!

"Sejak dulu aku sudah bisa merasakannya Sakura..." pemuda itu terdiam sejenak sebelum meneruskan ucapannya kembali. "... Aku dan dia sama... kami saling membutuhkan satu dengan yang lain. Kami akan menjadi lengkap jika aku dan dia bersatu. Rasa sepi yang selama ini menghantuiku dapat sirna hanya dengan melihat senyum tulusnya. Sedangkan aku, aku akan memberikan semua yang ia butuhkan agar dia dapat merasakan apa yang tak pernah ia dapatkan dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya... Kasih sayang, itulah yang dibutuhkannya..." katanya datar nyaris tanpa ekspresi.

Sakura tak dapat berkata apa-apa, lidahnya menjadi kelu. Keringat dingin mengalir dari pelipis matanya. Pemuda Uchiha yang dingin dan seharusnya irit akan kata-kata itu terus menatapnya. Ingatan-ingatan masa lalu kembali berputar dibenak Sakura. Hatinya sakit.

Sasuke dan Naruto adalah rival sekaligus sahabat. Mereka akan saling membantu untuk melawan musuh yang menghadang dan tidak akan membiarkan salah satu diantara mereka terluka, tetapi di saat yang sama keduanya juga merupakan saingan berat. Sakura mengingat ketika Naruto mati-matian membantu Sasuke, saat Sasuke terluka pada waktu melawan Haku, seorang yang hidupnya diutamakan sebagai senjata untuk melindungi tuannya, Momochi Zabuza.

Momochi Zabuza sendiri adalah salah satu dari tujuh pemegang pedang (Kiri no Shinobigatana Shichinin Shu). Amarah Naruto memuncak melihat kondisi Sasuke yang semakin parah karena terus-terusan melindungi Naruto dari serangan Haku. Amarah itu membuatnya hilang kendali dan membuat monster bernama Kyuubi yang disegel dalam tubuhnya bangkit kembali. Dia menyerang Haku secara membabi buta. Alhasil, gadis itu kalah di tangannya, namun hidupnya berakhir di tangan Kakashi, karena dia menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi tuannya yang hampir saja mati karena serangan chidori Kakashi.

Benang merah telah mengikat Naruto dan Sasuke, bahkan sebelum mereka menyadarinya. Ikatan keduanya memang tak terlihat, tetapi akan tetap ada dalam hati masing-masing. Hanya Naruto yang dapat mengerti Sasuke. Dan Sasuke tahu itu. Tak seorangpun selain Uzumaki Naruto yang dapat memahami bungsu Uchiha itu. Kebersamaan yang singkat, namun mempunyai banyak arti. Hingga akhirnya, takdir mempertemukan mereka kembali, membuat ikatan itu semakin kuat. Haruno Sakura dengan tinju mautnya yang mampu meretakkan tanah sekalipun tak akan pernah bisa memutus ikatan yang ada pada Naruto dan Sasuke.

Senyum tulus tersungging dari bibir pink Sakura. Meski ia tahu rasa sesak di dadanya telah menjalar keseluruh bagian tubuhnya. "Syukurlah. Kau dan dia memang tak akan pernah bisa terpisahkan Sasuke. Aku... aku ikut merasa bahagia melihat kalian bisa bersama."

Ah, ternyata ia tetaplah seorang gadis biasa yang akan menangis ketika terluka. Cairan bening mengalir deras dari sudut-sudut matanya. Ia berbalik kemudian berlari keluar, akan tetapi Sasuke sempat menarik lengannya membuat langkah kakinya terhenti. Sakura tak sanggup menatap pemuda itu. Hatinya hancur. Cinta yang terus dipertahankannya selama ini hancur berkeping-keping.

"Maaf. Maafkan aku yang tak bisa menerima cintamu, Sakura." mendengar ucapan Sasuke, gadis itu pun tersenyum miris.

"Haha... sudahlah Sasuke. Aku tidak apa-apa! Aku mendukung hubungan kalian!" ucapnya dengan tawa hambar. Air matanya terus menetes. Sasuke menarik bahu gadis itu agar ia membalikkan badannya, membuat mata emerald Sakura bertemu mata onyx Sasuke. Kedua telapak tangannya menyentuh pipi Sakura, mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya yang telah merona. Sakura terisak pelan. Dalam hati ia ingin sekali memeluk Sasuke untuk yang terakhir kalinya. Ya, terakhir kalinya! karena ia sadar bahwa sampai kapan pun ia tak akan pernah bisa memiliki pemuda Uchiha itu.

Ternyata harapannya terkabul, Sasuke memeluknya erat. Membagi kehangatan tubuhnya untuk menenangkan gadis yang telah rapuh karena cinta itu dalam dekapannya.

"Arigatou." Ucap Sasuke. Ia dapat merasakan Sakura semakin mempererat pelukannya. "Bisakah aku meminta tolong padamu?" tanya bungsu Uchiha. Sakura mengangguk pelan. "Jangan katakan pada siapapun apa yang telah kau lihat tadi." Pinta Sasuke pada gadis yang terlihat mungil dalam pelukannya itu. Perlahan Sakura melepas diri, dan berkata...

"Ten-tentu saja! Aku tidak akan mengatakannya pada siapa pun! ...Aku akan membiarkan mulut kalian sendiri yang berbicara pada orang-orang tentang hubungan kalian!" Ucapnya tegas. Senyum ceria tersungging pada bibirnya. Sasuke terdiam, lalu balas tersenyum lembut pada gadis dihadapannya yang telah berhenti menangis.

'Aku tahu kenapa kau lebih memilih dia daripada aku Sasuke... karena hanya dia, ya hanya Naruto seorang yang dapat membuat dunia gelapmu menjadi penuh warna. Membuat segala yang kau anggap omong kosong menjadi berarti. Menghapus semua keresahan, kebencian, dendam, bahkan ketakutan yang ada dalam dirimu hanya dengan senyum tulusnya. Dan yang lebih penting, Naruto adalah seorang yang selalu kau anggap lebih berharga dari apapun, meski mulutmu selalu menyebutnya 'Dobe'... Aku tahu semua itu Sasuke.'

.

.

.

Jubah kebesaran yang bertuliskan Rokudaime Hokage berkibas pada punggung seorang pemuda pirang. Setelah tadi cukup lama beristirahat di rumah sakit, pemuda itu memutuskan untuk pulang dan bersikeras mengantar Hinata pulang terlebih dahulu. Ia berjalan melewati pertokoan yang ramai dikunjungi pembeli, di sampingnya seorang gadis berambut hitam kebiruan ikut menemaninya. Lampu jalanan mulai dinyalakan karena hari yang sudah semakin gelap. Mereka sedang menuju ke kediaman Klan Hyuuga.

Beberapa meter di depan mereka, seorang pemuda berambut cokelat panjang tengah berdiri, bersandar pada tembok dekat dengan pintu gerbang kediaman Klan Hyuuga. Mata yang hampir tak berpupil itu menatap lekat pada mata biru sapphire Naruto.

"Oi, Neji!" sapa Naruto yang langsung menghampiri pemuda itu. Tanpa menghiraukan Naruto, Neji justru mengalihkan pandangannya pada Hinata.

"Hinata-sama, kenapa Anda lama sekali?" tanyanya. Sikapnya ini membuat urat berbentuk siku-siku memenuhi kepala Naruto. Belum sempat Hinata menjawab, Naruto menarik bahu Neji.

"Oi! Di sini ada gue lho! Mata lu dimane coy?!" mendengar ucapan Naruto, pemuda itu berbalik menatap tajam ke arah Naruto.

"Singkirkan tanganmu." Ucap Neji dingin. Naruto bergidik ngeri saat dilihatnya urat-urat memenuhi pelipis Neji. Jika urat-urat itu telah bermunculan maka dapat dipastikan bahwa byakugan-nya telah aktif. Byakugan atau mata putih -yang 'melihat segalanya'- merupakan Dojutsu Kekkei Genkai dari Klan Hyuuga, seluruh anggota klan akan secara langsung memiliki mata ini sejak dilahirkan. Naruto mundur beberapa langkah menjauhi Neji.

"Neji-nii-san..." Hinata merasa akan terjadi sesuatu yang buruk. Benar saja! tanpa banyak bicara lagi Neji telah memasang kuda-kudanya. Bersiap untuk menyerang Naruto. Naruto yang belum dapat mencerna semua ini hanya dapat menelan ludah.

"Naruto! Kau ada di dalam jangkauan gerakanku! Hakke Rokujuyon Sho!" segera Neji mengarahkan jutsu 64 pukulan suci yang mematikan pada Naruto. Namun tanpa ia sadari Hinata yang telah bersiap menangkis gerakannya, segera melompat menghadang Neji. Semua berlangsung secara cepat. Neji tak sempat menghentikan gerakannya. Pukulan terakhir Neji hampir saja mengenai pundak Hinata, jika seseorang tak datang untuk menangkis serangannya. Kaki Neji terdorong beberapa langkah karena kekuatan yang tiba-tiba mematahkan serangannya.

'Cih!' Neji berdecih ketika melihat sosok yang tengah berdiri berhadapan dengannya, membelakangi Hinata dan Naruto.

"Oi! Neji! Kenapa kau tiba-tiba menyerangku begitu?!" tanya Naruto dengan keringat bercucuran di dahinya. Ia menunjuk-nunjuk ke arah Neji. Pemuda itu sama sekali tak menghiraukan ucapan Naruto, mata lavender miliknya menatap tajam pemuda bertampang stoic yang telah membuat lengannya sedikit nyeri. Ia membuang muka dan berjalan menuju gerbang.

"Ayo kita pulang Hinata-sama." Ajaknya. Hinata tak segera menerima ajakan kakak sepupunya itu. Dia masih bingung dengan kelakuan Neji yang tiba-tiba menyerang Naruto, 'Ke-kenapa Neji-nii-san sampai melakukan hal seperti itu?' pikirnya. Gadis itu menghela napas berat. Dia melirik ke arah Sasuke.

"A-arigatou Sasuke-kun..." Hinata menundukkan kepalanya.

"Hnm." Dingin sekali tanggapan dari Sasuke! Naruto mendengus kesal mendengar jawaban Sasuke atas rasa terimakasih Hinata.

"Na-Naruto-kun, tolong maafkan atas sikap Neji-nii yang keterlaluan barusan." Gadis Hyuuga itu membungkukkan badannya. Naruto merasa tak enak, ia sendiri masih belum paham atas semua yang telah terjadi.

"Tidak apa-apa Hinata, hehe... sudah malam sebaiknya kau pulang dan beristirahat."

"I-iya..." Hinata berlari kecil menuju gerbang kediaman Klan Hyuuga. Ketika membuka pintu ia menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Naruto. Senyum cemerlang pemuda itu selalu dapat membuatnya kembali bersemangat. Saat ia bertemu pandang dengan pemuda Uchiha di samping Naruto, Hinata merasa tatapan matanya sungguh tak enak. Kebencian tersirat di mata onyx pemuda itu. Hinata segera masuk ke dalam dan menutup kembali pintu gerbang kediaman Klannya. Salah satu kunoichi Konoha itu menyandarkan bahunya pada pintu gerbang dan menghela napas. Neji memperhatikannya.

"Maafkan saya Hinata-sama."

"Neji-nii..." suaranya yang terlampau lembut hampir tak terdengar oleh Neji. "Tidak apa-apa... ke-kenapa kau menyerang Naruto-kun?" tanyanya.

"..." pemuda berambut cokelat panjang itu terdiam. Ia berjalan mendekati Hinata. Kemudian berhenti ketika ia hanya berjarak selangkah dari Hinata. "Saya tidak bisa membiarkan Anda terus disakiti Hinata-sama." Hinata cukup terkejut dengan jawaban Neji.

"A-apa maksudmu...?"

"Saya tahu jika selama ini Anda terus bersedih akibat ulahnya. Iya 'kan Hinata-sama?"

Hinata menundukkan wajahnya. Neji memegang pundak Hinata, membuat gadis itu menengadah menatap mata lavender yang sama dengan miliknya. Di mata itu ia temukan rasa khawatir yang mendalam. 'Neji-nii...'

Tanpa ragu sedikitpun Hinata memeluk kakak sepupunya itu. Neji terkejut. Dirasakannya baju di bagian dadanya basah. Gadis itu menangis dalam dekapan sang kakak. Neji dengan sayang mengusap lembut rambut hitam kebiruan Hinata.

"Saya tidak ingin melihat Anda terus seperti ini Hinata-sama. Berhentilah mengharapkan cinta yang hanya bisa menyakiti Anda... Daripada memikirkan Naruto, Anda akan lebih baik jika menyibukkan diri dengan berlatih. Hinata-sama, Anda adalah calon pemimpin. Jadilah seorang yang kuat!"

"Hiks, Ne-Neji-nii..." gadis itu terisak, tangannya mencengkeram kuat baju sang kakak.

"EHEM!" keduanya tersentak kaget mendengar suara berdehem yang muncul tiba-tiba. Neji segera melepas pelukannya.

"Hi-Hiashi-sama?!"

"Otou-san?!"

"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" pria separuh baya itu menghampiri Neji dan Hinata. Hyuuga Hiashi adalah ayah Hinata sekaligus saudara kembar ayah Neji, Hyuuga Hizashi .

"Sa-saya hanya mencoba menghibur Hinata-sama." Neji membungkuk sopan. Meski sejujurnya ia sangat malu atas perbuatannya barusan. Memeluk calon pemimpin klan, itu sungguh tak sopan! Apalagi dipergoki seperti ini! Benar-benar memalukan!

"..." tak ada respon.

"I-iya... Neji-nii-san melakukan itu untuk menghiburku saja Otou-san." Wajah Hinata memerah. Ia menundukkan wajahnya dan mulai memainkan kedua jari telunjuknya. Melihat tingkah putri sulungnya itu, Hiashi tersenyum tanpa sepengetahuan Hinata dan Neji.

"Ini sudah malam. Kalian pergilah ke kamar kalian masing-masing."

Setelah berkata begitu, Hiashi berlalu pergi meninggalkan Hinata dan Neji. Keduanya hanya saling pandang dengan ekspresi cengo, lalu tersenyum bersama dan menyusul pemimpin Klan Hyuuga yang telah berjalan menjauh.

.

.

.

Mata hijau bak batu emerald menerawang menatap langit yang dipenuhi bintang dari puncak bukit patung kepala Hokage. Rambut soft pink-nya bergoyang tertiup angin malam. Raut wajahnya terlihat lesu.

'Sasuke-kun...'

Dia masih belum bisa merelakan cintanya pada pemuda Uchiha yang sejak dulu tersimpan dalam hatinya itu dihapus begitu saja.

"Ini menyedihkan..." ucapnya nyaris tanpa suara. Senyum miris menghiasi wajah cantiknya.

"He? Sakura-san ka?" ia memalingkan wajahnya ketika ada seseorang yang memanggil namanya. Keringat dingin mengalir begitu saja pada pelipisnya. Alis itu sungguh sangat mengganggu pandangan!

"Le-Lee-san?! Ke-kenapa kau-?!"

"Oh! Aku tadi sedang berlatih di sekitar sini Sakura-san! Tanpa sengaja aku melihatmu duduk di sini seorang diri. Maaf telah mengagetkanmu! Jadi? Kenapa kau bisa sendirian di tempat seperti ini?" tanya Lee penuh semangat.

"Ukh. E-eto..." Sakura mengalihkan pandangannya.

"Hmm? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu Sakura-san?" tanya Lee simpatik. Sakura mengangguk pelan. Lee berdiri di samping Sakura menatap cahaya lampu desa Konoha yang terlihat indah di bawah sana. "Kau tidak harus menceritakannya padaku, tapi jika ada yang bisa kulakukan untuk menghiburmu katakan saja ya?" Lee tersenyum memamerkan gigi pepsodentnya yang berkilat. Acungan jempol tangan kanannya sungguh mantap. Sakura terpana. Ini pertama kalinya ia merasa senyum pemuda itu penuh arti.

"A-arigatou Lee-san."

Keduanya sama-sama diam. Sakura melirik wajah pemuda yang masih asik melihat pemandangan Desa Konoha di bawah sana. Perlahan gadis itu meraih tangan kanan berbalut bantage pemuda disampingnya. Menggenggamnya erat dengan jemari lentiknya yang terlihat kecil di sela jemari Lee. Lee terkejut. Ia tak menyangka Sakura akan melakukan itu.

"Tolong genggam erat tanganku. Ini akan sangat membantu untuk membuatku kembali bersemangat Lee-san." Sakura tersenyum lembut, ia mengangkat tangannya yang telah bertautan dengan tangan pemuda bermata bulat itu.

"Hai! Sakura-san!" Lee mengacungkan jempol tangan kirinya. Giginya berkilau. Sakura terkekeh geli menyaksikannya. Apa salahnya jika sekali-kali ia tak bersikap 'iuh' pada 'makhluk hijau' itu? Toh langit juga tak akan runtuh jika menyaksikan ia bergandengan tangan dengan Lee saat ini.

Lee mulai bercerita mengenai latihan yang dilakukannya sejak pulang dari membantu Sakura mengajar di Akademi hingga malam hari ini. Bagaimana ia harus berlari mengitari desa tanpa istirahat, membantu kakek-kakek mencari kayu bakar, mengambil kucing seorang wanita tua yang tak bisa turun dari pohon, dan lain sebagainya sampai bertapa di bawah air terjun yang airnya sungguh dingin beberapa saat yang lalu. Sakura mendengarkan sambil sesekali tersenyum, bahkan tertawa ketika Lee bercerita hal yang lucu. Jadilah sepasang muda-mudi itu melewatkan waktu bersama. Memandang langit penuh bintang dan indahnya cahaya lampu Desa Konohagakure dengan canda tawa yang terus terdengar dalam kesunyian malam di bukit patung kepala Hokage.

.

.

Sementara itu di apartemen Naruto...

"SASUKE BAKA! JANGAN MENDEKAT! Pergi sono brengsek!" sang Hokage berteriak-teriak sembari melempar apa saja yang ada dalam apartemennya ke arah seorang pemuda yang sibuk menangkap benda-benda melayang itu.

"Dobe! Bisakah kau tenang sedikit!"

"Tidak! Sudah kubilang jangan dekat-dekat dengankukan! Sial!" Naruto terus melangkah mundur, meraih apa saja yang mampu tertangkap tangannya untuk menjauhkan pemuda pantat ayam itu darinya. "Kenapa kau terus mengikutiku! Aku tak mau melihat wajahmu Teme!"

Cih! Sasuke berdecih. Ia mulai jengkel dengan tingkah Naruto. Sejak mereka meninggalkan kediaman Klan Hyuuga tadi, Naruto terus membuang muka. Menghindari tatapan mata onyx-nya. Menepis tangannya ketika ia hendak menyentuh pundak pemuda itu. Ini sangat menjengkelkan! Kuso!

Tak peduli benda-benda itu terus melayang ke arahnya. Tak peduli mulut manis pemuda itu terus memakinya. Sasuke tetap melangkah mantap mendekati Naruto yang akhirnya terpojok di sudut ruangan. Sasuke menyeringai melihat 'mangsa'nya tak dapat berkutik lagi.

"Apa maumu?!" tanya Naruto dengan nada meninggi.

"Aku mau kau jujur padaku." Sasuke terus mendekat hingga jarak antara wajah mereka hanya tinggal 30 senti lagi! Kedua tangannya menempel pada tembok, masing-masing berada pada sisi kepala Naruto. Dapat ia pastikan, kali ini pemuda pirang itu akan berhenti bertingkah.

"Jujur tentang apa?! Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau katakan!" biru sapphire tak mau bertemu dengan onyx.

"Aku ingin tahu perasaanmu padaku."

"Cih! Bicara apa kau Sasuke?!" pemuda pirang itu berusaha memberontak, ia mendorong-dorong tubuh Sasuke.

"Sudah. Tak perlu kau tutupi lagi Dobe! Aku tahu kalau kau sebenarnya..." sasuke sengaja menggantung kalimatnya. Membuat pemuda itu menghentikan gerakannya. Mendongak menatap mata hitam kelam yang terasa mulai menghipnotis. "Kau adalah pembohong."

"Kau bohong jika kau tak tahu maksudku. Kau bohong jika ingin aku pergi, dan kau membohongi perasaanmu sendiri... you're LIAR!"

Ukh! Naruto mengepalkan tangannya kuat. Ia tak terima dituduh pembohong! Apalagi oleh orang menyebalkan dihadapannya ini! Sebelum semua amarah Naruto meluap. Rasa lembut dan hangat segera menjalar keseluruh tubuhnya. Sebuah kecupan singkat mendarat mulus pada bibir sang Hokage. Membuatnya terpaku.

"Aku mencintaimu Dobe... Inilah kata jujur pertama yang pernah aku ucapkan setelah sekian lama hidup dalam kebohongan. Sedangkan kau, kau setiap hari hidup jujur dengan apa adanya dirimu dan tak pernah menyangkal pada setiap kesalahan yang kau perbuat, tapi kenapa bisa menjadi pembohong? Kenapa hanya padaku kau bisa berbohong Dobe?" Sasuke berbicara panjang kali lebar, melupakan dirinya yang selalu irit akan kata-kata. Salahkan saja Naruto, yang selalu bisa membuat Sasuke lupa diri.

Naruto membuka matanya lebar-lebar. Pemuda itu benar... Naruto tak pernah berbohong pada siapapun kecuali dirinya dan pemuda yang berdiri di hadapannya saat ini. Lebih tepatnya membohongi perasaannya terhadap pemuda itu. Jantungnya berdegup kencang.

"Aku... aku," Naruto tak sanggup meneruskan ucapannya. Wajahnya tertunduk. Sasuke menghela napas.

"Apakah sebegitu sulitnya mengucapkan tiga kata itu?" tanyanya. "Jika kau tak mau mengatakannya aku akan pergi!" bentak Sasuke sembari membalik badannya. Naruto tersentak kaget ia tak ingin itu terjadi, tapi jika ia harus jujur... bagaimana jadinya nanti? Naruto resah. Dia menatap lekat punggung pemuda Uchiha yang membelakanginya. Tanpa pikir panjang lagi ia melangkah, memeluk Sasuke dari belakang, menyembunyikan wajahnya pada tengkuk Sasuke. Memejamkan mata, menghirup aroma rambut hitam kelam yang menenangkan.

"Aku juga mencintaimu" Lirih. Kata-kata itu sungguh lirih terucap dari bibir Naruto.

"Apa?" tanya Sasuke berpura-pura tidak dengar. Senyum licik terpatri pada wajah tampannya.

"Masa kau tidak dengar?" Naruto mengangkat salah satu alisnya.

"Mana aku dengar jika berbisik begitu Dobe!"

Ukh! Menyebalkan! Naruto melepas pelukannya. Bibirnya maju beberapa senti. "Aku tidak akan mengulangnya lagi!"

"Oh. Kalau begitu aku pergi." Tanpa menoleh Sasuke melenggang pergi. Urat siku-siku telah memenuhi kepala sang Hokage.

"AKU MENCINTAIMU, BAKA!" teriaknya meluapkan amarah yang terus tertunda sejak tadi. Sasuke berbalik. Ia menyeringai pada Naruto yang 'ngos-ngosan' setelah berteriak.

Brukk! Punggung Naruto menabrak dinding, tetapi kepalanya tak sempat terbentur karena ada tangan kekar yang melindunginya.

"Hmmmpp!" ia meronta-ronta ketika sadar bibirnya telah dilumat oleh Sasuke. Pemuda Uchiha yang telah dimabuk cinta itu tak menghiraukan. Ia sangat bahagia saat ini. Kalau bisa ia ingin sekali menelan Naruto hidup-hidup saking bahagianya. Pagutan penuh cinta itu terus dan terus berlangsung, tetapi tetap saja mereka harus segera mengakhirinya karena kebutuhan akan oksigen. Napas keduanya terengah-engah akibat ciuman 'ganas' yang mereka lakukan.

"Ba-BAKA TEME!" Naruto memekik dengan napas yang masih 'ngos-ngosan', wajahnya sudah semerah tomat masak. Sasuke menyeringai, lalu kembali mengecup lembut bibir Naruto. Hanya sebuah kecupan singkat.

"Sasuke... kenapa kau bisa mencintaiku?" tanya Naruto. Wajahnya merona setelah melontarkan pertanyaan itu.

"Hnm. Aku..." Sasuke diam untuk berpikir sejenak. Naruto sudah tak sabar. Dahinya mulai berkerut.

"Aku apa?!" bentaknya pada Sasuke.

"Aku rasa karena kau 'Dobe'... Jadi kupikir bersama dengan seorang yang 'Dobe' akan membuatku terlihat lebih menonjol dibanding kau yang 'Dobe'." Ucap Sasuke enteng, seolah dia tak merasakan aura gelap yang keluar dari tubuh Naruto.

GRRRRR!

Blusshhhh... sekali lagi Uchiha Sasuke mampu meredam amarah Naruto yang hampir mencapai puncak dengan pelukan hangatnya. Semburat kemerahan kembali memenuhi wajah cute Naruto.

"Hanya bercanda Dobe." Sasuke mengecup leher Naruto. Aroma citrus menguar dari rambut pemuda itu, memenuhi indera penciuman Sasuke. Aroma ini adalah aroma khas milik Naruto, pemuda yang kini resmi menjadi kekasihnya. "Lalu kenapa kau bisa mencintaiku Dobe?"

Naruto terdiam. Sasuke setia menanti sampai Naruto mau mengatakan alasannya. Meski sebenarnya, pikiran Sasuke hanya terfokus pada aroma citrus yang begitu menenangkan dari rambut kuning keemasan Naruto.

"Itu karena kau ... adalah orang yang mau mengakuiku Sasuke. Kau memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku dapat merasakan kalau kau mengakui aku sebagai rival sekaligus sahabatmu. Dan aku berjanji tak akan membiarkan sahabatku pergi untuk yang kedua kalinya. Maka dari itu, aku pikir memenjarakanmu dengan jurus yang aku beri nama 'ai no jutsu' merupakan cara yang tepat agar kau tak pergi kemana-mana lagi. Hehehe..."

Sasuke menghela napas mendengar betapa 'gombal'nya Naruto itu. Wajahnya masih datar-datar saja. "Yah, ternyata jutsu ciptaanmu itu sangat kuat. Kurasa aku telah terperangkap." Senyum tipis penuh kebahagian tergambar pada bibirnya.

"Nee, Teme! Kau tidak akan bisa pergi dari Konoha lagi!"

Pemuda berambut kuning keemasan itu balas memeluk Sasuke. Keduanya berbagi kehangatan cukup lama. Sampai tiba-tiba suara perut Naruto membuat suasana romantis itu menjadi kacau! Yare, yare... Naruto 'kan belum makan dari siang jadi harap maklum ya...^^

"Go-gomen ne... Hehehe. Aku lapar Sasuke!"

"Hnm! Merusak suasana saja!" Sasuke mendengus kesal. Padahal ia baru saja berpikir akan memulai aksi 'penyerangan' terhadap Naruto, tapi semua mood-nya menjadi rusak karena suara perut Dobe-nya itu.

"Oi! Aku lapar Teme! Sejak tadi siang aku belum makan! Aku tak mau tahu, kau harus mentraktirku 20 mangkuk ramen sekarang!"

"Cih! Aku tidak suka ramen Dobe!"

"Aku tidak menyuruhmu ikut makan 'kan?! Aku hanya memintamu mentraktirku Teme!"

"Aku tak sudi!" Sasuke berlalu meninggalkan Naruto yang berjingkrak-jingkrak kesal padanya.

"Huh!" Naruto mendengus kesal dan membalikkan badannya. Mereka saling membelakangi. Hah, baru juga 'jadian' kenapa sudah seperti ini? Apakah hubungan mereka akan baik-baik saja? Mungkin jawabannya adalah 'IYA', karena jika diperhatikan, bibir kedua pemuda yang saling membelakangi itu telah terlukis sebuah senyum kebahagiaan. Meski masing-masing di antara mereka tak menyadarinya, ini akan jadi hal menyenangkan yang akan terus menemani hari-hari mereka ke depannya nanti.

Pertengkaran adalah bumbunya cinta. Dengan adanya pertengkaran membuat suatu hubungan semakin kuat, tetapi juga bisa membuatnya renggang seketika. Semua bergantung pada kedua belah pihak yang terikat dalam hubungan cinta itu sendiri. Besarnya cinta yang dimiliki dapat menjadikan sebuah pertengkaran sebagai suatu koreksi untuk memperbaiki hubungan agar lebih baik lagi. Sedangkan dangkalnya cinta yang dimiliki hanya mampu mengartikan pertengkaran sebagai suatu perpisahan dan kesempatan untuk mencari cinta yang lain...lalu bagaimanakah dengan cinta Sasuke dan Naruto? Yah, author rasa dalamnya lautan, luasnya langit yang terbentang di angkasa, dan banyaknya bintang di malam hari tak akan mampu menandingi besarnya rasa cinta yang ada diantara mereka...

.

.

.

THE END


Cihuuuuuiiii~!

Chapter 7 pun akhirnya dapat di publish. Haahhh~! Lega deh... (´⌣`ʃƪ)

Semoga para readers suka ya? Harap maklum jika di sini banyak tokoh yang OOC, TYPO di sana-sini, dan banyak kalimat-kalimat ga nyambung, dll... (╥﹏╥)

Dan maaf jika baru bisa update, karena waktu Dhii banyak terkuras untuk persiapan seminar pendidikan Dhii di kampus, hiks... Gomen Naru-chan, cup!

Terima kasih buat yang telah lipiuwww chapter sebelumnya, Dhii terus berusaha agar fic ini bertahan di rate T dan akhirnya berhasil meski sempat menuju M, hahahaaa~!

Oia, Dhii sudah menyiapkan special edition untuk fic SasuNaru Never Let You Go ini! Dengan Rate M yang penuh gairah, wkwkwkkk! Tunggu ya minna?!

Baca OMAKE paling bawah, OK!

.

Balesan Lipiuw :

To : Koukei

Makasih ya uda lipiuw^^

Yah, Neji gak sempat menganiaya Naru-chan karena Sasuke-kun gak mungkin biarin itu terjadi, haha! ^^

Bahkan sebenarnya yang melihat dari kejauhan ketika adegan GaaNaru itu adalah Sasuke, hehe...

Ditunggu lipiuw untuk chapter ini ya? ^^

.

To : NamikazeNoah

Makasih ya uda lipiuw^^

Dapet titipan 'Trims' dari Sasuke-kun untuk ucapan selamatnya ^^

Yang melihat adegan NaruSaku itu adalah Hinata dan Chicken...

Tebakan Anda benar Noah-san! ^^ yang melihat SasuNaru kiss adalah forehead, haha!

Ditunggu lipiuw untuk chapter ini ya? ^^

.

To : Augesteca

Makasih ya uda lipiuw^^

Iya, Naru-chan dan Sasuke-kun telah resmi jadian! Hohoo~

Sakura yang melihat SasuNaru kiss...^^

Ditunggu lipiuw untuk chapter ini ya? ^^

.

To : Dee chan-tik

Makasih ya uda lipiuw^^

YOSH! Dhii masih semangat '45 kok! Hehehe~!

Ditunggu lipiuw untuk chapter ini ya? ^^

.

To : NamiUzu Chao

Makasih ya uda lipiuw^^

Ini kelanjutan ceritanya...hehe,

Ditunggu lipiuw untuk chapter ini ya? ^^

.


OMAKE

.

Dipandangnya ikat kepala dengan simbol daun di tangannya. Dia tersenyum. Akhirnya, orang yang selama bertahun-tahun ia cari, dapat ia temukan kembali. Membawanya pulang ke tempat di mana seharusnya ia berada. Melewati hari-hari bersama lagi seperti dulu.

Lagi-lagi pemuda itu tersenyum. Ia memandang lekat pada simbol daun yang merupakan simbol bagi desa yang ia pimpin sekarang. Konohagakure, desa kelahirannya sekaligus desa yang dulu hampir semua penduduknya membenci dirinya dan selalu menganggap bahwa di dunia ini seorang Uzumaki Naruto tak pernah ada.

Cairan bening mulai menggenangi setiap sudut matanya, membuat iris berwarna biru langit itu nampak berkaca-kaca. Dia memejamkan mata, mencengkeram kuat ikat kepala itu pada tangan kanannya. Segera cairan bening mengalir membasahi ke enam garis tipis menyerupai kumis kucing pada kedua pipi pemuda itu. Senyum itu masih terlukis di wajah tampannya. Perjuangan yang tak sia-sia... dia lalu melangkah pergi, jubah kebesarannya berkibas memamerkan tulisan Rokudaime Hokage pada punggung pemuda pirang itu...

.

.

Di lain tempat, seorang pemuda berambut sehitam malam tengah berdiri di tepi danau, memejamkan mata kala angin berhembus menerpa wajah putih pucatnya. Ia menengadah menatap angkasa yang menampilkan keagungan langit biru tanpa awan putih menutupinya. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti. Bayang-bayang orang yang sangat ia cintai terlukis indah pada langit biru itu. Rambut kuning cerah bagai mentari. Iris matanya yang berwarna senada dengan langit yang sedang ia tatap sekarang. Senyumannya yang terkembang bak bunga yang sedang mekar.

Hahhh~ Uchiha Sasuke, kini telah memiliki matahari sekaligus birunya langit dalam dunia gelapnya. Matahari yang akan selalu berjalan bersama dirinya. Birunya langit yang dapat memberikan warna pada hari-hari suramnya. Kembali ia memejamkan mata, menyembunyikan keindahan mata hitam kelam miliknya. Sore hari yang begitu menenangkan. Menikmati udara sejuk dibawah pepohonan di pinggiran danau memang yang paling tepat.

Pemuda itu tersentak kaget ketika dirasakannya sesuatu menyentuh dahi dan ada yang terikat di belakang kepalanya. Segera ia membalikkan badan. Dilihatnya mentari dan langit biru telah berdiri berhadapan dengannya. Sebuah cengiran khas tersungging pada bibirnya.

"Selamat datang kembali Sasuke."

Sasuke meraba keningnya dan merasakan sebuah ukiran pada benda yang terikat di kepalanya itu.

"Ini..." ia masih tak dapat percaya dengan apa yang ia sentuh.

"Itu milikmu sekarang. Dan lihat ini..." sebuah ikat kepala yang simbol daunnya tergores dipamerkan oleh tangan mentarinya itu. "Apa kau masih ingat ikat kepala ini Sasuke? Ini bukti perjuanganku untuk mendapatkanmu. Hehe... aku menyimpannya. Ini merupakan benda kenangan bagiku. Dan ikat kepala yang telah kupasang pada dahimu itu..." ia menunjuk pada dahi Sasuke. "...merupakan benda kenangan untuk dirimu. Kau adalah shinobi Konoha. Sampai kapanpun akan terus begitu walau kau menyangkalnya Sasuke."

"Hnm..." pemuda Uchiha itu tersenyum. Perasaan hangat yang diberikan oleh mentarinya saat ini hampir membuatnya lupa bahwa dirinya adalah seorang Uchiha. Uchiha yang akan selalu memakai topeng stoic-nya dalam keadaan apapun. Segera ia peluk pemberi kehangatan itu untuk menyembunyikan cairan bening yang mulai menggenang pada sudut mata onyx-nya.

'Terimakasih, Naruto...'