Disclaimer: Naruto punyanya bang MK. Saya hanya minjem chara2 dia untuk memuaskan hasrat pribadi saja /dush/
For A Lifetime of Memories II event dengan tema clock things. Dan untuk seluruh SasoSaku shippers dimanapun kalian berada ^p^
Enjoy reading~
.
.
.
.
.
Sasori keluar dari kamar mandi sekitar 20 menit kemudian, dengan kaos yang baru saja disetrika melekat pada tubuhnya serta celana training berwarna hitam garis-garis putih pada sisi celana. Sebuah handuk berwarna biru kalem berada di atas kepala, sedangkan kedua tangannya sibuk mengeringkan helai kemerahannya yang masih basah karena air.
Kedua kakinya yang terbungkus sandal rumah terhenti ketika saat ia berjalan ke arah dapur, didapatinya si gadis merah muda aneh sedang mengaduk isi panci yang entah sejak kapan ada di rumahnya, sambil mencicipi kuah masakannya dengan piring kecil pada tangannya yang satunya lagi. Sementara di meja telah tersedia dua potong besar telur gulung dengan daun bawang serta dua mangkuk kosong. Rice cooker pun nampaknya sedang melakukan tugasnya.
Sejak kapan gadis itu mengenakan celemek?―pikir Sasori sembari mendudukkan dirinya di depan meja makan, dan membuat Sakura―nama gadis itu―terlonjak kaget dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah belakang, kemudian bernafas lega dan kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda sebentar setelah mengetahui sosok yang mengejutkannya tersebut.
"Ohayou, Sasori-san." Sapa Sakura tanpa menatap lawan bicaranya.
Gadis merah muda itu kemudian membuka bungkusan dari sterofoam berisi potongan ikan tenggiri fillet segar. Ia pun mencucinya, kemudian membubuhkan sedikit garam dan lada lalu meratakannya pada sepanjang sisi daging ikan kaya kalsium tersebut. Ia kemudian meletakkan ikan yang sudah dibumbuhi ke atas penggorengan yang sudah ia panaskan terlebih dahulu.
Sakura kemudian mematikan api pada kompor sebelah kiri, sedangkan yang sebelah lagi ia biarkan tetap menyala karena ikannya yang belum matang. Sakura kemudian mencuci tangannya, mengelapnya dengan kain di sisi tempat pencucian piring, mengambil mug yang ia yakini sebagai milik Sasori serta gelas dari beling dan meletakkannya ke atas meja makan.
Sakura menatap ke arah Sasori yang kini tengah sibuk dengan ponselnya sembari tersenyum, "Ne Sasori-san, mau kopi?"
Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah gadis merah itu sejenak, dan kemudian berpaling ke arah ponselnya kembali.
"Hn."
Mungkin itu artinya 'ya'―batin Sakura lalu mengambil mug berwarna merah bata itu dan meninggalkan gelas beling kosong di atas meja. Ia kemudian membuka rak dapur, dan manik gioknya berbinar mendapati toples berisi bubuk berwarna coklat kehitaman berada di sana.
Ia kemudian mengambil toples tersebut dan menutup raknya perlahan. Tangannya yang lain ia gunakan untuk membalikkan ikan pada penggorengan, dan kemudian meletakkan toples beserta mug-nya ke atas meja dapur.
Dan berikutnya ia mengambil sendok kecil pada rak alat makan dan membuka toples bertutup berwarna merah hati itu, mengambil bubuk berbau sedap di dalamnya dan menuangkannya ke dalam mug.
"Kau ingin kopi hitam atau kopi susu?"
"… Kopi hitam."
Sakura sedikit menyerngit mendengar permintaan Sasori, namun ia membiarkannya dan menambahkan sedikit lagi bubuk kopi ke dalam mug. Kemudian ia menutup toples yang sempat terbuka itu, mengembalikannya ke dalam rak dan berjalan menuju dispenser untuk menuangkan air panas ke dalam mug.
Tak lama bau kopi yang harum serta bau ikan goreng memenuhi ruangan selua meter tersebut. Sasori mengangkat kepalanya tatkala bunyi kecil mug dan permukaan meja yang saling bertabrakan terdengar olehnya.
Ia mendapati gadis merah muda itu tersenyum padanya, senyum yang entah kenapa baginya begitu hangat seperti sinar mentari.
"Ini kopimu, Sasori-san."
Sakura kemudian berbalik dan segera menuju masakannya, meninggalkan Sasori yang terbengong sekejap setelah melihat senyumannya. Sasori yang baru saja tersadar buru-buru menggelengkan kepalanya. Iris hazel-nya melirik ke arah kopi dengan kuap yang mengepul dari permukaannya. Ia pun mengambil mug itu dan menghirup udaranya. Bibirnya menyentuh bibir mug.
"Jangan minum kopi sebelum makan!"
Buru-buru ia jauhkan bibirnya dari mug karena terkejut. Beruntung cairan hitam panas itu tidak tumpah karena gerakannya yang mendadak. Di depannya berdiri si gadis merah muda dengan kedua tangan memegang pegangan panci berukuran kecil berisi sup yang baunya begitu menggugah selera.
Sasori mendengus, dan entah kenapa ia menuruti perkataan gadis aneh itu dengan meletakkan mug-nya yang isinya belum sempat ia minum ke atas meja. Pandangannya mengikuti gadis yang kini tengah meletakkan ikan yang sudah matang tersebut ke atas piring, serta mengambil dua pasang sumpit dan sendok dari rak alat makan.
Dan kemudian gadis itu mengambil dua mangkuk kosong di depannya setelah meletakkan sepiring ikan goreng di atas meja. Bau laut menguar dari sana. Namun baru saja Sasori mengambil sumpitnya dan ingin mencomot sedikit daging ikan tersebut, Sakura sudah datang dengan kedua tangan memegangi mangkuk yang sudah penuh dengan butiran berwarna putih yang kaya dengan karbohidrat.
"Pencuri kecil. Cuci tanganmu sebelum makan!"
"Cih."
Namun pemuda berusia sekitar 22 tahun itu tetap bangun dan berjalan menuju tempat mencuci piring sementara Sakura kini melepas celemek yang melilit tubuhnya. Ia kemudian berjalan menyusul Sasori yang kini sudah mengelap kering tangannya yang sudah bau sabun.
Sasori kemudian kembali menuju tempat duduknya, dan tak lama Sakura menyusul setelah membawa dua botol susunya yang sebelumnya berada di kulkas serta sekotak besar jus jeruk dingin. Gadis merah muda itu pun menuangkan cairan berwarna oranye pudar tersebut ke dalam gelasnya.
Dan sebelum sempat perutnya berbunyi Sakura kemudian mengambil mangkuknya dan menuangkan isi sup miso ke dalam mangkuk keramik berukiran ikan layang-layang tersebut sebelum menyodorkannya kepada pemiliknya.
"Nih."
Sasori mengambilnya tanpa suara. Sakura kemudian menuangkan sendiri supnya lalu meletakkan mangkuknya ke atas meja. Ia menepuk kedua tangannya kemudian.
"Ittadakimashu!"
Sakura mulai mengambil sumpitnya dan mengambil telurnya, sementara Sasori sendiri telah menyeruput supnya dengan lahap.
Gadis itu menyerngit kesal.
"Sebelum makan ucapkan ittadakimashu dulu, Sasori-san."
Pandangan Sasori yang sebelumnya tertuju pada nasi dalam mangkuknya kini teralihkan kepada Sakura, sebelum akhirnya kembali ia menyibukkan diri pada makanannya.
"Ittadakimashu." Ujar lelaki itu datar disela-sela kegiatan mengunyahnya.
Sakura lalu mengambil potongan ikan di atas meja dengan sumpit yang menyapit kuat. Ia menggerutu pelan, namun terdengar cukup keras bagi telinga Sasori.
"Tidak sopan."
.
.
.
Secarik Kenangan
taintedIris
.
.
.
Sakura mencuci semua piring yang telah digunakan selesai, sementara Sasori masih berada di ruangan tersebut sembari membaca koran di depannya dan sesekali menyeruput kopinya yang tinggal sedikit.
Entah kenapa kopinya hari ini terasa lebih enak dari biasanya.
Hanya suara air dan suara senandung kecil Sakura, serta bunyi piring-piring serta alat makan lainnya yang saling berdentingan ketika diletakkan pada rak piringlah yang terdengar di sana. Lelaki berambut merah darah itu pun mengalihkan arah fokusnya ke arah punggung si gadis merah muda yang kini tengah mengelap tangannya dengan kain kering.
Rasa penasaran menggelitik batinnya, ketika kembali ia teringat selembar foto yang selalu gadis itu bawa setiap kali mereka bertemu. Namun baru ia buka mulutnya, mulut itu kembali tertutup ketika rasa gengsi dan malu menyusup di antara rasa penasarannya.
Tapi sepertinya rasa gengsi itu terkalahkan ketika mulutnya terbuka begitu saja, membuat Sakura langsung membalikkan tubuhnya ke arah Sasori.
"Apa yang terdapat di dalam foto itu?"
Sakura awalnya nampak terkejut, sebelum kembali senyum menghiasi wajahnya yang terkena sinar mentari yang menyusup dari balik celah-celah ventilasi ruangan tersebut, membuat Sasori terpukau melihatnya. Dan kesadaran Sasori kembali saat Sakura sudah mendudukkan dirinya dihadapannya, dengan sebungkus biskuit besar yang berada di tangannya.
"Kau ingin tahu?"
Sasori tidak mengangguk, maupun tidak menggeleng. Sakura mendengus, sebelum tangannya yang bebas merogoh saku celananya dan menyodorkan selembar foto kepada Sasori, yang lelaki itu ambil setelah meletakkan korannya ke kursi di sampingnya.
Langit berwarna putih merah muda keoranyean berada di sana, serta gedung-gedung yang menggelap karena terkena bayangan gedung-gedung yang lebih tinggi serta sinar mentari yang menyusup di tiap cela yang ada, serta sebuah bundaran berwarna terang berada di tengahnya. Awan-awan tipis berwarna putih keoranyean terlihat di sana.
Matahari terbit?
"Kau mencari matahari terbit?" tanya Sasori sembari tertawa aneh. Sakura menganggukkan kepalanya dengan biskuit yang berada di mulutnya.
"Iya. Memang kenapa?" ujarnya disela-sela pembicaraannya. Sasori menggelengkan kepalanya sembari melemparkan foto itu asal di atas meja.
"Kalau kau memang mencari matahari terbit di tempatmu juga pasti ada 'kan?"
Kedua alis merah muda gadis itu mengerut bersamaan dengan kedua bibirnya yang mengatup rapat dan membentuk lengkungan ke bawah. Tangannya yang bebas menyambar foto di atas meja lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celana.
"Tapi ini berbeda! Aku ingin melihat matahari terbit dari tempat foto ini diambil!"
Alis kanan berwarna merah itu naik, bersamaan dengan matanya yang menyipit sebelah karena bingung sekaligus merasa lucu. Bukankah matahari terbit mau dimanapun dilihatnya tetap sama?
Keinginan yang aneh.
Namun pikiran itu sejenak lenyap tatkala iris hazel-nya melihat kesedihan terpancar jelas dari manik giok yang meskipun sekarang tengah mendelik kesal. Tatapan mata Sasori meredup, sebelum akhirnya menghela nafas, lalu melipat kedua tangannya ke atas meja. Tubuhnya sedikit ia condongkan ke depan.
"Baiklah. Jadi kenapa kau ingin melihat matahari terbit?"
Dapat Sasori lihat kesedihan terlihat makin jelas dalam pantulan viridian milik gadis merah muda tersebut. Ia pun memilih diam dan menunggu hingga Sakura membuka mulutnya.
Bunyi detik jarum jam terdengar di sana, menemani keheningan yang tiba-tiba menyusup di antara mereka, pun bunyi tetes tetes air dari keran air. Sasori baru mau membuka mulutnya ketika suara nyaring gadis itu memecah keheningan.
"Karena itu adalah janjiku."
Pandangan Sasori teralihkan kepada Sakura, dan saat itulah pandangan mereka saling bertemu. Sasori buru-buru mengalihkan muka ketika iris viridian itu menatap lurus-lurus ke arahnya.
"Itu adalah janjiku dengan seseorang. Tidak tidak, bukan kekasihku atau orang yang kusukai tentu saja." terang Sakura sebelum sempat Sasori tanyakan.
Sakura mengalihkan pandangannya pada jendela di sisi dapur yang tirainya telah terbuka, membiarkan cahaya mentari menyusup dari celah jendela. Senyum menghiasi wajahnya saat kembali ia membuka mulutnya.
Biskuit coklatnya terlupakan.
"Ia adalah seniorku semasa bangku SMA. Sai namanya. Apa kau kenal? Ah tentu saja tidak." Ujar Sakura sembari tertawa kecil, sementara Sasori terus terdiam namun tetap memperhatikan gadis yang entah kenapa kini terlihat begitu rapuh di depannya.
"Ia adalah temanku sejak kecil. Kami menghabiskan waktu bersama. Yah layaknya saudara kalau kau bisa katakan. Aku menyayanginya sepenuh hatiku." Manik serupa dengan batuan giok itu menerawang. Kehangatan dan kesedihan terpancar di sana.
"Dan saat ia lulus, ia pergi ke Tokyo untuk melanjutkan pendidikannya dan untuk mengejar mimpinya menjadi seorang fotografer. Saat itu aku masih kelas 1 SMA." Pandangan Sakura teralih ke arah Sasori, membuat lelaki berambut merah itu sedikit terkejut, namun buru-buru keterkejutan itu ia sembunyikan.
"Aku yang hanyalah sahabatnya tak mungkin melarangnya, karena bagaimanapun itu adalah impiannya. Kau tahu, sejak SMA ia sudah sangat ahli dalam mengambil foto, menangkap setiap keindahan yang ia temui di sekitarnya." Lanjut Sakura dengan pandangan yang sudah teralih ke arah jendela. Perlahan kelopak itu terpejam.
"Jadi saat di hari keberangkatannya aku mengantarnya pergi bersama ayah, ibu, serta kakaknya. Saat itu kami membagi pelukan terakhir kami." Kelopak itu masih terpejam. Pandangan Sasori terfokus pada bulu mata yang menyapu tulang pipi gadis itu dengan sempurna, kemudian pipinya yang pucat dan kemerahan, beralih ke arah bibir mungilnya yang kembali terbuka.
"Kami berjanji kami akan bertemu lagi saat ia kembali ke kota kelahiran kami. Dan begitulah, sejak hari itu kami saling bertukar pesan karena orangtuaku tidak membelikanku ponsel. Ia menceritakan betapa indahnya Tokyo, tentang teman-temannya serta petualangannya mencari objek foto."
Dan perlahan, kelopak mata itu kembali terbuka, menampilkan iris viridian yang menggelap dan memburam karena air mata.
"Namun janji itu tak pernah menjadi nyata …"
Dan entah kenapa jantungnya berdegup kencang mendengar kata-kata miris yang terlontar dari bibir mungil gadis itu.
"Karena … Ia meninggal tak lama setelah ia mengirimkan surat terakhir untukku."
Dadanya mencelos.
.
.
"Terima kasih telah membiarkanku tinggal di sini sebentar."
Sakura nampak tengah mengenakan sepatunya, sementara Sasori menatap sosok yang tengah menunduk itu dengan tatapan datar―yang jika kau lihat lebih dekat lagi, nampak kekhawatiran terlihat di sana, apalagi gadis itu baru saja menitikkan air mata beberapa saat yang lalu. Dan gadis merah muda itu pun berdiri sambil mengetukkan ujung sepatu boots-nya pada ujung lantai. Tangannya memegangi mantelnya serta bungkusan berwarna coklat yang telah mengempis.
"Hn."
Gadis itu tersenyum singkat, sebelum ia membalikkan tubuhnya membuka pintu di hadapannya.
"Dan terima kasih telah membiarkanku menangis."
Pintu pun tertutup, membiarkan sosok merah itu berdiri mematung di sana.
.
.
Sasori mendudukkan dirinya di atas sofa empuk di ruang tamu. Kepalanya tengadah ke atas, memandangi langit-langit berwarna putih pucat di depannya sembari menghela nafas panjang. Kembali berputar di kepalanya percakapan yang terjadi selang waktu yang lalu, disaat pertahanan gadis merah muda itu akhirnya jebol, tak kuat menahan bebannya lagi.
"Ia memberikan foto itu dalam suratnya yang terakhir, dan berjanji akan membawaku untuk melihat mentari terbit bersama-sama. Itu sebabnya aku … aku …"
Setetes air mata jatuh setelah itu.
"Walaupun mustahil, aku ingin melihat matahari itu bersama dengannya …"
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
.
Rencana awal mau bikin twoshot malah gagal -_- well fic ini akan tamat di chapter berikutnya, atau kemungkinan di chapter berikutnya bakal jadi panjang banget. Nggh gatau sih hehe.
Special thanks buat para reviewer yang uda ngereview di chapter sebelumnya, ataupun yg uda buat ngefave dan alert ^^ smoga chapter ini ga terlalu membosankan seperti yg sebelumnya ya… /le gloom/
Dan thanks untuk para silent readers yg juga setia membaca sampai chapter ini.
So, mind to RnR?
