Disclaimer: Naruto punyanya bang MK. Saya hanya minjem chara2 dia untuk memuaskan hasrat pribadi saja /dush/

For A Lifetime of Memories II event dengan tema clock things. Dan untuk seluruh SasoSaku shippers dimanapun kalian berada ^p^

Enjoy reading~

.

.

.

.

.

Pagi ini mood-nya sedang kurang bagus.

Kini ia sedang berdiri di depan wastafel di depan kamar mandinya sembari menatap bayangannya yang terlihat begitu kucel dan kusut di pagi yang begitu dingin ini. Nampak warna kehitaman samar pada bagian bawah matanya yang masih setengah terbuka.

Kedua tangannya memegangi ujung wastafel. Dan tak lama tangan itu membuka keran air, lalu ia membasahi wajahnya dengan air, mencoba untuk membuat wajahnya terasa segar serta menghilangkan kantuk yang masih terasa pada mata. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari meraba-raba bagian samping wastafel untuk mencari kain kering.

Beruntungnya ia ternyata kain itu masih ada di sana. Ia pun mengelap wajahnya hingga ia rasa kering, dan kembali ia menatap cermin di depannya. Nampak sesosok pria berambut merah darahnya dengan iris hazel yang menatap balik ke arahnya.

Ia mendengus sebentar, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengambil pasta gigi serta sikat giginya yang berada di dalam gelas di samping wastafel. Ia pun membuka tutup pasta gigi rasa mint tersebut, mengeluarkan isinya dan memoleskannya pada bulu sikat giginya. Setelah itu ia kembali menutup pasta giginya yang sempat terbuka. Ia pun meletakkan pasta gigi itu di dekat keran dan mengambil gelasnya―mengisinya dengan air hingga penuh lalu berkumur sebentar, sebelum ia mulai menggosok giginya.

.

.

.

Secarik Kenangan

taintedIris

.

.

.

Sasori keluar dari apartemennya setelah ia mengganti pakaian tidurnya dengan kaos berwarna hitam dan jaket berwarna senada dengan garis-garis putih pada sisi lengannya, serta celana training yang persis seperti celana training yang ia gunakan kemarin. Dan tentu saja celana ini baru, hanya saja ia memang punya banyak yang berwarna hitam.

Dan entah kebetulan atau apa, kembali ia bertemu dengan si gadis merah muda yang kini juga sama terkejutnya dengannya. Gadis itu kali ini menguncir rambutnya tinggi-tinggi ke belakang. Ia mengenakan turtleneck berwarna salem kali ini, dengan syal blazer berwarna gelap serta celana panjang berwarna senada. Ia menggunakan flatshoes untuk membungkus kedua kakinya.

Gadis itu berdiri dengan canggung, sebelum bibir mungilnya yang agak memucat karena kedinginan terbuka sedikit.

"Ohayou, Sasori-san."

Sasori sejenak terdiam, sebelum ia akhirnya memutuskan untuk membalas sapaan gadis itu.

"Ohayou."

Gadis merah muda bernama Sakura itu terdiam, begitu juga dengan Sasori. Sakura yang masih merasa canggung karena peristiwa kemarin pun memutuskan untuk pergi dari sana, namun gerakannya terhenti karena tangannya ditahan oleh Sasori.

Sakura mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang berdiri di tak jauh di belakangnya. Cengkeraman tangan lelaki itu cukup kuat hingga ia tak sanggup melepaskannya.

"Kau mau kemana?"

Sakura menatap iris hazel yang tertuju kepadanya dengan tatapan bingung, sebelum akhirnya ia tersadar dari keterkejutan dan kebingungannya.

"Mencari matahari terbit?"

Kalimat yang keluar dari bibir Sakura terdengar seperti pertanyaan bagi Sasori. Namun ia tak mau ambil pusing. Ia menarik tangan gadis itu dan menuntunnya berjalan bersamanya.

Sakura kembali terkejut mendapati tingkah aneh lelaki yang baru ia kenal 2 hari ini.

"E-Eh apa yang kau lakukan Sasori-san?!" tanyanya setengah berteriak sambil berusaha melepaskan pegangan tangan lelaki di depannya. Namun percuma, karena sepertinya pegangan Sasori pada tangannya begitu kuat.

"Membantumu. Bukannya berdua lebih baik daripada sendiri?" ucap Sasori tanpa sekalipun menoleh ke belakang, karena jika ia melakukannya, ia yakin sekali gadis itu dapat melihat rona kemerahan pada wajahnya. Ia pun tak menghentikan langkahnya, dan nampaknya Sakura pun tidak berusaha untuk melepaskan tangannya lagi.

"Tapi bukankah aku akan merepotkanmu Sasori-san? Kau tidak perlu menolongku aku bisa mencarinya sendiri kok."

Langkah Sasori terhenti, membuat gadis itu ikut berhenti karena tidak ingin tubuhnya menabrak lelaki tersebut. Sasori membalikkan tubuhnya ke arah Sakura. Manik karamelnya menatap gadis itu dingin.

"Dan tersesat seperti kemarin?"

Sejenak manik mata sewarna anggur hijau milik Sakura mengerjap terkejut, sebelum akhirnya bibir itu membentuk kurva bernama senyuman yang membuat degup jantung Sasori mengencang karena melihatnya.

"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot, Sasori-san."

Kepala gadis itu tertunduk. Pandangannya tertuju pada tangannya yang dicengkeram erat oleh Sasori. Namun entah kenapa cengkeraman itu tak terasa sakit sama sekali, alih-alih rasa hangatlah yang sekarang terasa di sana hingga sekujur tubuhnya.

Sasori yang sepertinya menyadari arah pandang Sakura langsung melepaskan pegangan tangannya pada gadis itu, membuat Sakura mendesah kecewa karena kehilangan sumber kehangatan. Sasori kembali membalikkan tubuhnya.

"Ayo jalan, sebelum matahari terbit."

Kepala merah muda itu terangkat. Manik gioknya menatap lurus ke arah punggung di depannya sebelum kakinya akhirnya melangkah menyamai posisi lelaki itu.

Ia menatap wajah lelaki itu sembari tersenyum―dan sukses mewarnai wajah lelaki itu dengan warna rambutnya pada kedua pipi Sasori.

"Ayo Sasori-san!"

.

.

Mereka berjalan beriringan, sesekali mengobrol ringan sambil memasuki gedung-gedung tinggi pencakar langit yang mereka temui untuk naik hingga kea tap gedung itu. Jika beruntung, mereka dapat membuka pintu atap yang tidak dikunci dan mengecek pemandangan yang dapat dilihat dari atap tersebut dengan mencocokkannya pada foto ditangan Sakura.

Satu demi satu gedung mereka kunjungi namun tidak membuahkan hasil. Sekarang matahari sudah mulai meninggi, dan mereka tak berhasil menemukan apa yang mereka cari.

Sakura nampaknya begitu kecewa. Ia menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan pulang sembari meratapi foto yang berada di tangan. Sasori yang merasa tak enak hati melihat kesedihan Sakura memutuskan untuk membuka mulutnya hanya untuk sekedar membuka pembicaraan.

"Aku adalah seorang mahasiswa di universitas kedokteran."

Benar saja, pandangan Sakura yang sedaritadi terarah ke bawah kini teralihkan ke arahnya. Iris viridian itu menampakkan rasa penasaran, meskipun kesedihan masih terlihat di sana.

"Benarkah? Memang usiamu berapa, Sasori-san?"

"22 tahun. Aku sedang dalam masa pembuatan skripsi."

Gadis merah muda itu menganggukkan kepalanya. Nampaknya ia mulai tertarik melanjutkan pembicaraan itu.

"Waaah, sugee! Aku juga ingin sekali menjadi dokter!" ujar Sakura semangat sembari menatap langit mendung di atas kepalanya.

Sementara tak disadari oleh gadis itu, manik yang selalu terlihat dingin itu terlihat getir sesaat. Senyum miris tersungging dari bibirnya.

"Kalau begitu jadilah dokter."

Gadis itu nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Menurutmu aku cocok jadi dokter, Sasori -san?"

Sasori menatap Sakura dengan sebelah alis yang terangkat dan seringai yang menghiasi wajahnya. Sakura yang sepertinya sudah mengetahui arti seringai tersebut pun mengalihkan wajahnya dan menggembungkan kedua pipinya yang memerah sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Sepertinya tak perlu kujawab kau sudah tahu, hm?"

"Kau menyebalkan."

Sasori mendengus geli. Kedua tangannya kini ia masukkan ke dalam saku celana trainingnya. Pandangannya teralihkan ke atas kepalanya, dimana cakrawala berwarna suram membentang di sana.

"Oh ya, kau berhutang sarapan padaku hari ini." ujarnya sambil kembali menatap ke arah Sakura.

Sakura yang masih cemberut menatap sebal ke arah Sasori. Namun tak lama guratan sebal pada wajahnya tergantikan menjadi senyum cerah yang sanggup membuat jantung Sasori kembali berdetak kencang. Sasori buru-buru mengalihkan wajahnya yang ia rasa mulai memanas.

"Aa, jadi kau mau membayarku berapa, Sasori -san?"

Lelaki itu kembali menyeringai.

"Bagaimana kalau kubayar dengan makan malam?"

Sakura tergelak, diikuti dengan Sasori yang tertawa kecil kemudian. Dan ia pun baru menyadari, bahwa sudah lama ia tak bercengkerama seperti ini. Apalagi dengan perempuan yang bahkan baru 2 hari ia kenal.

Mengetahui hal itu membuat hatinya yang membeku entah kenapa terasa hangat.

Sakura berjalan mendului Sasori. ia pun membalikkan tubuhnya sembari tetap berjalan dengan Sasori yang berhadapan dengannya. Kedua tangannya terlipat ke belakang.

"Jadi, di apartemenmu?"

Kali ini senyum yang amat tipislah yang terlihat di sana.

"Hn."

.

.

Bau omelet serta sup ayam menguar dari dalam apartemen nomor 19 tersebut. Dan nampak sepasang manusia yang tengah bercengkerama sambil menikmati makanannya, duduk berhadapan dan terpisah oleh sebuah meja kau berbentuk lingkaran di tengah-tengah mereka. Mug terisi penuh dengan kopi hitam, gelas-gelas diisi dengan cairan bening berwarna keruh dengan aroma apel dan jeruk nipis. Dua botol susu dan koran pagi yang biasanya lelaki itu baca terabaikan di depan pintu apartemennya.

Lelaki berambut merah itu pun kembali membuka mulutnya disaat si gadis merah muda tengah memotong potongan omelet ke-3 nya.

"Jadi, kau akan melanjutkan kemana?"

Gerakan memotong gadis itu terhenti. Pandangannya yang sebelumnya tertuju pada omeletnya kini teralihkan pada sosok pemuda di depannya yang tengah menatapnya lurus-lurus. Binar matanya meredup. Ia pun meletakkan garpunya pada pinggir piring.

"Aku … tidak melanjutkan kemana-mana."

"Tidak ada biayakah?"

Gadis itu menggeleng. Alis merah milik lelaki itu terangkat karena bingung.

"Aku … Akan dinikahkan setelah ini."

Deg.

Dunia terasa berputar setelah kata-kata itu terucap. Suara tetes-tetes air yang keluar dari bibir keran terdengar begitu keras, pun suara ketel air yang tiba-tiba menggema membuat gadis merah muda itu panik dan segera beranjak dari tempat duduknya untuk mematikan kompor. Rasanya oksigen begitu sulit untuk dihirup.

Menikah?

Sakura kembali duduk setelah sebelumnya ia mengambil omelet yang tersisa di penggorengan. Viridian itu terlihat khawatir mendapati Sasori yang tak bergeming.

"Sasori-san?"

Sakura melambalkan tangannya ke arah wajah lelaki itu, membuatnya kembali ke alam sadarnya. Sasori buru-buru menggelengkan kepalanya, membuat Sakura semakin bingung dibuatnya.

"Kau tak apa, Sasori-san?"

Sasori menganggukkan kepalanya sambil melambaikan sebelah tangannya.

"Aku tak apa." Jeda. "Jadi, kau akan menikah sebentar lagi? Dijodohkan?"

Sakura tidak mengangguk, menggeleng apalagi. Gadis musim itu menghela nafas sebelum akhirnya ia kembali membuka mulutnya.

"Tidak, aku akan menikah di musim semi saat usiaku sudah menginjak 19 tahun."

Sasori hanya terdiam sembari memandangi mangkuk supnya yang sudah kosong. Sakura yang menyadarinya tanpa minta izin mengambil mangkuk itu dan mengisinya dengan sup berisi potongan kentang, wortel, brokoli, jamur, dan ayam ke dalam keramik berwarna merah maroon tersebut.

"Haah, kuharap lelaki yang akan menjadi suamiku nanti memiliki wajah yang tampan." Lanjut Sakura sambil meletakkan mangkuk itu ke atas meja, yang tentu saja diambil oleh Sasori. lelaki itu kemudian menyeruput kuah supnya sembari memejamkan wajahnya.

Sakura pun kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.

"Mana ada pria tampan yang mau denganmu?"

Sakura hampir saja tersedak mendengar penuturan Sasori. ia tepuk dadanya yang terasa sesak sembari meletakkan garpunya ke pinggir piring.

"Kau terlalu jahat, Sasori -san. Kau sendiri, memang ada perempuan yang mau denganmu? Aku yakin mereka pasti akan gila kalau memiliki kekasih dingin, menyebalkan seperti kau."

Sasori mendelik mendengar kata-kata Sakura. Seumur hidupnya tidak pernah ada satupun perempuan yang mengucapkan hal itu padanya. Seringai menantang mulai tampak pada wajahnya.

"Heh asal kau tahu saja aku ini memiliki banyak fans, bocah."

"Mereka pasti sudah buta, Sasori-jiisan."

Sakura tergelak melihat seringai yang sekejap hilang dari wajah tampan pria itu, digantikan oleh gerutuan yang lelaki itu gumamkan pelan-pelan. Sakura pun melanjutkan acara makannya setelah puas tertawa.

"Kalau kau, apa rencanamu setelah menjadi sarjana, Sasori-san?"

Gerutuan itu terhenti. Kedua manik matanya yang sebelumnya terasa hangat kembali menjadi dingin. Sejenak Sakura merasa kalau ada hawa dingin yang seakan menusuk kulitnya, membuatnya merinding menggigil.

"Aku … tidak tahu."

Sakura mengerutkan kedua alisnya, bingung.

"Kenapa tidak tahu?"

Helaan nafas keluar dari bibir pria itu, pelan. Ia menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi. Kepalanya pun tengadah ke atas, dengan sebelah tangan yang menutup wajah kecuali mulutnya.

"Apa yang bisa kau ketahui dari impian yang dipaksakan?"

Sakura terdiam. Manik matanya memancarkan kesedihan di sana.

"Kau tidak ingin menjadi dokter?"

Lelaki itu menggeleng kepalanya pelan.

"Aku ingin menjadi seniman."

"Lalu? Kenapa tidak menjadi seniman?"

Sasori mendecih.

"Itu tak semudah kau berbicara, bocah."

"Dan bukannya tidak ada yang mudah di dunia ini, Sasori-san?"

Lelaki itu terdiam mendengar perkataan Sakura. Sakura kembali membuka mulutnya.

"Bukankah segala yang kita lakukan butuh usaha? Bahkan sejak bayi kita sudah merasakannya. Saat kita berusaha untuk berbicara, saat berusaha untuk berjalan, saat berusaha untuk memakai pakaian sendiri …"

Sasori tersenyum miris.

"Masalahnya ini memang berbeda."

"Memang setiap masalah yang kita hadapi berbeda-beda. Namun tak ada masalah yang tidak dapat terselesaikan."

Sasori menurunkan kepalanya. Pandangannya yang sebelumnya terhalang tangannya kini dapat terlihat jelas. Dan kini kembali tatapannya bersibobrok dengan viridian yang memancarkan sinar yang begitu hangat. Dadanya bergejolak.

"Saat kita masih kecil, kita berkelahi dengan teman kita karena mereka menjahati kita. Hal itulah yang harus kau lakukan saat ini Sasori -san."

Ia terdiam. Pandangannya tak kunjung lepas dari pesona sepasang giok tersebut.

"Orang-orang boleh menentang keinginanmu, namun kau harus berjuang untuk tetap meraihnya. Meskipun hal itu begitu sulit. Itu mimpimu, Sasori-san."

Sama seperti si anak yang tetap melawan meskipun lawannya lebih kuat darinya.

"Kau pasti akan terluka saat kau memperjuangkan apa yang kau yakini. Mereka memang menyakitkan, namun ingat, luka itu adalah bukti perjuanganmu untuk mencapai impianmu. Jangan menyerah hanya karena kau terluka."

Sama seperti si anak yang terluka saat dipukuli oleh lawannya, saat anak itu mencoba kembali melawan meskipun gagal berkali-kali.

"Walau sulit, tetap perjuangkan impianmu, Sasori-san, karena mereka amat berharga. Mungkin sekarang kau menjadi dokter, tapi kau masih memiliki banyak waktu untuk mewujudkan mimpimu sebagai seniman. Tetap berjuang untuk mewujudkan impianmu Sasori-san, karena tak ada yang mustahil asal kau mau mencoba."

Sama seperti si anak yang akhirnya berhasil memukul lawannya setelah berkali-kali ia terjatuh.

Sasori tercengang mendengar kata-kata gadis merah muda tersebut.

.

.

Meja yang sebelumnya penuh dengan makanan kini telah kosong, bersamaan dengan piring bersih yang tersusun pada rak piring.

Sakura kini mengenakan flatshoes-nya, lalu merapikan ujung turtleneck-nya yang sedikit terlipat karena duduk sedaritadi. Sasori berdiri di dekat gadis itu. Pandangannya sedaritadi tak pernah lepas dari punggung Sakura yang mulai menjauh.

"Sampai jumpa nanti malam." Ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya jenaka.

Namun baru saja Sakura membuka pintu apartemen tersebut, pertanyaan Sasori menghentikan gerakannya.

"Kau kapan pulang?"

Gadis itu sejenak terdiam, sebelum akhirnya ia kembali membuka mulutnya dan sukses membuat Sasori membeku di tempat.

"Besok."

Pintu pun tertutup setelah itu.

.

.

Dan entah kenapa kini ia berlari seperti orang gila. Memasuki setiap gedung yang ia temui―naik hingga menuju atap gedung tersebut. Lalu menggunakan ingatannya tentang gambar difoto yang berada dalam otaknya dikala mentari semakin merendah.

Mentari terbit dengan mentari tenggelam hampir sama, bukan?

Dan kalau memang ia menemukan gedung yang cocok saat mentari tenggelam, tentu pemandangannya tak akan jauh beda di pagi hari―tinggal berlari ke sisi timur alih-alih sisi barat. Sasori pun segera turun ketika dirasa di sana pemandangannya kurang pas.

Masih jelas dalam ingatannya bagaimana ekspresi Sakura pagi itu. Saat manik viridian miliknya meredup karena rasa perih yang pastinya ia rasakan saat itu, pun senyum yang nampaknya seperti dipaksakan menghiasi wajah gadis itu.

"Besok."

Kata itu terus terngiang dalam kepalanya mengiringi langkah kakinya yang sedaritadi tak berhenti, maupun nafasnya yang mulai terengah karena lelah. Ia rasa lari pagi yang rutin ia jalani beberapa tahun ini cukup berguna, terbukti ia baru merasa lelah sekarang setelah selama hampir satu jam penuh ia berlari nonstop.

Demi apa? Ia untuk pertama kalinya melakukan hal segila ini untuk gadis yang bahkan ia baru kenal selama 2 hari!

Ia rasa ia sudah gila.

Namun langkahnya tetap tak terhenti. Satu demi satu gedung ia masuki, seiring dengan sang surya yang semakin merendah. Nafasnya makin terengah.

Sasori menundukkan tubuhnya, menghentikan laju larinya dan menundukkan tubuhnya sembari menetralkan deru nafasnya yang tak teratur. Terengah tentu saja. Kedua tangannya ia gunakan untuk memegangi tempurung lututnya yang bergetar karena lelah.

Sasori kembali mengangkat kepalanya, untuk mendapati sebuah gedung planetarium tua di depannya. Tepat di belakangnya matahari merendah di sana.

Ia segera bangkit dan berlari memasuki gedung yang kebetulan tak terkunci tersebut. ia berlari menuju tangga terdekat, tak peduli debu yang memasuki rongga hidungnya dan membuatnya terbatuk, ataupun suasana tak enak yang mengelilingi gedung tua tersebut. Ia terus berlari menaiki undakan-undakan yang entah berapa jumlahnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya yang sudah dibanjiri air asin itu sedari tadi, helaian rambut pada keningnya lecap karena basah.

Dan entah keajaiban apa yang terjadi hingga kakinya mencapai lantai tertinggi gedung berlantai 7 tersebut. Ia pun memutar pintu di depannya dan ternyata terbuka. Sasori segera berlari kecil.

Pemandangan yang sebelumnya berputar pada kepalanya kini tersaji di depannya. Dikala mentari menyentuh cakrawala, disaat horizon semakin menggelap kehilangan sinarnya. Kala bayangan hitam menutupi gedung-gedung rendah di bawah gedung-gedung pencakar langit. Saat ciap-ciap burung walet menggema nyaring di angkasa.

Angin penghujung musim gugur berhembus lembut, menerbangkan anak-anak rambutnya yang basah karena keringat. Manik matanya terpaku pada pemandangan di depannya, bersamaan dengan bibirnya yang membentuk senyuman tipis di sana, serta pandangannya yang semakin menghangat.

.

.

Sasori terbangun kira-kira lebih telat 30 menit dari biasanya. Dan alangkah paniknya ia saat itu. Buru-buru ia mengganti pakaian tidur dan boxers-nya dengan kaos berwarna merah maroon dan celana berwarna putih garis-garis hitam kali ini. Ia pun buru-buru menggosok giginya―entah kali ini bersih atau tidak, lalu menyisir rambutnya yang acak-acakan karena baru bangun tidur dan mencuci mukanya tanpa sempat mengeringkannya.

Ia sambar mantelnya lalu keluar dari kamarnya. Beruntung semalam ia tidak mengeluarkan dompet yang berada dalam saku mantelnya sehingga ia tak perlu repot-repot mencarinya. Dengan tergesa ia memakai sepatunya, lalu ia buka pintunya dan menguncinya kembali.

Tak ada tanda-tanda gadis itu di sana. Apa ia sudah pergi?―batin Sasori bingung.

Dengan agak ragu, Sasori memutuskan untuk mengecek kamar apartemen gadis itu terlebih dahulu. Ia ketuk pintunya dengan agak keras, dan tubuhnya terlonjak mendengar suara yang berasal dari balik pintu di depannya.

"Sebentar!"

Ia tidak mencari matahari terbit itu?―tanya Sasori lebih kepada dirinya sendiri.

Pintu pun terbuka, menampilkan sesosok gadis merah muda yang sudah berpakaian rapih di depannya. Kali ini Sakura menggerai rambut merah mudanya yang kali ini berbentuk ikal. Ia mengenakan turtleneck lain dengan warna mint, serta celana panjang berwarna cream membungkus kakinya yang ramping. Manik matanya mengerjap bingung.

"Ada apa datang pagi-pagi begini, Sasori-san?"

Sasori mendengus.

"Kau sendiri apa yang kau lakukan?"

Gadis itu sebentar mengerutkan alisnya, sebelum mulutnya terbuka untuk menjawab pertanyaan pemuda merah di depan. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

"Bersiap-siap untuk pulang tentu saja. Aku 'kan sudah bilang aku akan pulang hari ini, Sasori-san?"

Jawaban yang terlontar dari bibir Sakura jelas membuatnya tercengang sesaat. Namun kesadaran nampaknya cepat kembali padanya.

"Dan tidak mencoba mencarinya sekali lagi?"

Sakura menghela nafas. Senyum terkembang dari bibir mungilnya. Namun pandangannya tertuju ke arah lain.

"Aku tidak punya waktu―"

"Kau masih punya waktu! Jadi sekarang kau menyerah begitu?!"

Tanpa babibu Sasori langsung menarik tangan Sakura, membuat gadis itu terkejut dan ikut berlari bersama lelaki itu dengan sandal rumah yang masing membungkus kedua kakinya yang tak tertutup kaus kaki.

"He-Hei Sasori-san, kita mau kemana?!"

"Mencari matahari terbit." jawab Sasori tanpa sekalipun menghentikan laju larinya.

"Kau gila! Kita tak akan menemukannya!"

Sasori berbalik tanpa melepaskan cengekeraman tangannya pada gadis itu. Iris hazel-nya menatap iris viridian yang nampaknya kalut itu dengan tatapan kesal.

"Jadi ini orang yang mengatakan padaku untuk tidak menyerah walaupun telah berkali-kali gagal?"

Manik giok itu terbelalak lebar.

Sepasang mata itu berkaca-kaca. Mulutnya yang bergetar terbuka menatap lurus ke arah lelaki di depannya yang terlihat menyilaukan karena bermandikan sinar mentari pagi.

"A-Aku … Aku tidak ingin menyerah …" ujarnya kemudian dengan nada yang bergetar dan nafas yang tercekat. Setetes air mata membasahi pipinya yang pucat dan terasa begitu beku.

Sasori berjalan mendekat. tangannya yang bebas ia ulurkan untuk menghapus jejak air mata itu dengan ibu jarinya.

"Kalau kau tidak menyerah, ayo kita cari mentari itu bersama-sama, Sakura." Ujar Sasori dengan nada lembut kali ini. Genggaman tangannya pada tangan mungil Sakura mengerat.

Air mata masih membasahi wajah Sakura. Namun kini, sebuah senyuman terbentuk pada wajahnya, seiring dengan tangannya yang kini turut menggenggam tangan pemuda tersebut.

Kepalanya mengangguk. "Aku tidak akah menyerah." Kali ini suaranya mantap.

Sasori melepaskan genggaman tangannya sejenak, untuk melepaskan mantelnya dan mengenakannya pada tubuh Sakura yang sedaritadi menggigil dingin. Sakura pada awalnya terkejut, namun rasa terkejut itu digantikan oleh rasa hangat pada dadanya tatkala tangan itu kembali menggenggam tangannya yang menggigil.

"Ikut aku." Pinta Sasori sembari tersenyum.

Sasori membalikkan tubuhnya dan mulai berlari, diikuti oleh Sakura yang tersenyum sembari menatap punggungnya.

Mereka terus berlari, hingga akhirnya mereka sampai pada tempat tujuan mereka. Dan mereka terus berlari disepanjang menaiki undakan-undakan itu, seiring dengan mentari yang makin lama makin meninggi.

Dan akhirnya mereka tiba diujung tangga dengan Sakura yang nafasnya terengah, sementara Sasori masih dapat bernafas dengan cukup normal. Sasori pun membuka pintu atap planetarium tersebut, untuk disambut oleh sinar mentari yang begitu menyilaukan mata.

Dan disinilah mereka berdiri, dengan pemandangan berupa bola berwarna terang yang bersinar dengan begitu indahnya. Cakrawala yang sebelumnya gelap kini menjadi cerah berkat sinarnya. Cahaya mentari menyusup dibalik celah bangunan-bangunan pencakar langit di depannya.

Sakura berjalan mendekat dengan perlahan mendekati pemandangan di depannya. Tangannya merogoh saku celananya, memperlihatkan selembar foto di sana. Bukan foto berupa gambaran terbitnya mentari, melainkan sesosok pemuda dengan rambut dan manik mata sepekat tinta yang tersenyum begitu bahagia di samping seorang gadis berambut merah muda pendek yang tersenyum sama bahagianya. Lelaki tersebut terlihat memegang ijazah kelulusannya di tangan.

Tubuh gadis itu terduduk saking lemasnya. Dan tanpa kuasanya, air mata itu kembali tumpah membasahi wajahnya. Senyum bahagia terlihat di sana.

"Sai … Aku telah melihat mentari terbit itu … Tidak, tidak … Kita telah melihat mentari terbit itu bersama-sama." Ujar Sakura dengan suara terisak dan foto yang dipegangnya begitu erat di depan dadanya. Tubuhnya bergetar begitu hebatnya.

Sementara Sasori menatap punggung itu dengan perasaan yang entah bagaimana menjelaskannya―membuncah dalam dadanya yang entah sejak kapan es yang menyelimutinya mencair. Manik karamelnya menatap punggung yang bergetar tak jauh di depannya dengan senyum yang amat tipis terbentuk oleh bibirnya.

.

.

"Syukurlah keretanya terlambat datang jadi aku tidak ketinggalan!"

Kini mereka berada di dalam stasiun kereta. Dan saat ini Sakura telah memasuki kereta dan mendudukkan dirinya pada kursi penumpang sambil bercengkerama bersama Sasori yang berada di luar kereta sebelum mereka tidak dapat bertemu lagi.

Sasori menyeringai.

"Aku malah berharap kau ketinggalan kereta tadi."

Sakura mengerucutkan bibirnya kesal, namun bibir itu kembali membentuk sebuah lengkungan manis yang membuat wajah Sasori memanas.

"Tapi, terima kasih untuk segalanya, Sasori-san … Aku bahagia bisa mengenalmu di sini meskipun hanya sebentar."

Tuuutttt!

Bunyi pintu kereta yang tertutup pun terdengar setelah itu, diiringi dengan suara deru mesin yang terdengar setelahnya. Suara petugas pada stasiun pun menggema menandakan keberangkatan kereta shinkansen tersebut.

Kereta mulai bergerak. Dan tanpa sadar Sasori mulai berlari berusaha mensejajarkan dirinya pada posisi Sakura.

"Hei Sakura, apa kau akan datang kemari tahun depan?"

Rasa terkejut sempat gadis merah muda itu rasakan tatkala telinganya mendengar namanya terucap dari bibir lelaki itu untuk pertama kalinya. Namun kemudian, senyuman kembali menghiasi wajahnya, bersamaan dengan laju kereta yang semakin cepat dan sosok pemuda berambut merah darah yang semakin jauh dari titin pandangnya.

"Kalau suamiku mengijinkan ya!" ujar Sakura sambil berteriak, membuat orang-orang yang mendengar ucapannya di dalam kereta terkejut karena mendengar kata-kata aneh tersebut.

Sakura melambaikan tangannya dengan senyum bahagia pada wajahnya, sementara Sasori terus berlari. Kini kedua matanya terasa panas, entah karena apa. Dan langkahnya terhenti ketika ia sampai pada ujung stasiun, disaat shinkansen itu terlihat semakin menjauh membawa gadis itu pergi dari hadapannya.

Dari sisinya.

Angin musim gugur kembali berhembus lembut, menerbangkan anak-anak rambutnya yang acak-acakan, membawa dedaunan kering bersamanya hingga ujung langit. Kepalanya tertengadah. Manik karamelnya memandangi langit mendung di atasnya, serta mentari yang sinarnya tertutup awan.

Dan perlahan, kelopak matanya mulai tertutup, seiring dengan senyum yang amatlah tipis yang terbentuk dari bibirnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku.

Kata-kata gadis itu kemarin pagi masih terngiang dalam kepalanya. Rasa hangat menjalari kalbunya yang tadinya sempat membeku sesaat.

"―Tetap berjuang untuk mewujudkan impianmu Sasori-san, karena tak ada yang mustahil asal kau mau mencoba."

Apakah nanti setelah ia bertemu kembali dengan Sakura ia telah berubah? Apakah ia akan dapat mewujudkan impiannya yang sebelumnya kandas di tengah jalan?

Senyumnya makin melebar.

Tahun depan ya?

.

.

.

.

.

Fin

.

.

.

.

.

Pegel. Pegeeeeellll! Ini endingnya kubuat pas aku uda publish chapter dua. Dan untungnya kupisah krn kalau kugabung pasti aneh DX

Aduh maap jg ya trnyata fic ini berakhir dengan abalnya *nyengir* Dan nggh kalau boleh curcol, aku hampir nngis pas ngetik fic ini /kemplanged/ hahaahhaha aneh banget ya :s

Dan btw thanks buat semua yang uda ngedukung fic ini. tanpa kalian fic ini bukanlah apa2 /eh/ nggh dan maap kalo mungkin endingnya bkin kalian ga puas …

Oh ya katanya si puput fic ini ngingetin satu cerita yg pernah dia baca entah di mana. Tapi srius aku jg gatau itu. ini jg dapet inspirasinya abis ngayal2 seharian /hoy/ dan kupake Sai disini soalnya si puput ngocehin saisaku mulu sih, ya uda deh xD

Oh ya, boleh minta reviewnya? Kritik dan saran jg boleh kok hohoho *ketawa elegan*

Terima kasih banyak telah membaca sampai habis. See you on another story minna!~ *bow*