Chalice : Kahahaha! *yandere mode On* Entah kenapa Sifat Yandereku merasa ingin keluar, sifatku yang ini kaga bisa menahannya! Kahahaha! *tawa kejam*
Aoi, Kagemi, Yuna : *bersembunyi*
Kagemi : Gawat... bener-bener gawat... chalice makan apa sehingga jadi yandere?
Aoi : Kaga tahu, langsung jadi gila begitu, dari chap 1 dia udah mode yandere walau kaga kelihatan.
Yuna : Semoga saja ini kaga menjerumus ke blood M, dan kaga ada bunuh-bunuhhan...
Aoi, Kagemi : ...Yuna sudah tobat... *sweatdropped* berati tinggal kita yang musti tobat jadi baik. (?)
Yuna : Kaga apa, aku masih Psikopat kok XD (?)
Disclaimer : Vocaloid not mine, saya cuman tukang minjem Vocaloid dari Crypton Future Media dan Yamaha (selalu maju kedepan #ditabok).
Warning : GaJe, abal, TYPO, OOC, Cold Kaito, aneh, Kaga bisa di mengerti maksud chalice ngebuat nih fic, kesalahan mengeja EYD, OC masih ada, gomenansai…. dll yang ada disini XDD
~Happy Reading~
Di sebuah tempat penuh dengan salju.
Terlihat 2 anak kecil berambut teal sedang membuat boneka salju.
"Nii-san, lihat, Miku membuat boneka salju mini" ucap gadis berambut teal diikat twintail.
"Hahaha, Nii-san bikin yang besar, dibanding punyamu Miku" ucap Sang kakak dengan sombongnya.
"Curang! ajarin Miku bagaimana caranya ngebuat yang besar, Nii-san!" omel Gadis kecil itu sambil mengembungkan pipinya dan memukul pelan sang kakak.
"Hahahaha, baiklah" ucap sang kakak sambil mengusap rambut adiknya.
Suasana disana sangatlah bahagia, tapi kebahagian itu terhenti akan sesuatu.
BLAR!
Rumah penduduk terbakar habis, banyak orang berlari menyelamatkan diri mereka, ada juga yang sudah terbujur kaku dengan luka yang cukup dalam.
"Nii, Nii-san! Kaa-san dan Otou-san bagaimana?" tanya Gadis kecil itu dengan ketakutan.
"..." anak lelaki itu hanya diam saja, dia terus menarik adiknya agar mereka bisa lari dari tragedy yang terjadi di desa mereka.
Mereka terus belari mengambaikan belakang mereka yang banyak berteriak minta tolong.
"Nii-san! Otou-san dan Kaa-san bagaimana?!" pekik gadis kecil itu kesal karena pertanyaannya tidak di jawab Lelaki kecil tersebut.
"...Mereka... Sudah meninggal" ucap anak lelaki itu dengan wajah terluka.
Gadis kecil itu hanya kaget, wajahnya memucat, perlahan-lahan air matanya mengalir.
"Bohong...BOHONG! Miku tidak percaya!" pekik gadis kecil itu dan berlari ke arah berlawanan.
"MIKU!" Pekik lelaki kecil itu dan mengejar adiknya.
Gadis kecil itu berhasil sampai di sebuah rumah yang sudah nyaris hancur.
Dia perlahan-lahan masuk, setelah dia sampai di ruang tamu, matanya terbelalak kaget dan tidak percaya apa yang ia lihat.
Ia segera berlari keluar rumah mencari kakaknya.
Keluarganya yang sekarang satu-satunya
"Nii-san! Nii-san!" panggil gadis kecil itu memanggil kakaknya.
Gadis kecil itu melihat seseorang anak kecil berambut teal.
"Nii-san!" panggil Gadis itu.
Mata Sang kakak terbelalak melihat adiknya.
"Miku! jangan kesini!" pekiknya.
"Eh?" Tanpa ia sadarin di belakangnya terdapat seseorang dan menusuknya.
"Miku!" Teriak Lelaki itu.
"Nii-san..."
BLAR!
"NII-SAN!" Pekik Miku bangun dari tidurnya.
BLAM!
Pintu di buka seseorang dengan amarah
"Bisakah kau diam? suaramu dari tadi berisik, Hatsune" ucap Kaito ketus.
"Ah, Gomenansai..." ucap Miku minta maaf.
Kaito hanya menampilkan wajah datar dan dia...
BLAM!
menutup pintu...
Miku hanya diam saja, dia berada di atas ranjang.
Mereka sekarang berada di sebuah rumah kosong yang berada di perdalaman hutan yang tanpa sengaja mereka temukan.
Miku melihat keluar lewat jendela yang berada di ruangannya
"Bulannya bagus" ucapnya dengan mata bersinar-sinar.
Di tempat Kaito,
Kaito berjalan di luar rumah kosong tersebut.
Dia melihat-lihat untuk berjaga-jaga.
'Ini aneh, rumah itu cukup terurus walau kosong, kalau rumah berada di tengah-tengah hutan pasti rumah ini ada penghuninya atau kaga sudah kaga kerawat...' pikir Kaito dengan gaya berpikir keras.
KRASAK! KRASAK!
Di indera pendengaran Kaito dia mendengar sebuah suara gemerisik.
KACHING!
Kaito segera memasang posisi bertarung, dia memegang tangkai pedangnya seperti dia akan hendak mencabut pedangnya dari sarungnya jika ada sebuah 'mahluk' muncul di depannya.
1 menit
2 menit
3 menit
4 menit
Krik...krik...
sudah 4 menit Kaito masih dalam memasang posisi siap bertarung, tetapi tidak ada tanda-tanda dia akan di serang.
'Tidak ada yang menyerang? apakah itu halunisasiku?' batin Kaito dan dia melepaskan pegangannya ke senjatanya.
Kaito hanya diam saja dan dia melanjutkan berjaga-jaganya, bagaimana dia dan gadis itu di serang.
'Tunggu sebentar kalau gadis itu mati, berati kutukan yang di beri gadis aneh itu akan menghilang' batin Kaito setelah sadar akan sesuatu, dia mengeluarkan evil smirk,
Dia memegang pedangnya, yap, dia akan membunuh gadis yang bernama Miku Hatsune itu, mungkin kalau gadis itu mati aku akan bebas, batinnya.
"Ah, kelihatannya Yuna-sama lupa kasih sesuatu yang penting" Terdengar sebuah suara di belakang Kaito.
Hal itu membuat Kaito kaget dan dia segera membalikkan badannya.
'Baga, Bagaimana dia bisa di belakangku? Aku tidak merasakan aura keberadaannya' batin Kaito kaget melihat salah satu butler Yuna ada disana.
"Aku mencari mu karena Yuna-sama lupa kasih penjelasan selanjutnya, untunglah aku sudah sedikit mengambil auramu untuk bisa menemukanmu dengan gampang" ucap Butler putih tersebut sambil duduk di batu besar yang entah kapan ada.
Kaito menatap Butler bermata Mismatch tersebut dengan dingin.
"Ah, aku lupa pesan Yuna-sama untuk sopan kepada orang lain, maaf, namaku Alliot, Aku kesini membawa pesan atas hukuman di kutukan itu" ucap Alliot sambil memberi hormat ala butler.
Kaito mempertajam pendengarannya untuk mengetahui maksud omongan butler berambut perak tersebut.
"Hukuman dari kutukan itu adalah, jika sang Master mati, kekuatan guardiannya akan musnah atau lenyap, jadi bisa di bilang kalau Miku mati kekuatan bertarungmu akan hilang, dan kau bukan Cold Hearted Knight lagi jika kekuatanmu lenyap" ucap Alliot
Kaito terbelalak kaget.
"Dan Yuna-sama tahu kau paling benci diremehkan, makanya itu hukuman dari kutukan itu sangat besar buatmu, bukan?" tanya Alliot dengan senyum kemenangan "Tapi aku heran, Kenapa Yuna-sama dan Aliza memilihmu menjadi guardian Miku, padahal masih ada yang lain" ucap Alliot sambil tersenyum sinis.
Punggung Alliot mengeluarkan sebuah 5 tiang mekanik yang memegang senjata tajam, Bayangan Alliot menjadi besar dan ada matanya, warna merah darah.
"Karena itu aku selain kesini, ingin melawanmu sebentar, aku bosan dalam mode Butler, aku sangat ingin melihat manusia mati lagi" ucapnya dengan senyuman sinis.
Kaito memandang Alliot dengan pandangan datar "Jadi kau robot ya? Pantas saja auramu tidak bisa dirasakan tadi" ucap Kaito dengan dinginnya.
Alliot hanya membalas ucapan Kaito dengan senyuman psikopat.
"Benar," ucap Alliot dengan senyuman sinis "Nah, apakah kita bisa bertarung sekarang?" tanyanya dengan senyuman manis yang penuh maksud.
Kaito sudah memasang kuda-kuda bertarung.
Sedangkan Alliot, Dia mengambil sesuatu dari tiang besi (bukan kaya tiang listrik atau apa, ini bentuknya mirip kaki laba-laba cuman ini besi) nya, Yap pedang.
CRANG!
"Nah, kita mulai pertarungan kita" ucap Alliot dengan senyuman psikopat.
Kaito membalasnya dengan muka datar, dia berlari ke arah Alliot dan hendak mengayunkan pedangnya.
Sayangnya tiang di punggung Alliot menahannya,
"Tch!" decih Kaito kesal.
Alliot hanya menampilkan senyuman datar.
-diwaktu bersamaan, Miku place-
Miku sedang tiduran di ranjangnya,
"Hmm... Aku tidak bisa tidur" ucapnya pasrah,
Miku segera memposisikan dirinya menjadi duduk,
'Mungkin aku jalan-jalan di sekitar rumah ini saja' batin Miku dan keluar kamar.
CKLEK!BLAM!
Miku berjalan di sekitar dalam rumah tersebut.
TAP! TAP!
Miku mendengar suara langkah kaki ke arahnya.
"Ah, Kai-" Belum selesai ngomong Miku kaget melihat sosok di depannya,
"Wah, Wah... aku kaga nyangka ada perempuan di rumah perampok" ucap lelaki berambut kuning tersebut.
"Benar, benar, ini sangat kurang ajar sekali" ucap para kawanan yang berbaju mirip bandit.
"Umm... gomenansai jika saya seenaknya masuk kerumahmu, aku dan temanku pikir ini hanya rumah kosong" ucap Miku minta maaf.
Lelaki kuning itu hanya menaruh tangannya di dagunya mirip sedang berpikir.
"Ketua Nero, gadis ini kelihatan manis, bagaimana kalau kita bersenang-senang sebentar?" tanya salah satu bandit tersebut.
"Hmm... bagaimana ya, tapi aku lebih suka membunuh dibanding bersenang-senang dengan wanita" ucap Lelaki berambut kuning yang diketahui bernama Nero.
"...Kalau begitu kita bersenang-senang dahulu lalu kita bunuh dia, bagaimana?" ucap salah satu anggota bandit tersebut.
Miku yang mendengar itu merasa ketakutan
"...Boleh juga" ucap Nero.
Nero mengeluarkan benda panjang berkilat yang Miku ketahui adalah pedang.
Muka Miku merasa ketakutan, dia segera berlari meninggalkan kawanan perampok tersebut dengan ketakutan
Para kawanan perampok tersebut segera mengejar Miku sambil membawa senjata mereka.
"Tunggu! Kami hanya ingin bermain-main denganmu, lalu kami bunuh kau" ucap para kawanan bandit tersebut dengan jujurnya ralat... TERLALU JUJUR.
"KYAAAAAAAAAAAAA!" Pekik Miku dengan ketakutan
Miku terus berlari tanpa arah tujuan yang pasti menjauh dari kawanan bandit yang aneh itu.
-Di tempat Kaito-
"KYAAAAAAAAAAAAA!" Kaito mendengar suara teriakan Miku.
Tentu saja suara teriakan tersebut mengagetkan dua pria ini.
Alliot memegang matanya dan di depannya terdapat layar kotak, tiang-tiang di punggungnya menghilang dan bayangannya yang berwujud mirip monster juga hilang.
"...itu suara Hatsune" ucap Kaito sambil memasukkan kembali pedangnya setelah melihat Alliot memasukkan kembali tiang-tiang besinya.
"ah... ini bahaya" ucap Alliot matanya terlihat menjadi hijau dan banyak kota-kotak, kelihatannya matanya sedang membuka sebuah sistem
"?" Kaito hanya memandang Alliot dengan kebingungan.
"Kelihatannya Miku-sama di kejar kawanan perampok dan kulihat mereka memegang sebuah pedang," ucap Alliot dan matanya kembali normal.
"..." Kaito hanya memilih diam.
"Hey, Kalau kaga secepatnya menolong Miku-sama, dia bisa mati dan hukuman dari kutukan itu akan mengenaimu" ucap Alliot memperingatin Kaito.
"!"
"Dia ada di bagian barat rumah itu, di dalam gudang" ucap Alliot memberi tahu.
"Tch! gadis yang merepotkan!" decih Kaito dengan perempatan di kepalanya dan dia segera masuk kedalam rumah tersebut.
'Kenapa aku bisa mendapatkan situasi begini sih?! Awas kau Gadis aneh, aku akan membunuhmu kalau bertemu kembali' batin Kaito dendam kepada Yuna.
Alliot yang menatap punggung Kaito hanya menghela nafas "*sigh* Padahal aku ingin mencoba bertarung dengan seseorang yang hampir bisa seimbang dengan Yuna-sama" Keluhnya dan dia segera membalikkan badannya.
"Tapi kelihatannya aku tahu kenapa Yuna-sama dan Aliza no baka memilihnya" ucap Alliot dengan devil smirk dan berjalan masuk kedalam hutan
"Karena aku sudah meramalkan masa depan mereka" ucap Alliot dan menghilang di balik kegelapan.
"Cih, mana gadis itu berada! kalau dia mati kekuatanku akan hilang, itu sangat membuatku kesal,' batin Kaito sambil lari.
'Dia ada di bagian barat rumah itu, di dalam gudang,' Kaito mengingat perkataan Alliot tadi.
Kaito segera berlari ke arah barat, dan melihat segerombolan Bandit berada di depan sebuah ruangan.
"Hyahahaha! kau tidak bisa kemana-mana lagi, nona manis," ucap Salah satu bandit tersebut.
Miku merasa ketakutan dan dia terus mundur saking takutnya.
"Hyahaha! temanin kami bermain sebentar baru kami membunuhmu!, hahahaha!" Pekik salah satu bandit tersebut dengan bahagia.
Miku semakin ketakutan.
"Oh tidak kami-sama! tolong lindungin saya!' batin Miku dengan ketakutan apalagi melihat 3 bandit mendekatin dia.
Miku terus mundur dan mundur
TUK!
'Oh tidak!' rutuk Miku setelah merasakan benda dingin di belakangnya.
Tiga bandit tersebut sudah memegang badan Miku, Miku merasa sangat ketakutan sekali.
"GYAAAAAAAAAAAA!" Pekik orang di depan kesakitan, itu membuat Miku dan 3 bandit yang berada di dalam kaget.
"Apa?! apa yang terjadi!?" pekik 3 bandit tersebut dan keluar ruangan.
"!" Mereka kaget melihat teman-teman mereka ada yang terbelah, terpenggal, terbagi jadi 4, 5, 6 sampai 10 bagian, yang pasti keadaannya mengenaskan semua.
Mereka tidak menyadari di samping mereka terdapat Kaito dan segera menebas kepala mereka.
ZRAT!
Darah kepala bandit tersebut berceceran (Chalice : Ukh... saya merasa kaga enak kalau mengetik berceceran...)
Miku yang melihat tersebut hanya terbelalak kaget.
"Ka, Kaito-san..." ucap Miku, wajahnya semakin ketakutan karena melihat Kaito yang berlumuran darah.
"Kau sangat merepotkan" ucap Kaito dengan dinginnya.
"Ka, Kaito-san! jangan suka membunuh orang, walau kau hebat bisa melawan banyak musuh, tapi membunuh bukan caranya" nasehat Miku.
CRING!
Miku merasa ada benda dingin di dekat lehernya, ternyata pedang tersebut berada di depan Miku dan mengakibatkan leher Miku tergores dan berdarah sedikit.
"Berisik! ini bukan urusanmu jika aku membunuh orang" Ucap Kaito dengan nada sangat dingin.
Miku menatap Kaito tanpa rasa ketakutan.
"Ini urusanku karena aku sekarang 'Master' mu, Kaito-san!" ucap Miku dengan mata penuh keberanian.
Kaito hanya menggeram kesal, 'kalau saja kaga ada hukuman atau kutukan itu, pasti gadis ini sudah kubunuh dari awal!', batinnya geram.
"Astaga, kau beraninya mengambil mainan ku" terdengar sebuah suara, Kaito dan Miku segera menolehkan kepala mereka ke sumber suara.
Terlihat lelaki berambut kuning dengan devil smirk.
Kaito yang mendapat insting dari kutukan itu, secara otomatis melindungin Miku dengan cara berada di depannya.
"Ah, pasti kau pacarnya makanya kau melindunginnya kan?" ucap Nero sambil melipatkan tangannya.
Miku yang mendengarnya hanya blushing "ah, di, dia bukan paca..." Belum selesai bicara dia sudah di potong Kaito.
"Ah, dia bukan pacarku kok," ucap Kaito dengan datarnya
"..."
"..."
"..."
"oh..." Setelah sekian lama hening, hanya itu yang di jawab Nero dan tentunya sambil sweatdropped.
"Berati ini bukan urusanmu soal gadis itu kan, jadi serahkan gadis itu" ucap Nero sambil menjulurkan tangannya.
"Memang ini bukan urusanku, tapi masalahnya aku ada guardian gadis ini" ucap Kaito sambil menghela nafas pasrah.
'Yap, kalau bukan dari kutukan atau hukuman dari kutukan itu aku kaga bakal ngelindungin gadis ini...' batin Kaito kesal.
"Baiklah, kalau begitu kita bertempur, kalau aku menang, serahkan gadis itu" ucap Nero sambil mengancungin pedangnya kearah Kaito.
"Kalau aku menang, nyawamu bayarannya" ucap Kaito datar.
Nero mengangguk karena ia yakin dia akan menang.
Sekarang mereka dalam posisi battle.
Kaito memasang kuda-kuda pertahanan sedangkan Nero berlari dan menyerang Kaito dengan pedangnya
CRANG!
Kaito dengan santainya menahan serangan Nero.
TRANG! CRANG! TRANG! CRANG!
Serangan Nero ditahan terus oleh Kaito, hal itu membuat Nero geram dan akhirnya dia menendang kaki Kaito, yang mengakibatkan Kaito kehilangan keseimbangan dan jatuh.
"Ini adalah akhir buatmu, Lelaki berambut biru" ucap Nero dengan datarnya dan segera menebas Kaito.
"KAITO-SAN!" Pekik Miku.
DUAK!
Kaki Nero di tendang Kaito, dan mengakibatkan Nero jatuh akibat kehilangan keseimbangan.
"Curang di balas curang," ucap Kaito dengan wajah senyuman sinis.
"Tch!" Nero segera bangkit dan mengayunkan pedangnya ke Kaito.
CRANG!
Sekali lagi Kaito menahan serangan Nero.
"Hei kau! Jangan menahan terus! Ayo lawan aku!" Provokator Nero.
"Heh, Kau akan menyesal karena mengatakan itu" ucap Kaito dengan senyuman kemenangan.
Nero yang mendengarnya kaget "Ap—"
CRASH!
Tangan Nero yang memegang pedang terpotong, mata Nero terbelalak kaget apalagi melihat tangan kanannya hilang dan meninggalkan darahnya yang keluar.
"GYAAAAAAAAAAA!" Pekik Nero kesakitan.
Kaito akan mengayunkan pedangnya ke kepala Nero, Nero yang melihatnya hanya menatap ketakutan.
"Mati…" ucap Kaito datar dan segera mengayunkan pedangnya.
"Tunggu Kaito-san!" Pekik Miku dan memeluk Kaito dari belakang.
Kaito langsung berhenti karena teriakan Miku mirip perintah buat tubuhnya.
"Kau… jangan membunuh, kasihan lelaki itu…" ucap Miku sambil tetap memeluk Kaito dari belakang yang berusaha untuk menghetikan Kaito.
"Kenapa?!"Protes Kaito mendengar itu.
"Karena… TIDAK BAIK MEMBUNUH! SETIAP MAHLUK HIDUP PUNYA HAK HIDUP! KITA TIDAK BOLEH MEMBUNUH MEREKA!" Omel Miku.
Kaito hanya diam saja.
.
.
.
.
"Lalu?" Tanya Kaito setelah terdiam selama 3 menit lebih.
"Biarkan dia hidup, dia sudah kalah," ucap Miku sambil melipatkan tangannya,
Kaito menatap Nero yang matanya menunjukkan ketakutan.
"Bagaimana aku menolak? Kau tahu aku sangat suka membunuh, apalagi melihat darah berceceran,"ucap Kaito dengan wajah psikopat.
"TIDAK ADA KATA MENOLAK!" pekik Miku.
"Aku tetap menolak!" Protes Kaito.
"Tidak ada kata menolak! Titik!" protes Miku.
Dan terjadilah adu mulut antar Master dan guardiannya yang membuat Nero sweatdropped.
WHACK!
Kaito di jitak Miku saking kesalnya.
"Ap- Beraninya kau menjitakku!" pekik Kaito kesal.
"DIAM! DAN DUDUK DENGAN DIAM!" Perintah Miku.
Badan Kaito bergerak sendiri dan duduk dengan tenang, walau begitu terlihat 4 siku-siku di kepalanya.
"Ijinkan aku mengobatinmu" Tanya Miku sambil memegang tangan Nero yang terluka.
Nero yang mendengarnya mengangguk.
Miku segera membalut luka Nero dengan perban.
"Maaf, aku tidak punya kekuatan white magic, jadi tidak bisa menyembuhkanmu" ucap Miku minta maaf.
Nero menggeleng "Tidak, tapi aku berterimakasih sudah menghentikan lelaki itu saat mau membunuhku" ucap Nero sambil tersenyum.
"Em! Sama-sama" ucap Miku sambil tersenyum.
"aku berhutang kepadamu" ucap Nero dan dia pergi setelah di obati Miku.
Keadaan kembali hening..
"Oi…" Panggil Kaito.
"Apa?"
"Kapan kau membuatku bergerak, aku cape duduk seperti ini…"
"ah, maaf… nah, kita akan pergi kemana habis ini?"
Kaito merenggangkan badannya karena pegal duduk terus dan dia membuka peta dari saku celananya.
"…di dekat sini ada kota bernama Utauvan, kita akan kesana sekarang" ucap Kaito dengan datarnya.
"Oke! Ayo kita pergi!" Pekik Miku senang.
Dan mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Ch 2 –End-
Chalice : QAQ kok jadi gaje banget ya TTATT
Yuna : Mana kami tahu!
Chalice : *pundung* Yuri Yuna, minta review..
Yuna dan Yuri : *swt* ehem, Tolong Reviewnya ya :D
Balas Review yang kaga login :
Vhi : terimakasih atas pujiannya, Chalice senang XD, apa boleh buat, chalice lebih suka dengan cold Kaito, cuman suka baka kaito juga #apa bedanya? ..oke.. semoga #plak, sudah update XD.
Mind To Review?
