"KAZUNE, RAIN, AND MEMORIES"


.

.

.


Khukhukhu.. Try out ke-2 bebek da selesai dan ternyata ujian prakteknya begitu ribet =_=

Itu ngebikin saya jadi bingung dan kacau ampek gigi bebek bengkak T,T

Maaf ya lama publisnya u,u da gitu bebek gak nepatin janji ama kalian u,u

Gomen ne! T.T


.

.

.


BALASAN REVIEW


Dci : Wahh makasih ya untuk dukungannya :D

Tic : Sepp ni da lanjut :D

MycHakazurin : Sepp.. udah update ni chapternya.

: Okey ni da lanjut :D

kirie-chan : Wah maaf gak bisa update kilat, hehehe.. tapi ni da lanjut chaper 5 mampir review lagi ya :D

Fathia Aulia : Hahaha.. ya gak tau #PLAK. Maaf gak bisa update kilat.

RevmeMaki : Seppp... hehehe...

: Makasih, maaf gak bisa update cepet... lagi ulangan maraton.

Sachiko Akane : wahh.. namanya "Akane" sama kyk namaku :D hehehe.. yoroshiku ne Sachi, okey ni di perlambat alurnya hehehe... makasih kritiknya...

ikamichama karin : Iya ni da lanjut :D


Makasih buat yang udah ngereview

Yang lain da dibalas di PM arigatou


.

.

.

"KAZUNE, RAIN, AND MEMORIES CHAPTER 5"

Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : KAZUNE, RAIN, AND MEMORIES© Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc =_="

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.

.

.

.


"JIN X KARIN"


.

.

.

"Aku pulang!" serunya dari balik pintu.

"Selamat datang." Karin menyambut Jin dengan senyuman.

"Iya, arigatou Karin." Jin tersenyum manis.

"Eh, kenapa berterima Kasih?" tanyanya heran.

"Hehehe kau orang yang pertama kali menyambutku sejak aku berada disini." Ia melepas sepatunya dan meletakkannya di pojok ruangan tempat dimana sepatu sejenisnya berada.

"Ohh..." Karin ber'Ohh' ria.

"Kenapa kau memakai celemak, bukankah kau masih sakit?" Jin mendekati Karin yang berusaha menyingkirkan celemek hijau toska dari badannya.

"Hahaha, aku sudah sembuh. Terima kasih sudah merawatku." Kini senyuman tulus nan lembut itu menghiasi wajahnya yang sedikit berkeringat.

"Tak masalah." Wajanya sedikit memerah.

Karin melangkah dengan pasti mendekati Jin.

"Hei ayo kesini." Karin menarik tangan Jin yang masih memerah dan semakin memerah lagi saat Karin menariknya.

"Ehhh..." Jin hanya pasrah saja di tarik olehnya.

"Taraaa..." teriaknya.

Karin masih mengandeng tangan Jin. Sedari tadi Jin memperhatikan gengaman tangan itu. Ia tersenyum simpul.

"Hei Jin botol." Grutunya kesal.

"Namaku Jin Kouga tau." Tegasnya.

"Kau sih ngelamun terus. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu tu." Karin menarik tangan Jin dan mendekatkannya dengan sebuah kursi di dekat meja makan itu.

"Silakan duduk Jin-kun." Serunya manja.

Jin tersipu malu.

"A-arigatou." Ia menarik kursi itu dan mendudukinya pelan-pelan.

"Aku tak bisa membuat masakan yang enak jadi aku membuatkanmu omelet." Serunya malu-malu.

Jin menatap omelet dengan hiasan saos merah diatasnya. Sedikit sayuran hijau Karin letakkan di atas masakan sederhananya itu.

"Boleh ku makan."

"Tentu." Karin menggangguk.

Karin menarik kursi didekatnya dan mendudukinya. Mereka berdua kini berhadapan.

Jin mengejakkan tangannya mengambil garbu yang telah disediakan Karin. Ia mulai mencicipi omelet buatan Karin.

Di masukkannya sedikit omelet itu kemulutnya.

"Bagaimana rasanya?" tanyanya antusias.

"Emm..." Jin masih mengunyanya.

"Aku rasa, kau itu cowok kedua yang aku buatkan omelet seperti ini hihihihi." Tawanya usil.

'kedua?' pikir Jin.

"Dulu aku pernah membuatkan makanan seperti ini untuknya. Tapi sekarang bertemu dengannya saja ku tak bisa." Karin menundukkan kepalanya.

"Omelet buatanmu enak." Jin membuat Karin reflek mengangkat kepalanya.

"Be-benarkah." Tanyanya memastikan.

"Iya, ini sudah larut malam, sebaiknya kau menginap disini saja dulu."

"Maaf merepotkan." Karin menundukkan badannya 900.

"Tidurlah di ranjangku, kau terlihat masih sedikit pucat. Besok sebaiknya kau tak usah sekolah dulu."

"Hemm..."

.

.

.


-Ke Esokan Harinya-


.

.

.

"Ohayou." Karin mengucek-ucek matanya yang masih malas terbuka.

Dilihatnya Jin masih tertidur di atas sofa empuk ruang tamunya. Karin mendekatinya pelan-pelan agar tak membangunkan sang pemilik apartemen.

Kakinya melangkah dengan sangat hati-hati.

Ia kin telah didepan sofa. Matanya menyelidiki setiap lantunan nafas Jin yang lembut dan teratur.

"Gara-gara aku dia tidur disini,dia,-" Karin mengantungkan kalimatnya dan berjongkok didepan wajah Jin.

"Aku kira dia orang yang menyebalkan. Tapi aku salah." Ia tersenyum simpul.

"Kalau tak ada dia aku mungkin masih tergeletak di perpus sekolah dan entah apa yang aka terjadi padaku selanjutnya. Dia bahkan memuji masakanku enak." Karin memberanikan tangan putihnya menyentuh rambut hitam legat Jin.

"Kau terlihat seperti anak kucing yang manis hehehe..." tawanya renyah.

"Arigatou." Kini tangan Karin membelai lembut rambut Jin.

"Emm..." Jin merasa ada benda berat di kepalanya, ia membuka matanya pelan.

Matanya menatap tajam kedepan. Karin yang masih mengelus-elus rambut Jin reflek menjahukan tangannya.

Tapi dengan sigap Jin menarik tangan Karin.

"Kenapa berhenti." Senyum jail di wajahnya terukir jelas.

Karin yang meihatnya hanya bergidik ngeri. Matanya berusaha mengalihkan pandangan. Tapi mata bak kucing didepannya menghipnotisnya seakan tak membiarkannya beralih pandangan.

'Selamatkan nyawamu Karin sebelum dia mencakarmu.'

"Ohayou manis!"

Sontak sapaan Jin membuat wajah Karin seperti tomat rebus.

"Hihihi lucunya." Jin mencubiti pipi kanan Karin dengan tangan Kirinya.

"Aku kira kau baik, tapi aku salah menilaimu. Kau itu menyebalkan." Dengusnya kesal.

"Ah masa..?" tanyanya mengoda.

"Ya." Jawabnya singkat, padat dan lugas.

Karin kin merasa benar-benar kesal, di lepaskannya paksa tangannya yang tergengam oleh Jin. Jin hanya tersenyum tipis melihat perlawanan Karin.

Karin membalikkan badannya bergegas untuk pergi sedangkan Jin bangun dari sofa. Tangannya dengan sigap meraih tangan Karin.

Lagi-lagi wajah mereka berhadapan, tapi kali ini benar-benar sangat dekat. Jin melingkarkan tangannya ke pingan Karin yang ramping.

"Ma-mau apa kau?" tanyanya gagap.

"Kau berani melawanku, apa artinya kau juga berani melawan ini?" Jin menyeringai.

Ia memiringkan kepalanya, semakin lama jarak di antara mereka menghilang.

Jin mempererat pelukannya dan reflek Karin memberontak. Jin menciumnya lembut walau awalnya ia sedikit kasar tapi lama-lama ia mengendorkan pertahanannya saat Karin berhenti melawannya.

Kedua mata Karin membulat sempurna. Jin benar-benar mendominasi ciuman pertamanya.

Ia menutup matanya pelan. badanya seakan lumer dan wajahnya memanas. Bibir lembut Jin menempel pada bibir mungil Karin.

Beberapa detik kemudian Jin melepaskan ciumannya.

Karin masih tak berani membuka matanya dan air matanya sedikit berlinan. Jin mengarahkan tangannya ke wajah Karin dan membuat Karin sedikit gemetar.

"Gomen ne!" tangan lembutnya kini mengusap lembut air mata Karin.

Lagi-lagi tingkah Jin berhasil membuatnya memerah padam dan membuatnya membulakan mata secara sempurnah.

"A-aakuu, aku mau mandi." Ia berlari meninggalkan Jin yang tangannya masih melayang di udara.

Jin hanya memperhatikan tingkah Karin yang kini telah berada di kamar mandi.

.

.

.


KARIN POV


Karin dengan cepat berlari memasuki kamar mandi. Ia menutup pintunya dengan cepat dan terduduk lemas di balik pintu.

"Apa yang ia pikirkan? Kenapa melakukan itu?" pikirannya masih terbayang kejadian yang baru berakhir beberapa menit tadi.

Cewek berkuncir dua itu memeganggi dadanya, dibalik sana jantungnya masih berdetak sangat cepat dan penuh seperti stopwatch yang selalu berganti angka dengan cepatnya.

Wajahnya memerah padam membuatnya semakin melemas. Air mata yang hangat. Air mata yang entah ia sadari atau tidak kini kristal bening itu semakin derasnya.

Ia terisak-isak. Matanya sedikit memerah dan jantungnya pelan tapi pasti kembali berdetak dengan normal kembali.

Ia mengarahkan kedua tangannya kewajahnya dan menutup rapat-rapat wajahnya dengan tangan putih nan lembut miliknya.

"Aku, aku tak kan mampu bertemu Kazune dengan keadaanku yang seperti ini. Kenapa Jin menciumku, akuu," Karin mengantungkan kalimatnya.

"Aku menyukai Kazune." Ia berteriak sangat keras.

Karin bangkit dari keterpurukannya dan berjalan dengan pasti menuju kran air yang tak jahu darinya.

Di nyalakannya kran air itu dan kedua tangannya menampung air sebanyak-banyaknya. Ketika airnya dirasa cukup ia mengarahkan tanmpungan air bening itu kewajahnya.

"Aku angap kejadian tadi tak perna terjadi. Yosshhh... " ujarnya bersemangat.

Karin kini berjalan dengan pasti menuju pintu. Ia memegang knop pintu itu dengan pasti. Dilihatnya keadaan ruang Tv apartemen Jin yang tak berpenghuni.

Ia menutup pintu toilet dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Karin bergegas ke kamar Jin untuk mengambil ponselnya.

Ia berniat menghubungi Himeka karena hari ia tak masuk sekolah, tapi saat ia tiba di kamar Jin sesuatu yang jangal membuat Karin sangat terkejut.


Heeemmm apa yang di lihat karin ya ? terus kalau Kazune tau Jin mencium Karin apa yang bakalan ia lakukin ya?


See you next chapter..

Yang jelas updatenya lama hehehe :p


.

.

.


Yosshhh... ini berlaku untuk semua fic yang aku buat ...

Aku senang kalian mereview fic-ku dan antusias untuk membaca kelanjutannya ..

Tapi bebek juga punya kehidupan, bebek gak bisa upadate kilat kecuali saat liburan ..

Apalagi bebek kelas 3 dan harus ujian ini itu..

Sampai tangal 20 maret bebek ujian tanpa henti jadi kalau updatenya lama TOLONG DI MAKLUMI...


Saya mentingin sekolah di banding ngelanjutin fic karena fic Cuma hobby dan sekolah (mencari ilmu) itu kewajiban

Jadi kalau Anda bosan menunggu kelanjutannya gak ngebaca atau di tunggu juga gak papa, saya buat ini untuk yang mau ngebacanya dengan senang hati..

Maaf kalau ada yang tersingung, saya cuma mau ngunggkapin yang saya rasakan,...


Gomen ne!


By © BEBEK L DARK EVIL


.

.

.

R

E

V

I

E

W

.

.

.