"KAZUNE, RAIN, AND MEMORIES"
.
.
.
Yuuhhhhuuuuu…. ^,^/ ketemu lagi dengan Bebek XP
Setelah melewati masa-masa sulit UN akhirnya selesai juga ..
Fyuuhhhh ,….. Saatnya menatap masa depan dan maaf updatenya super lama hahahaha :D
#Author gak bertangung jawab XP
WARNING :
Bagi yang gak suka baca fic dengan status
"Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc"
TOMBOL BACK MENUNGGU :D
SAYA TIDAK MENERIMA MASUKAN UNTUK Typo atau hal yang sudah saya peringatkan.
"karena sudah saya peringatkan anda sebelumnya" :p
Kalau ada yang berkomentar mengenai hal itu,
silakan BACA DENGAN TELITI sebelum membaca ceritanya :p
Karena setiap saya bikin fic saya selalu berusaha meminimalisir adanya "TYPO (S)" tapi manusia tempatnya salah dan lupa hahahaha… okey cukup sekian pembukaan dari bebek dengan kata-kata pedas :D
.
.
.
BALASAN REVIEW
Maaf balasnya super duper lama hahahaha :D
Dci: Udah lanjut XP
ikamichama karin : Hahaha udah :D
AfnyKazuRinChan kalau suka lanjut baca ya XP
KK LOVERS : Iya ni ada romantisnya (?) XP
Yui : Ni udah selesai chapter 7nya :D
ayu.p : Masuk perguruan tinggi .. hehehe
Makasih buat yang udah ngereview
Yang lain da dibalas di PM arigatou
.
.
.
"KAZUNE, RAIN, AND MEMORIES CHAPTER 7"
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Story : KAZUNE, RAIN, AND MEMORIES© Bebek L Dark Evil
Warning : TYPO(S) Bertebaran, Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc =_="
Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek Gaje ini ^^v
.
.
.
"MEMORIES"
.
.
.
Kenangan suram tentangmu masih ku kenang. Masa-masa dimana aku terpuruk karena tingkahmu yang menyesakkan hatiku. Kau selalu tega membuatku terluka.
Kerasnya samudra tak mampu membuatmu menangis. Kumpulan awan tak mampu membuatmu tertawa tapi alunan melodi air hujan selalu setia menemanimu.
Pagi setia menyambut dengan kejutan yang tak tergantikan. Alunan melodi kehidupan yang berhembus membuatku sadar akan karunia yang senantiasa ku peroleh. Mataku yang baru terbuka mengajakku menelusuri kamar sepi dengan berbagai perabotan yang menghiasi.
Ku raih ponselku saat kudengar ponsel hijau kesayanganku mengalunkan melodi yang kusuka.
Ku angkat dengan sigap dan kutempelkan di telingaku. Kudengar seseorang memanggil namaku."Karin." sapanya ramah.
"Sampai kapan kau akan tidurrrr!" teriaknya. Reflek aku menjahukan alat komukasi kecil yang kupegang.
"Kau berisik tau, memangnya kau tak tahu ini masih pagi hahhh….!" Aku membentaknya tanpa tahu orang yang menelfonku.
"ini sudah jam 6.55 pagi tauuu, kau kira sekolah kita masuknya jam berapa? 5 menit lagi pelajaran akan di mulai dan aku sudah menunggumu disini selama 50 menit dan berapa banyak aku menelfonmu kau tak mengangkatnya. Kita hampir terlambat tau!" entah setan apa yang merasukinya sehingga ia mengomel begitu panjang.
"APPPPPPAAAAAA….!" Karin berteriak tak kalah keras. Ia melempar ponselnya ke ranjangnya dan bergegas ke kamar mandi.
10 menit kemudia dengan kecepatan mandi bebek ia sudah siap dengan seragam lengkap dan juga dandanan rambut yang masih terkuncir sebelah.
Ia berlari menuruni tangga dan tangannya sibuk merapikan dandanan rambutnya yang sebelah kiri. Ia membuka pintu dengan sigap dan dilihatnya cowok bermata kucing menatapnya dengan aura evil.
"Kaaauuuu… apa yang terjadi dengan tatanan rambutmu?" teriaknya marah.
Karin masih kebingungan dengan aktivitas menguncir rambutnya. Ia tak mendengarkan apa yang Jin katakana sebelumnya. Jin yang melihat Karin kerepotan mendekatinya dengan sigap. Tangannya menghentikan tangan Karin yang masih memegangi rambutnya.
"Sini biar aku yang rapikan." Pintanya. Entah kemana larinya amarahnya yang sudah memuncak tadi. Kini ia tersenyum rama dengan gadis di depannya.
"Ehhh…" Karin terkejut dengan tingkah cowok yang selalu menganggunya. Kini pelan tapi pasti ia menyingkirkan tangannya dari rambut coklatnya.
Jin menarik ikatan rambut Karin yang sudah rapi sebelumnya dan ia memposisikan jari-jarinya yang putih sebagai sisir dadakan. Tangannya yang lembut menyisiri setiap rambut Karin yang tak kalah lembutnya.
Aroma rambut khas shampoo cewek tercium oleh indra penciuman idola kaum hawa. Jin masih sibuk dengan rambut Karin, sedangkan sang pemilik rambut wajahnya memerah karena tingkah Jin.
"Selesai." Serunya. Karin menggarahkan tangannya untuk mengecek apa yang di lakukan Jin dengan rambutnya. Belum sempat ia memegang rambut coklatnya, Jin sudah menariknya.
"Kita sudah terlamabat." Wajahnya terlihat panik. Ia berlari dengan mengandeng tangan Karin. Jam kecil di tangan Jin menunjukkan pukul 7.25 menit dan jarak kesekolah masih jahu.
"Kenapa di saat seperti ini kau tak membawa mobilmu?" Tanya Karin frustasi.
"Huhhh ini salahmu karena kau bangun kesiangan." Ejeknya.
"Enak saja, lagian kenapa kau datang menjemputku, aku tak menyuruhmu menjemputku tau." Jawabnya acuh.
.
.
.
-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-
.
.
.
Jin dan Karin berlari beriringan. Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi mereka dengan tatapan sendu. "Kalian butuh tumpangan?" Kazune membuka kaca mobilnya dan menatap dua sosok orang yang dikenalnya. Karin terkejut dengan tawaran Kazune tapi taka da pilihan lain. Mereka sudah terlambah hampir setengah jam.
Dengan ragu-ragu ia menjawabnya. "Maaf merepotkan." Karin menunduk dan membuka pintu belakang mobil ferarry hitam Kazune. Jin masih terdiam dan menatap Kazune sinis.
"Cihh….Kalian duluan saja." Tolaknya.
"Apa yang kau katakana kita sudah terlambat tau." Karin menarik Jin masuk kedalam Mobil Kazune.
"A-apa yang kau lakukan Karin?" Jin menatap Karin kesal.
"Kazune bisa kita berangkat sekarang?" Kazune yang melihat ulah Jin dan Karin dari kaca dalam mobil mengangguk pelan.
Ia menjalankan mobilnya dengan cepat. Tak ada salah satu diatara mereka yang membuka pembicaraan hingga akhirnya mereka sampai . Kazune memarkir mobilnya di tempat yang kosong.
Karin dan Jin menuruni mobil diikuti oleh Kazune. Mereka bertiga mulai berlari memasuki jalanan sekolah yang mulai sepi. Mereka terus saja berlari. Jin berlari paling depan sedangkan Karin dan Kazune berlari beriringan.
Sesekali Kazune mencuri pandang kearah Karin. Karin yang tak sengaja menatapnya tersenyum simpul. Ia mengambil ponselnya dan di perlihatkannya sebuah benda yang sudah ia angap sebagai harta karunnya.
"Aku masih menunggu Kazune." Ia tersenyum dengan tulus kea rah Kazune. Kazune yang terkejut dengan tingkah Karin memalingkan wajahnya cuek.
Jin yang sudah berlari cukup jahu dari keduanya kini telah sampai di depan kelas. Di bukanya pintu kelas itu dengan pelan. Semua mata tertujuh padanya .
"Nah ini dia peran utamanya dating!" Mion menyambut Jin dengan kata-kata yang tak dimengerti oleh Jin.
Beberapa menit kemudian Kazune dan Karin sampai bersamaan. "Heeii ayo cepat masuk!" Karin mendorong Jin agar masuk kedalam kelas. Karena dorongan Karin, Jin kini berada di dalam kelas dan di belakangnya berdirilah Karin yang masih dengan posisi tangan yang menggarah kedepan dan Kazune yang tetap stay cool.
"Okey semuanya sudah lengkap." Teriak Mion bersemangat.
"Ehhh…" Karin yang merasa heran dengan kata-kata Mion hanya menatap ekspresi teman sekelasnya.
"Selamat.. Kalian bertiga berhasil menjadi pemenang untuk merayakan acara festival budaya." Teriak Michi bersemangat dengan diikuti tepuk tangan.
"Appaaaa…." Teriak Jin dan Karin bersamaan. Sedangkan Kazune hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Akan aku jelaskan." Sahut Mion.
"Ehheemm… " ia mulai meminta perhatian teman sekelasnya.
"Dalam acara festival budaya yang akan di adakan 1 minggu lagi kelas kita berencana menampilan "GRUP BAND". Setelah di pertimbangakan dan di musyawarakan kalian bertiga akan mewakili kelas kita. Kazune akan bermain Gitar dan Jin akan berduet dengan Karin. Kalian setuju kan?" Tanya Mion meminta persetujuan.
"Hahhh…."Teriak Karin.
"Aku setuju." Jawab Jin atusias. Kemudian ia melirik kearah Michi dan mengedipkan sebelah matanya.
"Maaf aku tak bisa." Tolak Kazune datar. Ia kemudian berjalan melewati Karin dan Jin. Tatapan matanya terasa dingin dan hambar.
"Apapun yang terjadi Kazune akan tampil dalam Festival budaya." Teriak Himeka. Ia berdiri dari bangkunya dan menatap lekat-lekat kearah kakaknya.
"Himeka." Panggil Kazune.
"Maaf aku tak bisa berjanji." Tatapan dingin itu lenyap seketika di gantikan senyuman hangat yang menawan.
Himeka membalas senyuman kakak laki-lakinya. Ia kembali duduk di kursinya dan Kazune mengikuti tingkah Himeka.
"Naahhh… sudah di sepakati. Kalian berjuanglah." Mion tertawa renyah.
Kazusa yang sedari tadi diam dan hanya memperhatikan keributan dikelasnya mengenggam erat kalung yang ia pakai.
.
.
.
- WAKTU ISTIRAHAT-
.
.
.
Kazune yang menatap langit dari atas atap sekolahnya menghela nafas pelan. "Huufffttt…" langit yang terlihat begitu dekat seakan-akan kau bisa menjadikannya sebuah kasur yang taka da duanya.
"Hihihi.." entah apa yang membuatnya tersenyum sendiri seperti itu. Ia mengulurkan tangannya menengadah ke langit biru nan lembut itu.
"Sedang apa Kazune?" Suara yang ia kenal memecah keasyikan yang ia rasakan.
Ia menurunkan tangannya dan meletakkannya di dekat tubuhnya. "Ada perlu apa?"
Karin mendekati Kazune yang masih menatap langit. Ia menaruh Gitar yang ia pinjam dari ruang musik untuk di pakai latihan. Kazune menatap Karin yang sekarang duduk di sampingnya dan gitar yang ia bawah, ia letakkan di antar Kazune dan dirinya.
"Kalau Kazune mau aku ingin latihan dengan Kazune." Ia tersenyum ramah.
"Apa kau sudah memutuskan lagu apa yang ingin kau nyanyikan dengan Jin?" kazune bangun dari tidurnya dan menatap Karin datar.
"Sudah. Nee .. Kazune apa kau mau mengiringi aku bernyanyi." Karin tersenyum polos. Kazune mengeryitkan dahinya dan menatap Karin malas. Karin yang mengerti ekspresi Kazune mengeluarkan puppy eyesnya.
"Ayolah ku mohon Kazune." Ia menyatukan kedua tangannya di depan dadanya dan menengada menatap Kazune yang lebih tinggi darinya.
"Aku.. Aku sudah lama tak pernah mengobrol seperti ini denganmu. Saat ku fikir kau telah meninggal karena kecelaan itu aku hanya bisa mengurung diriku dikamar." Wajah Karin terlihat sendu. Fikirannya memutar kaset kenangan masa lalunya.
Kazune yang mendengarkan hanya menatapnya lembut. "Saat Himeka datang membawakan surat itu kepadaku aku senang, bahkan sangat senang hehehe.." Karin tertawa renyah.
"Aku selalu membancanya saat aku bersedih, dan maafkan aku karena aku pernah berfikir kalau semua yang kulakukan dami Kazune semuanya hanya kebohongan belakang. Tapi beberapa minggu lalu saat Himeka mengatakan kau masih hidup rasanya aku bener-benar ingin, emm.." Karin mengelengkan kepalanya.
"Maksudku aku sangat ingin bertemu denganmu." Kristal bening nan asin sudah berada di ujung matanya.
Kazune berdiri dan mengambil gitar yang tergeletak di sampingnya. Ia memainkah gitar itu dan menyanyikan sebuah lagu.
Download aja dulu lagunya :D judulnya : The Sketchbook - Kioku
.
.
.
Boku no jikan ga sugite
kimi no kisetsu kawatte
itsuka otona ni natte
ima wo te hanashitatte
Melewati waktuku sendiri..
Musimmu pun telah berubah..
Suatu saat kita akan menjadi dewasa..
Dan 'masa kini' yang ada pun terpisah..
.
.
.
miru koto ya kiku koto ga
fukanou datoshitemo
omoidasu koto dake wa
itsudemo dare demo
sugu ni dekiru sa
Hal yang kita lihat dan kita dengar..
Meski pun itu tidak mungkin..
Hal yang teringat di saat itu..
Adalah seseorang yang selalu..
Melarikan diri dengan segera..
.
.
.
mou aenakutemo
koe ga kikoenakutemo
kimi no sugata wa itsudemo
KIWOKU no naka de wa
itsumo waratteiru yo
jibun no naka ni ima ga aru kara
Meski kita tidak bertemu..
Dan aku tak dapat mendengar suaramu..
Bayangan dirimu akan selalu ada..
Dan didalam kenanganku..
Kamu selalu tersenyum..
Karena di dalam diriku 'masa kini' itu ada..
.
.
.
toki ga nagarete yukeba
keishiki kawatteiku yo
kisetsu utsuri kawareba
minna kawatte shimatte
Meski pun waktu berlalu..
Dan pemandangan pun akan berubah..
Meski jika musim berubah..
Maka semuanya pun akan berubah..
.
.
.
KIWOKU to iu SHISUTEMU no
BOTAN oshite miyou
ii koto ya iya na koto ya
wasureteita koto
omoidasu kara
Sistem yang dikenal sebagai kenangan..
Mari mencoba menekan tombolnya..
Karena hal yang kita sukai, hal yang kita benci..
Dan hal yang kita lupakan..
Akan kembali kita ingat..
.
.
.
kawatte shimatta
kako no takaramono demo
ano toki to onaji mama de
me ni mienakutemo
kotoba todokanakutemo
ima ga aru kara
Dan kini telah berubah..
Sesuatu yang berharga di masa lalu..
Rasanya sama seperti di saat itu..
Meski matamu tak dapat melihatnya..
Meski kata-kataku tak dapat menggapaimu..
Karena 'masa kini' itu ada..
.
.
.
hito wa benri ni dekiteiru kara
ima wo itsudemo kanjirareru kara
Karena manusia itu akan merasakan kenyamanan..
Dan karena aku dapat selalu merasakan 'masa kini'..
.
.
.
mou aenakutemo
koe ga kikoenakutemo
kimi no sugata wa itsudemo
KIWOKU no naka de wa
itsumo waratteiru kara
jibun no naka ni itsumo zutto kitto
omoidaseru ima ga aru kara
Meski kita tidak bertemu..
Dan aku tak dapat mendengar suaramu..
Bayangan dirimu akan selalu..
Ada dalam kenanganku..
Aku akan selalu tersenyum..
Karena pada diriku selalu dan pasti akan selalu..
'Masa kini' yang ku ingat itu ada..
.
.
.
Karin tertegun dengan dengan lagu yang di nyanyikan Kazune. Mungkin lagu itu jawaban atas pengakuannya. "Kazune juga merasakan hal yang sama." Pikirnya.
Plok plok plok….
Terdengar suara tepuk tangan yang mencengangkan. Kazune dan Karin reflek menoleh ke sosok suara itu. "Lagu yang sangat bagus." Ujarnya.
"Jin, Michi sedang apa kalian disini?" Tanya Karin heran.
"Tidak aku juga hanya ingin mengakui sesuatu kepadamu." Mata kucingnya menatap Kazune sinis.
"Sepertinya kau masih menyukai Karin, apa kau belum tau kalau Karin dan aku sudah berciuman." Ungkapnya santai.
Karin terbelalak dengan pengakuan Jin, sedangkan Kazune hanya diam tak bergeming.
"Oi Jin.." teriak Michi memperingati.
"Itu bukan urusanku." Setelah mengatakan hal singkat itu Kazune berjalan menuju pintu keluar.
"Kau keterlaluan." Karin menangis. Air matanya tumpa tak terkendali. Ia berlari menyusul Kazune yang sudah melangkah pergi.
"Cihh…" umpat Jin.
"Kalau begini Karin hanya akan semakin membencimu." Ujar Michi menepuk bahu Jin.
"Ku fikir juga begitu. Apa aku harus menyerah? Tapi aku mengingginkan dia berduet denganku."
"Kau bisa mencari gadis lain." Michi tersenyum.
.
.
.
-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-
.
.
.
"Kazune tunggu." Karin berteriak tanpa menghentikan larinya.
Kini keduanya berada di tangga menuju bangunan dalam sekolah. "Apa maumu?" ia menghentikan langkahnya.
"Maafkan aku." Karin berhenti berlari. Kepalanya menunduk. Air mata yang sedari tadi menetes kini semakin berkurang. Jarak keduanya hanya dipisahkan oleh beberapa anak tangga.
Kazune mendekati Karin dan kini ia berdiri tepat di depan Karin.
"Angkat kepalamu." Perintahnya. Karin hanya mengikuti perintah Kazune dengan senang hati.
Mata keduanya saling bertatapan. Tak seorang pun di antara mereka yang mau berpaling. Kazune meletakkan gitar yang ia dan menyenderkannya di tembok.
"Kenapa kau selalu menangis di depanku?" tangan lembut Kazune membelai lembut wajah Karin dan menhapus air mata sang gadis.
"Air mata tak cocok dengan gadis manis sepertimu." Kazune tersenyum lembut.
"Maafkan aku." Karin membalas tatapan Kazune.
"Cihh…" kazune berjalan menaiki tangga yang sama dengan Karin. Kini Kazune mengarahkan badan Karin ketembok di belakangnya. "Ka-Kazu-" belum sempat ia memanggil namanya bibir lembut Kazune mendarat di bibirnya.
Kazune memeganggi tangan Karin agar tak memberontak sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk memeganggi wajah Karin. "Emm…" entah apa yang ingin Karin katakana saat ciuman pertama dari Kazune berlangsung.
Saat mendengar hal itu Kazune semakin memperdalam ciumannya. Karin hanya bisa menutup matanya pasrah. Tangannya yang masih bebas ia arahkan ke punggung Kazune yang tertutup seragam sekolahnya. Ia mengenggam baju Kazune saat semakin lama ciuman Kazune membuatnya kehabisan nafas.
Beberapa detik kemudian Kazune melepaskan ciumannya dan menatap wajah Karin yang terlihat memerah karena kehabisan nafas.
"Kalau ada cowok lain yang berani menciummu aku akan memeberikan hukuman lebih dari ini." Ancamnya.
"Ehh…" Karin heran dengan titah Kazune.
"Apa benar kau berpacaran dengan dia?"
"Ehh… tidak aku tak berpacaran dengannya." Jawaban Karin membuat Kazune mengenggap erat tangan yang sedari tadi ia peganggi.
"Jangan bohong. Cowok bermata kucing itu bilang kau menginap di rumahnya."
"Eto.. itu memang benar. Maaf.." Karin mengalihkan pandangannya dari Kazune.
"Maaf sudah menciummu. Semoga bahagia dengannya." Kazune melepas gengamannya dan meraih berjalan mengambil gitarnya.
Ia berjalan meninggalkan Karin yang masih bersandar di dinding. Karin yang baru sadar Kazune meninggalkanya berlari menuruni tangga dan memeluk Kazune dari belakang.
"Aku menyukai Kazune." Pernyataan cinta itu keluar dengan sendirinya dari mulut Karin.
Kazune yang mendengarnya hanya bisa diam dan membisu.
.
.
.
Nah apa jawaban Kazune atas pernyataan cinta Karin ya?
Dan apakah Jin akan benar-benar menyerah untuk menjadikan Karin pasangan duetnya?
Lalu bagaimana juga dengan Festival budaya yang seminggu lagi di adakan, apakah masih akan menampilakan Jin, Kazune dan Karin setelah semua yang terjadi?
SEE YOU NEXT CHAPTER XP
.
.
.
Yuuhhhuu… ini hukaman untuk bebek karena gak nepatin janji kemarin gara-gara GALAU -,-
habis gi mana lagi, bebek putus sih (malah curhat)
Okey REVIEW yak bagi yang mau aja XP
By © BEBEK L DARK EVIL
.
.
.
R
E
V
I
E
W
.
.
.
