"KAZUNE, RAIN, AND MEMORIES"
.
.
.
Yuuhhhhuuuuu…. ^,^/ ketemu lagi dengan Bebek XP
Bebek habis liburand dan sibuk ngelamar kerja, jadi ya maaf ya updatenya lama lagi :D
Padahal bebek da bikin setengahnya dari chapter 8 tapi karena sibuk jadi terbengkalai deh -,-
WARNING :
Bagi yang gak suka baca fic dengan status
"Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc"
TOMBOL BACK MENUNGGU :D
SAYA TIDAK MENERIMA MASUKAN UNTUK Typo atau hal yang sudah saya peringatkan.
"karena sudah saya peringatkan anda sebelumnya" :p
Kalau ada yang berkomentar mengenai hal itu,
silakan BACA DENGAN TELITI sebelum membaca ceritanya :p
FINAL CHAPTER
Yoosshhh… chapter 8 adalah chapter terakhir
dan ada beberapa pertanyaan yang mau saya lontarkan untuk kalian
Jadi tolong nanti jawab di review ya :D
ARIGATOU
.
.
.
BALASAN REVIEW
Maaf balasnya super duper lama hahahaha :D
Np: Udah lanjut okey silakan baca chapter ini kalau penasaran ma jawaban Kazune XP
Dci: Hahaha udah :D
AfnyKazuRinChan : Makasih ya XP
Kirei-chan : sepp XP
ikamichamakarin : Hahaha iya sepp :D
KK LOVERS : Waduh kayak demo aja ni hehehe.. iya ni chapter terakhir.
Guest : Sepp
Yui : Iya makasih :D
Riri Itha Ithy : Hahaha maaf maaf silakan baca lanjutannya.
RevmeMaki : Okey Maki-chan :D
Makasih buat yang udah ngereview
.
.
.
"KAZUNE, RAIN, AND MEMORIES CHAPTER 8"
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Story : KAZUNE, RAIN, AND MEMORIES© Bebek L Dark Evil
Warning : TYPO(S) Bertebaran, Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc =_="
Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek Gaje ini ^^v
.
.
.
"FESTIVAL BUDAYA"
.
.
.
Alasan datangnya cinta
Untuk setiap orang
Pastilah berbeda-beda, tapi...
"Kazune, Hiks Hikss…" Karin terisak di punggung Kazune. "Akan kujelaskan semua." Dalam tangisnya ia bergumam.
"Karin." Kazune menunduk menatap ujung sepatunya. Karin semakin memeluknya erat.
"Kau bilang kau membaca suratku berulang-ulang, apa kau lupa dengan isi surat itu?" Kazune tersenyum samar-samar.
"Ehh…." Ia melepas pelukannya.
"Di dalam surat itu aku mengatakan kalau aku menyukaimu dan "KAZURIN" akan selalu bersama," ia mengantungkan kalimatnya. Matanya menatap mata gadis di depannya "Selamanya." Ia melanjutnya kalimatnya dan Karin terdiam beberapa saat.
Ia masih mencerna kata-kata Kazune dan saat ia tahu maksud kalimat itu tangis kebahagiaan mengalir begitu saja.
Kazune mengelurkan sebuah kalung dari balik bajunya. Karin terbelalak dengan apa yang ia lihat. Ia menutup mulutnya untuk meredang isakannya.
"Kazune Hiks Hikss…" ia masih menangis.
"Kau lihat kan, selama ini aku selalu memakai ini. Kalung KAZURIN ini dan kuharap kau juga memakainya." Kazune tersenyum.
"Aku-aku memakainya. Selalu." Ia menunjukkan kalung yang terpasang dilehernya.
"Di surat itu kubilang 'Ku berikan kalung "KAZURIN" ini kepadamu. Seandainya suatu hari nanti kita bertemu. Aku ingin kau menjadi milikku dan aku ingin hidup bersama denganmu. Kalau kau juga menyukaiku aku ingin kau memakai kalung ini.' Dan sekarang kau memakainya." Lagi-lagi ia tersenyum.
"Ka-kazune." Kazune menarik Karin dalam pelukannya.
"Aku ingat saat aku pertama kali bertemu denganmu dan memelukmu. Aku benar-benar tak mau melihat kau menjadi milik orang lain. Maafkan aku yang egois ini." Kazune mempererat pelukannya.
"Emm… tak apa." Karin membalas pelukan Kazune. Beberapa menit kemudian Kazune melepas pelukannya dan mengusap air mata Karin yang berlinangan.
"Apa kau tahu, alasanku membenci hujan." Tanyannya masih mengusap air mata Karin.
"Emm.. tidak." Jawabnya lirih.
"Karena saat kulihat hujan aku merasa saat itu kau sedang menangis. Aku tak suka saat kau menyembunyikan tangismu di kala hujan turun." Senyumnya berkembang semakin tulus.
"Aku berjanji tak akan menangis lagi." Karin mengukir senyum di wajahnya.
.
.
.
-KE ESOKAN PAGINYA-
.
.
.
"aku menyadari bahwa satu-satunya orang yang bisa mencintaiku
lebih dari diriku sendiri adalah kau..."
"Ohayou Kazune, Karin, Himeka." Sapa Mion.
"Ohayou mo Mion." Jawab Himeka dan Karin bersamaan.
"Nee Nee aku punya kabar gembira untuk kalian." Kata Himeka bersemangat.
"Apaa? Tanya Michi yang sedang menghapus papan tulis. Kemudian ia menghentikan aktivitasnya dan mendekati Mion.
"Kazune dan Karin berpacaran loh." Himeka tersenyum.
"Ehhh… benarkah?" Tanya Mion antusias.
"Sepertinya begitu." Michi memperhatikan kalung yang di pakai Kazune dan Karin.
"Aku kembali." Seru Jin dengan riang.
"Nee Jin-kun Karin dan Kazune telah berpacaran loh!" seru Mion senang. Jin terlihat murung. Kegembiraan yang ia pancarkan kini menghilang terhapus awan.
"Oh begitu. Selamat ya Karin, Kazune." Ia mengukir senyum yang di paksakan.
"Oh iya Mion aku minta maaf sebelumnya, karena saat Festival Budaya 4 hari lagi aku tak bisa hadir. Aku ada acara di salah satu stasiun televisi."
"Ehhh…. " Mion terlihat kecewa.
"Kazune, Karin tolong semangat untuk Festival budaya ya." Ia tersenyum dan berjalan meninggalkan kelas.
"Jin tunggu." Michi mengikutinya dari belakang. Kazusa yang berpapasan dengan Jin merasa heran dengan ekspresi Jin saat itu. Kazusa berhenti mematung saat Jin melewatinya. Tak jahu di belakangnya Michi berlari mengejarnya.
Jin menaiki anak tangga menuju atap sekolah. Jin menghela nafas panjang saat sampai di tempat tujuannya.
"Sepertinya taka da harapan lagi untukmu?" Michi mendekati Jin.
"Kau benar, tapi aku masih penasaran dengan gadis kecil di mimpiku yang mirip dengan Karin." Jin menengada menatap langit.
"Mungkin kau pernah bertemu Karin saat kau kecil." Michi bersandar di penghalang atap sekolah.
"Aku ingat sekarang." Michi menjentikkan jarinya sehingga menimbulkan nada sederhana.
"Hemm…" Jin menatap Michi heran.
"Saat kau SMP kau pernah berpacaran dengan seorang gadis, tapi kau memutuskannya gara-gara banyak anak cewek lain yang cemburu dengan hubunganmu sehingga dia menyakiti pacarmu." Michi memulai cerita masa lalu Jin.
"Kenapa aku tak ingat?"
"Mungkin karena setelah kau memutuskan gadis itu kau terjatuh dari tangga dan menyebabkan setengah dari ingatan berhargamu menghilang." Jelas Michi.
"Tapi kenapa Karin tak mengigatku sama sekali?"
"Itu karena wajahmu yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Dulu kau masih polos dengan poni yang panjang yang menutupi matamu dank au yang selalu membawa makanan kemana-mana, dan yang terpenting karena Kazune telah mengisi banyak kenangan dan harapan di otak Karin." Michi berjalan melewati Jin.
"Sepertinya kau ingin sendiri dulu, aku akan ke kelas dulu." Ia kini melangkah melewati pintu besi nan besar itu dan menuruni tangga.
Kazusa bersembunyi di bawah anak tangga dan ia bergegas menaiki tangga itu saat Michi telah berlalu.
Langkah kecil dari kakinya melangkah ragu-ragu untuk menaiki setiap anak tangga. Tapi hatinya menuntunnya untuk bertemu dengan Jin. Bertemu dengan orang yang selalu ia perhatikan selama ini. Orang yang telah mencuru hatinya.
Orang yang telah memberikannya sebuah kalung sebagai ucapan terima kasih dan juga orang ia lihat selalu berusaha mendapatkan Karin, teman sekelasnya.
Entah apa yang saat ini ia fikirkan. Kakinya telah berhasil membawanya sampai di atap gedung sekolahnya yang mewah. Dilihatnya orang yang ingin ia temuinya tertidur pulas menatap langit. Matanya terpejam begitu lembut.
Rambut hitamnya bergerak tertiup angin. Kazusa melangkah mendekati Jin. Entah apa yang ingin ia lekukan. ia jongkok di samping badan Jin dan tangannya yang nakal berusaha untuk membelai rambut sang idola kaum hawa itu.
.
.
.
-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-
.
.
.
Jantung Kazusa berdegup semakin cepat saat jari-jari lentiknya akan menyentuh pucuk rambut Jin. "Apa yang kau lakukan?" Jin menatap Kazusa miris dan tangannya memegangi pegelangan tangan putih Kazusa.
"Ma-maa-maafkan aku Jin-kun." Kazusa menunduk tak berani menatap mata Jin.
"Ah maaf ku pikir kau orang lain. Maafkan aku." Jin melepas pegangannya.
"Jin-kun tak bersalah, harusnya aku yang minta maaf." Kazusa masih menunduk.
"Ada perlu apa?" Jin kini duduk menghadap Kazusa yang berjongkok di depannya.
"Aku hanya penasaran kenapa Jin-kun tadi terlihat begitu kacau, apa kau punya masalah Jin-kun?" tanyannya lembut.
"Ku fikir itu bukan urusanmu." Jawabnya sinis.
"Ah, yahh benar. Maafkan aku." Kazusa berdiri dan mendekati dinding pembatas atap. Jin hanya memperhatikan tingkah gadis itu dan menyelidiki setiap gerakannya.
"Hei kau kau Kazusa kan?" Jin beranjak dari posisinya dan mendekati Kazusa.
"I-iya.. " jawabnya gugup.
"Apa kau mau ku antar pulang nanti?" Jin menatap mata gadis di depannya lekat-lekat.
"Eh..etoo.. apa tak merepotkan Jin-kun?" tanyanya ragu.
"Panggil aku Jin. Aku tak merasa kau merepotkanku." Ia tersenyum sebelum akhirnya ia terjatuh kepelukan Kazusa.
"Ji-jinn… kenapa denganmu?" Kazusa terlihat panik. Ia kini terduduk lemas dan bersandar di diding penghalang.
Jin tertidur pulas di pangkuan Kazusa. Nafasnya terdengar sangat lembut dan rambutnya bergoyang mengikuti arah angina. Kazusa yang tadinya panik kini tersenyum.
"Oyasumi Jin." Kazusa menundukkan kepalanya dan mencium dahi Jin yang tertutupi rambut hitam legatnya dengan lembut.
.
.
.
-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-
.
.
.
Matahari senja Nampak samar dan indah. Awan merah jambu menutupi sedikit kelembutan sinaranya. Burung-burung berkicau dan dedaunan menari mengitari angkasa.
Kazusa yang menyenderkan kepalanya ke tembok membuka matanya pelan. Wajahnya yang damai menengada menatap langit senja.
"Senang melihatmu." Sosok di pangkuannya tersenyum jail. Tangannya membelai lembut pipi Kazusa. Sontak wajah Kazusa memerah bak kepiting rebus.
"Kau tertidur pula sekali aku tak tega membangunkanmu hehehe…" Jin menjahukan tangannya dan nagun dari posisinya.
"Ayo kita pulang." Ajaknya. Ia mengarahkan tangannya kepada Kazusa yang masih bersandar. Kazusa silih berganti menatap wajah Jin dan tangan yang terulur di depannya.
Ia mengapai tangan Jin dan dengan sangat hati-hati tapi sedikit bertenaga Jin menariknya. Ia mengandenga tangan Kazusa dan berjalan beriringan menuruni tangga.
Kazusa yang merasa heran dengan tingkah Jin hanya pasrah saja walau wajahnya memerah dibuatnya. Mereka berjalan melewati gerbang sekolah nan megah itu. Mereka terus melangkah tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Kazusa tersenyum saat mereka berdua berjalan melewati taman. Sesekali Jin menatap Kazusa dan ia ikut tersenyum saat Kazusa tersenyum.
Senja yang semakin menghilang di gantikan ribuan bintang menemani langkah kaki mereka. Jin menghentikan langkahnya. Kazusa menatap Jin tapi belum sempat ia melakukan hal itu Jin menarik Kazusa dalam pelukannya.
Di lepasnya pelukan singkat itu dan di gengamannya tangan Kazusa semakin erat. Jin menatap wajah Kazusa dengan tatapan damai. Di raihnya dagu Kazusa dan ia arahnya untuk menatap matanya.
Kazusa yang merasa aneh dengan tingkah Jin menutup matanya. Ia tak sanggup menatap mata Jin yang begitu dekat. Walau ia menutup matanya deruh nafas Jin yang hangat membuatnya yakin Jin kini semakin dekat dengan wajahnya.
Di rasakannya bibir lembut Jin mendarat dengan lembut di bibir merah Kazusa. Kazusa mempererat pegangan tangannya begitu pula dengan Jin.
Ciuman pertama Kazusa hanya terjadi beberapa detik saja tapi itu mampu membuat Kazusa memerah padam.
Jin merasa jantungnya berdegup semakin cepat dan tak bisa di hentikan. Ia menatap mata Kazusa lekat-lekat.
"Walau kau bukan ciuman pertamaku, tapi ku harap kau menjadi ciuman terakhirku." Jin tersenyum simpul. Kazusa membalasnya dengan senyuman tulus.
"Aku menyukai Jin." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Kazusa. Ia yang menyadarinya menutup mulutnya dengan tangannya yang masih bebas.
Jin menatapnya dan tersenyum. "Aku juga, kau berhasil mencuri hatiku." Ia berbisik tepat di telinga Kazusa.
.
.
.
-FESTIVAL SEKOLAH DIMULAI-
.
.
.
Semua mata tertuju pada panggung yang kini menjadi pusat perhatian. Kazune dan Karin tampil di pangung dengan memakai kostum yang menarik. Kazune memainkan gitarnya dengan merdunya dan Karin telah siap menyanyikan sebuah lagu untuk penonton.
Kazusa, Jin, Michi, Himeka dan Mion berdiri di belakang pangung untuk menyemangati Kazune dan Karin.
"Jreennnggg…." Kazune mengets gitarnya dan memberi isyarat 'siap' kepada Karin. Karin menunduk tanda mengerti.
Download aja dulu lagunya XP : Lisa – Ichiban no Takaramono
.
.
.
Ichiban no Takaramono
=== Hartaku yang paling berharga ===
.
.
.
Kao wo awashitara kenka shite bakari
Sore mo ii omoide datta
― Kita saling berhadapan dan kita harus bertempur
― Tapi itu juga kenangan yang indah
.
.
.
Kimi ga oshiete kuretan da Mou kowaku nai
Donna fujiyuu demo shiawase wa tsukameru Dakara
― Kau mengajarkanku banyak hal, aku tak takut lagi
― Tak peduli betapa sulitnya aku bisa meraih kebahagiaan, jadi…
.
.
.
Hitori demo yuku yo Tatoe tsurakute mo
Kimi to mita yume wa Kanarazu motteku yo
Kimi to ga yokatta Hoka no dare mo demo nai
Demo mezameta asa Kimi wa inain da ne
― Aku akan pergi sendiri, bahkan jika itu terlihat menyakitkan
― Aku akan selalu memiliki mimpiku bersamamu
― Bersama denganmu begitu indah, tak ada orang lain
― Tapi ketika aku bangun di pagi hari, kau tak ada di sana
.
.
.
Zutto asondereru Sonna ki ga shiteta
Ki ga shite ita dake Wakatteru
Umarete kita koto mou koukai wa shinai
Matsuri no ato mitai Sabishii kedo sorosoro ikou
― Aku merasa bahwa kita bisa bermain selamanya
― Tapi aku tahu itulah apa yang kupercaya
― Aku tak menyesal aku dilahirkan lagi
― Seperti perasaan setelah festival, ini menyedihkan tapi mari kita pergi
.
.
.
Doko made mo yuku yo Koko de shitta koto
Shiawase to iu yume wo kanaete miseru yo
Kimi to hanarete mo Donna ni tooku natte mo
Atarashii asa ni Atashi wa ikiru yo
― Aku akan pergi kemanapun, kau tahu itu
― Aku akan menunjukkan kepadamu bahwa aku bisa memenuhi impian kebahagiaanmu
― Bahkan tak peduli seberapa jauh kita terpisah
― Aku akan lahir dengan pagi yang baru
.
.
.
Hitori demo yuku yo Shinitaku natte mo
Koe ga kikoeru yo Shinde wa ikenai to
Tatoe tsurakute mo Sabishisa ni naite mo
Kokoro no oku ni wa Nukumori wo kanjiru yo
― Aku akan pergi sendiri, bahkan jika aku ingin mati
― Jika aku bisa mendengar suaramu, aku tak harus mati
― Bahkan jika terlihat menyakitkan, bahkan jika aku menangis dalam kesepian
― Aku merasakan kehangatanmu jauh di dalam hatiku
.
.
.
Megutte nagarete Toki wa utsuroida
Mou nani ga atta ka Omoidasenai kedo
Me wo tojite mireba Dare ka no waraigoe
Naze ka sore ga ima ichiban no takaramono
― Waktu terus berubah ketika surut dan mengalir
― Aku tak ingat apa yang terjadi lagi tapi,
― Jika aku menutup mataku, aku bisa mendengar tawa seseorang
― Untuk beberapa alasan saat itu adalah hartaku yang paling berharga
.
.
.
Semua orang bertepuk tangan bahkan tak jarang di antara mereka yang menitikkan air matanya. Kazune dan Karin menundukkan kepala dan undur diri.
Mereka berjalan ke kebelakang panggung. Saat mereka sampai Jin naik keatas pangung dan menyapa para penonton. Tak lupa ia mengambil mic yang berada di depannya.
"Yooo… aku akan membawakan sebuah lagu. Lagu ini khusus untuk seseorang yang aku sayangi." Ia tersenyum jail dan menatap kearah belakang pangung.
"Bukankah Jin ada acara hari ini?" Tanya Mion heran.
"Hahaha dia membatalkannya." Jawab Michi santai.
Semua kaum hawa berteriak tak karuan saat Jin mulai menyanyi.
Penyanyi dan judul lagunya : Tegomass – Kiss ~Kaerimichi no Love Song~
.
.
.
Futarikiri no kouen kaerimichi no shiteiseki
Itsumo yori hashaideru kimi wo mitsume kiitemita
— Berdua berjalan melewati taman di jalan kecil pulang ke rumah.
— Melihatmu yang terlihat lebih bahagia dari sebelumnya, aku bertanya
.
.
.
"Moshimo ashita sekai ga naku nattara dou suru?"
Kimi wa nani mo iwazu ni boku no ude wo gyutto shita ne
— "Apa yang akan kau lakukan jika esok dunia menghilang?"
— Kau tidak mengatakan apapun, hanya menggenggam erat tanganku
.
.
.
Nee kocchi wo muiteite
Kuchibiru ga chikasugite doki doki tomaranai
— Hey, hey, lihat ini
— Kita berciuman, Jantungku tak bisa berhenti berdegup kencang
.
.
.
Donna kimi mo donna toki mo uketomeru kara
Moshimo kokoro ga kizutsuite namida koboreru toki wa
Sekaijuu wo teki ni shitemo kimi wo mamoru yo
I LOVE YOU Kotoba wa iranai yo
Kimi ga saigo no kissu itsumademo
— Apapun dirimu, kapanpun waktunya, ku kan selalu menggenggammu, jadi
— Jika hatimu terluka dan air mata jatuh,
— Bahkan jika seluruh dunia menjadi musuh, ku kan melindungimu.
— Aku mencintaimu, kata-kata yang tak perlu.
— Kau adalah ciuman terakhirku selamanya
.
.
.
Itsumo no wakare michi de nanimo dekinai
Wakatteru
Hoppeta fukuramasete te wo hanashite "Moo iku ne"
— Di jalan dimana kita selalu ucapkan selamat tinggal, tak ada yang bisa kulakukan
— Aku tahu.
— Kau kembungkan pipimu, melepaskan tanganku dan berkata "aku akan pergi sekarang"
.
.
.
Nee kocchi wo muiteite
Kuchibiru ni chikazuite doki doki tomaranai
— Hey, hey, lihat aku.
— Kita berciuman, Jantungku tak bisa berhenti berdegup kencang
.
.
.
Konna boku mo kimi ga ireba tsuyoku nareru yo
Koi wa fushigi na mahou da ne nanimo kowakunai kara
Sekaijuu wo teki ni shitemo hanashi wa shinai
STAND BY ME dareka ja dame nanda
Kimi ni zutto soba ni ite hoshii
— Saat ku bisa menjadi kuat jika kau bersamaku
— Cinta adalah sihir yang menakjubkan bukan? Aku tak takut apapun
— Bahkan jika seluruh dunia menjadi musuh, ku tak kan biarkan dirimu pergi.
— Tetap bersamaku, siapapun tak kan bisa.
— Ku ingin tetap bersamamu selamanya.
.
.
.
Aa mujaki na sugao no mama kimi wa iu
"Nee, obaachan ni nattemo kisu shite kureru no?"
Nee sono toki ni wa boku datte onaji da yo
Tsunaida te hanashi wa shinai kara
— Ah~ dengan wajah tak berdosa kau bilang:
— "Hey, jika aku menjadi nenek-nenek, apa kau masih akan menciumku?"
— Hey, ketika waktu itu tiba, itu sama saja bagiku
— Ku kan tetap menggenggam tanganmu dan tak kan biarkan pergi
.
.
.
Donna kimi mo donna toki mo uketomeru kara
Moshimo kokoro ga kizutsuite namida koboreru toki wa
Sekaijuu wo teki ni shitemo kimi wo mamoru yo
I LOVE YOU kotoba wa iranai yo
Kimi ga saigo no kissu itsumademo
— Apapun dirimu, kapanpun waktunya, ku kan selalu menggenggammu, jadi
— Jika hatimu terluka dan air mata jatuh,
— Bahkan jika seluruh dunia menjadi musuh, ku kan melindungimu.
— Aku mencintaimu, kata-kata yang tak perlu.
— Kau adalah ciuman terakhirku selamanya
.
.
.
Tepuk tangan yang meriah di dapatkan Jin. Penampilannya yang aktrktif dan lagunya yang 'so sweet' membuat kaum hawa yang mendengarnya bagaikan hujani ribuan panah cinta.
Setelah penampilan Jin panitia festival budaya mengumumkan pemenangnya.
"Dan pemenangnya adalah.. Kazune dan Karin…. Silakan naik keatas pangung." Serunya.
"Woooaaaahhh kita menang." Mion berteriak kegirangan.
"Tapi masih ada lagi pemenang yang lain yanitu Jin silakan naik ke atas pangung." Saat namanya di sebut Jin mengandeng tangan Kazusa dan menariknya ke atas pangung juga.
"Karena kalian memenangkan hadiah pertama silakan lakukan hal romantic di depan penonton." Teriak sang MC.
Kazune menatap Karin lekat-lekat dan mencium dahi Karin singkat sedangkan Jin mengendong Kazusa di depan badannya dan Kazusa mencium pipi Jin.
Semua orang bertepuk tangan dan hal yang kini kita rasa menyenangkan hanya bisa kita nikmati sepenuhnya saat ini. Karena itu, hargailah setiap momen indah dan waktu saat ini.
.
.
.
THE END :D
Yoosshhh… sekarang silakan jawab pertanyaan dari Bebek XP
Makasih buat yang udah ngikutin ampek akhir dan juga bagi yang sudah baca makasih ya :D
Apa kalian suka saat aku memasukkan lagu kedalam ceritaku?
Bebek rasa alurnya terlalu cepat x.x maaf ya XP
By © BEBEK L DARK EVIL
.
.
.
R
E
V
I
E
W
.
.
.
