"Kak... ap... gun. Bangun, Kak!"

Suara lantang seseorang menarik kesadaran tamu keluarga Lee dari alam mimpinya.

"Akhirnya kau bangun juga," ucap suami Minho yang tengah menggendong bayi laki-laki berusia sepuluh bulan. Ia dan bayinya memakai busana bernuansa gelap, sudah siap untuk berangkat ke rumah duka. "Cepatlah bersiap-siap, aku dan baby Jiho tunggu di bawah." Ia kemudian turun menuju dapur, tak menanti jawaban lawan bicaranya.

Sinar matahari pagi menyilaukan matanya. Changbin tak dapat melanjutkan tidurnya barang semenit saja. Ia menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang, mengumpulkan nyawanya sekaligus merenungkan sosok hantu Felix. Changbin meyakini orang sebaik Felix tidak mungkin bergentayangan menghantuinya, mana mungkin kekasihnya itu mempunyai penyesalan dalam hidupnya. Peristiwa kemarin malam pasti halusinasi, efek keterpurukannya yang mengharapkan penyesalan Felix karena ia pergi tanpa mengajarkan caranya merelakan.

"Kak Changbin! Buruan."

Mendengar teriakan kakak ipar Felix dari lantai bawah, Changbin bergegas membersihkan dirinya, mengganti pakaiannya dengan satu set baju yang telah disediakan oleh tuan rumah.

Lima belas menit berselang, ia memasuki dapur yang terletak di bagian belakang rumah. Matanya tertuju pada dua balita asing yang sedang menyantap french toast di meja makan berbentuk bundar. "Jisung. Kalian adopsi lebih dari satu anak?"

"Engga, Kak. Kita cuma adopsi baby Jiho kok." Jisung menyuapkan sesendok bubur biskuit ke mulut bayi yang dimaksudnya. "Ah. Kau penasaran dengan mereka? Dua anak ini mirip our tiny chick, bukan?"

Changbin dan kedua anak berambut kuning lemon tersebut saling memandangi satu sama lain lekat-lekat. Struktur muka dua anak tersebut mirip seperti Felix semasa kecilnya. Adapun perbedaan mereka hanya di sorot matanya, satu bersorot mata tajam, satunya lagi bersorot mata teduh, bagaikan versi mini kekasihnya.

"Paman Jisung, Paman ini siapanya daddy?" tanya anak bermata teduh.

"Papamu," beber Jisung. "Junior, Yongbok, perkenalkan diri kalian ke Papa Bin," imbuhnya.

"Apa Paman bernama Seo Changbin?" Anak yang memiliki sorot mata tajam memastikan identitas pria di seberang mejanya.

Changbin spontan menganggukkan kepalanya sekali.

"Papa!" Anak bermata teduh berlari ke tempat Changbin, memeluk kaki 'papanya'. "Daddy sering cerita soal Papa."

"Aku Lee Yongbok, adik kembar Junior." Anak bersorot mata tajam memperkenalkan dirinya duluan.

"Namaku Lee Felix Juniol. Umul empat tahun," tutur anak bermata teduh, tetap memeluk kaki 'papanya'.

Changbin memahami situasinya, namun ia bersikeras menolak fakta yang terpampang nyata di hadapannya. Ia menanyakan identitas dua balita tersebut, berharap prasangka buruknya tentang Felix meleset, "... mereka ini anak siapa?"

"Mereka buah hatinya Felix," sahut Jisung, merobohkan tembok kepercayaan Changbin terhadap sang kekasih.

Kedua kalinya Changbin mematung lantaran dikecewakan dengan berita mendiang kekasihnya. Sama halnya seperti Jisung, Felix tidak mempunyai rahim, ia tak'kan bisa mengandung apalagi melahirkan anak.

"Papa?"

Amarah Changbin memuncak saat manik hitamnya bertemu pandang dengan iris biru Junior. Ia melepaskan pelukan versi mini Felix secara kasar. "Aku bukan papamu."

Tindakan Changbin otomatis menggerakkan kaki Jisung ke arah Junior, "Kak. Jangan lampiaskan emosimu pada mereka. Mereka hanya anak-anak!"

Bagaimanapun juga, Jisung berempati pada Changbin. Jika Jisung berada di posisinya, emosinya pun pasti meluap-luap, bahkan melebihi amarah Changbin. Tetapi, ia tak akan pernah melampiaskan kemarahannya pada anak-anak!

Menyetujui perkataan Jisung, Changbin melangkahkan kakinya keluar dari ruangan sebelum ia kehilangan kontrol atas emosinya.

"Papa mau menemui daddy, kan?" Langkahnya tertahan oleh tangan mungil 'anaknya'. "Juniol mau ikut."

"Junior." Digendongnya Junior menjauhi 'papanya'. Jisung khawatir Changbin lepas kendali dan tak sengaja melukai 'anaknya'.

Tatapan polos Junior menyentil nalar Changbin akan keadaan mereka semua yang sama-sama kehilangan orang tercinta. Ia kehilangan kekasihnya, dua balita itu kehilangan daddy-nya.

Mengesampingkan egonya, Changbin menghembuskan napas berat. "... kau tahu apa yang terjadi pada daddy-mu?"

"Emh. Paman Minho bilang, daddy lagi bobo panjang kayak di dongeng Putli Salju."

Changbin mengerti maksud Minho. Terlalu dini bagi anak seusia mereka untuk mengetahui kabar kepergian daddy-nya. Ia melirik Jisung, menuntut penjelasan bagaimana ceritanya anak-anak ini terlahir ke dunia.

Peka terhadap lirikan Changbin, Jisung menurunkan Junior dari gendongannya. "Junior, Yongbok. Kalian main di kamar dulu ya. Paman mau bicara berdua sama Papa Bin."

"Baik, Paman." Junior menuruti perintah pamannya, ia menarik tangan Yongbok ke kamar mereka, "Bokkie, ayo main bum bum di kamal baleng Juniol."

Selepas memastikan kedua balita itu telah menaiki tangga ke lantai atas, Jisung memulai pembicaraan, "Kak Changbin. Honestly, aku dan Minho juga kebingungan. Tiba-tiba rekan kerja Felix datang ke rumah membawa sebuah peti mati beserta dua orang anak kecil. Berdasarkan uraian beliau, risiko pekerjaanlah yang merenggut nyawa Felix, ia tewas dalam penyamarannya di markas teroris."

Kematian Felix disebabkan oleh profesi terkutuk berkedok cita-cita seumur hidupnya. Walau penyebab kematian Felix sesuai dengan dugaannya, sesak di dada Changbin sedikit pun tidak mereda, justru semakin tertumpuk di sana.

"Minho ada menanyakan siapa ibu kandung anak-anak itu. Sayangnya, rekan kerja Felix mengunci bibirnya rapat-rapat. Lebih baik tak usah tahu apabila keluarga Anda ingin selamat, seingatku begitu kata beliau. Detailnya, kau tanyakan saja pada Minho nanti." Jisung berjeda, memperhatikan reaksi Changbin sejenak. "Dua anak itu menganggapmu sebagai ayah biologis mereka. Cobalah untuk menganggap harta peninggalan Felix sebagai buah hatimu, Kak."

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia menganggap anak hasil perselingkuhan sebagai darah dagingnya? Hamba Tuhan sebaik apa yang dapat melakukannya? Changbin bertanya-tanya ke hati nuraninya sendiri.

"Jisung... aku tidak bisa menganggap mereka sebagai anakku. Kehadiran mereka menandakan bahwa Felix- Felix- " Amarahnya kembali memuncak, Changbin merunduk, berusaha mengendalikan emosinya. "... ia telah menghianati kepercayaanku..."

"I know, i know how you feel." Jisung menepuk-nepuk bahu Changbin, menunjukkan simpatinya. "Aku dan Minho akan menjelaskan kebenarannya pada si kembar pelan-pelan. Perlakukanlah mereka berdua selayaknya anakmu sendiri. Paling tidak, sampai masa berkabung kita berakhir."

Changbin memikirkan anjuran Jisung dalam-dalam. Anak-anak itu tidak punya kuasa untuk menentukan takdir kelahiran mereka. Junior dan Yongbok tidak memilih Felix sebagai daddy-nya, tidak memilih Changbin sebagai papanya. Tuhan lah yang menitipkan mereka kepada Felix dan kini keduanya dititipkan kepada Changbin.

"... alright. Akan kucoba, tapi aku tak bisa menjaminnya."


"Di sini Kak, tempatnya."

Mengikuti arahan Jisung, Changbin memarkirkan mobilnya di halaman depan gedung berdinding putih. Sambil menggendong Jiho menggunakan hipseat, Jisung menggandeng tangan keponakannya, membimbing mereka ke bilik Felix.

Setibanya mereka di bilik tempat jenazah Felix disemayamkan, Junior mengekori Changbin, mendekati peti mati kekasihnya, sedangkan Yongbok mengekori Jisung, menghampiri suaminya yang berjaga di rumah duka sejak semalam.

"By. Mau gantian? Malam ini aku yang jagain Felix."

"Tak perlu. Aku masih kuat menjaga Felix sampai ia dimakamkan besok pagi."

"Dimakamkan itu artinya apa, Paman?" Yongbok memegang lutut Minho, mengambil atensi pamannya.

"Dibaringkan di tempat yang layak selagi menunggu kedatangan pangerannya." Minho menjabarkan sekenanya.

"Kedatangan pangeran..." Penjabaran pamannya mengarahkan pandangan Yongbok ke peti mati daddy-nya.

Rangkaian bunga putih mengelilingi peti mati yang sudah ditutup itu. Bingkai foto hitam diletakkan di atasnya, foto Felix dengan senyuman penyejuk jiwa khasnya.

Tak ada pelayat di luar keluarga inti mereka. Memang sengaja digelar secara privat dan disegerakan pemakamannya guna menggenapi pesan Felix sebagaimana disampaikan oleh rekan kerjanya.

"Paman Minho," panggil Junior seraya berlari kecil ke kursi pamannya. "Daddy kapan bangunnya?"

"Buat membangunkan daddy-mu, dibutuhkan kecupan seorang Pangeran."

Secercah harapan tersemat di wajah Junior, ia lantas berjalan cepat ke sisi Changbin. "Papa! Kecupan Papa bisa membangunkan daddy!"

"Tak semudah itu, Junior sayang." Minho beranjak dari kursinya, turut berdiri bersama ayah dan anak di dekat peti mati. "Papamu tidak memenuhi kualifikasi menjadi seorang pangeran. Kecupannya belum ampuh untuk membangunkan daddy-mu."

"Kenapa belum ampuh?"

"Dalam dongeng Putri Salju, Pangeran berkelana ke sana kemari, mencari-cari keberadaan sang Putri. Perjuangannya itulah yang memberikan kekuatan pada kecupannya, sehingga kecupannya ampuh membangunkan Putri Salju dari bobo panjangnya."

"Kalau begitu, kapan kecupan Papa ampuh membangunkan daddy?"

"Itu..." Diliriknya Changbin yang sedaritadi bergeming, tak menghiraukan karangan Minho. "Tergantung perjuangan Papamu. Yang pasti, bakal memakan waktu sangat lama. Apakah Junior bersedia menunggunya?"

"Juniol belsedia menunggu daddy bangun belkat kecupan Papa!"

Ungkapan antusias Junior dihadiahi sebuah belaian rambut dari sang paman.

"Ho." Changbin menatap lurus ke arah foto Felix. "Felix dikuburkan jam berapa?"

"Besok pagi jam sepuluh."

Tanpa menimpali ucapan Minho, Changbin melanjutkan percakapan sepihaknya dengan Felix dalam benaknya. Sementara itu, Minho menceritakan dongeng lainnya untuk kakak kembar. Dan, Jisung mengajak adik kembar bermain bersama bayinya. Mereka menjalani kesibukannya masing-masing hingga waktu melukiskan warna jingganya di langit.


Bruk. Changbin menghempaskan tubuh letihnya ke kasur empuk Felix sehabis merendamkannya di bak mandi berisi air hangat.

Satu hari yang melelahkan berhasil ia lewati tanpa kendala. Ia menyelimuti sekujur tubuhnya, mencoba menidurkan dirinya. Percobaan yang sia-sia. Beberapa pertanyaan terus tergiang-giang di kepalanya, terlebih soal motif Felix yang menamai kedua anaknya dengan nama lahirnya. Changbin sungguh tak habis pikir.

Mendadak Changbin teringat pada pertemuan pertama mereka. Ia bertemu Felix di taman kampus, sepulang dari kelas malamnya. Felix merupakan keturunan Korea yang lahir dan menetap di Sydney. Yongbok adalah nama Koreanya. Changbin sendiri merupakan orang Korea Selatan murni yang meneruskan studi perguruan tingginya di Sydney.

Mulanya, Changbin berencana balik ke kampung halaman sesudah ia menyelesaikan studinya tersebut. Pertemuan mereka mengubah rencananya. Terbutakan cinta, Changbin sempat mendiamkan orang tuanya demi diizinkan menetap di Australia. Akan tetapi, Felix menerima tawaran pekerjaan sebagai agen polisi di negeri Paman Sam, tak mempertimbangkan pengorbanannya.

"Changbin."

Hantu Felix menampakkan diri di lokasi yang sama percis seperti kemarin. Changbin melihat malas sosok itu.

Apakah ini halusinasi? Apakah ini realita? Ia merasa kewarasannya telah terkuras setengahnya.

"Enyah kau. Aku tak ada tenaga meladeni halusinasi ini."

"Bin. Aku bukan halusinasimu. Ini Felix asli."

Changbin menegakkan punggungnya, mencubit kuat pahanya. "Aah," erangnya.

Ia merasakan kengerian cubitan mautnya, artinya ia tidak berhalusinasi. "Felix...!"

Diutarakannya pertanyaan yang paling ia inginkan jawabannya, "Dua anak itu, apa mereka benar-benar anakmu?"

"Yeah..." Felix mengalihkan pandangannya ke koleksi kaset game-nya. "Junior dan Yongbok, dua-duanya buah hatiku..."

Kraaak. Kali ini, seluruh pikiran positifnya tentang Felix hancur, mengukirkan luka kekal di hatinya.

"Keh." Otot-otot muka Changbin mengencang, meriaskan sejumlah kerutan di wajahnya. "Jadi ini yang kudapatkan? Aku mendukung cita-citamu, memaklumi keputusanmu merantau ke USA. Aku mengabulkan keinginanmu untuk tidak menyusulmu ke sana. Aku tak mempermasalahkan sikapmu yang tak kunjung mengirim ataupun membalas surat-suratku. Selama bertahun-tahun, aku tetap setia menantimu meski kau tak menjelaskan apa pun padaku. Tapi, kau- kau malah berselingkuh di belakangku!?"

"Maaf. Maafkan aku. Mari kita teruskan pembicaraan ini ketika kau siap untuk mendiskusikannya."

"Felix! Aku belum selesai bicara-"

Alunan musik terdengar tak lama setelah Felix lenyap dilahap pusaran angin, menghilangkan kesadaran Changbin sekali lagi.

-TBC-