—Within Your Heart—
Sekuel "Alones"
Author: Rin
Chapter: 2/2
Disclaimer: All casts is belong to themselves.
Rated: T
Pair: KyuSung (Kyuhyun – Yesung), slight KyuSeo, HaeHyuk.
.
Warning: AU, Shonen-ai/BL, OOC, Crack Pair, ._. Sedikit SuGen, tapi bukan berarti saya SuGen Shipper. :p
.
Genre: Romance – Hurt/Comfort
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Kyuhyun melangkahkan kakinya pelan—menyusuri koridor rumahnya. Dalam benaknya hanya terbayang apa yang bisa—dan harus—ia lakukan. Membawa Jongwoon pergi tidak semudah apa yang ia katakana—atau pikirkan.
Ini rumit. Terutama dengan keadaan dirinya yang sekarang. Tidak mungkin membatalkan pernikahan begitu saja. Ada banyak orang yang akan terkena masalah besar kalau ia benar-benar melakukan itu. Terutama ia—dan Jongwoon kalau sampai orang-orang tahu apa alasan ia sangat ingin membatalkan pernikahannya.
Kecuali...
Kecuali kalau ia melakukan sesuatu yang bisa dengan terpaksa membatalkan pernikahannya dengan Seohyun, tanpa bisa dibantah atau dipaksa oleh apapun.
Dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan—harus ia lakukan adalah... merancang kematiannya sendiri...
Masalah terbesarnya kini adalah...
Dengan keadaan Jongwoon yang sekarang, masih bersediakah orang itu untuk pergi dengannya?
.
.
.
"Hyung, aku letakkan di sini ya?" Hyukjae memperbaiki posisi vas bunga di meja sebelah tempat tidur Jongwoon. Sedikit merapihkan beberapa tangkai lavender yang menghiasinya.
"Ne. Gomawo, Hyukkie..." Jongwoon tersenyum lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terusik—membaca.
Ini sudah hari ketujuh ia dirawat di tempat ini. Suatu keberuntungan tempat ini tidak dapat dicium oleh media. Yah, Jongwoon butuh situasi yang tenang, untuk pemulihan tubuh dan pikirannya.
"Hyukkie..."
"Ne?" Hyukjae menghentikan kegiatannya, lalu menarik sebuah kursi dan duduk tepat di samping ranjang Jongwoon.
"Ng... apa kau kenal dengan namja yang... waktu itu datang ke sini?"
Hyukjae mengernyit. "Waktu itu? Aigoo, ada banyak namja di tempat ini. Bisakah kau lebih jelas lagi menggambarkan wujud orang yang kau maksud, hyung?"
Jongwoon mempoutkan bibirnya. "Aish, yang kumaksud itu namja yang menjengukku tiga hari yang lalu..."
"Aku benar-benar tidak tahu siapa yang kau maksud, hyung. Seingatku hanya aku dan Hae saja yang tahu tempatmu dirawat ini—" Dan Kyuhyun sih. Eh, atau jangan-jangan malah Kyuhyun yang dimaksud?
"Namja. Berambut coklat. Wajahnya agak pucat dan dia lebih tinggi sedikit jika dibandingkan denganku. Apa itu cukup untuk menjelaskan, Lee Hyukjae?"
Itu sih sudah jelas Kyuhyun, batin Hyukjae—facepalm.
"Memangnya apa yang dia lakukan di sini?"
"Tidak ada. Dia hanya mengucapkan salam, lalu pergi begitu saja setelah aku bertanya siapa dia..."
Hyukjae terdiam. Bukan karena apa yang diucapkan oleh Jongwoon, tapi lebih karena memikirkan Kyuhyun. Bagaimana keadaan anak itu ketika Jongwoon bertanya siapa dirinya? Bukankah terasa... menyakitkan?
Namja itu tahu kalau Jongwoon lupa segalanya akan Kyuhyun. Seolah ia kembali pada waktu dimana Jongwoon belum pernah melihat Kyuhyun. Ia hanya iseng bertanya, memastikan bahwa kepala hyungnya itu baik-baik saja atau tidak. Dan ketika nama Kyuhyun disebut, namja itu malah mengernyit bingung.
Dan satu kesimpulannya adalah, Jongwoon hilang ingatan hanya sebatas memorinya akan Kyuhyun.
Hyukjae tersenyum miris. Bukankah Jongwoon memang ingin melupakan Kyuhyun? Melupakan cintanya yang sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi nyata. Dan Tuhan mengabulkannya, walau tidak ada yang bahagia akan hal itu. Atau mungkin itu awalnya.
"Ah, tapi rasanya... ng... wajahnya terasa familiar..."
"Eh?" Hyukjae mendongakkan kepalanya.
"Ne, hanya saja aku tidak ingat kapan aku mengenalnya..."
Kau memang tidak pernah mengenalnya, hyung. Cinta kalian tumbuh di tengah ketidaktahuan kalian akan diri masing-masing, dan berakhir tanpa kalian sempat mengenal, batin Hyukjae.
"Lalu...?"
Jongwoon diam, tampak berpikir tapi Hyukjae tahu kalau hyungnya itu sebenarnya hanya berusaha menyusun kata.
"Entah kenapa... aku merasa sesak kalau melihat wajahnya. Rasanya seperti... aku punya kenangan buruk dengannya..."
Hyukjae menarik nafasnya. Rasanya ia ingin menangis saja. Bahkan ketika kau melupakan segalanya tentang Kyuhyun, rasa cintamu tetap ada, hyung.
"Kurasa... apapun yang terjadi di antara kalian dulu lebih baik dilupakan—" Setidaknya biarkan Tuhan yang menentukan kebahagiaan macam apa yang akan Ia berikan untuk kalian.
.
.
.
Kyuhyun kembali ke rumah sakit itu keesokan harinya. Tepat ketika baik Hyukjae maupun Donghae tidak memiliki waktu untuk mengunjungi Jongwoon di rumah sakit. Entah kebetulan atau memang Kyuhyun sengaja mencari tahu jadwal kedua orang itu hingga ia hanya datang di waktu dimana sepasang kekasih itu sedang sibuk.
Namja berambut coklat itu menarik nafasnya, berusaha untuk menenangkan dirinya. Tak ingin kejadian beberapa hari kemarin terjadi lagi, dimana ia malah langsung pergi tanpa sempat mengucapkan apapun pada Jongwoon.
"Annyeong…" ucap Kyuhyun, tepat ketika ia membuka pintu kamar Jongwoon.
Jongwoon mendongakkan kepalanya. "Ah, kau yang waktu itu sempat mengunjungiku kan?"
"A-ah, ne..." Kyuhyun jadi salah tingkah. Tidak disangka kalau ia akan diingat oleh Jongwoon. Ia hanya masuk ke ruangan ini satu kali, itu juga langsung pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Atau mungkin itu yang sebenarnya membuat dirinya diingat.
Kyuhyun melangkahkan kakinya, masuk ke dalam. Ditatapnya wajah Jongwoon. Masih sama, seperti dulu ketika mereka tidak pernah bertatap muka. Tetap lembut, namun juga tetap menyimpan sorot kesedihan. Entahlah, mungkin itu hanya ilusinya saja atau apalah...
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Jongwoon membuka pembicaraan. Rasanya memang familiar, wajah itu terlihat familiar. Hanya situasinya saja yang tidak. Ia yakin, walau mungkin mereka pernah bertemu, bertatap muka seperti ini jelas tidak pernah dilakukan.
"Ng..." Kyuhyun bingung. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Menceritakan hal yang sebenarnya soal mereka hanya akan membuat Jongwoon mengingat hal yang tak perlu—dan buruk.
Situasi semacam ini terasa seperti kembali ke awal. Berkenalan, saling mengetahui diri masing-masing, lalu berkembang—entah ke arah yang lebih baik atau buruk. Beda dengan sebelumnya. Mereka mengetahui, namun berhenti sebelum mereka benar-benar saling mengenal dan membuat rasa cinta yang mereka miliki tumbuh semakin besar.
"A-aku tahu dari Hyukkie-hyung. Mungkin kau pernah melihatku ketika bersamanya atau ketika mengunjunginya di tempat dia bekerja..."
Sedikit berbohong tidak masalah kan, lagipula ia juga tidak sepenuhnya mengarang cerita kan?
"Jinjja?" Jongwoon merasa ada yang salah—atau malah ada yang disembunyikan Kyuhyun. Ia mengernyit, terutama ketika melihat tingkahnya yang seperti salah tingkah.
"N-ne..." Oh, shit. Kenapa ia malah jadi kelihatan seperti orang yang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang tidak baik?
Jongwoon segera mengubah ekspresi wajahnya. Seulas senyum terlihat di wajahnya. "Arraseo... aku belum tahu namamu. Tidak adil kan, kalau kau tahu aku tapi aku justru tidak tahu apa-apa-bahkan nama pun tidak..."
Kyuhyun meringis kecil, tak terlihat tapi tetap saja tertangkap mata Jongwoon. Ada sesuatu yang membuatnya sedikit terpukul melihat ekspresi yang ditunjukkan Kyuhyun. Hanya saja ia tidak tahu apa—atau kenapa hal itu bisa membuatnya merasa seperti ini. Rasanya seperti melukainya secara tidak langsung.
"Kyuhyun. Cho Kyuhyun imnida." Kyuhyun tersenyum—atau itu yang berusaha ia tunjukkan.
"Cho... Kyuhyun?"
"Nde..."
"Ng, senang bertemu denganmu, kuharap kita bisa jadi... teman yang baik... mungkin?"
Jongwoon tidak tahu apa yang membuatnya terdengar ragu ketika berucap. Rasanya memang ada sesuatu. Sesuatu yang membuatnya tidak ingin mengucapkan kalimat itu. Teman ya? Apa memang itu yang diinginkannya?
"Ne... aku juga, kuharap... kita bisa jadi teman yang baik..." Setidaknya jauh lebih baik daripada tidak saling mengenal sama sekali...
.
.
.
"Apa otakmu baru saja terbentur? Rencanamu itu gila, kau tahu?"
Kyuhyun hanya memutar bola matanya, malas dan bosan. Kim Kibum adalah orang kedua setelah Hyukjae yang mengatakan kalau rencananya itu gila. Rencana yang bisa membuatnya membawa pergi Jongwoon keluar dari Korea sekaligus juga membatalkan pernikahannya. Hanya tinggal tiga hari, dan ia membutuhkan bantuan Kibum.
"Ayolah, hyung. Jebal, aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. Kau tahu kan kalau aku tidak pernah mencintai yeoja itu. Apalagi dengan apa yang dilakukannya pada umma dan appa. Kalau saja bukan karena mereka berdua, aku juga tidak akan mau menyetujui pernikahan ini..."
Kibum diam. Sedikitnya ia tahu garis besar keseluruhan masalah Kyuhyun. Pernikahannya dengan Seohyun jelas bukan didasari oleh rasa cinta, melainkan karena perusahaan appanya yang membutuhkan suntikan dana tambahan mengingat perusahaannya ada di ambang kebangkrutan.
Dan sialnya, putri dari keluarga itu malah mengajukan syarat agar ia bisa menikah dengan Kyuhyun.
"Hhh... akan kupikirkan lagi. Aku tidak mau melakukan hal yang serampangan menyangkut masalah ini. Yang akan kau tipu ini bukan hanya satu atau dua orang, tapi satu negara ini..."
"Ne... aku tahu. Gomawo, hyung..."
Tak ada lagi yang berbicara, dan Kyuhyun memutuskan untuk segera beranjak dari apartemen milik sepupunya itu.
Kibum menghela nafas. Ketika namja berambut coklat itu menghilang di balik pintu apartemennya, namja berkacamata itu mengambil ponselnya.
"Annyeong, Siwon-hyung. Ini aku. Tawaran yang waktu itu masih berlaku kan?"
.
.
.
Nekat. Itu mungkin predikat yang cocok dipegang Kyuhyun saat ini. Setidaknya ia tidak serampangan. Ia masih bisa berpikir, setidaknya untuk hal yang berhubungan dengan masalahnya kini. Sementara untuk hal lainnya, mungkin lebih tepatnya kalau ia mengabaikannya.
Kyuhyun masih sering mengunjungi Jongwoon. Dan sesering itu pula ia berusaha untuk bisa semakin lebih dekat dengan pujaan hatinya itu. Bukan hanya sekedar akrab, kalau yang itu mereka sudah sangat akrab bahkan ketika mereka 'pertama kali' berkenalan. Berterimakasihlah pada kepribadian Jongwoon yang cukup terbuka, hingga interaksi mereka tidak terasa canggung.
Akrab ya…
Bukan itu yang sebenarnya diinginkan Kyuhyun. Ia ingin—walau mungkin sulit—membuat Jongwoon mengingat lagi perasaan cintanya. Tak peduli mau itu berarti ingatan akan dirinya kembali atau tidak. Baginya lebih baik dicintai—walau itu dalam keadaan Jongwoon tak mengingat apapun soal dirinya, daripada harus dianggap sebagai teman seperti ini.
Kyuhyun menghela nafasnya. Hari terakhirnya untuk melakukan sesuatu. Besok adalah waktu pernikahannya, dan ia bahkan belum mengatakan apa-apa pada Jongwoon. Ia berdiri mematung di depan pintu kamar Jongwoon, tangannya menggantung, antara ingin mengetuk atau hanya diam saja dan pergi. Ia menjambak rambutnya sendiri. Ayolah, ini tidak seperti dirinya, harusnya ia bisa mengatakannya dengan mudah. Harusnya…
Namja bertubuh jangkung itu menghela nafasnya, ia membuka pintu perlahan. Diam jelas tidak akan membuat masalahnya selesai. Ia melangkah masuk. Sama seperti biasanya, ruangan itu kosong, hanya Jongwoon yang menghuninya. Ia sudah bilang kan kalau dirinya sengaja datang di saat Donghae dan Hyukjae tenggelam dalam kesibukan mereka.
"Kyuhyunnie~" Jongwoon tersenyum—begitu lebar, hingga membuat Kyuhyun mau tak mau ikut tersenyum juga.
"Annyeong, hyung~"
Kyuhyun selalu menyukai bagaimana Jongwoon memanggilnya dengan 'Kyuhyunnie'. Lain ceritanya kalau Kibum yang memanggilnya begitu. Minimal buku kalkulus akan ia lemparkan dengan senang hati ke muka namja itu.
"Wae~?"
"Eh?" Kyuhyun tersentak. Apa? Kenapa bertanya seperti itu?
"Ada yang kau pikirkan? Wajahmu kelihatan gelisah..."
Kyuhyun tidak tahu. Melihat sorot mata itu, melihat adanya kekhawatiran di dalam sana, ia tidak tahu. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tidak tahu apa yang harus ia katakan. Semua tenggelam, dalam benak. Hilang. Ia tidak tahu, apakah ia cukup tega melakukan hal yang egois ini. Mengajak Jongwoon pergi jelas membuat orang itu juga harus rela pergi dari kehidupannya.
Ia diam. Masih diam, walau ada banyak kata yang ingin ia ucapkan. Jongwoon bahagia dengan kehidupannya sekarang. Tanpa dirinya, dan tanpa kenyataan apapun yang dapat menyiksanya. Ia bahagia, setidaknya itu yang terlihat olehnya.
"Hyung..."
"Ne?"
Kyuhyun tidak tahu, apakah ia benar-benar harus melakukan ini atau membiarkan semuanya berjalan sama seperti sebelum ia mengenal Jongwoon. Ini egois, dan ia tahu itu.
"Maukah kau... ikut denganku...?" Kyuhyun merutuk dalam hati, lidahnya terasa kelu dan ini membuatnya sulit untuk mengeluarkan bahkan hanya satu kalimat saja. Ini terasa seperti bukan dirinya. Ia tahu itu. Ia hanya seorang bocah arogan, tapi jauh di dalam hatinya—ini Kibum yang mengatakan—ada sesosok namja yang bisa mencintai dengan tulus. Dan yah… ia setuju akan menikah dengan yeoja itu demi kedua orangtuanya. Demi rasa cintanya pada appa dan ummanya. Dan ketika ia kini menemukan seseorang yang bisa ia cintai, haruskah ia melepasnya?
"Apa?"
Kyuhyun mengerang pelan. Bukan jawaban seperti ini yang ia harapkan. Ini mendadak. Harusnya ia mengatakannya lebih perlahan.
"Hhhh…" Kyuhyun menarik sebuah kursi, duduk tepat di samping tempat tidur, sementara Jongwoon masih menatapnya—entah bingung atau… apa?
"Hyung… aku tahu ini sangat mendadak… tapi kurasa aku tidak punya waktu lagi…"
Jongwoon masih menatapnya. Tatapan datar yang benar-benar tidak diharapkan oleh Kyuhyun. Tapi tidak ada gunanya mundur sekarang. Semuanya akan sia-sia. Ia tidak akan pernah memperoleh kebahagiaannya, kalau ia mundur sekarang. Egois untuk memperoleh apa yang bisa membuatnya bahagia… tidak masalah kan?
"Aku mencintaimu…"
"Mwo?"
Jongwoon terbelalak. Ini bukan kalimat yang ia perkirakan akan diucapkan oleh Kyuhyun. Ini… terasa mustahil. Tapi… kenapa rasanya ia senang dengan hal itu…?
"Aku serius, hyung…" Kyuhyun menggenggam tangan Jongwoon yang masih diam, terlihat berusaha mencerna kalimat yang baru saja ia keluarkan. Namja berambut coklat itu hanya menggigit bibirnya ketika Jongwoon tak juga merespon ucapannya.
"Tidak… mungkin…" gumam Jongwoon pelan.
Kyuhyun menarik nafasnya perlahan. "Hyung…"
"Itu tidak mungkin, Kyuhyunnie…"
"Apa?"
"Kau tahu, rasanya tidak mungkin. Kita sama-sama namja. Dan lagi… kita baru kenal beberapa hari… jadi… kurasa tidak mungkin…" Walau aku selalu merasa kalau aku mengetahui soal dirimu sejak lama…
"Hyung… aku serius. Cinta tidak mengenal siapa kita, tidak peduli itu namja atau yeoja. Berlawanan atau sesama jenis. Cinta juga tidak mengenal waktu… maka dari itu aku yakin kalau aku benar-benar mencintaimu…" Yah, walau aku sebenarnya sudah mencintaimu sejak lama…
Jongwoon diam. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Jujur saja, jauh dalam hatinya ia senang… entah karena apa. Rasanya seperti sebuah beban berat yang telah lama ditanggungnya hilang. Tapi otaknya masih berpikiran logis. Ia tahu ini tidak mungkin. Hubungan sesama namja bukan sesuatu yang bisa dibenarkan. Walau Donghae dan Hyukjae juga menjalaninya, tetap saja ia merasa ini salah. Ia dan Kyuhyun bukan ditakdirkan untuk bersama dalam ikatan kekasih.
Tunggu…
Rasanya… dulu ia pernah mengucapkan kalimat itu… atau mungkin berpikiran mengenai hal itu. Mengenai hubungan yang tidak pernah mungkin terjadi… antara dirinya… dan siapa…?
"Aaakkhh!" Jongwoon memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Ada sesuatu yang berusaha menyeruak keluar dalam otaknya.
Kyuhyun yang melihat itu langsung bangkit—khawatir. "Hyung… gwaenchana…?"
Jongwoon menatap Kyuhyun—masih memegangi kepalanya. Rasa sakit itu masih menyerangnya. "Tinggalkan aku sendiri…"
"Tapi…"
"Jebal…"
Kyuhyun diam, antara ragu untuk mengikuti permintaan Jongwoon atau tetap diam di sana. Detik berikutnya, ia melepaskan Jongwoon. Sedikit menghela nafasnya, ia menatap Jongwoon. "Aku serius dengan perasaanku, hyung. Kalau hyung punya perasaan yang sama denganku atau setidaknya… ingin bersamaku, aku tunggu di tea shop tempat Hyukjae-hyung bekerja… besok, tepat jam sembilan pagi…"
Dan bersamaan dengan selesainya kalimat itu terucap, Kyuhyun berjalan keluar kamar, meninggalkan Jongwoon yang masih diam di posisinya.
"Bagaimana… ini…?"
.
.
.
—Tomorrow, 07.00 A.M—
Sebuah mobil berwarna metalik melaju dengan kecepatan tinggi, menembus sisa-sisa kabut pagi hari, melanggar batas kecepatan—bahkan tak khawatir kalau ia akan bertemu dengan polisi yang bertugas. Semua perhatian kini tertuju pada sebuah gereja di pusat kota, tempat akan dilangsungkannya pernikahan antara putra pertama keluarga Cho dan seorang putri pengusaha yang menjadi partner bisnisnya.
Itu yang diharapkannya, setidaknya tidak akan ada yang memperhatiakan atau menghalangi apa yang ia perbuat kali ini. Peluh mengalir di sekujur tubuhnya yang tertutupi oleh hoodie berwarna hitam. Tujuannya adalah belokan di tepi danau. Itu jauh di pinggiran kota. Tempat yang cocok untuk menjemput kematian, dengan tinggi antara jalanan dan danau yang lebih dari lima meter.
Nafasnya terengah. Perkiraannya ia akan tiba di sana lima belas menit lagi, sementara pernikahan itu akan dilangsungkan tiga puluh menit lagi. Itu cukup.
Mianhae… appa… umma…
.
.
.
Jongwoon melangkahkan kakinya pelan. Ia kabur dari rumah sakit, toh ia sudah tidak apa-apa… hanya terkadang saja kepalanya mendadak sakit. Tubuhnya yang terbalut sempurna dengan hoodie berwarna abu-abu ditambah dengan kacamata yang ia kenakan membuatnya lumayan tersamar. Setidaknya di pagi ini tidak ada yang mengenalinya…
Ia menghentikan langkah kakinya di depan tea shop. Masih belum buka, toh ini masih terlalu pagi dan ia tidak ada niat untuk masuk ke dalam. Ia berdiri, bersandar pada pagar batu di depan bangunan berwarna beige itu. Iris gelapnya menatap ke arah jalan. Tatapannya kosong.
Sebenarnya apa yang ia lakukan di sini? Harusnya kalau ia menganggap ucapan Kyuhyun hanyalah sesuatu yang tidak mungkin ia tidak perlu ada di sini. Lalu… kenapa?
Apa ia sedikitnya masih menganggap kalau itu bisa saja terjadi?
Atau sebenarnya… ia memang mencintai namja itu?
Jongwoon menatap ke arah langit. Biru cerah, hampir tak ada awan yang melintas. Ia menghela nafas. "Tapi ia menikah hari ini… lalu apa?"
.
.
.
BRAKK! BYURR!
Sebuah mobil menabrak pagar pembatas jalan, lalu jatuh ke dalam danau. Kejadiannya hanya beberapa detik, bahkan beberapa mobil yang melintas di sekitar daerah itu tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sebuah mobil, melaju dengan kecepatan tidak normal dan dikendarai oleh seseorang—entah namja atau yeoja.
Hyukjae ada di tempat itu ketika kejadiannya berlangsung. Hanya berjarak beberapa detik sebelum mobil itu terjun bebas ke dalam danau yang diketahuinya memiliki kedalaman yang tidak bisa dibilang dangkal. Itu dalam. Ia bahkan tidak sempat mengeluarkan suara pekikan atau apapun—sama seperti Donghae yang hanya bisa mematung di sebelahnya ketika suara tabrakan itu terdengar jelas di jalanan yang agak sepi itu. Beruntung Donghae tidak lupa untuk mengerem mobilnya atau ia akan bernasib sama seperti mobil yang jatuh itu.
"Apa-apaan itu tadi?"
Donghae-lah yang pertama kali membuka suara. Walau masih dalam keadaan kaget. Namun Hyukjae masih diam. Ia bahkan masih terlihat shock.
"Hyukkie…?"
Sadar kekasihnya tak menanggapi ucapannya, ia menoleh. "Wae?"
"Itu… Kyuhyun…"
"Mwo?"
"Mobil yang jatuh itu… punya Kyuhyun…"
"Apa?"
"Aku tidak mungkin salah, Hae… itu benar-benar mobil Kyuhyun…"
.
.
.
Jongwoon masih berdiri, bersandar tanpa bergerak sedikit pun. Ia masih menunggu, walau tidak tahu untuk apa. Ia harusnya pergi dari tempat ini, toh ia masih bisa berpikir logis. Ia masih diam ketika getar ponselnya mengganggunya. Ia merogoh sakunya, seketika ia mengernyit ketika melihat caller ID yang tertera di layar ponselnya.
Hyukkie? Apa dia tahu kalau aku kabur dari rumah sakit?
Ragu, Jongwoon menjawab panggilan itu. "… yeoboseyo?"
"…"
"Aku… di… rumah sakit, wae?"
"…"
"Mwo? Kyuhyunnie… kecelakaan…?"
Tangan Jongwoon mengepal keras. Iris gelapnya terbelalak. Tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Lalu untuk apa Kyuhyun menyuruhnya menunggu di sini?
"Tidak mungkin… Kyuhyunnie… tidak mungkin mati… lalu untuk apa dia menyuruhku menunggu di tempat ini…?"
Tangannya melemas. Bahkan ketika ponselnya terjatuh pun ia tak peduli. Ia masih diam, tak mempedulikan banyak orang yang mulai berlalu-lalang di sekitarnya, memandanginya dengan tatapan yang aneh. Air mata perlahan keluar dari sudut matanya, turun deras mengalir melalui pipinya.
Itu tidak mungkin kan… Kyuhyunnie…?
.
.
.
—Two Years Later—
—Putra pertama keluarga Cho, pemilik perusahaan multinasional terbesar ketiga di Korea Selatan, dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan mobil di sebuah danau di pinggiran Seoul. Setelah melakukan pencarian selama empat bulan atas jasadnya yang tidak ditemukan di manapun, maka kepolisian setempat menyatakan bahwa Cho Kyuhyun meninggal dunia. Penyebab kecelakaan—
Sraakkk!
"Yaak, hyung! Aku sedang membacanya!" Namja berambut ikal kecoklatan itu menatap ke arah namja lain yang berdiri di belakangnya—memegangi sebuah nampan berisikan dua cangkir yang di dalamya mengepul asap, sementara tangan satunya memegang koran yang barusan ia rebut.
"Kau sudah membacanya ratusan kali, tidak bosan, eoh?" Ia mendelik, meletakkan nampan itu di atas meja. "Lagipula apa bagusnya membaca berita soal kematian diri sendiri?"
Namja bertubuh tinggi itu hanya terkekeh pelan. "Sensasinya mungkin jauh lebih menyenangkan dibandingkan membaca berita mengenai kabar pernikahanku dengan SeoHyun yang gagal, hyungie~"
Ia kembali mendelik. Jawaban yang tidak serius seperti biasanya. Jongwoon menghela nafasnya. "Sampai melakukan sejauh itu, kau memang gila…"
Kyuhyun mengendikkan bahunya. "Setidaknya kalau bukan karena ide gilaku itu, kita tidak akan bisa berada di sini~"
"Lalu… bagaimana… Kibum-ah?"
Kyuhyun diam. "Sedikit mengalami patah di tangan kanannya kurasa bukan masalah besar. Well, dia tidak pernah menekuni profesinya di bidang olahraga air seserius mungkin. Kurasa malah setelah ini dia akan beralih profesi jadi aktor karena berhasil mengelabui banyak orang dengan menyamar jadi aku dan mengendarai mobilku, sementara aku mengurus kepergian kita ke Eropa…"
"Kau tahu… kau hampir membuatku jantungan dan berniat menyusulmu ke alam sana…" Jongwoon masih berdiri—tak ingin mendekati namja gila yang kini malah menjadi kekasihnya.
Kyuhyun menyeringai. "Setidaknya itu cukup untuk membuktikan kalau kau memang mencintaiku, hyung~"
Jongwoon memutar bola matanya. Narsis dan arogan, masih belum berubah juga. Well, ia tidak tahu apa yang membuatnya mencintai anak ini. Entah karena pertemuan singkat mereka di rumah sakit atau karena sesuatu yang lain. Hanya saja mungkin ia juga sama gilanya dengan anak ini karena mau saja mengikuti semua sisa rencananya.
Meninggalkan Korea Selatan dan juga segala kehidupannya sebagai seorang public figure di sana.
Kecelakaan yang—seharusnya—dialami Kyuhyun adalah rekayasa dari anak itu sendiri. Kyuhyun berencana memanipulasi kematiannya, dan dengan bantuan Kibum ia berhasil melakukannya. Tabrakan itu memang benar-benar terjadi. Dan mobil Kyuhyun sedikit hancur karenanya. Kibum selamat, karena beberapa detik sebelum mobil benar-benar jatuh ke dalam danau, namja itu sudah lebih dulu terjun keluar mobil dan berenang sejauh mungkin. Sangat beresiko tapi kelihatannya mereka berdua telah lebih dulu memperhitungkannya.
Memang gila, ingatkan ia untuk ke gereja dan berdoa semoga Kyuhyun disembuhkan dari kegilaannya. -_-
"Lalu... ahjussi dan ahjumma…?"
"Wonnie-hyung, teman Kibum-hyung, berhasil membujuk appanya untuk memberikan bantuan modal untuk appa. Yah, kurasa kerjasama mereka malah jadi lebih menguntungkan dibandingkan ketika dengan appa yeoja itu…"
"Hm…"
Kyuhyun menoleh. "Hyung~ Sudahlah… tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi…"
Ia menarik Jongwoon hingga namja bersuara emas itu jatuh di pangkuannya.
"Yaaak!"
Wajah Jongwoon memerah. Sedikit kaget dengan gerakan Kyuhyun yang terbilang tiba-tiba. Aish…
"Jangan pikirkan apapun lagi… kita mulai segalanya dari awal, hyung…"
"Apa?"
"Ani, bukan apa-apa…" Setidaknya walau ingatan akan diriku tak lagi ada, tapi aku tahu kalau hatimu tidak akan berhenti untuk mencintaiku… kurasa lebih baik seperti ini, memulai kembali segalanya... dimana yang ada hanya Cho Kyuhyun dan Kim Jongwoon tanpa status apapun yang membelenggu…
"Saranghae, hyung…"
"…nado saranghae…"
Dan jarak keduanya tereliminasi dengan sempurna ketika dua bibir itu menyatu dalam sebuah ciuman lembut. Tak saling menuntut, hanya menyalurkan rasa cinta yang mereka miliki. Menenangkan dan terasa hangat. Setidaknya apa yang terjadi di masa lalu, bisa mereka lupakan…
.
—END—
.
a/n saya menelantarkan ff ini sebenarnya. ^^a Ada beberapa hal yang membuat proses pembuatannya tersendat tapi selalu saya usahakan untuk bisa selesai.
Saya bilang endingnya mungkin akan happy tapi juga sad. Dan itu memang saya buat. Yang paling buruk dalam kisah cinta adalah ketika salah satunya tidak mengingat apapun mengenai orang yang dicintainya bahkan ketika mereka sudah bersama. Itu sama aja kayak mulai dari awal lagi. Buat yang hilang ingatan memang gak terlalu jadi masalah, tapi buat yang masih ingat itu justru bikin sakit, karena dia jadi nyimpen semuanya sendiri. Ingin cerita tapi tidak sampai hati kalau itu malah jadi bikin pasangannya inget hal yang gak enak.
Udah ah, saya kok jadi formal gini. xD
Reviewnya gak bisa saya bales… mian… m(_ _)m
See You~
.
BEST REGARDS
—RiN—
.
