Konnichiwa minna-saaaan! Saya datang membawa chappie baruu (‾▿‾)

Maaf kalo update-nya lama, maklum anak sekolah, sibuk (baca: pr numpuk-_-) *emang ada yg nunggu?* *garuktembok*

Oh iya, cuma mau ngasih tau. Di chapter 1 kemaren, itu tulisannya bold semua, bukan mau saya~ itu kayaknya kepencet atau apa ya?

Oh iya (lagi) terimakasih banyaaaaak untuk yang sudah me-review fict abal ini *bungkukbungkuk*

Doain aja supaya ide cepat datang dan kemampuan saya membaik~ Review yg login dibalas lewat PM yaa!

Oke, kebanyakan bacot kayaknya..

a Gundam Seed fanfiction

~Just a Contract~

Disclaimer : Gundam Seed punya SUNRISE, cerita ini hasil imajinasi saya *o* tapi terinspirasi dari banyak hal (‾▿‾)

Warning : AU, gaje, abal, OOC, typo maybe?

Genre : maunya sih Romance, tambahin General aja deh abisnya bingung (_ _")

Rated : T

Pairing : Kira X Lacus

Don't like don't read

Please enjoy!


Chapter 2

"Apa katamu? Pura-pura menjadi pacarmu? Tidak mungkin, aku tidak bisa!" kata Kira terkejut setelah mendengar penjelasan Lacus.

"Kau bilang mau membantuku kan?" sahut Lacus.

"Seingatku, aku bilang akan membantumu jika aku BI-SA!" balas Kira dengan penekanan pada kata 'bisa'.

"Cih, mana mungkin kau tidak bisa! Hanya berlagak baik kepadaku di depan semua orang apa susahnya sih?" Lacus mulai tidak sabaran dengan pemuda di depannya.

"Karena itu aku tidak bisa! Aku tidak pandai berpura-pura." Kira masih tetap mengelak.

"Oh ya? Lalu apa maksudnya penghargaan 'Pemain Figuran Terbaik' dalam pentas drama tahun lalu?"

"Oh ayolah, aku hanya pemain figuran. FIGURAN!" ujar Kira frustasi. Gadis di depannya ini tidak juga mau mengerti dan terus memaksa meski Kira sudah menolaknya sejak tadi.

"Tetap saja berpura-pura kan?"

"Itu demi nilaiku, tahu!"

"Bukannya ini demi festival sekolah? Kau kekurangan banyak uang kan? Apa kata orang jika festival tahun ini dibatalkan karena ketua panitianya tidak becus mencari dana sepertimu? Aku bisa saja membayarmu mulai besok, kau tahu?" sindir Lacus.

"Berapa besar sih, bayaranmu? Aku tidak mau!"

"Itu masalah gampang. Aku bisa bayar sesuai kebutuhanmu, asal jumlahnya masuk akal."

"Tidak mau!"

"Kau! Keras kepala rupanya." kesabaran Lacus benar-benar sudah habis. Dia sudah pasang kuda-kuda siap menghajar Kira.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Kira gemetar.

"Masih mau menolak hah?"

"..."

"Kira!"

"Kira! Woy, Kiraaa!"

Lamunan Kira buyar ketika dia mendengar orang-orang meneriaki namanya. Sedetik kemudian, Kira baru ingat dia sedang rapat membahas festival sekolahnya itu bersama panitia penanggung jawab bawahannya.

"Kau ini kenapa sih? Dari tadi melamun saja, dipanggil tidak menyahut." ucap Shinn, salah satu bawahan Kira.

"Ah, tidak. Bukan apa-apa. Sampai mana tadi?" Kira balik bertanya.

"Kau bilang baru saja mendapat dana tambahan. Kami tanya itu dari mana? Kau malah melamun." jawab Shinn dan disetujui yang lainnya.

Kira bergidik mengingat kejadian itu. Dia hampir babak belur jika tidak segera mengiyakan tawaran Lacus. Hasilnya, mulai hari ini Kira Yamato resmi menjadi kekasih palsu seorang Lacus Clyne.

"Oh ya, soal dana tambahan itu-"

BRAAAK!

Kalimat Kira terpotong seketika pintu ruangan didobrak kasar oleh seseorang. Ngiiik. Terdengar bunyi engsel yang bautnya mengendor. Beruntung pintunya tidak sampai copot. Rupanya pintu itu baru saja ditendang oleh seorang gadis berambut merah muda. Mata gadis itu bergerak menyapu ruangan dan berhenti setelah menemukan apa yang dicarinya.

"Disini kau rupanya! Aku mencarimu keliling sekolah, Kira." ujar gadis itu kemudian.

"Lacus? Seingatku, pintunya tidak dikunci.." kata Kira linglung, masih memandangi pintu satu-satunya di ruangan itu.

"Ayo pergi!" kata Lacus seraya berjalan dan menarik tangan Kira yang masih terpaku di tempat.

"Eh? Mau kemana? Aku sedang rapat.." Kira mengelak mencoba melepaskan genggaman tangan Lacus.

"Temani aku jalan-jalan, ya?" ajak Lacus sambil melotot dan mengencangkan genggamannya.

"Aduh! I-iya iya baiklah. Tapi tanganku..," Kira meringis kesakitan. Mendengar itu, Lacus melepas tangannya.

Kira memegangi pergelangan tangannya yang masih nyeri, "Rapatnya sampai disini dulu. Aku ada urusan. Terima kasih semuanya." katanya kepada teman-temannya yang mendadak jadi penonton drama. Kira kemudian menarik Lacus yang masih diam keluar ruangan.

"Itu...Lacus kan?"

"Sejak kapan Kira...?"

"Dia bercanda kan?"

"Kira dengan Lacus...? Tidak mungkin, aku pasti bermimpi. Bangun Shinn, bangun!"

Orang-orang di ruangan yang sejak tadi bengong menyaksikan sederet kejadian 'tidak terduga' mulai bertanya-tanya apa yang terjadi. Mereka tidak percaya ketua mereka ternyata punya hubungan khusus dengan siswi yang sering keluar masuk ruang BP karena dilaporkan berkelahi itu. Tidak juga menemukan jawabannya, mereka memutuskan meninggalkan ruangan dengan masih bergeleng-geleng kepala.


"Kau ini kenapa muncul tiba-tiba? Terlebih lagi di depan teman-temanku. Aku jadi bingung harus berkata apa kepada mereka, Lacus-san." kata Kira setelah jarak mereka berdua jauh dari ruangan tadi.

"Lacus saja. Kau pacarku sekarang. Itu bagus kan? Kau jadi tidak perlu berpura-pura di depan mereka. Ah, benar juga. Aku harus berkenalan dengan teman-temanmu yang lain!" sahut Lacus ceria.

"HAH?" langkah Kira terhenti. Tapi tidak dengan Lacus, dia hanya tersenyum singkat kepada Kira dan melanjutkan langkahnya. Tidak jauh dari mereka ada tiga orang gadis yang sedang mengobrol seru. Mereka menoleh kearah Lacus dan menatapnya sinis.

"Sejak kapan preman berkeliaran di sekolah kita?" sindir salah satu dari mereka yang berdiri di tengah.

"Benar. Kenapa tidak diusir sih? Merusak pemandangan saja!" sahut yang satunya.

Lacus berhenti. Dia merasa tersinggung oleh perkataan mereka. "Jangan sembarangan bicara!", bentaknya. Lacus sudah siap menghajar mereka semua jika tangannya tidak ditahan seseorang.

"Hentikan, Lacus! Apa-apaan sih? Ini di dalam sekolah. Fllay, aku minta maaf." ujar Kira menyesal.

"Eh? Kira, apa yang kau lakukan? Kau mengenal preman ini?" tanya Fllay bertubi-tubi sambil menunjuk ke arah Lacus.

"Aku bukan preman!" bantah Lacus ke depan wajah gadis yang dipanggil Fllay itu. Tangan Lacus sudah gatal ingin menghajar wajahnya kalau Kira tidak menahannya.

"Dia itu..ehm..dia.." Kira tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Aku pacarnya Kira. Ada masalah?" sambung Lacus tanpa izin. Kira hanya bisa menunduk pasrah. Fllay yang mendengarnya menganga saking terkejutnya. Diliriknya Kira dan Lacus bergantian.

"B-benar begitu?" tanya Fllay kepada Kira dan dijawab anggukan pelan oleh Kira.

Lacus sudah tidak tahan lagi. Lebih baik dia pergi sekarang sbelum tangannya bergerak lagi dan gadis-gadis itu babak belur. "Ayo pergi! Aku tidak suka tante-tante ini, Kira!" kata Lacus sambil menyeret Kira kasar, masih terbawa emosi.

"Apa katanya? Tante? Siapa?" tanya ketiga gadis itu bersamaan, entah kepada siapa.

Lacus menarik Kira sambil berlari tidak tentu arah. Kira melihat pintu utama gedung sekolahnya tadi. Sekarang gerbangnya, mereka baru saja keluar area sekolah. "Dasar tante-tante! Bisanya Cuma bergosip dan mengejek orang. Mereka pikir mereka itu siapa? Berani merendahkanku seperti itu...," umpat Lacus masih dalam keadaan berlari.

"Lacus..." panggil Kira pelan, mencoba menghentikan Lacus.

"...coba lihat kuku mereka tadi! Warnanya norak ditambah bling-bling pula! Membuat mataku sakit saja! Belum lagi make up-nya. Aku tidak habis pikir jam berapa mereka berangkat sekolah kalau harus berdandan segitu tebalnya!" Lacus masih mengomel sampai Kira jatuh terduduk.

"Lacus..berhenti..sebentar.." ujar Kira terengah-engah. Lacus merasa beban yang ditariknya menjadi lebih berat. Dia berhenti menarik setelah melihat posisi Kira di belakangnya.

"Eh, Kira? Maaf, aku tidak tahu kau tidak kuat berlari." kata Lacus menyesal.

"Bukan begitu. Kau berlari tanpa berhenti, aku tidak biasa seperti itu." ucap Kira setelah berhasil mengatur napas. Kira melihat sekolahnya, dia merasa sudah dihitung bolos oleh gurunya. "Ayo kesana! Jangan di tengah jalan begini." Kira berdiri dan berjalan ke pinggir sungai yang berada di samping jalan itu, lalu duduk di sana.

"Wah lihat, langit senja!" kata Lacus menunjuk ke arah langit berwarna oranye diselingi semburat merah muda dan ungu yang membentang di atas mereka berdua.

"Memangnya kenapa kalau senja? Hari memang cepat berlalu." sahut Kira asal.

"Ih, bukan itu maksudku," balas Lacus sambil duduk di sebelah Kira, "Menurutku, langit senja itu unik. Warnyanya paling variatif daripada langit lainnya. Aku suka melihatnya.." gumamnya.

"Hm.. Aku tidak punya waktu untuk memandangi langit senja, sih. Daripada itu, apa kau sadar kita sedang bolos pelajaran?" ujar Kira kesal.

"Pasti ini pertama kalinya kau bolos ya? Wah, suram sekali hidupmu. Sesekali bolos itu bagus untuk refreshing (ini jangan dicontoh ya -_-v)," Lacus tersenyum jahil kepada Kira, "Apa kau tidak bosan? Setiap hari yang dilihat hanya buku, buku, dan buku lagi, sampai melihat langit yang begitu luasnya saja tidak sempat. Ckck, kasihan.." sambung Lacus mengejek.

"Setidaknya belajar lebih bermanfaat daripada berkelahi tidak jelas sepertimu. Oh iya, preman sepertimu sih, tidak akan mengerti soal belajar ya? Atau malah tidak mau tahu? Heh.." Kira tidak menyadari perkataannya barusan sangat menyinggung perasaan gadis di sebelahnya.

Hening. Kira baru sadar Lacus yang biasanya akan berceloteh macam-macam tidak menyahutnya tadi. Kira menoleh, penasaran apa yang membuat Lacus mendadak diam. Seketika Kira meragukan penglihatannya. Dia melihat Lacus menyeka air mata, Kira melihat Lacus menangis. 'Kenapa dia?' batin Kira.

"Hei, kau baik-baik saja?" Kira memberanikan diri bertanya.

"Tahu apa kau soal hidupku? Semua orang merendahkanku, menganggapku preman yang hanya bisa berkelahi. Tahu apa mereka? Bahkan mereka tidak memikirkan alasanku begitu, ya kan?" jawab Lacus, jawaban yang sangat tidak diduga oleh Kira.

"Aku memang menyedihkan, haha..," Lacus tertawa garing. Dia kemudian bangkit dan berbalik "Siapkan dirimu untuk bertemu Athrun, setidaknya untuk jaga-jaga. Dia bukan orang yang bisa diremehkan." Kata Lacus sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan Kira yang memmandangnya bingung.

"Lacus, dia..menangis?" tanya Kira pada diri sendiri. Kira masih tidak mengerti, tapi dia merasa Lacus menangis karena kata-katanya tadi. Kira melihat Lacus berjalan sambil mengusap-usap pipinya, kemudian berlari menjauh sampai tidak terlihat lagi.


... TBC ...


Hyaaaah akhirnya chapter 2 selesai~

Maaf kalo kependekan, saya tidak pandai merangkai kata sepanjang nirwana *loh?*

Kemarin itu lagi buntu ide, jadinya kayak gini deh~ tapi, masih bersambung yaaa!

Ada saran yang bagus? Ada kesalahan di fict ini?

Tulisin semuanya di... RE-VI-EW okeoke? REVIEW ya REVIEW!

Sampai jumpa (_ _) *bow*