Halo minna-san, lama tidak berjumpa ya? *dilempar sendal*

Maafkan saya yang pemalas ini, baru bisa apdet sekarang (‾▿‾)

maklum, baru selesai ulangan dan baru dapet liburan. sedih kan? enggak? lupakan.

Bales ripiu dulu deh...

Magus-15IchiGo: hmm? kasih tau gak yaaa? wkwk dibaca aja terus :D

Dark Valkyrie: hyaahahaha *joget kesenengan* sip :)

ervan76: yo! ini lanjut nih hehehe..

Arigatou review-nyaaa!

langsung aja kalo begitu...

a Gundam Seed fanfiction

~Just a Contract~

By Seiba Artoria

Disclaimer : Gundam Seed punya SUNRISE. Laptop dan kawan-kawannya punya saya.

Warning : AU, gaje, abal, OOC, typo maybe?

Genre : Romance and general (?)

Rated : T

Pairing : Kira X Lacus

Enjoy!


Chapter 3

Pulang sekolah. Waktu yang sangat ditakuti Kira akhirnya tiba juga. Sebenarnya ia sudah berniat bolos hari itu dengan alasan sakit. Tapi, seorang Kira akan berpikir dua kali untuk merelakan ilmu yang harusnya diterimanya melayang sia-sia. Akhirnya Kira melewati jam demi jam di sekolah tanpa konsentrasi sama sekali. Bahkan ia tidak tahu barusan belajar apa, sama saja kan?

"Hei Kira, mau bareng tidak?" tanya Shinn kepada Kira yang sedang merapikan buku-bukunya.

Kira menoleh sebentar, "Hari ini tidak bisa. Kau duluan saja," jawabnya singkat.

"Sayang sekali, padahal aku mau mengajakmu main ini." Shinn mengacung-acungkan cd game yang baru dibelinya. Berharap temannya berubah pikiran.

Kira bergeming. Sebenarnya ia ingin sekali bermain bersama Shinn, tapi apa boleh buat, "Maaf Shinn, lain kali mungkin?" ujarnya.

"Benar juga. Kau mau pulang dengan pacarmu itu ya? Baiklah, lain kali saja. Aku duluan ya!" Shinn menepuk pelan pundak Kira dan berjalan ke luar kelas. Kira sudah pasrah dengan apapun yang dipikirkan Shinn tentang dirinya dan Lacus.

Kira menghela napas panjang. Satu lagi kesempatan untuk menghindari Lacus dan menunda pertemuannya dengan Athrun hilang. Ya, itu alasan Kira berniat bolos tadi pagi. Kira takut sekali bertemu si Athrun itu. Walaupun Lacus berkata dia hanya harus menampakkan diri di hadapan Athrun, sisanya Lacus yang mengatur. Tapi, siapa yang berani menjamin Kira akan pulang dengan selamat? Kira merasa sangat gugup sampai detak jantungnya terdengar.

"Tenang Kira. Tarik napas... hembuskan pelan-pelan... Tenang, kau pasti bisa!" Kira mengepalkan tangannya meyakinkan diri sendiri. Setelah merasa lebih tenang, pemuda itu melangkah keluar kelas. Kira sangat berharap dirinya tidak bertemu dengan Lacus sepanjang perjalanan keluar area sekolah. Dengan begitu, ia bisa diam-diam pulang alias melarikan diri dari kontraknya.

Saat ini Kira sudah mencapai lantai dasar, hanya tinggal melewati halaman sekolah saja untuk ke luar area sekolah. Asal tidak bertemu Lacus, Kira bisa kabur. Mata violetnya menyapu halaman depan sekolah, namun tidak kunjung menemukan sosok gadis dengan rambut merah muda panjangnya. Kesempatan. Kira segera berlari dengan penuh semangat melewati gerbang sekolahnya. Baru saja dirinya merasa berhasil dan hendak melesat menuju rumahnya, ia mendengar suara yang sangat familiar dari belakang.

"Dari mana saja kau? Lama sekali sih."

Sudah kuduga. Kalau bukan di depan kelasku, dia pasti menunggu di sini, batin Kira. Kini, habis sudah kesempatannya untuk kabur. Mau tidak mau, dia harus menghadapi keadaan yang tidak pernah diinginkannya.

Kira berhenti dan berbalik, "Ah, tadi... ada urusan sebentar. Hehe..," jawabnya asal.

"Alasan. Ayo cepat, jangan sampai membuat Athrun marah!" Lacus segera menarik tangan Kira menuju tempat perjanjiannya dengan Athrun. Lapangan sepak bola dekat sekolah.

.


Sesampainya di lapangan itu, Kira melihat lima orang gadis yang sudah dikenalinya. Teman-temannya Lacus. Selain itu, di sisi lain lapangan Kira bisa melihat empat orang pemuda sepantarannya sedang mengobrol dan sesekali tertawa bersama. Kira menyipit melihat penampilan mereka yang tidak jauh berbeda dengan Lacus dan teman-temannya. Sekarang, dia hanya bisa berdoa untuk keselamatannya.

Lacus berhenti di dekat gerombolan teman-temannya. Salah seorang teman Lacus, Lunamaria, berjalan mendekati mereka, "Lacus, kenapa lama sekali?" tanyanya.

"Tanya saja pada orang ini!" jawab Lacus sambil mendorong Kira pelan.

"Athrun sudah menanyai kita terus," timpal yang lainnya sambil melirik ke arah Athrun dan teman-temannya. Lacus mengangguk dan menoleh ke arah Kira, memandangnya dari atas ke bawah. Lacus merasa harus melakukan sesuatu dengan penampilan pemuda culun ini.

"Apa?" tanya Kira penasaran.

"Keluarkan kemejamu! Jangan dimasukkan begitu, terlalu rapi untuk jadi pacarku," perintah Lacus tegas.

Melihat reaksi Kira yang hanya bengong dan terdiam di tempat, Lacus mengambil tindakan cepat. Ia melepas ikat pinggang yang dipakai Kira, mengeluarkan kemejanya, dan membuka satu kancing teratas dari kemeja tersebut.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Kira gemetar. Dia merasa gadis ini sudah gila dengan seenaknya mengutak-atik bajunya.

"Membuatmu menjadi sedikit lebih 'keren'," jawab Lacus sambil menyeringai singkat. Ia kemudian mengacak-acak sedikit rambut Kira, "Sempurna," katanya. Lacus menggandeng tangan Kira berjalan menuju Athrun.

Dari kejauhan, Athrun melihat pemuda berambut cokelat dikelilingi gadis-gadis yang sudah dikenalnya. Athrun bisa melihat mantan kekasihnya mengelus –dari kejauhan 'mengacak' terlihat seperti 'mengelus'- kepala pemuda itu sambil tersenyum. Sejujurnya, Athrun sedikit cemburu melihat itu semua. Dia benar-benar sudah mendapatkannya.

Athrun bangkit dari duduknya dan berjalan angkuh mendekati Lacus dan Kira diikuti teman-temannya. "Jadi?" tanya Athrun meminta penjelasan Lacus setelah mereka berhadap-hadapan.

"Jadi Athrun, perkenalkan, ini Kira. Pacarku. Kira, ini Athrun. Dia... temanku," jawab Lacus dengan percaya diri.

Kira mengangguk singkat, "Salam kenal, aku Kira Yamato. Senang bertemu denganmu," ucapnya datar sambil mengulurkan tangan kepada Athrun.

1 detik...

2 detik...

5 detik...

"HAHAHA! Kau... hahahaha!" Athrun dan teman-temannya tertawa sejadi-jadinya melihat tingkah Kira. Athrun merasa aneh sekali dengan perkenalan anak ini, rasanya seperti orang penting saja.

Lacus menginjak kaki Kira sekeras yang dia bisa. Ia tidak tahu kalau orang pintar bisa juga sebodoh ini. Kenapa sih Kira tidak bisa membaca situasi? Seharusnya dia mengerti perkenalan ala Athrun itu yang bagaimana kan?

Sementara yang kakinya diinjak hanya meringis kesakitan dan memberi pandangan 'aku-salah-apa-?' ke Lacus. Bukannya jawaban yang didapat Kira, malah pergelangan tangannya semakin diremas oleh Lacus yang sedang kesal. Teman-teman Lacus yang melihat itu di belakang tiba-tiba merasa hilang harapan.

Athrun masih sibuk tertawa ketika Lacus berkomat-kamit pada pemuda linglung di sebelahnya untuk mengulang acara perkenalan tersebut menjadi lebih 'sesuai'. Kira yang sebenarnya bingung hanya mengangguk kecil dan berusaha memperbaiki keadaan.

"Umm..hai Athrun! Aku Kira, pacarnya Lacus," kata Kira sambil mengibaskan tangan kanannya.

Athrun masih menahan tawanya, "Ah, iya. Athrun, Athrun Zala. Jadi Kira, apa yang membuatmu menyukai Lacus?".

DEG! Ini yang membuat Lacus was-was sejak tadi. Ia sudah menyangka Athrun akan menanyakan pertanyaan macam ini. Lacus menyesal tidak memberi penyuluhan singkat kepada Kira tadi. Sekarang ia hanya bisa percaya pada kemampuan komunikasi Kira.

Kira melihat Lacus, "Karena... dia cantik. Siapa yang tidak suka?" jawabnya jujur.

"Hanya itu?"

"Oh, tentu saja tidak. Lacus gadis yang baik."

"Baik? Bukannya dia gadis yang kasar dan keras kepala? Lagipula, siapa yang mau punya pacar berandal seperti ini?" Athrun bertanya bertubi-tubi yang membuatnya seperti sedang menginterogasi tersangka pencurian.

Kira berpikir sejenak, "Kasar dan keras kepala bisa berdampak baik dalam beberapa hal, kau tahu? Penampilannya memang kurang sopan, tapi itu bisa diperbaiki." katanya kemudian dengan gaya sok santai.

"Benarkah? Wah, beruntung sekali kau Lacus," sindir Athrun.

Lacus lega mendengar jawaban Kira. Setidaknya itu membuat Athrun tidak bertanya lebih jauh, atau memang Athrun malas menanyakan hal yang sudah jelas bohong? Entahlah, Lacus tidak mau berpikir lagi.

"Aku memang beruntung. Sudah cukup perkenalannya. Urusan kita selesai. Selamat tinggal Athrun!" balas Lacus yang kemudian berbalik hendak meninggalkan Athrun.

Belum sempat Lacus dan Kira meninggalkan tempat itu, Athrun melayangkan tinjunya ke arah Kira yang ditepis oleh Lacus. Kira terkejut bukan main dan membuat seluruh tubuhnya gemetar, ia merasakan firasat buruk.

Terjadi perkelahian singkat antara Athrun dan Lacus. Mereka saling melancarkan tendangan dan gerakan-gerakan lainnya. Athrun menahan telapak kaki Lacus yang berada tepat di depan wajahnya. Lacus menurunkan paksa kakinya dan meninju pipi kanan Athrun. Sedetik kemudian perkelahian itu terhenti.

"Apa maksudnya ini, Athrun?"

"Aku tidak percaya pada bocah ini, Lacus. Lihat saja tampangnya yang cengo itu! Apa yang akan dilakukannya jika kau dirampok di jalan? Berdoa? Cih." Kira tertegun mendengar perkataan Athrun barusan. Ternyata orang seperti Athrun bisa juga memikirkan orang lain.

"Apa pedulimu? Kau hanya ingin bertemu dengannya, kan? Berarti masalah selesai sampai disini. Jangan pernah ganggu hidupku lagi!" Lacus membalikkan badannya, pergi.

Athrun menarik tangan Lacus, "Tentu saja aku peduli padamu, Lacus. Kutanya sebaliknya, apa dia peduli padamu hah? Orang macam dia egois. Yang dipikirkan cuma reputasi, keselamatan diri sendiri," ujarnya emosi. Kira yang mendengarnya merasa sangat tersindir.

"Jangan berlagak sok kenal begitu, Ath! Memangnya kau tahu siapa Kira?"

"Siapa yang tidak kenal Kira Yamato? Aku ingat betapa hebohnya negara ini waktu dia menang lomba...lomba-" kalimat Athrun terputus. Ia mencoba mengingat berita yang memonopoli semua stasiun tivi waktu itu.

"Bahasa pemrograman tingkat internasional di Kanada." Pemuda berambut pirang –salah satu teman Athrun- menimpali.

"Ya, itu. Aku tidak pernah berniat nonton berita seperti itu. Tapi saking seringnya berita itu disiarkan dimana-mana, aku sampai mengingatnya." sambung Athrun.

Lacus terpojok. Dia salah perhitungan. Lacus tidak memperhitungkan bahwa prestasi Kira yang bukan hanya setingkat kota tapi sudah sampai keluar negeri akan membuatnya terkenal.

Sementara itu, Kira tertunduk. Dia tidak tahu sekarang harus senang atau kecewa. Senang karena ternyata dirinya sebegitu terkenal karena lomba itu, bahkan di kalangan orang seperti Athrun dan teman-temannya. Kecewa karena identitasnya langsung terbongkar pada pertemuan pertama, atau bisa disebut gagal. Tapi entah kenapa, yang dirasakan Kira sekarang adalah takut. Kira takut Athrun akan berbuat sesuatu padanya dan Lacus. Lho, apa pedulinya pada Lacus? Atau memang Kira peduli?

"Sudahlah Lacus, hentikan sandiwaramu! Tidak usah membawa-bawa orang 'asing' dalam kehidupan kita."

"Tidak bisa. Aku tidak mau menjadi pacarmu lagi, Ath!"

"Keras kepala. Baiklah, bagaimana kalau bertanding? Aku dan Kira bertanding. Pemenangnya yang akan memutuskan. Adil, kan?" tawar Athrun.

"Tidak ada acara bertanding dalam perjanjiannya, Athrun! Jangan memutuskan seenaknya!"

"Memang tidak ada perjanjian apa-apa. Kuberi waktu satu minggu, di sini. Jangan coba-coba kabur dariku. Kau tahu kan apa yang akan terjadi?" kata Athrun mengancam. "Hahaha... Sampai bertemu lagi, Kira!" seru Athrun seraya membalikkan badannya dan meninggalkan lapangan diikuti teman-temannya.

Lima orang gadis yang sejak tadi diam berlari menghampiri Lacus dan Kira. "Lacus!" panggil mereka.

"Lagi-lagi perjanjian sepihak. Apa-apaan si Athrun itu!" seru mereka kemudian.

"Apa perlu kita kejar dia dan menghajarnya? Hei, Lacus!" tanya mereka pada Lacus yang masih menunduk. Namun gadis itu tidak menjawab, otaknya sedang memikirkan hal lain. Teman-temannya pun memilih diam dan menunggu keputusan Lacus.

"Maaf," kata Kira dan Lacus berbarengan.

Kira dan Lacus terkejut, "Eh? Kau duluan." Lacus mempersilakan.

"Maaf... aku langsung ketahuan. Aktingku memang jelek, sih. Rencanamu jadi gagal, maaf ya," ujar Kira menyesal.

"Ah, tidak apa-apa. Aku yang sudah memaksamu, kan? Maaf ya. Aku tidak tahu akan jadi begini," balas Lacus. Sesaat hening. Lacus maupun Kira bingung mau berkata apa, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Kita tidak usah menuruti kemauannya, Lacus. Biarkan saja dia menunggu di sini sampai capek!" Tiba-tiba Lunamaria berkomentar.

"Athrun tidak akan diam saja jika kita melanggar janji. Kau tahu dia kan, Luna?"

"Tapi, mustahil Kira akan menang melawan Athrun," sanggah Luna.

Lacus tersenyum, mata birunya memandang Kira yakin, "Tidak mustahil jika kita memberinya latihan ekstra. Kira, aku perpanjang kontrakmu. Kau akan kami latih berkelahi dengan baik dan benar dalam seminggu ke depan. Kalau tidak mau, tanggung akibatnya sendiri," katanya.

"Iya, iya. Aku mengerti," sahut Kira pasrah. Lebih baik begitu daripada dia habis dihajar Athrun nantinya.

Lacus bisa melihat raut keterpaksaan dari wajah Kira. Ia mendapat ide, "Sebagai gantinya aku akan membantu festival sekolahmu. Aku tahu kok, repotnya menjadi ketua. Aku memang tidak bisa menulis laporan dan sebagainya, tapi aku bisa mengecat properti atau apa saja yang aku bisa. Bagaimana?" ujarnya.

Mata Kira membulat mendengar itu. Tanpa pikir panjang, ia segera menerima tawaran Lacus. Jarang sekali gadis ini berbaik hati padanya, apalagi sampai menawarkan bantuan seperti ini.

"Sekarang, ayo pulaaang! Aku capek sekali..," teriak Lacus. Kemudian mereka semua berjalan santai ke luar lapangan. Lunamaria dan teman-temannya mengobrol di depan. Sementara Kira menemani Lacus di belakang.

"Umm... Lacus," panggil Kira.

"Hmm?"

"Aku... mau minta maaf."

"Maaf? Maaf apa lagi?"

"Waktu itu, waktu kita bolos pelajaran dan melihat langit senja. Rasanya, ada yang salah dengan kata-kataku. Kau... menangis, kan?" tanya Kira hati-hati. Takut kalau gadis ini tiba-tiba menangis lagi.

Lacus menoleh sebentar, lalu kembali menatap jalan di depannya, "Oh. Lupakan saja. Aku pun tidak mengerti kenapa menangis waktu itu, cengeng sekali ya? Haha..," jawabnya.

"Siapa bilang kau cengeng? Baru kali ini aku melihatmu berkelahi seperti tadi. Kupikir cuma gosip, ternyata benar kau jago berkelahi. Kulihat Athrun sampai kena!" sahut Kira heboh. Kira bersyukur Lacus sepertinya tidak terlalu memikirkan masalah itu.

"Itu bukan apa-apa dibandingkan juara bahasa pemrograman internasional, kan?"

"Haah... jangan dibahas lagi, dong!"

"Kenapa? Itu prestasi yang jarang didapat orang. Kau harusnya bersyukur."

"Iya, maafkan aku ibu guru. Eh, ngomong-ngomong sekarang sedang senja tuh!" Kira menunjuk langit di atas mereka.

Lacus mengikuti arah telunjuk Kira. Matanya membulat, "Kau benar!" pekiknya senang.

Lalu mereka berdua tertawa, membuat Luna dan teman-temannya di depan berhenti dan menatap mereka bingung. Kira dan Lacus tidak menyadari hubungan mereka sudah membaik. Kira menyadari bahwa orang seperti Lacus dan teman-temannya juga manusia biasa yang bisa bercanda sewajarnya, seperti sekarang. Sama seperti Lacus yang menganggap Kira bukan dari kalangan dewa atau semacamnya, tapi manusia biasa yang mau menghabiskan waktunya tidak hanya untuk belajar, seperti hari ini.

.


...TBC...


Yap! Chap 3 selesaaaai!

Lagi-lagi saya mengalami buntu ide dadakan, dan dapat ide dadakan pula, jadi begini akhirnya...

Di sini prestasi Kira diumbar-umbar kayak dewa aja wkwk. Bingung sih mau diapain, hah Kira bikin bingung aja! *ditampol Kira*

Gimana? Gak nyambung? Typo?

Di REVIEW aja kalo gitu! REVIEW ya! REVIEW m(_ _)m

Sampai jumpa~