a Gundam Seed Fanfiction
~Just a Contract~
by Seiba Artoria
Disclaimer: Gundam Seed milik Sunrise
Genre: Romance/General
Pairing: Kira X Lacus
Rated: T
Warning: AU, gaje, abal, OOC, typo?
Hope you enjoy!
Chapter 4
Hari Kamis. Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh panitia festival sekolah ORB High School. Karena hanya pada hari ini mereka diizinkan pulang lebih awal untuk mengurusi festival tahunan tersebut. Dengan semangat mereka ke luar kelas untuk melanjutkan tugas masing-masing. Dalam festival sekolah ORB High School, pihak sekolah tidak mendanai mereka sepenuhnya. Karena itu, panitia secara mandiri yang akan menutupi kekurangannya.
Demi mendapatkan uang itu, mereka melakukan macam-macam cara. Bisa dengan berjualan apa saja yang dibutuhkan siswa di sekolah dengan harga lebih tinggi dari biasanya. Atau mengadakan konser kecil-kecilan di jalan yang mereka anggap ramai. Kemudian mereka akan meminta bayaran dari semua orang yang menontonnya, atau biasanya kita sebut dengan "ngamen". Ada juga cara yang lebih elit dengan mengajukan proposal kegiatan ke perusahaan-perusahaan yang mereka pikir akan tertarik dan bersedia mendanai mereka. Perusahaan ini disebut "sponsor". Kalian yang pernah menjadi panitia seperti ini pasti tahu, kan?
Biasanya Kira akan bergantian membantu panitia setiap hari Kamis. Kenapa membicarakan panitia dana? Karena hari Kamis ini, giliran Kira membantu mereka mencari dana di luar sekolah.
"Kira, sudah siap belum?" tanya Yzak Joule, penanggung jawab panitia dana.
"Iya, sebentar lagi," jawab Kira yang sedang mengetik pesan singkat di ponselnya. Rupanya ia meminta kembarannya di kelas, Cagalli, untuk mencatat semua pelajaran yang ditinggalinya.
Setelah selesai, Kira menggendong ranselnya kemudian menghampiri Yzak dan rombongan yang sudah menunggunya di depan gerbang. "Ayo berangkat!" serunya seraya menepuk pundak rekannya itu.
Mereka berjalan beriringan menuju pusat kota. Rencananya, mereka akan berpencar menjadi dua tim dan mengadakan kembali acara "Konser Jalan Raya" di trotoar jalanan yang ramai dilalui orang.
Kira sedang mengingat-ingat jalan yanga akan didatanginya. Kalau tidak salah, ada sungai besar di kanan jalan itu. Jalan itu tidak dilewati kendaraan bermotor karena memang dibangun khusus pejalan kaki. Tiba-tiba Kira merasa tangannya ditarik seseorang sehingga ia mundur ke belakang rombongan.
Kira merasa matanya ditutup oleh telapak tangan yang hangat dan halus. Kemudian terdengar suara "Ki-ra! Tebak siapa?" dari belakang.
Suara ini sudah sangat sering didengarnya dan menjadi sangat familiar di telinganya. Siapa lagi kalau bukan.. "Lacus! Ini kau, kan? Lepaskan, aku tidak bisa melihat." Ya, Lacus Clyne.
Lacus kemudian menurunkan tangannya dan tertawa jahil. "Hebat. Kau bisa tahu itu aku," katanya sambil terkikik.
"Tentu saja, sudah bosan aku mendengar suaramu itu," balas Kira sambil mengucek-ucek matanya.
"Oh iya, sedang apa kau disini?" Kira baru ingat dia sedang tidak di sekolah, dan gadis ini tetap saja mengikutinya.
"Aku? Tidak sedang apa-apa. Tadi aku melihat kau ke luar sekolah ramai-ramai begini. Aku hanya ingin tahu kau mau apa dan kemana. Mau kemana kau?" jawab Lacus yang malah balik bertanya.
Kira menoleh ke kiri dan kanan mencari sesuatu, "Mana mereka? Luna dan yang lainnya?" tanyanya pada Lacus.
"Aku tidak bersama mereka. Jawab pertanyaanku, mau apa dan kemana kau? Jangan coba-coba bolos latihan ya!" sahut Lacus kesal.
"Siapa yang mau bolos, sih? Aku mau ke Archangel Street dan mengumpulkan uang di sana bersama mereka. Kami akan kembali ke sekolah sebelum gelap, kok. Kita masih bisa latihan nanti."
"Ngamen ya?"
Kira sedikit terkejut dan menoleh singkat ke gadis di sebelahnya, "Iya. Sudah kan? Sana per-"
"Ikuut!"
Semua orang yang berjalan di depan yang mendengar teriakan itu berhenti dan melihat keadaan di belakang. Mereka terkejut dan beringsut ke belakang Yzak karena melihat sosok Lacus di sana.
"Aku ikut, Kira! Aku kan sudah janji mau membantumu. Ya, kan?" Lacus masih memaksa Kira untuk ikut bersamanya.
Sementara Kira hanya bisa cengar-cengir di tempat, "Dia memaksa ikut. A-aku yang akan menjaganya," katanya pasrah kepada teman-teman di depannya. Yzak mengangguk dan kembali berjalan. Namun empat orang yang tadi berdiri di belakangnya masih belum beranjak.
Lacus memandang empat orang itu yang menatapnya takut-takut, "Apa lihat-lihat? Lihat ke depan, jalan saja yang benar!" bentaknya pada mereka. Empat orang yang ketakutan itu langsung berbalik dan kembali berjalan dengan gemetaran.
"Kau membuat mereka takut," kata Kira.
"Biarin!" sahut Lacus sambil menjulurkan lidahnya. Kira melengos namun tidak melepas gandengan tangannya dengan gadis itu.
.
Sekarang rombongan itu berada di persimpangan jalan. Sebelum berpisah, mereka sepakat untuk berkumpul kembali di sini tiga jam lagi. Yzak dan dua orang lainnya pergi ke kiri. Kira, Lacus, Dearka, dan Milly pergi ke kanan. Menuju Archangel Street.
Persis seperti ingatan Kira. Terdapat sungai besar yang mengalir di sisi kanan jalan ini, kalau tidak salah namanya sungai Minerva. Di sisi kiri jalan terdapat toko-toko yang menjual berbagai macam barang ataupun makanan. Toko-toko itu sepertinya cukup laris, terlihat dari banyaknya orang yang keluar masuk. Tidak sedikit juga orang yang berhenti di pinggir pagar pemisah jalan dengan sungai untuk sekedar melihat sungai atau merasakan angin yang berhembus pelan di sana. Jalan ini memang ramai.
Kira dan teman-teman juga mengambil tempat di pinggir pagar pemisah tersebut. mereka mulai menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Dearka menurunkan tas gitarnya, lalu mengeluarkan isinya. Milly mengambil dua buah speaker kotak setinggi lutunya dari tas yang sedari tadi ditentengnya. Ia kemudian mencolokkan kabel mik dan kabel gitar ke speaker tersebut. Dearka segera mencoba-coba suara gitar kesayangannya. Lacus hanya diam menyaksikan itu semua. Tidak disangkanya mereka begitu semangat melakukan ini.
"Kenapa? Ayo mulai," ujar Kira tersenyum.
"Ah, i-iya," jawab Lacus gugup.
Kira menarik Lacus mendekat ke Milly dan Dearka yang sedang menarik perhatian pejalan kaki di sana untuk menonton mereka. Beberapa dari mereka berhenti.
"Selamat mendengarkan!" seru Milly kepada mereka yang berhenti.
Dearka mulai memainkan kord lagu yang akan dinyanyikan Milly. Sementara Kira dan Lacus bertepuk tangan mengikuti iramanya sekaligus meramaikan.
"Take It Shake It from Sugar!" seru Milly lagi kemudian menyanyikan bait-bait lagu tersebut dengan semangat seperti penyanyi aslinya.
Penonton yang mengetahui lagu itu mulai bernyanyi mengikuti Milly sambil bertepuk tangan. Pejalan kaki yang mendengarnya mulai berdatangan untuk ikut menonton.
Setelah lagu selesai, Milly mengatakan masih ada lagu lainnya yang akan ia nyanyikan. Saat Milly masih sibuk berbicara, Kira menghampirinya dan meminta mik satu-satunya itu.
"Lagu yang kedua akan dinyanyikan oleh nona Lacus Clyne! Beri tepuk tangan!" seru Kira dan menyerahkan mik itu ke Lacus yang terkejut di tempat.
"Kira! Aku tidak bisa ber-" Kira meletakkan telunjuknya di depan bibir Lacus. tindakannya yang tiba-tiba itu semakin membuat Lacus gugup dan bingung.
"Sst. Kau bilang mau membantuku, kan? Lagu apa saja yang kau tahu."
"Tapi-"
Kira mendorong Lacus ke tengah. Milly yang mengerti mempersilakan Lacus menyanyi dan melangkah mundur ke sebelah Kira. Penonton yang ada bertepuk tangan dan menunggu Lacus menyanyi.
Lacus bingung harus melakukan apa. Ia belum pernah bernyanyi di depan orang banyak seperti ini. Paling-paling Lacus bernyanyi di kamarnya atau di kamar mandi, pokoknya di tempat yang hanya dia sendiri yang bisa mendengar suaranya.
"Um.. lagu dari Kiroro. A Song of Love," kata Lacus pada Dearka di belakangnya. Pemuda berkulit tan itu mengangguk dan jarinya mulai menari-nari di atas senar gitar hijaunya.
Lacus memejamkan matanya dan mulai bernyanyi.
"Suki dakara kisu wo suru.."
(I like you, and so we kiss)
"Aishiteru kara dakiau yo.."
(I love you, and so we embrace each other)
"Kanashii kara naitari.."
(I'm sad, and so I cry)
"Ureshii kara warau yo.."
(I'm happy, and so I smile)
.
Lacus membuka matanya dan mulai bernyanyi riang. Kakinya bergerak kesana-kemari dan tangannya melambai-lambai. Sama sekali tidak seperti seorang amatir. Lacus malah terlihat sangat menguasai situasi.
"Koisuru kimochi wa hontou ni fushigi na mono.."
(The feeling to be in love is truly an amazing thing)
"Anata ni deatte watashi kawatta.."
(Upon my acquaintance with you I changed)
"Ironna jibun shitte ku"
(I continue to get to know my different selves)
"Donna toki mo soba ni ite kureta kara.."
(As you accompany me by my side at all times)
"Anata de nakya watashi.."
(If it wasn't for you, I..)
"Itsumademo kanjiteitai.."
(Till the end of time I want to enjoy this feeling)
.
Semakin banyak orang yang menonton dan bernyanyi mengikuti Lacus. Mereka terlihat sangat menikmati lagu ini. Sebaliknya, Kira malah terpaku di tempat. Melihat Lacus seperti itu sangat membuatnya kagum.
"Ternyata dia pintar menyanyi ya. Suaranya juga bagus sekali," kata Milly pada Kira yang masih bengong.
"A-ah, iya. Aku juga... baru tahu," sahut Kira yang tersadar dari lamunannya. Matanya kembali tertuju ke Lacus yang dengan piawai membawa penonton menikmati lagu. Milly bisa melihat Kira tersenyum lembut.
"Terimakasih. Terimakasih banyak semuanya!" seru Lacus kepada semua penonton setelah ia selesai bernyanyi. Tanpa disadari sudah banyak sekali pejalan kaki yang menonton mereka.
Lacus mengatakan kepada semua penonton kalau lagu yang tadi adalah lagu terakhir karena mereka kembali harus melanjutkan perjalanan. Penonton pun mengerti dan satu persatu meninggalkan tempat itu.
Dearka, Milly, dan Kira bertepuk tangan seiring Lacus berjalan mendekati mereka.
"Kau hebat!" seru Kira.
Lacus berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Kira dan menangis disana. Lacus tidak tahu kenapa, tapi tubuhnya seperti bergerak sendiri. Awalnya Kira sangat terkejut tapi kemudian dia membalas pelukan hangat gadis itu.
"Kenapa menangis? Kau hebat sekali tadi. Aku... suka melihatnya," kata Kira mencoba menenangkan gadis yang menangis di pelukannya sambil membelai lembut rambut merah mudanya.
"Hiks.. aku.. hiks.. tidak pernah.. hiks.. diberi.. hiks.. tepuk tangan seperti ituuu! Huaaa..," tangis Lacus malah semakin menjadi. Kira tidak punya pilihan selain membiarkannya terus begitu sampai dia cukup tenang.
"Hahaha... Ternyata Lacus itu cengeng sekali! Kau jadi tidak menakutkan lagi dimataku, Lacus! Hahaha.." Dearka yang melihat itu sontak tertawa dan kegirangan sendiri.
"Lacus tidak menyeramkan, ya? Malah menyenangkan, hehe," timpal Milly sambil tersenyum.
Lacus melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya, "M-menyenangkan?" tanyanya pada Milly dan dibalas anggukan mantap gadis berwarna rambut cokelat muda itu.
"Te-terimakasih, Milly-san.."
Mereka kemudian membereskan semuanya dan kembali berjalan menuju lokasi berikutnya.
Sudah tiga kali mereka berpindah-pindah tempat untuk menggelar konser kecil itu. Milly dan Lacus bernyanyi bergantian dengan Dearka sebagai pengiringnya. Kira seperti biasa, bertepuk tangan meramaikan.
"Lihat yang kita dapatkan!" seru Kira setelah ia selesai menghitung uang hasil kerja keras mereka.
"Wow! Itu banyak sekali." Dearka mendekatkan kepalanya ke arah uang di dalam tas gitarnya.
"Sepertinya kita berhasil," tambah Milly. Lacus mengangguk setuju.
"Sekarang, ayo kembali! Sudah senja, nih." Kira berdiri dan mengajak teman-temannya untuk kembali berkumpul dengan Yzak dan yang lainnya.
"Sebelum itu, bagaimana kalau kita beli es krim dulu? Di sana itu, tuh!" ajak Milly.
"Ide bagus. Ayo!"
Mereka pun berlari menuju toko es krim di seberang mereka. Setelah mendapatkan es krimnya masing-masing, mereka bernjak kembali menuju persimpangan jalan tadi.
Milly memperhatikan Kira dan Lacus yang berjalan di depannya dan Dearka. Mereka bercanda-canda dengan es krim di tangan mereka berdua. Ini semakin membuat Milly yakin dengan isu yang beredar.
"Jadi mereka benar-benar pacaran, ya?" tanya Milly pada pemuda di sebelahnya.
"Seperti yang kau lihat," jawab Dearka santai.
.
"Lacus, kau dari mana saja, sih?" tanya Luna begitu Lacus dan Kira sampai di halaman belakang sekolah.
"Jalan-jalan. Hehehe..," jawab Lacus santai.
"Dia membantuku mencari dana untuk festival," timpal Kira. Luna langsung menganga tidak percaya.
"Sudahlah, Luna. Ayo mulai latihannya! Pasang kuda-kudamu!" seru Lacus pada Kira. Wajahnya berubah serius dan seram seperti biasanya.
'Apa-apaan dia? Apa dia benar-benar punya kepribadian ganda?' pikir Kira. Kemudian Kira mencoba memasang kuda-kuda seperti yang diajarkan Lacus kemarin.
Hari ini adalah latihan 'bela diri' kedua untuk Kira sejak kemarin. Walaupun baru latihan dasar, ini sudah seperti penyiksaan menurut Kira. Tapi, ini lebih baik ketimbang dirinya menghadapi Athrun tanpa perbekalan apapun. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Peribahasa itu yang selalu memotivasi Kira. Apakah Kira berhasil menguasai teknik berkelahi yang baik dan benar dalam waktu kurang dari satu minggu? Kita lihat saja.
.
...TBC...
Yap! This is it! Chapter empaaat~
sepeertinya chapter ini gagal. iya gak sih?
saya minta maaf atas ke-super-terlambatan update nya.
saya sadar banyak hal aneh di chapter ini seperti speaker setinggi lutut. emangnya ada? adain aja deh.
dan aduuuh kira OOC banget itu kayanya! yaudahlah ya, biar mereka so sweet. setuju? nggak so sweet ya? yaudah *dilempar baskom*
sungai Minerva? gubrak! apaan itu? yah mohon dimaklumi karena saya buntu memikirkan nama sungainya. maafkan sayaa T_T
oh iya, buat yang gak tahu, lagu yang dipakai liriknya di atas itu judulnya A Song of Love - Kiroro. Lirik bait awal dan yang selanjutnya yang dinyanyiin Lacus nadanya jauh berbeda.
genrenya diatas romance, tapi apakah ada kesan romantisnya? semoga ada *berdoa*
.
ini balasan review yang tidak login...
natsu doraguniru: kushina uzumaki? itu kan di Naruto. ini fandom Gundam Seed, jadi berbeda ya :)
Magus-15IchiGo: ehehe iya si Kira ceritanya dilatih biar cowok dikit lah gitu *ditampol*
eyeshield 21: yap! nih udah update :)
.
oke. akhir kata mohon maaf atas segala ke-abal-an dan ke-tidaknyambungan yang ada di sini.
jangan lupa tulis unek-uneknya di ripiu! ripiu! REVIEW! :D
see you later!
