a Gundam Seed Fanfiction
~Just a Contract~
by Seiba Artoria
Disclaimer: Gundam Seed milik Sunrise
Genre: Romance/Friendship
Pairing: Kira X Lacus
Rated: T
Warning: AU, OOC, typo(?), lebai, dll.
Hope you enjoy!
.
.
.
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Selang semenit kemudian, koridor sekolah langsung dipenuhi anak-anak yang berhamburan ingin pulang. Walaupun begitu, tidak sedikit juga yang masih berdiam di kelas untuk sekedar ngobrol sambil menunggu kegiatan klub.
Pemuda berambut cokelat itu masih duduk di kursinya. Menatapi –atau lebih tepatnya meratapi- selembar kertas persegi panjang yang dipegangnya. Sesekali ia memejamkan matanya, lalu mengacak rambutnya, lalu kembali memandangi kertas itu.
"Kau kenapa, sih? Segitu stresnya gak dapat nilai tertinggi?" Pemuda itu menolehkan kepalanya ke asal suara kemudian menghela napas panjang, "Bukan begitu. Rasanya bingung dan... yah pokoknya begitulah," jawabnya.
"Tapi nilaimu ini gak bisa dibilang jelek, kan?" Temannya itu menunjuk-nunjuk angka bertinta merah yang tercetak di pinggir kanan atas kertas tadi.
"Tetap saja nilaimu lebih tinggi dariku, Shinn," balas pemuda itu dengan lesunya.
"Ya ampun, Kira! Sudahlah, yang penting gak mengulang, kan?" ujar Shinn kesal. Ia tidak tahu temannya itu akan segini stresnya memikirkan nilai ulangan fisika yang diterimanya setengah jam sebelum bel pulang tadi. 80 bukan nilai yang jelek, kan? Atau memang begini rasanya jika baru pertama kali mendapat nilai tidak sempurna? Bahkan mendekati sempurna saja tidak, begitu pikir Kira.
"Masalahnya bukan hanya ini, semua nilaiku turun. Ibuku akan mencecarku nanti," lirih Kira.
"Ibu tidak akan memarahimu hanya karena itu. Kau tidak usah takut begitu," timpal seorang gadis pirang yang tiba-tiba sudah bersandar di pinggir meja Kira.
Kira melirik adik kembar non-identiknya sebentar, lalu beralih ke Shinn dan kemudian menarik kertas ulangannya dari tangan temannya itu, "Ya, ya, aku mengerti," katanya sambil berdiri. Ia menarik tasnya dari atas meja kemudian berjalan ke luar.
"Kau harus pastikan dia tidak bunuh diri nanti malam, Cagalli."
"Oh, tahukah kau itu sangat berlebihan, Shinn?" Cagalli memutar bola matanya kemudian berjalan menuju mejanya dan mulai merapikan semua barang yang tergeletak tidak beraturan di sana.
.
.
.
"Dia terlambat," gumam seorang gadis cantik sambil melipat tangannya di depan dadanya. Rambut merah muda panjangnya dibiarkan tergerai sampai menyentuh pinggangnya.
"Mungkin kali ini kau harus menjemputnya, Lacus," usul Luna. Rupanya ia tidak kalah bosan dengan teman satu gengnya itu.
Baru saja Lacus hendak beranjak dari tempatnya, terlihat seorang laki-laki berjalan menyusuri lapangan yang terbilang luas ini menuju mereka. Laki-laki itu berhenti di depan Lacus dan Luna yang sudah menunggu tidak sabar. Ia menggaruk pelan kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, mencari alasan. Tapi, belum sempat ia mengatakan alasannya, Luna sudah keburu menyelanya.
"Lama sekali, sih! Jam berapa ini hah?"
"Maaf. Tadi-"
"Cepat siapkan dirimu!" potong Lacus. Mata birunya menatap Kira dalam-dalam. Ia merasa ada yang berbeda dengan pemuda ini.
Kira menurut. Ia melepas blazer dan ranselnya lalu meletakkannya begitu saja di tanah. Bersamaan dengan itu, Kira bisa mendengar Lacus meneriaki nama salah seorang temannya. Kemudian terlihat seorang gadis berjalan malas menuju mereka sambil memilin rambut kuningnya.
"Baiklah. Sekarang, Kira akan mencoba melawan Luna dan Stellar. Aku akan memperhatikan dari jarak yang agak jauh. Kalian boleh saling serang sepuasnya," tutur Lacus yang kemudian berjalan mundur beberapa langkah. Menyediakan arena tidak resmi untuk mereka bertarung.
Gadis yang tadi dipanggil Stellar ini terlihat paling kekanakan di antara teman-teman Lacus yang lain. Sifatnya itu memungkinkannya melakukan sesuatu yang tidak diduga. Suasana seketika menegang, membuat Kira berkeringat lebih banyak dari biasanya. Tidak ada tanda-tanda dari mereka yang mau menyerang. Tapi jelas sekali Kira yang paling terlihat ketakutan di antara mereka bertiga.
"Ketakutan, eh?" sindir Luna.
"Kau yang menyerang duluan, dong!" desak Stellar.
Tidak ada pilihan lain buat Kira selain menuruti mereka. Kira mencoba menendang. Sekali, dua kali, tiga kali, cukup. Tiga-tiganya tidak ada yang kena. Kali ini Kira mencoba pukulan. Sudah berkali-kali, masih belum mengenai mereka sekali pun. Sejak tadi Luna dan Stellar hanya menghindar sambil senyum-senyum mengintimidasi.
Kira mencoba lagi, kali ini ada perlawanan dari mereka. Kira sudah jelas menjadi korban di sini. Ia tidak berhasil menyerang Luna dan Stellar, atau setidaknya menghindari mereka. Yang ada sekarang adalah badannya terasa seperti habis diinjak sepuluh gajah. Mungkin berlebihan, tapi itu yang dirasakannya sekarang. Adegan saling serang yang berlangsung kurang lebih lima menit itu terhenti ketika tiba-tiba Luna dan Stellar maju berbarengan dan melayangkan tendangan memutar. Otomatis Kira tersungkur dengan wajah yang –err- babak belur akibat benturan keras dari kiri dan kanannya. Kira melambai, isyarat menyerah.
Lacus menyuruh Luna dan Stellar berhenti. Mereka mengerti dan kembali duduk bergabung dengan yang lainnya. Lacus menghampiri Kira yang masih telentang di tanah, menarik tangannya sampai terduduk, lalu berjongkok di hadapannya.
"Apa? Jangan tertawa!" Kira agak kesal atau mungkin malu (?) karena Lacus hanya diam memperhatikan wajahnya yang lebam itu sejak tadi.
"Siapa yang tertawa?" tanya Lacus jujur. Ia lalu menyeret Kira mendekati teman-temannya.
"Tolong kotak itu!" seru Lacus pada teman-temannya. Salah satu dari mereka mengambil kotak yang dimaksud dan memberikannya ke Lacus. "Oh ya, tolong air juga. Ambil saja dari situ," katanya lagi sambil menunjuk ransel Kira. Luna yang berada paling dekat segera mengeluarkan botol air minum lalu menyerahkannya ke tangan gadis itu.
Lacus berterima kasih lalu mendudukkan Kira di atas tanah yang memang beralaskan rumput seluas lapangannya. Kira masih tidak mengerti apa yang mau dilakukan gadis ini padanya. Apa dia belum puas melihat Kira babak belur begini? Entahlah, Kira hanya bisa pasrah sekarang.
"Aku selalu sedia ini. Tapi tidak pernah terpakai karena kau memang tidak pernah luka, kan?" ujar Lacus sambil membuka kotak itu. Ia mengeluarkan alkohol dan kapas secukupnya. Ternyata itu kotak obat. Kira bisa tenang sekarang karena itu bukan kotak berisi rantai atau apapun yang bisa menambah jejak luka di badannya. Lacus menuangkan sedikit air pada kapas untuk membersihkan luka Kira kemudian menyerahkan botol air itu padanya, menyuruh Kira minum.
"Sekarang jadi terpakai. Terima kasih padamu yang lesu sekali hari ini. Padahal kukira kau tidak akan sampai begini. Setidaknya kau bisa mengimbangi mereka." Lagi-lagi Lacus yang bicara. Sepertinya Kira selain lesu juga malas bersuara hari ini, membuat Lacus semakin penasaran.
"Sebenarnya, apa yang terjadi sebelum kau ke sini?" Pertanyaan Lacus barusan hanya seperti angin lalu di telinga Kira. Perhatiannya sepenuhnya terpusat pada sentuhan lembut gadis di depannya. Gadis itu sedang mengobati luka di wajahnya. Lembut sekali, Kira hampir tidak merasakan sakitnya tersentuh alkohol.
Ini pertama kalinya Kira merasa wajahnya sedekat ini dengan seorang gadis. Tapi Lacus terlihat biasa saja, mungkin dia sudah terbiasa mengobati luka seperti ini. Karena itu Kira bisa mengerti kalau gadis ini tidak tahu dirinya sedang salah tingkah. Tanpa sadar Kira sudah memegangi telapak tangan Lacus sejak tadi. Membuat gadis itu berhenti mengusap-usap lukanya.
"Ki-Kira, ada apa dengan tanganku?" Kali ini pertanyaan Lacus berhasil mengalihkan Kira.
"Eh? Ti-tidak apa-apa. Maaf." Kira buru-buru menjawab sebelum terjadi hal yang lebih aneh yang mungkin dilakukannya.
"Ya sudah. Sinikan tanganmu," pinta Lacus. Kira menjulurkan tangannya yang lumayan banyak tergores luka. Lacus hanya tersenyum sebentar lalu kembali mengobati luka Kira.
Setelah kurang lebih sepuluh menit berlalu, Lacus memecah keheningan yang sedari tadi tercipta. "Selesai," katanya sambil tersenyum puas melihat pekerjaannya.
"Apa yang harus kukatakan pada teman-teman jika mereka melihatku begini?" tanya Kira setengah frustasi. Kini sudah melekat dua buah perban persegi berplester di wajahnya. Ditambah perban yang melingkari sepertiga lengannya, Kira terlihat nyaris seperti pasien operasi patah tulang.
"Terjatuh di jalan," jawab Lacus santai. Kira hanya menunduk pasrah. Untung saja besok libur akhir pekan, jadi ia bisa menyembunyikan lukanya sampai dua hari ke depan. Setelah itu ia bisa segera mengenyahkan perban-perban ini.
"Lacus, ke sini sebentar!" Lacus menoleh ke asal suara di belakangnya. Terlihat Luna mengayun-ayunkan tangannya, menyuruhnya mendekat.
Lacus menenteng kotak obatnya dan berjalan mendekati Luna. Sesampainya di sana, Luna mengangsurkan selembar kertas padanya. Lacus menerimanya dengan sedikit bingung. Iris biru mudanya segera memindai kertas ulangan itu. Tertulis Kira Yamato pada kolom nama di sana.
"Sepertinya ini yang membuatnya tidak serius tadi," terka Luna. Lacus mencerna sebentar pendapat Luna barusan, kemudian mengangguk. Pertanda setuju.
Gadis itu kembali menghampiri Kira yang sedang memegangi lukanya. "Ini punyamu?" tanyanya sembari menungayun-ayunkan kertas itu di depan Kira. Pemuda itu mengangkat kepalanya. Mimik mukanya seketika berubah setelah melihat objek di depan matanya. Ia segera menyambar kertas itu dari tangan Lacus dan meremasnya.
"Bukan urusanmu."
"Jadi itu yang membuatmu sangat tidak bersemangat hari ini? Dengar ya, menurutku, itu tidak jelek." Lacus mengambil paksa kertas yang sekarang berbentuk bola tersebut lalu membuka lipatannya. Meluruskannya agar tulisannya bisa terbaca. Kira hanya melengos dan membiarkan Lacus mencoret-coret kertas itu dengan pensil yang digenggamnya saat kembali ke sini. 'Apa yang digambarnya? Mau meledekku, ya?' batin Kira.
"Kau hanya kurang teliti. Caranya sudah benar, tapi salah hitung." Kira langsung mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa yang bicara. Telinganya tidak salah, yang tadi itu benar suara Lacus. Gadis itu duduk di hadapannya sambil menunjukkan hasil coretannya.
Bukan gambar atau tulisan lelucon, yang dilihat Kira malah rentetan rumus fisika lengkap dengan angka bakunya. Ia membalas tatapan Lacus dengan pandangan bertanya. Otaknya masih belum bisa menerima arti dari kombinasi simbol dan angka itu.
Lacus mengerti, pemuda ini minta dijelaskan. Ia memulai penjelasannya dari coretan pertamanya. Kira mendengarkan setiap kalimat Lacus dan mencoba memahaminya. Sesekali ia tersenyum mendengar kalimat Lacus yang menurut Kira unik. Bahasa sendiri memang lebih mudah dipahami ketimbang bahasa buku, bukan?
"Sudah mengerti, kan?" tanya Lacus pada Kira. Pemuda itu terlihat mengangguk kecil setelah selesai menuliskan sederet angka pada kertas yang tiba-tiba jadi lusuh itu. Sekarang, kertas ulangan itu sudah dipenuhi coretan-coretan di setiap bagian kosongnya.
"Sepertinya begitu," jawab Kira pelan. "Ternyata kau mengerti yang begini juga, ya? Kenapa tidak bilang dari dulu?" lanjutnya sambil memandangi Lacus yang sedang berusaha menguncir rambut panjangnya.
"Buat apa bilang-bilang? Yang penting sekarang bisa berguna, kan?" balas Lacus cuek. Tangannya masih sibuk mengumpulkan helai-helai rambutnya yang terbilang tebal.
"Karena itu kau masih diizinkan memakai seragam ini?" tebak Kira.
"Kau menyadarinya? Kurang lebih begitu. Mereka tidak mengeluarkanku dari sekolah karena beranggapan otakku bisa berguna untuk nama baik sekolah..." Lacus berhenti sebentar untuk mengikat simpul terkahir dari pita yang melingkari rambutnya sekarang. Ia mengangkat kepalanya untuk menatap Kira, "...mereka sering memanggilku ke BP untuk menyuruhku berhenti berkelahi dan belajar dengan normal di kelas. Tapi aku terlalu bosan untuk hanya duduk diam mendengarkan guru mengoceh," lanjutnya sambil tersenyum.
Pertanyaan yang mengganjal Kira selama ini terjawab sempurna. Pasti ada alasan yang membuat gadis ini tidak dikeluarkan dan masih diizinkan berkeliaran dengan seragam ORB High School, sekolah yang bisa dibilang elit. Diluar dugaan, penyebabnya adalah kepintaran gadis cuek ini.
"Kapan kau belajar?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Kira. Rasa penasaran yang mendorong Kira menanyakannya. Karena setahunya, Lacus hanya berkeliaran di sekitar sekolah, atau makan dengan teman gengnya di kantin, atau mengobrol di lapangan ini saat jam pelajaran. Tidak jarang juga dia diseret ke ruang BP karena tertangkap basah berkelahi dengan sekolah lain.
"Aku belajar kalau aku mau. Misalnya di rumah kalau tiba-tiba ingin, aku belajar. Atau di sini, atau bahkan kalau lagi mood, aku belajar di kelas," jawabnya santai. Melihat tatapan aneh Kira, ia segera menambahkan, "Tentu saja aku punya buku, Kira."
Mendengar itu, Kira malah tertawa. Bisa-bisanya gadis ini membaca pikirannya yang sedang memikirkan buku.
"Emangnya kamu, belajar terus-terusan. Menurutku, belajar yang begitu sangat menyiksa dan menyita waktu. Sayang, kan, kalau waktu berharga kita terbuang cuma untuk menekuni buku setiap hari? Otak juga perlu istirahat."
"Yang penting itu kualitas, bukan kuantitas. Aku yakin kamu sebenarnya capek," lanjut Lacus.
Kira hanya memandangi Lacus sambil tersenyum. Rupanya gadis ini bisa bicara benar juga. "Kau benar. Aku memang lelah," sahut Kira. Ia kemudian menengadah menatap langit, sekaligus menyamarkan wajahnya yang merona akibat tepukan lembut tangan Lacus di pipi kanannya.
.
.
.
"Sebenarnya kakakmu itu kemana, sih? Dia selalu menghilang setelah bel terakhir," tanya Shinn pada teman sekelasnya, Cagalli, yang juga adalah adiknya Kira.
"Mana kutahu. Mungkin dia ada les lagi," jawab Cagalli seadanya. Sejujurnya, ia sendiri tidak tahu kenapa Kira sering pulang petang akhir-akhir ini. Ia menduga kakaknya diikutkan les lagi oleh ibu mereka.
Shinn tidak menyahut lagi. Mereka terus berjalan menyusuri halaman sekolah. Setelah selesai dengan urusannya tadi, Shinn tidak menemukan siapa pun di kelas kecuali Cagalli yang sedang heboh sendiri memainkan game di ponselnya. Alhasil, mereka memutuskan untuk pulang bersama, lagipula rumah mereka searah.
Langkah Cagalli terhenti ketika mereka melewati lapangan yang memang dekat dari sekolah. Matanya menangkap sosok yang dikenalnya sedang duduk bersila di rumput, berhadapan dengan seorang gadis. "Itu... Kira, kan? Lalu yang di depannya itu..."
"Lacus. Jadi begini les barunya Kira?" sambung Shinn yang ikut memperhatikan sahabatnya dari kejauhan.
"Masa? Dia pacaran setiap hari?" tanya Cagalli pada dirinya sendiri. Selama ini, Kira tidak pernah tertarik dengan urusan wanita. Yang bisa mengalihkan perhatiannya dari pelajaran hanya komputer, atau laptop, atau notebook, atau apalah itu. Pokoknya benda kotak dengan sejuta aplikasi di dalamnya itu.
Shinn hanya tertawa kecil menanggapi Cagalli. Sedikit banyak ia kagum pada Lacus yang bisa membuat Kira menurutinya. Meski awalnya terpaksa, siapa yang tahu kalau lama-kelamaan Kira menikmatinya? Shinn menepuk pelan pundak Cagalli, menyuruhnya meneruskan langkahnya. Cagalli mengerti, ia memutuskan untuk bertanya langsung saja pada Kira nanti.
.
.
.
Kira merasa sangat sial. Sepulangnya dari latihan tadi, ibunya langsung mencecarnya. Bukan masalah nilainya yang turun, melainkan arti dari semua lukanya yang diperban itu. Kira tidak sanggup berbohong pada ibunya. Walaupun akhirnya ia mengikuti jawaban Lacus, karena ia memang 'terjatuh' saat latihan tadi. Ditambah lagi Cagalli yang terus mendesaknya untuk menjelaskan sejujur-jujurnya tentang hubungannya dengan Lacus.
Belum selesai sampai di situ, ibunya menyuruhnya membeli sup krim di toko favoritnya. Ibunya tidak mau sup dari toko lain karena merasa sudah cocok dengan rasa di sana. Kira tidak habis pikir kenapa ibunya cepat sekali berubah pikiran. Tadi ia tampak sangat mengkhawatirkan putranya itu yang pulang dalam keadaan luka-luka, tapi sekarang malah menyuruhnya berjalan jauh malam-malam. Entahlah, mungkin memang begini rasanya kalau punya ayah yang kerja di luar negeri. Ayah yang jarang pulang memaksa ibunya untuk menyuruh Kira melakukan tugas laki-laki.
"Ternyata masih ramai." Kira bergumam sambil menyapu pandangan ke sekelilingnya. Ia sedang berjalan di Archangel Street, jalan yang kemarin menjadi lokasi ngamennya. Ya, toko makanan yang menjual sup krim itu terletak di jalan ini. Walaupun tidak sebanyak siang hari, orang-orang yang berlalu-lalang temasuk banyak dilihat dari waktunya, pukul setengah sebelas malam.
Iris violetnya berhenti bergerak ketika melihat dari kejauhan bayangan seseorang sedang berdiri di pinggir jembatan yang menyebrangi sungai Minerva. Lampu warna-warni jalan membantu memperjelas penglihatannya. Semakin jelas, Kira merasa semakin mengenal sosok itu.
"Lacus? Sedang apa dia malam-malam begini?"
Kira beranjak dari tempatnya. Langkahnya yang semula pelan berubah menjadi lari ketika ia melihat sosok yang dikenalinya sebagai Lacus itu memanjat pagar jembatan. Semakin dekat, semakin tampak tatapan kosong Lacus pada air yang mengalir pelan di bawahnya. Wajahnya yang pucat pasi mempertegas dugaan Kira akan apa yang mau dilakukannya. 'Bodoh,' umpat Kira dalam hati. Ia mempercepat larinya secepat yang dia bisa.
.
.
~To be continued~
Halo minna-san, saya udah update chapter 5 nih *ditabok*
Oke, saya tahu emang lama banget. Mohon maafkan saya (_ _")
Di chap ini gak terlalu ada konfliknya karena emang cuma pengantar aja *gaya*
Mohon maaf kalau adegan berantemnya gak kerasa. Saya gak pandai menuliskannya, sih.
Mohon maaf juga kalo romance nya super duper dikit atau malah gak ada (?)
Apa saya perlu ganti genre ya?
Oh iya, saya juga rubah genre General jadi Friendship. Cocok gak kalo itu? Abisnya daripada General, agak-agak gimanaaa gitu~
Setelah mencoba-coba berbagai jenis spasi, saya merasa nyaman dengan yang model ini.
Menurut kalian chapter ini gimana? Jawab di review ya!
Ja~, mata ne minna-saaan ^o^
Jangan lupa... Review!
