Yap, halo semua! Lama tidak jumpa ^^

This is it, chapter 6! Langsung aja ya!

.

a Gundam Seed Fanfiction

~Just a Contract~

by Seiba Artoria

Disclaimer: Gundam Seed milik Sunrise dan Bandai

Genre: Romance/Friendship

Pairing: Kira X Lacus

Rated: T

Warning: AU, OOC, lebai, typo(?), dll.

Happy reading!

.


Chapter 6

.

Malam itu, jembatan yang menyebrangi sungai Minerva ramai seperti biasa. Apalagi, ini malam akhir pekan. Banyak pasangan muda-mudi yang menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol sambil memandangi sungai. Mereka tidak menyadari seorang gadis sedang memandangi sungai itu dengan tatapan kosong.

'Anginnya dingin sekali. Pasti... air di bawah sana juga dingin, kan? Kalau aku jatuh, bisa-bisa badanku langsung beku. Hatiku juga akan beku. Benar juga, aku hanya tinggal jatuh, lalu semua selesai. Aku tidak akan merasakan sakit seperti ini lagi.'

Perlahan gadis itu memanjat pagar jembatan dengan gemetaran. 'Hanya tinggal menjatuhkan diri, Lacus. Kau pasti bisa,' batinnya lagi.

Tepat setelah Lacus melompat, Kira meraih tangannya.

"Kyaaaaaa!" Lacus spontan berteriak setelah sadar ia tidak jadi terjatuh. Rasa takutnya yang tadi hilang kini muncul kembali.

Kira segera menariknya ke atas. Ia bisa merasakan tangan Lacus gemetar hebat juga berkeringat. Setelah mereka berhasil berdiri lagi, kerumunan orang yang tadi sempat mengelilingi mereka mulai bubar.

"Apa yang kau lakukan? Bodoh!" Kira menangkup kedua pipi Lacus dengan tangannya, memaksa gadis itu mendongak menatapnya.

Lacus tidak bisa menjawab. Entah kenapa bibirnya tiba-tiba kaku, tidak sanggup berkata apapun. Semakin lama menatap mata Kira malah membuatnya semakin ingin menangis.

"Jangan pernah berpikir melakukan itu lagi!" ujar Kira setengah berteriak. Pemuda itu menarik gadis yang gemetaran di depannya dan memeluknya erat.

"Maaf," bisik Lacus pelan sekali. Ia tidak sanggup lagi menahan air matanya yang akhirnya tumpah keluar. Lacus menangis sesenggukan dalam dekapan Kira.

Kira melepas pelukannya setelah Lacus menjadi lebih tenang. Walaupun tubuhnya masih gemetar, setidaknya tangisnya sudah tidak seperti tadi. Ia mengajak gadis itu menepi ke sebuah minimarket cepat saji dan menyuruhnya menunggu di kursi luar sementara ia membeli minum di dalam.

"Ini untukmu. Minumlah," ujarnya seraya menyodorkan segelas cokelat panas kepada Lacus. Lacus mengambilnya kemudian meminumnya sedikit.

"Sebenarnya ada apa denganmu?" Kira mencoba bertanya.

Lacus hanya diam. Matanya menatap kosong gelas kertas di genggamannya. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Terserah kamu jika tidak mau menceritakannya," lanjut Kira. Padahal ia penasaran setengah mati.

"Ibu..." Kira langsung menolehkan kepalanya begitu mendengar Lacus bicara.

"Sejak kecil ayah bilang padaku kalau ibu... ibu sudah meninggal. Tapi... tadi seseorang datang ke rumahku. Dia bilang ibu sedang sakit dan ingin sekali bertemu denganku..." Lacus terus saja menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang mulai mengalir lagi. Ingatannya tentang kejadian beberapa jam lalu kembali terulang.

.

.

.

"Jadi... kamu tidak boleh bertemu ibumu?" Kira memberanikan diri bertanya setelah Lacus berhenti bercerita. Lacus mengangguk pelan.

"Kenapa?"

Kali ini Lacus menggeleng, "Ayah tidak pernah membicarakan soal itu," jawabnya pelan.

Kira berhenti bertanya. Menurut cerita Lacus tadi, ayahnya sendiri sudah menganggapnya tidak berguna lagi. Tidak heran gadis ini sempat berpikir mengakhiri hidupnya seperti tadi.

"Aku... harus bagaimana, Kira?" tanya Lacus sambil menatap pemuda di sampingnya. Sesekali air matanya mengalir tanpa bisa dikontrol.

Kira terlalu bingung untuk menjawab. Ia masih tidak menyangka Lacus punya masalah seperti ini di keluarganya. Ia lalu menarik Lacus mendekat, memeluknya lagi. Berharap dengan begini bisa mengurangi beban pikiran gadis ini.

"Apapun masalahmu, jangan pernah berpikir melakukan itu lagi," bisik Kira sambil membelai rambut merah muda gadis di pelukannya.

Terjadi keheningan panjang di antara mereka setelah itu. Tidak ada satu pun yang berani bicara karena tidak tahu apa yang mau dibicarakan. Tiba-tiba angin malam kembali berhembus. Membuat gadis cantik itu menggigil dan mengeratkan pegangannya pada gelas kertas hangat di tangannya. Wajar saja, Lacus berlari dari rumahnya dengan emosi. Ia tidak peduli apapun lagi saat itu selain pergi sejauh-jauhnya dari rumahnya.

Kira yang melihat itu melepas jaketnya dan menyampirkannya di pundak Lacus. Gadis itu menoleh sebentar, ia mendapati Kira tersenyum lalu mengangguk. Lacus mengerti lalu menurut saja untuk memakainya. Ini tawaran bagus daripada dia mati kedinginan.

"Sudah tengah malam. Sebaiknya kamu pulang," usul Kira.

Lacus langsung menggeleng keras, "Tidak mau."

"Lacus-"

"Aku tidak mau pulang dan bertemu ayah."

Kira menggaruk pelan tengkuknya. Ia bisa mengerti kalau Lacus tidak mau pulang. Tapi masalahnya, gadis ini mau ke mana kalau tidak pulang?

"Lalu, kamu mau ke mana? Ini sudah malam."

"Aku ikut denganmu. Ke mana saja terserah," jawabnya tegas.

Gadis ini mulai memerintahnya lagi. Kira semakin bingung dengan jawaban Lacus. Merasa tidak punya pilihan lain, Kira memutuskan pulang saja.

"Aku mau pulang. Tetap mau ikut?" tanya Kira, berharap Lacus berubah pikiran. Tapi, gadis itu malah mengangguk.

Kira menghela napas. "Ya sudahlah," sahutnya pasrah.

.

.

.

Kira berdebar-debar menunggu di depan rumahnya. Ia tidak sanggup –lebih tepatnya tidak mau- membayangkan bagaimana reaksi ibunya nanti ketika melihat Lacus. Belum sempat memikirkan alasan, pintu rumahnya keburu terbuka.

"Kira, kenapa lama sekali? Memangnya antriannya sepanjang itu? Mana-" Kalimat Via, ibu Kira, terhenti begitu ia melihat sesosok perempuan mengekori anak lelakinya.

Kira menunduk, tidak berani memandang ibunya. "Mm... Ibu, aku minta maaf. Aku lupa soal supnya," jawabnya pelan.

Tidak mendengar jawaban dari ibunya, Kira mengangkat kepalanya. Ia melihat ibunya melirik Lacus lalu melemparkan pandangan penuh tanya padanya.

"Oh iya, ini... temanku. Namanya Lacus. Karena ada suatu masalah dia akan menginap sementara di sini. Boleh, kan, Bu?" Pertanyaan Kira itu lebih terdengar sebagai pernyataan di telinga Via.

"Oh? Ehm... Y-ya, tentu saja. Silakan masuk, Lacus-chan!" balas Via sambil mempersilakan tamu dadakannya masuk. Ia berlagak biasa saja padahal dalam hatinya berjanji akan mencecar Kira.

Lacus yang sedari tadi hanya membisu di belakang Kira tersenyum singkat kemudian mengikuti Cagalli menuju kamar yang akan mereka tempati bersama. Sementara itu, Kira masih "ditahan" di ruang keluarga oleh ibunya.

"Baiklah, Kira. Sekarang jelaskan semuanya. Semuanya!"

.

.

.

Pagi itu, Kira terbangun karena aroma khas kayu manis berhasil menggelitik indra penciumannya. Ia segera bangkit menuju kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi, supaya terlihat lebih segar. Setelah selesai, Kira dengan semangat berlari menuju ruang makan. Begitu sampai di dapur, Kira dibuat terbelalak oleh pemandangan di hadapannya. Seorang Lacus sedang asyik membuat sarapan bersama ibunya. Bahkan mereka ngobrol sambil sesekali tertawa renyah.

"Sepertinya ibu suka dengan dia." Tiba-tiba Cagalli berbisik di samping telinga Kira.

"Ca-Cagalli! Bikin kaget saja! Memangnya kenapa kalau ibu suka?" Kira berusaha terdengar tenang, padahal wajahnya sedang merona. Cagalli tidak menjawab. Ia hanya tersenyum jahil lalu menghampiri ibunya dan Lacus di dapur.

"Pagi, Kira! Ayo sarapan!" sapa ibunya begitu melihat Kira.

"Ah, i-iya."

Mereka berempat kemudian duduk bersama di meja makan. Di tengah kedamaian itu, Via mengucapkan sederet kalimat yang menurut Kira dan Lacus sangat ambigu.

"Kamu pintar memasak ya, Lacus-chan! Kamu pasti bisa jadi istri yang baik buat Kira nanti," ujar Via tanpa dosa.

Sekejap saja Kira dan Lacus tersedak sampai hampir memuntahkan makanan mereka. Mereka saling pandang sebentar sebelum mengibas-ibaskan telapak tangan mereka di depan wajah Via.

"Lho, kenapa? Memangnya ibu salah? Setiap pasangan, kan, maunya langgeng sampai menikah," tambahnya lagi. Via berusaha keras menahan tawanya melihat dua remaja di depannya sedang merona hebat.

Melihat Lacus yang menunduk saja, Kira mencoba membantah. "B-bukan begitu. A-aku... ma-maksudku... kami..." Kira bingung sendiri dengan kalimatnya. Kenapa dia tiba-tiba gagap begini?

"Mereka mau lulus sekolah dulu, Bu. Baru setelah itu menikah. Iya, kan, Kira?" timpal Cagalli penuh kemenangan. Sepertinya gadis pirang ini benar-benar terhibur pagi ini.

Kira tahu, pasti Cagalli yang bercerita pada ibu mereka soal ini. Karena seingatnya, ia tidak mengatakan kalau dirinya dan Lacus adalah sepasang kekasih. Merasa kalah telak, Kira hanya memberi death glare paling mematikan pada Cagalli yang dibalas juluran lidah oleh adiknya itu.

"Oh ya, Lacus-chan, tante sudah dengar masalahmu dari Kira. Mungkin ayahmu sedang capek jadi tidak bisa mengontrol emosinya. Lupakan saja, ya!" ujar Via sambil tersenyum manis.

"Iya. Terima kasih sudah mengizinkanku menginap di sini," jawab Lacus.

"Tidak masalah. Kamu malah membantu sekali. Lain kali menginap lagi juga boleh, kok! Siapa tahu ayah sedang ada di sini-"

"Ibuuu!" Kira segera menyela sebelum ibunya mengoceh lagi.

Tidak terjadi hal aneh lainnya setelah itu. Mereka makan dengan tenang walaupun Kira dan Lacus masih salah tingkah. Hanya saja, Via terlihat senang mengobrol dan bertanya ini-itu kepada Lacus. Ini gawat menurut Kira, karena jika ibunya sudah suka, ia akan benar-benar serius. Meski begitu, sebagian hatinya merasa lega luar biasa mengetahui ibunya mau menerima Lacus. Kira senang, tentu saja. Itu yang membuat seulas senyum terkembang di wajah tampannya, dan terlihat oleh Cagalli.

.

.

.

"Sudah merasa baikan?"

"Hm, sepertinya begitu. Terima kasih banyak, Kira."

"Tidak masalah."

Hening. Sudah hampir satu jam mereka duduk berdua di depan tivi. Tidak bisa dibilang menonton karena mereka memang sama sekali tidak konsentrasi pada acara tivi. Sebenarnya mereka bingung mau melakukan apa setelah Via minta izin pergi karena ada urusan di luar dan Cagalli ikut-ikutan keluar dengan alasan bertemu teman.

"Jangan terlalu dipikirkan," ujar Kira tanpa menoleh dari layar tivi.

"Iya, aku tahu."

"Memangnya apa?"

"Soal ayah dan ibuku, kan?"

Kira tersentak, ia baru ingat masalah itu. "Oh ya, itu. Juga, omongan ibuku tadi pagi."

"Ah, hahaha. Tenang saja. Tapi ibumu itu menyenangkan, ya."

"Oh ya? Syukurlah kalau dia tidak menyebalkan."

Hening lagi. Kira yang tidak tahan dengan atmosfir ini mencoba mencairkan suasana.

"Hei Lacus, kamu tidak menyuruhku latihan?"

"Jadi kamu merasa sudah sembuh total?" Lacus memperhatikan perban dan plester yang menempel di wajah Kira. "Kalau iya, kita bisa mulai sekarang," lanjutnya.

Kira panik, tidak menyangka candaannya dianggap serius, "Tidak, belum. Lebih baik kita istirahat, kan? Kamu juga pasti capek lari-larian semalaman," sahutnya sambil nyengir.

Lacus tertawa sambil memukul pelan lengan pemuda di sampingnya. Kira yang panik terlihat lucu sekali di mata gadis ini. Sementara itu, Kira senang bisa membuat Lacus tertawa. Berarti dia benar-benar merasa lebih baik dan tidak lagi memikirkan soal kemarin. Tiba-tiba sebuah ide terpikirkan di otak Kira.

"Lacus, bagaimana kalau kita pergi main?" tanya Kira hati-hati.

"Main?"

"Iya. Main ke taman bermain, misalnya," jawab Kira malu-malu. Meski begitu, ia sangat berharap Lacus mau menerima ajakannya.

"Maksudmu kencan?" Ding dong! Lacus menebak dengan tepat. Kira memang sengaja memanipulasi kata itu dengan sederet kalimat tadi.

"Apapun itulah. Walaupun kita hanya pura-pura pacaran, tapi kita harus meniru yang aslinya, kan?" Wajah Kira memerah lagi, belum pernah seumur hidupnya ia mengajak kencan seorang gadis.

Lacus tertawa kecil dengan pilihan kata yang digunakan Kira, "Menurutmu begitu? Baiklah, sepertinya menyenangkan,"senyumnya.

"Ehem! Jadi ada yang mau bersenang-senang tanpa mengajakku?" Kira dan Lacus serempak menoleh ke asal suara di belakang mereka. Ternyata Cagalli sudah mendengar obrolan mereka sejak tadi.

Kira buru-buru menyanggah, "Caga-"

"Cagalli juga boleh ikut, kok. Iya, kan, Kira?" potong Lacus.

"Baiklah, kau juga ikut," sahut Kira sambil melengos kesal. Kira juga tidak tahu kenapa dia harus kesal, bukankah makin ramai makin asyik?

Cagalli menampakkan senyum kemenangannya. Mereka segera bersiap-siap dan setuju untuk berangkat satu jam lagi. Lacus sempat bingung karena dia tidak membawa sehelai baju pun ke sini. Untuk mandi pagi saja, dia pinjam kausnya Cagalli.

Melihat Lacus yang kebingungan, Cagalli mengahmpirinya, "Tenang saja, Lacus. Begini-begini aku juga punya baju feminim."

"Baju feminim? Tidak usah, aku lebih suka yang biasa saja, Cagalli," sanggah Lacus. Pikirannya langsung melayang ke baju-baju wara cerah yang menurutnya merepotkan. Lacus seringkali tersandung jika mengenakan baju macam itu.

"Tidak. Aku akan membuat Kira terpesona. Lihat saja!" sahut Cagalli sambil mengepalkan tangannya penuh semangat.

"Cagalli!"

Cagalli tidak menghiraukan Lacus berusaha menolaknya. Ia segera menarik teman yang baru dikenalnya semalam itu naik menuju kamarnya. Bersiap membuat kejutan untuk kakaknya tercinta, Kira Yamato.

.


~To be continue~


.

Fiuh~ akhirnya chapter 6 selesai. Saya terharu :')

Ohisashiburi desu ne~ minna-sama ^^ *digampar*

Oke, saya tahu ini update yang sangat terlambat, karena itu mohon maafkan saya *bow*

Jadi, inilah chapter 6. Hanya ini yang bisa saya ketik. Maaf kalu gak nyambung atau lebai atau gaje.

Sekali lagi maaf! *bow* (lagi)

Untuk chap selanjutnya juga gak janji bisa cepat ya :'D

Yaudah, saya sudahi aja curcol gaje ini.

Terima kasih sudah mau baca! Terima kasih juga yang sudah review! Hontou ni arigato~u! (_"_)

Review jangan lupa ya! Review dari kalian sangat mempengatuhi daya ketikku (?) ^^

Jaa mata~

-Seiba