A/N:- baru sadar dari kemarin gak pake ini. Maafin Sei T.T
Fiuuuuh~ akhirnya bisa update juga. Senangnya~~~~
Maaf (lagi) karena keterlambatan kali ini yang udah melewati batas kewajaran *bow*
Saya sendiri juga bingung gimana caranya biar bisa update rutin XO
Mau balas review dari flay lovers: Begitukah? Ano ... sebenernya saya gak maksud merendah atau gimana, cuma merasa gak enak aja karena update yang sangat amat telat sekali. Tapi, kalau kamu beranggapan begitu, hm ... maaf ya! Dimaafin, kan? Sip. Terima kasih sudah mau baca :)
Dan untuk Ritsu-ken: Aku cobain elipsi nih :p Bersedia koreksi lagi kali ini? Hehehe, sankyuu ya concrit-nya!
Oh iya, saya ubah genre lagi. Plin-plan banget ya? Soalnya ngerasa rada gak nyambung gimana gitu. Aduh jadi bingung. Pokoknya selamat membaca dan ... berikan komentar juga masukanmu di review yaa! Arigatou gozaimasu :D
.
a Gundam Seed Fanfiction
~Just a Contract~
by Seiba Artoria
Disclaimer: Gundam Seed milik Sunrise dan Bandai
Warning: AU, OOC, mirip sinetron, typo(?), dll.
Happy reading!
.
.
Chapter 7
.
.
"Ayo berangkat!" Kira segera menoleh begitu mendengar suara adik kembarnya.
Baru saja mau membalas ucapan Cagalli, Kira mendadak tidak bisa bicara setelah melihat penampilan gadis yang sangat dikenalnya namun tiba-tiba menjadi tidak bisa dikenali yang berdiri tepat di sebelah Cagalli.
"L-Lacus...?" Kira menatapnya lekat-lekat. Kepala sampai kaki, kaki menuju kepala.
Benar-benar, Cagalli benar-benar melaksanakannya dengan baik. Ia berhasil membuat Kira tertegun. Namun bukan karena apa, melainkan karena Lacus terlihat ... kacau. Rambut merah mudanya diikat ke atas setengah dengan pita kelap-kelip warna emas sisa hiasan bingkai foto tugas seni rupa milik Cagalli, sementara sisanya diikat ekor kuda. Gaun pesta hijau muda renda-renda ala lolita yang dulu dibelikan ibunya dan pernah hampir digunting oleh Cagalli menutupi tubuhnya hingga mencapai lutut, lengkap dengan kaus kaki polkadot dan sepatu pantofel merah tua.
Kira yakin Lacus akan terlihat imut-imut saja kalau ... kalau make-up di wajahnya tidak setebal itu. Kulitnya yang memang sudah putih ditambah bedak yang keterlaluan putih dan lipstik merah cabai yang juga dipoleskan di pipi membuat Lacus semakin terlihat seperti boneka Dakochan. Kira sempat berpikir Cagalli berniat mengerjainya.
"Ya, benar ini Lacus. Bagaimana Kira? Aku hebat, kan?" sombong Cagalli sambil menepuk-nepuk dadanya tanpa dosa.
"Sudah kuduga."
"Eh?"
"Sudah kuduga kau memang tidak ada bakat berdandan atau mendandani orang, Cagalli."
"Apa katamu?"
Akibat kalimat tidak perlu yang diucapkannya tadi, sekarang Kira harus menghindari murkanya Cagalli. Terjadilah aksi kejar-kejaran tidak penting di halaman rumah mereka. Lacus yang sedari tadi menunduk karena malu setengah mati dan tidak sanggup memandang Kira menjadi semakin kesal hingga tanpa sadar meninggikan suaranya.
"Berhenti kalian berdua!"
Teriakan Lacus barusan sukses membuat dua bersaudara itu berhenti. Setelah melalui beberapa argumen, Cagalli akhirnya bersedia membereskan segala kekacauan yang diperbuatnya pada teman pink-nya itu.
"Nah, sudah selesai. Ayo pergi sekarang!" seru Cagalli setelah ia membuat penampilan Lacus kembali normal.
"Aku tidak jadi pergi. Kalian pergi saja kalau mau." Lacus duduk di sofa kemudian meraih majalah yang tergeletak di atas meja ruang tamu tersebut lalu pura-pura membacanya.
"Ya sudah, kalau gitu nggak jadi," balas Kira lesu sambil menjatuhkan dirinya di sofa terdekat, tepat di sebelah Lacus.
"Eeeh? Kenapa?"
Tidak mendapat jawaban dan malah pandangan sinis dari mereka berdua, Cagalli mencoba berdebat lagi, "Lalu sekarang kita mau apa? Padahal aku sudah senang mau pergi maiiiin!" protesnya.
"Gara-gara kau juga sih," sinis Kira tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya. Cagalli hanya cemberut dan meminta maaf tanpa menyadari dirinya yang sudah membuat suasana jalan-jalan menghilang sama sekali dari tempat itu.
Lacus mendongak kemudian tersenyum penuh arti, "Kalau begitu ... Kira, ayo latihan saja!"
.
.
.
"Kenapa ... jadi ... begini ... ?"
Kira terduduk lemas di tengah lapangan familiar yang akhir-akhir ini sering didatanginya. Tangannya meremas-remas rumput di sekitarnya untuk kemudian mencabutnya dan menghamburkannya lagi di sembarang tempat, bosan. Ia terlihat seperti manusia paling tidak produktif di antara tiga orang di sana.
"Aww! Apa ini?" seru Lacus tiba-tiba saat serbuk-serbuk aneh menggelitik bola matanya.
"Aaah, maafkan aku, Lacus! Aku tidak sengaja, sungguh!" Kira yang panik buru-buru menghampiri Lacus dan mengusap-usap mata gadis itu.
"Apaan sih! Kau apakan mataku, Kira?" Lacus spontan memukul tangan asing yang berada di atas kelopak matanya.
Kira menarik tangannya ragu-ragu, "Maaf ... aku tidak sengaja, sungguh! Tadi aku bingung, lalu aku meremas-remas rumput di sekitarku karena bosan, lalu-"
"Ya, ya, lalu masuk ke mataku. Sudah sana siap-siap! Aku mau menghubungi teman-teman untuk ke sini!" potong Lacus acuh sambil berlalu.
Kira menghela napas lalu mengangguk pelan. Ia benar-benar sedang tidak semangat melakukan apapun. Sepertinya semua rencananya hari ini tidak ada yang berjalan benar.
"Kiraaaaaaa!"
Cagalli berhenti tepat di depan kakak kembarnya sambil mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah. "Ini, aku dapat tongkatnya!" serunya seraya mengayunkan sebuah batang kayu agak besar di tangan kanannya dengan semangat, membuat Kira ternganga tidak mengerti.
"Ah, terima kasih, Cagalli-chan! Sekarang kita bisa mulai sambil menunggu teman-temanku," sambar Lacus dari belakang.
Mereka kemudian melakukan pemanasan singkat untuk meregangkan otot-otot mereka agar tidak kaku nantinya.
Ckiiiiit...
Suara decit rem mobil yang berhenti tidak jauh dari mereka diikuti derap langkah kaki yang terkesan memburu membuat tiga orang ini menoleh ke asal suara di pinggir lapangan. Mata mereka sekejap terbelalak. Satu terkejut ketakutan, satu terkejut tidak menyangka, dan yang lainnya terkejut ketakutan dan tidak menyangka.
Lacus buru-buru memalingkan wajahnya ketika orang-orang –lebih tepatnya pria- berseragam hitam-hitam formal itu menghampiri mereka.
"Nona Lacus," panggil salah satu pria yang juga berkacamata hitam itu. Lacus memejamkan matanya, langkahnya yang semula ingin bersembunyi di balik Kira terhenti.
"Nona-"
"Ada apa?" potong Lacus tanpa memalingkan wajahnya.
"Anda diminta pulang oleh Tuan Siegel sekarang juga." Suara pria itu terbilang tegas dan napasnya cukup stabil untuk orang yang sepertinya baru saja berlari ratusan meter. Tidak salah Siegel Clyne mempekerjakannya sebagai bodyguard.
"Katakan padanya aku tidak mau pulang! Kalian boleh pergi!" bentak Lacus. Cukup keras untuk membuat Kira dan Cagalli terlonjak sedikit, namun tidak cukup tegas untuk membuat segerombolan pria berwajah datar itu takut atau sekedar terkejut.
"Maaf, tapi kami sudah mencari Anda kemana-mana, Nona. Sejak Anda pergi semalam, Tuan Siegel belum tidur sedetik pun," desak pria yang lainnya.
Lacus menghela napas panjang. Tidak pernah sebelumnya ayahnya peduli pada apapun yang berkaitan dengan dirinya. Mau sepele atau serius, beliau akan selalu menyuruh orang lain mengurusnya dan kembali fokus pada pekerjaannya. Ya, ayahnya seperti hidup untuk bekerja. Bukan sebaliknya. Karena itu Lacus tidak percaya kalau ayahnya sampai tidak tidur karena memikirkannya.
"Tidak perlu bohong padaku. Ayah tidak mungkin-"
"Beliau ingin bicara soal ibu Anda, Nona," potong pria itu lagi tanpa izin.
Lacus terdiam. Bibirnya masih setengah terbuka mengingat ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Matanya semakin membulat dan wajahnya memanas. Kepalanya mulai terasa pening dan pandangannya mulai samar. Ia berusaha keras menahan bulir air mata di ujung kelopak matanya.
Lacus menunduk, "A ... apa ... maksudmu?"
"Tuan Siegel ingin menjelaskan kepada Anda mengenai ibu Anda. Beliau juga bersedia menjawab semua pertanyaan Anda. Semuanya, Nona Lacus."
Hening.
Tidak ada yang berani bersuara saat itu. Kira terdiam. Matanya fokus pada gadis di sampingnya, menunggu jawabannya. Cagalli yang biasanya berisik ikut terbawa suasana. Hanya matanya yang bergantian memandang Kira, Lacus, lalu pria kacamata itu secara bergantian.
Hingga akhirnya kehenignan itu dipecah oleh suara pelan Lacus yang gemetaran, "Baiklah, aku pulang..."
.
.
.
"Tenang saja, Kira..."
Kira menoleh, mengalihkan pandangannya dari sedan-sedan hitam yang melaju semakin menjauh dari lapangan itu. Dilihatnya Cagalli tersenyum sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Lacus akan baik-baik saja. Jangan terlalu cemas begitu! Ayo senyum, senyum!" seru Cagalli lagi. Kali ini sambil menonjok pelan lengan kembarannya itu.
Kira tidak menjawab. Ia menunduk, lalu tersenyum kecil.
'Semoga berhasil, Lacus...'
.
.
.
To be continue...
