"Kira!"
Pemuda yang merasa dirinya terpanggil segera menoleh, didapatinya seorang gadis blonde sedang berlari mendekatinya di koridor sekolah mereka.
"Ada apa, Cagalli?"
Cagalli tersenyum sambil menepuk pelan pundak kakak kembarnya. "Kau yang ada apa? Hm?"
"Apa maksudmu? Aku tidak apa-apa." Kira melengos dan melanjutkan langkahnya.
"Jangan bohong padaku, Kira!"
Cagalli menyamakan langkahnya. Tidak mendapat respon apa-apa, ia berkata lagi. "Tidak perlu khawatir. Aku yakin Lacus baik-baik saja."
Kira berhenti. Cagalli mengehla napas. Tebakannya benar, ini semua tentang Lacus.
"Maaf, Cagalli. Latihan hari ini mungkin akan lebih lama. Jadi, kau tidak perlu ikut dan pulang saja duluan. Sampai nanti!"
Belum sempat Cagalli menjawabnya, Kira keburu melesat menuruni tangga. Cagalli berdecak pelan. Ia lalu menuruni tangga yang tadi dilewati Kira sambil setengah melamun.
Sudah tiga hari ini Lacus tidak pernah terlihat di mana pun. Di sekolah, di lapangan, di jalan, di mana pun. Gadis itu juga tidak memberi kabar apa-apa mengenai keberadaannya kepada Kira. Dihubungi juga tidak pernah bisa. Cagalli dan Kira sudah menanyai Luna dan yang lainnya berkali-kali. Tapi jawaban mereka selalu sama, "Tidak tahu". Lacus seperti hilang ditelan bumi.
Ini membuat Kira lebih sering melamun dari biasanya. Bahkan di tengah-tengah latihan, Kira seringkali tersandung, atau tertonjok, atau kecelakaan -yang sebenarnya bisa dihindari- lainnya akibat kegiatan melamunnya itu.
Cagalli menghela napas lagi. Sepertinya Kira benar-benar...
.
a Gundam Seed Fanfiction
~Just a Contract~
by Seiba Artoria
Disclaimer: Gundam Seed milik Sunrise dan Bandai. Saya tidak mengambil keuntungan apapun. Hanya ingin menghibur.
Warning: AU, OOC, lebay?, typo?, dll.
Selamat membaca!
Chapter 8
.
.
Besok, benar-benar besok, adalah hari yang paling ditakuti Kira selama ia hidup 16 tahun ini. Besok adalah hari yang dijanjikan Athrun sebagai hari penentuan. Mereka akan berhadapan satu lawan satu, tanpa senjata, untuk mengetahui siapa yang berhak memutuskan tindakan Athrun terhadap Lacus.
Apapun yang terjadi, Kira sama sekali tidak boleh kalah. Seandainya ia kalah, Lacus akan dalam bahaya, begitu juga dirinya. Bukan tidak mungkin Athrun akan menyuruh semua anak buahnya untuk menghajar Kira sampai ... sampai merasa bosan hidup, mungkin? Bisa juga Athrun akan menghantui Kira dan keluarga juga seluruh kenalannya seumur hidup, seperti di film-film detektif yang suka ditontonnya.
Dosa apa yang telah dilakukan Kira sampai ia harus terlibat dengan preman-preman ini. Tapi Kira segera menepis pikiran itu. Ia sudah bertekad akan menolong Lacus, kan? Maka ia tidak boleh setengah-setengah. Tapi sungguh, ia takut.
Walaupun Luna, bahkan Stellar, sudah mengakui kemampuan berkelahinya meningkat tajam dan bisa dibilang setara dengan Stellar, Kira tetap takut. Setara dengan Stellar bukan berarti bisa mengalahkan Athrun, bahkan setara dengan Athrun saja tidak.
"Kau tidak boleh pesimis, Yamato! Ayo lebih semangat!" teriak Luna membuyarkan segala imajinasi liar di otaknya.
Kira segera menangkis tinju Stellar dan menghindari tendangan Luna yang secepat kilat itu.
"Berhenti!" perintah Luna.
Mereka bertiga berhenti. Abby, teman Lacus yang selalu duduk saat latihan dan mengaku menjadi pengamat melempar botol air mineral pada Kira.
"Terima kasih, Abby," ujar Kira dibalas anggukan malas gadis berambut hijau itu.
"Duduklah! Luruskan kakimu! Kita istirahat sebentar." Luna berjalan menuju Abby dan kembali dengan dua botol air mineral di tangannya. Ia melempar yang satunya kepada Stellar dan ditangkap gadis pirang itu dengan sempurna.
"Maaf," ujar Kira di tengah istirahat mereka.
"Apa?" tanya Stellar.
"Aku melamun lagi."
"Sudah kubilang tidak usah memikirkan Lacus, dia baik-baik saja," sahut Luna.
Kira tertawa pelan, "Apa boleh buat," katanya.
"Ya, apa boleh buat kalau kau sedang jatuh cinta," sambar Stellar tanpa dosa.
Kira langsung tersedak. "Apa katamu? Aku hanya cemas karena dia tidak memberi kabar apapun dan tidak bisa dihubungi. Aku bertanya pada kalian tapi selalu saja bilang tidak tahu. Walaupun begitu, kalian sebegitu yakin Lacus baik-baik saja. Siapa yang tidak bingung?" Kira bicara tanpa jeda membuat Luna dan Stellar tertawa mendengarnya.
"Hahahaha... Kau benar-benar jatuh cinta!"
"Hentikan itu Luna. Sekarang kutanya, kenapa kau begitu yakin Lacus baik-baik saja?"
"Insting. Kami sudah lama berteman, jadi aku bisa tahu," jawab Luna di tengah tawanya yang memang sulit berhenti.
"Omong kosong. Mana ada insting macam itu?"
"Hei! Memang insting seperti itu benar-benar ada!"
"Aku tidak pernah merasakannya."
"Salah sendiri kau tidak punya orang yang benar-benar dekat denganmu."
"Tidak. Kau pasti pernah, karena kau punya saudara kembar. Mungkin kau hanya tidak sadar." Stellar tiba-tiba bersuara.
Kira memperhatikan gadis itu yang sedang menunggu tetesan terakhir air minum di botolnya turun mengenai lidahnya yang sudah menjulur. Gadis ini memang unik. "Ya, mungkin," jawab Kira sekenanya.
"Kita latihan sebentar lagi, lalu selesai. Kira, kau harus istirahat yang benar dan jangan pikirkan apapun! Kalau kau yakin, besok kau akan berhasil. Ayo mulai!" Luna mengomando sambil mengambil botol-botol kosong di tangan mereka dan melemparnya kembali kepada Abby.
Lacus, di mana kau di saat seperti ini?
.
.
.
Kira sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran hari ini. Sepanjang hari, bahkan dari semalam, ia terus berkeringat sampai sapu tangannya sudah basah semua. Ia bahkan baru saja menghabiskan tisu Miriallia dan berjanji akan menggantinya nanti.
Beberapa kali ia bertemu pandang dengan Cagalli dan kembarannya itu hanya memperlihatkan kepalan tangannya di samping wajahnya, maksudnya mau menyemangatinya tanpa suara. Shinn yang duduk di sebelahnya benar-benar kebingungan dan penasaran ada apa dengan Kira hari ini.
"Kira, kau kenapa, sih?"
"Apa? Eh, aku tidak apa-apa kok, hehe."
"Kau tidak pandai bohong, Kira." Kira hanya nyengir kikuk lalu pura-pura memperhatikan penjelasan guru mereka.
Ditanya bagaimanapun, Kira selalu menjawab tidak apa-apa. Padahal Shinn tahu benar sahabatnya ini sedang ada apa-apa.
Kriiiiiiiiing!
Dan bel tanda pelajaran selesai berbunyi.
Guru Fisika itu segera menghentikan penjelasannya dan memberi salam lalu keluar kelas. Kelas sekejap menjadi ramai karena semua orang di dalamnya berbicara. Selama satu setengah jam tadi mereka memang dilarang bicara, kecuali jika bertanya atau ngobrol yang tidak terdengar si Guru Fisika.
"Shinn, doakan aku!"
"Hah?" Shinn bingung setengah mati karena Kira tiba-tiba minta doa.
"Doakan aku masih bisa bertemu denganmu setelah hari ini."
Oke, ini benar-benar seram. Kira seperti mau pergi selamanya saja.
"Maksudmu apa, sih? Kau dimarahi Pembina Festival Sekolah lagi?"
"Bukan! Pokoknya doakan saja, ya! Sampai jumpa!"
Shinn mematung di kursinya. Barusan Kira benar-benar memelas sambil memegang pundaknya. Tanpa menjelaskan apa-apa ia lalu berlari keluar kelas.
"Apa-apaan dia?" tanyanya pada diri sendiri.
"Sudah, pokoknya doakan saja! Sampai besok, Shinn!" sambar Cagalli dari pintu kelas mereka.
Baru saja Shinn berniat bertanya ada apa dengan Kira kepada Cagalli, gadis itu sudah hilang dari depan pintu.
"Dasar, kakak adik sama saja. Tidak jelas. Aneh. Aaah, sial. Aku jadi penasaraaan!"
.
.
"Di mana Cagalli?" tanya Luna setelah Kira sampai di hadapannya.
"Kusuruh pulang."
"Padahal dia bisa berguna."
"Tidak perlu libatkan adikku."
"Ya, ya, baiklah. Ayo ke sana! Sepertinya Athrun-"
Belum selesai Lunamaria berkata, terdengar suara gaduh dari sisi lain lapangan tempat mereka berdiri saat ini.
"Halo, Kira! Lama tidak jumpa!" teriak Athrun dari seberang sana.
Kira benar-benar merinding sekarang. Mendengar suara Athrun membuat sekujur tubuhnya gemetaran. Ia memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri. Bagaimana ini? Aku tidak bisa berhenti gemetar.
Plak! Kira melotot memegangi pipinya yang nyeri. Ia memandangi Luna dan Stellar yang berada di hadapannya, mencari pelakunya.
"Berhenti gemetaran!"
Oh, rupanya Luna yang tadi menamparnya.
"Lihat, Athrun mendekat. Sana hampiri dia! Ingat, Kira, kau harus percaya diri! Kami tidak bisa membantumu lagi. Kecuali jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Luna memberi wejangan kepada Kira seperti layaknya pelatih kepada muridnya sebelum bertanding.
Kira menelan ludah, ia kembali menatap Luna dan Stellar. "Doakan aku!" katanya.
Luna dan Stellar mengangguk mantap. Smentara Abby dan dua orang gadis lainnya kawanan mereka yang duduk di belakang berteriak, "Semangat Kira!" dikuti elu-eluan lainnya.
Kubu Athrun tidak kalah berisik. Bedanya, mereka bukan menyemangati Athrun melainkan menjatuhkan semangat Kira dengan mengejeknya habis-habisan.
Kira dan Athrun berhadapan. Kira memberanikan diri menatap lawannya itu.
"Apa kabar?" tanya Athrun, jelas sekali basa-basinya.
"Baik sekali," jawab Kira singkat.
"Mana Tuan Putri kita? Mana Lacus?"
"Tidak tahu."
Mendengarnya, Athrun terkekeh. "Tidak tahu? Kita bertanding untuk dia dan kau tidak tahu dia di mana? Hahaha, kau tidak punya bakat melawak, kau tahu?" Sedetik kemudian ekspresi Athrun berubah serius. Kira merasa ia bisa diterkam kapan saja.
"Aku benar tidak tahu, Athrun."
Athrun melengos. "Ya, ya, ya, aku percaya padamu."
Lalu ... Bugh!
"Aaargh!" Kira berteriak memegangi perutnya yang baru saja ditendang Athrun. Ia langsung terduduk di tanah.
Segerombol kawanan Athrun yang melihatnya tertawa terbahak-bahak dan semakin merendahkan Kira. Luna yang melihat itu dari kejauhan refleks berdiri diikuti Stellar. Ia langsung panik sementara Stellar tetap datar sambil berkata, "Lacus, kau harus lihat ini. Aku merasa ini akan seru sekali."
"Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Hahaha! Aku tahu kau menyembunyikannya! Jangan macam-macam! Setelah aku mengalahkanmu, aku akan menemukannya! Kau berhasil membakar semangatku, Kira. Berdiri! Kita mulai saja sekarang!"
Sementara itu, Kira masih kesakitan di tanah. Ia pesimis. Belum apa-apa, Athrun sudah berhasil mempermalukannya.
Bagaimana ini? Lacus, apa yang harus kulakukan?
.
.
.
To be continued.
A/N:
Minna-san, ohisashiburi! Saya benar-benar terharu. Serius deh. Akhirnya bisa update juga setelah sekitar ... ehm, lima bulan? menelantarkan fic ini :")
Saya benar-benar minta maaf! Maaf! Maaf yang sedalam-dalamnya dari lubuk hati terdalam, karena update yang terlau amat sangat lama sekali.
Saya baru aja melewati masa-masa ribet, dan yah, walaupun belum sepenuhnya selesai, tapi sekarang saya tiba-tiba kebanyakan waktu senggang.
Dan dengan tiba-tiba juga ide berkeliaran di otak saya. Padahal tadinya saya terserang WB, beneran. Jadi ... tarararam! Jadilah chapter 8 ini. Aduh, jadi curcol, maaf lagi ya *bow*
So, what do you think about this chapter?
Saya akui chapter ini banyak dialognya. Kalau ada yg kurang berkenan, maaf ya *bow*
Tolong berikan komentar kalian di review! Biasa, review! Oke?
Saya seriusan ingin tahu apa cerita ini masih ada yang baca atau ... ah, ya sudahlah.
Oh ya, ada yang udah nonton remastered Gundam Seed? Saya belum nih :(
Akhir kata, saya akan berusaha update cepat nih (terima kasih ide-ide yg berekliaran)! Sepertinya hanya tinggal satu-dua chapter lagi sih. Doakan ya!
Salam kangen,
Seiba :)
