Pemuda itu tampak ragu-ragu berdiri di depan pintu rumah keluarga Yamato. Tangannya yang terangkat untuk mengetuk pintu diturunkannya, lalu diangkatnya lagi, diturunkan lagi, begitu seterusnya.

"Aaaah! Sial. Aku benar-benar dibuat jengkel," ujarnya sambil mengacak-acak rambutnya yang memang tidak pernah terlihat rapi.

Ia mengepalkan tangannya dan menghela napas dalam-dalam, "Yosh."

Baru saja pemuda itu akhirnya bertekad mengetuk pintu di depannya, ia merasakan dorongan kuat di kiri tubuhnya yang membuatnya nyaris terjengkang.

"Ap- He?" Perkataan Shinn –nama pemuda itu- yang tadinya hendak menyumpah-serapah si Penabrak terputus begitu ia melihat sosoknya. Gadis yang menabraknya terlihat panik sekali. Tapi yang membuatnya terkejut setengah mati bukan itu.

"La-Lacus-san?" ucap Shinn sambil melotot.

Gadis yang dikenal galak dan serampangan itu hanya menoleh sebentar lalu mengetuk pintu rumah tersebut.

"Kira! Ini Lacus, buka pintunya!"

.


a Gundam Seed Fanfiction

~Just a Contract~

by Seiba Artoria

Disclaimer: Gundam Seed milik Sunrise dan Bandai. Saya tidak mengambil keuntungan apapun. Hanya ingin menghibur.

Warning: AU, OOC, drama?, typo?, dll.

Selamat membaca!


Chapter 9

.

"Stellar! Sial!"

Luna segera menendang musuhnya lalu berlari ke arah Stellar dan menjatuhkan musuh lainnya yang hampir memukul Stellar dengan balok kayu.

Luna tidak ingat sejak kapan mereka mulai terlibat perkelahian massal ini. Seingatnya, ia hanya refleks berlari meninju Athrun ketika pemuda itu menghajar Kira yang baru berusaha bangkit dari tanah.

Setelah itu bisa ditebak apa yang terjadi. Keheningan beberapa detik yang tercipta akibat terkejutnya Athrun, Kira, dan semua orang yang berada di sana atas tindakan Luna pecah ketika teman-teman Athrun menyerbu. Melihat itu, Stellar dan kawan-kawan tidak tinggal diam dan balas menyerang. Terjadilah aksi saling tonjok dan saling tendang di tengah lapangan ini.

Luna menyeka keringatnya setelah ia berhasil menjatuhkan satu lagi kawanan Athrun. Ia lalu memandang sekeliling. Teman-temannya masih berkelahi. Bahkan Stellar melawan tiga orang sekaligus. Ia cemas. Instingnya bilang, keadaan ini tidak baik. Mereka kalah jumlah. Matanya kemudian tertuju pada Kira dan Athrun yang bertarung memisahkan diri.

Boleh juga Kira. Dia bisa mengimbangi Athrun sejauh ini. Luna membatin.

Kira sudah kehabisan tenaga. Sejak tadi gerakannya hanya menghindari serangan Athrun. Tapi Athrun juga tidak jauh beda. Meski terkesan kuat, tinju Athrun sudah semakin melemah dan ia seringkali terengah-engah. Mereka berdua sudah kelelahan.

Bugh!

Mereka sama-sama terjatuh. Bedanya, Athrun jatuh terduduk, Kira terhempas ke tanah. Sepertinya Athrun melepaskan tenaga yang sudah dikumpulkannya dalam tinjunya barusan. Athrun menarik kerah kemeja Kira dan bersiap memberinya tinju susulan.

Apa aku akan kalah? Tidak. Aku tidak boleh….

"Kira!"

"Athrun!"

.

.

.

"Kira! Kira!"

Setelah dua puluh kali Lacus mengetuk dengan tidak sabarnya, akhirnya pintu itu terbuka. Menampakkan Cagalli yang sekejap ternganga atas kehadiran seorang yang baru-baru ini menghilang itu.

"Lacus? Dari mana saja kau? Kira benar-benar mencemaskanmu, tahu!"

"Cagalli … maaf. Ano … mana Kira?"

"Kira? Kau harusnya mendampinginya sekarang! Atau jangan-jangan kau lupa ini hari apa?"

Lacus tercengang. Jangan bilang dia terlambat. "Maksudmu, Kira … sudah ke sana? Bertemu Athrun?"

"Kau bicara apa, sih? Tentu saja Kira sudah ke sana 'kan?"

"Kira ke mana? Ini ada apa, sih, sebenarnya?"

Kepala merah muda dan pirang serentak menoleh ke asal suara berat barusan. Detik berikutnya mereka baru menyadari kehadiran orang ketiga ini.

"Shinn, kau ngapain di sini?" tanya Cagalli dengan polosnya.

Shinn menghela napas, "Makanya kutanya ini ada apa?"

Kedua gadis itu saling tatap dalam diam. Tidak tahu mau menjelaskan seperti apa pada Shinn. Situasinya terlanjur rumit. Dering ponsel Cagalli kemudian mengalihkan perhatian mereka, "Halo?"

Setelah memutus sambungan di ponselnya, Cagalli menatap Lacus. Ekspresinya serius. "Lacus, gawat. Milly baru saja lewat lapangan itu. Dia lihat banyak orang berkelahi di sana. Dia juga lihat Kira … dihajar habis-habisan oleh pemuda tampan berambut biru."

Segera setelah Cagalli menyelesaikan kalimatnya, Lacus berlari keluar area rumah itu. Gadis pirang itu tidak tinggal diam dan ikut berlari mengejar Lacus dengan sama paniknya.

"Cagalli! Tunggu!" Shinn yang tambah bingung tidak perlu berpikir dua kali untuk mengikuti mereka. Ia benar-benar penasaran sekarang. Benar-benar penasaran.

.

.

.

"Athrun! Hentikan!"

Athrun berhenti. Kepalan tangannya yang nyaris menyentuh wajah Kira dijatuhkannya ke samping. Ia menoleh ke asal suara di pinggir lapangan. Dilihatnya gadis yang amat dikenalnya berlari diikuti dua orang lainnya.

Semua orang berhenti berkelahi. Penasaran dengan apa yang sedang dan akan terjadi. Mereka sekejap diam, membuat suasana di lapangan itu menjadi mencekam. Hanya deru napas kelelahan Lacus dan derap langkah Cagalli dan Shinn yang masih terdengar.

"Astaga, Kira! Kau bisa mendengarku?" Lacus segera mengahmpiri Kira dan menepuk pelan pipinya.

Kira mengerjap. Dia masih sadar, hanya terlalu lelah dan terlalu sakit. Fisik dan batin. "Lacus? Kamu … kenapa … ke sini?" ujarnya sambil berusaha bangkit dari posisinya.

Lacus membantunya duduk, "Apa sih? Aku memang harusnya menemanimu 'kan?"

Kira terkekeh, "Tapi … ini pertarunganku. Tidak boleh … diganggu, tahu." Kira berkata dengan sisa tenaganya.

Athrun bertepuk tangan, "Kau benar-benar sudah melupakan keberadaanku, Lacus. Hebat!" sindirnya sambil tersenyum miris.

Lacus menoleh ke arah mantan kekasihnya, "Kau sudah berlebihan, Athrun."

Athrun mengangkat kedua bahunya. Sombong.

"Kau menang. Itu yang kau mau 'kan? Sekarang terserah kau saja. Tapi hentikan semua ini. Kalian sudah kelelahan. Jangan memaksakan diri. Kira juga tidak bisa berkelahi lagi."

Athrun diam. Ia memerhatikan gerak-gerik Lacus. Gadis itu sedang khawatir, sangat khawatir. Athrun bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. Ia beralih pada Kira. Laki-laki itu sedang berusaha duduk tanpa ditopang. Tapi Lacus bersikeras menopangnya. Tapi Kira menolak. Terjadi adu mulut kecil di antara mereka. Lalu gadis pirang dan bocah laki-laki yang tadi datang bersama Lacus menghampiri Kira dan berbicara padanya.

"Baiklah, sudah kuputuskan." Suara Athrun berhasil menarik perhatian semua orang. "Lacus, kita putus saja. Sudah, kau bebas sekarang. Ah, lelahnyaaa…." Athrun merentangkan tangannya berbaring di tanah. Menatap langit, ia tersenyum.

Kira terkejut, sangat terkejut sampai rasanya tenaganya mendadak kembali. Lacus menatap Athrun tidak percaya. Senyum perlahan terukir di wajah cantik gadis merah muda itu. Tidak lama setelah itu, senyum mulai terukir di wajah semua orang. Ternyata, pada dasarnya Athrun memang orang baik.

Tanpa dikomando, namun serempak, mereka semua terduduk lemas di lapangan diikuti helaan napas panjang. Rasa lega muncul dengan sendirinya di hati mereka. Cagalli menghampiri Luna, menanyakan keberadaan kotak obat yang biasa dibawanya. Beruntung, gadis itu memang membawanya hari ini. Cagalli menyuruh Shinn membantunya merawat luka siapa saja yang terluka di sana.

"Hei, kau. Ke mana saja selama ini? Kenapa tidak bisa dihubungi?"

Lacus mengentikan gerakannya membersihkan luka di wajah Kira saat mendengar pemuda itu tiba-tiba bersuara. "Nanti saja kujelaskan," jawab gadis itu melanjutkan perawatannya.

"Ditanya baik-baik jawabnya galak banget."

Lacus kembali menghentikan gerakannya, "Hei, sejak kapan kau bicara begitu padaku?" ia lalu sengaja menekan kasar lukanya Kira.

"Aw! Aw! Aw! Sakit, Lacus!" Kira meringis.

"Maaf, membuatmu khawatir."

Lacus berhenti lagi. Kali ini gara-gara Kira senyum-senyum aneh sambil menatapnya. Ia lalu membuang muka, berusaha menyembunyikan rona merah muda di wajahnya. Berharap langit senja membantu menyamarkannya.

Lalu Kira memeluknya. Ini benar-benar tidak diduganya. Dan Lacus tidak menyiapkan reaksi yang tepat untuk hal begini.

"Syukurlah berakhir seperti ini. Kamu sudah bebas sekarang."

"I-iya." Lacus tidak tahu harus berkata apa lagi selain "Iya".

"Lalu … selanjutnya, apa yang akan terjadi … dengan kita?" Ya Tuhan, ada apa dengan Kira hari ini? Kata-katanya maupun tindakannya benar-benar tidak terduga.

"I-itu…." Lacus benar-benar tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab ini.

"Lupakan saja. Itu konyol. Hehehe." Beruntung Kira memotongnya.

Lacus merasakan pelukan Kira makin erat padanya. Entah kenapa, tapi ia jadi gugup. Jantungnya berdetak cepat. Suaranya mendadak hilang. Apa-apaan ini?

"Tidak tahu kenapa, tapi aku … merindukanmu."

Deg! Debaran di dadanya semakin menjadi. Lacus memendam wajahnya yang mulai memanas di pundak Kira. Bisa ia tebak pasti wajahnya sudah semerah tomat matang. Perlahan diangkatnya lengannya untuk membalas memeluk Kira. Hanya satu kalimat tadi, tubuhnya langsung bereaksi begini.

Sungguh, Kira, kau kenapa hari ini? Kenapa juga aku jadi begini?

Tanpa diketahuinya, Kira sedang tersenyum lebar di pundaknya.

.

.

.

Tiga hari kemudian, setelah Kira sembuh total dan perban-perban di tubuhnya lenyap semua, ia kembali ke sekolah untuk mengurusi festival sekolahnya. Kurang dari dua minggu lagi festival itu akan diselenggarakan. Beruntung Shinn sudah memanipulasi cerita penyebab absennya Kira tiga hari itu, jadi teman-teman mereka tidak banyak bertanya.

Kira sampai di sekolah disambut kabar baik. Masalah dana yang sebelumnya melanda festival sekolah mereka sudah selesai berkat kerja keras mereka semua. Pekerjaan lainnya seperti properti dan latihan pengisi acara juga dilaporkan lancar-lancar saja.

Syukurlah, semua berjalan baik. Tapi, selama seharian di sekolah, ia tidak melihat Lacus. Ia sudah menayai Luna, Stellar, dan Cagalli tentangnya, tapi mereka diam saja. Begitu juga Shinn. Omong-omong, Shinn akhirnya mengerti dan bisa menerima permasalahan Kira setelah dijelaskan berkali-kali oleh Cagalli dibantu Lunamaria dan Stellar.

Memikirkan itu, Kira sampai tidak konsentrasi dengan langkah kakinya di koridor. Bukk!

Seseorang terjatuh, Kira panik. "Ma-maaf. Aku tidak sengaja."

"Kau mikirin apa, sih? Jalan sambil bengong begitu," umpat Lunamaria yang ternyata jatuh akibat tertabrak Kira.

"Luna? Kau masuk sekolah? Belajar?"

"Memangnya kenapa? Nggak boleh?"

Kira terkagum-kagum melihat Luna yang sekarang. Ia memakai seragam dengan baik dan benar, rapi. Dan gadis itu sedang membaca buku pelajaran tadi, makanya mereka bertabrakan.

Kira mengintip judul buku yang dipegang Luna, "Wow, sejarah. Hebat!"

"Diam kau! Ah iya, Kira, nanti pulang sekolah tunggu seseorang di depan gerbang! Jangan pulang dulu!"

"Tunggu? Siapa?"

"Sudahlah, tunggu saja. Ayo Stellar! Stellar?" Luna menoleh dan mendapati sahabatnya itu sedang asyik berbicara dengan Shinn di depan kelasnya, "Stellar!" Gadis pirang yang dipanggil itu menoleh dan segera menghampiri Luna.

Stellar tersenyum sopan kepada Kira. "Sudah ya, Kira. Sampai nanti," ujar Luna lalu ia dan Stellar kembali berjalan menyusuri koridor.

"Ya. Belajar yang rajin ya!" balas Kira sambil tertawa.

.

.

.

Menunggu siapa ya? Jangan-jangan….? Ah, tidak mungkin. Ah, tapi bukannya tidak mungkin juga, sih.

Kira bersandar di gerbang sekolah. Ia sedang menunggu seseorang sesuai perintah Luna tadi. Pikirannya sedang sibuk dengan prediksi tentang siapa yang akan ditemuinya ketika sebuah suara berat memanggil namanya. "Yo, Kira!"

Kira menoleh dan matanya seketika melebar melihat sosok di sampingnya. "A-Athrun?" katanya ragu. Ia tidak yakin tubuhnya masih kuat berurusan dengan Athrun lagi.

Athrun tersenyum, "Kecewa? Mengharapkan orang lain?" Dibalas gelengan cepat dari Kira membuat Athrun terkekeh lagi. Ia lalu menyuruh Kira mengikutinya ke sungai di seberang jalan dan duduk di sana.

"Lukamu … sudah sembuh?" Athrun membuka percakapan.

"Ya. Kurang lebih," jawab Kira seadanya. Jujur saja, ia masih takut dengan Athrun. Tapi, suatu keganjilan pemuda ini berpenampilan rapi. "Kau … masuk sekolah?" Kira memberanikan diri bertanya.

Athrun mengangguk, "Ya. Kurang lebih."

Lalu mereka tertawa. Kira tidak menyangka Athrun bisa bercanda begini juga. Ia bahkan masih tertawa ketika Athrun menyodorkan sebuah amplop putih padanya. "Apa ini?"

"Surat. Dari Lacus." Jawaban Athrun sukses merubah atmosfir di antara mereka. Kira mendadak diam dan mengambil surat itu. Ia lalu menatap Athrun penuh tanya.

"Jangan tanya kenapa. Aku juga tidak tahu kenapa Lacus menyuruhku."

Kira hanya ber-Oh ria lalu bertanya lagi, "Boleh kubaca sekarang?"

"Nanti saja. Jangan di sini."

Kira mengerti. Dimasukkannya surat itu ke dalam ranselnya. Lalu hening. Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Mungkin sama-sama memikirkan topik pembicaraan yang tepat.

Kira mencoba sebuah tema, "Jadi, apa yang membuatmu berhenti berkelahi dan … masuk sekolah lagi?" Semoga Athrun tidak tersinggung.

Athrun tersenyum, "Gara-gara gadis galak itu."

"Gadis galak?"

"Ya. Rambutnya pendek dan pirang. Bicaranya kasar. Galak."

Kira merasa ciri-ciri yang disebutkan Athrun sangat familiar. "Bagaimana kau bertemu dengannya?"

"Dia datang bersama Lacus hari itu. Namanya … siapa ya? Ca.… Ah, Cagalli!" Athrun meninju telapak tangan kirinya setelah berhasil mengingat nama gadis pirang itu.

"Memangnya apa yang dilakukannya?" Kira berniat mencecar Cagalli sesampainya di rumah. Mau apa adiknya itu berurusan dengan Athrun?

"Dia mengatakan sesuatu. Yang sangat menusuk."

.


To be continued.


A/N:

Halo semuanya! Saya bilang mau update cepat, ujung2nya nggak ya. Jangan lempar saya pake baskom situ, ampun.

Bukannya mau nyalahin yang lain, tapi harddisk saya abis rusak dan isinya hilang semua. Sedih banget deh *teruuuus?

Ya, salah satunya karena itu, mood jadi hilang juga. Jadi ngumpulin mood dulu deh. *abaikan aja ini*

Maaf, curcol lagi jadinya.

Maaf kalau banyak typo, mata udah 5 watt nih -_-

Kali ini beneran, saya bakal update cepat! Chapter depan yang terakhir loh, ehehehehehehe.

Udah saya kerjain, tinggal dikit lagi. Tadinya mau dijadiin satu, tapi kayaknya kepanjangan deh.

Ngomong-ngomong, ini kayaknya juga chapter terpanjang saya *bangga

Oh iya, kalo chap kemarin mengecewakan saya minta maaf lagi yaaaa. Ampun *ojigi

Jadi, terima kasih masih mau baca! Baca terus ya! Jangan lupa review! Review darimu sangat berharga untukku :')

Oh iya! Otanjoubi omedetou golden twins Kira and Cagalli! Imut selalu ya \(^o^)/

See you next chapter!

Salam ngantuk,

-Seiba.