a Gundam Seed Fanfiction
~Just a Contract~
by Seiba Artoria
Disclaimer: Gundam Seed/Destiny milik Sunrise dan Bandai. Saya tidak mengambil keuntungan apapun :)
Warning: AU, OOC, drama, typo(?)
.
Happy reading!
.
.
Last Chapter
.
.
"Hei, kau! Cepat duduk! Jangan senyum-senyum saja! Seperti orang gila!"
Athrun membuka matanya seketika mendengar bentakan dari seseorang di dekatnya. Dilihatnya gadis pirang yang menenteng kotak obat duduk di sampingnya.
Athrun bangkit, "Siapa kau? Mau apa denganku?"
Gadis itu mengangkat plester dan perban yang baru dikeluarkannya dari kotak obat. "Tidak mau? Jangan sok kuat! Yang lain juga diobati," sahutnya ketus.
"Terserah kau saja!" Athrun menegakkan duduknya. Ia membiarkan gadis itu membersihkan luka di wajahnya.
"Sebenarnya, aku ingin sekali, bahkan sangat berhasrat menghajarmu sampai babak belur sebagai ganti kau menghajar kakakku! Kalau saja si Bodoh itu tidak melarangku melakukannya!"
Entah disengaja atau tidak, sentuhan tangan gadis pirang itu di atas wajah Athrun semakin lama semakin kasar dan membuat pemuda biru itu meringis dan menahan tangannya untuk tidak menyentuh wajahnya lagi.
"Kakakmu?"
Gadis itu melepas paksa lengannya dari genggaman Athrun lalu melanjutkan kegiatannya membersihkan luka pemuda itu, dengan gerakan lebih lembut tentunya.
"Ya, Kira! Kau pikir jagoan di dunia ini hanya kau saja, hah? Beraninya mengancam orang! Membawa-bawa orang lain biar kesannya ramai pula! Pasukanmu itu bahkan nggak lebih kuat dari wanita, tahu!"
Athrun baru akan menyahut saat gadis itu mulai mengoceh lagi.
"Kau pikir dengan begitu orang akan ketakutan? Sebenarnya yang ketakutan itu kau 'kan? Kau juga kesepian! Mencari teman bermain dengan mengancam biar dia tidak menolak. Beruntung orang itu Kira, dia tidak menyadari apa-apa! Dasar bodoh!"
Athrun menatapnya sesinis yang dia bisa. Gadis itu hanya mendengus. Tangannya dengan cekatan menempel perban di titik-titik luka wajah Athrun. Setelah selesai, ia berpindah ke lengannya.
"Lihat tanganmu yang lecet-lecet ini! Kalau mau cari perhatian jangan seperti ini! Lebih baik kau sekolah yang benar, lalu juara kelas. Orang pasti akan memerhatikanmu."
"Kau ini benar-benar sok tahu ya?" Athrun mulai naik darah. Bukan karena perkataan gadis ini salah, melainkan justru benar. Sangat benar.
"Aku berani bertaruh kau kurang perhatian. Lalu memilih jalan ini supaya kau bisa mendapat perhatian dari siapapun itu yang harusnya memberimu perhatian. Aku salah?"
Plak! Athrun tanpa sadar menampar gadis di hadapannya. Entah, tangannya seperti bergerak sendiri. "Ma-maaf."
Gadis itu tercengang. Gerakan tangannya yang sedang melilit perban di lengan pemuda itu terhenti. Ia jadi merasa bersalah. Apa bicaraku keterlaluan?
Tapi dengan cepat ia kembali menguasai dirinya. "Tidak apa. Berarti aku benar."
"Ayahku."
"Eh?"
"Aku mencari perhatian ayahku."
Gadis itu terdiam. Beberapa menit kemudian ia bicara lagi, "Percayalah, ayahmu akan lebih senang dengan prestasi belajar daripada prestasi gulat. Walaupun kelihatannya tidak peduli, sebenarnya beliau selalu mengawasimu."
"Katakan itu pda Lacus juga."
"Eh?"
Athrun terkekeh, "Siapa namamu?"
"Cagalli." Gadis itu mengulurkan tangannya.
"Athrun." Athrun menyambut uluran tangan gadis itu sambil tersenyum kecil.
Gadis bernama Cagalli itu mengangguk. Tanpa disadarinya, wajahnya sedang merona tipis.
.
.
Kira masih tidak bisa percaya adiknya telah mengatakan hal seperti itu. Terlebih kepada Athrun. Ia menoleh, mendapati Athrun yang sedang tersenyum sambil menerawang langit sore itu. Kira menghela napas. Sepertinya ia harus siap dengan sesuatu yang sepertinya akan terjadi antara Athrun dan adik kembarnya.
Athrun bangkit dari duduknya, diikuti Kira.
"Baiklah. Aku harus pulang."
"Ya. Terima kasih, Athrun."
"Tidak masalah."
"Maksudku, soal keputusanmu. Terima kasih sekali lagi."
Athrun terdiam sebentar, lalu melanjutkan, "Yah, kuserahkan dia padamu. Jangan berani-berani membuatnya menangis!"
"Tentu. Serahkan padaku."
Kira mengulurkan tangannya yang kemudian dijabat oleh Athrun. Sepertinya baru saja terjalin satu lagi tali persahabatan hari ini.
.
.
.
Enam bulan berlalu dengan cepat. Kira dan teman-teman sekarang duduk di kelas tiga. Berbagai peristiwa mereka lewati dengan penuh kenangan.
Festival sekolah sukses. Tanpa disangka, pengunjungnya membludak. Alhasil, mereka surplus. Segera setelah festival selesai, Kira diarak keliling lapangan sekolah karena berhasil memimpin para panitia dengan baik. Segala macam pekan ujian juga berhasil mereka lalui meski beberapa di antaranya kurang berhasil. Oh, jangan lupakan liburan musim dingin! Dua bulan penuh berkah itu benar-benar kembali menyegarkan pikiran dan membuat mereka siap menghadapi tahun penentuan ini.
Pagi hari ini, pagi Senin ke dua bulan Maret. Pagi musim semi yang hangat dan cukup ramai di kelas yang satu ini.
"Cagalli, sudah kubilang jangan tidur malam-malam! Kau jadi tidur di sekolah 'kan?" Kira meneriaki adik kembarnya yang mulai terlelap di mejanya.
"Kenapa aku harus sekelas denganmu lagi, sih? Malangnya aku," sahut Cagalli tanpa mengangkat kepalanya dari atas meja.
Kira mendengus. Dasar adik tidak tahu diri.
"Hei, Kira! Aku baru beli ini!" Kira menoleh mendapati Shinn yang memasuki kelas dengan cengiran lebar sambil mengacungkan cd game keluaran terbaru Square Enix.
Kira hanya tersenyum menanggapi sahabatnya yang kelewat antusias itu. Mendapat respon yang kurang bergairah dari Kira membuat Shinn cemberut sebentar lalu mengikuti jejak Cagalli. Tidur.
"Kira, masih belum ada kabar?"
Kira menoleh ke gadis magenta yang duduk di depan Shinn itu. Ia tersenyum singkat sambil menggeleng pelan. Gadis yang ternyata Luna itu menghela napas lalu menunduk dan kembali menekuni buku di hadapannya. Sepertinya tiada hari bagi Luna tanpa menanyai Kira masalah itu.
Kira menghadap ke luar jendela yang ada tepat di sebelah kiri tempat duduknya. Mereka ulang memorinya ketika ia membaca surat dari gadis merah muda yang kini tidak pernah ia dengar lagi kabarnya.
Untuk Kira Yamato,
Apa kabar? Ah, basa-basi saja, sih. Kamu pasti sudah sehat 'kan?
Maaf, aku menghilang lagi. Kali ini mungkin lebih lama dari sebelumnya. Ralat, aku bahkan tidak tahu kapan akan kembali ke ORB. Hehe.
Tidak lama setelah bel berbunyi, seorang guru memasuki kelas. Semua murid lantas kembali ke kursi mereka masing-masing, menghentikan obrolan-obrolan mereka yang masih seputar liburan kemarin.
"Selamat pagi, anak-anak! Hari ini kita akan lanjutkan materi yang kemarin belum sempat selesai!" sapa Miss Ramius, guru biologi, sekaligus Wali Kelas mereka.
Oh ya, aku bilang mau menjelaskan soal keberadaanku waktu menghilang kemarin 'kan? Hmm … sebenarnya, aku ada di PLANT. Kau ingat ibuku? Ya, beliau benar-benar sakit dan membutuhkanku. Jadi, aku pergi menemuinya di PLANT. Aku sangat senang bertemu dengannya sampai melupakan ponselku selama di sana, maaf.
"Sebelum itu, saya akan memperkenalkan murid baru yang akan ikut belajar di kelas ini selama setahun ke depan. Yah, walaupun tidak bisa dibilang baru juga, sih."
Kelas mendadak ramai. Seisi kelas penasaran dengan si Anak Baru. Siswi-siswi mulai bergosip apa yang akan mereka lakukan jika murid barunya laki-laki dan tampan. Semua siswi tanpa menghitung Cagalli yang sedang sibuk menguap dan Luna yang fokus dengan novel roman di tangannya.
Sementara para siwa menghayal sendiri-sendiri. Kecuali Shinn yang baru bangun tidur dan Kira yang pikirannya sedang melayang entah ke mana.
Kali ini juga sama, aku ada di PLANT. Aku memutuskan akan menemani ibuku lebih lama. Ayah juga sudah memberi izin. Kesempatan langka, bukan? Hehe.
"Silakan masuk, Nona." Miss Ramius berbicara dengan seseorang di luar kelas.
Seseorang itu kemudian memasuki kelas. Si Anak Baru ini ternyata seorang perempuan. Kelas yang tadinya ramai sekejap hening. Mereka terlalu terkejut. Karena si Anak Baru? Mungkin. Ah, memang iya.
Oh ya, Kira, sebenarnya ada alasan mengapa aku mengirimimu surat seperti ini. Ada sesuatu yang ingin kukatakan. Tapi kurasa, aku terlalu takut kalau mengatakannya langsung. Makanya, mungkin, kalau lewat surat ini, bisa tersampaikan dengan baik. Semoga.
"Silakan perkenalkan dirimu!"
Cagalli berhenti menguap dan mulai merecoki Kira yang duduk di belakangnya agar segera sadar dari lamunannya. Shinn mendadak tidak mengantuk. Luna refleks menjatuhkan novelnya sambil ternganga.
Mungkin ini kurang keren atau apa. Tapi aku hanya mau mengaku. Kira, aku … menyukaimu. Semoga aku bisa bertemu denganmu lagi.
"Mungkin ada di antara kalian yang sudah mengenalku. Namaku Lacus Clyne. Mulai sekarang akan belajar bersama kalian. Mohon bantuannya!"
Gadis itu, gadis cantik dengan rambut merah muda itu tersenyum. Matanya beredar ke sekeliling ruangan. Mencari seseorang yang sangat, sangat ingin dilihatnya.
Senyumnya sempat pudar sedetik, saat ia menemukan objek yang dicarinya. Baby blue bertemu violet. Sesaat kemudian senyumnya terkembang lagi. Lebih manis dari sebelumnya. Karena orang yang dicarinya sedang tersenyum juga kepadanya.
Salam,
Lacus Clyne
"Silakan duduk di tempat kosong di sebelah Shinn! Di sana, kau lihat?"
Lacus mengangguk. Tapi….
"Maaf, Miss Ramius. Aku tidak tahan angin, jadi aku pindah ke sini. Kau duduk di tempatku saja!" Tiba-tiba Shinn menyela. Ia memindahkan semua barangnya ke kursi sebelah. Sengaja menyuruh Lacus duduk di tempatnya yang tadi, tepat di sebelah Kira.
Kira tertawa pelan. Lacus mengangguk lalu berjalan menuju tempat duduknya. Sepertinya tahun ini akan menyenangkan.
.
.
.
Langit senja kali ini sangat indah. Perpaduan violet, jingga, dan merah mudanya terlihat lebih elok dari biasanya. Membuat Lacus tidak mau memalingkan pandangannya dari langit. Atau mungkin lebih tepatnya tidak bisa. Karena ia masih belum sanggup menatap mata pemuda yang duduk di sebelahnya.
"Jadi, apa kabar ibumu?"
"Kok yang ditanya ibuku, sih?" Lacus tersenyum jahil.
Kira salah tingkah, "Eh, bukan begitu. Kamu sepertinya 'kan baik-baik saja. Jadi-"
"Ibuku sudah meninggal, Kira."
"Eh? Ma-maaf, Lacus. Aku … tidak bermaksud…."
Lacus menggeleng cepat, "Tidak apa. Sudah lama juga."
"Kapan?" Kira memberanikan diri bertanya.
"Tidak lama setelah kepindahanku ke sana. Setelah itu, Ayah memintaku kembali ke sini. Lagipula, aku memang berencana pulang, sih. Hehe," jawab Lacus tenang.
Kira manggut-manggut. Tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Sepertinya kamu nggak senang, ya, aku pulang?"
"Eh? Aku senang, kok," panik Kira.
Lacus cemberut, "Habis, kelihatannya nggak begitu. Oh iya, tadi mau bicara apa? Sampai mengajakku ke sini karena itu 'kan?" Gadis itu menunduk, matanya memandangi aliran sungai yang mengalir tenang di bawah mereka.
"Menjawab suratmu." Lacus refleks menoleh mendengar kalimat Kira. Ia menautkan alisnya, tidak mengerti.
Kira terdiam beberapa menit sambil menggaruk tengkuknya dan berkali-kali membuang muka. Ia memutar tubuhnya menghadap Lacus perlahan. Menatap iris biru itu lekat-lekat.
Lacus yang bingung dengan tingkah Kira ikut berputar sehingga mereka berhadapan sekarang. Gadis itu membalas menatap Kira seolah menantangnya.
"Aku … juga menyukaimu. Karena itu, ba-bagaimana kalau … ka-kalau kita mengikat kontrak lagi? Ta-tapi kali ini ti-tidak pura-pura. Ka-kali ini betulan."
"…."
Setelah beberapa menit mencerna kalimat panjang lebar yang diucapkan Kira dengan terbata-bata, Lacus tersenyum. Kebiasaan pemuda itu untuk memanipulasi sebuah kata yang tidak bisa dikatakannya dengan sederet kata berbelit-belit memang aneh, tapi juga lucu.
"Deal," ujar Lacus akhirnya.
Tanpa menunggu jawaban, Lacus memeluk pemuda di hadapannya yang masih –mungkin- terkejut sehingga tidak bereaksi apapun selain bengong. Perlahan, ia merasakan hangat menjalari tubuhnya. Sepertinya Kira sudah sadar dan membalas pelukannya.
"Aku mau kencan pertama di taman bermain yang waktu itu gagal kita kunjungi!"
"Eh?"
"Hahahaha…."
Dan tawa pun menggema di pinggir sungai senja itu.
.
.
.
.The End.
.
A/N:
Yap, this is it. Selesai sudah serial fiksi (?) ini! Terharu banget deh :")
Terima kasih banyak sebanyak-banyaknya untuk para pembaca yang setia mengikuti cerita ini! Double thanks untuk para reviewer. I love you All!
Kali ini saya mau minta maaf apabila endingnya kurang berkesan atau gimana. Juga untuk ceritanya yang mungkin kurang memuaskan. Dan segala kesalahan yang terjadi di fic ini. Misalnya salah eja, salah sebut merk, salah nama, salah fakta (?), dan salah-salah lainnya.
Untuk Athrun-Cagalli, maaf sekali kalau gak ada romance-nya sama sekali! Saya kurang mahir menangani (?) mereka. Bisa bantu?
Sekali lagi, terima kasih banyak semuanya. Akhirnya saya ngerasain juga perasaan 'wow' kalau udah namatin fic :'D
Sampai jumpa di fic selanjutnya! (semoga ada)
-Seiba-
Special Thanks:
Ritsu-ken (always tengkyu Ritsu!), popcaga, aeni hibiki, vermiehans, Guest, hikaru, Nina, jeffrey simanjuntak inversy, i (ini beneran namamu? hehe), aikawa, Dandeliona96, nick, RyanLamb, flay lovers, Emperor Xirchs, Haruka, air phantom zala, Nee chan, Hoshi Uzuki, Magus-15IchiGo (apa kabar? lama gak muncul nih :D), holmes950, suu ignomia, 00unknown, claire nunnaly, eyeshield 21, natsu doraguniru, Wulan-chan, NamiKaze DaruL UzumaKi, ervan76, Dark Valkyrie. Dan semua silent readers! (ada 'kan?)
Terima kasih banyak! I love you! :'3
Silakan di-review lagi chap akhir ini~ Hehe~
.
.
.
