Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romane/tragedy

Warning : ancur GaJe

Pairing: Sasuke, Sakura, Gaara, Sasori

MONSTER DAN PENAKLUK MONSTER

Tanpa terpengaruh sedikit pun perasaan capek, tiga orang itu asik berlari men-drible bola di tengah lapangan basket yang giat-giatnya diguyur panas matahari. Keringat yang mengalir deras di sekujur tubuh nggak juga jadi penghalang mereka untuk terus bermain. Hanya teriakan-teriakan kenceng gadis-gadis yang berjejer di pinggir lapangan yang terkadang merobohkan konsentrasi mereka.

"GAARA!" itu teriakan satu gadis ganjen yang kini lagi berjalan mendekati Gaara

"Nggak makan di kantin, No? udah mau bel masuk lho," sapa Gaara pada si gadis sambil nebetulin handband putih bergambar basket yang bertengger di tangan kirinya.

"Nggak, aku lagi diet. Aku dari tadi ngeliatin kamu main basket. Kamu nggak ke ganggu kan?"

Belom sempet ngejawab, Naruto –teman CS-ya Gaara- yang udah duluan nyamber. "Diet? Nggak salah? Badan kau kan udah kurus? Hahaha…."

Kurus? Oooh, bagi Ino kan itu nggak jadi masalah sedikit pun. "Nggak perlu dipusingin! Karena coba deh kalian lihat model-model catwalk dunia, badannya kan pada kayak tengkorak berjalan , iya nggak?" kalimat itu yang selalu dipake Ino buat ngebanggain dirinya sendiri. Nutupin kekurangan. Tepatnya.

"kemarin pas aku timbang, berat aku udah naek setengah kilo, itu kan gawat! Aku mesti cepet-cepet dietlah," jawab Ino pe-de bercampur takut. Matanya masih aja melirik ke Gaara. Dia bikin semua gadis fans Gaara jadi rada menjauh gitu. Jelas dong apa penyebabnya! Mereka semua takut dirinya kebanting sama kecantikan sang ratu.

"Ya ampun, No… setengah kilo doing kaleeee!" Kiba yang juga merupakan salah satu sohib Gaara ikut cekikian. Dia sukses memutar tanpa jatuh bola basket dengan telunjuk kanannya.

"Kalian berdua mau sampai kapan ketawanya?! Mending kita ke kantin, ngisi perut." Mungkin Naruto dan Kiba masih akan seru ketawa-ketiwi sampai ayam berkokok besok pagi kalo bukan Gaara yang memutuskannya.

"Kantin?" Ino kebingungan.

"yeah." Gaara menjawab singkat. "Why?"

"Bentar lagi kan bel masuk dan pelajaran fisika. Ada tugas penting buat nambahin nilai ujian minggu lalu lho, Gaara!" ujar ino ngingetin.

Gadis itu hanya pasrah ngeliat Gaara dan teman-temannya menjauh.

R

U

R

U

Sukses besar! Semua soal fisika yang tertulis di papan tulis dibabat abis sama gadis yang emang terkenal pinter itu. Dari A sampai Z, dari awal sampai akhir, dari rumus pertama sampai rumus turunannya, semuanya ditulis lancar dan lengkap tanpa ketinggalan satu titik pun.

"Udah selesai, Sensei." Gadis itu berjalan kembali ke tempat duduknya yang berada di deretan paling depan, setelah ngembaliin kapurnya ke Kakashi-sensei.

"Semua benar, kalian boleh mencatatnya." Kakashi-sensei berkata bangga setelah dia memerikasa semua jawaban yang ditulis gadis itu –Sakura-. "Saya yakin, kalo begini terus, pasti nilai raport fisikamu Saya kasih Sembilan. Bahkan, kalo bisa, sepuluh pun akan saya kasih."

"Iya, Pak. Akan saya usahakan sebaik mingkin." Sakura memberikan setengah anggukan pada Kakashi-sensei.

"Ah, gitu doing mah keciiiil!"

Suara cempreng itu…. Yup, Ino! Suara sejenis itu kan udah jadi trademark-nya si gadis ganjen itu.

Tentem –teman akrab Sakura- memasukan semua buku yang berantakan di atas mejanya. "Sakura, aku pergi dulu ke lapangan ya! Takut nggak dapet tempat nih! Sekarang kan Gaara lagi main basket ama temen-temennya. Entar kau nyusul aku, oke?! Tenten bergegas pergi setelah mejanya bersih.

"Males ah, Ten!" Sakura masih duduk nyantai. "Aku mau langsung pulang aja abis ini, besok ka nada tugas banyak."

"Ya ampun, Sakura…. Hari gini masih mikirin tugas? Ya udahlah, aku jalan dulu! Jaa!"

"Baru bisa ngerjain soal gitu aja udah sok pamer! Kau kira Cuma kau saja yang bisa?"

"Nanti aku buktiin kalo kau nggak ada apa-apanya dibandingkan aku! Aku akan rebut peringkat satu kamu! Ino masih saja sewot.

"Aduh-duh-duh, kasihan deh…. Nggak punya mulut untuk ngebales ya? Apa jangan-jangan kat…. TAKUUUUT?!"

Sakura menatap Ino tajam. "Penting ya ngebales?" Sakura sama nyolotnya dengan ucapan Ino tadi, malah lebih.

"SIALAN KAU!" Ino langsung mengambil ancang-ancang untuk menampar Sakura. Tapi, untung Sakura berhasil menahannya.

"Sori, No. masih banyak kerjaan aku yang jauh lebih penting dari pada ribut sama kamu!" Sakura membuang tangan kiri Ino dan meninggalkannya di kelas.

"YEAAAAH!" abis ngelempar tas sekolah ke atas ranjangnya yang berantakan gara-gara CD-CD lagu mellow kesukaannya, Sakura loncat-loncatan untungnya, tulang ranjang Sakura punya cukup kalsium buat menahan injakan manusia berbobot 44 kg itu.

"Hai, Sak! Udah pulang kok nggak bilang-bilang?"

"Shika onii-chan!" Sakura teriak sambil melompat kea rah cowok itu dan memeluknya.

"werrrrt, lepasin dong, Sakura. Kamu mau bikin aku keabisan napas? Apa bikin aku ke rumah sakit biar kamu ketemu si dokter tampan itu lagi?"

Sakura melepas pelukan gilanya dan tersenyum lebar. "Ah, onii-chan mah! Aku itu lagi seneng, onii-chan! Seneng banget! Si Ino, onii-chan inget kan?"

Shikamaru mengangguk. Dia mengambil posisi duduk dipinggiran ranjang Sakura. "Gadis nyebelin yang pernah kamu ceritakan ke onii-chan itu kan?" Tanya Shikamaru memastikan.

"IYA! Aku seneng banget ngeliat mukanya tadi! Hahaha…." Tawa Sakura tiba-tiba meledak.

"Emang kenapa mukanya?" Shikamaru berbagi setengah berat badannya ke ranjang Sakura –tiduran maksudnya-. "Cerita-cerita dong ke onii-chan."

Shikamaru tiba-tiba keinget sesuatu, dia melirik gesit ke jam tangannya. "Wadauuuuw! Aku telat? Aku pergi dulu ya, Sakura!" Shikamaru menepuk sekali jidatnya sendiri.

"Pergi? Nah ya…. Mau kencan dengan Temari onee-chan ya? Hidung Sakura mengendus-endus di dekat badan Shikamaru. "Pantes Shika onii-chan wangi banget! Rupanya ada janji sama si ehem-ehem nih yeeee…."

"Hush! Anak kecil nggak boleh ikut campur urusan orang gede!"

"Dasar Shika onii-chan!" Sakura melempar bantal kepala bercorak teddy bear-nya ke arah Shikamaru. Sayang target keburu meloloskan diri dari serangannya.

"Sakura, ada telepon."

"Dari siapa, kaa-san?

Wajah kaa-san nongol setengah dari balik pintu. "Kayaknya sih dari Sasuke….. iya, darri Sasuke!"

"Diangkat dong teleponnya."

"Eh, i-iya." Dengan penasaran Sakura menyambar gagang telepon di samping lampu kamarnya. Siapa ya kira-kira?

"HAI, MONSTER! IT'S ME!"

"SASUKE?! INI BENERAN SASUKE?!"

"Yup! Ini aku, Monster! Aku udah di Konoha sekarang."

Nggak bisa dielakkan lagi Sakura bener-bener hepi sekarang. "WAH, SAS! PA KABAR KAMU?! KAMU KOK BISA KE SINI ?! TERUS KOK NGGAK BILANG-BILANG AKU SIH?! KAN AKU BISA JEMPUT KAMU DI BANDARA!" Sakura mulai heboh menembaki laki-laki itu dengan pertanyaan beruntun.

"Duh, Sakura. Suara kamu kemeng banget! Aku belom budek kali," jawab suara dari seberang sana. Ternyata suaranya udah lumayan berbeda lho.

"Ayo dong cerita! Kalo nggak kamu ke rumah aku kek kayak biasa! Aku belom pindahan kok, aku penasaran nih pengen lihat muka kamu yang sekarang! Pasti tambah ancur! Hahaha…."

"Aku emang udah ada di rumah kamu kok."

"APA?! APA KAU BERCANDA?!" sakura benar-benar dibuat kaget.

"Coba deh buka pintu kamarmu."

SASUKEEEE! Pulang dari Suna kok nggak bilang-bilang dulu sih ke aku?! Mukamu sekarang beda banget! Tambah tinggi! Aku jadi kalah!" setelah puas memeluk, Sakura menonjok barcanda sebelah kanan dada cowok itu. Makin cool aja si Sasuke ini!

"Tambah tampan kan?" Sasuke mengangkat alisnya berulang-ulang.

"Huuuu, ngaco! Tambah aneh tau!"

"Ngomong-ngomong mukamu juga jadi aneh. Tambah mirip kaya monster! Hahaha…." Goda Sasuke.

"SASUKEEEE!"

"Aku baru nyampe tadi siang, dan aku sengaja nggak ngasih tau kamu, biar jadi surprise. Gimana? Oke kan?" meskipun dapet hadiah cubitan super sakit, Sasuke nggak nyesel ngagetin sahabatnya kayak gini. Lain kali boleh diulang nih, pikir Sasuke dalam hati,

Sakura tersenyum sebal. Meskipun kaget, yang pasti sih dia seneeeeng banget karena Sasuke melengkapi sudah 99 persen kebahagiannya hari ini. "Sasuke-Sasuke…. Kamu mah bener-bener deh! Ngomong-ngomong kok kamu bisa ke Konoha sih? Tumbben."

"Sekolah aku lagi liburan, lagian mau sekalian ngejenguk obaa-san."

"Libur? Wah, enak banget kamu udah libur! Aku aja di sini masih sengsara!"

"Sengsara? Hahaha…. Makanya jangan belajar terus dong! Oh ya, hampir aja kelupaa. Ada sesuatu nih buat kamu." Sasuke mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berpitakan biru dari kantong celananya. Bentuk kotak dan pitanya udah nggak karuan karena kena timpaan Sasuke tadi.

"Weiiiit, dalam rangka apa nih kau ngasih aku beginian? Kau lupa tanggal ultah aku ya?" Sakura mengambil dan memutar-mutar kotak kecil itu –kira-kira sekita senti-lah-.

"Waduh, kok jadi malah kau yang lupa? Emangnya kau lupa hari ini hari apa?!"

Dengan polos Sakura menjawab sesuai fakta. "Kamis."

"Tanggal?"

"Sebelas. Jadi?"

"AH, GOMEN-GOMEN! Aku inget sekarang! Hari ini kan genap tujuh tahun kita sahabatan! Bener ga?!"

"BINGO! Akhirnya kau inget juga! Kirain monster ga bakalan inget!"

"Kau kira monster ga ada otak?"

"Eh iya, aku mau dinner nih, kau nemenin aku ya?!"

"Dinner? Tapi kau yang traktir kan?"

"Bereeees! Aku tunggu di bawah ya. Kau ganti bajunya jangan kelamaan, perutku udah nagih buat diisi nih."

"Tenang aja, pasti aku lamain! Yah…. Satu jam-anlah! Hahaha…."

R

U

R

U

"Huuuuff…." Sakura menghembuskan napas panjangnya sambil menikmati dalam-dalam angin sejuk yang tanpa henti menghempas wajahnya. Sekarang udah jam Sembilan malam, sepulang mereka dari dinner tadi. Sakura lagi asik melayang-layang di atas ayunan, dan Sasuke yang jadi petugas pendorong dari belakang.

"Kau ingat tidak Sas, dulu waktu sebelum kau pergi, kau juga ajak aku main ayunan di sini."

"Iya, aku ingat kok. Mana mungkin aku bisa lupa. Kau kan sampai nangis waktu aku bilang aku akan pergi, makanya kau ajak kau ke taman ini. Hahaha…."

"Dasar! Yang jelek-jelek aja kau ingat!"

"Ngomong-ngomong, kau masih suka cengeng nggak"

Sakura menoleh ke Sasuke dengan wajah berlagak marah "SASUKEEEE!"

"Nggak kerasa sudah empat tahun lebih berlalu…." Nada bicara Sakura tiba-tiba melemah tatapannya menerawang ke bintang-bintang yang menyebar luas dikekelaman langit malam. "Waktu cepet banget berlalu ya, Sas…."

Sasuke memperlemah dorongannya. "Iya, sejak junior school aku pindah ke Suna. Semuanya berlalu seperti angin. Tidak bisa ditahan…."

"Eh iya, kok kau dulu-dulu tidak pernah datang ke Konoha sih? Kan tidak asik kalo kita hanya SMS-an."

Sasuke berjalan pelan ke samping Sakura. Tatapannya juga ikut-ikutan menerawang. Romantis! "Yah mau gimana lagi. Aku belum dapat izin tou-san buat ke sini sendirian. Baru tahun ini aja dikasih."

"Gimana di Suna? Sudah punya pacar belum kau?" Sakura mengangkat berulang kali alisnya ke arah Sasuke, menggodanya.

Setelah cukup kuat dirasa, Sasuke berbalik menatap Sakura. Tadi dia sempet gelagapan lho dengar Sakura nanya seperti itu. "Pacar? Kalo iya memangnya kenapa? Cemburu nih ceritanya?"

"Cemburu sama seorang Sasuke?!

Sasuke ngedipin sebelah matanya. "Yah kalo kau tidak cemburu, berate kau jealous dong? Iya ngga?"

FLASHBACK

"Kamu diem, aku diem. Kamu nggak ganggu aku, aku nggak ganggu kamu. Kita sama-sama diem. Oke?"

"HEH! KAU JADI LAKI-LAKI JANGAN BELAHU!" tanpa alasan yang jelas, saat istirahat Sasuke dibentak Gaara, teman sekolah mereka yang lagaknya sok jagoan dan ditakuti seluruh murid, masuk daftar blacklist teman paling nyeremin. " AKU GA SUKA GAYAMU!"

"HEH, BUDEK! KAU DENGAR AKU TIDAK SIH?!" Gaara yang menahan dirinya dilecehin akhirnya memulai acara fighting-nya yang emang udah ditunggunya dari awal saat dia bentak Sasuke. Gaara mencengkram keras kerah seragam Sasuke.

"SIAL KAU!" Gaara dan teman-temannya akhirnya memukuli Sasuke. Dua teman yang lain sih –Naruto dan Kiba- hanya kabagian tugas megangin kedua tangan Sasuke aja biar dia tidak bisa berkutik.

"MAKANYA JADI ORANG JANGAN SOK!"

"STOOOOP!"

Seorang gadis cilik yang juga berseragm sama itu muncul di depan pintu kelas seperti seorang pahlawan. Rambutnya dikuncir kuda sisi kanan-kirinya. Tadinya sih dia disuruh senseinya untuk mengambil setengah tumukan buku tugas. "KALO BERANI JAGAN MAIN KEROYOKAN!"

Setelah kecapekan sendiri dan puas membalas Gaara, baru si gadis mendekati Sasuke. "Kau tidak apa-apa, Sasuke?"

Sebuah senyuman….

Yup, senyuman. Akhirnya Sasuke bisa juga melepas bibirnya untuk tersenyum pertama kali pada si gadis kecil penolong –Sakura-.

END OF FLASBACK

T B C ~

Waaaaah, akhirnya selesai juga chapter 2. Lagi-lagi bikinnya tengah malem -_- padahal besok UAS dan masuk pagi. Baguuuus !

R n R yooo minna-saaan…..

Kalau banyak yang review next chapter.