.

Multi-chapter Stories:

.

You're My precious one © 73777778910

.

Warning:
AU, shounen-ai, no incest, doted-parent!Minato, slice of life, school life, plot in-progress, OC, OOC tidak bisa dilepaskan demi berlangsungnya plot cerita

.


.

Keheningan selama beberapa menit menyelimuti ruang makan itu. Ketiga orang itu hanya terduduk dalam diam dengan belasan piring kotor yang masih berada di atas meja. Kakashi masih terpaku di tempat, sama sekali lupa dengan jasnya yang dalam keadaan basah akibat tumpahan air minum tadi. Padahal, sebentar lagi ia harus segera pergi untuk menghadiri sejumlah acara sebagai manager pria berambut pirang itu.

Namun, semuanya seakan menjadi blank saat pria itu mengatakan secara tiba-tiba bahwa dia mempunyai anak kandung. Anak kandung yang muncul dalam sehari dan sudah sebesar ini? Rasanya Kakashi ingin tertawa dan mengatakan bahwa ini adalah lelucon terlucu yang pernah didengarnya pada April mop! Sayangnya, ia sadar hari ini bukanlah tanggal 1 April.

"Sejak kapan anak ini berstatus menjadi anakmu?"

Minato tersenyum malu-malu. "Eh? Pagi tadi?"

'Bagus! Kurang dari enam jam dan orang ini sudah membuat masalah besar,' pikir Kakashi jengkel.

"Apa kau serius?"

"Lima rius!" Minato menjawab mantap.

Kakashi menghela napas, sedikit banyak karena pusing dan lelah. Kedua jarinya memijit pangkal hidungnya, berharap stressnya berkurang. "Kami-sama... mimpi apa aku semalam?" erangnya pelan.

Minato menatap pria yang lebih muda itu dengan prihatin. "Jangan berlebihan, Kakashi, bukan berarti akan terjadi kiamat, kan?" ujarnya bercanda, yang dibalas pelototan oleh objek yang bersangkutan. Minato jadi salah tingkah, niatnya 'kan tadi cuma menghibur.

"Memang dunia tidak akan kiamat, Minato-san," ujar Kakashi, setengah sebal, "tapi akan membuat karirmu kiamat dalam sehari jika media publik mengetahuinya."

Ah, ternyata itu rupanya. Minato sama sekali tidak menyalahkan Kakashi. Malah, ia semakin kasihan kepada pria itu. Kakashi adalah seorang manager yang bertanggung jawab dan selalu bisa menyelesaikan masalah-masalahnya di dunia entertainment dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Dia juga yang membantu Minato untuk memulai karirnya sebagi chef handal yang wajahnya kini selalu menghiasi layar televisi.

Minato meringis pelan saat memikirkannya. Ia merasa bersalah kepada Kakashi karena selalu menimpakan banyak masalah kepada pria bermata satu itu. Namun, masalah Naruto itu lain dari masalah-masalah yang pernah dihadapinya selama ini. Maka dari itu, ia langsung memberitahukan hal ini, tidak mau menunda-nundanya lebih lama lagi.

Di lain sisi, Kakashi masih berkutat dengan pikirannya. Ia menatap remaja pirang yang disebutkan oleh Minato tadi. Siapa namanya? Ah, ya, Uzumaki Naruto. Anak itu terlihat sedang menundukkan kepalanya sedikit. Mungkin tidak nyaman dengan atmosfer yang terjadi di ruangan ini. Kakashi segera mengembalikan pandangannya kepada pria satunya lagi.

"Apa kau sudah melakukan tes DNA dengannya?"

Minato menggeleng.

Kakashi semakin melotot. "Bagaimana mungkin kau bisa langsung percaya kepada anak ini, Minato-san? Kau sudah jelas tahu masalah ini bukan main-main! Apa kau tidak mempunyai sedikitpun rasa curiga kepada anak ini? Mungkin saja anak ini berbohong kepadamu dan memanfaatkan kepercayaanmu ini—"

"Kakashi!"

Pria yang dipanggil itu tersentak. Minato memotong perkataan panjang Kakashi dengan suara cukup keras, lalu melirik Naruto yang berada di sampingnya dengan hati-hati. Kakashi juga mengikuti pandangan Minato, dan menemukan anak itu yang semakin menundukkan kepalanya dengan badan sedikit bergetar. Tiba-tiba saja perasaan tidak enak menggelayuti hatinya.

"Kakashi, bisakah kita membicarakan ini nanti saja? Dan hanya berdua," Minato memberi penekanan pada kata "berdua" dan menyuruh Kakashi untuk mengerti keadaan mereka lewat isyarat matanya. Kakashi mengangguk sebagai balasan.

Setelah itu, Minato beranjak dari tempat duduknya, dan dengan lembut mengajak Naruto untuk pergi ke kamarnya. Tak berapa lama, pria itu kembali dan menghampiri Kakashi yang masih duduk di kursinya. Kakashi menatap Minato dan menanyakan keadaan remaja itu lewat tatapannya.

"Dia bilang dia ingin tidur dulu karena kurang tidur semalam," jawab Minato, seakan mengerti tatapan managernya itu. "Kita lanjutkan pembicaraan tadi di luar saja."

Kakashi kembali mengangguk. Ia mengikuti Minato yang berjalan di depannya. Setelah melewati beberapa ruangan, mereka akhirnya tiba di depan pintu. Minato berhenti dan berbalik menghadap Kakashi.

"Aku ingin kau mengerti, Kakashi," ujarnya pelan. "Aku tahu kau keberatan. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang."

"Apa kau yakin, Minato-san? Kau bahkan belum mengecek latar belakang dan kehidupannya. Bagaimana mungkin kau bisa percaya kalau anak itu adalah anak kandungmu?"

Minato mengendikkan kedua bahunya sedikit. "Entahlah, Kakashi. Tapi yang aku tahu, matanya memancarkan kejujuran, tidak ada sedikitpun kebohongan di sana. Dan kau tahu apa lagi, Kakashi?" Kakashi menatap pria itu dengan tanda tanya. Minato membalas dengan senyuman seraya menyentuh dada kirinya. "Hatiku. Hatiku yang mengambil alih diriku dan tanpa sadar menerimanya, bahkan tanpa ada keraguan sedikitpun. Seolah hatiku ini mengatakan bahwa dia memang benar-benar anakku, dan juga aku menjadi sangat percaya kepadanya setelah dia memberitahukan siapa ibunya."

"Jadi selama ini kau bukan virgin, Minato-san?" Kakashi menatap Minato seolah-olah orang itu sama sekali belum pernah mengenal wanita selama berabad-abad. Minato mendengus kesal sebagai respon. Hei, itu menghina harga dirinya, tahu!

"Memangnya kau pikir aku tidak laku?" Minato berkacak pinggang. "Begini-begini aku dikenal dengan sebutan Minato si lady-killer."

Kakashi mengabaikan ucapan Minato tadi dan hanya terdiam selama beberapa saat. Tangannya lalu mengusap wajahnya seraya mendesah pelan. "Aku tidak pernah mengenal seseorang yang sangat percaya dengan instingnya selain kau, Minato-san."

"Hei, itu bukan insting! Tapi ikatan kuat antara ayah dan anak!" Minato memprotes.

"Terserahlah," Kakashi mengibaskan tangannya, kemudian membalikkan badan menuju mobilnya yang terparkir di pekarangan kediaman Namikaze. "Aku harus pulang dulu untuk mengganti pakaian. Jangan lupa untuk datang ke acara jumpa fans jam dua nanti, Minato-san. Awas saja jika aku tidak melihat batang hidungmu di sana tepat waktu nanti."

"Ya, ya.." sahut Minato dengan malas, Ia memutar kedua matanya lalu berjalan mengantar kepergian Kakashi yang sudah berada di dalam kursi kemudinya. "Hati-hati. Jangan sampai kau tertabrak dan menghantuiku nanti."

"Haha... candaan yang lucu sekali," Kakashi membalasnya dengan menyelipkan nada sarkastik di akhir kalimat. Tiba-tiba saja, mata hitam Kakashi menatap Minato dengan pandangan bersalah dari balik jendela hitam mobil miliknya. "Hei, Minato-san. Apa tadi aku sangat keterlaluan terhadap dia?"

Minato terdiam, menatap Kakashi lama. Ia tak perlu bertanya siapa 'dia' yang dimaksud Kakashi tadi.

"Kalau kau merasa bersalah, minta maaflah kepadanya besok."

Kakashi membalasnya dengan senyuman kecil yang tak terlihat karena terhalangi masker hitam yang sedang dipakainya. "Baiklah, aku pulang dulu. Dan terima kasih sekali atas makanan yang sangat banyak itu, Minato-san."

Minato mengangguk sambil menatap mobil nissan berwarna silver milik Kakashi yang menghilang setelah keluar dari pagar rumahnya dan berbelok ke arah kanan. Pria pirang itu masih terdiam di tempat. Kedua matanya menatap langit biru yang dihiasi sedikit awan putih. Ia lalu menutup kedua kelopak matanya, menghirup napas dalam, dan mengeluarkannya perlahan.

"Kurasa ini tidak akan mudah," gumamnya samar.

.


.

Naruto terbangun saat matahari sudah meninggi. Dengan perlahan, ia bangkit dari tempat tidurnya, mengucek-ngucek kedua matanya dan kemudian menguap pelan. Ia melirik ke arah jam kecil yang terletak di atas bufet, berdampingan dengan lampu tidur berwarna krem muda. Benda itu menunjukkan pukul 13.05. Naruto tidak pernah tahu bahwa ia bisa tidur siang selama itu.

"Wow.. pasti aku kelelahan sekali," gumamnya pelan. Setelah ia merasa cukup mengumpulkan arwahnya yang sepertinya tadi lepas dari tubuhnya, Naruto memutuskan untuk keluar kamar.

Naruto sudah berada di ruang keluarga ketika matanya menemukan ayahnya sedang berdiri memunggunginya.

"Minato-san."

Pria itu berbalik saat merasa namanya dipanggil. Kedua mata biru sky-nya menemukan anaknya yang sedang memerhatikan dirinya di ujung ruangan.

"Oh, hei, Naruto-kun..." ia tersenyum, "kau sudah bangun? Sudah puas dengan tidurnya?"

Remaja itu langsung merasakan wajahnya memanas karena malu. Ia mengangguk pelan.

"Apakah kau akan pergi, Minato-san?"

Minato mengangkat sebelah alisnya, kemudian menyadari bahwa ia sedang memakai pakaian formal—sebuah kemeja merah dengan dasi hitam melekat di lehernya, dan dilengkapi dengan jas berwarna putih dengan bawahan sewarna—yang sebenarnya lebih terlihat seperti seorang host daripada orang yang ingin pergi. Pantas Naruto menanyakannya.

"Ah, ya, begitulah." Minato menggaruk kepalanya. "Maaf harus meninggalkanmu sendirian di sini, Naruto-kun. Padahal ini adalah hari pertama kau datang menemuiku," ujarnya dengan nada bersalah yang sangat kentara.

Remaja pirang itu menggeleng. "Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa sendi—maksudku, kau pasti juga punya kesibukan lain. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkan aku. Lagi pula, aku sudah besar."

Minato menatap anaknya dengan pandangan berbinar-binar, seolah-olah sedang melihat tingkah menggemaskan kucing kecil imut peliharaannya. Bedanya, kucing kecil itu adalah seorang remaja pirang yang mempunyai bola mata biru besar. Dalam sekejap, ia langsung memeluk erat Naruto dan menggesek-gesekkan pipinya ke rambut anaknya itu. "Oh, Naruto-kun... aku sangat bahagia sekali mempunyai anak manis sepertimu."

"Y-ya.. aku juga senang sekali... mempu.. nyai ayah.. sepertimu, Minato-san," balasnya dengan nada tercekik, akibat pelukan ayahnya yang seperti meremukkan seluruh tulang-tulangnya karena terlalu kencang, sementara kepalanya sendiri masih bergoyang-goyang. "Kurasa kau harus ce... pat pergi, Mina... to-san. Aku takut nan... ti kau akan ter... lambat."

Minato dalam sekejap terdiam mendengar perkataan Naruto tadi. Lalu ia langsung teringat perkataan Kakashi pagi ini.

[Jangan lupa untuk datang ke acara jumpa fans jam dua nanti, Minato-san. Awas saja jika aku tidak melihat batang hidungmu di sana tepat waktu nanti.]

Minato menghela napas, kemudian dengan terpaksa —dan sangat tidak rela—melepaskan pelukannya terhadap Naruto. "Ya, sepertinya kau benar. Kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika anjing putih itu tidak menemukan batang hidungku tepat waktu di sana. Dia bisa berubah menjadi serigala perak yang menakutkan." Dia berpura-pura bergidik.

Naruto hanya tertawa menanggapi perkataan Minato. "Jadi, kenapa kau tidak langsung bergegas?"

Minato menatap anaknya, lama. Terlihat seperti orang yang akan mengambil keputusan berat yang melibatkan keselamatan dunia. "Baiklah, aku pergi dulu."

Naruto mengangguk, dan membawa tas hitam milik Minato yang berada di atas meja. Ia mengikuti Minato sampai di depan rumah dan memberikan tas itu kepadanya. "Hati-hati di jalan."

Minato balas mengangguk. "Kau juga hati-hati, Naruto-kun. Walaupun kau berada di rumah, kau tidak boleh mengendorkan penjagaanmu. Jangan pernah membuka pintu kepada orang asing, apa lagi saat ini kau masih baru di sini. Kalau ada apa-apa, telepon aku langsung. Aku sudah menuliskan nomor handphoneku di catatan yang ada di samping telepon rumah. Kau itu anak yang manis, jadi pasti banyak sekali orang yang ingin menculikmu. Aaah... andai saja si baka Kakashi tidak mengancamku seperti ini, aku pasti masih berada di sampingmu dan kita bisa bercerita banyak hal, tapi gara-gara dia yang—"

"Ha'i, ha'i, Minato-san," Naruto sengaja memotong perkataan Minato yang kelewat panjang itu. Bila tidak dihentikan, ia yakin ayahnya akan terus bicara sampai kakinya pengkor karena kelamaan berdiri. Remaja pirang itu tersenyum maklum. "Aku tidak akan apa-apa. Lagi pula, sepertinya kau akan benar-benar terlambat bila tidak berangkat sekarang."

"Ah, shit!" Minato mengumpat pelan setelah sadar begitu melihat jam tangan buatan Paris itu menunjukkan pukul 13. 35. Mungkin kalau ngebut akan sampai tepat waktu.

"Baiklah, aku berangkat dulu." Minato mengulang salamnya, mengecup pipi anak laki-lakinya sekali, sebelum berlari memasuki mobil sport berwarna merah miliknya. Naruto melambaikan tangan sampai mobil yang dikendarai Minato lenyap dari pandangan.

.


.

Naruto kembali memasuki ruang keluarga. Kali ini dengan sebuah puding mangga dan jus jeruk di kedua tangannya. Tadi ia menemukan catatan kecil yang terpasang di pintu lemari es besar yang berada di dapur, dengan tulisan tangan yang rapi. Pasti milik Minato.

'Naruto-kun, jika kau lapar, aku sudah membuatkan makanan yang ditaruh di lemari makan. Nanti kalau kau mau makan, panaskan dulu makanannya di oven. Dan juga ada beberapa cemilan yang tersimpan di kulkas bila kau mau. Ambillah sebanyak yang kau suka.'

'Beberapa?' Naruto mengernyit heran. Ia tak yakin dengan kata beberapa itu, apalagi jika dikaitkan dengan ayahnya yang sedikit—aneh?

Dengan perlahan, remaja itu menarik kulkas, dan... voila! Benar saja apa yang dipikirkannya. Ternyata kata beberapa itu jika dispesifikasikan menjadi kurang lebih dua puluh cemilan yang berkumpul di dalam benda besar itu. Ada pudding, cake, parfait, ice cream, dan juga juice—lengkap dengan berbagai rasa.

Kedip-kedip, setelah beberapa menit, remaja itu akhirnya memutuskan mengambil satu potong pudding dan segelas juice, kemudian berjalan ke arah ruang keluarga dan meletakkannya di atas meja yang menghadap langsung ke arah televisi besar berlayar datar.

Naruto memutuskan untuk menghibur dirinya dengan menonton televisi, jarang-jarang ia bisa melakukan kegiatan sederhana itu seperti ini. Di rumah lamanya, ia memang tidak mempunyai televisi. Kalau mau menonton, itupun harus menumpang di tetangga sebelah sambil menahan rasa malu. Katakan saja kalau keadaannya dulu memang miskin, berbeda jauh dengan sekarang berkat ayahnya yang terlalu kaya.

Akhirnya, setelah beberapa menit sibuk dengan kegiatan mencari benda mungil bernama remote, Naruto mulai mencari beberapa saluran yang menarik. Sekitar lima belas menit lamanya, ia sama sekali tidak menemukan program acara yang sesuai dengan seleranya, dan terpaksa harus pasrah kepada salah satu saluran yang saat itu masih menampilkan iklan.

Naruto mengambil piring berisi pudding, memotong benda kenyal itu menggunakan sendok kecil, dan mulai memakannya. Akhirnya, iklan yang berlangsung tidak lebih dari dua menit itu telah berakhir. Kini layar benda itu berganti dengan gambar sebuah acara seperti interview yang dihadiri oleh banyak penggemar.

"Nah, kembali lagi kepada acara kita, 'The Idol You Wanna Dream About!'. Jadi, acara kita kali ini menghadirkan chef ternama yang sudah tampil di beberapa program memasak terkenal. Tentunya kalian—"

Naruto masih sibuk mengunyah potongan pudding mangga di dalam mulutnya, sementara matanya terus menatap ke arah layar televisi. Wanita berusia dua puluh lima tahunan yang merupakan pembawa acara itu masih saja terus berbicara. Mata hijau toska miliknya sesekali mengerling ke arah kamera, kemudian kembali lagi menghadap puluhan fans yang berada di sana.

'Acara jumpa fans langsung, rupanya.' Naruto menggumam dalam hati.

Pembawa acara bernama Matsuda Mayumi*) itu kemudian tersenyum dan berseru, "—kita hadirkan... chef tampan yang kemampuannya sudah diakui oleh juru masak legendaris, Hotsuka Azawa*), dengan sertifikat internasional yang wajahnya selalu disebut-sebut sebagai model paling hot tiga tahun belakangan ini! Dengan senyuman manisnya yang bisa meluluhkan hati para wanita, kita panggil... Namikaze Minato!"

Remaja pirang itu langsung terjungkal ke belakang, kalau saja tidak ada punggung sofa yang menahan badannya. Matanya mengerjap-ngerjap. Sekali... dua kali... dan layar televisi itu masih tetap tidak merubah tampilan seorang pria tampan berambut pirang yang datang dari belakang stage.

"Mi... Minato...-san?"

Mata blue sky itu masih tidak berkedip akibat shock karena mengalami dimana ayah-kandungnya-yang-ternyata-seorang-idola-terken al itu terpampang jelas di layar datar benda sebesar 34 inch. Naruto segera membenarkan posisi duduknya, menyamankan bokongnya di sofa empuk yang dilapisi beludru merah. Kedua matanya terus menatap tampilan acara yang sedang berlangsung, meski raut wajahnya masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.

Bayangkan saja jika kau mempunyai ayah yang selama belasan tahun tidak pernah bertemu, dan pada hari pertama pertemuanmu dengan ayahmu itu, kau mengetahui bahwa ayahmu adalah seorang idola terkenal yang bahkan tampil di acara yang memiliki rating tertinggi. Apakah kau tidak—sangat terkejut?

"Minato-san, terima kasih karena sudah bersedia datang ke acara kami ini." Matsuda Mayumi tersenyum setelah sebelumnya memersilahkan idola tampan itu untuk duduk di salah satu sofa yang tersedia di atas panggung sana.*)

"Tidak apa-apa, kebetulan saya sendiri mempunyai cukup waktu luang hari ini," Minato tertawa pelan, yang menyebabkan gigi putihnya yang tersusun rapi itu terlihat. Mendadak acara itu penuh dengan teriakan "kyaaa" yang paling banyak terdengar dari para fans perempuan yang ada di sana.

Lima menit berlalu setelah kru-kru acara itu menenangkan pengunjung yang mendadak gila karena teriakan histeris mereka, akhirnya si wanita berambut merah itu mulai bisa berbicara lagi. "Tapi, bukankah Anda terkenal dengan tidak menampilkan wajah Anda dibeberapa acara yang menawarkan diri Anda untuk diwawancarai? Bahkan, Anda merupakan "The Most Mysterious Idol in Japan" nomor satu karena sedikitnya informasi mengenai diri Anda."

"Benarkah?" Minato terlihat geli dengan sebutan aneh yang baru didengarnya itu. "Aku tidak tahu dengan itu semua. Alasanku tidak mengambil tawaran-tawaran itu karena... yah, anggaplah hal itu merepotkan."

Wanita itu sedikit tertarik. "Jadi, apa yang membuat Anda memutuskan untuk datang ke acara kami? Sebelumnya, Anda bahkan menolak tawaran kami, berkali-kali."

"Aku membuat deal dengan managerku."

"Oh, ya?" Mata hijau toska wanita itu berkilat penuh ketertarikan. "Kalau boleh tahu, apa itu?"

Minato tersenyum misterius, sambil mengulurkan jari telunjuknya ke arah bibir Matsuda Mayumi yang berpoles lipstik merah, lalu berbicara dengan suara rendah dan dalam, "Itu... rahasia."

Dalam sekejap, riuhan meriah akibat teriakan penonton yang lebih gila dari sebelumnya kembali terdengar. Kali ini kru-kru acara televisi "The Idol You Wanna Dream About" dikerahkan lebih banyak, namun tetap saja tidak bisa meredakan suara-suara bersopran tinggi itu. Bahkan, Naruto yang tidak ada di tempat kejadian langsung saja masih bisa membayangkan betapa berisiknya suara itu. Ia hampir saja ingin mematikan televisi jika bukan ayahnya yang kali ini berada di sana. Sebagai seorang anak, tentu saja remaja itu ingin lebih mengetahui soal ayahnya, baik di dalam rumah ataupun di luar.

"Ya, ampun, acara ini sepertinya sangat meriah sekali," decak Mayumi, kagum, setelah sembuh dari keterpakuannya akibat aksi Minato tadi.

Sang pelaku sendiri hanya mengulum senyum. "Bagus kalau begitu. Lebih ramai lebih meriah," ujarnya kembali dengan teori anehnya.

"Baiklah, kita lanjut pada pertanyaan selanjutnya. Sampai sekarang, banyak sekali aktris, aktor, pejabat, maupun orang-orang terkenal lainnya yang sudah mempunyai skandal maupun gosip yang diperbincangkan di dunia pertelevisian." Minato menyimak dengan seksama. "Tapi sejauh ini, nama Anda sekalipun belum ada diantara mereka. Bahkan, para penggemar Anda pun sama sekali tidak tahu apakah Anda masih single atau sudah menikah—mengingat umur Anda yang sudah mencapai usia tiga puluh tiga tahun..." kedua iris mata Mayumi melebar sesaat ketika membaca kertas yang dipegangnya,"...wow, Anda masih terlihat muda. Saya tidak menyangka Anda sudah berumur segitu, Minato-san."

Penampilan chef profesional Namikaze Minato memang sama sekali tidak bisa disangka oleh orang banyak. Tak banyak orang yang tahu bahwa pria yang kelihatan berumur dua puluh enam tahun itu sebenarnya telah menginjak usia tiga puluh tiga tahun. Hal ini jugalah yang membuatnya menerima penawaran untuk menjadi model, baik dimajalah ataupun iklan-iklan komersial lainnya—yang kebanyakan langsung ditolaknya tanpa berpikir dua kali. Saat ini saja, banyak fans-fansnya yang masih shock saat mengetahui umur sebenarnya chef tampan itu.

Sementara itu, Minato masih bergeming di tempatnya. Hatinya terasa jungkir balik, antara was-was dan takut ketika dugaannya benar-benar terjadi. Dirinya semakin gelisah saat melihat sang pembawa acara yang masih menatapnya dengan senyuman. Tidak. Ia sama sekali tidak siap dengan ini!

"Jadi—maksud dari pertanyaan ini adalah...," Minato menjilat bibir luarnya yang mendadak terasa kering, "...Anda masih single atau sudah mempunyai pasangan?"

Checkmate!

Pria pirang itu sama sekali tidak berkutik di atas sofa berwarna krem muda. Pandangannya langsung blur seketika, seolah yang ada dihadapannya ini bukanlah fans-fansnya yang kebanyakan wanita, melainkan wujud yang lebih menyeramkan lagi. Ia menutup matanya rapat, menghirup udara sebanyak yang ia bisa, dan kembali menatap si pembawa acara yang masih menunggunya dengan sabar.

"Aku...," ia merasakan sesuatu yang lebih tajam daripada pisau menghunus dadanya, "...masih single."

.


You're My precious one — To be Continued


.

*) Matsuda Mayumi dan Hotsuka Azawa itu OC saya dalam fic ini. Saya sendiri gak tahu apakah benar-benar ada orang yang mempunyai nama seperti mereka? :p *ditimpuk*

*) Pernah nonton acara "bukan empat mata" 'kan? Nah, tempat acara itu kurang lebih sama seperti itu.

.


.

Gomenasai, minna. X(

Awalnya, saya memang berencana mempublish fic ini seminggu sekali, namun saat itu saya pikir masalah di chapter ini akan diselesaikan langsung dalam sekali publish, jadinya chapter selanjutnya langsung cerita dimana Naruto mulai bersekolah dan kemunculan perdana Sasuke. Tapi, namanya juga "plot in-progress", jadi plotnya masih belum ditentukan. Dan saya juga tidak ada rencana kalo konfliknya bisa jadi rumit seperti ini. Dx

Jadi dengan terpaksa, saya tidak bisa memunculkan Sasuke segera. Doa'kan saja agar otak saya masih menerima ide-ide untuk jalan cerita fic ini. Dan, saya juga sangat berterima kasih kepada para pembaca yang sudah mereview chapter sebelumnya.

Arigatou! m(_ _)m

Oh iya. Adakah reader yang mempunyai ide untuk jalan cerita chapter berikutnya? Mungkin sebagai penunjang gak masalah.. :]
Saya sangat butuh soalnya... D: - mendadak kena "WB"

Review for appreciation~ :D

.


.

Balasan review untuk non-login,

Dobe siFujo: Salam kenal juga~ :D
Ini udah disebutkan, kok. Kalo masih belum tahu, pekerjaan Minato itu chef yang sering tampil di acara memasak, mirip kayak pekerjaannya "Farah Quin". Anoo.. soal Sasuke, saya gak bisa jamin *nangis*. Yosh! Terima kasih atas semangat dan reviewnya~ :)

GerhardGeMi: Hehe... benarkah? *senyum malu-malu* Eh? Kalo update kilat gak tahu juga... masalahnya terletak pada otak dan mood saya, soalnya... Dx Kalo ending SasuNaru... hmm.. hmm... kita lihat aja nanti~ *grin* :3 Terima kasih atas reviewnya~ :)

Ghicchi: Hehe.. makasih... :) Tapi saya masih harus banyak belajar, soalnya tulisan saya masih jelek kok... *pundung* But, terima kasih atas reviewnya~ :)

Guest: Eh? Umur yang mana? Naruto atau Minato? Kalo Naruto, dia berumur 14 tahun, dan tahun ini akan menginjak usia 15 tahun. Sedangkan Minato, usia sebenarnya yaitu 33 tahun, tapi sering disangka berusia 25 tahunan... xD
Terima kasih atas reviewnya~ :)

Guest: Eh, benarkah? Saya juga suka~ :D - gak da yang nanya *pundung*
Terima kasih atas reviewnya~ :)

Yuto: He.. saya juga suka ngelihat Kakashi digituin sama Minato~ xD (digituin?). Terima kasih atas reviewnya~ :)