Nyanyian tanpa birama itu masih terus berkumandang. Lembut, tenang, menenangkan.

"Ini ... Mazmur ...?" gumam Yammy sambil mengerjapkan mata dan berpikir. Badannya terasa tengah terbaring di sebuah alas yang keras. Wajah di hadapannya bergeser keluar dari pandangan.

Suara lelaki itu menjawabnya, "Benar. Mereka sedang mendaraskan Mazmur kedua puluh empat."

"Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya."

Mendengar kalimat yang dinyanyikan itu, Yammy tertegun sejenak sebelum bangkit perlahan dari posisinya yang terbaring. Dia ada di salah satu bangku kayu berderet dalam sebuah gedung berlangit-langit tinggi dan berdinding batu. Kaca patri warna-warni ada di kiri-kanan, dan di hadapan Yammy ada undak-undakan dengan meja batu tinggi di tengahnya. Meja itu dihiasi kain putih panjang dan bunga-bunga semarak, demikian pula tonggak-tonggak kayu kecil di kedua sisinya.

Di belakang semuanya itu, bergantung di dinding, ada sebuah kayu palang raksasa.

"Apa aku ada di surga?" seloroh Yammy nyaris tanpa sadar. Dia tersentak kecil. "Mana mungkin. Aku tak mungkin masuk surga."

"Ini bukan surga," sahut sosok di sisinya; lembut, tenang, seperti kidung Mazmur yang tengah didaraskan.

"Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."

Selagi nyanyian itu masih berlanjut, Yammy Largo menoleh ke samping dan menatap lawan bicaranya. "Tapi, ini tak mungkin neraka juga."

"Kenapa begitu?" Pastor Joaquin tersenyum lembut.

"Pastor tak mungkin ada di neraka," ujar Yammy dengan yakin.

Senyum di wajah renta itu memudar sedikit. "Bagi Tuhan, tak ada yang mustahil, Yammy. Tapi, kamu benar. Tempat ini bukan neraka. Bukan juga surga."

"Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan ...?"

Pandangan Yammy beredar ke sekitar. Altar itu, mimbar di sisinya, kaca patri yang mengepung dinding. Dilihat dari mana pun, tampaknya interior sebuah gereja. "Kalau begitu, tempat apa ini? Bukankah aku sudah mati?"

"Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"

Pastor Oscar Joaquin de la Rosa menatap kepada kayu salib di belakang altar, tak segera menjawab.

"Kamu sedang berada di purgatorium, Yammy Largo."

Mata Yammy melebar mendengar jawaban sang pastor. Kidung Mazmur di latar belakang berlanjut,

"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya ..."

.

.

.

.

.

A side story of "Past, Present, and Future", "RECONQUISTA!", and"Cadaveri Eccellenti".

.

Disclaimers:

Bleach(c) Tite Kubo

Naruto(c) Masashi Kishimoto

Assassination Classroom(c) Yuusei Matsui

Inspired by "The Five People You Meet in Heaven" by Mitch Albom.

.

The author gained no material profit from this work of fiction.

Genre: Spiritual

Rate: T

Alternate Universe. Roman Catholic theme and references.

All chapters' titles are derived from biblical parables of the Catholic gospel.

.

.

.

.

.

Chapter 1. The Good Shepherd

.

.

.

.

.

"Purgatorium?" ulang Yammy, menelisik kembali memori penuh debu dari bertahun lampau tentang ajaran gereja. "Api penyucian?"

"Tepat," puji Pastor Joaquin.

Yammy terdiam agak lama. Dia ingat dengan jelas kejadian terakhir di dunia ... kejadian yang mestinya telah mengantarnya kepada kematian. Dirinya dan Ulquiorra Chifer tengah melaju bersepeda motor di atas batu-batu karang, selesai menunaikan misi balas dendam ...

"Aku tidak masuk ke neraka?" Yammy terdengar tak yakin, menunduk menatap kedua tangannya. Sama seperti Mazmur yang barusan, hanya orang yang bersih tangannya dan murni hatinya yang berhak naik ke surga.

Yammy telah hidup sampai umur kepala empat dengan merampas hidup orang lain. Tangannya—kedua tangan ini, bertelapak lebar dan besar dan berkulit kecokelatan—selalu berlumuran darah. Dan perbuatan terakhirnya di dunia pun, sekali lagi merenggut nyawa seseorang.

Namun, orang itu memang pantas mendapatkannya. Sebuah kegeraman kecil mencubit hati Yammy, memercikkan api yang tak kelihatan di dalam tulang-tulangnya.

"Ya. Yammy tidak masuk ke neraka," ulang Pastor Joaquin, masih dengan ketenangan yang sama menakjubkannya. Dalam sekejap, kobaran api kecil yang barusan jadi padam. Seolah perkataan sang pastor, afirmasinya bahwa Yammy tidak didakwa sebagai pendosa di alam hukuman, telah menyiramnya dengan kesejukan. Mendadak, Yammy merasa dadanya sesak oleh rasa haru. Dibawanya kedua tangan yang senantiasa berlumuran darah itu menutupi wajahnya.

"Uuuuh ... a-aku ... uuugggh ..."

Yammy menangis sesenggukan. Empat puluh tahun dia telah hidup penuh dosa dan dia mendapat pengampunan di akhirat. Anugerah apa seajaib ini? Bisa dirasakannya tangan ringkih sang pastor menepuk-nepuk punggungnya yang lebar dan masih berguncang oleh tangis.

"Yammy tidak masuk ke neraka, tapi ..." Pastor Joaquin menjeda, "... kamu belum bisa masuk ke surga."

Yammy mengangguk, dia tahu dan ingat apa itu purgatorium alias api penyucian. Di sanalah jiwa-jiwa yang selamat dari penyiksaan neraka tapi belum sepenuhnya layak untuk masuk ke surga, bersemayam untuk sementara waktu.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Yammy bertanya, tak berani mengutarakan keinginan paling kudus. Jauh di dalam hatinya, dia masih merasa tak layak untuk mendapat pengampunan, apalagi untuk masuk ke surga.

"Sepertinya Yammy hanya harus melakukan perjalanan," sahut sang pastor.

"Perjalanan?" ulang Yammy.

"Benar. Sepertinya aku adalah orang pertama yang kamu temui di purgatorium."

"Apa itu artinya ada lagi yang akan kutemui ... di ... sini?" Yammy mengedarkan pandangan ke seluruh bagian dalam gereja. "Orang-orang yang juga sudah ... meninggalkan dunia fana?"

"Sepertinya begitu."

Yammy mendapati beberapa kali Pastor Joaquin menyebut kata 'sepertinya'. Dia bertanya lagi,

"Kenapa Pastor ragu-ragu? Bukankah Pastor ... diutus ...? ... ke sini dari surga, untuk menemuiku, menilaiku apakah aku layak ..." Yammy tidak sanggup meneruskan kalimatnya.

"Tidak begitu, Yammy," sahut sang pastor, nadanya sendu. "Aku pun masih dalam perjalanan."

Jawaban itu menyentakkan Yammy demikian kuat seolah ada tiupan angin keras yang mendadak berembus di antara mereka. Tiba-tiba saja, seluruh pandangannya menjadi gelap.

"Tapi, Pastor Joaquin orang baik!" seru Yammy, lebih merasa kaget daripada panik karena tiba-tiba ditelan kegelapan dan angin yang menderu. Dia merasa Pastor Joaquin masih ada di dekatnya, di depannya. Dia bisa merasakannya. Segala inderanya terasa peka meski tak bisa melihat apa pun. Yammy mencoba meraih ke depan, tapi tidak merasakan apa-apa di tangannya. "Pastor memungutku dan memberiku tempat tinggal dan makanan! Tak mungkin orang sebaik dirimu tidak diterima di surga!"

"Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, Yammy ..." Suara sang pastor terdengar samar, namun disertai getaran yang tak terelakkan di dalamnya. "Tidak ada manusia yang sempurna. Aku pun tidak. Aku hanya seorang gembala di dunia fana."

Apakah maksud perkataan itu? Apa Pastor Joaquin dulunya seorang gembala ternak sebelum menjadi pastor?

Atau itu hanya kiasan karena pastor disebut juga gembala gereja? Penjelasan yang hadir dari sang pastor sendiri menyudahi tanda tanya di dalam pikiran Yammy:

"Aku mengenal setiap orang yang datang ke gerejaku, seperti gembala yang mengenal domba-dombanya dan memanggil nama mereka masing-masing. Tapi aku gagal melindungi mereka semua, termasuk dirimu." Terdengar Pastor Joaquin berhenti sejenak, Yammy masih tak bisa melihatnya. Kalimat berikutnya sarat akan penyesalan, "... Dan itulah yang membuatmu semakin tersesat di dalam hidup, Yammy."

"Aku memang sudah lama tersesat," sahut Yammy, tapi dia tidak menyangkal bahwa kematian Pastor Joaquin dulu telah membuat goncang rasa percayanya terhadap sesama manusia. "Bukan salahnya Pastor kalau gagal melindungi gereja itu ... dan Pastor sudah mengorbankan diri. Bukankah itu juga sifat gembala yang baik? Tidak seperti ... seseorang," suara Yammy tiba-tiba berubah menjadi geraman, "seseorang ... seorang pemimpin yang malah kabur ketika semua anak buahnya berada dalam bahaya."

Tawa renta terdengar, juga masih samar-samar. "Sepertinya kamu bicara dari pengalaman. Betul begitu, Yammy?"

Yammy tak menjawab kali ini. Panas amarah yang familier kembali menjalar di dalam dadanya, ketika teringat sosok pria perlente berdarah Jepang yang sampai beberapa tahun lalu menjadi atasannya. Apalagi kalau ingat apa yang sudah dilakukannya terhadap Yammy dan seseorang lagi ...

Tepat saat Yammy mengira amarahnya akan meledak dalam gelap, terdengar bunyi lonceng dari atas, mengingatkannya bahwa dia masih berada di dalam gereja.

"Sudah waktunya kamu melanjutkan perjalanan, Yammy." Pastor Joaquin bicara lagi dan Yammy merasakan sebuah tepukan lembut di bahu kirinya. Lonceng gereja itu berdentang semakin keras, mengalahkan deru angin yang masih melanda. "Kamu akan melanjutkan perjalanan untuk nantinya kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu."

"Siapa?" Yammy mencoba bertanya, meski bisa menebak jawabannya, karena masih merasa ini semua hanya mimpi. Ke mana lenyapnya rasa marah yang barusan hampir meledak di permukaan? Segalanya terasa terlalu ajaib ... terlalu sulit dipercaya, tapi lagi-lagi suara Pastor Joaquin membuatnya tenang,

"Dialah satu-satunya gembala yang baik."

.

.

.

.

.

[to be continued].

.

.

.

.

.

Author's Note:

Kutipan yang dicetak miring berasal dari surat pertama Rasul Petrus bab 2 ayat 25. Roux melanjutkan bab pertama cerita ini dan memberinya judul "Gembala yang Baik" tepat di Hari Minggu Panggilan, Hari Minggu Paskah keempat, di mana bacaan kedua, mazmur tanggapan, dan bacaan Injilnya bicara tentang gembala :")

Kira-kira siapa yang akan ditemui Yammy berikutnya?

Terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran sangat diterima.

[30.04.2023]