ScReW © PSC
Pair(s) : Kazuki/Byou, Kazuki/Manabu, Aoi/Uruha
Dont like, dont read!
~ (^O^) ~
"Byou, jawab Mommy! Apa yang ada di lehermu itu?!"
Seketika suasana di rumah itu menjadi menegangkan. Byou menatap ibunya dengan takut-takut, sementara Kazuki terus mengumpat dalam hati.
"Uruha-san, sepertinya anda sangat naif kalau tidak tahu apa yang ada di leher putramu itu," ucap Aoi diiringi seringaian khasnya.
Uruha menghela nafas panjang lalu membingkai wajah Byou menggunakan kedua tangannya. "Jangan takut, Mommy tidak marah padamu. Jadi, tolong katakan siapa yang melakukannya?"
"Uhmm... Aku yang melakukannya karena aku menyayanginya." Kazuki angkat bicara. '—ya, menyayangi tubuh indahnya,' sambungnya dalam hati.
Byou menatap tak percaya kepada Kazuki. "Kazuki-kun, menyayangiku?"
"Tentu saja aku sangat menyayangimu, Baka!" ucap Kazuki terang-terangan. "Ne Aunty, bolehkah aku menjalin hubungan khusus dengan putramu?"
"Uhmm~ terserah Byou saja," ucap Uruha.
Ketiga orang di sana menatap Byou untuk dimintai jawaban.
Byou menggelengkan kepalanya lalu menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. "Kalian jangan menatapku seperti itu! Aku malu~"
Aoi meraih tangan Uruha. "Uruha-san, lebih baik kita tinggalkan mereka berdua agar mereka tidak canggung," bisik Aoi lalu menarik Uruha menjauh dari tempat itu.
Perlahan Kazuki menarik tangan Byou yang masih menutupi wajahnya. "Aku ingin melihat wajah cantikmu saat tersipu seperti itu. Sssstt, aku jadi ingin menggigitmu, Byocchan~"
Wajah Byou bertambah merah dari sebelumnya. "Kazuki-kun, apakah yang kau katakan itu serius?"
Kazuki mengecupi wajah Byou. "Aku serius, jadilah kekasihku!"
"Bohong! Aku tahu Kazuki-kun pasti sedang berbohong!" seru Byou dengan tiba-tiba. Dia mendorong tubuh Kazuki sekuat tenaga lalu langsung berlari masuk ke kamarnya.
Kazuki tertawa kecil melihat tingkah Byou. Dia mengambil ponselnya lalu mengirimi Byou e-mail... [Selamat malam, Cantik. Kau berhutang ciuman padaku. Besok akan kutagih, bersiaplah!]
Byou mengabaikan e-mail dari Kazuki. Dia malah sibuk memukul-mukul bantalnya. "Kazuki-kun pembohong! Bercandanya tidak lucu!" serunya kesal, namun wajahnya masih tersipu.
~ (^O^) ~
Seharian ini di sekolah Byou merasa tidak tenang. Dia tidak ingin bertemu dengan Kazuki—lebih tepatnya dia tidak ingin dicium oleh Kazuki. Membayangkannya saja sudah membuatnya sulit bernafas. Dan pernyataan Kazuki semalam masih memenuhi pikirannya. Apakah Kazuki benar-benar menyukainya? Sudah pasti itu tidak benar kan?
"Jin, bukankah aneh kalau orang yang baru seminggu mengenalmu tiba-tiba menyatakan cinta kepadamu?" tanya Byou kepada Jin yang duduk di sebelahnya.
"Menurutku tidak aneh, bahkan kemarin saja aku melihat dua orang yang baru saling mengenal bercumbu di dalam kamar," balas Jin sarkastik.
Byou memandang Jin dengan tajam, namun Jin pura-pura sibuk menyalin materi yang ada di bukunya.
"Jin! Aku serius!" seru Byou.
Jin memandang Byou dengan agak kesal. "Apakah Kazuki-senpai menyatakan cinta kepadamu?"
Byou mengangguk, membuat Jin langsung melotot tak percaya. "Kau tidak bohong kan? Kazuki-senpai kan sudah punya pacar, Byou!"
Sekarang gantian Byou yang kaget. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Kazuki yang setiap hari menggodanya itu sebenarnya sudah punya kekasih. Lalu kenapa Kazuki terkesan mengejarnya? Bahkan kemarin Kazuki memintanya untuk jadi kekasihnya.
Jin mengelus pundak Byou yang terlihat masih shock. "Kau tahu Manabu-senpai? Model cantik yang dulu sekelas dengan Kazuki-senpai—"
"Dia pacarnya Kazukebe?!" potong Byou.
Jin mengangguk. Dia dapat melihat sirat kekecewaan di wajah Byou. "Maafkan aku tidak memberitahumu sejak awal, Byou..."
"Kau tidak salah, Jin. Seharusnya dari awal aku cerita padamu tentang kedekatanku dengan Kazukebe—Uhmmm... aku mau ke toilet dulu ya~" Byou beranjak ke toilet. Jin sengaja membiarkannya pergi sendiri karena Jin tahu Byou sedang ingin menenangkan pikirannya.
Byou berdiri cukup lama di depan wastafel. Dia mencuci mukanya berulang kali sambil terus mengumpat. Untungnya dia hanya sendirian di toilet itu jadi tidak ada yang mendengar umpatan yang terlontar dari bibir manisnya.
Tiba-tiba pintu toilet terbuka, Byou kaget saat melihat orang yang paling tidak ingin dia temui masuk ke dalam toilet itu. "Kazuki-kun..."
"Sepertinya aku sedang beruntung." Kazuki mendekati Byou lalu menarik Byou ke salah satu bilik toilet yang ada di sana.
"Kazuki-kun, lepaskan aku!" seru Byou sambil terus meronta dari cengkraman Kazuki.
Kazuki mendorong tubuh Byou ke dinding lalu menghimpitnya hingga tubuh mereka saling bergesekan. "Byocchan, kau terlihat lebih manis hari ini..." bisiknya lalu menyelipkan kedua tangannya ke pinggul Byou. Meremasnya dengan gemas dan berulang hingga Byou terus menggeliat.
"Haahh~ Aaahhhhhhh... Aku tidak mau—"
"Hah?"
"Lepaskhaaaaannnn... uhmmm~ ah..."
Kazuki mencium bibir Byou yang mulai mendesah-desah seirama dengan remasannya. Dia sadar ini masih di area sekolah jadi bisa gawat kalau ketahuan warga sekolah. Bisa-bisa orang tua mereka dipanggil ke sekolah.
Bulir-bulir keringat turun dari pelipis hingga ke leher Byou. Kemejanya yang tipis mulai basah, membuat lekuk tubuh rampingnya bisa diterawang dengan mudah.
"Kau sangat menggairahkan! Ungghh..." Kazuki terus mengaduk-aduk mulut Byou menggunakan lidahnya. Menyesap rasa manis dari bibir Byou yang memabukkan. Dia juga menambah tempo remasannya. Dan kalau saja kebutuhan oksigen tidak menuntut keduanya, Kazuki enggan untuk menyudahi ciumannya.
Kazuki melepaskan ciumannya lalu menempelkan keningnya ke kening Byou. Dia memandang Byou yang menatapnya sayu dengan nafas yang terengah-engah.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Kazuki-kun?" tanya Byou dengan kesal.
"Apa maksudmu, hm?"
"Aku tanya sekali lagi, apa yang kau inginkan dariku? Kau sudah punya kekasih yang begitu cantik dan aku yakin aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya!"
Kazuki hanya diam sambil terus memandangi Byou. Entah kenapa hatinya sakit melihat gurat kesedihan di wajah Byou. "Byocchan, apakah aku sudah menyakitimu?"
"Kazuki-kun jahat! Pembohong!" seru Byou sambil meremat tangannya sendiri. Air matanya turun tanpa bisa ditahan lagi. Dia tidak menyangka kalau kekecewaannya akan terasa sesakit ini. Dia baru sadar kalau selama ini dia benar-benar menginginkan Kazuki hanya untuk dirinya seorang.
"Padahal aku berharap hari ini kau akan meyakinkanku agar aku mau jadi kekasihmu. Ternyata selama ini kau hanya berpura-pura!"
Kazuki menyeka air mata Byou menggunakan ibu jarinya. "Byocchan, maafkan aku telah membohongimu. Aku memang hanya menginginkan tubuhmu tapi—"
Byou mendorong tubuh Kazuki sekuat tenaga lalu berlari pergi meninggalkan Kazuki yang hanya bisa terdiam melihat kepergiannya.
Jin kaget melihat Byou yang berlari menghampirinya dengan berurai air mata. Dia langsung memeluk Byou dan mengajaknya untuk duduk. "Byou, kenapa kau menangis?"
Byou hanya menggeleng lalu mengeratkan pelukannya pada Jin. Sementara Jin hanya menghela nafas sambil mengelus kepala Byou untuk menenangkannya.
~ (^O^) ~
Berulang kali Kazuki membenturkan kepalanya sendiri ke tembok kamarnya. Dia terus merapalkan kalimat bahwa dia baik-baik saja. Namun pada kenyataannya dia jauh dari kata 'baik'. Bayangan wajah Byou yang dipenuhi kesedihan terus menghantuinya. Terlebih lagi dia sudah membuat Byou menangis.
"Aku benar-benar orang yang buruk. Mana-chan, aku sudah mengkhianatimu. Aku tidak pantas untuk terus bersamamu," gumamnya penuh penyesalan. Tubuhnya merosot ke lantai lalu dia meraih ponselnya. Dia mengirim e-mail kepada Manabu, mungkin itu akan menjadi e-mail terakhir yang dia kirimkan untuk Manabu.
[Mana-chan, kita akhiri saja hubungan kita. Aku harap kau bisa mendapatkan orang yang lebih baik dariku. Orang yang bisa mendukung dan membantumu mengejar cita-citamu, bukan orang bodoh yang hanya bisa mengeluh sepertiku. Maafkan aku... Sayonara.]
Setelah mengirimkan e-mail itu, Kazuki membuang ponselnya ke tempat sampah. Dia membaringkan tubuhnya di ranjangnya lalu berusaha memejamkan matanya. Rasanya dia sudah tidak punya muka untuk bertemu Byou ataupun Manabu. Namun, bagaimanapun juga dia harus menemui Byou untuk minta maaf.
~ (^O^) ~
Dinginnya angin malam tidak mengusik lamunan Byou. Dia berdiri memandang langit lewat jendela kamarnya. "Langitnya gelap dan mendung, seperti hatiku..." gumamnya sambil memandangi langit malam itu.
Uruha yang duduk di sampingnya hanya tertawa kecil. "Kau jangan terlalu lama bersedih~"
Byou mengangguk lalu menyandarkan kepalanya ke bahu ibunya. "Aku tidak pernah menyesal pernah dekat dengannya."
"Sepertinya kau benar-benar menyukainya ya?"
"Aku sangat menyukainya, bahkan aku tidak bisa benar-benar marah kepadanya. Aku masih berharap dia datang kesini lagi untuk menemuiku."
Uruha mencium pipi Byou lalu menuntunnya ke ranjang. "Lebih baik sekarang kamu tidur dulu, jangan terlalu memikirkannya. Kalau dia memang menyayangimu, nantinya dia pasti akan kembali padamu."
"Arigatou, Mommy..." Byou tersenyum tipis lalu memejamkan matanya.
~ (^O^) ~
"Mommy! Mommy!"
Byou menuruni tangga dengan terburu-buru. Dia mendekati ibunya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Mommy, di kamarku ada bunga banyak sekali. Ada ratusan! Mommy harus melihatnya!" serunya lalu menarik tangan Uruha menuju ke kamarnya. Benar saja, kamarnya yang semula bersih sekarang berubah bagai kolam bunga. Ratusan bunga mawar berbagai warna tersebar di lantai kamarnya.
"Mommy kok tidak kaget?" Byou menggaruk tengkuknya dengan bingung.
"Kenapa harus kaget?" tanya Uruha lalu kembali lagi ke dapur.
"Mommy yang melakukannya?" tanya Byou dengan curiga.
"Bukan," jawab Uruha.
"Lalu siapa yang melakukannya? Mommy pasti tahu kan siapa yang melakukannya?"
"Mommy memang tahu siapa yang melakukannya, tapi Mommy tidak akan memberitahukannya padamu. Karena Mommy sudah janji pada orang itu untuk tutup mulut."
Byou merengut kesal lalu kembali ke kamarnya. Dia mengumpulkan mawar itu lalu dia menatanya dalam beberapa vas untuk di pajang di setiap sudut kamarnya. "Wah, cantik~"
Diam-diam Uruha menghubungi seseorang. "Sepertinya kau berhasil! Byou terlihat senang menerima bunga pemberianmu~"
~ (^O^) ~
Sembari bersenandung kecil, Byou berjalan sendirian menuju ke kelasnya. Hari ini Jin izin tidak masuk jadi Byou berangkat ke sekolah sendirian. Semenjak kejadian tempo hari, Kazuki tidak pernah menjemputnya lagi. Ternyata Kazuki memang sudah tidak peduli lagi padanya.
Sebenarnya Byou ingin bertemu dengan Kazuki dan bilang bahwa dia baik-baik saja. Dia ingin menjalin hubungan yang baik dengan Kazuki dan melupakan segala hal buruk yang sudah terjadi.
'Bruuggh!'
Tanpa sengaja Byou menabrak punggung seorang pemuda yang ada di depannya. Pemuda itu langsung menoleh ke arahnya lalu menyeringai.
"E—eeh... Aoi-senpai, maafkan aku! Aku tidak sengaja~" Byou membungkukkan badannya.
"Hayo, Byou-chan ingin nempel-nempel ke tubuh seksiku ya?" tanya Aoi sambil menarik-narik kedua pipi Byou.
"Eh? Enak saja! Ihhh~ Lepaskan~" Byou terus berusaha menyingkirkan tangan Aoi dari pipinya, namun Aoi malah menariknya semakin kuat dan baru melepaskannya ketika pipi Byou berubah warna menjadi merah.
"Sakit~" seru Byou sambil menabok punggung Aoi.
Aoi balas mencolek hidung Byou.
Byou menabok punggung Aoi lagi.
Aoi balas mencolek pinggul Byou.
"MESUUUUMMM!" Byou menjewer Aoi sekuat tenaga.
"Aduuuh! Maaf... Maaf..." rintih Aoi sambil memegangi telinganya.
Byou mendengus kesal sambil mengacungkan telunjuknya ke depan wajah Aoi. "Awas kalau Aoi-senpai mesum lagi! Aku akan laporkan Aoi-senpai sama... sama... uhmmm~"
"Sama siapa, hm? Kamu mau laporin aku kepada siapa?" tanya Aoi sambil mencolek dagu Byou.
Kazuki yang baru datang langsung menepis tangan Aoi lalu menariknya menjauhi Byou. "Senpai, aku belum sarapan. Ayo kita ke kantin," ucapnya tanpa melirik Byou sedikitpun.
Byou hanya menunduk sambil menggigit bibir bawahnya melihat perlakuan Kazuki terhadapnya sekarang ini. Sepertinya itu bukanlah Kazuki yang selama ini dia kenal. Dia mulai merasa lebih baik diperlakukan senonoh daripada tidak dianggap seperti itu.
~ (^O^) ~
"Hey! Jangan melamun terus!" Aoi memukul kepala Kazuki menggunakan gulungan majalah dewasa.
"Kau apakan dia tadi?!" tanya Kazuki sambil menatap Aoi dengan tajam.
Aoi menutup mulutnya lalu tertawa terpingkal-pingkal. "Aku hanya mencolek dagunya kok."
Pandangan Kazuki semakin tajam, membuat Aoi tidak dapat menghentikan tawanya.
"Senpai, jangan tertawa!" seru Kazuki sambil mengguncang-guncang tubuh Aoi.
"Oke... Oke..." Seketika tawa Aoi berhenti dan dia memandang Kazuki dengan serius. Kazuki juga memandangnya dengan serius. Mereka saling berpandangan cukup lama. Kazuki sampai deg-degan menanti apa yang ingin Aoi katakan.
"Aku juga mencolek pinggulnya..." ucap Aoi membuat Kazuki geram.
"SENPAI, AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!"
~ T B C ~
