Ohayou, minna~
Haduh Shera khilaf nih nggak bisa update kemaren,
soalnya sinyal modem ancur total.
Gara-gara ramadhan kali yah~ (?)
~Balasan Review~
Natsumo Kagerou : waduh.. Itachi dibilang kriput yah? Tapi emang iya sih… x3 #khekhekhe
Sankyu, moment? Kok jadi kayak LINE ya? ha ha. Okke deh~Shera banyakin nanti yah~
Akasuna no ei-chan : Bongkar! Bongkar! #korbaniklan
Makino Yukito-chan : Wah, tebakan kamu…*teeet*
Cekidot di chap ini aja deeeehhh~ #evil
Desypramitha2 : iya dong~ segudang masalahnya.. :3
Hikari Matsushita : hi hi hi. Salah tunangan kok seru? Kasian lah si Sakura~ xD
Gadis Polos : wah maaf chap ini nggak bisa update kemaren, sinyal buruk banget dah. T.T
Hanazono yuri : Iyaaaaa… ('o')7
Sami-chan : hmmmm… gimana yah~ liat dlu deh di chap" selanjutnya~ :3
Uchiharuno susi : Hmmm…betul nggak ya? Jawabannya di chap ini nih~ ^.
Mizumi uchiHaruno : Ha ha ha. Waduh…Sakura dijodohin sama Itachi? Bener nggak ya? Masa sih? Trus Sakura pilih siapa? Cekidot~! ha ha ha #darkmode
~Enjoy Reading~
"LOVE PROPOSAL"
.
.
Day 2 : No Way! Choose who?
(Hari kedua : Tak Mungkin! Pilih siapa?)
.
.
Enjoy Reading
.
.
Sakura merupakan seorang putri yang diusir oleh sang ratu. Ia diharuskan pergi menuju kastil Uchiha untuk menemui pangeran yang akan menjadi tunangannya. Awalnya sang pangeran merupakan pangeran baik hati, dan sang putri sedikit banyak telah jatuh hati kepada sang pangeran.
Namun itu hanya 'awalnya' saja. Tiba-tiba saja sang pangeran berubah, sepertinya karakternya sedikit berubah ditambah lagi banyak misteri yang sepertinya tersembunyi dibalik mata onyx-nya yang sekelam malam itu.
Yap. Itulah kira-kira pendekskripsian cerita ini versi fairy tale-nya. Sekarang kita akan berpusat pada mansion Uchiha. Kediaman Sakura sekarang.
Bila kita lihat-lihat, suasana di sini begitu menegangkan. Dengan sepasang tuan dan nyonya Haruno yang duduk di sofa berhadapan dengan Sakura. Beberapa puluh menit yang lalu kedua orang tua Sakura datang, sesuai seperti apa yang telah diberitahukan kepadanya kemarin.
"Jadi… ini mansion Uchiha itu? Tak mengherankan, sangat mewah." Sang nyonya Haruno mengedarkan pandangannya mengitari seisi ruangan itu.
"Ya ya ya, meski mansion yang dimiliki klan Haruno juga termasuk ke dalam 7 mansion termewah sedunia versi On the—*piiip*. Tapi kuakui pula Uchiha memang menakjubkan." Sang tuan besar Haruno menambahkan kekagumannya.
"Benarkan, Pa~ Tak salah kita menjodohkan putri kita dengan pemuda dari Clan Uchiha." Nyonya Haruno merangkul lengan suaminya itu dengan mesra. Sakura yang melihatnya itu hanya bisa sweet drop.
"Kaasan, Tousan, sebenarnya aku ingin tahu untuk apa pertunangan ini terjadi?" akhirnya setelah cukup lama berdiam diri Sakura angkat bicara.
"Oh itu… kau tahu sendiri kan, kalau baik Clan Haruno maupun Clan Uchiha selalu berebut dalam mendapatkan peringkat pertama? Semua itu sudah terjadi bahkan sejak Clan ini menjadi Clan besar dan ternama."
Sakura mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Kaasan-nya itu.
"Karena itu kami berpikir, bahwa beberapa tahun yang telah berlalu kita telah menghabiskannya dengan strategi untuk saling menjatuhkan. Karenanya mungkin lebih baik kalau kami bersatu saja sekalian." Sang Tousan mengeluarkan argumentasinya.
"Akhirnya berakhir dengan keputusan perjodohan~ Ini juga sebagai batu loncatan untuk memperkuat kedua Clan, bukan~? Sehingga kita jadi semakin tak terkalahkan~!"
Sang Kaasan dan Tousan berseru kompak. Sakura hanya bisa cengo melihat kedua orang tuanya yang bersemangat menjelaskan alasan yang menurutnya sangat konyol itu. Kedua orang tua yang memiliki pemikiran polos, atau bodoh(?).
"Astaga~" Sakura menepuk dahinya. "Hanya karena alasan konyol seperti itu kalian sampai mengorbankan kebebasan putri semata wayang kalian?"
"Eits~ Kami bukannya mengorbankan, tapi justru karena kami perhatian denganmu, Sakura." Sang Tousan memberikan penjelasannya sambil mengibas-ngibaskan tangan.
"Yap, yap. Kaasan tak mungkin menyerahkanmu kepada orang yang tak jelas. Lagipula dia seperti pangeran kan~?"
"So lame~" decih Sakura lirih, nyaris tak terdengar.
Disaat Sakura sedang dengan jenuhnya bersandar menghadap kedua orang tuanya yang membangga-banggakan keputusan mereka menjodohkan putri mereka ini. Kalau kalian bertanya dimana Sasuke sekarang, jawabannya adalah ia sedang berada di bimbel (Bimbingan Belajar).
"Jadi… kemana pemuda Uchiha itu?"
Sakura akhirnya kembali menolehkan perhatiannya mendengar pertanyaan sang Tousan. Dengan desahan panjang ia mengawali kalimatnya.
"Dia sedang keluar. Itulah mengapa kalian tak datang lagi saja besok ketika Sasuke berada di rumah."
"Tunggu…" Sakura terdiam saat Kaasan-nya menyela. "Sasuke? Seingat Kaasan namanya bukanlah Sasuke. Atau mungkin salah dengar ya?"
Sakura melongo mendengarnya. Ekspresi bingung pun muncul di wajah seluruh orang di sana. Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya itu. Mungkin kah ia… salah orang?
Sakura menggelengkan kepalanya seketika, ia ingat benar kalau Sasuke tak mengelak saat ia pertama kali datang ke sini dan menceritakan mengenai pertunangannya. Mungkin bisa jadi Sasuke juga salah paham, tidak.
"Eh?"
Cklek.
Bersamaan dengan itu suara pintu terbuka pun terdengar. Sontak seluruh perhatian langsung mengarah ke sana. Dan mereka menerka-nerka siapa yang baru saja datang.
"Tadaima." Suara baritone itu membuat Sakura sadar bahwa Sasuke lah yang baru saja pulang. Ia pun sontak bangun dari tempat duduknya.
"Sasuke-kun!" Sakura menyapa Sasuke yang muncul dari balik dinding.
Sasuke terdiam saat mendapati nyonya dan tuan Haruno menatapnya. Tatapan mata mereka bertemu, membuat sebuah tanda tanya besar dalam pikiran mereka. Dan melihat hal ini pun membuat Sakura semakin bingung saja.
"Ada apa ini?" tanya Sasuke sambil perlahan berjalan menuju ke sisi Sakura.
"Ah. Ini kedua orang tuaku." Sahut Sakura memperkenalkan. "Tousan, Kaasan, ini Uchiha Sasuke. Tunanganku?"
Sakura memberikan nada pertanyaan di akhir kalimatnya. Sasuke melirik ke arah Sakura sejenak, namun sepertinya ia mengetahui hal yang sebenarnya terjadi di sana. Kaasan dan Tousan Sakura perlahan bangkit tanpa sedetikpun melepaskan pandangannya dari Sasuke. Khususnya sang Kaasan.
"Sasuke? Uchiha Sasuke?" Kaasan menutupi mulutnya yang terbuka saking tak percayanya.
"Senang berkenalan dengan anda." Sasuke sedikit menundukkan badannya memberikan hormat. Sepertinya ini memberikan kesan baik untuk kedua tetua Haruno ini.
"Wah, tak kusangka kau akan tumbuh setampan ini. Saat perencanaan perjodohan kau tak datang, bukan? Kudengar kau sedang belajar di Inggris?"
"Iya benar. Saya mohon maaf tidak bisa datang pada saat itu."
"Oh, tidak apa, tidak apa. Itu kan demi kelanjutan study-mu. Bagaimana kabarmu, Sasuke? Sekarang dimana kau bersekolah?"
"Saya baik-baik saja. Sejak beberapa bulan kemarin saya telah pindah ke satu sekolah dengan Sakura."
"Wah, benarkah? Oh iya tadi Sakura memang menceritakannya kepadaku. Ha ha ha."
Sasuke tersenyum ramah, "Apa anda sudah lama di sini? Mohon maaf karena saya harus mengambil jadwal kursus lebih cepat hari ini sehingga tidak bisa menemui anda sekalian."
"Ah, kau ini..kenapa harus seformal itu bicaranya. Tapi kau memang cocok sekali dengan nama Uchiha mengingat kesopananmu. Mungkin Sakura sudah berlaku tak sopan ya, maaf ya~ ha ha."
"Tidak, saya sungguh merasa terhormat bersama nona Haruno di sini."
Percakapan antara Kaasan dan Sasuke membuat Sakura beserta Tousan-nya melongo. Bagaimana mungkin mereka bisa seakrab itu? Lagipula sejak kapan? Dan bagaimana dengan banyaknya pertanyaan yang disimpan oleh Sakura sekarang, bisa-bisa itu meledak begitu saja.
"Tunggu!"
Pekikan Sakura sukses membungkam percakapan itu. Seluruh pandangan pun tercuri olehnya.
"Ada apa Sakura? Kau ini… mengganggu saja Kaasan akrab dengan daun muda(?)." protes sang Kaasan.
"Ibu!" akhirnya sebuah cubitan pun dilancarkan dari Tousan yang kesal. "Dan hey, Sakura… kenapa kau bisa berada sekamar dengan Sasuke?"
"Eh?! Yang benar saja! Kan Kaasan yang menyuruhku datang ke sini!" Sakura sepertinya sudah mencapai batasnya.
"Kaasan bilang 'Temui calon tunanganmu. Dia adalah pemilik mansion Uchiha'. Kenapa kau malah ke tempat Sasuke? Yah meski Kaasan tahu sih alasannya…" kini Sakura hanya bisa cengo melihat Kaasan-nya yang melirik genit ke arah Sasuke.
"Dan Sasuke adalah pemilik mansion Uchiha!" elak Sakura.
"Bukan."
Ucapan Sasuke membantah ucapan Sakura. Membuat Sakura kini menatap tajam ke arah Sasuke. Sedangkan Sasuke sendiri malah memalingkan matanya dari tatapan Sakura.
"Pemilik mansion ini adalah kakakku."
Dheg.
Sekali lagi jantung Sakura bisa saja kehilangan fungsinya karena mendapatkan kejutan bertubi-tubi di saat yang hampir bersamaan. Sakura tertunduk lemas. Ia memegangi kepalanya yang pusing memikirkan situasi yang sedang dihadapinya.
"Jadi… selama ini kau menipuku?" tanya Sakura dengan suara paraunya.
"Aku tak pernah mengatakan bahwa akulah pemilik mansion ini, bukan? Hanya saja saat kejadian kau mendatangi mansion ini, aku sedang menggantikan kakakku untuk tinggal di sini."
Sakura benar-benar tak bisa lagi mengatakan apapun. Pikirannya blank begitu saja. Kaasan dan Tousan yang sepertinya mengerti situasi ini hanya bisa saling berpandangan. Dalam hati mereka saling menggumamkan satu kalimat.
'Pertengkaran anak muda.'
"Oh, baiklah. Kalau begitu Kaasan dan Tousan pulang dulu saja. Nanti biar kami yang menghubungi kediaman Uchiha untuk mengkonfirmasikan kejadian yang sebenarnya."
Dengan canggung kedua tetua Haruno itu memberesi barang bawaannya dan beranjak pergi. Meninggalkan keheningan kepada kedua pasangan SasuSaku itu.
Sakura masih terdiam sambil merenung. Sasuke pun terdiam beberapa saat, namun tak lama ia berjalan menuju kamarnya. Sakura mengamatinya dalam diam. Ia mengacak-acak frustasi rambut merah muda panjangnya yang terurai.
"Aaaakkhh~ Yang benar saja!"
Sakura pun memutuskan untuk menyusul Sasuke masuk ke kamar. Di sana ia menemukan Sasuke yang sedang membereskan pakaiannya. Sakura berkacak pinggang melihat pemuda yang mungkinkah salah dikenalinya sebagai tunangan itu.
"Sasuke, bisakah kau perjelas kepadaku?"
"Apa lagi yang harus diperjelas?"
"Berikan aku satu kesimpulan."
Sasuke mendadak menghentikan kegiatannya dan berdiri tegak memunggungi Sakura. Sakura sudah merengut menahan kesal dan rasa bingungnya. Perlahan Sasuke pun membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekat.
"Aku bukanlah tunanganmu. Itu jelas?"
Dengan ucapan itu Sasuke meninggalkan Sakura kembali. Ia bahkan pergi tanpa membawa barang-barang yang telah dikemasinya. Sakura beringsut jatuh ke lantai. Sungguh seandainya ini adalah April mop, hal seperti ini tidaklah lucu sama sekali.
Semua terasa menyakitkan ketika sesuatu yang kau percayai menghianatimu begitu saja. Kenangan akan waktu yang dihabiskannya bersama Sasuke kini seakan seperti film yang diputar di otaknya.
Sakura ingat sekarang, bahwa selama ini Sasuke memang tak pernah menyebutkan bahwa dirinya lah sang pemilik mansion ini, dan ia juga tak pernah mengatakan kalau ia lah tunangan Sakura. Mungkin selama ini Sasuke menyembunyikannya, tapi alasan dibalik itulah yang membuat Sakura penasaran.
-ooOoo-
Sakura terbangun dari tidurnya. Ia bangkit terduduk di ranjang besar itu. Pikirannya masih cukup kalut, yang ada di matanya hanyalah keinginan mendapatkan kepastian. Perlahan Sakura berjalan keluar kamar. Ia sudah tak melihat kehadiran Sasuke di sana. Sejak kemarin Sasuke meninggalkannya, ia tak kembali.
Sakura meredupkan matanya. Ia pun memutuskan untuk bersiap berangkat ke sekolah.
Ternyata ini lah rasanya kehilangan. Meski hanya kurang dari sebulan mereka tinggal bersama, dan belum banyak kenangan yang bisa mereka ingat, namun rasanya kehadiran satu sama lain cukup dibutuhkan.
Sakura baru merasakannya seumur hidup. Diusir dari rumah, menemui pria tak dikenal, dan bahkan tinggal bersamanya. Dalam mimpi pun tak pernah terbayangkan.
Bahkan sampai di sekolah pun sosok Sasuke masih menghantuinya bagai De Javu. Setiap sudut yang ditatapnya ia berharap bahwa sosok Sasuke akan ditangkap oleh pupil matanya.
"Sakura? Apa yang terjadi?" Ino menyipitkan alisnya menatap keadaan aneh sahabat merah mudanya itu.
"Sasuke…menipuku." Jawab Sakura singkat.
Pandangannya menatap lurus ke sudut lapangan. Menantikan sosok yang biasanya akan duduk di sana sambil memakan roti dan membaca buku. Kini sosok itu menghilang entah kemana, meninggalkan kehampaan yang menyesak di dalam hati Sakura.
"Menipu? Apa yang sedang kau bicarakan ini, Sakura?!" Ino semakin tak mengerti arah pemibicaraan ini. "Apa yang telah dilakukan Sasuke kepadamu?"
"Ino~" Ino pun menoleh saat mendengar Sakura memanggilnya. "Apa yang akan terjadi seandainya Sasuke bukanlah tunanganku? Bagaimana kalau seandainya aku salah orang?"
Ino kembali memasang wajah bingungnya. Ino melirikkan matanya dan berpikir. Sepertinya ia mengetahui apa yang sedang digalaukan oleh sahabat merah mudanya ini.
"Lalu kenapa?" Ino mengangkat bahunya. "Apa setelah kau mengetahui Sasuke bukan tunanganmu lalu perasanmu akan berakhir sampai di sana? Kau akan menyerah begitu saja?"
Sakura terdiam tak menjawabnya. Mata dan perhatiannya masih tetap di tempat yang sama, belum memiliki keinginan untuk berpaling.
"Dengarkan apa yang akan kukatakan ini, Sakura." Ino meraih kedua pipi Sakura dan menariknya sehingga emerald Sakura dapat menatap lurus ke arah mata Ino.
"Ada waktunya saat kita akan terjatuh karena tak kuat menahan beban hidup di dunia." Ino semakin menatap tajam, membuat Sakura hanya bisa terdiam tak melawan.
"Tapi…adalah pilihan kita untuk bangkit atau tidak."
Plak.
Bersamaan dengan Ino yang mengucapkan kalimat brilliant-nya, sebuah tamparan yang terbilang cukup keras mendarat di kedua pipi Sakura. Membuat Sakura mendadak tersentak kaget dan membulatkan matanya tak percaya.
"Saakiiiiitt~!" pekik Sakura kencang sambil mengusap-usap pipinya yang kemerahan. Sedangkan Ino sendiri sedang mengibas-ngibaskan tangannya karena sepertinya ia sendiri pun merasa perih.
"Nah, seperti rasa sakit ini." Ino kini menyentil pipi Sakura, membuatnya mendapatkan deathglare panas dari sang empunya. "Adalah keputusanmu untuk mengobatinya atau tidak."
Di balik dinding kelas itu, Sasuke terdiam mendengarkannya sedari tadi. Ia hanya memasang tampang datarnya, dan sesekali mengisyaratkan untuk diam kepada murid-murid—fansgirls—yang hampir saja mendatanginya.
Tak lama Sasuke memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan berlalu pergi.
-ooOoo-
Saat ini sedang diadakannya makan malam dadakan antar kedua Clan terbesar di dunia. Haruno dan Uchiha. Kedua Clan yang telah memutuskan untuk berhenti bersaing dan mengadakan perjanjian perjodohan. Perjodohan yang membingungkan. Ya, setidaknya untuk Sakura.
"Jadi ini… nona muda Haruno?" sahut Fugaku, selaku kepala Clan Uchiha.
"Cantik sekali, lebih cantik dari foto yang telah kami terima." Mikoto, nyonya besar Uchiha turut menurunkan komentarnya.
"Terima Kasih." balas Sakura dengan senyuman manisnya. Ia menunduk melihat daging yang disajikan di hadapannya. Tak ada sedikitpun rasa lapar yang dirasakannya.
Baik Kaasan dan Tousan-nya tahu, Sakura mungkin masih merasa canggung akibat kejadian di mansion Uchiha bersama sang bungsu, Sasuke. Apalagi di sini, sekarang, Sasuke tak datang.
"Ah, iya. Kudengar Sakura salah mengira Sasuke sebagai tunanganmu ya?" Mikoto kembali melontarkan pertanyaan lembut namun mengena kepada Sakura.
Sakura menyunggingkan senyuman canggungnya, ia meremas ujung dress yang dipakainya.
"Ah, iya. Saya salah mengira kalau Sasuke adalah orang yang dimaksud oleh Kaasan."
"Ha ha ha. Iya maafkan kecerobohannya ya, dia memang bodoh sampai-sampai salah mengenali orang." Perkataan Kaasan yang memotong bahkan menimpali perkataan Sakura membuat Sakura sendiri merasa kesal juga.
"Ah, tidak. Ini tidak sepenuhnya salah Sakura. Karena saat itu saya memang tak sedang berada di tempat."
Tebak…suara siapa ini? Clue-nya adalah merupakan keturunan Uchiha. Clue berikutnya adalah anak sulung dari Uchiha. Bisa menebak siapa dia? Yah, tentu saja. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Itachi.
"Itachi~" Kaasan terlihat bahagia sekali melihat wajah tampan sang Uchiha sulung. "Kau tumbuh semakin tampan saja sejak terakhir kita bertemu."
"Kau mengatakan hal yang sama kepada Sasuke beberapa waktu lalu." Papa Haruno sepertinya sudah mulai kehabisan kesabarannya melihat tingkah centil istrinya ini. Hal ini pun menggelak tawa renyah di sana.
Sementara itu Sakura masih terdiam saja, dan Itachi memperhatikannya dalam diam. Candaan ringan antar kedua keluarga itu pun terhenti tak lama setelahnya.
"Dan sebenarnya… bagaimana bisa Sasuke berada di kamarmu?" tanya Mikoto lembut kepada anak sulungnya itu.
"Beberapa bulan ini aku ada jadwal penuh yang tak memungkinkanku untuk pulang ke mansion. Ditambah lagi Sasuke juga mengatakan ingin memiliki waktu tenang untuk stimulasi ujian." Jelas Itachi ramah. Sepertinya Uchiha memiliki ciri keramahan yang tinggi ya.
"Ah, benar juga. Kenapa aku tak sadar kalau Sasuke tak tinggal di rumah." Fugaku kini menyumpali.
"Itu karena kau yang terlalu sibuk sampai-sampai tak menyadarinya." Hanya sang nyonya besar Uchiha lah yang mampu membantah ucapan Fugaku.
"Apa? Kurasa kau juga baru mengetahuinya. Kesibukanku bukan apa-apa kalau dibandingkan denganmu."
"Ehh? Bilang apa kau?"
Pertengkaran yang meninggalkan seonggok tanda tanya kepada Sakura beserta kedua orang tuanya. Sedangkan Itachi yang duduk bersebelahan dengan Fugaku dan Mikoto hanya membersihkan mulutnya dengan sapu tangan yang telah disediakan dengan elegannya.
Sepertinya satu lagi karakter dari Clan Uchiha terbongkar, yaitu kekuatan. Tak bisa dipungkiri mereka memiliki kekuatan untuk menggerakan perasaan atau mengendalikan rasa takut orang lain. Yah, Sakura jadi tahu sekarang asal sumber kegarangan Sasuke.
"Sakura…" Sakura menoleh saat merasa seseorang berbisik memanggilnya, dan orang itu adalah orang yang sedang berada di hadapannya. Uchiha Itachi.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu berdua nanti."
-ooOoo-
Akhirnya acara makan malam selesai. Masalah pun telah diluruskan ke jalan yang benar, Sakura kini bersiap akan pulang bersama kedua orang tuanya yang sedang menunggu di luar gedung.
Cklek.
Saat Sakura membuka pintu toilet dan berjalan beberapa langkah dari sana, seseorang sudah menunggunya di luar. Sakura ber'oh' ria saat orang itu melambaikan tangannya memberikan kode untuk mendekat.
"Maaf aku memintamu untuk berbicara di tempat seperti ini."
Sakura tersenyum, "Tidak apa."
"Sakura, kau sudah lama mengenal Sasuke?" Itachi mempersilahkan Sakura untuk berjalan, dan ia pun memposisikan dirinya berjalan perlahan di sisi Sakura.
"Tidak, aku baru mengenalnya beberapa minggu yang lalu."
Mendengar nama Sasuke diucapkan, sepertinya seakan membuka kunci hati Sakura kembali. Namun sekali lagi, ia tak ingin mengubah cerita ini menjadi mellow, sepertinya itu pun tak cocok dengannya.
"Sepertinya kau sudah menetapkan hatimu kepadanya ya?" pertanyaan Itachi kembali membuat Sakura tersendak dan mendadak menghentikan langkahnya.
"Itachi-nii itu bicara apa sih. Ah iya, aku harus segera pulang. Kurasa Kaasan dan Tousan telah cukup lama menungguku." Sakura mencoba mengalihkan perhatiannya dan berjalan menjauh, namun ia terhenti ketika merasa lengannya ditarik lemah.
"Kaasan dan Tousan-mu sudah pulang. Aku telah mengatakan kepada mereka bahwa aku yang akan mengantarmu pulang hari ini." Jawab Itachi men-speechless-kan Sakura seketika.
"Itachi-nii… sebenarnya… hal apa yang ingin kau ketahui dariku?"
Perlahan pegangan Itachi pada lengan Sakura mengendur. Itachi hanya bisa terdiam sambil tersenyum hambar. Sorot matanya mengelam, dan seperti ada sesuatu yang menyesakkan di dalam sana.
Itachi membawa Sakura ke guest room dan mempersilahkannya duduk di sebuah sofa panjang. Sakura hanya menurutinya tanpa mengeluarkan sedikitpun komentar. Sejenak Itachi menyuguhkan coffee hangat di hadapan Sakura, dan Sakura menerimanya dengan sopan.
Itachi menempatkan posisinya duduk di samping Sakura yang sedang meneguk coffee-nya perlahan. Itachi menarik nafas sebelum ia memulai pembicaraannya.
"Kau pernah mendengar sebuah dongeng, Sakura?" Sakura melirik Itachi yang kini menyunggingkan senyuman hambar kepadanya. Seketika Itachi mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sakura.
"Ini adalah dongeng singkat, mengenai jalan asmara seorang pangeran Uchiha."
Mendengar pernyataan itu membuat Sakura tersentak seketika. Rasa penasarannya terundang seketika karena perbuatan sang Uchiha sulung ini.
"Dahulu kala, tinggal lah seorang pangeran yang kesepian. Terkurung dalam dinginnya dinding istana, dan ditemani oleh hartanya yang berlimpah. Seluruh keinginannya dapat tercapai hanya dengan jetikkan jari dan tutur katanya." Itachi memberikan sedikit jeda pada kalimatnya.
"Suatu hari seorang gadis biasa datang ke istana itu. Awalnya itu hanyalah kunjungan biasa, kerena sang gadis adalah anak dari salah satu kepala pelayan di Clan Uchiha. Namun semua berubah sejak saat itu, keadaan yang tercipta mengharuskan mereka untuk sering bertemu atau setidaknya berpapasan."
Sakura meneguk ludah mendengar cerita dari Itachi. Sepertinya hatinya sudah mulai terasa perih.
"Dan tanpa disadari, panah Cupid meluncur di antara mereka. Meninggalkan bekas cinta yang cukup dalam, lebih dari yang terlihat."
Sakura mengepalkan erat tangannya.
"Namun sekali lagi karena status keluarga mereka yang terpaut terlalu jauh. Membuat hubungan mereka tak mendapatkan restu. Segala cara diupayakan untuk memisahkan mereka berdua, hingga akhirnya sang gadis meninggalkannya dan dikirim ke luar negeri. Sasuke pernah mengejarnya, namun sepertinya mereka tak bertemu."
"Ini…cerita mengenai Sasuke? Dan gadis itu…" Sakura masih menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya. Ia berucap hati-hati.
"Pacarnya." Itachi menyahuti ucapan Sakura dengan senyuman hambar. "Ah, karena itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu kurasa lebih baik jika menyebutnya 'mantan pacar'."
"Tapi mereka…belum sepenuhnya putus bukan? Em…maksudku, mereka belum menyatakan berpisah. Dan lagi cara mereka berpisah—"
Puk.
Itachi menepuk pundak Sakura lembut, Sakura pun mengangkat kepalanya dan menatap Itachi.
"Aku pernah memperkenalkanmu kepada Sasuke lewat sebuah foto, artinya ia sudah mengenalmu sebelumnya bukan? Lalu kau pikir kenapa ia pura-pura tak mengenalmu saat di mansionku dan membiarkanmu tinggal bersamanya di sana?"
Pertanyaan Itachi malah semakin membuat bingung Sakura. Sakura pun harus memutar otak untuk mencari tahu jawaban yang dimaksudkan.
"Pernah juga Sasuke mengatakan kepadaku, 'Aku tahu benar, rasanya mencintai gadis biasa. Aku bersyukur kau dijodohkan dengan gadis yang selevel dan tak harus berakhir sepertiku. Jadi aku ingin kau baik-baik dengan gadis Haruno itu'."
Mata Sakura membulat seketika. Sepertinya ia mengeti apa yang dimaksud oleh Itachi. Genangan air mata pun siap menetes dari pelupuk matanya yang tergenang. Itachi yang melihatnya refleks mengusap-usap punggung Sakura memberikannya ketenangan.
"Yang dilakukan Sasuke selama ini adalah…melindungimu. Menjagamu karna mengerti kau adalah tunanganku. Mendekatimu dan di saat yang bersamaan juga menjauhimu karna perjodohan ini."
Itu dia. Alasan dibalik semua kebaikan Sasuke kepadanya. Namun seiring berjalannya waktu, Sasuke semakin menyadari kalau Sakura benar-benar menganggap Sasuke sebagai tunangannya. Dan sepertinya Sasuke juga mulai merasa Sakura menaruh perasaan kepadanya, oleh sebabnya ia mulai menjaga jarak.
Semua itu karena luka di masa lalunya. Perasaan sakit yang tak ingin ia bagi kepada siapapun. Itulah kebaikan hati Sasuke. Hanya dia yang mengerti. Uchiha Sasuke.
"Sekarang pilihlah Sakura. Sasuke atau aku? Aku memang tak bisa menjanjikan banyak hal kepadamu, tapi aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu."
-ooOoo-
Semakin dekat kau dengan apa yang kau inginkan, semakin sulit untukmu melihatnya. Tapi karena itu, kau hanya perlu memejamkan mata dan seketika kau akan sampai padanya. Mungkin seperti itulah ibarat kata perasaan Sakura kepada Sasuke.
Sejak kejadian salah paham itu terungkap dalam acara makan malam kedua Clan, Sakura kembali tinggal di rumahnya. Namun sesekali ia memilih jalan memutar untuk mengecek mansion Uchiha yang pernah ditinggalinya selama beberapa minggu itu.
"Tadaima~"
Sekali pengucapan salam, seluruh pelayan rumah langsung datang menyambut kepulangan Sakura. Sakura berjalan dengan sesekali membalas sapaan para pelayan dengan senyuman formalitasnya. Ia pun meneruskan jalannya memasuki kamar.
Bruk.
Sakura menjatuhkan dirinya ke atas ranjang. Pandangannya menerawang di atas langit-langit kamar. Seakan melihat memori yang terputar ulang, mendadak kerinduannya pada keadaan dimana ia masih tinggal di mansion Uchiha bersama dengan Sasuke teringat.
Sakura memejamkan matanya, ia berharap bisa terus tenggelam dalam imajinasi itu. Ia bahkan tak keberatan kalau seandainya ia tak terbangun kembali dan terus terjebak dalam dunia mimpinya itu.
Ddrrrt Ddddrrrrt Drrrrt.
Sakura tergugah saat mendengar sebuah deringan di saku seragamnya. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Ada sebuah nomor tak bernama di sana. Namun Sakura tidaklah curiga, karena sepertinya ia tahu siapa pemilik nomor itu.
"Moshi-moshi, Itachi -nii?" tanya Sakura masih belum bangkit dari posisinya berbaring terlentang di atas ranjangnya.
"Hwe…kau tahu ini aku? Hebat sekali." Terdengar suara berat Itachi di seberang sana, mempertegas bahwa tebakan Sakura benar.
"Tentu saja, karena tak banyak yang mengetahui nomorku yang satu ini. Dan aku yakin kau mendapatkannya dari Kaasan."
"Ha ha ha. Kau antisipatif juga ya. Bagus Bagus. Oh, apa aku mengganggumu?"
"Tidak, ada apa Niichan?"
"Tak apa. Kau sedang apa di sana?"
"Sedang tenggelam dalam duniaku sendiri." Jawab Sakura sekenannya.
"Wah, apa aku ada di sana?" tanya Itachi dengan nada setengah bercanda. Namun Sakura tak terlalu meresponnya, membuat Itachi hanya bisa menggaruk kepala.
"Itachi-nii, tak bisa kah kau menjadi orang yang to-the-point?"
Jleb.
Jawaban Sakura justru men-damage-kan hati Itachi. Meski tak terlihat oleh Sakura, kini Itachi sedang tersedak kopi yang sedang diteguknya.
"Uhuk… ah, baiklah-baiklah. Sepertinya kau sedang tidak mood sekali yah." Itachi mencoba mengambil kembali kewibawaannya yang menghilang entah kemana. "Hanya saja aku kembali ingin meminta jawabanmu, kurasa aku bukan tipe orang yang bisa bersabar terlalu lama."
Sakura terdiam. Ia tahu benar maksud dari ucapan Itachi itu. Karena ia juga masih memiliki kewajiban untuk memenuhi perjodohan antara Clan Haruno dan Uchiha. Sakura mendesah perlahan. Namun sepertinya ia belum bisa memberikan jawaban.
"Beri aku waktu Itachi-nii… Aku… ah! Besok. Aku janji akan memberikan jawabanku kepadamu besok!" seru Sakura semangat. Seketika ia pun bangkit terduduk di atas ranjangnya dengan sumringah.
-ooOoo-
Sakura mendesahkan panjang nafasnya. Entah sudah yang ke berapa kalinya hal itu dilakukan. Ino saja sampai geleng-geleng kepala dan cengo menatap sahabat merah mudanya ini. Merasa kesal, akhirnya Ino menegak habis sekotak jus jeruk yang dibelinya di kantin.
"Fuah~" Ino mengusap mulutnya dengan sebelah tangan untuk menghapus sisa-sisa jus yang masih menempel.
Ia segera meremas kotak itu dan membuangnya ke sembarang tempat. Posisinya yang semula duduk tenang di depannya, kini berdiri dan menghadap Sakura yang seperti biasa sedang menatap ke luar jendela.
"Sakura~"
Sakura menoleh ketika merasa dirinya dipanggil. Dan saat melihat sosok Ino yang sudah seperti medusa, sangat menyeramkan, membuatnya bergidik ngeri dan secara refleks langsung menghindarinya.
"Ikut aku!" Ino segera menarik paksa tangan Sakura, membuatnya bahkan hampir saja terjatuh akibat perbuatan Ino.
"Eh? Ino…kau mau membawaku kemana? Hey! Ino!" Sakura mencoba menyesuaikan jalannya dengan kecepatan Ino yang menggila itu.
"Sampai kapan kau akan begini terus?!" Ino entah kenapa terlihat seperti kesal sekali. Nampaknya ia mulai bosan melihat sosok Sakura yang memandang keluar jendela ruang kelas.
"Tapi Ino… jangan bilang kau mau membawaku kepada Sasuke? Tidak..tidak…aku belum siap! Lepaskan aku, Ino~" Sakura mencoba merengek dan melepaskan diri dari Ino.
"Tak ada yang akan berubah meski kau memandanginya! Kau harus bertindak!"
Bersamaan dengan kalimat itu terucap dari mulut Ino, Sakura didorong keras oleh Ino. Sakura yang saat itu belum siap pun hanya bisa membiarkan dirinya terlempar(?) bebas menuju sebuah dinding yang dingin dan siap memberikannya rasa sakit.
Sakura memejamkan matanya, yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah berdoa. Semoga saja bukan kepalanya dulu yang akan menyambut rasa sakit itu. Atau kalau tidak ia bisa-bisa mengalami lupa ingatan mendadak.
BRUK.
Suara benturan yang cukup keras terdengar di sana. Mendengar suara itu Ino segera bersembunyi tak jauh dari sana untuk mengamati keadaan. Seluruh perhatian murid pun tertuju pada sumber benturan itu. Sungguh benturan yang super keras dari Sakura.
"Engh~"
Tapi membentur apa? Sakura masih memejamkan matanya. Perasaannya melayang, atau memang tubuhnya sedang melayang? Ia seperti terbang. Tubuhnya diayunkan dan diterpa angin. Sakura mengerutkan dahinya. Untuk memastikannya dengan perlahan ia membuka matanya.
"Sasu…ke?" Sakura mengerjapkan matanya melihat sosok yang berada di hadapannya. Sosok Sasuke yang sedang menggendongnya.
Tunggu. Sasuke? Menggendong? Sakura? Sasuke menggendong Sakura?
"Kyaaa~! Ss—Sa—Sasuke?!" Sakura memekik kencang ketika mulai mencerna apa yang sedang terjadi.
Ternyata saat dirinya terbentur dinding—seperti yang diharapkan—tepat mengenai dahi lebarnya, Sasuke yang sedang berada tak jauh dari sana dengan refleks langsung menghampiri Sakura dan menggendongnya ke UKS.
"Diamlah." Dengan dinginnya Sasuke meminta Sakura untuk diam, Sakura sontak menurutinya.
Tak lama waktu berselang, Sasuke pun sampai pada ruang kesehatan sekolah untuk mengantarkan Sakura. Dengan perlahan Sasuke menurunkan Sakura di atas ranjang yang ada di sana. Sakura terdiam mengamati sosok Sasuke itu.
Sasuke perlahan berjalan menuju ke kotak P3K yang berada tak jauh dari sana dan mengambil sesuatu. Sakura masih belum bisa melepaskan pandangannya dari pemuda raven itu, rasanya ia masih merindukan sosok Sasuke.
"Sasuke…" sapa Sakura lirih dengan hati-hati. Namun sapaan itu tak mendapat respon berarti dari Sasuke. "Sasuke, selama ini kau kemana? Kenapa kau tak kembali menghubungiku?"
Sasuke terdiam sejenak, namun ia kembali pada kegiatannya. Ia menyiapkan peralatan yang akan digunakannya untuk mengobati luka di dahi lebar Sakura. Dengan gesit semua barang yang diperlukan pun terkumpul jadi satu.
Sakura telah mengetahuinya, bahwa Sasuke memiliki trauma akan kehidupan percintaannya di masa lalu yang menyebabkan ia tak bisa lagi membuka hati kepada yang lain. Tapi dibalik itu semua Sakura bisa merasakan perasaan Sasuke kepadanya, ia hanya takut.
"Sasuke…kenapa? Kenapa kau selalu memutuskannya sendiri? Kau seharusnya bisa move on dari masa lalu!"
Dheg.
Sakura sontak menutupi mulutnya. Suasana hening mendadak tercipta setelah kalimat Sakura itu terucap. Sasuke pun semakin mendiamkan dirinya. Sakura menundukkan kepalanya dengan canggung ketika Sasuke berbalik dan berjalan mendekatinya.
Sasuke masih diam saat Sakura memejamkan matanya. Sasuke membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Sakura. Sakura masih menutup matanya, tak berniat membukanya karena terlalu takut Sasuke akan marah. Sepertinya Sakura sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadi Sasuke.
Sakura perlahan membuka matanya saat merasakan sebuah sensasi dingin menempel di dahinya. Kini di hadapannya adalah sebuah wajah datar dari sang Uchiha bungsu yang sedang membubuhi antiseptic pada luka di dahinya.
"Gomenasai~" sahut Sakura lirih, bahkan ia kini sudah tak berani lagi memandang wajah Sasuke. Sasuke melirik wajah Sakura, dengan sekali sentakan ia menyentik dahi berluka Sakura.
"Aaaaah~! Sakiiiiit!" Sakura merengek kencang sambil menutupi dahinya yang rasanya sudah seperti ditembus peluru. Sakura merengut memandang sang pelaku di hadapannya itu.
"Kau ini memang selalu berisik dan suka sekali ikut campur urusan orang lain." Komentar Sasuke sambil bangkit berdiri di hadapan Sakura. Sakura terdiam dengan pandangan mereka yang saling bertemu.
"Sasuke, apa kau menjauhiku karena aku adalah tunangan kakakmu?"
"Aku tak pernah menjauhimu. Kalau tidak, kita tak akan mungkin bisa tinggal bersama selama sebulan." Sasuke berjalan perlahan menuju pintu keluar. Melihat hal itu membuat Sakura panic seketika, ia merasa bahwa tak akan melihat Sasuke lagi setelah ini.
"LALU KENAPA SEKARANG KAU MULAI MENGHINDARIKU!"
Pekikan Sakura sukses menghentikan langkah Sasuke, tepat sebelum langkahnya keluar dari ruangan itu, Sasuke berhenti. Sakura segera bangkit dan langsung menerjang punggung Sasuke. Sasuke masih belum bereaksi saat Sakura telah memeluknya dari belakang. Sakura semakin mengeratkan pelukannya.
"Kemarin… Itachi menelponku. Ia meminta kepastian kepadaku, dan hari ini aku akan mengatakan pilihanku." Sakura merasakan bahwa tubuhnya sendiri gemetar.
Pandangan mata Sasuke mendadak semakin mendingin. Sorot matanya sama sekali tak memancarkan sinar. Perlahan Sasuke menarik tangan Sakura yang melingkar di pinggangnya. Sakura pun mengikuti gerakan Sasuke itu.
"Sasuke… aku menyukai—"
"Aku sudah punya pacar."
Dheg.
Hati Sakura mencelos seketika mendengarnya. Sasuke melepaskan tangan Sakura dan meneruskan langkahnya keluar dari ruang itu. Meninggalkan Sakura yang melongo kaget dan bahkan tak sempat menutup mulutnya.
"Tidak mungkin…"
-TBC-
Wah, mulai chap ini bakal banyak hurt-nya Sakura nih.
Apakah sudah terasa?
Di chap depan gimana ya jadinya perasaan Sakura itu?
Oh ya, apa kalian ada yang tau apa itu pheromone?
Tolong kasih tau Shera yah~
See you, next chap yah~
Keep trying my best!
Shera.
