~Balasan Reviews~
Alifa Cherry Blossom : He he I'm back! ^o^
Wah, kalo Sakura milih Itachi nggak jadi pair SasuSakura dong?
Gadis polos : Oh, masalah cemburu sih gampang.
Sekarang gantian dulu, si Sakura-nya yang dibuat cemburu. He he #evil
Oh, ada saran nih..2 hari sekali yah? Shera sih ok-ok ajah~ ntar di rujuk dah~ xD #dzig
Lemon? Ada kok.. ok sip bakal Shera warning!
Morino Yukito-chan : Iyah, kamu memang pintar! #gayabicaraDora
Masa sih cepet? Awalnya emang Shera ngerasa gitu sih,
Tapi setelah dipikir yah mau gimana lagi, soalnya ini Fict panjang lho..
Nggak Cuma selesai di 2/3 chap ajah.
Uchiharuno : Makasih. Sasuke suka Sakura sih… tapi…
Iya sip dah, sayangnya NaruHina nggak ada di Fict ini nih~
Awalnya mau Shera kasih, tapi nanti mengubah cerita lagi~
Minri : siap deh~
Sami-chan : Wah, penasaran yah~ Asyiiikkk penasaran~! X3 #plaks
Ok deh chap 3 muncuuuuulll~
Akatsuna no Ei-chan : Wah wah, semoga chap ini nggak buat Sasuke semakin menyebalkan yah~ :3
Yixinggg : Ok, sankyu udah mendukung.
Milkyways99 : siaaaaapppp!
Natsumo Kagerou : Mantannya itu…. Adalah…*piiiiip*
khe khe khe #evil
Hanazono Yuri : Bereeeesss… ^^
Widhy : hai juga Widhy~
he he sama dong kayak Widhy, ngegemesin~ x3
Iya, sankyu for waiting~
Hikari Matsushita : iya nih, Sakura bakal terkena goncangan halilintar cetar membahana badai melewati garis katulistiwa menge—PLAK!
Ohhhh! Sankyu banget buat info-nya ya~
Uchiharuno susi : selamat tebakan anda benaaaaarr~
Wah, kalo itu nanti dibahas di sini aja deh ya~
Ok, sankyu~
Hamster-pink : Wah, makasih udah review kalo gitu~
Wah, begitu yah~ Sankyu info-nya..
Salam kenal juga yah~
~enjoy reading~
"LOVE PROPOSAL"
.
.
Day 3 : Storm After The Storm
(Hari ketiga : Badai Setelah Badai)
.
.
Enjoy Reading
.
.
"Sasuke… aku menyukai—"
"Aku sudah punya pacar."
Dheg.
Hati Sakura mencelos seketika mendengarnya. Sasuke melepaskan tangan Sakura dan meneruskan langkahnya keluar dari ruang itu. Meninggalkan Sakura yang melongo kaget dan bahkan tak sempat menutup mulutnya.
"Tidak mungkin…"
Tubuh Sakura beringsut jatuh terduduk perlahan. Ia menekuk kedua lututnya dan memeluknya. Sakura menenggelamkan wajahnya di sana. Pikirannya sungguh kacau hanya karena sepatah kalimat dari bibir Uchiha bungsu.
Rasa sakit di dahinya itu sudah tak bisa dibandingkan dengan rasa baru yang dirasakannya. Tubuhnya gemetar hebat menahan tangisannya, tapi semua percuma. Ia hanya bisa menangisi perasaannya yang tersakiti.
"Aku sudah punya pacar."
Air mata pun tak bisa lagi ditahannya, membuatnya menangis dalam diam di depan pintu UKS. Bahkan ia tak peduli lagi dengan orang yang mungkin lewat dan melihat keadaannya. Isakan perih keluar dari bibirnya. Berkali-kali ia menggumamkan nama sang pemuda untuk sekedar menenangkan dirinya sendiri.
Di balik itu semua Ino mengamatinya dari jauh. Mengamati dan mendengar segala yang terjadi di sana. Ino menundukkan kepalanya, ada sebesit rasa bersalah di hatinya. Ia merasa bahwa ia lah yang menjadi penyebab kejadian ini terjadi.
"Sakura~" Ino mendesahkan namanya pelan. Suaranya dipenuhi rasa penyesalan.
-ooOoo-
Sakura berjalan gontai di sepanjang jalan. Setelah dirinya lelah menangis ia langsung berjalan keluar sekolah dan membiarkan kakinya melangkah tak tentu arah. Merasa cukup lelah, ia duduk di jalanan setapak.
Tak terasa senja telah berlalu. Di tempat yang ia tak kenal, dan di jam yang tak ia ketahui tepatnya, di sini lah dia sekarang. Dengan sorotan reremangan lampu kota, dan suara-suara lalu lalang kendaraan yang menemaninya.
"Aku sudah punya pacar."
Kata-kata itu lagi-lagi mengiangi seluruh pikirannya. Sakura menegadah menatap langit berbintang. Mungkin sekarang ayah dan ibunya sedang susah payah mencari putri semata wayangnya yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Apa lagi ditambah dengan ponselnya yang sengaja ia matikan, karna ia sedang ingin sendiri saat seperti ini.
"Seharusnya aku tahu hal itu, dan seharusnya aku tak berharap terlalu banyak."
Sakura bergumam entah kepada siapa.
Pikirannya sedang kalut, ia ingin berlari dan mengadu. Tapi ia tak tahu harus kemana mengatakannya. Ino sudah berusaha minta maaf kepadanya, dan Sakura tak ingin membuat sahabatnya itu semakin mencemaskannya.
Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah mengadu pada sang langit yang selalu berada di sana menemaninya setiap saat.
Saat itu pula sebuah mobil Aston Martin warna merah berhenti tak jauh dari Sakura. Kaca belakang mobil itu turun perlahan, menampilkan sesosok pemuda tampan dengan rambut panjangnya yang terikat rapi dan sebuah kaca mata hitam yang dipakainya.
"Sakura?"
Sakura menoleh menuju sumber suara itu. Tepat bersamaan dengan itu, pemuda itu membuka kaca matanya dan berbalik menatap Sakura. Kalau diperhatikan, di mobil merah itu terdapat sebuah lambang yang pastinya akan membuka hint mengenai siapa pemuda yang berada di dalamnya. Lambang Clan Uchiha.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Itachi ramah, namun bukannya menjawab Sakura malah menatapnya dalam diam.
Dan entah bagaimana ceritanya hingga saat ini Sakura bisa duduk di samping Itachi. Beberapa menit berlalu tanpa ada percakapan di sana. Itachi terdiam memandangi sikap Sakura yang berubah, sedangkan Sakura terdiam mengamati ujung roknya.
Sebenarnya Itachi sedang dalam perjalanan pulang dari pekerjaannya, dan ia juga berniat menghubungi Sakura setelah ini. Tentu saja untuk menanyakan mengenai janji Sakura bahwa ia akan memberikan pilihannya hari ini.
"Itachi-niichan…" mendengar suara Sakura yang memanggilnya, Itachi menoleh. "Aku sudah berjanji akan mengatakan pilihanku hari ini, bukan?"
Itachi terdiam sejenak, namun setelahnya ia menjawab pertanyaan Sakura dengan anggukan.
"Tapi kalau kau memang belum siap.. kurasa aku bisa menunggu sedikit lebih lama." Jawab Itachi mencoba mengambil sikap dewasa. Namun Sakura malah terkekeh mendengarnya.
Sakura terdiam sejenak, "Sepertinya aku sudah banyak merepotkan orang-orang di sekitarku ya."
"Kenapa? Apa Sasuke yang mengatakannya kepadamu?"
"Bukan. Hanya saja sepertinya orang-orang di sekitarku terluka karena keegoisanku. Aku seperti sesuatu pembawa sial saja, ha ha."
Itachi memandang ke langit-langit mobil itu, "Hm… Mungkin kau hanya belum terbiasa dengan keadaan di sekitarmu yang mendadak berubah. Dan keadaan di sekitarmu juga belum terbiasa dengan perubahan dalam dirimu. Keduanya hanya perlu saling memahami saja."
"Itachi -nii memang dewasa sekali. Kau benar-benar lelaki yang siap untuk dinikahi." Terang Sakura sambil tersenyum ramah, sedikit banyak Itachi merasa sedikit lega melihatnya.
"Kalau begitu apa kau akan menikahiku? Ha ha ha" sahut Itachi setengah bercanda.
"Seandainya aku mau pun, apa kau bersedia?" balas Sakura dengan nada bercandanya.
"Ha ha, untuk seorang putri cantik.. pangeran mana yang bersedia menolak?" dengan jawaban itu Itachi mendapatkan sebuah cubitan di pinggangnya. Dan gelak tawa pun pecah diantara mereka selama beberapa saat.
"Ha ha ha. Kalau begitu sepertinya aku bukanlah putri cantik yang kau maksud."
Ucapan Sakura membuat Itachi menghentikan tawanya dan menatap bingung ke arah Sakura. Sakura hanya tersenyum ramah menanggapinya. Sorot matanya menampilkan keseriusan yang mendalam.
"Karna ada seorang pengeran yang tak bersedia menikah denganku."
Jawaban Sakura kembali membulatkan mata Itachi. Sepertinya ia mengerti arah pembicaraan ini. Dan sepertinya pula ia tahu siapa yang dimaksud Sakura. Itachi terdiam menundukkan kepalanya. Sakura juga melakukan hal yang sama, namun ia belum menghilangkan senyumannya dari bibir mungil itu.
"Aku memang sedih saat mendengar Sasuke menolakku, aku juga sempat berpikir untuk menyerah saat ia mengatakan bahwa ia sudah mempunyai pacar."
Itachi merenung mendengar Sakura menjelaskannya. Itachi tersenyum seketika mendengar ucapan Sakura mengenai 'pacar' yang dimaksud Sasuke. Sepertinya Itachi mengetahui sesuatu mengenai hal itu.
"Sasuke mengatakan sudah punya pacar, hm?"
"Ya, hari ini aku kembali ditolak dengan alasan bahwa ia sudah memiliki pacar. Dia jahat sekali kan? Baik pada gadis lain sedangkan dirinya sudah ada yang punya."
"Mungkin dia playboy."
"Ah, mungkin saja."
Tawa ringan mendominasi di sana dalam beberapa saat. Membuat suasana kembali mencair namun hanya sekejap. Itachi dengan canggung mengendurkan dasi yang dipakainya dan Sakura membenarkan posisi duduknya sebelum kembali berbicara.
"Pernah sekali sahabatku mengatakan, 'Ada waktunya saat kita akan terjatuh karena tak kuat menahan beban hidup. Tapi adalah pilihan kita untuk bangkit atau tidak'."
Itachi melirik ke arah Sakura sejenak. Sakura pun melakukan hal yang sama, membuat Itachi menatap lurus ke emerald-nya yang bercahaya. Memberikan Itachi kepastian akan keseriusannya. Membius onyx Itachi seketika.
"Aku mencintainya. Apapun yang terjadi setidaknya aku akan berusaha membuatnya mencintaiku." Ucap Sakura dengan yakin.
Itachi terkekeh mendengar ucapan yakin dari gadis yang sekitar 4 tahun berada di bawahnya itu. Seperti mendengar jawaban anak kecil yang sedang kau tanyai 'ketika besar kau ingin jadi apa?'. Sungguh menggemaskan.
"Tapi bukankah tadi kau bilang bahwa Sasuke mengatakan sudah memiliki pacar? Lantas kau berniat merebutnya dari gadis itu heh?" Itachi menyentil hidung Sakura, membuat sang empunya mengaduh.
"Tentu saja! Selama mereka belum resmi menjadi sepasang suami-istri, berarti masih ada kesempatan untukku."
"Wow, ternyata kau wanita yang seperti itu ya. Ganas sekali, kurasa aku tahu kenapa Sasuke bertingkah cuek dan mengatakan hal kejam seperti itu kepadamu."
"Kenapa?"
"Karena kau ini anak yang keras kepala. Tak peduli apa dan siapa yang menghalangimu, kau akan menyingkirkannya dengan mudah."
Itachi mengacak-acak rambut Sakura. Sakura balik mencubit Itachi lagi, kali ini disusul dengan gumaman kesal karena Itachi memperlakukannya seperti anak kecil.
-ooOoo-
Sasuke melangkahkan kakinya perlahan keluar kelas menuju loker untuk mengganti sepatu. Seharian ini entah mengapa pikirannya cukup kacau, siapa lagi kalau bukan Sakura pelakunya.
Belum lagi masalah mengenai para fansgirls-nya yang pagi-pagi sudah berteriak-teriak menyambut kedatangannya. Dan juga ada beberapa kakak kelas yang tak suka dengannya dan mengerjainya, meski hanya dengan gertakan saja. Sasuke cukup mahir dalam bela diri, banyak yang sudah mengetahuinya. Karenanya meski benci, tetap saja mereka tak berani melawan pangeran es ini.
Ada juga kejadian yang sungguh merepotkan bagi Sasuke. Karena entah dari siapa ada sebuah surat cinta tergeletak di dalam lacinya. Itu menyebutkan mengenai segala hal mengenai Sasuke. Membuatnya merinding ketika sadar bahwa mungkin seseorang yang menulis surat itu adalah penguntit.
"Haaah~" entah sudah desahan yang keberapa hari ini.
Sasuke membuka lokernya, matanya membulat ketika mendapati selembar kertas berwarna merah muda tertempel di sisi lokernya. Ia menatapnya bosan. Siapa lagi yang akan melakukan hal konyol seperti ini kalau bukan Sakura, hal itu sudah tertanam dalam pikirannya.
Memang ia juga sering mendapatkan surat-surat sejenis ini. Bahkan saat ia baru dipindahkan ke sekolah ini, hanya dalam waktu beberapa hari lokernya dipenuhi surat cinta berbagai variasi.
Bukannya Sasuke tak ingin menghormati perasaan gadis-gadis yang menyukainya, tapi ia hanya ingin menunjukkan sikap jujurnya bahwa ia tak menyukai hal-hal seperti ini. Paling-paling surat yang didapatnya hanya dibawa pulang atau ia titipkan di perpustakaan sekolah.
Akibatnya jumlah surat itu mulai berkurang, meski fansgirls-nya semakin bertambah.
"Apa lagi ini?"
Sasuke sudah hampir kehabisan akal mengenai cara untuk menjauhkannya dari Sakura. Bagaimanapun ia tak ingin berhubungan dengan gadis merah muda itu lagi. Cukup sulit juga baginya untuk memutuskan hubungan dengan gadis itu.
Di surat itu terdapat sebuah tulisan.
Dear Sasuke,
Ini aku Sakura. Aku yakin kau pasti sudah bisa menduganya. Aku tahu kau mengatakan hal itu kemarin karena kau merasa tak enak dengan Itachi-niichan kan?
Tapi akulah yang menentukan pilihan di sini, karena itu kumohon…
Sekali saja, dengarkan ucapanku.
Nb. Kutunggu kau di taman belakang sekolah.
Sasuke melipatnya kembali setelah sekilas membacanya. Ia pun memakai sepatunya dan memasukkan surat itu ke dalam tasnya sebelum ia berlalu pergi menuju tempat yang dimaksud Sakura.
Ia tak ingin membuang banyak waktu untuk memperpanjang masalah ini. Ia sempat mendengar bahwa jadwal pertunangan akan segera dibicarakan. Dan kalau sikap Sakura masih seperti ini, ia yakin Itachi pasti akan sedih melihatnya.
"Haaahhh…" lagi-lagi terdengar desahan panjang Sasuke. Sepertinya ia cukup lelah dengan keadaan seperti ini.
Belum jauh dari tempatnya, ia melihat dua orang gadis yang terlihat sedang memegangi hidungnya dengan raut muka yang pucat. Sasuke mengerutkan dahi melihatnya.
Kedua gadis itu bahkan tak sempat menyapa Sasuke yang notabe selalu mendapatkan sapaan ketika ia lewat di depan gadis-gadis. Melihat hal itu Sasuke jadi penasaran dan mempertajam pendengarannya untuk bisa menangkap apa yang sedang dibicarakan oleh kedua gadis itu.
"Hey, kau tak dengar ledakan tadi?"
"Iya aku dengar, itu suara apa ya? Menyeramkan sekali."
"Padahal sudah jam pulang sekolah, tak mungkin ada yang melakukan pelajaran di jam segini."
"Yang kutahu itu suara dari ruang PKK di lantai 2, sepertinya ada yang sudah menggunakan ruang itu tanpa sepengatahuan guru."
"Benarkah? Oh iya aku ingat, setelah ledakan itu terjadi aku mencium sebuah bau manis. Mungkinkah itu kue?"
"Ya, bisa jadi."
Sasuke terdiam sejenak mendengarkan percakapan dua orang gadis yang baru saja melewatinya. Ia memutar otak jeniusnya untuk mencaritahu jawaban yang dibutuhkannya.
Tak lama berjalan pun Sasuke sampai pada taman itu, tak sulit juga untuknya menemukan keberadaan Sakura. Sakura melambaikan tangannya menyambut kedatangan Sasuke. Hal utama yang membuat Sasuke datang ke sini, adalah untuk kembali menegaskannya kepada Sakura.
Sebelum terlambat ia mencintai gadis itu terlalu dalam.
"Sasuke-kun~ Sudah kutunggu kedatanganmu." Sahut Sakura dengan riangnya. Ia pun mempersilahkan Sasuke untuk duduk di bangku kayu di sebelahnya.
Dengan diam Sasuke masih mengikuti alur yang dimainkan Sakura. Ia duduk di samping Sakura. Dengan cekatan pun Sakura mengeluarkan box yang sudah disiapkannya, dan membukanya. Ada beberapa jenis one bite cake yang penampilannya tidak begitu rapi—menurut pemikiran Sasuke—namun aroma manis menguak dari sana.
Melihat kue-kue itu dan tangan Sakura yang dipenuhi luka-luka baru, Sasuke jadi teringat mengenai pembicaraan dua orang gadis yang belum lama ini didengarnya. Mengenai suara ledakan dan aroma manis di ruang PKK lantai 2.
'Sepertinya aku tahu pelakunya…' batin Sasuke dengan decihan.
"Sasuke-kun, aku sudah menyiapkan cemilan kecil untukmu. Kau mau mencobanya?" Sakura menyodorkan kue itu kepada Sasuke dengan wajahnya yang penuh harap. Melihat hal itu Sasuke malah terdiam, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
"Aku tidak makan yang manis." Tolak Sasuke.
Perlahan tangan Sakura menurun, bersamaan dengan senyuman Sakura yang meredup. Ia kembali menutup box-nya dan memangkunya.
"Kau masih menjauhiku?"
Sasuke kembali terdiam, ia tak ingin menjawab pertanyaan seperti itu. Bagaimanapun perasaannya sedang dalam dilema saat ini.
Sasuke menarik nafasnya, "Sakura, aku tak mengerti apa yang kau sukai dariku. Tapi bisakah kau lupakan perasaan itu?"
"Kenapa? Apa mencintai seseorang itu salah?"
"Tidak kalau kau mencintai orang yang benar. Sayangnya kau mencintai orang yang salah." Sasuke menundukkan kepalanya. Ia menambahkan dengan suara yang lirih, "Setidaknya kau mencintaiku di waktu yang salah"
"Apa aku tak boleh menyukaimu?"
"Tentu saja tak boleh. Aku ini calon adik iparmu, meski kau lebih muda dariku tapi tetap saja status kita nantinya akan berbeda. Kumohon mengertilah."
"Kau yang seharusnya mengerti, Sasuke." Sakura mulai merasakan tangannya gemetar. "Aku tak mudah mencintai seseorang, bahkan ini adalah yang pertama bagiku. Jadi aku tak tahu harus melakukan apa di saat seperti ini."
"Tak ada Sakura, apapun yang kau lakukan perasaanku tak akan pernah berubah."
"Kenapa? Kenapa, Sasuke?!"
"Aku sudah mengatakannya bukan? Aku punya pacar. Aku mencintainya, dan aku tak ingin kau menghancurkan hubungan kami!"
Ucapan Sasuke dengan nada tingginya itu membuat Sakura bungkam seketika. Mereka sama-sama merasa canggung dengan suasana ini. Sakura pun tanpa sadar sudah terisak dalam tangisnya, tapi sekali lagi ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Sasuke. Dihapusnya air mata itu dan ia kembali mendongakkan kepalanya.
"Sasuke, aku tahu mungkin ini akan cukup berat untuk kau terima. Tapi bisakah kau menerima kenyataan ini?"
Sasuke terdiam.
"Awalnya perkenalan kita memang berawal dari kesalah pahaman, semua berjalan secara tak sengaja… Tapi aku merasakannya. Dan aku tak bisa membohonginya."
Suasana menghening seketika. Hanya angin yang menderu dan mendominasi di sana. Guguran daun dan kelopak sakura yang membuat backround sendiri untuk mereka. Sakura meremas ujung roknya, memberikan dirinya sendiri sebuah kekuatan.
"Aku menyukaimu, Sasuke."
Kini gantian Sasuke yang mengepalkan tangannya erat.
"Selama beberapa waktu ini yang kupikirkan hanya sosokmu. Mungkin ini tak masuk akal, tapi sejak awal semua memang tak masuk akal. Kumohon Sasuke, mengertilah atas perasaanku."
Mendadak Sasuke bangkit dan berdiri. Sakura pun menatapnya, ia ingin mencegahnya, namun ia pun telah memutuskan kalau kali ini Sasuke menolaknya kembali… maka tak ada cara lain, ia akan menyerah atas perasaannya.
"Sakura… aku bukannya tak ingin dekat denganmu karena aku membencimu." Sasuke menarik nafas panjangnya. "Tapi karna aku tak ingin banyak berurusan dengan calon tunangan Itachi."
Dheg.
Sakura tersentak mendengarnya. Ia sudah menduganya, sejak awal itulah yang dipikirkan Sasuke. Apapun yang akan dilakukan Sakura, Sasuke akan selalu menganggapnya sebagai tunangan Itachi. Calon kakak iparnya, tak lebih dan tak kurang. Sakura memejamkan matanya sementara Sasuke malangkahkan kakinya menjauh.
"Setidaknya sampai kau menikah dengan Itachi."
Sasuke meremas dadanya. Rasa nyeri membanjiri hatinya, namun hal itu segera ditepisnya. Ia berjalan meninggalkan Sakura yang kini tengah terisak dalam tangisan tanpa suaranya.
-ooOoo-
Lagi, lampu reremangan kota menemani setiap langkah gontai Sakura. Deringan ponsel di sakunya tak membuatnya berniat untuk mengangkatnya atau bahkan sekedar melihatnya.
Ini yang kedua kalinya ia berada di tempat yang sama. Memandangi sudut kota yang membuatnya melupakan kepenatan dunia. Ia ingin berteriak, tapi tenaganya sudah habis digunakan untuk menangisi Sasuke.
Kenangan yang singkat namun menggena itu tak bisa semudah itu dihapuskan dari ingatan Sakura. Memang awalnya ia optimis akan bisa mengubah perasaan pemuda angkuh itu. Tapi ternyata, kekuatan 'pacar' yang disebutkan oleh Sasuke lebih kuat dari yang ia duga.
"Hiks~" Sakura kembali menangisi perasaannya. Ia sungguh tak bisa semudah itu melupakan perasaannya kepada Sasuke.
Seakan ikut merasakan kesedihan Sakura, langit mulai meneteskan air matanya. Membanjiri jalanan dengan genangan air. Membuyarkan pandangan sakura dan membasahi sekujur tubuh gadis merah muda itu.
Tiba-tiba saja kepala Sakura terasa berat, berdenyut tak karuan. Ia menghentikan tangisannya seketika dan memegangi kepalanya. Ia meremas keras rambut merah mudanya, mencoba mengurangi rasa sakit yang diterimanya.
"Enngh~"
Entah apa yang terjadi setelahnya Sakura tak tahu lagi. Hanya matanya yang terasa berkunang-kunang dan mendadak sekelilingnya menjadi gelap gulita. Itulah apa yang diingatnya. Namun tak lama ia juga merasakan sebuah kehangatan yang nyaman. Tanpa ia ketahui bahwa kejutan lain akan datang dalam kehidupannya.
-ooOoo-
Blam.
Sasuke menutup pintu kamarnya dengan keras, tasnya pun dilemparkan ke sembarang arah.
"Haaaahh~" dengan desahan panjang itu ia menghempaskan dirinya di atas ranjang. Sesaat ia menatap langit-langit kamarnya dalam diam, namun tak lama ia hanya menggeram.
"Seharusnya saat itu aku tak membiarkannya masuk." Sasuke memekik frustasi, ia mengacak-acak rambutnya sendiri sebagai bentuk pelampiasan.
Tanpa sadar, saat pintu mansionnya terbuka waktu itu..Ia telah mempersilahkan Sakura masuk ke dalam dunianya. Dan kini ketika Sakura sudah mulai melangkah keluar dari ruangan itu, yang tersisa hanyalah hampa dan keheningan menemaninya.
Sasuke sendiri tak mengerti akan perasaannya kini. Ia hanya berpikir bahwa keputusannya tepat untuk tak mencampuri urusan perjodohan Sakura dengan kakaknya itu. Ia hanya ingin kebahagiaan mereka berdua, kerena pada dasarnya ia memang menyayangi keduanya.
Perasaan menyesal karna telah membiarkan gadis merah muda itu masuk terlalu jauh dalam kehidupannya terkuak sudah. Seandainya waktu dapat diputar ulang, ingin sekali ia mencegah dirinya sendiri membiarkan Sakura tinggal bersamanya di sana.
"Kau sudah bosan dengan style pantat ayam-mu?"
Sebuah suara membuat Sasuke bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Sosok yang begitu mirip dengannya namun sedikit terlihat lebih tua dengan guratan keriput di kedua sisi pipinya. Sasuke mengalihkan pandangannya dari sosok itu, saat ini ia tak ingin diganggu oleh siapapun.
"Meskipun kau adalah kakak kandungku, setidaknya bisakah kau menghormati privasiku?" Ujar Sasuke dengan nada malasnya. Itachi—sosok itu—menempatkan dirinya duduk di sebelah sang adik.
"Sasuke, ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu." Itachi berbicara pelan, ia tahu benar kalau adiknya ini tak bisa diajak basa-basi.
"Kalau ini mengenai calon tunanganmu itu, aku sudah tak memiliki hubungan apapun dengannya." Elak Sasuke seketika. Mendengar hal itu pun Itachi hanya bisa menghela nafas.
Itachi kenal betul dengan tabiat Sasuke yang egois. Sikapnya memang terkesan dingin, tapi itu semua adalah cara untuk menutupi kelemahannya sendiri.
"Berapa usiamu Sasuke?"
Sasuke melirik Itachi dengan pandangan bingung. Itu bukanlah pertanyaan yang sekiranya tepat ditanyakan pada saat seperti ini, Sasuke tahu pasti ada sesuatu dibalik pertanyaan itu.
"Tahun ini tepat 18."
"Bukankah itu usia yang tepat untuk melakukan pernikahan muda?"
"Sayangnya aku tak ingin melakukan itu. Apalagi aku tak ingin melangkahimu karena kau sendiri belum menikah di usiamu yang sudah hampir menginjak 23 itu."
"23 itu masih angka yang muda lho.. aku sih tak keberatan kalau kau memang mau menikah duluan. Asalkan wanita itu mencintaimu dan kau mencintainya."
Sasuke hanya mendecih mendengar ucapan kakaknya itu. Semua yang diucapkannya terdengar konyol begitu saja. Meski Sasuke sedang tak mood, tapi ia masih bisa menjaga emosinya saat ini.
"Kudengar kau sudah punya pacar?"
". . ."
Bukannya menjawab Sasuke malah merenung. Ia teringat akan kejadian saat ia mengatakan kepada Sakura bahwa ia telah memiliki pacar. Itu semua adalah kebohongannya agar Sakura menyerah akan perasaan sukanya.
Karena ia tak tahu lagi cara apa yang tepat untuk membuat gadis itu membencinya dan kalau bisa menjauhinya. Meski jauh dalam lubuk hatinya ia menahan sakitnya mengucapkan kata itu.
"Aku tak tahu kalau kau sedekat itu dengan Sakura sampai-sampai ia menceritakan semua hal tentangku kepadamu." Balas Sasuke.
Itachi tersenyum ramah, "Kau ini bukan anak kecil yang sedang merajuk bukan?"
"Sudahlah, Niichan. Aku sudah tak ingin lagi berurusan dengannya, dia itu calon istrimu. Memang kau tak cemburu melihatnya dekat dengan pria lain?"
"Karna itu kau, kurasa kalau bisa aku akan membaginya denganmu~"
"Cih, jangan bercanda."
"Sasuke, seingatku terakhir kau dekat dengan wanita, adalah saat kau tinggal bersama Sakura. Apa itu artinya pacarmu adalah—"
"Bisakah kau hentikan omong kosong ini, Oniichan?" Sasuke bangkit dari tempatnya. Itachi sekali lagi hanya bisa mendengus pasrah.
"Sasuke, kalau kau tak jujur pada perasaanmu… maka kau tak akan pernah bisa move on, jangan karena bayang masa lalumu lantas kau mengorbankan masa depanmu."
"Kalian memang berjodoh. Sama-sama suka mencampuri urusan orang lain."
"Aku mengatakannya karena aku peduli padamu. Lihatlah, karena kau menutup hatimu kau jadi tak bisa merasakan perasaan orang lain kepadamu."
"Aku hanya tak ingin kejadian itu terulang lagi."
"Apa kau pikir dengan alasan itu lantas kau bisa lari dari kenyataan?"
Sasuke hanya terdiam tak menanggapinya. Sepertinya luka lamanya yang sangat ingin dilupakannya, akan diungkap ulang sejak Sakura datang. Sungguh, masa lalu yang telah membentuk kepribadian dan sikapnya yang seperti ini. Jangan salahkan dirinya, ia sendiri tak ingin menjadi seperti ini.
"Aku tahu bagaimana rasanya, Niichan." Sasuke bergumam pelan. "Ketika kau mengorbankan seluruh yang kau miliki untuknya, dan ketika kau sudah mendapatkannya… Lingkungan tak mendukungmu."
"Rasa sakit ini, tentu kau yang paling memahaminya… tapi bukan berarti untuk melindungi dirimu sendiri dari rasa sakit itu, kau menyakiti yang lainnya."
"Aku tak melindungi siapapun. Aku melakukannya demi kebaikan kalian."
"Sasuke, pikirkan dengan kepala dingin." Itachi berjalan perlahan mendekat ke arah Sasuke. "Dengan dalih 'melakukan demi kebaikan', kau menghancurkan harapan Sakura. Apa dengan ini kau pikir aku pun akan bahagia menikahi Sakura nantinya? Melihat adikku dan istriku nanti akan jadi seperti apa?"
"Tapi… aku pun masih belum bisa melupakannya. Sudah terlalu lama dirinya menempati pikiranku. Aku tak bisa berhubungan dengan gadis lain dengan perasaan setengah-setengah seperti ini." Sasuke masih mencoba mengelak dari perasaannya.
"Apa Sakura pernah mempermasalahkan hal itu?"
Pertanyaan Itachi sekali lagi membuat Sasuke terdiam. Keheningan mendominasi di sana, tak ada yang ingin memecahkannya. Itachi pun membalikkan badannya dan berjalan menjauh perlahan. Ia ingin memberikan waktu untuk adiknya ini berpikir.
"Tapi tak apa. Kuhargai keputusanmu itu, kalau begitu biar aku yang menjaganya. Toh Sakura tak terlalu buruk juga, aku akan membuatnya menyukaiku dalam waktu singkat."
Sasuke terdiam melihat ke arah sang kakak. Tatapan serius dan kilatannya yang tajam membuat Sasuke melongo memandangnya. Sasuke paham betul arti pandangan itu, pandangan sang kakak ketika ia akan serius terhadap satu hal.
"Kau persiapkan dirimu saja untuk menyesal ketika kau melihat Sakura memakai gaun putih dan bersanding di altar bersamaku."
Blam.
Dengan kalimat-kalimat itu, Itachi menutup pintu kamar Sasuke. Di balik pintu itu Itachi tersenyum penuh arti, sepertinya ia memang berencana membuat sang adik semakin frustasi. Yang jelas semua ini sudah ia ketahui akhirnya, Itachi sudah memperhitungkan hal itu.
Itachi bergumam, "Pikirkan hal itu baik-baik, Sasuke. Aku hanya tak ingin kau menyesali keputusanmu nantinya."
Di dalam sana Sasuke mengepalkan tangannya erat. Kenangan akan usaha Sakura terngiang di kepalanya, namun sekali lagi sesuatu menyangkalnya. Sesuatu di masa lalu yang membuatnya ingin menjerit menahan sakit hatinya.
Pertemuan pertama mereka, masakan kesukaan Sasuke yang dibuat oleh Sakura, acara belajar bersama, kejadian terungkapnya identitas asli Sasuke, semuanya seperti flashback-flashback yang menghantuinya.
"Pemilik mansion ini adalah kakakku."
"Aku bukanlah tunanganmu. Itu jelas?"
"Aku sudah punya pacar."
"Karna aku tak ingin banyak berurusan dengan calon tunangan Itachi."
Sasuke seperti mendengar suaranya sendiri yang begitu dingin kepada Sakura, dengan sekali gerakan ia pun bergegas keluar dari kamarnya. Niatnya adalah mencari Sakura, entah untuk apa dan apa yang akan dilakukannya setelah bertemu nanti, itu dipikir belakangan.
Saat Sasuke telah berlari menuruni tangga dengan terburu-buru, Itachi keluar dari kamarnya dan mengintip ke bawah. Ia melihat ekspresi panic Sasuke yang memang sudah direncanakan Itachi.
"Aku bukannya jahat ya, hanya saja kalau tak begini anak itu tak akan sadar." Itachi sepertinya puas sekali mengerjai Sasuke, karna bagaimanapun seorang kakak tentu ingin adiknya bahagia juga kan.
"Tapi mengerjainya memang menyenangkan sih, jangan salahkan aku~ ho ho ho." Itachi pun masuk ke kamarnya dan kembali mengerjakan tugas-tugas perusahaannya yang tertunda.
-ooOoo-
Sementara itu dikediaman yang jauh dan asing, burung berkicauan membangunkan para pengguna dunia ini. Langit terlihat bersiap memperjelas warna birunya. Dan mentari muncul menyapa hari yang baru.
Sakura tengah tertidur lelap. Tapi tak lama saat mentari mengintipnya malu-malu, Sakura mulai menunjukkan reaksi. Ia mengerjapkan matanya perlahan. Otot-otot matanya seperti terkena lem yang sulit sekali untuk dibuka. Membuatnya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa bangkit dari tidurnya.
"Engh~"
Sakura memegangi kepalanya yang berdenyut. Ingatannya semalam berakhir dengan gelap gulita dan sebuah gendongan hangat yang dirasakannya. Namun mengapa kini yang ia rasakan hanya dingin saja? Seingatnya semalam ia merasa hangat.
Mengingat kejadian semalam, yang ada didalam bayangannya adalah sosok Sasuke. Orang yang membuatnya sempoyongan hingga pingsan di pinggiran kota. Kemudian ingatan itu berakhir di sana begitu saja.
Tanpa pikir panjang lagi Sakura terduduk di atas ranjang. Ia mengamati sekitarnya, sungguh ia tak mengenal tempat ini. Ini bukanlah di rumahnya maupun di mansion Uchiha, lantas dimana ia sekarang?
"Dimana aku?" gumamnya entah pada siapa. Sakura melirik sebuah gantungan baju yang berantakan, ia mengerjapkan matanya yang masih setengah terpejam itu.
Sakura mengerutkan dahinya, sepertinya ia mengenai pakaian yang digantung itu. Lalu di sebelah baju itu ada baju lainnya yang tak dikenalinya, dari ukuran dan modelnya sepertinya itu baju laki-laki.
Sakura menguap sambil berpikir bahwa mungkin ia sedang kelelahan hingga tanpa sadar ia sudah pulang ke rumah dan melepas segala pakaiannya.
Tunggu. Kalau baju Sakura ada di sana, lalu…
Sakura sontak membuka selimut yang menutupi tubuhnya, betapa terkejutnya ia saat mendapati dirinya telanjang bulat. Setahunya meski ia sedang dalam keadaan gerah sekalipun ia tak akan membuka pakaiannya, karena menurutnya risih sekali tidur tanpa menggunakan apapun.
Sakura kembali membulatkan matanya ketika mendengar dengkuran di sebelahnya. Ia melirikkan ekor matanya, dan yang lebih mengagetkan lagi, di sebelahnya tertidurlah seorang laki-laki dengan kulit pucatnya yang terpampang polos dan rambutnya yang lepek.
'Oh Kami-sama… katakan ini bohong.' Batin Sakura menjerit.
Apa yang akan dilakukannya kalau mendapati dirinya terbangun dengan seorang pria tak dikenalinya tertidur di sampingnya dimana keadaan mereka yang sama-sama telanjang bulat?
'Kaasan… Tousan… maafkan Sakura~' sekali lagi batinnya hanya bisa menjerit.
Padahal selama ia tinggal dengan Sasuke, hal seperti ini tak pernah terjadi. Jangankan tidur bersama, berada di ruangan yang sama selama lebih dari 1 jam saja belum pernah. Biasanya kalau mereka kebetulan berada di ruangan yang sama dalam waktu lama Sasuke selalu beralasan akan pergi ke tempat kursus. Kemudian ia akan kembali ketika malam telah larut dan Sakura telah terlelap dalam tidurnya.
"Engh~" sebuah lenguhan pun terdengar, Sakura dengan refleks langsung menutupi tubuhnya kembali dengan selimut.
Pemuda asing itu merentangkan otot-ototnya yang terasa kaku, sedangkan Sakura hanya bisa menahan rasa takutnya. Dengan tiba-tiba sang pemuda bangkit terduduk dan berjalan menuju kamar mandinya. Sungguh, sepertinya pemuda itu sedang setengah tidur melakukannya. Sampai-sampai sepertinya ia tak menyadari ada seorang gadis telanjang di sebelahnya.
"Bagaimana ini~" Sakura hanya bisa merengek. Mendengar rengekan itu, pemuda pucat itu berhenti seketika.
Dengan gerakan pelan pemuda itu berbalik, matanya masih terlihat setengah tidur. Tak lama pun ia kembali melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi, meninggalkan Sakura yang kini menatapnya dengan wajah cengo. Namun selisih waktu beberapa detik saja…
"Hwaaaaaaa!"
BRAK.
Pemuda pucat itu berteriak sambil membuka pintu kamar mandi dengan keras. Sakura yang awalnya ingin mengenakan kembali pakaiannya, kini hanya bisa kembali ke posisi awal sambil menyelimuti dirinya.
Pemuda itu terlihat semakin pucat sambil membelalakan matanya bulat-bulat melihat sosok Sakura. Pemuda itu sama-sama terlihat syok mendapati seorang gadis duduk tanpa busana di atas ranjangnya. Sepertinya pemuda itu telah sadar sepenuhnya setelah membasuh wajahnya dengan air.
"K—kau—siapa?! Kenapa kau bisa ada di sini?!" tanya pemuda itu dengan gugup sambil menunjuk ke arah Sakura. Sakura pun hanya bisa mengerutkan dahinya.
"Mana kutahu, saat membuka mata aku sudah berada di sini. Seharusnya aku yang bertanya, siapa kamu?!" elak Sakura dengan nada kesalnya. Bagaimana tidak, ini pastilah sebuah lelucon. Mana mungkin kau membawa pulang wanita yang tak kau kenal, kalau tak ada alasan lain yang macam-macam kan?
Keduanya sama-sama bingung. Pemuda itu pun nampaknya tak mengerti kenapa Sakura dan dirinya bisa berada di tempat yang sama. Apalagi ia juga baru menyadari bahwa mereka berdua pun sama-sama tak mengenakan selembarpun pakaian.
Sungguh kalau berani sumpah Sakura tak mungkin masuk diam-diam ke kamar apartemen orang lain dan melepaskan seluruh pakaiannya lalu tidur di samping pemuda asing.
Meski ia pernah tinggal bersama Sasuke—yang saat itu merupakan seorang pemuda yang tak dikenalnya—tapi ia tak pernah lancang mengendap-endap tidur bersama Sasuke dengan tubuh telanjang.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Kalau sang pemilik kamar juga tak mengetahui apa yang terjadi. Mungkinkah mereka di jebak? Tapi oleh siapa?
Dan lagi hal yang lebih memprihatinkan adalah kejadian yang saat ini menimpa mereka. Apa yang akan mereka katakan ketika ada orang lain yang melihat kejadian ini?
"Kau…"
-TBC-
Ya udah deh segitu dulu Fict-nya…
Tebak-tebakan lagi yah~ siapa dia? He he.
Maaf yah, Shera cepet-cepet nulisnya, soalnya di desak jam pelajaran.
Review me plizzz
Keep Trying My Best!
Shera.
