~Balasan Reviews~
Guest : wah,, singkat sekali.. Siapa Sai? Sai Siapa? ha ha ha #mendadakamnesia
Miharu : Arigatou kalo gitu buat review-nya ya~ :)
Masa sih? Makasih banget yah~ Seneng deh liat kamu penasaran..ha ha #evil
Alifa-chan : Wuupz... mereka cuma 'tidur' kok.
Nggak ngelakuin apa-apa.. ntar dibuktiin deh sama Sasuke. :3
Makino-chan : Astaga~ Shera salah nulis yah? Gomennasai~ u_u"
Sasuke suka nggak yah~ Suka iya, enggak juga iya kali yah~ :D
Hikari-chan : Wah...tebakan kamu...*piiip*
cari tau di Fict ini deh.
Hamster-pink : Sasuke luarnya emang kejam, aslinya lembut kok~ :)
Sai bukan yah~ cekidot~
Gadis polos : wah wah, sehari sekali nih? ok dah.
Oh ya, karena kamu 'gadsi polos' mungkin setelah baca chap ini kamu udah nggak polos lagi yah.. XD
#warning dibaca yah jangan lupa.
Sami-chan : Sami sekarang nggak aktiv akun lagi? males login yah?
Sakura baik-baik aja kok, nggak ada secuil pun yang ilang~ :3
Sami jangan mati dong, kalo mati nggak ada yang nyemangatin Shera lagi.. :o #Dzig!
Minri : oke lah kalau begitu... :D
hanazono yuri : iya syukurlah dia sudah insyaf, berkat Itaschi juga kan. :)
natsumo kagerou : waduh, udah Shera duga pasti banyak typo-nya.
nggak sempet ngecek sih.. u_u
he he, akhir-akhir ini Shera kecanduan komik shoujo sih, mungkin jadi inspirasi kali yah.
tapi sebisa mungkin Shera buat real kok.. :o
Pssst, kalo ngetik di rumah nggak bakal keburu. Targetnya kan tiap hari update. u_u
Sankyu atas review-nya, bermanfaat deh~ ^^
uchiharuno susi : oke deh~ update-nya abis buka puasa yah~ ^^
~Enjoy Reading~
"LOVE PROPOSAL"
.
.
Day 4 : Oh My God!
(Hari keempat : Ya Tuhan!)
.
(Warning! Hard Lemon inside! Baca setelah buka puasa ya~)
.
Enjoy Reading
.
.
Di sini lah Sakura berada sekarang. Di sebuah caffee dengan nuansa jepang tradisional, dan ditemani seorang pemuda asing yang pagi ini berada satu ranjang dengannya.
Semua terjadi begitu saja, semalam saat Sakura sepertinya terjatuh di pinggir kota. Pemuda pucat ini menemukannya dan tanpa sadar dibawanya ke apartemen. Sungguh dalam mimpi pun Sakura tak pernah berharap hal ini akan terjadi di kehidupannya.
Kala ia ingin melupakan seorang pria yang menghantui pikirannya dan melukai hatinya. Kala ia ingin menyerah atas perasaannya, justru malah datang pemuda asing yang kehadirannya sebenarnya tak diharapkan oleh Sakura.
"Tadi… kau bilang… siapa namamu?" Sakura bertanya sambil meneguk jus cherry-nya.
"Aku Shimura Sai. Kau cukup memanggilku Sai. Aku tak menyangka lho Haruno muda sepertimu berkeliaran di jalanan malam-malam." Pemuda itu sepertinya merupakan type yang ceplas-ceplos.
"Aku…hanya mencari udara segar."
Sai terlihat manggut-manggut, "Oh…hujan deras begitu kau dapat udara segar? Atau saking segarnya kau sampai demam dan pingsan?"
Sakura merengut mendengar adanya nada mengejek di kalimat pemuda pucat itu. Sedangkan sang pemuda hanya tersenyum jahil sambil meneguk minumannya.
Beberapa jam berlalu dengan damai. Setidaknya 'damai' untuk hati Sakura. Ternyata semalam saat Sakura tengah bergalau ria, ia terjatuh pingsan di pinggir jalanan. Beruntung ia bertemu Sai dan ditolongnya. Namun yang sangat disayangkan ternyata saat itu Sai juga sedang dalam keadaan mabuk.
Kejadiannya memang sangat aneh, bisa dirinci yang sebenarnya terjadi mereka berdua sendiri tak menyadari telah melakukannya. 'melakukan' bukan dalam arti mesum ya. Mereka hanya tidur di ranjang yang sama—meski dalam keadaan tanpa busana.
"Tapi kau yakin kalau tak melakukan hal-hal aneh kepadaku kan?" Sakura menatapnya curiga. Sai yang awalnya sedang meneguk kopinya kini tersedak.
"Uhuk…Aku tak melakukannya! Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tak melakukannya? Para pelayan sudah menjelaskannya kan." Sai mengusap mulutnya yang belepotan kopi.
"Baiklah, baiklah. Tapi aku tak akan semudah itu percaya omonganmu."
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa pingsan di tempat seperti itu? Kalau saja bukan aku yang membawamu, mau jadi apa kau?"
"Aku tahu, aku tahu. Kalau begitu terima kasih banyak, tuan Shimura Sai. Saya beruntung bisa bertemu dengan anda dan maaf telah merepotkan."
Sai merengut mendengar nada ejekan dari Sakura, "Ngomong-ngomong kenapa kau bisa pingsan saat itu? Pelayanku bilang kau dalam keadaan demam tinggi, mungkinkah kau memiliki…"
Sai menggantung kalimat akhirnya. Membuat Sakura menghentikan minumnya dan menatap Sai di hadapannya. Sakura melancarkan pandangan 'apa yang mau kau katakan?' kepada Sai, membuat sang empunya akhirnya menjawab juga.
"Kau punya penyakit?"
Uhuk!
Sakura hampir saja menelan es batu yang berada di dalam gelasnya bulat-bulat mendengar ucapan Sai. Ia tak pernah merasa sakit atau didakwa menjadi seseorang yang mengidap penyakit mematikan. Jangan bilang pemuda itu sedang menyumpahinya.
"Apa yang kau katakan?! Enak saja~ Aku ini anak sehat!"
Sai hanya ber'oh' ria menanggapinya.
Dengan ini Sakura menambah daftar orang asing dalam hidupnya. Sai yang merupakan seorang pelukis amatir. Namanya baru mengembang di perfektur sekitar sana saja, tapi sudah lumayan terkenal.
Sakura juga merasa sangat lega karena ternyata diantara mereka tak terjadi apapun, dan yang melepaskan pakaian Sakura adalah para pelayan perempuan Sai. Semua telah dibuktikan dengan pernyataan beberapa pelayan di apartemen itu.
Sakura berbincang-bincang dengan Sai. Entah mengapa ia bisa bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya yang mendadak berubah drastic kepada pemuda asing itu. Tapi Sai pun sepertinya tak keberatan mendengarkannya, sesekali Sai juga menceritakan mengenai kehidupan pribadinya yang apes.
"Kau sih masih bisa dilogika mengenai perjodohan itu, sedangkan aku sama sekali tak masuk akal!"
Sakura nampak penasaran, "Apa maksudmu? Memangnya apa yang terjadi?"
"Kau tak tahu 1001 kesialanku bukan?" Sai memajukan tubuhnya dan berbisik.
Sakura sampai tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita Sai yang diangapnya konyol. Dimana ia akan menggambar sebuah pemandangan dari atas gedung pencakar langit, yang ada malah seluruh peralatan lukisnya diterbangkan oleh angin kencang.
Belum lagi mengenai cinta pertamanya data kelas 3 SD yang ditolak mentah-mentah oleh si cewek dengan alasan 'kamu suka ngupil kalo kita lagi ngobrol, aku jijik!'.
Pertemuannya dengan Sai sepertinya cukup untuk membuat bayangan Sasuke menghilang…setidaknya untuk sementara.
-ooOoo-
Di depan sebuah pintu besar dengan sebuah lambang kipas. Lambang Uchiha. Sepulang dari caffee bersama Sai, Sakura entah mengapa memutuskan untuk mengunjungi Sasuke.
Tapi kini ia terjebak di depan kamar mansion Uchiha. Tempat dimana ia menghabiskan 3 minggunya bersama pemuda Uchiha.
Sakura masih mengingatnya, hari dimana ia pertama kali menginjakkan kakinya di sini. Hari dimana ia akan meraih gagang pintu itu dan melihat seorang pemuda telah berdiri di hadapannya dengan gaya mengantuknya.
Sakura mendengus menahan tawa, "Saat itu aku penasaran kenapa ia bisa bangun sesiang itu? Padahal saat bersamaku tak pernah ia bangun lebih siang dariku."
Sesaat kemudian ia merasakan seseuatu menyesak, menyayat hatinya. Sakit yang menggerogoti hatinya sedikit demi sedikit. Meninggalkan luka yang mungkin akan sulit baginya bangkit kembali.
"Haaahh… untuk apa lagi aku ke sini sih~" Sakura mendesah frustasi.
Ia ingin melupakan Sasuke, tapi semakin dilupakan yang didapatnya hanyalah stress dan frustasi. Sakura bermaksud untuk mengingat segala kenangan bersama Sasuke, namun ia sudah tak sanggup lagi. Kini Sakura akan berusaha untuk hidup sendiri tanpa bayangan Sasuke. Setidaknya ia datang untuk mengucapkan selamat tinggal.
Tok Tok Tok.
Ketukan pertama tak mendapatkan jawaban, dan ketukan selanjutnya pun masih tak mendapatkan jawaban. Akhirnya merasa putus asa, Sakura berbalik dan berniat untuk pergi.
"Sakura…?"
Tepat saat Sakura berbalik, sosok yang dicarinya berdiri di sana. Sasuke menatapnya seakan tak percaya.
"Sasu—"
Belum selesai Sakura memanggil namanya, Sasuke sudah berlari kencang meraih tubuh Sakura dan menariknya. Pelukan erat pun dapat Sakura rasakan. Matanya membulat sempurna tak mempercayainya. Sasuke memeluknya seakan tak ingin melepaskannya lagi.
"Sakura…Sakura…" gumam Sasuke. Pelukkannya pun semakin mengerat. "Maafkan aku…"
"Sasuke? Apa yang terjadi?" Sakura sepertinya kebingungan akan tingkah Sasuke yang berubah 180 derajat itu.
"Maaf~"
Merasa sedikit tenang, Sakura dan Sasuke memutuskan masuk ke dalam mansion. Sasuke terduduk di sofa, sedangkan Sakura mencoba mengambilkan air putih untuk membuat Sasuke sedikit merasa tenang.
"Terima kasih." Sasuke menerima uluran gelas berisikan air dari tangan Sakura.
"Sebenarnya ada apa, Sasuke-kun? Kau terlihat pucat,… apa kau kurang sehat?" dari nada bicaranya Sakura terlihat sangat khawatir.
Bukannya menjawab, Sasuke malah menatap Sakura. Melihat ekspresi cemas Sakura entah mengapa membuatnya terkekeh sendiri. Sakura semakin bingung dibuatnya, jarang sekali melihat Sasuke se-ekspresif ini.
Tak lama pun Sasuke berhenti tertawa, wajahnya menunduk sehingga beberapa helaian rambut ravennya jatuh menutupi wajahnya. Sakura mendekat dengan hati-hati. Ia duduk di sofa sebelah Sasuke.
"Sasu…?" Sakura meraih tangan Sasuke, saat itu juga ia merasakan suhu Sasuke yang tinggi.
"Sasuke kau demam? Astaga."
Sakura terlihat sangat panic menyadari hal itu. Namun saat ia akan bangkit mengambilkan obat-obatan yang setidaknya bisa menurunkan suhu Sasuke, tangan Sasuke menarik lengan Sakura. Sekali lagi tubuh mungil Sakura direngkuh erat oleh Sasuke.
Sakura tak bisa berpikir lagi. Mendadak otaknya eror dan menolak untuk berpikir. Matanya membulat sempurna dan mulutnya terbuka menunjukkan ekspresi keterkejutannya. Bagaimana tidak, saat ia memutuskan untuk melupakan dan menyerah atas perasaannya, pemuda raven itu memeluknya seerat ini.
"Aku tahu aku sudah banyak melukaimu, dan aku juga tak banyak berharap kau mau memaafkanku."
Sakura bisa mendengar nada parau Sasuke, tubuhnya juga banyak mengeluarkan keringat. Nafasnya yang terengah pun membuat Sakura berpikir, mungkinkah Sasuke buru-buru pulang atau ia sedang tergesa-gesa terhadap sesuatu?
"Tapi kuharap kau mau mendengarkanku sekali ini saja." Sasuke berucap perlahan tepat di telinga Sakura. Membuat Sakura merinding geli. "Sebelumnya aku ingin meminta maaf atas sikapku beberapa waktu yang lalu."
"Tunggu, Sasuke. Demammu pasti terlalu tinggi sampai-sampai kau bicara ngelantur seperti ini." Sakura melepaskan pelukan Sasuke dan kembali mengecek kening Sasuke.
"Demamku ini karena aku lelah mencarimu semalaman."
Ucapan Sasuke membuat Sakura terkejut. Rona merah pun menghiasi kedua pipinya seketika, wajahnya bahkan memerah melebihi merahnya wajah Sasuke. Melihatnya membuat Sasuke kembali terkekeh.
"Kau memang lucu sekali. Gampang marah, gampang ngambek, gampang tertawa, tak pernah membuat bosan." Sahut Sasuke di sela tawanya. Sakura sampai harus menundukkan kepalanya menutupi hal itu.
"Sasuke… kau serius kan? Kali ini kau tak mencoba menjahiliku?" Sakura bertanya hati-hati.
"Sebenarnya aku memang ingin mengerjaimu sedikit lagi, tapi berhubung kepalaku pusing jadi kutunda dulu." Penjelasan Sasuke langsung mendapatkan sambutan cubitan oleh Sakura.
"Sasuke! Kau jahat sekali~ Menyebalkan!"
"Hey hey, Sakura. Kau ingin aku mati muda ya~"
Dengan sigap Sasuke menahan tangan Sakura yang hendak mencubitnya lagi. Mereka saling bertatapan selama beberapa saat, menyebarkan pesona yang dimiliki masing-masing. Membuai satu sama lain. Hingga tanpa mereka sadari baik Sasuke maupu Sakura saling menutup matanya.
Kecupan manis pun mendarat di sana. Memaut bibir bertemu dengan bibir, mengecap saliva yang mengalir jatuh.
"Mmmh~" Sakura bergumam.
Ciuman itu hanya seperti bibir yang menempel selama 3 detik lamanya. Karena sebenarnya ini ciuman pertama bagi mereka, tentu saja keduanya merasa canggung. Ditambah lagi mereka sudah cukup lama tak saling bertemu dan berbicara. Sakura menundukkan kepalanya karena malu, sedangkan Sasuke juga ikutan tersipu.
Namun tak lama bagi mereka untuk segera menyesuaikan diri, Sasuke kembali mengambil inisiatif. Didekatkannya lagi wajahnya ke arah Sakura. Sakura yang tak ingin menolaknya mencoba memejamkan mata agar dirinya tak terlalu gugup.
"Emmmngh~" Sakura mengerang saat merasa nafasnya terhenti. Jantungnya berdetak tak karuan. Mukanya pun sudah memerah sempurna.
"Ahh~Emmn…" Sakura kembali melenguh saat Sasuke menekan tubuhnya ke sofa, sehingga kini Sakura bersandar pada sisi sofa.
'Jantungku bisa meledak.' Sakura semakin memejamkan matanya, ia hanya bisa merasakan bibir basah Sasuke yang melumat bibirnya dan tubuh Sasuke yang semakin menekannya.
Bruk.
Sakura masih memejamkan matanya saat suara itu terdengar, namun ia merasa aneh ketika menyadari bibirnya sudah tak merasa 'basah' lagi. Dan tubuhnya mendadak didorong keras ke sofa.
'Itu suara apa ya?'
Merasa penasaran, Sakura membuka matanya. Dan kali ini ia kembali dikejutkan oleh kondisi Sasuke yang dengan muka merah padam terlihat lemas di pelukannya. Sasuke sepertinya sudah tak tahan lagi dengan demamnya yang meninggi drastic.
"Sa—Sasuke! Bertahanlah~"
-ooOoo-
Selalu ada saja badai yang lain muncul setelah badai lainnya berlalu. Sakura hanya bisa berjaga-jaga akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi lagi di kehidupannya. Tapi ada hal baik juga yang didapatnya kini. Sakura telah mengatakan kepada keluarganya bahwa ia memilih untuk bertunangan dengan Sasuke, Clan Uchiha pun menerimanya.
Namun sayangnya saat ini Sasuke sedang terserang demam, jadi belum bisa dipastikan kapan tanggal pertunangan resminya. Seperti biasa, Sakura kadang merasa kesal dengan sikap Kaasan-nya yang kelewat bersemangat. Sebenarnya Sakura juga ingin segera meresmikan hubungannya itu dengan Sasuke, tapi sepertinya demam Sasuke tak akan turun untuk beberapa saat.
"Kalau kau menikah nanti, segeralah punya anak yah~ Kaasan yakin kalau kau memiliki anak dari Sasuke pasti akan menghasilkan bibir unggulan(?) yang kualitasnya terjamin~ Kyaaa~"
"Kaasan~" Sakura sweet drop sendiri mendengar Kaasan-nya bercerita sesuatu yang menurutnya belum saatnya untuk diceritakan saat ini.
"Oh iya, kalian berencana akan berbulan madu dimana? Di Amerika? Prancis? Spanyol? Italy? Ah! Ataukah seperti Kaasan dan Tousan yang berbulan madu di Hawai?"
"Kaasan, berhentilah~" Sakura kini merengek kepada ibunya yang sedang mengkhayalkan mengenai kehidupan rumah tangga Sakura dan Sasuke yang bahkan belum terlaksana.
"Sssst! Kau ini~ Ibu sedang menerawang kehidupanmu." Bela sang Kaasan.
"Menerawang? Oh…yang benar saja. Memangnya ibu ini peramal?" Sakura kini mulai merasa kesal.
Di sela perdebatan ibu-anak itu, Itachi berjalan mendekati Sakura. Ia menepuk pundak Sakura, memberikannya kode bahwa mereka perlu berbicara berdua. Sakura mengikuti langkah Itachi yang membawanya menjauh dari keramaian.
"Bagaimana keadaan Sasuke, Sakura?" tanya Itachi mengawali pembicaraan.
"Demamnya masih cukup tinggi, tapi sudah lebih turun dari kemarin." Sakura menanggapinya dengan santai, sepertinya mereka sudah mulai menemukan kecocokan sebagai keluarga.
"Ngomong-ngomong… kau terlihat cukup segar hari ini." Sahut Itachi setelah beberapa saat mengamati Sakura secara keseluruhan.
"Ah, benarkah? Mungkin karena aku tidur cukup nyenyak semalam."
"Memangnya selama ini kau tak tidur nyenyak?"
"Tidak, tidak, bukan itu. Beberapa waktu yang lalu, aku mengalami bencana sehingga aku tak bisa tidur memikirkannya." Sakura mencoba mengalihkan perhatiannya ke jendela teras.
"Bencana?" sepertinya Itachi bisa mencium keanehan itu. Sakura pun mau tak mau hanya bisa menjelaskan rincinya.
"Uh~ tapi…jangan katakan hal ini kepada Sasuke ya… Suatu saat aku pasti akan mengatakannya sendiri kepada Sasuke, tapi sementara ini rahasiakan dulu darinya~"
"Aku janji."
"Em… sebenarnya beberapa waktu yang lalu saat Sasuke menolakku untuk ke sekian kalinya, aku pergi ke pusat kota. Ingat saat kau menemukanku sendirian di pinggir jalan?"
Itachi menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Sakura.
Sakura kembali meneruskan kalimatnya, "Di sana aku jatuh pingsan, lalu seorang pria menyelamatkanku."
"Pria kau bilang?" Itachi meneguk gelas berisikan wine yang terlihat mahal itu perlahan. "Biar kutebak kalau begitu…"
Sakura hanya bisa melirik ke arah Itachi, ia merasa berdebar-debar juga memikirkan apa reaksi Itachi kalau mengetahui hal yang terjadi. Tapi tidak… mereka tak melakukan apapun, jadi seharusnya Sakura tak perlu merasa tak enak.
"Kau dibawa ke mansionnya dan saat kau terbangun kau sudah berada satu ranjang dengannya? Benar begitu?"
"Ah! Tepat. Darimana kau bisa mengetahui hal itu? Jangan bilang kau membuntutiku?"
"Ha ha ha, tidak. Itu adalah cara lama untuk menggaet nona muda sepertimu." Mendengar hal itu membuat Sakura merasa sedikit diremehkan. "Jadi kalian…melakukannya?"
"Tidak! Tentu tidak! Kami tak melakukan apapun!" elak Sakura sekuat tenaga.
"Benarkah? Tak mungkin ia hanya membawamu pulang tanpa melakukan apapun terhadapmu. Memang sih itu hanya berlaku jika ia normal dan bukan Homo."
"Niichan! Memang sih aku tak sepenuhnya yakin dengan pernyataannya, tapi aku tak merasakan perubahan berarti dalam tubuhku. Jadi kupikir memang tak terjadi apapun diantara kami saat itu."
"Hmm… baiklah baiklah, Sasuke yang akan membuktikannya nanti pada saat 'malam pertama' kalian." Sahut Itachi dengan nada setengah bercanda. "Oh ya Sakura, meski kalian belum resmi tunangan, dan karena mungkin nanti saat acara resminya aku tak bisa hadir maka aku akan memberikan hadiah pertunangan kepada kalian lebih dahulu."
"Hadiah pertunangan?"
Tanpa menjawabnya Itachi segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sepasang kunci dengan gantungan lambang Uchiha. Itachi meraih tangan Sakura dan menaruh kunci itu di genggaman Sakura.
"Mansion Uchiha dimana kalian pertama dipertemukan… sepertinya akan menjadi tempat bersejarah bagi kalian. Jadi aku memutuskan untuk memberikannya sebagai hadiah dariku."
Sakura melongo tak percaya, kunci itu adalah kunci mansion Uchiha. Sakura refleks segera memeluk calon kakak iparnya itu.
"Arigatou, Oniichan~" sahut Sakura bahagia.
Itachi sempat kaget melihat Sakura yang mendadak berlaku manja kepadanya. Ia kemudian hanya bisa mengusap-usap rambut merah muda gadis mantan calon istrinya dan sebentar lagi akan menjadi calon istri adik kandungnya. Alias.. calon adik iparnya.
Setelahnya Sakura berpamitan kepada Itachi untuk memberitahukan hal ini kepada Sasuke. Itachi pun mengangguk. Ditatapnya sosok merah muda itu yang semakin menghilang dari pandangannya. Mungkin sedikit banyak Itachi juga menaruh hati kepada gadis itu.
-ooOoo-
Tepat seminggu Sasuke terbaring tak berdaya di atas ranjang karena demamnya, dan genap seminggu pula Sakura bersusah payah bolak-balik dari sekolah ke rumah Sasuke untuk mengurusnya.
Dalam mengurus Sasuke, Sakura terbilang sabar. Biasanya Sakura merupakan anak manja yang ingin segala kemauannya terpenuhi secara singkat. Sebenarnya ia juga ingin pertunangannya dengan Sasuke diadakan secepat mungkin, tapi beberapa bulan terakhir sepertinya ia sudah mulai mengembangkan sikap kedewasaannya.
Sekarang mereka telah memutuskan untuk pindah ke rumah baru mereka. Sebuah mansion yang menjadi tempat pertama pertemuan mereka dan akan menjadi tempat terakhir bagi mereka bersama selamanya. Setelah Sasuke memulihkan kembali kesehatannya, mereka segera mempersiapkan perpindahan mereka. Karena sepertinya pasangan muda ini sudah tak sabar ingin hidup bersama.
"Fuaaahhh~ Senangnya bisa kembali ke tempat ini~" seru Sakura girang sambil membuka jendela balkon mansionnya. Udara sore dan sinar mentari senja menyambutnya dalam suka cita.
Tak lama Sakura merasakan sebuah rengkuhan lembut melingkar di perutnya. Mendekapnya erat seakan tak ingin melepaskan, tanpa menolehpun Sakura tahu siapa orangnya. Bahkan ia menyambut rengkuhan tangan itu.
"Kaasan bertanya kapan kita akan melangsungkan pertunangan?" suara baritone itu mendesir di telinga mungil Sakura.
"Kalau Sasuke sendiri, ingin melaksanakannya kapan?" Sakura menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke. Ingin rasanya ia mengatakan pada seluruh dunia bahwa ia kini menjadi wanita paling bahagia melebihi siapapun.
"Kapanpun tak masalah." Sasuke mengeratkan pelukannya, ia mencium pucuk rambut merah muda Sakura yang dihiasi warna senja. "Karna sekarang, bagiku, kau bahkan telah menjadi bagian dari keluargaku."
Sakura membuka matanya ketika mendengar rayuan Sasuke itu. Meski mungkin ia ingin mengatakan 'gombal', tapi jauh dari lubuk hatinya ia bahagia. Merasa bahwa segala yang dibutuhkannya ada pada diri Sasuke. Ia merasa bisa melakukan apapun asalkan Sasuke berada di sisinya.
Perlahan Sasuke memutar tubuh Sakura, membuatnya menatap pesona yang dimilikinya. Sasuke membelai lembut rambut Sakura, menyentuh setiap senti wajahnya yang begitu indah kala itu.
Entah bagaimana kelanjutannya, Sasuke telah mengklaim bibir Sakura. Rona merah mempercantik wajah Sakura, tangannya pun melingkar di leher Sasuke untuk memperdalam ciuman itu.
"Ennngh~mmm~" Lidah Sasuke tak ingin pasiv saja, ia mengobrak-abrik rongga mulut Sakura dan menghisap salivanya sampai habis. Seperti orang yang sedang menikmati makanan terenak di dunia.
"Sas..emm~eenngh~" Sakura melenguh saat merasakan tubuhnya semakin terhimpit ke pagar balkon, rok pendeknya pun sedikit tersingkap naik.
"Emmngh~eenn~emmh~Sa…emmm~" Sakura meremas kaos yang dipakai Sasuke. Sasuke semakin liar dalam mulut Sakura, membuat Sakura kewalahan sendiri menghadapinya.
"Emm…Fuaah~" merasa Sakura menahan nafasnya, Sasuke pun melepaskan ciuman itu. Sasuke menghapus tetesan saliva yang berceceran di bibirnya, ia juga membersihkan bibir Sakura dengan jarinya.
"Sasu~ kenapa kau jadi seliar ini?" tanya Sakura hati-hati, nafasnya sudah hampir hilang kalau saja Sasuke terlambat melepaskan ciuman maut itu.
"Maaf…tapi aku selalu menahannya, dan kini aku sudah tak bisa lagi…" Sasuke menjawabnya dengan menundukkan kepala malu akan ucapannya sendiri. Sakura mendesah tak percaya, ternyata ia bisa melihat sisi manis dan sisi liar Sasuke di saat yang bersamaan.
"Kalau begitu kau tak perlu menahannya lagi mulai sekarang."
Mendengar jawaban Sakura, Sasuke mengangkat kepalanya. Ia tersenyum, sungguh Sasuke pun merasa bahagia bersama Sakura. Memang awalnya ia hanya ingin mengakrabkan diri dengan Sakura yang saat itu masih menjadi calon istri Itachi—kakak kandungnya.
Sebelum kembali mendekatkan bibirnya. Sakura memejamkan mata, bersiap merasakan keliaran Sasuke kembali pada bibirnya.
"Engh~!"
Sakura melonjak kaget saat ternyata Sasuke tak lagi melumat bibirnya, daerah jajahannya beralih ke leher jenjang Sakura. Menggigitnya kecil-kecil sehingga meninggalkan bercak kemerahan yang cukup banyak.
"Sasuke~Enghh~eenn~" Sakura memejamkan matanya merasakan bagian bawahnya juga tak diabaikan oleh Sasuke. Sebelah kaki Sasuke menerobos masuk di antara kedua paha Sakura, menggesek bagian basah di bawah sana dengan lututnya.
"Emm~" Sasuke menderukan kecapannya, seakan ingin memberikan kesan bahwa ia sedang menikmati tubuh Sakura itu.
"Aaahh~Engh~Sasu~tidak~eeenghhh…jangan di sini~eeennn~" Sakura mencoba mengendalikan nafasnya yang memburu. Ia sadar bahwa saat ini mereka sedang berada di balkon mansion Uchiha, dan bukannya tak mungkin bagi mereka untuk dilihat oleh penginap yang lain.
"Sakura…kau pikir aku berani melakukan ini tanpa tahu situasi? Jangan remehkan Uchiha."
"Eh?"
"Aku sudah mengosongkan mansion khusus pada hari ini. Jadi kumohon~" Sakura merinding melihat seringai di wajah Uchiha bungsu ini. "Biarkan aku menikmati makananku."
"Kyaaaa~"
Dengan sekali gerakan tubuh Sakura dibopongnya menuju kamar mansion. Sakura pun mau tak mau kini hanya bisa mempersiapkan dirinya saja menghadapi serangan Sasuke.
Suara pintu yang tertutup dan tubuhnya yang diturunkan di atas ranjang membuat degup jantung Sakura semakin berdetak kencang. Sasuke merangkak naik, dibelainya lembut rambut panjang Sakura. Sakura semakin merasa gugup akan suasana ini.
"Kau takut?" nada Sasuke terdengar sangat lembut. Ia sendiri tahu bahwa ini yang pertama kalinya bagi Sakura, jadi ia ingin memberikan kesan yang bagus untuk gadisnya itu.
"Aku…tak tahu harus melakukan apa." Sakura mengepalkan tangannya yang berkeringat, melihat hal itu Sasuke segera meraih tangan Sakura dan mengecupnya.
"Tak ada yang perlu kau lakukan, kau cukup menikmatinya saja." Sasuke membaringkan tubuh Sakura perlahan, Sakura pun mengikutinya. Tangannya masih berada dalam genggaman Sasuke.
"Tapi…benarkah ini tak apa? Aku tak ingin membuatmu kecewa~"
Sasuke mendengus. Melihat ekspresi Sakura yang cemas dan gugup membuatnya semakin gemas dan ingin segera melahapnya. Sasuke sendiri tak habis pikir, Sakura yang biasanya cerewet dan selalu mencari perhatiannya ternyata bisa semanis ini bila dihadapkan dengan hal-hal berbau 'sex'.
"Kalau begitu berusahalah tak membuatku kecewa." Dengan jahil Sasuke menarik kaos Sakura dan melepasnya. Kejadiannya begitu cepat bahkan sebelum Sakura menyadari hal itu.
"Ehh?! Ta—tapi tadi kau bilang aku tak perlu melakukan apapun?!" Sakura kini terlihat ingin menangis saking paniknya. Ia bahkan tak bisa melawan ketika Sasuke menyibak roknya di bawah sana.
"Ssstt~ Aku memang mengatakan kau tak perlu, tapi aku yakin kau ingin melakukan sesuatu di tengah-tengah kegiatan nanti." Sasuke kembali memamerkan seringainya.
"Tapi Sasu~Aaaah~! Engg~" tanpa mendengar alasan Sakura lagi Sasuke segera melahap salah satu gundukan di dada Sakura. Membuat sang empunya menggeliyat geli.
"EmnghhHhh~ Sas~eennnh~" karena dibilang tak perlu melakukan apapun, Sakura mencoba meredam gerakannya dengan meremas ranjang dan menutupi mulutnya.
Sasuke semakin dibuat gemas dengan sikap Sakura itu, ia menggigit-gigit kecil pucuk kemerahan puting Sakura, sebelah tangannya memainkan dada yang lainnya. Sebelah tangannya lagi mengelus-elus paha mulus Sakura.
"Aaa~aahh~eenn~engh~ngggg~hhh…" Sakura memejamkan matanya, ia masih menuruti perkataan Sasuke untuk menikmatinya, Sakura pun mencoba memfokuskan dirinya pada rangsangan-rangsangan yang diberikan Sasuke kepadanya.
Sasuke membuka matanya perlahan, ia ingin melihat seperti apa ekspresi gadis yang akan sebentar lagi akan diubahnya menjadi wanita itu. Wajah Sakura yang merona dan usahanya dalam mengikuti ucapan Sasuke sungguh membuat Sasuke sendiri kehilangan kendalinya.
"Kyaaa~Sasu~!"
Sakura memekik kencang ketika Sasuke mengangkat kedua kakinya untuk melepaskan celana dalam yang merupakan kain satu-satunya yang menghalangi vaginanya itu. Sasuke melemparnya sembarangan, ia segera menahan kedua paha Sakura yang menghimpitnya.
"Kyaaa, Sasu~ engh~ Jangan~"
Sakura mencoba mendorong kepala Sasuke yang kian mendekat ke arah kewanitaannya itu. Namun tenaga Sasuke tentu saja lebih kuat darinya, dengan mudah Sasuke menepis tangan Sakura dan lidahnya pun menyusup ke dalam lorong basah itu.
"Aaaaaa~Ennnghhhh~! Ah…enn..ahh~"
Sakura menjerit saat kewanitaannya terasa digelitik oleh lidah hangat Sasuke. Tak hanya menjilatnya, kedua tangannya juga ikut andil. Sebelah tangannya memainkan klitoris Sakura, sebelahnya lagi memasukkan jarinya ke lorong itu.
Sasuke mendecak dalam hati, rasa manis menjalari lidahnya dan sebagian menetes membentuk jalur di lehernya. Sepertinya Sakura sudah klimaks, Sasuke pun bangkit untuk melihat keadaan Sakura. Ia sempat berpikir, mengapa Sakura tak menjerit atau setidaknya mendesah panjang saat klimaksnya yang pertama.
Sasuke terkekeh ketika mendapati jawabannya. Tentu saja Sakura tak ingin kalah meski dalam hal seperti ini. Mungkin baginya mendesah merupakan bentuk kekalahan, makanya ia mencoba meredamnya dengan menggigit pergelangan tangannya sendiri.
"Bodoh, apa yang kau lakukan?" Sasuke merangkak menaiki tubuh Sakura. Sakura membuka matanya yang berlinang. Sepintas rasa bersalah menyelimuti hati Sasuke, ia iba melihat tangan Sakura yang memerah akibat gigitannya sendiri.
"Aku sudah mengatakannya bahwa kau hanya perlu menikmatinya saja kan?" Sasuke meraih tangan Sakura itu, ia mengelusnya dan menciuminya dengan penuh perasaan.
"Aku juga sudah mengatakan bahwa aku tak ingin membuatmu kecewa, dan lagi kau juga bilang bahwa di tengah-tengah kegiatan aku pasti ingin melakukan sesuatu kan? Aku… aku hanya takut. Aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa, Sasuke~"
Mendengar rengekan Sakura yang manja itu darah kembali mendesir dalam diri Sasuke. Satu lagi fakta yang baru saja diketahui oleh Sasuke, ternyata ia baru menyadarinya bahwa pikirannya jauh lebih mesum dari yang dibayangkannya.
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya aku melakukannya perlahan saja ya…" Sasuke kembali memposisikan dirinya. Sakura yang masih tak tahu harus melakukan apa kini terlihat lebih pasrah.
Sebenarnya dengan sikap Sakura ini bukan berarti ia tak mengetahui hal-hal mengenai 'sex', Sakura sudah cukup memahami kegiatan suami-istri itu. Tapi apa yang pernah dilihat atau apa yang pernah didengarnya itu terkadang jauh lebih simple daripada saat kita melakukannya secara 'live'.
"Ingatkan aku ketika kau akan klimaks ya.." sahut Sasuke dengan nada isengnya. Sakura pun mendecih kesal mendengarnya.
Sasuke menarik nafasnya dalam-dalam, kali ini ia akan segera mendapatkan keperawanan Sakura. Jantung Sasuke berdetak tak kalah cepatnya, karena bagaimanapun ia tak ingin melukai gadis merah muda itu. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya saat pertama kali keperawanan diambil pasti akan merasakan sakit bukan?
Kalau saja ada cara lain untuk meredam rasa sakit Sakura, pasti Sasuke akan mengupayakannya. Setidaknya ia tak ingin membuat Sakura trauma dalam berhubungan seperti ini dengannya.
"Aku mulai." Sasuke menunduk dan mulai melumat bibir Sakura, ia berharap dengan ini ia akan mengurangi rasa sakit Sakura. Dengan satu dorongan keras pun Sasuke berhasil menyatukan dirinya dengan Sakura.
"Ennghh~!"
Pekikan Sakura tertahan oleh lumatan Sasuke. Tangan Sakura yang gemetar dapat dirasakan Sasuke kala tangan itu melingkari lehernya. Tangan Sasuke meremas-remas lembut dada Sakura bergantian, bibirnya juga belum berhenti melumat. Semua itu dilakukannya untuk mengalihkan rasa sakit di selangkangan Sakura.
"Engh~eennmm…eem~" mendengar Sakura yang mulai mendesah teratur Sasuke pun menggerakan pinggulnya. Desahan Sakura keluar senada dengan gerakan in-out pinggang Sasuke.
"Sssh~" Sasuke mencoba meredam desahannya sendiri, bagaimana tidak, lelaki mana yang kuat menahan jepitan kencang wanita pada bagian kejantanannya.
Merasa sudah tak kuat menahannya lagi, Sasuke mempercepat gerakan itu. Membuat ranjang mereka berdecit dan bergoyang keras, Sakura mendesah dengan liar. Pikirannya sudah melayang entah ke negri mana bersama kenikmatan yang melandanya.
Sasuke menahan kedua paha Sakura untuk tetap terbuka, sehingga ia bisa melihat gerakan keluar-masuknya sendiri. Melihat sebagaimana kewanitaan Sakura menjepitnya dengan keras. Sesekali Sasuke menggunakan jarinya untuk memainkan klitoris Sakura, hal ini membuat jepitannya semakin mengencang.
"AaahH~ Aaaah…Aaah~ Sasu…aku~ aaaaaaahhhh~"
Mengerti akan kode yang diberikan Sakura, Sasuke segera menghentikan kegiatan jahilnya dan menusuk Sakura lebih dalam lagi. Membuatnya mencapai titik kenikmatan secara bersamaan.
"Aaaaaakhhh~!"
Dengan jeritan kencang dari Sakura, Sasuke pun menyemburkan sperma-nya di permukaan kewanitaan Sakura. Sasuke sadar, ia tak ingin cepat-cepat menjadi seorang ayah, tapi ia ingin cepat-cepat meresmikan Sakura menjadi istrinya. Membayangkan ketika tiap malam mereka melakukan itu sampai beberapa kali…
Sakura melirik, "Sasuke~"
"Hn? Tidurlah, besok kau harus berangkat pagi kan? Aku akan membangunkanmu kalau nanti aku lapar." Sasuke terkekeh dengan ucapan jahilnya sendiri.
"Kalau lapar masih ada sup tomat di lemari kok, kau tinggal menghangatkannya saja lagi. Karena itu jangan bangunkan aku sampai aku yang lapar dan bangun sendiri, ok?"
Sasuke hanya bisa cengo mendapatkan balasan dari calon tunangannya itu. Ingin sekali ia menarik kembali tubuh mungil itu ke pelukannya dan menyerangnya sampai ia benar-benar tak bisa berdiri lagi keesokan harinya. Tapi melihat Sakura yang kini sudah terlelap di sampingnya membuatny tak tega juga. Yah, setidaknya ia masih harus bersabar sampai hari dimana ia akan memiliki wanita itu secara resmi.
Drrrrrrt! Drrrt! DDdrrrrt!.
Deringan suara telepon yang kencang segera membuyarkan lamunan Sasuke. Ia pun segera menggelengkan kepalanya menyadari apa yang baru saja dikhayalkannya.
'Kenapa pikiranku bisa semesum itu?'
Dengan malas ia meraih ponselnya yang berada tak jauh darinya. Terlihat nama Itachi tertera di layarnya. Ia pun menekan tombol penjawab dan menempatkan dirinya duduk bersandar di ranjang.
"Moshi-moshi… ada apa Itachi-nii?"
"Wah, sudah selesai ya?" pertanyaan Itachi di seberang sana membuat Sasuke bertanya-tanya. Namun suara kekehan samar-samar yang ditangkap Sasuke membuat Sasuke menyadari arah pembicaran ini.
"Oh… Ya..seperti yang kau tahu, cuma aku bisa membuat Sakura tertidur lelap sampai seperti ini…" Sasuke melirik Sakura yang tertidur di sebelahnya.
Wajah pulas Sakura terlihat cantik dengan lampu reremangan di sana, tapi bagaimanapun sepertinya Sasuke akan selalu menganggap Sakura cantik. Perlahan dibelainya rambut panjang Sakura yang terurai. Kelopak matanya yang terpejam menyembunyikan permata emerald di dalamnya.
"Benarkah? Yah, kau memang adikku sih.. jadi kau pasti mendapat sebagian dari kehebatanku… ha ha ha"
"Apa maksudnya itu? Aku jauh lebih hebat darimu!"
"Ya ya ya."
"Oh ya, Niichan…" Sasuke terdiam sejenak memandangi wajah Sakura. "Arigatou ya~ Semuanya jadi seperti ini berkat bantuan dari Niichan."
"Hmm… Sepertinya aku menyesal telah membantumu, bagaimana ini?"
"Niichan!"
"Ha ha ha. Tapi sepertinya belum saatnya kau berterima kasih kepadaku." Kini nada bicara Itachi terdengan serius, Sasuke pun menyadari perubahan itu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Ini bukanlah masalah besar kalau kau memang sudah menetapkan hatimu, tapi…aku mengatakannya demi kebaikan Sakura juga."
Sasuke kini terdiam. Tangannya telah berhenti membelai Sakura, ia hanya menggenggam tangan mungil Sakura.
"Sepertinya gadis itu telah pulang…"
-TBC-
Wah wah, Shera bakal berdosa nih kalo ada yang baca pas masih puasa.
Makanya Shera update-nya pas jam buka puasa, nggak apa kan?
kalo sekarang tebak lagi siapa gadis itu ada yang bisa nggak ya? :3
Oh ya, ada yang ngasih saran kemaren sama Shera..
#lupanamanya, gomen~
Katanya gimana kalo Shera update-nya 2 hari sekali aja.
Gimana menurut kalian?
Ok, itu dulu aja dari Shera.
Keep Trying My Best!
Shera.
