~Balasan Reviews~
Qren : wah, kalo cerita tanpa konflik kayak sayur tanpa bumbu dong? anyep, ha ha.
Iya deh Shera usahain konfliknya cepet selesai yah~
hanazono yuri : iyahhhhh~ xO
cherryhotandcold : iyah deh rebess-eh,beres mksudnya.
East Robo : iya nih, cabang kemana-mana ea... xD
Waduh, selingkuh semua dong? Adil juga sih~ #evilmode
julia : wah udah bukan pihak ketiga lagi, tapi keempat. :D
he he, ini sebenernya cinta segi4 lho, tapi pairnya nggak Shera sebutin ah~ :3
alifa-chan : iyap! itu si mantan masa lalu Sasuke is back!
Kira-kira siapa ya dia? Kalo kamu sering baca Fict Shera, pasti tau siapa char cwe ke3 fav Shera. :3
Owh, okke deh~ Lemon cuma peng-asem doang kok. Nggak dibaca ya nggak begitu mempengaruhi cerita. He he
hikari matsushita : iyap, si mantan ayam dateng~ :3
zhao mei mei : Berpaling? Seperti kata Itachi lah,
kalo hatinya udah tetap, ini bukanlah masalah. :)
natsumo kagerou : wah, masih aja ada typo yah?
Shera perbaiki lagi deh~
Waduh, tuh lemon masih aja kurang greget katanya. xD
#perverttingkatdewa
charlotte Helene d'Orleans : wah, kalo mengenai keperawanan Sakura,
Shera lebih menekankan ke 'sakit' yang dialami Sakura itu sendiri.
Soalnya jujur aja, kalo nulis sambil mengbayangin darah perawan tuh... rasanya ngeri, bukan so sweet. T.T
#takutdarah
shfly9734 : wah, ganti beneran nih, karna nggak polos? ha ha :D
oke deh, ditunggu PM-nya yah?
dia yang mana nih? mantan si Sasu? lumayan penuh deh~ he he, tapi dia cuma muncul di beberapa chap doang kok.
Wah, aku kurang clue yah? Tapi tebakan kamu... *piiiip*
I'm a girl. Muslim. :D
Line? udah nggak punya. he he.
Saknyu for all.
Sami-chan : hm... Sami-chan pasti tau dong char cwe ke3 fav-ku? :3
he he he.
Guest : InoSai itu sebenernya cuma sub-pair aja, tapi pasti ada kok.
Jadi maaf kalo terlalu berpusat sama SasuSaku yah~
nanti Shera coba perbanyak scene-nya deh.
hazuki fujimaru : Sankyu, Shera juga suka kamu... xD #mendadaknembak
Cewek mantan Sasu siapa yah~ he he tebak deh~
Salam kenal juga, hazuki-chan. :)
sasusakueeeee : hmm.. ia dia mantannya Sasuke. Udah mantan lho yah, jadi Saku lovers jangan pada cerumbu-eh, cemburu.
Pas buka puasa yah? Shera juga rencananya begitu sih, nanti kalo ada komplain baru diubah lagi jadwal update-nya. :)
hamster-pink : iya dong, Sasu emang egois, tapi dia nggak jahat kok.
Wah, emang agak antagonis sih, apa itu juga bisa dibilang antagonis yah.
widhy : hmm... nggak rumit kok.
Biasanya kalo ada konflik, ntar diselesaiin dulu baru muncul konflik lainnya.
tsurugi de lelouch : he he iya tuh Sasu protektif.
waduh, typo yah? Shera kurang cermat nih.
Lain kali Shera coba teliti~ sankyu atas koreksinya. :)
makino yukito-chan : he he, sebenernya nggak niat maen tebak-tebakan.
Pas Maki-chan nebak, jadi kepikiran buat bikin akhir chap-nya jadi tanda tanya. he he
Waduh, emang Karin rendah yah?
Di anime-nya emang Shera nggak suka ama dia, tapi dy cocok banget buat jadi peran semi-antagonis. he he
guest : hy hy, iya nih Shera's back!
keep dukung Shera yah~ sankyu~ :)
~Enjoy Reading~
"LOVE PROPOSAL"
.
.
Day 5 : The One I Loved The Most
(Hari kelima : Orang yang paling kucinta)
.
.
Enjoy Reading
.
.
Hari pertunangan telah ditentukan. Sakura kini sedang melingkari kalender di kamarnya dengan bentuk hati dan sepidol warna merah, menandakan bahwa hari itu merupakan hari penting baginya. Dan… tentu saja bagi Sasuke juga.
"Sakura!" panggilan pagi yang terdengar sangat tak mesra itu membuat lamunan Sakura terbuyar. Ia segera berlari keluar kamar dan bergegas menuju dapur tempat suara itu berasal.
"Ya, sayang~" dengan nada manjanya ia menyambut seorang pemuda berambut raven pantat ayam-style yang balik menatapnya sambil berkacak pinggang.
"Apa yang kau lakukan dengan tomat-tomatku?" tanyanya dengan tatapan menginterogasi. Sedangkan yang ditanya malah senyum-senyum sambil berjalan mendekati sang pemuda.
"Karena warna tomat itu sepertinya sudah mulai membusuk, jadi aku membuangnya. Tapi tenang saja, aku akan segera membelikanmu yang segar."
Mendengar hal itu bukannya senang, Sasuke malah melepaskan pelukan Sakura di lengannya dan menatapnya sangar. Sakura yang tak menyadari hal itu—karena sedang dimabuk cinta—hanya menatap polos ke arahnya.
"Apa kau tau, NONA MUDA HARUNO SAKURA." ucap Sasuke dengan penekanan pada kalimatnya. Sakura kini mulai menyadari bahwa sepertinya ia melakukan sesuatu yang salah. Oh, kau masih belum mengerti rupanya, Sakura… ini bukan sekedar 'salah', namun 'sangat salah'.
"Bahwa tomat-tomat itu adalah produk langka yang khusus didatangkan dari luar negri hanya untukku!"
Sakura hanya bisa bergidik ngeri mendengar seruan Sasuke. Sasuke memegangi kepalanya yang serasa mau pecah itu. Bagaimana tidak, sejak Sakura tinggal bersamanya di mansion yang diberikan Itachi untuk mereka itu, yang dilakukannya adalah memberikan ke-stress-an berlebih pada Sasuke.
"Ma—maaf~" Sakura menunduk menyesali perbuatannya. Ini lah yang membuat Sasuke selalu mencoba bersabar dalam setiap kesalahan Sakura. Sikap manis Sakura yang bahkan bisa meluluhkan hati beku Sasuke. Seperti Cleopatra yang dengan kecantikannya bisa meluluhkan raja mesir, bukan?
"Yah, mau bagaimana lagi." Sasuke pun akhirnya mengalah dan menutup kembali kulkas yang tadi dibukanya.
"Eum…itu…bagaimana kalau sebagai permohonan maafku, aku akan membuatkan makanan kesukaanmu?"
Sasuke menoleh, sepertinya ia tertarik dengan tawaran Sakura. Berhubung satu-satunya kemampuan yang mungkin diakui oleh Sasuke hanyalah bahwa masakan Sakura memang pas di lidahnya. Meski memang bukanlah masakan yang selezat makanan dari restoran berbintang, tapi Sasuke menyukainya. Itu pun sudah cukup.
"Baiklah. Tapi aku tak menerima kesalahan lagi kali ini, deal?"
"Ok!"
Sakura tersenyum lega mendengarnya. Sasuke pun hanya bisa mendengus sambil menyembunyikan senyumannya. Namun sepertinya masih ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya. Mengenai percakapannya dengan Itachi beberapa waktu lalu.
Sasuke beranjak masuk ke kamarnya—atau mungkin sebenarnya bisa dibilang kamarnya dan Sakura. Ia membuka lemari pakaiannya dan merogoh salah satu saku jaketnya. Ada selembar foto dan surat di sana. Sasuke terdiam melihatnya.
"Apa benar kau kembali?"
-ooOoo-
Cinta memang bisa membuat lupa akan segalanya. Bahkan melupakan sahabatmu yang sedang bercerita panjang lebar dengan semangatnya. Menyadari hal itu, gadis rambut pirang yang awalnya semangat bercerita kini mengerutkan dahinya sebal.
"Hey, forehead!"
Tak.
Jentikan keras mendarat di dahi lebar Sakura, membuat Sakura—untuk kedua kalinya pada hari yang sama—tersentak dari lamunannya.
"Hey, Piggy! Itu sangat sakit!" keluh Sakura sambil mengusap-usap dahi lebarnya. Ino pun mendengus menanggapinya.
"Apa karena kau tunangan lantas persahabatan kita menjadi korban?"
"Heee? Apa yang kau katakan? Meski mukamu Piggy tapi aku masih menganggapmu sahabat terbaikku kok sampai sekarang." Sahut Sakura sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Hmph~ Tidak, terima kasih, Fore-head." Tolak Ino sambil menyunggingkan senyuman pahitnya. "Oh, ngomong-ngomong kapan hari pertunangan kalian? Apa sudah ditentukan?"
"Hm…" Sakura mengangguk semangat menyetujuinya. "Acara utamanya kira-kira minggu depan. Kau datang ya~"
"Aku dapat kartu VIP kan?"
"Kau dapat VVIP."
"Sip!"
-ooOoo-
Sakura membuka pintu kamar mansionnya dengan riang. Sesekali bibir mungilnya bersenandung riang menyanyikan lagu kesukaannya. Setelah memasuki kamarnya dan mengganti pakaiannya, ia segera bersiap menuju dapur.
"Hari ini masak sup tomat lagi ah~"
Sudah tiga hari berturut makan malam yang dibuatnya adalah sup tomat, dan alasan mengapa ia belum juga bosan adalah karena dengan siapa ia memakannya. Sasuke sangat menyukai tomat, dan Sakura sangat menyukai Sasuke. Itulah alasannya.
Suara tomat dan bahan-bahan lainnya yang dipotong-potong, suara air mendidih, dan suara senandung Sakura mendominasi di sana. Tak lama pun terdengar sebuah suara pintu terbuka.
"Ah!"
Sakura yang menyadarinya segera membasuh kedua tangannya hingga bersih dan melepaskan celemeknya besiap menyambut orang yang datang itu. Sakura membenarkan rambutnya dan segera berlari keluar menuju pintu.
"Sasuke-ku—" belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, ia terhenti menyadari bahwa orang itu bukanlah Sasuke. Melainkan seorang gadis.
Gadis dengan warna rambut merah darahnya yang menyala, dan kulit putihnya yang bersih. Sakura sampai berdecak kagum melihatnya, seperti melihat boneka hidup. Namun ini bukanlah saat yang tepat untuk mengaguminya.
"Siapa kau?" tanya gadis merah itu. Sakura menyernyitkan dahinya.
"Harusnya aku yang bertanya, siapa kamu? Kenapa kau bisa masuk ke ruangan ini?" tanya Sakura bertubi-tubi.
"Ah, maaf. Perkenalkan namaku Shirayuki Karin." Sahutnya sambil menunduk memberi hormat. "Kau bisa memanggilku Karin."
"Ah, aku Haruno Sakura." Balas Sakura berusaha menahan pertanyaannya dan berlaku sesopan mungkin. "Mari, silahkan masuk ke dalam…"
Karin perlahan mengikuti Sakura masuk. Dalam diam Sakura mengamati sikap Karin yang menurutnya mencurigakan. Karena sepertinya Karin sedang mengedarkan pandangannya ke berbagai sudut seakan memastikan semuanya yang ada di sana.
"Em…silahkan duduk, mau minum apa?" tawar Sakura lagi.
Namun bukannya mengikuti apa kata Sakura, Karin malah berjalan menuju meja kecil di sana. Ia mengamati hiasan-hiasan meja dan beberapa foto yang dipajang di atasnya. Seketika senyuman muncul di bibir Karin, membuat Sakura makin curiga saja.
"Ternyata ia masih belum berubah ya…"
Ucapan Karin sungguh membuat Sakura semakin bertanya-tanya. Namun sekali lagi ia berusaha memendamnya, ia pun beranjak menuju dapur untuk membuatkan minuman.
Saat Sakura sedang berkutat di dapurnya, Karin masuk ke sana. Sakura hampir saja menjerit kaget saat merasa seseorang datang mendekat. Sekilas Sakura berpikir bahwa Karin kurang ajar sekali menjelajahi rumah orang sembarangan seperti itu.
Merasa tak tahan dengan rasa penasarannya, akhirnya Sakura bertanya, "Maaf nona, sebenarnya siapakah anda ini?"
"Ah, maaf aku lancang. Aku hanya teman dekat Sasuke-kun, aku juga hanya mampir sebentar saja ke sini."
'Oh? Benarkah? Lalu kenapa ada embel-embel –kun di belakang nama Sasuke?' Sakura mengalihkan matanya.
"Kau ini… tunangannya, benar?" terka Karin yang dijawab dengan anggukan Sakura. "Wah, selamat ya. Sudah berapa lama kalian pacaran?"
"Kami hanya pacaran sebentar, karena awalnya kami dijodohkan."
"Dijodohkan? Benarkah? Jadi hubungan kalian itu didasari oleh perjodohan?" nada bicara Karin mendadak berubah seketika. Sakura merasa terganggu akan hal itu.
"I—ya sih. Tapi sekarang kami sudah memantapkan hati kami."
"Wah, baguslah~ Aku turut senang. Kalau begitu aku permisi dulu saja ya, sebentar lagi Sasuke-kun akan pulang dari kursus dan kau harus segera menyelesaikan sup tomat kesukaan Sasuke itu kan? Maaf sudah lancang dan mengganggu, permisi."
Blam.
Suara pintu tertutup menandakan Karin yang telah berlalu. Sakura melongo mendengar ucapan Karin itu. Sungguh kalimat panjang itu pasti mengandung suatu makna tersembunyi yang membuat Sakura gusar.
Semuanya seperti Karin mengetahui banyak hal dari Sasuke. Bisa jadi karena Karin merupakan 'teman dekat' Sasuke, tapi sepertinya hubungan mereka lebih dari itu. Dan sepertinya dalam kalimat terakhir yang diucapkan Karin menandakan bahwa ia ingin mempertegas hubungannya dengan Sasuke.
"Apa-apaan itu?!" pekik Sakura kencang sambil menggebrak meja makan di hadapannya.
Cklek.
Pintu terdengar terbuka sekali lagi.
"Tadaima~" kali ini terdengar suara baritone yang dikenal Sakura. Segera Sakura bergegas menyambut kedatangannya.
"Okaerinasai, Sasuke-kun~" Sakura dengan sigap berdiri di depan Sasuke.
Sasuke terdiam sejenak sambil melepaskan sepatunya, ia memperhatikan raut muka aneh yang ditunjukkan oleh calon tunangannya itu. Sasuke memiringkan kepalanya, berpikir. Namun tak lama ia melangkah mendekati Sakura.
"Sakura…" panggilnya, dan Sakura pun menoleh.
Chu~
Sebuah ciuman singkat yang lembut mendarat di bibir Sakura. Sasuke tersenyum saat melihat rona merah menghiasi seluruh wajah Sakura. Sakura sendiri sampai berdiri mematung sambil menutupi mulutnya yang masih tak percaya.
"Sa—Sasuke…"
"Kenapa kau melamun? Terjadi sesuatu kah?"
Sakura terdiam mendengar pertanyaan itu. Memang rasanya ia ingin mengatakan mengenai wanita yang baru saja datang ke rumahnya itu, tapi ia yakin kalau Sasuke pasti sedang lelah sekarang. Ia juga tak ingin membuat Sasuke marah. Kalian tahu sendiri kan bagaimana kalau Uchiha marah?
"Ah, tidak apa-apa kok… Sasuke-kun kau lapar? Aku sedang menyiapkan makanan kesukaanmu."
Sasuke mengangguk sambil tersenyum, ia pun berlalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Sakura terdiam, banyak perasaan berkecambuk di dalam hatinya. Membuatnya menghela nafas panjang.
-ooOoo-
Sakura masih tak bisa mengalihkan pikirannya dari wanita cantik berambut merah itu. Sosok wanita dewasa yang entah mengapa mengganggu pikirannya. Ia sungguh penasaran, namun bukan berarti ia menyukai sesama jenis atau sebagainya. Hanya rasa penasaran karena wanita itu sepertinya memiliki hubungan lebih dengan Sasuke.
"Ah!"
Sakura tersentak. Sepertinya sebuah pikiran melintas di otaknya. Matanya membulat dan mulutnya terbuka. Nafasnya tersengal, sepertinya ia benar-benar menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Mungkinkah dia—"
"SA-KU-RA!"
GUBRAK!.
Sakura mendapatkan combo hits yang sangat keras tepat di punggungnya. Membuatnya merasakan nyeri yang amat sangat. Duga lah siapa yang menjadi pelakunya? Siapa lagi kalau bukan sahabat setianya yang selalu ada di saat tak terduga.
"Ino~" rintih Sakura sambil memegangi punggungnya.
"Ups~" itulah ucapan penyesalan Ino. Ia pun segera menempatkan posisinya duduk di depan Sakura, mengabaikan sang gadis merah muda yang kesakitan dibuatnya.
"Hei, Sakura. Pertunanganmu tinggal menghitung hari lagi kan? Apa semuanya telah dipersiapkan?" lagi-lagi tanpa memperhatikan kondisi Sakura, Ino dengan entengnya bertanya. Sakura pun mendecih kesal.
"Yah~" jawab Sakura asal. Ino mengerutkan dahinya, sepertinya ia menyadari ada yang salah dengan sahabatnya ini.
"Hei, sesuatu terjadi?"
Sakura memalingkan matanya menatap Ino. Hal yang sama pernah ditanyakan juga oleh Sasuke kepadanya semalam. Apakah semudah itu raut mukanya terbaca. Mungkin juga. Bukannya menjawab Sakura hanya menghela nafasnya.
Ino pun hanya bisa menatapnya dengan bingung.
-ooOoo-
Malam mulai menjelang, namun saat ini hanya ada Sakura seorang di kamar. Itu semua karena Sasuke menelpon bahwa ia akan menginap di rumah temannya untuk mengadakan diskusi club. Sakura menghela nafas, ia bahkan tak tahu kalau Sasuke mengikuti club.
"Club seperti apa yang diikutinya? Club orang-orang cuek? Atau Club pemuda berhati dingin?" sahut Sakura sambil memandang keluar jendela.
Sakura sudah duduk di sana memandangi keluar jendela selama 2 jam. Jujur saja ia bosan, namun apa lagi yang bisa dilakukannya? Masak…Sakura tak perlu memasak banyak karna hanya dia yang akan memakannya. Beres-beres… mansion sudah rapi sejak ia masuk ke dalamnya sepulang sekolah tadi. Nonton televise… tak ada acara yang membuatnya tertarik.
"Haaahhh~ Tak ada yang bisa kulakukan kalau Sasuke tak di sini." Keluh Sakura.
Sakura bangkit dari tempat duduknya, ia memutuskan untuk main ke rumah Ino melepas bosannya. Atau mungkin ia berencana untuk menginap di sana. Sakura beranjak menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Ia membuka-buka lemarinya dan mencari jaket merah kesayangannya yang digantung di lemari. Saat tangannya tak sengaja meraba jaket Sasuke, ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam saku jaket itu. Sakura memasukkan tangannya untuk mengambil benda itu.
"Ini…"
Sakura terdiam saat melihat bahwa itu adalah selembar foto yang sudah dilipat-lipat dan terlihat lecek. Di sana juga ada sebuah kertas surat yang ditulis tangan. Sakura terkejut saat menyadari bahwa itu adalah foto si gadis berambut merah—yang mengaku bernama Karin—dan Sasuke berada di sebelahnya.
"Tak mungkin…"
Sakura membaca isi surat itu, tak banyak tulisan di dalamnya. Namun Sakura yakin ini mempunyai makna penuh. Seperti De javu, Sakura teringat akan perkataan Itachi saat mereka mengadakan pertemuan dua keluarga besar beberapa waktu yang lalu.
"Kau pernah mendengar sebuah dongeng, Sakura?"
Dear Sasuke-kun,
Aku tahu kita sudah berjuang bersama-sama selama ini.
"Ini adalah dongeng singkat, mengenai jalan asmara seorang pangeran Uchiha."
Pertemuan kita bagaikan sebuah keajaiban. Untukku bertemu sosok pangeran sepertimu, sungguh sesuatu yang tak bisa kulupakan seumur hidupku.
"Dahulu kala, tinggal lah seorang pangeran yang kesepian. Terkurung dalam dinginnya dinding istana, dan hartanya yang berlimpah. Seluruh keinginannya dapat tercapai hanya dengan jetikkan jari."
Hari dimana aku mulai melangkahkan kakiku memasuki duniamu, aku menyadarinya… bahwa kau pun mulai menjelajahi duniaku.
"Suatu hari seorang gadis biasa datang ke istana itu. Awalnya itu hanyalah kunjungan biasa, kerena sang gadis adalah anak dari salah satu kepala pelayan di Clan Uchiha… Namun semua berubah sejak saat itu, keadaan yang tercipta mengharuskan mereka untuk sering bertemu atau setidaknya berpapasan."
Saat menatap matamu…
"Dan tanpa disadari, panah Cupid meluncur di antara mereka. Meninggalkan bekas cinta yang cukup dalam, lebih dari yang terlihat."
Saat itulah aku jatuh cinta.
"Namun sekali lagi karena status keluarga mereka yang terpaut terlalu jauh. Membuat hubungan mereka tak mendapatkan restu. Segala cara diupayakan untuk memisahkan mereka berdua, hingga akhirnya sang gadis meninggalkannya dan dikirim ke luar negeri."
Tapi kini kurasa cerita dongeng ini harus lah segera berakhir. Meski bukan akhir yang bahagia seperti kisah Cinderella, aku mengakuinya ini akan jadi kisah terindah yang akan kuceritakan kepada anak-anakku nantinya.
Sakura merasakan lemas menghampirinya, membuatnya perlahan jatuh terduduk dengan tangan yang gemetar. Sebelah tangannya pun menutupi mulutnya yang terbuka. Matanya membulat menunjukkan ekspresi ketidak percayaannya dan rasa terkejutnya.
Sakura masih belum siap untuk menghadapi keadaan seperti ini. Belum ia dan Sasuke meresmikan pertunangan mereka, sudah datang badai sehebat ini untuk menghalaunya. Apakah takdir memang sedang bermain-main dengannya?
Suatu saat aku akan kembali lagi kepadamu. Karna itu… tunggulah.
Sakura menutup kembali surat itu. Ia bangkit dan mengembalikan surat beserta foto itu ke dalam saku jaket Sasuke dengan buru-buru. Ia sungguh masih belum bisa mempercayainya.
Sakura berlari hendak keluar dari mansion itu, namun saat berada di depan pintu.. sudah ada Sasuke berdiri sambil melepaskan sepatunya. Sasuke diam memperhatikan penampilan Sakura. Dengan matanya yang berlinang, tangannya yang mengepal, nafasnya yang terengah, Sasuke mengerutkan dahinya.
"Ada apa?" tanyanya lembut, perlahan ia pun mendekati Sakura. Namun dengen refleks Sakura malah melangkah menjauh.
Hal ini membuat Sasuke semakin bingung dibuatnya.
"Sakura, apa yang terjadi kepadamu? Akhir-akhir ini kau tak seperti biasanya…" Sasuke semakin memperdekat jaraknya, Sakura kini terpojok tak bisa mundur lagi saat punggungnya sudah menempel tembok.
Plak.
Tamparan keras mendarat di tangan kanan Sasuke saat ia mencoba meraih pipi Sakura. Sasuke membulatkan matanya tak percaya, dan Sakura juga terkejut dengan gerakan refleksnya.
"Sakura…"
Meski tak tahu apa yang sedang terjadi pada wanitanya itu, tapi Sasuke berusaha sesabar mungkin memahaminya. Ia berjalan meninggalkan Sakura dan menuju kamarnya.
Sakura kini hanya bisa terdiam tak bergerak. Ia bingung harus melakukan apa, pikirannya sedang kacau sekarang. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk berlari keluar mencari udara segar.
Hal yang biasa dilakukannya ketika perasaannya sedang kacau.
-ooOoo-
"Akhirnya aku kembali lagi ke sini…" ratap Sakura lirih.
Saat ini hanya reremangan lampu taman yang menemaninya. Ia duduk di salah satu ayunan yang disediakan di sana untuk menghibur dirinya sendiri. Entah sudah pukul berapa sekarang, ia tak peduli. Bahkan ia belum sempat meminta izin kepada Sasuke, mungkinkan Sasuke kini sedang mencari-carinya?
"Kemungkinannya tak cukup besar…" sahutnya lagi entah pada siapa.
"Sakura?"
Namun tiba-tiba saja sebuah suara memanggil namanya, Sakura pun menoleh untuk melihat siapa itu.
"Sai?" Sakura mengerjapkan matanya.
Sai yang kebetulan lewat di sana ternyata melihat Sakura sedang duduk sendirian, sehingga ia memutuskan untuk mendekat dan menyapanya. Setelah meletakkan bungkusan yang dibawanya, ia menempatkan dirinya duduk di ayunan sebelah Sakura.
"Kau sendirian?" tanya Sai sambil mengayunkan dirinya itu perlahan.
"Kau kira aku bersama siapa?" balas Sakura dengan nadanya yang dibuat kesal.
"Ha ha, kupikir nantinya pacarmu yang gagah akan mendramatisir suasana dengan tiba-tiba datang dan mengatakan 'jangan ganggu pacarku!' atau 'dia milikku, pergilah!'. Kan kalau begitu nanti tak lucu dilihatnya." Jawab Sai asal sambil memperagakannya.
Sakura terkekeh mendengar ucapan Sai itu. Namun tak lama wajahnya berubah mendung kembali.
Sakura berbisik, "Ya… andai saja itu benar terjadi."
Sai melirik ke arah Sakura, ia merasa sesuatu yang tak benar sedang terjadi, tapi sepertinya ia bukanlah orang yang berhak ikut campur di dalamnya. Satu-satunya yang bisa dilakukan Sai hanyalah menghibur Sakura.
Sai menegadah ke langit, berpikir cara apa yang akan dilakukannya untuk menghibur gadis kesepian di sampingnya itu.
"Hm… Sakura."
Sakura menoleh saat Sai memanggilnya, dan tepat saat itu juga sebuah benda yang sangat dingin menempel di pipinya. Membuat Sakura sampai tersentak kaget dibuatnya.
"Ice Cream?" sahut Sakura saat menyadari benda apa itu.
"Eee? Tak usah menggunakan bahasa asing seperti itu kenapa~ Cukup katakan es krim saja kan?" keluh Sai sambil menyodorkan es krim itu.
"Ha ha ha, baiklah." Sakura tersenyum kembali dan menerima es krim itu.
Namun bukannya rasa segar atau manis yang menghampiri lidah Sakura saat memakannya. Namun rasa pedas yang amat sangat membuatnya sampai menjulurkan lidahnya yang perih akibat rasa pedas itu sendiri.
"Fuah~ Apa ini?!" pekik Sakura kencang.
"Pwa ha ha ha~ itu adalah jebakan andalanku. Namanya Ice Cream Hit! Es krim rasa pedas yang hanya dijual di supermarket belakang bukit. Ha ha ha tak ada yang bisa lolos dari seranganku yang satu itu!" ucap Sai dengan bangga sambil tertawa licik.
"Akh! Sial~ rasanya…aaaaahh~ pedass~" Sakura merutuki es krim itu. Sebelah tangannya mengibas-ngibaskan lidahnya yang panas.
Melihat Sakura yang sepertinya setengah mati kepedasan itu membuat Sai tak tega juga. Karena ia sendiri memakan es krim yang paling manis, makanya ia berniat untuk memberikan es krim itu kepada Sakura.
"Hei, ini… makan ini." Sahut Sai sambil menyodorkan es krimnya. Sakura pun langsung menyambar es krim itu dan memakannya dengan sekali telan. Namun spertinya itu masih kurang untuk memadamkan bara pedas yang mengganggu indra pengecapnya.
"Hua…hiks…pedas~" Sakura menutupi wajahnya yang sudah mau meledak itu.
Sai yang merasa bersalah kini mencoba menenangkan Sakura.
"Sakura, tenanglah…lihat aku tenang lah~" Sai memegang kedua tangan Sakura dan membukanya perlahan, memperlihatkan raut wajah Sakura dengan lebih jelas.
Dheg.
Sai tersentak saat melihat ekspresi Sakura di hadapannya. Matanya yang berlinang menatap lurus ke arahnya, tangannya gemetar, bibirnya merah merekah, lidahnya menjulur keluar, dan nafanya terengah. Sungguh seperti ekspresi yang erotis. Tentu saja lelaki mana yang bisa menahannya, hal ini juga membuat Sai sadar bahwa tadi mereka melakukan indirect kiss alias ciuman tak langsung dengan memakan es krim sisa Sai tadi.
Glup.
Sai dengan cepat menggelengkan kepalanya untuk menarik kembali kesadaran kepada dirinya. Ia melepaskan kedua tangan Sakura dan segera meraih sebotol air mineral dari tas belanjaannya untuk diserahkan kepada Sakura.
"Ahhh~" setelah meneguk habis sebotol air mineral yang diberikan Sai, Sakura akhirnya bisa merasa lega.
Sementara Sai kini terdiam. Sakura bingung atas perubahan mendadak dari sikap Sai, ia tak sadar bahwa Sai sedang menahan perasaannya yang kacau karena baru saja melihat wajah 'erotis' Sakura.
"Sai?"
"Hwaaa!"
Mendengar Sakura memanggil namanya membuatnya sontak berteriak. Wajah Sai kini sudah sangat merah pekat, karena tak ingin Sakura menyadari hal itu akhirnya dengan terburu-buru Sai meraih kantung belanjaannya dan berlari dengan kecepatan cahaya(?).
"Eh?" Sakura pun hanya bisa cengo melihatnya. Sekali lagi ia ditinggalkan sendiri, namun ia tersenyum. Sepertinya berkat Sai ia bisa melupakan kesedihannya dan merasa lega. Sakura pun bangkit, ia memutuskan untuk kembali ke mansionnya.
-ooOoo-
Akhirnya tiba juga hari H-1. Besok adalah tepat hari dimana yang seharusnya Sakura nantikan, namun saat ini suasana yang terjadi malah canggung dan kaku.
Selama acara makan pagi tak ada yang memulai pembicaraan sampai selesai dan berangkat sekolah. Sakura sendiri bukannya tahan dan bersabar dengan kondisi ini, tapi ia tak tahu harus mulai bicara darimana.
"Haaah~"
"Pagi-pagi sudah menghela nafas, kau bisa mengundang sial." Kali ini perkataan Ino yang mendapat 'kacangan' dari Sakura. "Hei Sakura, besok kau tak batal tunangan kan?"
"Enggaklah!" jawab Sakura tegas.
"Syukurlah kalau begitu, nanti tiket VVVVVIP-ku bisa terbuang sia-sia."
"Hei Ino…"
"Hn?"
"Bagaimana kalau aku benar-benar batal tunangan?"
"Ha? Kenapa? Kau sudah mulai mencintai orang lain?"
"Akh~ Bukan begitu. Aku memang bertemu dengan seorang pria semalam, tapi bukan berarti diantara kami ada hubungan yang seperti itu…"
"Hah?! Kau bertemu pria semalam?! Apa saja yang sudah terjadi?! Sakura! Kenapa kau tak cerita apapun padaku?!"
Sakura sungguh menyesali perbuatannya karena telah mengatakan hal itu kepada Ino sekarang. Lihat saja, ke-kepo-an Ino kambuh lagi.
"Namanya Sai, dia bukan siapa-siapa kok…"
"Kalau bukan siapa-siapa kenapa kau menemuinya malam-malam? Atau kah…" Ino memberikan jeda pada ucapannya. Kilatan matanya berubah mesum ke arah Sakura. "Oh…ho ho ho. Ternyata kau nakal juga ya~"
"Ini bukan hal seperti itu, Piggy!" Sakura akhirnya kehilangan kesabaran juga. "Kami hanya berteman saja, tak lebih."
"Oh, baiklah baiklah. Lalu masalahmu dengan Sasuke apa?"
Sakura terdiam, Ino masih menunggunya untuk bicara.
"Sepertinya seseorang di masa lalu Sasuke datang kembali untuk merebutnya dariku."
Kali ini ucapan Sakura lah yang membuat Ino terdiam mengunci mulutnya. Ia tak habis pikir sahabatnya bisa mengucapkan kalimat pesimis seperti itu. Ino mengerutkan bibirnya, ia sepertinya harus memikirkan suatu cara untuk membuat suasana antar SasuSaku ini fresh kembali. Kalau tidak kartu khusus yang diperolehnya untuk acara pertunangan Sakura benar-benar akan jadi useless nantinya.
"Hei Sakura, kau sudah menanyakannya langsung kepada Sasuke mengenai hal ini? Apa Sasuke memang sudah seperti akan berpaling darimu?"
Sakura menggelengkan kepalanya perlahan menjawab pertanyaan Ino itu.
-ooOoo-
Di sisi lain Sakura sedang galau mengenai wanita merah—Karin—yang datang tiba-tiba dalam kehidupannya, Sasuke juga sedang gundah akan sikap dingin yang ditunjukkan Sakura.
Ia sendiri juga sebenarnya tak tahan dengan keadaan berdiam diri seperti ini, apa lagi besok seharusnya merupakan hari paling membahagiakan bagi mereka. Kalau seperti ini terus, entah bagaimana jadinya hubungan mereka ini.
"Akh~ wanita memang sulit dimengerti." Rintih Sasuke sambil mengacak-acak rambutnya.
Drrrt ddrrtt Drrrt.
Getaran di ponselnya membuatnya dengan malas meraih ponsel itu dan melihat siapa yang tertera di layarnya. Ada panggilan dari nomor yang tak dikenal, Sasuke ragu antara ingin menjawabnya atau tidak. Tapi begitu ia berpikir bahwa mungkin saja itu telpon dari Sakura, membuatnya memutuskan untuk mengangkat telepon itu.
"Moshi-moshi?"
"Sasuke-kun…"
Sasuke membulatkan matanya seketika. Ia kenal betul dengan pemilik suara ini. Suara dari masa lalunya yang dengan menggunakan time capsule melesat menuju kehidupannya sekarang. Tangannya melemas, namun bagaimanapun ia berusaha untuk tak menjatuhkan ponselnya itu.
"Sasuke…aku ingin bicara denganmu."
-ooOoo-
Sakura kini dengan gontai berjalan pulang. Hitungan mundur waktu untuk menuju hari esok semakin singkat. Itu artinya waktu untuknya berbaikan dengan Sasuke semakin berkurang. Sakura sudah tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
Namun sepertinya ia memang harus mengikuti saran Ino untuk menanyakan langsung kepada Sasuke. Meski Sakura takut hubungannya malah akan menjadi tambah rumit, tapi kalau berdiam diri saja tak ada yang bergerak maka seumur hidup tak akan ada kemajuan.
"Ah… aku memang harus menanyakannya."
Saat Sakura sedang bergumam sendiri, ia mendadak seperti mendengar suara yang dikenalinya.
"Lumayan, bagaimana denganmu?"
Merasa penasaran, Sakura mempertajam pendengarannya dan berjalan mendekati sumber suara itu. Betapa terkejutnya ia melihat Sasuke sedang bersama dengan Karin di sebuah gang sepi. Sontak Sakura segera bersembunyi untuk memata-matai mereka.
"Aku juga baik-baik saja. Kau tak banyak berubah ya, Sasuke-kun~ masih saja tampan seperti dulu." Sahut Karin dengan nada ramahnya.
Rasa cemburu tentu saja ada dalam hati Sakura, tapi apa yang harus dilakukannya? Melabrak mereka? Yang benar saja.
"Sasuke… apa kau mulai terbiasa dengan ketidak-hadiranku?" tanya Karin masih dengan nada ramahnya. "Apa tanpa aku pun kau baik-baik saja?"
Sasuke hanya terdiam tak menjawabnya, matanya menatap lurus ke dalam pancaran mata wanita merah itu. Bayangan-bayangan mengenai masa lalu mereka ter-flash back di dalam pikiran Sasuke dan menjadi cambuk baginya.
"Dulu kita sering pergi ke taman di rumahmu dan bermain air di kolamnya… apa kau ingat itu?" Karin masih mencoba meruntuhkan pertahanan Sasuke. "Apa taman di sana masih terawat seperti saat aku yang merawatnya? Pasti kolam itu juga tak ada yang merawat sehingga kotor ya?"
Sakura yang bersembunyi dan melihat kejadian itu diam-diam hanya bisa mengepalkan tangannya erat meredam api cemburu yang mulai menyulut di dadanya.
"Saat itu kita—"
"Tolong hentikan cerita mengenai apa yang telah terjadi dulu." Ucap Sasuke memotong ucapan Karin. Memberikan sedikit keterkejutan kepada Karin.
Sakura yang mendengar hal itu sejujurnya merasa sedikit lega juga karena kalau sampai Sasuke bersikap baik kepada gadis itu, makan mungkin ia akan meloncat keluar dari persembunyiannya.
"Kau masih seperti dulu… masih saja—"
"Aku... berterima kasih kepadamu."
Sekali lagi Sasuke memotong ucapan Karin. Dengan sorot mata tajamnya Sasuke menatap Karin. Karin pun hanya terdiam seakan terhanyut dalam pesona Uchiha itu.
"Tanpamu mungkin tak ada 'Uchiha Sasuke' seperti yang kau lihat di depanmu saat ini."
Karin menyadari arah pembicaraan ini, ia menundukkan kepalanya seketika. Melihat hal itu Sasuke menjadi diam dan tak meneruskan kalimatnya. Mungkinkah masih ada rasa iba tertinggal di hatinya? Atau mungkin rasa yang lain?
"Sasuke… apa kau tahu mengapa aku meninggalkanmu waktu itu?" seperti yang diduga, pertanyaan Karin tak mendapatkan jawaban dari Sasuke. Karna mungkin tanpa dijawab pun Karin sudah mengetahuinya.
"Itu karena aku memiliki kanker."
Dheg.
Mendadak helaian angin terasa mengencang menerpa. Sasuke membulatkan matanya tak percaya, Sakura di lain pihak pun merasa mendapat guncangan yang hebat. Sakura mencoba menahan berat badannya dengan bersandar pada dinding. Sedangkan Sasuke bediri mematung tak bergerak.
"Kau tak tahu itu kan?" kini Karin menegadah menatap mata Sasuke. "Aku sadar bahwa kisah kita tak memiliki akhir yang baik, jadi aku tak ingin memberikanmu sejarah hidup yang menyedihkan."
Sasuke masih tak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya itu.
"Tapi seiring waktu berlalu, ternyata aku memang tak bisa kalau bukan denganmu." Karin kini mulai melangkahkan kakinya mendekati Sasuke.
Sakura mengerutkan dahinya. Ia memiliki perasaan yang buruk, ia bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ingin sekali rasanya ia melesat untuk menghentikan Karin. Namun ia masih ingin melihat reaksi Sasuke selanjutnya.
"Dan sekarang aku kembali kepadamu, Sasuke. Aku menepati janjiku kepadamu."
Kini jarak Sasuke dan Karin hanya tinggal selangkah lagi. Semakin Karin mendekat, Sasuke mencoba menggerakan tubuhnya untuk menghindar.
"Sasuke… aku selalu mencintaimu. Kembalilah kepadaku sekali lagi."
Sakura semakin erat mengepalkan tangannya. Tak peduli dengan kuku-kukunya yang mulai menggores luka pada telapak tangannya sendiri.
"Kekasihmu sudah memiliki segalanya. Harta, kecantikan, kepandaian, apapun yang diinginkannya bisa didapatkannya dengan mudah. Aku hanya memilikimu, Sasuke."
Sakura sudah tak bisa lagi menahan perasaannya. Akhirnya dengan sigap ia berlari menuju ke arah mereka dan berdiri di antara keduanya. Sakura dengan lekat mengahalangi Sasuke dengan tubuhnya.
"Sakura?" Sasuke menggumamkan namanya saat melihat tiba-tiba saja Sakura sudah berdiri di hadapannya.
"Jangan bicara sembarangan ya!" pekik Sakura kepada Karin yang masih terpaku.
Karin perlahan meredupkan sorot matanya dan menatap Sakura. Sasuke pun mulai mengendalikan lagi dirinya seperti semula.
"Segala yang didapatkan dengan mudah maka mudah untuk disia-siakan." Ucap Sakura dengan penuh penekanan. "Oleh karenanya sesuatu yang 'benar-benar diinginkan' tak akan mudah untuk didapatkan."
Baik Karin maupun Sasuke terdiam memberikan kesempatan kepada Sakura untuk mengeluarkan pendapatnya. Ataukah mungkin Sakura yang tak memberi mereka kesempatan untuk bicara atau menyela ucapannya.
"Saat ini yang sangat kuinginkan adalah 'Uchiha Sasuke', besok ia akan resmi menjadi milikku. Karena itu aku takkan semudah itu menyerahkannya kepadamu!"
Ucapan Sakura bagaikan sambaran petir bagi Sasuke dan Karin. Mimpi pun tak akan Sasuke kira Sakura akan mengucapkan hal senekad itu.
Dalam diam Sasuke terkekeh. Ia berjalan maju perlahan menuju Sakura yang berdiri di hadapannya. Hanya Karin yang bisa melihat hal itu, dan hal yang membuat baik Sakura maupun Karin terkejut adalah saat Sasuke dengan lembut memeluk Sakura dari belakang.
"Benar. Aku adalah miliknya." Sahut Sasuke mempertegas. Sakura menoleh menatap wajah Sasuke dengan malu-malu.
"Sasuke~" Sakura ikut melingkarkan tangannya di atas tangan Sasuke.
"Kau memang sangat berpengaruh dalam kehidupanku, Karin. Tapi bagaimanapun… kau adalah bagian dari masa laluku." Sasuke memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya kepada Sakura.
"Saat ini… hanya dia lah yang paling kuinginkan. Dan mulai besok hingga seterusnya dia akan jadi satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku."
Ucapan Sasuke diakhri dengan sebuah kecupan lembut di pucuk rambut Sakura. Sungguh Sakura merasa sangat bahagia hingga tanpa sadar air mata menetes di kedua pipinya. Sasuke dengan lembut menghapus air mata Sakura itu.
Sementara itu Karin terdiam melihat suasana yang ada di hadapannya itu, sebuah senyuman pun tersungging di bibirnya.
"Ternyata begitu ya…"
Sasuke dan Sakura pun menoleh menatap Karin. Keduanya merasa bersalah saat itu juga. Karin pun menyunggingkan kembali senyumannya.
"Sebaiknya kukatakan kalau kalian tak perlu merasa bersalah." Ujar Karin dengan senyu—mungkinkah itu seringai?
"Eh?" baik Sasuke maupun Sakura hanya saling bertukar pandangan bingung.
"Sebenarnya aku tak memiliki penyakit apapun kok. Aku sehat walafiat."
Keadaan semakin membingungkan dibuatnya.
"Sebenarnya aku datang ke sini hanya untuk memastikan kalau kau memang sudah tak terpuruk lagi." Kini nada Karin kembali berubah ramah. "Sejujurnya aku tak menyesali keputusanku untuk meninggalkanmu, hanya saja perasaan bersalah menghantuiku. Kupikir kau mungkin tak akan bisa bangkit lagi karena aku."
Karin mendekat ke arah Sakura dan menatapnya lekat.
"Tapi ternyata saat datang aku malah disambut oleh malaikat baru dalam dirimu." Karin tersenyum.
"Kalian pasangan yang serasi, kalian juga saling mencintai. Aku berdoa agar kalian bisa hidup bahagia bersama."
Dan dengan itu pun kesalah pahaman usai. Karin segera pulang setelah berpamitan. Dan tanpa terasa pun malam mulai menjelang. Kini suasana makan malam tak seperti tadi pagi yang sunyi senyap dan dingin. Meski mereka masih sama-sama berdiam diri, tapi suasana yang ada adalah suasana canggung yang malu-malu.
Ini semua karena mereka teringat akan perkataan mereka sendiri sore tadi saat bersama dengan Karin. Sungguh kata-kata yang diluar dugaan.
Drrrrt Drrrt Drrrt.
Tiba-tiba saja ponsel Sasuke bergetar di atas meja, sontak baik Sasuke maupun Sakura melihat ke arahnya. Dan sekali lagi nomor tak dikenal tertera di sana. Kali ini bukanlah telepon, namun sebuah MMS. Sasuke bertaruh ini pasti dari Karin.
"Apa isinya? Cepat buka!" sahut Sakura tak sabar.
"Iya iya."
Klik.
Betapa terkejutnya mereka saat membukanya ada sebuah foto bayi kembar 3 dengan sebuah text yang berisikan:
Hey, Sasuke, Sakura.
Ini adalah anak-anakku… bagaimana? Mereka malaikat kecilku yang lucu bukan? Kau tak tahu betapa sulitnya untuk bisa 'membuat' yang seperti ini kan?
Nah aku menunggu seperti apa 'hasil' kalian nanti. ^,
"Apa-apaan itu?!" pekik Sakura kesal sambil menahan malunya.
Sasuke yang melihat tingkah Sakura itu mendadak memamerkan seringainya. Ia bangkit dan memegang tangan Sakura. Sakura pun menoleh menatap Sasuke.
"Hey, mari kita buktikan kalau kita bisa 'membuat' yang bahkan 'hasil'nya bisa lebih hebat dari itu."
Greb.
Dengan sekali hentakan tubuh Sakura digendong bridal style oleh Sasuke.
"Kyaaa…Sasuke! Turunkan aku sekarang! Sasuke!"
Dengan senandung kecil Sasuke mengabaikan rintihan Sakura dan membawanya ke kamar. Dengan sebelah kakinya ia menutup kamar itu. Sepertinya Sasuke memang sudah menganggap Sakura sebagai istrinya. Padahal mereka harus menghadiri acara pertunangan yang pasti akan melelahkan besok.
Tapi yah…jiwa muda. Tak akan pernah lelah untuk bercinta~
-TBC-
Aih, aih~ Shera terharu nih~ T.T
Kalian readers bisa aja bikin Shera seneng~
Shera udah dheg-dheg-an karena update time nya digeser jadi abis buka puasa,
Soalnya bakal banyak 'ehem'nya yang mungkin nggak pentes dibaca pas puasa.
Shera pikir readers pada kecewa semua~ :'(
Abis liat reviews kalian yang menjulang banyaknya dan juga pujian-pujian dari kalian,
Shera jadi semangat lagI~ ToT
Sebenernya Shera pingin update pagi-pagi, tapi Shera harus sekolah dulu jadi nggak sempet.
Btw, makasih banyak atas dukungan kalian yah~ :')
Review me plisss~
Keep Trying My Best!
Shera.
