~Balasan Reviews~

Ridafi-chan : he he he, iya sih emang alurnya nggak begitu hard dan bisa dipahami oleh remaja ato kaum muda.
Tapi yang bikin ini ke rate M itu yah itu itu... ehem.. tau kan? #grrrr
Sai ngapain Sakura yah? kalo itu tunggu aja aksi Sai. ha ha ha
kalo baju Sai kebuka... aduk maaf, Shera nggak liat kejadiannya langsung n belum sempat tanya,.. #lho?

Hikari Matsushita : He he he, emang Hika-chan maunya SadEnd yah? :o

Nice Reviewers : Wah, mainstream banget yah?
Waduh, Shera dibilang lebay? T.T Ini emang sebernya garis besarnya udah umum banget, tapi Shera coba nge-mix beberapa ide mainstream itu biar jadi Fict yang baru.
tapi bumbu-bumbu mainstream-nya masih berasa kah?
Ok, Sankyu buat koreksinya.

Neko Darkblue : Wah, masa sih? Awalnya Shera smepet kepikiran buat bikin Karin jadi antagonis.
Tapi Shera yakin, pasti ada juga Karin Lovers yang nggak suka Shera bikin begitu terus.
Nggak lah, kalo Sasuke balik sama Karin ini Fict nggak akan HappyEnd kan akhirnya~

Julia : he he he, Sasuke emang raja mesum yah~
Tapi itu daya tariknya kan? :3

Ah Rin : So sweet apa so sweat? Ha ha :D
iya no problem, yang penting kamu baca dan suka sama jalan ceritanya.
Makasih juga udah nyempetin review…

Miharu : wah, kamu suka sama alur yang Shera buat?
Sai suka nggak yah? Chap ini bakal memperjelasnya deh.
Iya, pair-nya aja SasuSaku sama SaiIno. Pasti cinta segiempatnya mereka dong.

Aguma : makasih~ :3 khe khe khe

Cibiua : ok, I will! :D

Shin Mitsuna : Iya, Shera juga berpikir sama kayak kamu.
Nggak baik kan bikin char yang paten jadi antagonis.
Sesekali gantian deh~
Semangaaaatttt! Fighting~ ^^

Tsurugi De Lelouch : iya nih, sayangnya nggak ada lagi tebak-tebakan pas lewat chap 4.
tapi Shera masih berusaha bikin tanda tanya di akhir chap, jadi bisa bikin penasaran. :3

Sami-chan : iya sih masalah ini selesai, tapi Fict-nya lum kelar lho~
Itu artinya, masih ada masalah lainnya. Ha ha ha #evil

Shfly9734 : iya nih, padahal Shera mau bikin tebakan lagi…tapi berhubung tokohnya udah pada keluar smeua jadi susah bikin tebakannya.
Line umur toh? Haduh~ Shera nggak bisa bilang nih…itu rahasia perusahaan. Ha ha
Yang jelas clue-nya Shera masih 'unyu-unyu'. Nah nebak yang ini mau? :3

Alifa-chan : Yoy, Shera insya Allah nggak bakal update telat nih.
Semoga aja timing-nya mendukung yah~ jadi Shera bisa update tiap hari.
he he, jadi malu nih~ *garukgarukkepala
Kalo ending sih udah kerancang, tapi abis konflik yang satu ini.
Emang udah mw end sih, makanya tetep dukung Shera sampe saat terakhir yah~

Widhy : aku juga terhuraa—plak—terharu maksudnya.
Wah, bertengkar mereka kecil-kecilan kok. Tapi kecil-kecil lama-lama jadi besar lho?
Wah, semoga mereka nggak batal tunangan aja dah~

Hazuki Fujimaru : okkeh, dukung Shera terus yah~ sankyu~ :3

East Robo : he he, emang awalnya dugaan kamu kayak apa sih?

SoulHarmoni : waduh, awas tuh ntar barang-barang pada pecah kepencak kamu. :D
Enggak dong, niatnya baik kan?
Izin fav? Kamu nggak udah bilang pun aku senang banget diFav. xO
Sankyuu~

Natsumo-san : wah kalo itu…karena MS word-nya, sensei~ ToT
Kadang nggak Shera tulis besar pun udah auto correct begitu.
tapi Shera coba perbaiki deh~ Sankyu koreksinya~
Masalah lemon…Shera nggak ngerti yang sexy~ soalnya Shera kan masih polos~ xD #dzig,dibantai
Natsu contohin dong ke Shera~ ;3

Uchiharuno susi : he he update on~! :3

Hanazono yuri : ok deh, sekilat yang Shera sanggup~ ^^

QRen : iya nih, tinggal Sai.
Wah, tujuan dia kan emang misahin SasuSaku, tapi nggak pakek trik-trik jahat kok~
Cekidot yah~

Hamster-pink : Sai? Tentu saja! dari awal emang itu lah tujuannya main di Fict ini. He he he

Faith and hopeless : iya, I'm trying to! ^^

Charlotte Helene d'Orleans : Kalo Sai buat kamu… trus Ino-nya sama siapa?
Masa nggak kasian sih, dia sendirian nggak ada temennya? #pukpukIno

~Enjoy Reading~


"LOVE PROPOSAL"


.

Warning! HARD LEMON INSIDE!
Baca pas udah buka puasa yah~

.


Day 6 : Love Confession

(Hari keenam : Pernyataan Cinta)


.

.

Enjoy Reading

.

.

Akhirnya hari yang dinantikan tiba juga. Suasana meriah membanjiri aula gedung Uchiha itu. Dekorasi mengambil tema tradisional Jepang, jadi jangan heran kalau para tamu yang datang menggunakan kimono.

Diantara mereka berdiri seorang lelaki gagah dengan wajahnya yang bosan. Di sekelilingnya gadis-gadis berkumpul meneriakan namanya. Padahal ini adalah hari pertunangannya, tapi bukannya memberikan ucapan selamat, gadis-gadis itu malah menyerukannya untuk membatalkan pertunangan ini.

"Kyaa…Sasuke-kun~ jangan~"

"Tidaaakk~ Sasuke-kun~"

"Aku tak rela tidaaaakk~!"

Yap, bintang utama kita, Uchiha Sasuke. Sepertinya kepopulerannya tak menurun bahkan saat terdengar kabar ia akan bertunangan. Sasuke memang hanya diam tak menanggapi jeritan mereka—yang menurutnya sendiri sangat konyol itu, tapi bukan berarti ia mendengarkannya.

Tiga jam telah berlalu sejak acara ini dinyatakan dibuka, tapi sampai saat ini sosok Sakura belum juga terlihat. Hal ini membuat Sasuke dan keluarga besar lainnya gelisah.

Saat ini situasi Itachi tak jauh berbeda dengan Sasuke sebelumnya. Sekelilingnya juga dipenuhi oleh gadis-gadis yang memintanya untuk menikahi salah satu dari mereka. Tapi tanggapan Itachi berbeda dengan Sasuke. Kalau Sasuke memasang wajah ketidaksukaannya, Itachi hanya tersenyum formal saja.

"Hey.." Itachi menepuk pelan pundak Sasuke. "Kenapa Sakura belum turun juga? Apa dia belum selesai berdandan?"

"Aku sendiri juga tak tahu. Aku belum sempat menengoknya tadi, dia juga mengatakan untuk tak menemuinya saat ia sedang bersiap." Jawab Sasuke melampiaskan kekeluhannya.

"Kurasa sebaiknya kau jemput dia."

"Baiklah."

Tap.

Namun saat Sasuke berbalik, tepat saat itu terdengar sebuah teriakan kagum. Baik Sasuke maupun Itachi sontak melirik ke arah suara itu.

Kakak beradik Uchiha itu sungguh sudah kehilangan sikap dingin mereka. Betapa tidak, kini mereka menunjukan ekspresi keterkejutan yang tak elit. Tapi sebenarnya bukan hanya mereka yang menunjukkan ekspresi itu, seluruh tamu undangan bahkan sampai kedua keluarga besar juga menunjukkan ekspresi yang sama.

"Itu kan…"

Sasuke membulatkan matanya. Menatap seorang gadis—meski kusebut 'gadis', sebenarnya ia sudah menjadi 'wanita'—yang dengan anggunnya berjalan menuruni tangga. Kimono merahnya mempertegas warna kulitnya yang putih. Rambutnya diikal dan dibiarkan tergerai bebas. Mata emeraldnya berkilauan, dan senyuman terukir di sudut bibirnya.

Puk.

Itachi sekali lagi menepuk pundak Sasuke untuk menyadarkan adiknya itu dari keterkejutannya. Sasuke mengangguk mengerti arti tepukan itu, ia pun berjalan menuju ke arah Sakura.

Sakura terdiam melihat kekasihnya datang menjemput. Saat mereka berhadapan, sebuah uluran tangan datang menyambut Sakura. Dengan lembut Sakura meraih tangan itu. Mereka bergandengan menuju altar dimana kedua keluarga besar telah bersiap diatasnya.

"Hadirin… ini merupakan hari bersejarah bagi kedua klan terbesar yaitu Uchiha dan Haruno." MC menyerukan ucapannya.

Sasuke dan Sakura hanya saling berpandangan. Memancarkan pesona yang mereka miliki untuk meluluhkan satu sama lain. Membuat para gadis yang hadir mengepalkan tangan merasa kalah telak setelah melihat sosok calon tunangan Sasuke. Siapa sangka Sakura bisa jadi secantik itu.

"Kini mari kita resmikan pertunangan mereka. Silahkan saling bertukar cincin."

Sakura meraih sebuah cincin yang disodorkan oleh Itachi sebagai pihak ketiga. Itachi memberikan kedipannya kepada Sakura entah untuk apa, Sakura hanya bisa terkekeh malu-malu. Dengan perlahan pun Sakura menyematkan cincin itu di jari Sasuke.

Kini giliran Sasuke, namun saat ia akan menyematkan cincin di jari Sakura, seorang pemuda berdiri dan berteriak.

"HENTIKAN!"

Suasana yang hangat itu pun berubah seketika. Dengan teriakan itu, seluruh perhatian pun dicurinya. Sasuke menatap tajam ke arah pemuda berambut hitam yang sekilas mirip sepertinya itu.

"Siapa kau?" tanya Sasuke dengan nada dinginnya.

Namun bukannya menjawab pemuda itu malah melangkahkan kakinya mendekat beberapa langkah menuju altar itu. Ketika yang lain sedang bertanya-tanya mengenai pemuda misterius itu, Sakura malah membulatkan matanya dan menutupi mulutnya karena terkejut.

'Itu… Sai?!' batin Sakura menjerit. 'Apa yang sedang dia lakukan?'

Sai berdiri menatap tajam ke arah sang mempelai pria. Sasuke yang merasa tertantang dengan tatapan itu juga terlihat tak mau kalah. Sementara Sakura sudah mengerutkan dahinya karena cemas akan apa yang terjadi.

Itachi pun berinisiatif untuk turun dari altar dan menjauhkan pemuda berkulit pucat itu sebelum Sasuke atau para security yang datang dan menyeret paksa dirinya.

"Sebaiknya kau tak berbuat aneh, anak muda." Bisik Itachi di telinga sang pemuda.

Sai mendecih, "Aku hanya meminta sedikit waktu. Kujamin ini takkan lama kalau tak ada yang menggangguku."

Itachi terdiam menatap pemuda itu. Ia sepertinya melihat keseriusan yang terpancar di sorot matanya yang memandang lurus ke depan. Itachi bahkan menghentikan para security yang hendak menyingkirkan pemuda itu.

"Sakura." Panggilan Sai kepada Sakura membuat Sasuke semakin terlihat geram.

"Kau mengenalnya?"

"Aku…aku…dia…" Sakura gugup sendiri saat akan mendiskripsikan mengenai sosok Sai. "Aku dan dia berteman cukup akrab."

Sai melanjutkan ucapannya, "Aku memang hanyalah temannya, jadi kau tak perlu khawatir. Setidaknya untuk saat ini."

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?!"

"Tak banyak."

"Cepat katakan dan setelah itu kupersilahkan keluar."

Sai menarik nafasnya, ia beralih memandang Sakura. Sakura menggelengkan kepalanya. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya dilakukan oleh sahabat barunya itu. Tapi ia memiliki firasat buruk akannya.

Tak jauh dari sana, Ino yang sedang membawa wine dan beberapa potong kue menatap ke altar. Ia melihat suasana ricuh dan aura kaku di sana. Ia juga melihat seorang pemuda berambut hitam dan berkulit pucat berdiri di depan Sakura.

Ino bergumam, "Hmm…mungkinkah itu pemuda yang diceritakan Sakura saat itu?"

Sasuke masih terlihat menahan emosinya. Terang saja, siapa yang tidak emosi kalau acara penting dalam hidupnya diganggu begitu saja.

Suasana semakin menegang saat Sai tak membuka mulutnya kembali. Namun itu hanya beberapa saat saja. Sai kembali menarik nafasnya, ia bahkan memejamkan mata beberapa detik seakan memberikan kekuatan kepada dirinya sendiri. Kemudian sorot mata itu kembali memandang keelokan sang wanita di hadapannya.

"Aku ingin mengatakan hal ini kepadamu, Sakura. Aku menyukaimu."

JRENG.

Pernyataan Sai membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu histeris. Para tamu undangan berbisik-bisik menggumamkan sesuatu. Kedua kepala keluarga juga nampak tak percaya dengan apa yang baru mereka lihat, namun sepertinya mereka tak ingin ikut campur di dalamnya.

Sakura membulatkan matanya tak percaya sambil kedua tangannya menutupi mulutnya. Ia memutar pandangannya dan menggelengkan kepalanya kepada Sasuke, mengatakan bahwa ia tak tahu apapun mengenai hal ini.

"Apa kau bilang?!"

Sasuke yang geram akhirnya meloncat turun dari altar dan menghampiri sang pemuda. Saat itulah Itachi bertindak dengan menjadi penengah antara kedua pemuda yang berjiwa panas itu.

"Sasuke, tahan emosimu. Kau sedang berada di tengah-tengah pertunanganmu sendiri." Itachi berbisik ke telinga adiknya itu.

Sasuke menggeram, "Aku tak tahu siapa kau dan aku tak ingin tahu. Tapi biar kukatakan padamu satu hal. Sakura adalah milikku."

Kini Sai yang menggeram kesal, ia akhirnya dipaksa keluar oleh para petugas dan Itachi menyarankan kepada Sasuke untuk meneruskan acara. Para tamu undangan pun terlihat masih syok meski mereka akhirnya kembali ke kegiatan sebelumnya.

Ino yang memperhatikan sosok Sai dari jauh hanya bergumam tak jelas dan kembali meneguk wine di tangannya. Ia sepertinya kagum akan keberanian pemuda itu untuk menyatakan perasaannya di acara pertunangan wanita yang disukainya sendiri.

-ooOoo-

Para tamu undangan telah pulang, aula yang semula dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai kalangan pengusaha itu kini telah kosong. Itachi menyuruh Sasuke dan Sakura untuk berisitirahat di kamar mereka dan menyerahkan tugas lain kepadanya.

Tapi kini Sakura hanya bisa canggung, ia berjalan di belakang Sasuke. Sasuke juga tak terlihat membalikkan tubuhnya, sejak kejadian tadi sepertinya mood-nya langsung memburuk dan ia bahkan tak mau bicara sama sekali.

Sakura merasa tak enak hati. Ada saja kejadian yang membuat hubungan mereka merenggang seperti ini. Padahal jujur saja ia tak tahan bila berdiam-diaman dengan Sasuke. Ia sendiri sebenarnya bahkan sudah membayangkan banyak hal yang akan dilaluinya bersama dengan pemuda itu.

Sesampainya di kamar Sasuke langsung duduk di pinggir ranjang. Sakura meneguk ludahnya melihat ekspresi Sasuke yang horror. Sakura memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan make up-nya.

"Haaahh~ Kenapa suasana seperti ini terjadi lagi~? Aakhh~!"

Sakura segera membasuh mukanya dengan air. Saat ia menatap cermin, betapa terkejutnya ia saat melihat bayangan Sasuke berada tepat di belakangnya. Ia sampai hampir saja menjerit ketakutan, pikirannya sudah parno seperti adegan di film horror.

Perlahan Sasuke mendekat dan langsung memeluk Sakura dari belakang. Ia menenggelamkan kepalanya di sudut leher Sakura.

"Sasuke?"

"Siapa dia?"

"Dia Shimura Sai, pelukis amatir yang baru tenar. Aku sungguh tak ada hubungan seperti itu dengannya, Sasuke. Percayalah padaku~"

"Lalu kenapa ia bisa menyatakan perasaan kepadamu kalau kau hanya berteman dengannya? Kapan kalian bertemu? Dan seberapa dekat hubungan kalian?"

Sakura meneguk ludahnya, "Kami bertemu pertama kali… saat aku pingsan di pinggiran kota. Dia menolongku."

"Pingsan?"

Sontak Sasuke menaikkan kepalanya dan menatap Sakura melalui pantulan cermin. Sakura menundukkan kepalanya, masa iya saat ini ia harus menceritakan hal itu kepada Sasuke. Tapi justru akan lebih mencurigakan lagi kalau Sakura terlalu berlama-lama menutupinya.

Perlahan Sakura berbalik agar bisa menghadap sang pemuda raven itu. Sasuke memandangi wajah Sakura dan mengangkat dagu mungilnya.

"Saat itu aku stress sekali karena ditolak olehmu, jadi kupikir aku akan menenangkan diri ke kota. Ternyata saat itu hujan besar dan aku kena demam, saat itulah dia menolongku. Tapi…"

"Tapi?"

"Sialnya saat itu ia juga sedang dalam keadaan mabuk."

Sasuke mengerutkan dahinya, "Maksudmu… kalian…"

"Tidak, tidak, Sasuke! Tidak! Kami tak melakukan apapun!" Sakura dengan cepat menggelengkan kepalanya dan melambai-lambaikan tangannya. "Meskipun aku mendapati bahwa aku dan dia berada di satu ranjang tanpa busana~"

"Apa?! Tanpa busana?"

"Ta—tapi Sasuke, sungguh~ Aku berani bersumpah aku tak melakukan apapun seperti yang kau pikirkan itu."

Sasuke hanya diam dan mengalihkan pandangannya. Ia sepertinya juga cukup kaget dengan pengakuan Sakura. Bagaimana ia akan bereaksi sekarang ketika mendapati wanita yang 'baru saja' menjadi tunanganmu langsung mengatakan bahwa ia pernah tidur tanpa busana satu ranjang dengan pria asing.

Ditambah lagi pria itu datang saat acara pertunangannya dan menyatakan cinta kepadanya. Ini benar-benar menyayat hati meskipun hati seorang Uchiha terbilang kaku dan dingin.

"Sasuke~" Sakura menundukkan kepalanya. Air mata sudah menggenangi pelupuk matanya dan bersiap menetes.

Sasuke sendiri tak tahu harus bicara seperti apa, ia hanya bisa meremas wastafel dan menggertakkan gigi-giginya. Sakura semakin dibuat merinding dengan reaksi tunangannya itu. Ia menggigit jarinya sendiri untuk mengurangi rasa tegang.

Sasuke memandangi Sakura di hadapannya sejenak. Tanpa pikir panjang ia menarik tengkuk wanita merah muda itu dan membawanya dalam sebuah kecapan panas. Meski bukan hal yang asing bagi pasangan itu, tapi Sakura merasakan adanya emosi dalam ciuman mereka.

"Emmmphh~ enghmm~mmmh~Saasssuu~"

Sakura mencoba mendorong lemah pundak Sasuke. Berusaha memberikan perlawanan meski sebenarnya ia juga menikmati keberingasan Sasuke kepadanya. Matanya yang berlinang akhirnya menumpahkan cairannya. Membasahi pipinya dan terus turun ke lehernya.

Sasuke memejamkan matanya, seakan tak ingin melihat sang permata emerald yang berkaca-kaca itu dan bersiap menggoyahkan pertahanannya. Nafasnya memburu seiring hisapannya pada bibir bawah Sakura. Membuat gadis itu mengerang dan meremas pakaiannya.

"Enghhh~hhaaa…emmm~ Sasuke~eeenm,..hh.."

Sakura beringsut jatuh, namun tangan kekar Sasuke sempat menahannya. Nafas mereka sama-sama terengah. Sakura berpegangan pundak Sasuke agar tubuhnya tak terjatuh, sebelah tangannya memegangi bibir yang dirasa perih itu.

Sasuke masih menatapnya dalam diam, selain bibirnya yang terbuka karena sedang mengatur nafas, tak ada lagi kata yang keluar. Sasuke perlahan kembali menarik tubuh Sakura dan mendudukkannya di wastafel. Sakura sama sekali tak bisa melawan kala energinya telah habis.

Sasuke akhirnya menatap mata Sakura, "Ini semua salahmu, jangan salahkan aku akan apa yang terjadi setelah ini."

Kalimat itu terucap seakan sebuah gertakan yang membuka hubungan intim mereka. Sakura kembali diserang bertubi-tubi. Tak hanya bibir yang kini harus mengulum lidah basah Sasuke, dadanya sudah dimainkan oleh salah satu tangan pemuda itu, tak lupa juga bagian bawahnya yang tak terbengkalai oleh Sasuke.

"Aaahhh~Sasuuu~eeengh~aaahh…HaaaAAaaaahhh~"

Sakura mendongakkan kepalanya saat jari Sasuke menekan titik kenikmatannya. Celana dalamnya sudah basah bukan kepalang, namun sepertinya Sasuke sama sekali tak beringinan untuk menelanjangi gadis malang itu.

Sakura kini hanya bisa menatap pasrah saat Sasuke beringsut turun dan menghadapkan wajahnya ke selangkangannya. Pahanya pun dibuka lebar-lebar hingga terlihatlah dengan jelas 'surga kenikmatan' itu. Sakura menggigit bibir bawahnya, bukan karena rangsangan yang diterima dari perlakuan Sasuke. Tapi justru karena Sasuke tak melakukan apapun selain memandangi daerah-nya yang berdenyut itu.

"Sasuke~"

Sakura kini bersuara manja, sepertinya gadis itu sudah tidak sabar ingin dijamah oleh Sasuke. Tapi dasar Sasuke memang ingin mengerjai Sakura, jadi ia tak ingin buru-buru menjamahnya. Meski tak dipungkiri juga bahwa hasratnya ingin segera melahap cairan putih yang mengalir membasahi bibir vaginanya dan turun ke pantat itu.

Sasuke baru ingat, kalau beberapa waktu yang lalu ia menemukan benda menarik di kamar kakaknya. Ia juga berinisiatif untuk menggunakan benda itu, awalnya ia memang bingung kapan dan bagaimana ia akan menggunakannya tapi sekarang ia mendapatkan ide.

"Engh~?"

Sakura hanya bisa mengerutkan dahinya saat perlahan tubuhnya digendong Sasuke menuju kamar. Sakura didudukkan di pinggir ranjang dan Sasuke perlahan berjalan menuju lemari kecilnya.

Sorot mata Sasuke berkilat nakal melirik Sakura yang sudah merah padam menanti aksi selanjutnya dari pemuda yang baru saja resmi menjadi tunangannya itu. Perlahan Sasuke mendekat kembali. Ia berdiri di hadapan Sakura, melihatnya dengan tatapan nakal.

"Sasuke-kun~ennnghh~"

"Sakura…" Sasuke menundukkan kepalanya mendekat ke wajah Sakura, "Kuharap kau sudah mempersiapkan dirimu."

Sakura hanya bisa mengerutkan dahinya tak mengerti. Namun Sasuke sepertinya tak berniat menunggu Sakura untuk mengerti, ia segera berlutut di hadapan Sakura. Sebuah benda bulat kecil dikeluarkannya, Sakura semakin tak mengerti apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu.

Tanpa basa basi lagi Sasuke mendorong tubuh Sakura dan melebarkan kedua pahanya, Sakura tak sempat memberontak. Sesuatu dirasakannya masuk ke selangkangannya, sesuatu yang tidak begitu keras tapi juga tak begitu lunak. Sakura mengerjang, kepalanya terangkat naik.

"AaaahhH~ Sasuke~aaaAAaaaahhh~"

Sakura meremas ranjangnya, ia sudah seperti mabuk kepayang. Sasuke semakin menyunggingkan seringainya melihat reaksi Sakura. Sesaat Sakura sempat berpikir kalau Sasuke telah memasukkan 'itu'-nya ke dalam kewanitaannya, namun saat ia melihat Sasuke duduk manis di kursi di sebelah ranjangnya ia baru sadar kalau dugaannya salah.

"Sa…suke…?"

Sasuke hanya terenyum membalas tatapan Sakura. Saat itu pula Sakura merasakan kewanitaannya bergetar hebat, atau mungkin lebih tepatnya sesuatu di dalam selangkangannya yang bergetar hebat.

"Huaaa…AAaaaahhh~ Aaaakhh~Haa…Sasu~ Aaaahhh~"

Sakura menggerak-gerakkan tubuhnya seiring getaran yang dirasakannya. Matanya kembali berlinang dan genggamannya mengerat. Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada. Seperti melihat sebuah pertunjukkan erotis tunangannya sendiri.

Memang tak bisa dipungkiri juga bahwa 'adik'nya sudah menegang di balik lembaran celana yang dipakainya, tapi ia masih belum puas kalau tak melihat Sakura menderita karena menahan rangsangan yang diberikan oleh vibrator itu. Sesekali Sasuke juga terkekeh mendapati pandangan memohon dari wanita bersorai merah muda itu.

"Sasuke…hiks~ Aaaahhh~ Enghh~ Hah hah~ enghh~"

"Hm? Kau mau lebih, nona Haruno?"

"Sasuke…enghh~ kumohon~ hhaahhh…ahhh~"

Kaki Sakura sudah terbuka lebar, seprei ranjang pun sudah terlihat basah, keringat bercucuran di pelupuknya, matanya pun berlinang. Sasuke yang melihatnya jadi tak tega juga. Ia bangkit dari kursi penontonnya perlahan, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Sudut bibirnya membentuk senyuman.

Sakura mengatur nafasnya yang terengah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sungguh Sakura merasa malu sekali dengan keadaannya sekarang. Ia menangis sesenggukan, perasaannya bercampur aduk. Tak menyangka dirinya akan dikerjai seperti ini oleh tunangannya sendiri.

"Kau menangis?"

Sakura menggeleng. Sudut mata Sasuke menoleh, sepertinya ia sadar kalau sudah cukup keterlaluan. Ia menaiki ranjang dan menarik tangan Sakura perlahan. Dapat dilihatnya dengan jelas raut wajah wanitanya yang telihat berantakan. Sasuke mengelus lembut pipi Sakura, ia membenarkan rambut yang menutupi wajah kekasih hatinya itu.

"Gomenne~" lirih Sasuke sambil mencium kening lebar Sakura. Perlahan tangisan Sakura meredam, ia juga mulai menyambut pelukan Sasuke.

Sasuke mendengus, sepertinya kesalahan seperti apapun yang dilakukan oleh wanita berambut senada dengan namanya itu pada akhirnya ia selalu bisa menerimanya kembali. Pemuda itu merengut merasakan pinggangnya digelayuti oleh sesuatu dan mendapati itu adalah kedua kaki Sakura. Pelukan Sakura pun terasa mengencang.

Sasuke mengerutkan alisnya, bingung. Sakura juga sedikit banyak mengeluarkan suara-suara penggoda iman kaum adam. Sasuke menundukkan kepalanya agar bisa melihat lebih jelas wajah elok di bawahnya itu.

Sasuke menyernyitkan alis, "Sakura, kau baik-baik saja?"

"Ini semua salah Sasuke-kun, sekarang aku tak akan melepaskanmu kalau kau belum bertanggung jawab."

"Hm? Bertanggung jawab apa?"

"Uhh~ lihat~" Sakura menunjuk ke 'bagian bawah'nya yang sudah basah itu. "Sudah jadi sebasah itu gara-gara siapa coba? Lalu siapa juga yang akan membersihkannya?"

Sasuke mendengus menahan tawa. Ia sama sekali tak kepikiran kalau Sakura akan merajuk dan mengatakan hal seperti itu tepat secara langsung di depannya. Pikirnya cherry blossom satu ini akan ngambek seharian dan tak mau bicara dengannya, malahan ia meminta Sasuke melakukan 'lebih'.

"Hmm… gimana ya~" Sasuke meletakkan jari telunjuknya di dagu, mencoba berpura-pura berpikir. "Bagaimana kalau aku ambilkan kipas angin dan kuletakkan di depan sana, jadi kau hanya tinggal menunggunya sampai kering."

"Ha-ha-ha, lucu!" ketus Sakura. "Kenapa tak kau gantung saja aku di jemuran dan membiarkanku kering karena sinar matahari."

"Kau tak lihat, sekarang mendung. Mana ada matahari."

"Terserah!"

Sasuke tertawa renyah mendengar kekesalah tunangannya itu. Ia puas sekali bisa mengerjai Sakura habis-habisan. Sakura malah mendengus kesal dan memukul-mukul pundak Sasuke. Sasuke mengelap air matanya yang hampir menetes karena tertawa, ia menatap mata Sakura—yang berada di bawahnya itu.

Seketika pandangan mereka saling bertemu, menghasilkan irama detakan jantung dalam kesunyian dimana hanya mereka sendiri lah yang bisa mendengarnya.

Perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya, Sakura bisa mencerna maksud tindakan pemuda itu. Ia meresponnya dengan menutup mata. Sasuke semakin mendekat, memperkecil jarak antara mereka. Saat Sasuke memejamkan mata, sensasi lembut itu dirasakannya.

"Emng~mmmh~"

Meski bukan hal yang asing aksi 'ciuman' bagi mereka itu, tapi kalau kau melakukannya bersama orang yang kau cintai pasti akan ada rasa nikmat. Kecanduan hingga kau tak bisa melepaskannya, atau mungkin tepatnya tak ingin kau lepaskan. Malah Sasuke semakin mendorong ciumannya.

Sakura melingkarkan tangannya ke leher Sasuke, memberikan pijatan-pijatan elektris sebagai pengganti kata-kata nikmatnya. Sasuke meresponnya, ia melumat ganas bibir Sakura. Membuat rona merah tak bisa ditahan untuk muncul di kedua pipi wanita itu.

"Sasu…engh… kumohon masukan cepat~ kau tak tahu sudah berapa lama aku menahannya~" rengek Sakura manja.

Sasuke tersenyum, "Belum ada 1 jam, aku pastikan itu."

"Sasuke~!"

Tanpa membalas perkataan Sakura lagi, Sasuke bangkit dan segera melepaskan celana dalam Sakura. Sakura merasa sangat malu sekarang, seperti diperkosa oleh tunangannya sendiri. Ia tak bisa menutupi apapun lagi dari hadapan Sasuke—atau tepatnya tak ada lagi yang bisa ditutupinya.

Sakura sudah telanjang bulat kini, hanya butuh waktu kurang dari 5 menit bagi Sasuke untuk menelanjanginya. Sasuke sudah menempatkan posisinya di antara kedua paha Sakura yang terbuka. Ia baru ingat, kalau vibratornya masih ada di dalam sana. Sasuke mencoleknya, dan membukanya lebar-lebar.

"Kyaaa~ Sasuke! Apa yang kau lakukan~?"

"Aku tak mungkin memasukkannya kalau di sini masih ada ini kan?"

"Aww~"

Sasuke segera mengambil vibrator itu perlahan. Ia bisa melihat cairan putih kental milik Sakura yang membasahi permukaannya. Sasuke terkekeh melihat itu, ia memamerkannya kepada Sakura, namun Sakura mendengus menanggapinya.

"Apa yang kau lihat~"

Pemuda raven itu sudah cukup lama mengamati sudut kewanitaan Sakura, membuat wanita itu mengerang karena gusar. Sepertinya Sasuke tertarik dengan 'kawah merah muda' yang berkedut di hadapannya. Seperti mengumandangkan dirinya untuk segera menerjang masuk.

Namun Sasuke ragu, apa dulu yang harus dilakukannya. Sebenarnya ia lebih suka menjilatinya dulu, tapi berhubung Sakura sudah terlalu basah di bawah sana..Sasuke tak ingin membuat wanita itu kelelahan hingga tertidur di tengah kegiatannya nanti.

"Sasuke~! Apa sih yang kau lihat? Tak pernah ya melihat 'barang antik' seperti ini?! Kalau kau tak segera beraksi maka akan kuberikan kepada orang lain!"

Sepertinya nona Haruno muda ini sudah benar-benar kehilangan kesabarannya, bahkan berani sekali ia mengancam seorang Uchiha. Sasuke mendengus, seperti itulah gadis yang disukainya. Berani menantang sesuatu yang ditakuti oleh yang lainnya.

Sasuke akhirnya memutuskan untuk segera memuaskan tunangannya itu, ia mengarahkan dirinya untuk masuk. Sakura meremas ranjang kembali, matanya terpejam merasakan Sasuke mulai memasuki dirinya.

"Aaaahh~"

Sasuke melenguh saat sepenuhnya ia berada di dalam tubuh Sakura. Segera saja ia menggoyangkan pinggulnya menggenjot Sakura, tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi.

Drrrrtt Drrrtt.

Tiba-tiba saja telepon berdering, Sasuke hanya meliriknya tanpa mengambil tindakan lain. Tapi Sakura sepertinya malah keenakan sehingga tak mendengarnya.

Drrrrtt Drrrrttt Drrrtt.

Ponselnya berdering sekali lagi, Sasuke merasa kesal juga bila harus diganggu di saat seperti ini. Akhirnya ia meraih ponsel itu, ternyata yang berbunyi adalah ponsel milik Sakura. Ada nama Shimura Sai tertera di layarnya. Melihat hal itu tanpa pikir panjang Sasuke segera mematikan ponsel itu.

"Engh~ hah…hah…enghh~ Sasuke…engghhhh~"

Sakura mengulurkan kedua tangannya meminta Sasuke untuk mendekapnya. Sasuke menuruti hal itu, ia menundukkan kepalanya sehingga Sakura bisa memeluknya. Pinggangnya semakin cepat menggenjot wanita itu, membuatnya tak berhenti menyanyikan lagu berjudul 'desahan'.

Ddddrrrtt Drrrt.

Lagi-lagi telepon berdering. Karena ponsel Sakura sudah dimatikan, berarti kali ini adalah ponsel Sasuke. Ia mencoba meraih ponselnya dan melihat siapa yang berani mengganggunya di saat seperti ini. Ada sebuah panggilan nomor tanpa nama di sana, Sasuke menyernyitkan dahinya.

"Sasu…enghH~Hhaaah~Aaaahhh~ eenghhh~"

"Ssst, Sakura coba kecilkan sedikit suaramu." Akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengangkat telepon itu tanpa berhenti bermain dengan Sakura, pikirnya mungkin itu dari rekan kerjanya. "Moshi-moshi?"

"Uchiha Sasuke, ini aku."

Dheg.

Sakura masih mencoba menahan desahannya di bawah sana, namun ia menyadari bahwa Sasuke mendadak memperlambat gerakannya. Sakura hendak bertanya, namun ia akan menanyakannya setelah Sasuke selesai di teleponnya nanti.

Sejenak Sasuke terdiam mematung, lalu akhirnya menjawab, "Hm… Siapa ya?"

Toeng.

Seorang yang menelponnya sampai jatuh tersungkur mendengar jawaban dari tuan muda Uchiha satu ini. Sempat ia berpikir bahwa Sasuke mengenalinya—itu karena adanya perubahan nada kaget dan jeda lama—tapi tak disangka ia ternyata tak mengenali pemilik suara itu.

"Ehem, sialan. Kupikir kau sudah mengetahuinya, ini aku! Aku! Shimura Sai."

Gerakan in-out Sasuke yang awalnya memelan, kini malah berhenti sama sekali. Menyisakan tanda tanya untuk Sakura.

"Oh." Jawab Sasuke sekenanya. "Apa yang kau inginkan, bocah?"

Sasuke memandang Sakura sejenak, ia menyunggingkan seringainya. Sakura sampai merinding melihat hal itu. Namun sekali lagi tanpa pikir panjang Sasuke menggenjot Sakura dengan cepat bahkan berkali lipat lebih cepat dari sebelumnya.

"Aaaaahhhh~!"

Sakura sampai kaget atas perlakuan beringas pemuda di atasnya itu. Kedua tangannya dikunci di atas kepala oleh sebelah tangan Sasuke. Pinggangnya terasa mau copot saat Sasuke menekan-nekan dan memasukkan lebih jauh 'adik'nya yang mengeras itu.

"Grrrr, apa yang kau lakukan pada Sakura?! Aku bisa mendengar rintihannya!"

Sasuke semakin menyeringai, "Kau yakin kau mendengarnya? Atau…" Sasuke memberikan jeda di akhir kalimatnya.

Sakura bisa melihat wajah Sasuke yang mendekat, masih dengan ponsel yang dipengangnya di telinga. Sasuke tersenyum sambil meneruskan kalimatnya, "Perlu kuperjelas 'rintihan' yang kau maksud itu kepadamu?"

"Aaahhh…Sasuke…engh…hah..hah…enghh…hah…hah…enn…"

"…"

Terdengar nada hening di seberang telepon itu, Sasuke semakin menyeringai puas. Sepertinya Sai di ujung sana sudah mendengar bahkan sangat jelas apa yang disebutnya 'rintihan' tadi.

Sasuke meletakkan ponsel itu di samping Sakura, ia kembali men-servise kekasihnya itu dengan pijatan plus-plus yang membuat Sakura menggeliyat keenakan. Perlahan Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga mungil Sakura. Menjilatinya untuk memberikan sensasi lebih pada kegiatan ini.

"Panggil namaku lebih keras lagi, Sakura~"

"Sasuuu~HAaaaahhh~eenghh…Sasuke…! ..ah~"

Dengan senyuman kemenangan mengembang di bibirnya ia meraih ponselnya kembali dan mendekatkannya ke telinga.

"Bagaimana, tuan Shimura? Apa rasa penasaranmu sudah terpenuhi? Atau…mungkin aku malah membuatmu menjadi 'kelewat penasaran' sekarang?"

"Sialan kau Uchiha! Awas saja, kali ini aku kalah… tapi lain kali kupastikan Sakura akan jatuh ke pelukanku!"

"Oh ya? Tapi maaf, aku tak akan membiarkannya jatuh begitu saja."

Klik.

Dengan dinginnya Sasuke mematikan ponsel itu. Ia melemparnya ke sofa dan kembali berpusat pada wanita musim semi yang menggeliyat manja di hadapannya. Pinggangnya bergerak beraturan dengan irama yang cepat, sampai kaki Sakura terasa pegal dan pinggangnya ngilu.

"Enghhh~ sedikit~ enghhh…hah,.,.hah…lagi…hahhh~"

Sasuke memberikan dorongan terakhirnya sampai masuk ke dalam rahim Sakura, sayangnya mereka melupakan 'sabuk pengaman' yang seharusnya mereka gunakan sebelum beraksi. Akhirnya saat Sasuke merasakan hampir mencapai klimaks-nya, ia segera menjauhkan dirinya dari Sakura.

"AaaaakhhH~ Sasuke~~! Aaaahhh~aaaakkhhH~!"

-ooOoo-

Menjadi tunangan seorang Uchiha tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri. Banyak yang merasa kecewa dan tak sedikit juga yang mendukungnya. Sakura sendiri merupakan primadona sekolah yang dipuja kaum adam karena kecantikannya. Meski Sakura tak menyadari hal itu karena ia terlalu sibuk dengan urusan keluarga dan akademisnya.

Dan Sasuke yang merupakan siswa pindahan yang langsung mendapatkan perhatian seluruh gadis di sekolah dengan gelar 'pangeran es'-nya juga tak kalah populer. Baru saja masuk ke kelas 11, ia langsung mendapatkan rekomendasi ke Universitas Internasional. Tentu saja banyak yang mengaguminya.

Kini dengan mereka yang diikat oleh tali pertunangan, lahirlah sudah pasangan yang akan mendominasi dunia di sekolah. Bukan hanya akademis, kepopuleran, keserasian, memang sih hal ini bisa mempermudah jalan mereka sehingga nantinya akan semakin sedikit halangan yang muncul.

Sudah beberapa kali Sakura tersenyum malu-malu menghadap ke luar jendela. Ino yang melihatnya jadi cengo sendiri. Bagaimana tidak, aura-aura pink—alias cinta—itu sudah tak bisa disembunyikan lagi dari sudut pandangan Sakura. Tentu saja pusat perhatiannya adalah sang pujaan hati, Uchiha Sasuke.

Ino mendengus, "Hey Sakura, kalau kau melakukannya lagi dihadapanku aku ingin kita putus persahabatan."

Sakura menoleh, ia memandang Ino dengan tatapan tak mengerti.

"Kalau kau terus memperhatikan Sasuke dengan tatapan itu, kau seperti singa yang akan menerkam mangsanya, kau tahu?"

"Ino~ masa sih? Aku hanya ingin memperhatikannya lebih lagi~"

Ino menepuk dahinya, sejak kapan sahabatnya jadi begitu terbuai dengan cinta begitu. Sesuatu yang bahkan Ino sendiri belum pernah merasakannya.

Jujur saja mungkin selama bersahabat dengan Sakura, Ino selalu merasa iri. Sakura seperti memiliki segalanya, kepandaian, kecantikan, kekayaan, tak ada yang kurang dari sang putri musim semi itu. Sedangkan Ino bukanlah sekalangan dengannya, meski ia adalah pewaris perusahaan dress corp—Yamanaka.

Ino kembali mendengus, ia sudah lelah menghadapi sahabatnya yang kelewat 'edan' karena cinta.

"Sakura, minggu depan akan ada libur kan. Kau mau ikut denganku liburan?"

Sakura menoleh, "Liburan? Kemana?"

"Tebak~" Ino memberikan nada jahil pada kalimatnya.

Sakura memandang kedua mata Ino bergantian. Ia lalu mendapati sesuatu, Ino menggerakan alisnya memberi kode. Sakura menutup mulutnya yang terbuka karena tak percaya.

"Jangan bilang…"

"Korea!" sahut mereka hampir bersaman.

"Kyaaa…kyaa~ kau serius?! Yakin?!"

Ino menganggukkan kepalanya semangat, "Serius! Aku juga tak percaya saat pamanku memberikan tiket pesawat kepadaku. Saat kulihat tujuan penerbangannya, ternyata itu ke Korea!"

"Serius?! Serius?! Serius?! Ya Tuhan~ Astaga~ Aaaaakhh~!"

"Kyaaaaa~!"

Sekarang mereka malah tak peduli dengan pandangan aneh orang-orang yang melihat tingkah kedua sahabat konyol ini. Sakura dan Ino saling bergenggaman tangan dan berteriak-teriak tak jelas menyerukan 'serius' dan 'Korea' dengan lantang.

Awal mula mereka bisa menjadi akrab adalah karena kesukaan mereka dengan fashion orang Asia—terutama Korea. Pernah ada pemeran busana di pusat kota, dan kebetulan saat itu mereka bertemu. Sama-sama berteriak, sama-sama histeris, sama-sama senang sampai menangis, itulah yang membuat mereka tiba-tiba merasa akrab.

Saat sedang seru-serunya bergembira, tiba-tiba saja Sakura terdiam. Ino ikut terdiam perlahan. Gadis pirang itu kembali bingung atas tingkah sahabatnya.

"Tapi aku tidak bisa ikut~" sahut Sakura dengan nada sedihnya. "Gomenasai~"

"Memangnya kenapa? Apa kau ada acara minggu depan?"

Sakura menganggukkan kepalanya, "Seperti biasa, Kaasan berkeinginan aneh-aneh lagi dan memaksaku menurutinya."

"Memangnya Kaasan-mu ingin apa lagi sih? Sekarang bukan tentang kau harus segera menikah kan? Padahal tunangan saja baru 10 hari yang lalu."

"Bukan kok, Kaasan juga memberikanku tiket liburan."

"Liburan?" Ino menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Ya, hanya berdua dengan Sasuke. Kaasan bilang ingin segera menimang cucu, dan memberikanku dua tiket. Apa yang harus kulakukan~? Aku ingin ke Korea dan melihat pameran busana di sana. Tapi aku juga ingin pergi berlibur bersama Sasuke~"

Ino kembali menggaruk kepalanya, "Gimana ya~ Aku juga nggak tahu sih. Kau sendiri maunya gimana?"

"Hweee~ Kalau bisa aku ingin membelah diri saja~"

"Memangnya kau amoeba!" sahut Ino sambil menjitak kepala Sakura. "Ya sudah, kalau saranku sih mending kau liburan saja sama Sasuke. Kan jarang tuh kalian bisa berduaan saja tanpa ada campur tangan keluarga. Masalah pameran busana, nanti kurekamkan deh."

"Emm… iyah. Arigatou ya, Ino-piggy~!" Sakura segera menarik tubuh Ino dan memeluknya erat, membuat sang gadis pirang itu terbatuk-batuk karena pelukan Sakura yang mencekiknya.

Sekarang mungkin kalian boleh bersenang-senang, tapi tentu saja semua tak akan berjalan sebegitu mulusnya. Karena cerita ini belum berakhir sampai di sini~


-TBC-


Hay kawannnn~
Met buka puasa nih semuanya~
:3

Gimana nih sama pernyataan Sai?
Kalian berani nggak senekad dia yang bisa ngungkapin perasaan di depan umum?
Juju raja Shera salut kalo liat orang yang kayak gitu.
Menurut Shera sih keseriusan seseorang itu bisa diukur dari tingkat kenekatan mereka.

Iya nggak?
Oh ya, kalo mau tebak-tebakan, haio tebak apa yang akan terjadi di liburan SasuSaku nantinya?
Review Shera yah~

Keep Trying My Best!
Shera.