~Balasan Reviews~
Widhy : Wah, masalah mereka keliatannya udah selsai..
tapi sebenernya belom lho~
Karin masih merencanakan sesuatu, Sai juga. Jadi tunggu aja aksi mereka... :3
ridafi chan : wah, Ino bakal sama Sai nggak yah?
itu sih tergangung perasaan mereka berdua aja nanti.. :3
maunya happy end apa sad end?
hanazono yuri : ini udah sekilat mungkinnn~ ;)
East Robo : ha ha ha, Karin nggak sejahat itu kok~
Wah kalo dihitung-hitung sih, sebenernya Sai itu orang ke-4 lho~
#setelahKarin
Makino Yukito-chan : wah, iiah nggak apa kok~
Yang penting kamu masih sempet buat nge-review chap 6. :)
Dan yang paling penting lagi, kamu bisa baca Fict ini... :D
Wah, gangguan apa lagi nih kira-kira yang didapet Sakura yah? :3
Tsurugi De Lelouch : wk wk wk, itu mah Sakura udah dari awal siapnya. ha ha ha
enak dong~ mana ada sih yang menolak liburan bareng si dia? khe khe khe
shfly9734 : Wah, kalo itu jangan ditanya dah~
Sukaaaa banget. Tapi nggak semua juga sih~ he he kamu suka juga?
Hmmm... kalo soal pengganggu, siap lagi kalau bukan si.. *piiiip*
Pair di Fict ini cuma SasuSaku n SaiIno ajah, sayang banget nggak ada pair lain lagi~
Lemon nya ada di chap ini lagi lho~
Natsumo Kagerou : wah, iya deh nanti Shera baca kalo udah nggak puasa.. :D
Wah, pengen juga nih digandrungin begitu sama Natsu-san~
Ntar deh Shera belajar pelan-pelan yah~ :)
Ohh, biar lafalnya jadi keren makanya pakek 'gomenna' yah? Ok ok #catet
Wah~ bisa diambil juga nih sarannya~
Shera pakek tema pantai deh yah, meski nggak ada adegan yang maen-maen di pantai juga~ #dzig
Miharu : Wah, kalo bau ya Shera nggak mau lah~ xD #lho?
Shera suka lagu-lagu sama drama-nya aja, soalnya bisa bikin inspirasi tersendiri buat Shera. he he
kamu juga suka? siapa idola kamu? #kepo
Wah, SasuSaku nggak liburan ke Korea kok.. tapi...
hampir bener tuh tebakan kamu, ha ha. Hebat, hebat. :Dd
Sami-chan : He he, lemon di chap ini juga ada lho~
#lagimesumtingkatdewa
Sai pastinya nggangguin dong, kan dia mau ngerebut Sakura dari Sasuke. :3
khoirunnisa740 : Sai jadi char yang tegas ya di sini, tapi sayang cintanya bertepuk sebelah tangan.. #emangbisa?
Masih ada Ino yang bersedia kok~ Sai-nya aja yang nggak sadar. ha ha
uchiharuno susi : Wah, bisa-bisa...hampir betul. emang sebenernya betul sih, cuman kurang mendetail.
wk wk, oke deh sankyu~ :)
hamster-pink : iya lho, Sai orang yang hebat.
Kadang kala kita gengsi untuk nyatain perasaan, padahal yang menghambat jalan kita itu justru gengsi itu. :o
wow, hampir~ :3
hikari Matsushita : hampir tamat kok~
Sedikit lagi~ :o
Wah, gara-gara itu nggak jadi nyatain perasaan? Terus kamunya jadian nggak tuh? :D
#kepengentau, kepo!
hazukiFujimaru : makasih banyak udah mendukung Shera selalu yah~
ToT, ganbatte!
Ah Rin : yeaaappp~!
bakal semangat ganda kalo udah didukung kamu deh~ xD he he
Sasusakueee : wah, halangan sih pasti menghadang mereka...
tapi nggak sampe pesawat jatoh juga kan~ T_T
Ntar cerita end di kejadian tewasnya SasuSaku dong?
lemon? ayayy~ so pasti dong~ XD
~Enjoy Reading~
"LOVE PROPOSAL"
.
WARNING! LEMON INSIDE!
baca setelah Adzan Maghrib berkumandang ea~ :D
.
Day 7 : Hide and Seek ?
( Hari ketujuh : Petak Umpet? )
.
.
Enjoy Reading
.
.
Bisa dibilang beruntung, bisa juga tidak. Kini yang jelas Sakura merasa menyesal sekali lahir di keluarga Haruno. Banyak hal yang dikorbankannya untuk memenuhi tuntutan keinginan sang Kaasan yang kadang-kadang 'abnormal' itu.
Sakura telah selesai mengepak pakaiannya di dalam koper, kini ia akan bersiap pergi berlibur berdua saja dengan Sasuke—tunangannya. Sebenarnya Sasuke sudah menolaknya, ia mengatakan tak memiliki waktu untuk liburan karena akan segera mengikuti Ujian Akhir Semester.
Tapi bagaimanapun Sasuke tak akan bisa menang melawan rengekan seorang Haruno bukan? Akhirnya mereka berencana pergi hari ini.
"Kau masih lama?"
"Ah, Sasuke. Tunggu, aku akan membawa kopernya ke mobil. Kau tunggu saja di bawah."
Sasuke memperhatikan Sakura yang sedang menyisiri rambutnya, ia mendengus sebelum akhirnya bergerak untuk mengambil koper Sakura. Ia menyernyitkan alisnya saat merasakan koper yang terlihat kecil itu ternyata sangat berat.
"Kau bawa batu ya, Sakura? Kenapa berat sekali. Lagipula kita hanya menginap 3 hari saja kan?"
Sakura menoleh, "Tapi kita menginap di dekat pantai lho, Sasuke. Aku tak akan melewatkan permainan pantai yang menyenangkan itu, jadi aku bawa sebanyak yang aku bisa. Lagipula sebagian besar isinya itu pakaian dalam lho~"
Suasana langsung menghening. Sakura sebenarnya berniat untuk sedikit menggoda Sasuke, namun sepertinya Sasuke tak berespon banyak terhadap hal itu. Merasa canggung, Sakura kembali beralih ke cermin untuk menyisiri rambutnya. Sasuke pun melanjutkan langkahnya.
"Sebenarnya kau tak harus membawa pakaian dalam sebanyak ini." Ucapan Sasuke membuat Sakura melirik ke arahnya.
Dengan seringai Sasuke meneruskan, "Karna mungkin aku akan membuatmu tak menggunakan satupun dari pakaian dalam itu di sana."
Setelah mengucapkannya Sasuke pergi meninggalkan kamar. Sakura kini hanya bisa bersemu merah menahan malu mendengar tunangannya berkata begitu. Seakan mendeklarasikan perang kepadanya, wajahnya sudah mendidih membayangkan hal-hal yang mungkin akan terjadi antara dirinya dan Sasuke saat liburan nanti.
-ooOoo-
Sementara itu Ino yang sedang bosan di rumah memutuskan untuk pergi mencari suasana lain di kota. Ia berniat pergi ke sebuah kaffe dimana ia bisa bersantai di sana.
Tak lama Ino pun sampai, ia mencari tempat duduk di pojok agar menghindari keramaian. Kemudian dipesannya jus jeruk dan sebuah cake. Sambil menunggu, Ino menopang dagunya memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Karena ini adalah hari Sabtu—yang berarti weekend, banyak sekali pasangan yang lewat tepat di depan kafe itu.
Tak hanya di depan kafe, ternyata di dalam kafe pun banyak sekali pasangan. Karena memperhatikannya, Ino jadi menyadari kalau dirinya hanyalah satu-satunya orang di sana yang duduk sendirian. Semuanya memiliki pasangan dan mengobrol, kalau begini terlihat sekali kalau Ino sedang jomblo.
"Gawat, seharusnya aku tak ke sini sejak awal." Pikirnya sambil memegangi kepalanya.
Tap.
Tak lama ia mendengar sebuah langkah kaki yang berhenti di sebelahnya. Awalnya ia mengira itu adalah pelayan yang mengantarkan pesanannya, namun saat ia menoleh ia sadar kalau dugaannya salah.
Seorang pemuda berdiri di sana. Ino membulatkan matanya, ia mengenali pemuda itu. Itu adalah pemuda yang sama seperti yang dilihatnya saat ia sedang menyatakan perasaan kepada Sakura di acara pertunangannya. Pemuda itu menempatkan dirinya duduk di hadapan Ino.
Ino mengerutkan dahinya, "Apa yang kau lakukan?"
"Sudah kuduga itu memang kau."
"Apa maksudmu?"
"Namaku Shimura Sai, aku sempat melihatmu di acara pertunangan Sakura. Jadi kuyakin kau juga mengenalku, bukan?"
"Maaf, aku tak kenal."
TOENG.
Padahal Sai sudah bersikap formal dan memandang Ino lurus, memberikan kesan bahwa dirinya keren pada kesan pertama. Tapi ternyata imej-nya itu langsung ditepis begitu saja oleh Ino. Sai mendengus kesal, tapi ia berusaha menahannya.
"Aku memang tak mengenalmu, tapi aku tahu kau siapa." Tambah Ino. "Lalu ada urusan apa dengaku?"
Sai berusaha mengambil kembali sikapnya, "Karena kau datang ke acara itu, kau pasti setidaknya mengenal Sakura kan?"
"Aku sudah berteman dengannya sejak kecil."
"Nah kebetulan! Aku ingin menanyakan beberapa hal mengenainya kepadamu." Sai kini benar-benar terlihat berlainan dengan imej yang diinginkannya, seperti sedikit kekanakan di mata Ino.
"Apa yang ingin kau ketahui? Meski berteman dengannya sejak kecil, tapi ada juga hal-hal yang tak kuketahui tentangnya. Seperti size bra-nya, lingkar pinggangnya, posisi tidurnya, apa yang membuatnya terang—"
"STOP!"
Sai menyekap mulut Ino yang sedang ngoceh itu dengan tangan kanannya. Mukanya sudah sangat kemerahan mendengar hal-hal yang disebutkan oleh Ino. Ino sendiri malah kaget atas perilaku tak terduga pemuda ini. Dengan cepat ia segera melepaskan tangan Sai.
"Apa-apaan kau ini~!" jerit Ino dengan muka merahnya.
"Aku memang menyukainya." Sai terlihat menundukkan kepalanya. "Tapi itu bukan berarti aku stalker."
Ino kaget melihat sorotan mata Sai yang menatapnya. Ia seakan menegaskan, bahwa perasaannya kepada Sakura bukanlah sesuatu remeh atau mesum yang bisa direndahkan. Saat Ino sudah mendapatkan kembali kesadarannya, ia segera memalingkan mukanya.
"A—anu, ini pesanan anda~"
Mereka menoleh bersama, ternyata di sebelah mereka sudah ada seorang pelayan yang membawakan pesanan Ino. Mereka juga baru menyadarinya kalau ternyata seluruh pengunjung kafe itu memperhatikan mereka sedari tadi. Dengan muka yang sama-sama memerah, mereka menunduk canggung.
Sai pun bangkit dari tempat duduknya, "Baiklah lain kali aku akan bicara lagi dengamu. Ini kartu namaku, kalau ada hal yang bisa kau informasikan kepadaku tolong hubungi aku."
Ino masih melongo melihat pemuda itu. Wajahnya sudah bersemu, tapi ia tetap berusaha terlihat sekeren mungkin. Baru kali ini Ino melihat ada pria seperti itu. Biasanya ia berpikir bahwa yang namanya keren itu adalah anugrah. Sesuatu yang tak bisa kau dapatkan kecuali kau berbakat. Tapi setelah melihat pemuda itu sepertinya ia akan sediki merubah pemikiran itu.
Ino meraih kartu nama itu. Ia bisa melihat ada nama Shimura Sai dan juga ada nomor ponselnya. Ia tersenyum sambil memperhatikannya, kemudian ia meraih jus jeruknya dan meminumnya.
"Cowok yang menarik~"
-ooOoo-
Setelah mengambil penerbangan dini hari dan berada di atas awan lebih dari 3 jam, Sakura dan Sasuke sampai juga di Bali. Mengapa mereka memutuskan pergi ke pulau Dewata di Indonesia itu? Karena mereka pikir bisa tenang di sana menikmati sajian panorama laut yang indah.
"Fuaaaaa! Lauuuut~" sorak girang Sakura sambil melentangkan kedua tangannya, menikmati angin yang menerpa. "Sasuke, Sasuke, ayo cepatlah~"
Di belakangnya Sasuke sedang kesulitan membawakan barang-barang Sakura. Ia mendecih melihat semangat '45 Sakura yang seperti anak kecil. Dengan sikap bosannya, Sasuke membawa koper itu dan meletakannya di bawah sebuah payung pantai besar. Ia pun duduk di sana dan merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
Sakura yang melihatnya langsung meninggalkan pantai dan bergegas menuju Sasuke.
"Sasuke, apa yang kau lakukan di sini? Ayo cepat main bersamaku~! Tadi kutemukan kerang yang indah lho~ Ayo, ayo cepat~" rengek Sakura sambil menarik-narik tangan Sasuke untuk menuju pantai.
Sasuke mendecih kelelahan, "Sakura, yang benar saja kau ini! Aku capek sekali dan kau menginginkanku untuk bermain sekarang?! Aku sudah menuruti keegoisanmu untuk pergi, jadi jangan paksa aku menurutinya lagi!"
Ckit.
Sakura kaget atas pernyataan Sasuke itu. Ia terdiam menundukkan kepalanya, gandengan tangannya terlepas begitu saja. Sasuke sedikit merasa bersalah, namun memang itu kenyataannya. Akhirnya ia membawa kembali koper-koper mereka dan menuju hotel yang telah disewa.
Sakura mau tak mau kini mengikutinya dari belakang. Mereka hanya saling diam, Sakura pun berjalan dengan menjaga jarak. Sesampainya di kamar, Sasuke langsung menuju kamar mandi, ia ingin melepas lelah—katanya. Sementara itu Sakura membereskan koper dan barang-barang bawaan mereka.
Sakura masih merasa bersalah atas keegoisannya, namun ia juga sedikit syok atas ucapan Sasuke kepadanya. Ia pun memutuskan keluar kamar untuk menenangkan diri.
"Padahal pantai seindah ini…"
Sakura berdiri di pantai. Melihat deburan ombak yang saling bertautan. Merasakan angin yang beraroma khas lautan. Sakura merenung, mungkin benar juga apa yang dikatakan Sasuke. Ia seharusnya tak memaksanya ikut ke rencana liburan ini. Meski ini saran dari Kaasan-nya, tapi bisa saja mereka menolak.
Sementara sedang bergalau ria dengan pikirannya, tiba-tiba terlihat seorang pemuda menatapnya dari kejauhan. Pemuda itu seperti mengenali Sakura, ia yang sedang membawa sebuah nampan berisi makanan langsung menyerahkannya kepada pelayan yang lainnya.
"Permisi, tolong gantikan aku sebentar. Aku akan segera kembali."
"Eh? Hey, tunggu!"
Tanpa memperdulikan jeritan pelayan itu, sang pemuda berlari menuju Sakura. Ia memang sepertinya kenal betul dengan gadis merah muda itu. Beberapa langkah darinya, pemuda itu mendekat perlahan. Seakan tak ingin mengganggu sang wanita. Tak lama Sakura menyadari kehadirannya, ia pun menoleh dan membulatkan mata melihatnya.
"Sakura?"
-ooOoo-
Sasuke kini menatap langit-langit kamarnya dengan bosan. Saat keluar dari kamar mandi tadi sebenarnya ia ingin berbicara mengenai ucapannya, tapi ia saat itu ia sudah tak melihat Sakura di sana.
"Dasar, dia ini lincah sekali. Tak bisa diam di satu tempat untuk waktu yang lama."
Sasuke mengacak-acak rambut ravennya. Ia kembali menatap datar ke langit-langit kamar itu. Ia memang bukan bermaksud untuk melukai perasaan Sakura, hanya saja emosinya naik saat ia sedang capek dan suasana yang panas.
Sebenarnya juga Sasuke tak menolak saran ini karena ia pun ingin menikmati liburan berdua saja dengan Sakura. Meski mereka baru saja bertunangan bulan lalu, tapi setelahnya mereka harus menempuh Ujian Akhir Semester di depan mata. Itu sungguh sangat menyita waktu mereka untuk berduaan saja. Apa lagi Sasuke masuk program 'acceleration' yang memungkinkannya untuk lulus SMA dalam 2 tahun. Ini adalah masa penting untuknya.
"Seharusnya aku tak mengatakan hal itu.."
Tapi tetap saja Sasuke merasa bersalah. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas keluar untuk mencari Sakura. Sesampainya di pantai ia tak menemukannya di sana, yang ada malah gadis-gadis di pantai menghampirinya dan memintanya berfoto. Mungkin mereka adalah anak-anak SMA lain yang sedang study tour ke sini.
Tak lama berkeliling, Sasuke tetap tak menemukannya. Rasa lelah dan haus membuatnya mencari tempat untuk beristirahat. Dan ia menemukan sebuah pondok makan di sudut pantai.
Betapa kagetnya ia saat menemukan Sakura sedang duduk dan mengobrol dengan seorang pemuda. Yang membuat Sasuke kesal adalah kenyataan bahwa pemuda itu adala Shimura Sai, dan Sakura terlihat tertawa di sela obrolan itu. Padahal Sasuke berpikir mungkin Sakura sedang sedih entah di mana.
Tanpa pikir panjang pun Sasuke segera mendekati mereka. Ia mengabaikan para pelayan yang menanyakan pesanannya dan pengunjung lainnya yang memperhatikan pesonanya.
"Ha ha ha. Yang benar? Kalau aku sih—"
Grep.
Ucapan Sakura sudah dipotong karena Sasuke kini menariknya dan menggendongnya di pundak. Sakura sampai kaget dibuatnya, ia tak menyadari kehadiran Sasuke di sana. Sai pun sepertinya juga demikian, ia bangkit dari kursinya dan menatap Sasuke tajam.
"Sa—Sasuke?" Sakura terlihat bingung dan membenarkan posisinya di pundak Sasuke.
Sasuke dan Sai saling bertatapan, seperti singa jantan yang sedang bersiap menerkam singa jantan lainnya untuk memperebutkan seekor betina. Mereka terlihat seperti akan saling bunuh—bila perlu.
"Aku sudah mengatakan padamu kalau Sakura milikku, bukan?" Sasuke terlihat menggertak.
Sai mendecih menanggapinya, "Benarkah? Kalau begitu aku hanya mengambil 'milikmu' yang tak kau jaga. Aku menemukannya di pinggir pantai sendirian, awalnya kupikir salah lihat, tapi setelah kupastikan memang benar itu Sakura. Lalu saat Sakura bisa dengan mudahnya direbut oleh orang lain, dimana kau?"
Sasuke terlihat geram. Sepertinya ia kalah telak dengan ucapan Sai. Sakura hanya bisa mengerutkan dahinya dan memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Saat di pertunangannya saja ia langsung menjadi 'santapan' makan malam Sasuke karena Sai menyatakan perasaannya di depan semua tamu undangan.
Tanpa membalas ucapan Sai, kini Sasuke berbalik dan berniat membawa Sakura kembali ke hotel. Sai yang melihat hal itu tentu saja tak ingin tinggal diam. Meski kini mereka menjadi tontonan seluruh pengunjung yang ada, Sai sudah tak peduli lagi.
"AYO KITA BERTARUNG!"
Seketika Sasuke pun menghentikan langkahnya. Sakura memandang Sai dengan tatapan 'apa yang kau lakukan?', ia tak ingin membuat keributan lebih dari ini. Sasuke melirik ke arahnya tanpa membalikkan badan. Tatapannya seakan memancarkan kebencian.
"Apa pertarungan yang kau inginkan?"
Mendengar pertanyaan Sasuke, sepertinya ia menyetujui deklarasi perang Sai. Sakura semakin dibuat pusing oleh tingkah kedua pemuda ababil ini.
Sai terlihat mengerutkan dahinya, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Pertarungan ini akan menjadi penentu bagi status mereka. Sai menatap Sakura sejenak, bagaimanapun entah apa yang dimiliki oleh gadis merah muda itu, tapi Sai sudah terpikat olehnya.
Sakura meneguk ludah di tenggorokannya. Ia takut kalau-kalau Sai memilih jenis perlombaan yang berbahaya. Bagaimanapun ia tak ingin salah satu diantara mereka terluka.
"Petak umpet."
TOENG.
Sakura sampai kehilangan keanggunannya. Wajahnya kini terlihat kaget sekaligus cengo menatap Sai. Memang sih Sakura berharap Sai tak memilih pertarungan yang berbahaya, tapi kalau petak umpet.. bukannya itu 'terlalu' tak berbahaya.
"Ini adalah pertarungan dimana Sakura dipertaruhkan." Sai meneruskan kalimatnya. "Sakura akan bersembunyi di tempat yang tak bisa ditemukan oleh siapapun. Dan kita berdua akan mencarinya. Siapapun yang duluan menemukannya, maka dia lah yang berhak bersama Sakura."
Sasuke menyeringai tanpa diketahui siapapun, "Baiklah. Apapun hasilnya nanti, pastikan kalau yang kalah harus menjauhi Sakura."
"Baik!"
Dengan itu pun deklarasi perang mereka telah disetujui. Dan perlombaannya akan diadakan besok pagi-pagi batas waktunya sampai malam hari. Setelah bangun pagi tanpa membangunkan Sasuke, Sakura harus sudah bersembunyi dan menunggu untuk ditemukan.
Sakura tak habis pikir, kenapa mereka berdua bisa kekanakan seperti itu. Sementara itu terlihat seorang wanita berambut panjang yang sedang duduk di salah satu kursi pengunjung di pondok itu memperhatikan mereka. Wanita itu hanya bergumam tak jelas sambil menyeduh kembali jus jeruknya.
-ooOoo-
Seperti yang telah dijanjikan. Kini jam menunjukkan pukul 5 dini hari. Sakura sudah bangun dari tidurnya, atau mungkin tepatnya ia tak bisa tidur semalaman. Ia bangkit dan melihat Sasuke yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Ada perasaan takut kalau-kalau nanti Sasuke tak bisa menemukannya, dan kalau ia harus berpisah dengan tunangannya itu.
"Sasuke, kau pasti akan menemukanku kan?"
Dengan perasaan ragu dalam hati Sakura, ia pun beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan muka.
Saat pintu kamar mandi itu terdengar tertutup. Sasuke membuka matanya perlahan, rupanya ia sudah bangun bahkan sejak Sakura masih tertidur. Ia melihat jaket Sakura yang tergeletak di atas ranjang, sepertinya Sakura akan memakai jaket itu.
Ia pun kembali ke posisi awal dan memejamkan matanya. Tak lama Sakura keluar dari kamar mandi, ia melirik Sasuke kembali. Memastikan Sasuke masih terbuai dalam alam mimpinya. Ia pun meraih jaketnya dan memakainya.
Blam.
Suara pintu tertutup itu kembali membuat Sasuke membuka matanya. Namun itu tak lama, ia hanya bergumam entah pada siapa.
"Aku pasti akan menemukanmu."
-ooOoo-
Akhirnya waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Sepertinya pemuda satu ini sudah bersiap untuk berburu. Berburu seorang gadis bernama Sakura. Sai terlihat bersemangat sekali kali ini.
Niatnya datang ke Bali adalah untuk membantu di kafe milik sepupunya, sekaligus juga melepas stress karena pekerjaannya yang menumpuk. Ternyata ia malah menemukan Sakura di sini. Beruntung sekali—pikirnya.
"Yosh! Kali ini akan kupastikan Sakura menjadi milikku!"
"Kau tak malu teriak-teriak begitu?"
Sai langsung menolehkan mukanya untuk melihat siapa yang berbicara. Ia mengerutkan alis melihat seorang gadis berambut pirang dengan pakaian renangnya—yang dibalut jaket—berkacak pingang menatapnya. Sai berpikir sejenak, sepertinya ia mengenali siapa gadis ini.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia berjalan mendekati Sai. Sai terlihat bingung sejenak, namun kemudian ia baru mengetahui nama gadis itu.
"Ah! Kau yang waktu itu!"
"Waktu itu kapan? Kalau mengingat seseorang, ingatlah dengan jelas, Shimura-san."
"Teman Sakura itu?" jawab Sai ragu-ragu. "Tunggu dulu. Lagipula saat itu kau tak memberitahu namamu padaku, bukan?!"
"Kau tak bertanya."
"Ah, benar juga." Sai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ino menyembunyikan senyumannya. Kalau diandaikan, mereka ini seperti pasangan SasuSaku yang terbalik kepribadiannya. Ino merupakan tipe jahil tapi dia cukup tenang dalam berhadapan dengan pria. Sedangkan Sai bertebalikannya, ia bukan tipe yang mudah bergaul dengan wanita.
'Menarik sekali.' Batin Ino sambil melihat ekspresi Sai yang berganti-ganti.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Aku? Berlibur." Jawab Ino sekenanya. "Awalnya aku akan pergi ke Korea, tapi berhubung tak seru bila pergi sendirian jadi aku memutuskan untuk men-stalk pasangan baru itu."
Mendengar ucapan Ino, Sai jadi ingat kalau ia harus mencari Sakura dan segera menemukannya.
"Ah, Aku ada urusan sebentar. Aku pasti akan menemuimu lagi setelahnya."
Dengan itu Sai melambaikan tangan untuk izin pergi. Ino hanya mendengus mendengarnya. Padahal ia sendiri tahu apa yang telah terjadi di pondok pantai saat itu, tapi mau tak mau ia harus merahasiakannya dulu. Ino melepas kepergian Sai, dan ia sepertinya merasakan firasat buruk.
"Semoga kau baik-baik saja."
-ooOoo-
Tak terasa waktu semakin berlalu. Matahari semakin meninggi dan sampai pada ujungnya. Di saat itulah Sasuke baru bangun dari tidurnya. Entah sebenarnya ia serius atau tidak menanggapi tantangan Sai, tapi baik Sakura dan Sai sendiri sama-sama sudah mengambil perannya.
Sasuke merenggangkan otot-ototnya. Ia sepertinya masih setengah sadar, rohnya belum terkumpul rupanya. Ia pun bangkit, ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja namun ia segera mengabaikannya.
Cuuurrr.
Sasuke membasuh mukanya untuk mempercepat pemulihan kesadarannya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Menatap lurus seakan menatap lawannya, sama seperti tatapannya terhadap Sai. Kemudian ia pun tertawa.
"Tatapan itu pasti sudah bisa meyakinkannya." Entah sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Sasuke. "Sesekali boleh juga memberikan keduanya pelajaran."
Sementara Sasuke sedang bergumam aneh, Sakura sedang menunggu di balik sebuah goa besar. Sepertinya hampir seharian ia menunggu di sini. Dari tempat ini pun ia bisa melihat matahari yang mulai akan tenggelam. Sakura bingung, mungkinkah ia benar-benar bersembunyi di tempat yang tak diketahui siapapun?
Sakura yang gelisah mulai merasa dingin. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku untuk menghangatkan diri. Sakura mengerutkan dahinya, mendapati sesuatu di dalam sakunya. Sepengetahuannya ia tak memasukkan apapun di sana sebelum pergi.
Ternyata itu adalah ponselnya. Ia mengerutkan dahi. Dan saat ia berpikir akan menghubungi Sasuke, ia menghentikan aksinya. Kalau ia melakukan hal itu sama saja dengan ia berlaku curang, tapi kalau dipikir-pikir bisa jadi Sasuke yang memasukkan ponselnya di dalam saku jaket.
"Kalau begitu dia yang curang dong?"
Drrrrtt.
"Hyaaa~"
Sedang bergulat dengan pikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering, membuatnya menjerit kaget. Sakura melihat nama Sasuke tertera di layarnya, tanpa pikir panjang pun ia segera mengangkat telepon itu.
"Sasuke? Dimana kau sekarang? Aku ada di—"
"Sakura." Panggilan Sasuke memotong ucapan Sakura. Sakura pun mendengarkan apa yang akan diucapkan Sasuke di seberang sana.
"Aku tak akan mencarimu."
Dheg.
Mendadak Sakura terdiam. Tentu saja ia kaget atas ucapan Sasuke itu, ia sampai kehabisan kata-kata untuk menjawabnya. Sakura tak menyangka Sasuke akan mengatakan hal itu. Kalau begitu kenapa Sasuke menaruh ponselnya di dalam saku jaketnya, apa mungkin untuk mengatakan hal ini?
"Apa yang kau katakan, Sasuke? Jangan bercanda di saat seperti ini."
"Aku tak mengatakan akan mencarimu kan, Sakura?"
"Tapi—"
"Sekarang apa yang kau inginkan Sakura? Aku masih berada di kamar hotel, kalau kau menginginkanku, datanglah."
Sakura benar-benar tak mengerti jalan pikiran kekasihnya satu ini. Kalau untuk mengerjainya, sepertinya ini sungguh keterlaluan. Sakura sampai hampir menangis saat ini juga, rasanya suara Sasuke begitu dingin. Sedingin udara pantai yang mulai menyapa tubuhnya.
"Tapi kalau kau tak menginginkanku, maka tetaplah di sana sampai pemuda itu menemukanmu dan aku tak akan ada di sini ketika kau kembali nanti."
Klik.
Sasuke benar-benar seperti iblis. Tek hentinya ia mengerjai Sakura, padahal Sakura sudah menaruh harapan besar kepadanya. Ia pun menundukkan kepalanya dan membiarkan air mata menetes begitu saja.
Sakura terisak dalam diam, beberapa menit dilaluinya begitu saja. Ia berpikir, mungkin selanjutnya keisengan Sasuke akan terus berlanjut. Padahal awal mereka bertemu Sasuke begitu pengertian, tapi seiring berjalannya waktu Sakura merasa seperti dipermainkan. Ia jadi ragu akan perasaan Sasuke.
Tapi meski begitu, ia masih menyayanginya. Setidaknya ini seharusnya menjadi liburan berharga untuk mereka berdua, apa jadinya kalau mereka harus kandas di liburan berdua seperti ini. Sakura pun perlahan keluar dari persembunyiannya.
"Kau lama sekali."
Sakura tersentak saat mendengar suara Sasuke di sana. Ia menoleh dan melihat Sasuke berada tepat di sebelah mulut goa itu. Sakura sampai tak sempat mengedipkan matanya karena terkejut. Lagi-lagi ia tak menyangka apa yang akan dilakukan Sasuke.
Sasuke dengan gaya kerennya bersandar di sana. Ia memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku. Perlahan Sasuke melirik ke arah Sakura. Dan ia tersenyum saat melihat wajah Sakura yang berantakan itu. Melihatnya, tangisan Sakura pun semakin pecah sudah.
"Kau ini! Apa sih yang sebenarnya kau pikirkan~? Sejak kapan kau berada di sana? Kenapa kau memintaku menemuimu? Dan kenapa kau bilang kau tak akan mencariku? Kau tak tahu betapa takutnya aku mendengar hal itu!"
Sambil terisak Sakura berusaha menyelesaikan kalimatnya. Sasuke langsung memeluk gadisnya itu. Memberikannya ketenangan dan kehangatan yang dirindukan Sakura. Sasuke membelai rambut Sakura dan mengecupnya.
"Gomenna~ Aku hanya kesal saat melihat kau tertawa bersama pria lain. Lagipula ini juga bisa jadi kesempatanku untuk benar-benar menjauhkanmu dari orang itu. Maaf~"
"Lalu kenapa kau tak langsung menemuiku? Kenapa kau mengatakan aku yang harus menemuimu?"
Sasuke menghela nafas sambil mengusap pipi Sakura lembut, "Aku hanya ingin kau percaya padaku, percayalah pada perasaanku. Dimanapun kau sembunyi, aku pasti akan menemukanmu. Makanya kau tak akan bisa lari dariku."
"Apa-apaan kau setelah melakukan hal seperti ini padaku~?" rengek Sakura sambil memukul-mukul dada Sasuke.
"Hey Sakura." Sakura pun menoleh mencoba menatap wajah Sasuke meski kini senja sudah berlalu dan membiarkan bulan menggantikannya. "Mulai sekarang kau milikku, dengar? Aku ini tipe pria yang tak kenal ampun lho, jadi kalau kau berani dekat-dekat dengan pria lain lagi…"
Sasuke sengaja menggantungkan kalimat terakhirnya. Sakura bergidik ngeri melihat ekspresi Sasuke yang tersenyum namun rasanya terlihat sedikit horror. Dan lengan Sasuke menarik pinggang Sakura, mendekatinya hingga kini wajahnya bisa menyentuh permukaan kulit Sakura.
"Aku tak akan mengampunimu."
"Enghh~" Sakura melenguh saat Sasuke mulai menjamah lehernya. Menggigitinya dan meninggalkan bekas kissmark yang cukup tebal di sana.
"Sejak awal, aku yang sudah menemukanmu. Atau… biar kusebut kau yang datang kepadaku?"
"Enghhh~ aaahhh~hhhnnnn~"
Ucapan Sasuke mungkin sudah tak terdengar lagi oleh Sakura, ia sudah sibuk melenguh karena tangan Sasuke yang meraba-raba punggungnya. Mulutnya sedang bermain-main dengan leher Sakura, memberikan banyak sekali tanda kemerahan di sana.
"Sasu…engh..hah…emnghh~"
Sasuke meraih dagu Sakura dan menariknya dalam sebuah ciuman rely panjang. Melumatnya penuh rasa, tubuh Sakura dihimpit ke dinding goa itu. Sakura hanya bisa pasrah dan berpegangan dengan pundak Sasuke. Panorama alam yang dilihat mata emerald-nya membuat hasratnya entah mengapa meningkat.
"Fuuu…Aaaahh~ Saaa…SUKE!"
Sasuke melepaskan ciumannya, ia melirik wajah Sakura yang terengah dan pipirnya yang kemerahan. Mulutnya pun terbuka mengambil pasokan nafas sebanyak-banyaknya. Sasuke kemudian mengalihkan perhatiannya ke bawah Sakura, ia melihat cairan putih membasahi paha sampai ujung kakinya.
Sasuke mengerutkan dahi melihatnya.
"Secepat itu kah kau keluar? Apa ini karna kau sudah menahannya sejak tadi?"
"Sasuke~! Aku hanya sedikit kedinginan, dan sekarang kau membuatku—"
"Kepanasan. Benar kan?"
Sakura hanya bisa memalingkan mukanya menahan malu ditatap oleh seringai Sasuke seperti itu. Sasuke pun tak ambil pusing melihatnya, ia kembali menyerang daerah-daerah 'rawan' Sakura. Mulai dari dadanya, hingga ke selangkangannya.
Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan mendudukkannya di bagian tinggi dari goa itu. Setelah Sakura ditelanjanginya, Sasuke segera mengambil posisi di bawahnya dan membuka lebar kedua paha Sakura. Pemandangan di depannya itu seperti air terjun kenikmatan yang siap disantapnya.
"Mmnh~"
"AAAhhhh~ Sasu~ engh~ hah hah~ Aaaahh~ ahh~ AAhhh~"
Sakura hanya bisa memejamkan matanya kenikmatan dan menjambak-jambak rambut raven Sasuke gemas. Sasuke selalu mengartikan sikap Sakura itu seperti reaksi ingin meminta lebih.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Sasuke segera mengatur posisinya dan bersiap menyatukan diri dengan Sakura yang melihatnya merasa ngeri juga, akhirnya ia memeluk Sasuke untuk mengalihkan perhartiannya. Sasuke pun berusaha untuk memasukkan miliknya ke dalam Sakura, namun ternyata ia cukup kesulitan karena tak bisa melihatnya dengan jelas.
"Emm… Sakura. Bisakah kau lepaskan aku sebentar."
"Eh?"
Sedetik saat Sakura mengendurkan pelukannya, Sasuke langsung menerjangnya. Sakura tersentak, ia bahkan belum siap untuk itu, akibatnya ia merasakan sedikit nyeri pada bagian bawahnya. Ia memejamkan mata menahannya, Sasuke mendesah pelan saat ia berhasil melakukannya.
"Uuuhhh~"
"Ahh~ Sakura~"
"Sasuke, sakit~"
"Maafkan aku, Sakura~ Tahan sedikit ya~"
Dengan belaian lembut Sasuke, Sakura berusaha menyesuaikan siri dengan bagian Sasuke yang berada di dalamnya. Ini bukanlah yang pertama, tapi bukan juga yang terakhir. Mereka masih memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama.
Sasuke menciumi leher Sakura kembali, belum berni untuk menggenjot Sakura. Ia tak ingin melukai Sakura lebih dari ini. Saat Sakura memperlihatkan responnya, ia mendesah tertahan. Sasuke melirik wajah Sakura sejenak, kemudian ia menciumnya.
"Emmmh~! Aaamngh~ emmnh~mmhh~"
Dalam ciuman itu, desahan Sakura tertahan. Sasuke melakukannya untuk mencegah orang-orang yang mungkin berada tak jauh dari sana dn mendengarnya. Bagaimanapun ini adalah tempat umum, hanya saja di waktu yang tak umum. Jadi mereka serasa sedang berada di pulai pribadi.
Sasuke mencoba menggenjot Sakura dengan tempo yang pelan, namun sepertinya itu tak bisa memuaskannya. Selang waktu beberapa menit Sasuke menambah kecepatannya. Sakura kembali dikagetkan akan hal itu, ciuman mereka pun terlepas begitu saja.
"Fuwaaa~ Haaa~ Aaaahh~ Sasuke~ Haaa~ hah~ hah hah~"
"Kau manis sekali, Sakura."
"Khhh~ Sasuke~ Sasuke~ Aaaahhh~ Hah hah~ nnnhh~"
Sasuke pun merasakan kejantanannya yang terjepit. Ia menahan nafasnya, sepertinya itu memberikan setruman tersendiri baginya. Sakura memang cukup sensitive saat sedang melakukan hubungan seperti ini. Bila Sasuke memujinya, rasanya Sakura akan semakin menyempit.
Tak ingin kalah, Sasuke mempercepat genjotannya. Menekan segala titik sensitive Sakura yang diketahuinya. Ia ingin membiarkan Sakura yang keluar duluan. Dengan desahan Sakura yang menjadi pemandunya, Sasuke terus memasukan kejantanannya kebagian paling dalam tubuh Sakura.
"Hyaa~ Akh~ HAAaaaaahhhh~!"
Sakura menjerit, ia sepertinya tak bisa lagi menahan suaranya. Dan berselang sepersekian detik dari jeritannya, Sasuke mengikuti dengan mengeluarkan seluruh cairan cintanya ke dalam rahim Sakura.
Untungnya Sasuke sempat menggunakan pengaman agar Sakura tak hamil. Bukannya ia tak ingin memiliki anak bersama Sakura, tapi karena ia merasa belum siap untuk menanggung itu semua. Lagipula mereka masih berstatus tunangan, kelak ketika mereka resmi menjadi suami-istri, Sasuke tak akan segan-segan lagi.
"Engh…hah hah."
Sakura terlihat masih mengatur nafasnya. Sasuke berinisiatif untuk memakaikan kembali pakaian Sakura. Sebagaimanapun jahilnya ia, tentu saja ia tak ingin Sakura sampai masuk angin gara-gara dirinya.
Suhu tubuh Sakura masih terasa dingin, Sasuke menyadarinya kalau ia mungkin membiarkan Sakura terlalu lama berada di luar. Setidaknya ia ingin memberikan sedikit kehangatan untuk tunangan tercintanya itu. Di bawah sinar bulan dan deburan ombak yang mengiringi mereka, cinta pun bertaut.
Sesampainya di kamar, Sasuke segera membaringkan tubuh Sakura. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ternyata keasyikan 'bermain' mereka sampai lupa waktu. Padahal besok mereka akan kembali pulang.
Setidaknya liburan kali ini menyisakan hal berharga untuk keduanya. Sakura pun terlelap dalam dekapan Sasuke. Saat hendak melepaskan jaket Sakura, ia meraih ponsel Sakura.
"Sasuke." Sakura bergumam dalam tidurnya. "Aku bersyukur menyukaimu, sejak awal memang kau lah yang menemukanku. Aku jadi merasa aman di sampingmu."
Sasuke hanya menghela nafas panjang melihat tingkah gadis itu. Ia membelainya dan memberikan kecupannya. Kembali lagi perhatiannya kepada ponsel milik Sakura. Dibukanya kunci ponsel itu dan mengecek ke pengaturannya.
'Menemukanmu sejak awal? Tentu saja, GPS ini sangat membantu.'
Klik.
GPS ponsel Sakura pun dinon-aktif-kan oleh Sasuke. Ternyata Sasuke memang evil. Tapi bukan salahnya juga sih, nyatanya Sai tak memberikan syarat apapun untuk pertarungan ini. Sasuke hanya akan tertawa penuh kemenangan di malam terakhirnya di Bali.
-ooOoo-
Di samping pasangan SasuSaku yang sedang Lovey-Dovey ini, ada seorang pemuda yang sedang terpuruk dalam penolakan cintanya dengan sang gadis pujaan. Beberapa waktu yang lalu ia menemukan adegan yang menyayat hatinya. Kini ia dengan wajah yang super tak elit sedang sesenggukan di pesisir pantai.
Di saat itu pula, seorang gadis menghampirinya. Tanpa berkata apapun gadis itu duduk di samping sang pemuda. Menyadari kehadiran orang lain, Sai menoleh. Ia segera memalingkan kembali mukanya. Berusaha menghapus air mata yang mengalir.
"Aku selalu terlihat buruk di depanmu ya. He he." Canda Sai masih dengan wajahnya yang terpaling.
Gadis itu mendesah, "Sesekali terlihat jelek pun nggak apa."
"Kau pasti berpikir aku menyedihkan sekali. Sudah jelas-jelas mereka bertunangan, tapi aku masih saja berpikir untuk merebutnya dari sang pria. Pada akhirnya, akulah yang jadi pecundang."
Sai mendongakkan kepalanya. Bintang-bintang di atas sana berkelip-kelip seakan menghiburnya. Sai berusaha agar air matanya tak menetes kembali. Ia sungguh tak ingin menjadi lebih buruk dari pada ini. Ino meliriknya, ia kemudian beralih memperhatikan deburan ombak di hadapannya.
"Kau keren kok."
"Eh?"
"Bisa mencintai seseorang sampai seperti itu. Setidaknya kau tak menyerah akan perasaanmu, meski akhirnya kau kalah. Meski pada akhirnya kau jadi pecundang juga."
"Hey hey, kau sedang menghiburku atau apa?"
Ino terkekeh dan menatap mata Sai, "Kurasa kau yang seperti itu cukup keren kok."
Sai mendadak diam melihatnya. Seperti melihat pantulan lautan di mata gadis di hadapannya itu. Tiba-tiba saja Sai merasa gugup, ia pun segera memalingkan mukanya yang memerah. Ino hanya menatap bingung, tapi ia tak segera ambil pusing akan hal itu.
Di bawah langit yang sama, mereka hidup. Manusia ditakdirkan untuk memiliki cinta kasih. Rasa cemburu, itu adalah bukti bahwa cinta HARUS memiliki. Bulsh*t dengan mereka yang mengatakan cinta tak harus memiliki. Percayalah Tuhan selalu menciptakan manusia berpasang-pasangan.
Kalau kalian tak memiliki pasangan… berarti kalian bukan manusia. (Peace xP)
-TBC-
Hy readers, kayaknya Fict ini menyerupai one-shoot ya?
Kalo Shera tamatin di sini cocok nggak yah?
Rencananya Shera masih ada 2 chap tambahan,
Masih mw lanjut atau tamat nih?
Haio, daripada lanjut tapi nggak jelas mending tamat aja?
Kasih Shera saran yah~
Sementara ini Shera bikin TBC dlu~
Ok, review me plisss~
Keep Trying My Best!
Shera
