~Balasan Reviews~

Widhy : he he he, syukur yah~ :3

Milkyways99 : ok sip~ Shera lanjutin ampe 2 chap lagi ya~ :D

Guest : dear Guest yg terhormat~
Sebenernya Shera nggak ngarti sama ucapan kamu yg ini…

"Setiap cerita loe turun ke bawah langsung di keatasin lagi.
Kalau cerita loe berkualitas pede ajah lagi,ga usah pake cara gini jg cerita loe pasti dilirik."

Tapi kalo Fict Shera emang kurang bagus n ada yg Shera salah lakuin, ya gomenne aja..
Masalah Shera gila review..hm…kalo mau jujur emang Shera duka banget baca reviews, tapi masa gitu dibilang gila? (O_O) ?

Ridafi-chan : ha ha seseorang itu bisa terlihat keren dengan caranya sendiri.
Tapi berkat itu, hubungannya sama Ino jadi lebih baik.
Ha ha ha, Sasuke kan jahil..tapi jahilnya cuma sama Sakura kok~ :3

Julia : wah, masa? Pantes Shera cari nggak ada review-nya.. ha ha ha :D
Sai patah hati, nanti Ino yang nyambungin. Ha ha
Ok deh Shera lanjutin~ :3

East Robo : syukurlah nggak yah?
Karin emang udah pulang, tapi bukan berarti dia udah berhenti ganggu pasangan muda itu lho.. :3
Tunggu aja aksi Karin selanjutnya~

Hanazono yuri : siiiipppoooo~ ^,-

Khoirunnisa740 : emang sih niatnya Shera mau bikin epilog-nya, tapi Shera bingung mau buat yang gimana~ mungkin nanti jadi squel aja kali ya~

Hikari Matsushita : yaaaaaahhh~
Tapi sekarang udah move on dong nih? :3
Kalo belom nanti Shera bantuin dah~ xD #nahlho

Aguma : wah, Sakura hamil?
Nggak kebayang gimana tuh~ tapi itu saran yang bagus juga.
Shera tampung dulu deh yah~ sankyuu~

Miharu : Anime aku juga sukaaa~ xD
Iya deh 2 chap-nya Shera keluarin yah~
tetep dukung Shera sampe saat terakhir yah~

Hazuki Fujimaru : okkkee deh~ tetep dukung Shera yah~ xD

Olla : Shera juga baru nemu readers yang WOW nih~ ha ha ha
Iya dah Shera lanjuuutt~
Wah, sayangnya Shera Cuma buat sampe 9 chap.. nanti dibikin squel aja kali ya biar genep?

Hamster-pink : iya nih Ino emang dibuat menyerupai Sasuke versi cwe.
seenggaknya dia bukan cewe mewek-mewek, ha ha.
Lanjuuuuttt~ Shera masih punya kejutan di akhir chap kok~ xD

Natsumo Kagerou : ha ha apa sih yang bisa bikin Sasuke takut?
Dia kan nggak kebagian urat takut, ha ha.
wah…iya deh, biasanya Natsu-san ngasih Shera masukan, apa Fict ini udah berkembang? :o
Lanjut daaahhhhh~

Tsurugi De Lelouch : jia ha ha ha, iya dong ~ Sasuke gitu loh~
Udah bukan pinter lagi, tapi genius~
wah, aku nggak ngerti yang kebanyakan pakek tanda "" itu maksdnya gimana?
Kebanyakan percakapan gitu mksdnya? O.o
oh, kurang tanda baca yah? Iya deh nanti Shera perhatikan yah, sankyu~ ^o^
Dicetak miring ya? ok Shera perbaiki juga~

Shfly9734 : Iya Shera juga suka sama cwo Korea, ada satu cowo yang Shera suka, n itu mirip bange sama mantan Shera~ T.T
Udah dapet cowok ke-Korea-Korea-an malah Shera sia-siain ya?
Bodoh banget ya Shera~ #lahkokcurhat?
He he ini Shera lanjutin kok, buat genepin jd 10 gimana kalo tambah squel aja?

Rin-chan : lemon? Hmm…masih ada nggak ya~
Kayaknya terakhir ada di chap kemaren lho~
ha ha ha

Nice reviewer : aduh, kalo nggak ada lemon nggak lanjut dong nih?

Makino Yukito-chan : ha ha, curang sih~ tapi kan emang Sai nggak ngasih syarat apa-apa, jadi bukan salah dia juga dong~ ;3
ok deh, nanti Shera buat ending yang klimaaaakkkks, jia~ xD

Sami-chan : masih Shera lanjutin kok, he he he
ntar Shera buat lebih cetar membahana.. ha ha ha

~Enjoy Reading~


"LOVE PROPOSAL"


.

.


Day 8 : Is it Triangle Love? Or Double-date?

( Hari kedelapan : Ini Cinta Segitiga? Atau Kencan Ganda? )


.

.

Enjoy Reading

.

.

Wajah Sakura kini terlihat berseri-seri. Bagaimana tidak, sejak ia pulang dari liburannya bersama Sasuke ke Bali, ia terlihat bahagia sekali. Ino sampai-sampai mendesah bosan melihat bunga-bunga yang bermekaran di sekitar Sakura. Tapi ia juga paham betul situasi yang terjadi di sana. Ino masih merahasiakannya dari Sakura, bahwa dirinya ada di sana juga untuk mengintai mereka.

Tiba-tiba saja Kakashi-sensei masuk ke kelas itu, dan suasana yang semua ricuh pun menjadi hening begitu saja. Ino langsung memutar kembali tubuhnya dan duduk ke posisi yang benar. Sakura pun berusaha menyembunyikan mekaran bunga(?) di sekelilingnya meski itu sangatlah mustahil.

"Baiklah, tak perlu basa-basi lagi. Di sini sensei hanya akan mengingatkan pada kalian bahwa Ujian Akhir Semester tinggal menghitung hari saja. Karenanya harap persiapkan diri kalian sebaik mungkin. Sensei juga akan membacakan beberapa nilai yang masih perlu diperbaiki."

Sakura masih melirik ke luar jendela. Karena saat itu Sasuke sedang ada pelajaran olahraga, dan beruntungnya olahraga kali ini adalah marathon. Sasuke terlihat unggul diantara murid lainnya, melihatnya Sakura jadi senyum-senyum sendiri.

Ia juga sampai pervert membayangkan malam liburan terakhir mereka di Bali. Saat Sasuke begitu menghangatkannya. Wah, sudah berkali-kali muka Sakura merah padam dibuatnya. Sayang, setelah hari itu Sasuke benar-benar focus pada Ujian Akhri Semester dan jarang bermesraan dengan Sakura lagi.

"Dan yang terakhir, Haruno Sakura."

"Eh?" Sakura tersentak kaget saat mendengar namanya dipanggil.

"Nilai matematikamu menurun drastis akhir-akhir ini. Belajarlah yang giat ya. Baiklah itu saja yang bisa sensei informasikan, selanjutnya itu terserah pada kalian sendiri. Selamat siang."

Setelah Kakashi-sensei pergi, kelas kembali berisik. Ino juga kembali mengambil posisi menatap Sakura. Sedangkan Sakura seakan merasa tak percaya kalau dirinya mengalami penurunan nilai, bahkan sampai ditegur oleh guru.

Ino yang menyadari hal itu hanya mendesah kembali, ia paham betul kalau sahabatnya yang satu ini sangat menjaga stabilitas nilainya. Dan sepertinya ia pun tahu kalau penyebab menurunnya nilai matematika Sakura apalagi kalau bukan masa 'lovey-dovey'nya bersama sang tunangan.

'Dasar pasangan yang hangat-hangatnya.' Batin Ino bosan.

-ooOoo-

Malam hari di apartemen Uchiha. Sakura kini sedang memperhatikan sosok Sasuke yang sedang menyantap makan malamnya di meja. Sakura terlihat bengong menatapnya. Sasuke masih terlihat tenang menghabiskan sendok terakhir makanannya. Segelas kopi hangat pun menjadi penutup makanannya.

"Sakura, kalau ada yang mau kau katakan, katakan saja. Aku 'gerah' melihat tatapanmu itu."

Sakura sampai terkejut dibuatnya. Dengan gugup ia menyantap nasi yang sudah disendoknya. Tanpa disadari pun makanannya sudah terasa dingin. Namun saat Sasuke hendak bangkit meninggalkan mejanya, Sakura mencegahnya.

"Ah, Sasuke!" Sasuke menoleh. "Emm…ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"Hem, selesaikan dulu makanmu. Kutunggu di ruang tengah."

Setelahnya Sakura mengangguk menanggapinya. Ia menyelesaikan makannya dengan cepat dan membereskan meja makan. Setelah ruang makan dan daput terlihat rapi, ia segera menuju ruang tengah. Di sana sudah ada Sasuke yang sedang membaca sebuah buku, nampaknya saat ini dia benar-benar sedang belajar giat.

Dengan hati-hati Sakura mendekatinya, "Sasuke-kun, anu…sebenarnya ada yang ingin kukonsultasikan kepadamu."

"Soal apa?"

"Ujian Akhir Semester." jawab Sakura ragu-ragu. "Tadi siang aku diberitahu sensei kalau akhir-akhir ini nilai matematika-ku menurun drastis. Apa yang harus kulakukan, Sasuke?"

"Apa? Tentu saja belajar."

Sakura mendengus kesal. Sejak tadi Sasuke sama sekali tak berpaling dari buku yang dipegangnya. Ia hanya menjawabnya dengan enteng. Merasa diremehkan, Sakura merajuk. Ia berjalan menjauh menuju kamarnya. Ternyata saat itulah Sasuke memperhatikannya.

"Hey Sakura, katakan padaku mana yang tak kau mengerti."

Mendengar Sasuke mengatakan hal itu, Sakura langsung memasang tampang cerianya. Ia mengerti sekali maksudnya, itu berarti Sasuke akan mengajarinya. Sudah lama sekali mereka tak berduaan saja. Eits, bukannya memikirkan pelajaran.

Tak ingin berlama-lama dan membuat Sasuke menunggu, Sakura segera keluar dengan buku-buku matematikanya. Ia segera menempatkan diri duduk di sebelah Sasuke. Bahkan Sasuke sampai kaget saat tiba-tiba tubuhnya digeser kasar oleh Sakura. Mungkin ini pertama kalinya Sasuke berpikir kalau Sakura memiliki tenaga yang cukup besar juga.

"Dari bagian mana yang tak kau mengerti?" Sasuke akhirnya mendekat.

Dengan tersipu-sipu Sakura menjawab, "Aku juga tak tahu pasti. Tapi aku kurang mengerti yang bagian ini."

"Ini?" Sasuke semakin mendekat, ia melihat tanda yang ditunjuk oleh Sakura. Hal ini membuat Sakura semakin tersipu. "Sebaiknya kau kerjakan dulu soal-soal ini. Jadi aku bisa menilai kemampuanmu."

"Apa ini, Sasuke?" Sakura menerima sebuah buku besar—seperti kamus—yang diberikan Sasuke kepadanya. "Ini buku kumpulan soal matematika? Wah~ Kau ternyata perhatian sekali padaku ya~"

"Itu buku yang kupakai saat mengikuti Stimulasi Ujian. Buku itu diberikan Itachi -niichan kepadaku."

Mendengar jawaban Sasuke, senyum Sakura langsung padam begitu saja. Pikirnya itu adalah buku yang khusus dibelikan Sasuke kepadanya. Tapi ternyata itu buku longsoran, bahkan dari masa 'kejayaan' Itachi. Dengan berat hati pun Sakura membuka bukunya dan mulai mengerjakan.

Sementara itu Sasuke kembali focus pada buku pelajarannya, dan belajar sendiri. Dalam beberapa menit suasana masih teratur seperti itu, tapi setelah Sakura bosan ia melirik-lirik ke arah Sasuke. Kemudian saat Sasuke bergerak tiba-tiba ia akan pura-pura focus pada buku kumpulan soal itu. Begitulah seterusnya.

"Sasuke, Sasuke. Kenapa kau tak ke kursus akhir-akhir ini?"

"Kalau aku kursus siapa yang akan menjagamu?"

"Wah~ Kau khawatir kepadaku ya?"

"Justru aku khawatir pada lingkungan sekitarmu, bisa saja kau mengahncurkannya saat aku sedang tak ada. Aku yang repot setelahnya."

Sakura memajukan bibirnya—ngambek, "Kau ini menyebalkan!"

Akhirnya Sakura pun kembali mengerjakan soal yang ada di sana. Tapi lagi-lagi ia mencuri-curi pandangan ke arah Sasuke. Kini perhatiannya terhenti di bibir sexy Sasuke. Melihatnya semakin dalam rasanya ia ingin sekali menyentuhnya.

'Sudah berapa lama aku tak mencium bibir itu ya~?' batin Sakura.

Ingin sekali rasanya Sakura mendekati bibir itu, membelai kulit putih Sasuke. Merasakan lidah mereka yang saling bertautan. Mendengar suara kecapan bibir satu sama lain. Sepertinya pikiran Sakura sudah melayang-layang entah kemana. Merasakan sensasi yang dirindukannya, namun begitu terasa.

"Hey Sakura."

Panggilan Sasuke membuyarkan lamunan Sakura, dan saat sadar Sakura sudah berada di atas Sasuke. Dengan jari telunjuknya yang membelai bibir Sasuke. Sakura kini menjerit dalam hati, mukanya sudah merah tak tertahankan. Sepertinya karena keasyikan berkhayal, tubuhnya jadi bergerak tanpa sadar.

"Ah, ma—maaf, Sasuke!"

Grep. Bruk.

"Hyaa~"

Saat hendak bangkit dari posisi ini, tangan Sakura ditarik dan tubuhnya di jatuhkan ke karpet. Kini posisi mereka bertukar, Sasuke yang berada di atas Sakura sambil mengunci gerakan tangan Sakura. Muka Sakura semakin memerah dibuatnya, tapi ia berusaha menutupinya.

"Sa—Sasuke? Apa yang kau lakukan? Kita sedang belajar kan?"

"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang barusan kau ingin lakukan? Kita sedang di waktu belajar, bukan?"

"Sa—Sasuke?"

Tanpa menjawab lagi Sasuke semakin mendekatkan wajahnya. Pria satu ini memang paling pandai membuat Sakura berdebar-debar. Sakura kini memejamkan matanya dan menahan nafas. Rasanya ia seperti melayang saat membayangkan akan berciuman dengan Sasuke.

Namun sayang sekali, kurang 0,5 mm(!) lagi mereka berciuman, bunyi deringan telepon rumah mengganggu kegiatan mereka. Dengan refleks Sasuke melepaskan kunciannya pada lengan Sakura dan memalingkan muka. Sakura bangkit, ia melirik Sasuke.

Sebenarnya ia berpikir mungkin tak apa kalau Sasuke meneruskan yang tadi dan mengabaikan telepon itu. Tapi ternyata ia dikecewakan karena Sasuke memilih untuk berhenti. Sakura pun berinisiatif mengangkat telepon itu. Telepon yang mengganggunya untuk melihat khayalan yang menjadi kenyataan.

"Moshi-moshi?"

"Oh, moshi-moshi Sakura-chan. Ini aku, Itachi."

"Ah Itachi-niichan!"

Mendengar Sakura menyebut nama kakaknya, Sasuke langsung menatapnya.

"Lama tak jumpa, nii? Bagaimana kabar niichan? Ada apa kok tumben telepon."

"Ha ha ha. Aku baik-baik saja, wanita-wanita Inggris sering menghiburku *plak*. Tidak apa, aku hanya ingin menyampaikan pesan Kaasan dan Tousan. Mereka akan mengadakan makan malam keluarga besok, jadi kalian harus datang ya."

"Niichan dasar. Iya baiklah, nanti akan kuusahakan datang bersama Sasuke."

"Oh ya bagaimana keadaan hubunganmu dengan Sasuke? Kurasa acara makan malam ini adalah saat untuk membahas upacara pernikahan kalian. Hi hi hi, senangnya bisa segera 'melakukan' tanpa pengaman."

"Niichan apaan sih~! Kalau itu benar mungkin akan sangat menyenangkan. Aku dan Sasuke baik-baik saja, bahkan kelewat baik~ he he."

"Ha ha ha. Selamat, selamat. Padahal aku cukup merasa sayang sekali harus memberikanmu kepada bocah itu. Tapi kalau kau bahagia, boleh juga."

"Makasih, niichan."

"Kalau begitu sudah dulu ya, aku harus menyelesaikan pekerjaanku di sini jadi aku pun bisa ikut dalam menyusun rencana pernikahan kalian."

"Oke deh. Bye niichan."

-ooOoo-

Kini kediaman Uchiha didatangi oleh suami-istri Haruno. Mereka—ditambah Itachi, Sasuke, dan Sakura—sedang mengadakan acara makan malam keluarga.

Sakura datang bersama dengan Sasuke, kini mereka duduk bersebelahan dengan posisi ItaSakuSasu. Keempat tetua Haruno dan Uchiha berada di hadapan mereka. Tak lama perbincangan ringan mengawali, para pelayan segera berdatangan memberikan sajian mewah. Mulai dari cake manis sebagai dessert—yang entah mengapa banyak sekali, ada juga wine, dan makanan utama lainnya.

"Ayo silahkan. Kita nikmati hidangan ini." ucap kepala keluarga Uchiha, Fugaku.

Dengan anggukan sopan, mereka memulai makan. Sakura sepertinya terlalu tegang untuk makan, menurut pemikiran Itachi, ini adalah makan malam untuk membahas rencana pernikahan Sakura dan Sasuke. Hal ini jelas membuat Sakura gugup, meski ia juga cukup senang karenanya.

Mikoto, istri dari Fugaku, melihat Sakura yang nampak tak nafsu makan. "Ada apa, Sakura? Kenapa kau tak makan? Apa makanan ini kurang pas di lidahmu? Kau mau makanan yang lain?"

Seluruh pandangan pun langsung menuju ke arah Sakura. Menyadarinya Sakura malah semakin gugup saja. Sasuke hanya melirik ke sampingnya, namun ia kembali menatap lurus memakan makanannya.

"Ah, tidak apa kok. Aku hanya sedang bingung saja mau makan yang mana dulu."

"Oh begitu. Ha ha ha."

Akhirnya Sakura bisa mengatasi kecanggungan itu, ia kembali melanjutkan makannya. Itachi berbisik kepada Sakura, sepertinya calon kakak ipar-nya ini cemas. Sakura hanya tersenyum sambil menunjukkan kalau ia baik-baik saja.

"Hmm~ Hidangan ini enak sekali." puji nyonya Haruno sambil memakan daging steak di hadapannya.

"Benarkah? Makanan-makanan ini adalah sample yang dibawakan Itachi dari Inggris."

"Wah~ pantas saja, dagingnya terasa empuk. Boleh juga lain kali Itachi membelikannya untukku?"

"Boleh saja. Akan aku bawakan yang banyak juga untuk Sasuke dan Sakura. Bukankah Sasuke juga menyukai daging seperti ini?" Itachi tersenyum ramah mengikuti pembicaraan nyonya Haruno dan Uchiha itu.

Sepertinya satu-satunya pria yang bisa berbaur dengan pembicaraan kedua nyonya besar ini hanyalah Itachi. Bahkan kini tuan Haruno dan Uchiha pun nampak diam membeku tak bisa mengikuti pembicaraan istri mereka. Saat kedua mata tuan besar ini saling bertatapan, mereka sadar kalau mereka senasib.

"Ah, Sasuke menyukai daging seperti ini?" tanya Sakura sambil memperhatikan satu per satu daging yang disediakan di hadapannya.

"Aku tak begitu menyukainya. Yang lebih kusukai itu sup tomat yang waktu itu." jawab Sasuke sekenanya.

"Waktu itu?" sepertinya nyonya Uchiha memikirkan sesuatu. "Ah, maaf Kaasan sampai lupa. Kau suka sup tomat ya?"

Dengan jetikan jari, kepala pelayan di sana mendekati nyonya Uchiha. Sang nyonya membisikkan untuk membuat sup tomat kesukaan Sasuke segera. Pelayan itu mengangguk tanda mengerti dan bergegas menuju dapur. Nyonya Uchiha pun tersenyum sambil kembali menyantap hidangannya.

Tak lama waktu berselang, sang pelayan sudah kembali dengan semangkuk sup tomat besar. Diletakannya di tengah meja, saat pelayan itu hendak menyendokkan sup itu ke dalam mangkuk Sasuke, Sakura segera mencegahnya.

"Tunggu! Ini bukan sup yang diinginkan Sasuke." Semua memandang bingung ke arah Sakura. "Sasuke lebih menyukai sup dengan wortel daripada brokoli, karena ia membenci brokoli. Oh ya, kalau bisa tomatnya dimasukkan saat air sudah mendidih, jadi tomat tidak akan lembek."

Siiiiiiiinggggg~

Mendengar penjelasan Sakura itu, semua langsung hening. Bahkan kepala pelayan yang membawakannya pun ikutan membeku. Sasuke yang mendengarnya mendesah pasrah. Sakura menatap bingung, takut-takut ia salah bicara. Akhirnya yang bisa dilakukannya hanya berdiri canggung.

"Wuah~ Kau hebat sekali, Sakura. Bahkan aku sebagai ibunya pun baru mengetahui kesukaan Sasuke sampai sedetail itu."

"Dan aku yakin kemampuan memasakmu itu pasti lebih disukai Sasuke daripada kemampuan koki terbaik kami. Hebat sekali memang wanita pilihan kita."

"Kalian tinggal belum ada satu tahun, tapi sepertinya kalian sudah saling mengerti satu sama lain ya~ Wah, kalau begini jalan menuju perkelaminan, eh! Maksudku pelaminan akan segera terbuka."

"Ayah!" nyonya Uchiha memberikan cubitannya di pinggang sang tuan besar. "Ha ha ha. Oh ya, bagaimana dengan rencana pernikahan kalian? Apa kalian sudah memikirkannya?"

"Pastinya akan menjadi pesta termewah yang pernah ada, mengalahkan An*ng dan Ash*nti. Dan masalah gaun pengantin Sakura, biar Kaasan yang memesannya ya? Dulu sewaktu Kaasan menikah juga dirancangkan olehnya."

"Kalau begitu biar malah tempat kami saja yang merencanakan. Ada satu tempat yang sangat menarik dan pasti cocok untuk konsep pernikahan ini. Tapi mungkinkah kita menyediakan tempat untuk umum? Jadi suasana akan lebih meriah."

"Bukannya lebih baik ini diadakah di suite room saja. Kalau dibuka untuk umum, takutnya malah mengundang bahaya lainnya. Memang semakin meriah, tapi bisa memperbesar resikonya."

"Kalau masalah itu tenang saja." lagi-lagi Itachi mulai mengikuti pembicaraan kedua tetua ini. "Masalah keamanan biar aku yang mengatasinya. Ada kenalanku di Inggris yang bekerja sebagai FBI, mungkin saja ia mau membantu."

"Wah! Benar, benar! Kalau FBI pasti bisa, dan lagi kalau mengundang FBI mungkin bisa menambah pamor. Kita juga bisa sekaligus mempromosikan bersatunya perusahaan kita."

"Boleh juga."

Saat semua sedang sibuk membicarakan mengenai pernikahan Sasuke-Sakura, kedua calon mempelai malah diam tak ikut berunding. Sakura melirik ke arah Sasuke, sepertinya Sasuke sedang tidak di mood yang baik. Atau mungkin saja Sasuke sedang memikirkan sesuatu, dari tadi ia hanya diam saja.

"Nah, menurutmu bagaimana Sasuke? Apa kau akan menambahkan saran lain?" Fugaku memancing putranya itu untuk berbicara. Semua pun menunggu jawaban dari Sasuke.

Namun bukannya menjawab, Sasuke malah mengelap mulutnya menggunakan sapu tangan dan bangkit dari kursinya. Sakura mengerutkan dahi bingung melihatnya. Semua yang ada di sana pun ikutan bingung.

"Aku tak akan menikahi Sakura."

Dheg.

Sekali lagi suasana kembali menghening, kini ditambah dengan raut muka kaget. Sakura seakan diberikan tamparan keras di hatinya, saat ia sudah mengiming-imingkan pernikahan dengan Sasuke, yang ia dapatkan malah penolakan tegas.

Melihat ekspresi muka Sakura yang kembali berubah dan menundukkan kepalanya, Itachi bangkit dari duduknya.

"Apa yang kau katakan barusan, Sasuke!"

"Aku mendengar bahwa nilai matematika Sakura menurun drastic di sekolah. Kurasa ini disebabkan karena ia terlalu dimanjakan oleh keputusan keluarga untuk menikah. Memang aku juga menginginkan pernikahan ini, tapi…" Sasuke memberikan jeda pada kalimatnya.

Sakura menatapnya dengan tatapan tak percaya. Matanya terlihat menyorotkan kesedihan dan kekecewaannya. Namun tatapan Sasuke sungguh bertolak belakang. Sakura menggepalkan tangannya.

"Aku tak ingin menikahi wanita bodoh."

"Sasuke! Apa yang kau katakan! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?!" kini Fugaku terlihat marah besar, terlihat dari tegasnya ucapan sang kepala keluarga Uchiha itu.

"Maafkan aku, Kaasan, Tousan, nyonya dan tuan Haruno." Sasuke menundukkan kepalanya. "Tapi ini keputusanku. Aku akan menikahi Sakura, kalau ia bisa mendapatkan nilai matematika di atas 95 di Ujian Akhir Semester nanti."

"Sasuke!"

Setelahnya Sasuke hanya berlalu meninggalkan acara makan malam itu. Fugaku terlihat sangat kesal mengenai tingkah putra bungsunya, dan Mikoto hanya menggumamkan kata maaf berkali-kali kepada keluarga Haruno.

Sakura menundukkan kepalanya, ia sudah tak bisa menahan tangisannya lagi. Sakura bangkit dan berlari meninggalkan tempat itu. Itachi hendak mencegahnya, namun ia mengurungkan niatnya itu. Itachi beralih menuju tempat Sasuke.

Ditemukannya Sasuke di pinggir kolam, ingin sekali rasanya ia memukul wajah tampan adiknya itu. Namun saat ia mendekat, bisa dilihatnya pancaran sorot mata Sasuke yang disinari bulan. Itachi kembali mengurungkan niatnya.

"Kau pikir apa yang kau lakukan, Sasuke? Bercandamu sungguh keterlaluan barusan."

"Aku hanya menguji kepercayaanku dan kepercayannya, niichan."

"Apa maksudmu?"

Sasuke menoleh menatap Itachi, "Kalau ia mempercayaiku, maka Sakura akan berusaha untuk lulus di Ujian Akhir. Tapi kalau sebaliknya, maka ia akan gagal."

"Bagaimana kalau ia gagal?"

"Aku mempercayainya, Itachi-nii."

-ooOoo-

Akibat perkataan Sasuke di acara makan malam kedua keluarga semalam, Sakura jadi uring-uringan. Ia sering melamun dan menangis, Ino jadi sedih melihatnya. Ia modorkan jus jeruknya, tapi kemabli ditolak Sakura. Sejak pagi Sakura sudah tak makan apa-apa, mungkin tepatnya sejak semalam.

Ino sudah mendengar ceritanya dari Sakura, ia juga mengerti kenapa sakura bisa seperti ini. Pastinya ia pun akan merasakan hal yang sama kalau berada di posisi Sakura. Ditolak saat sudah merasa mendapatkan hatinya. Hati siapa? Sai?

'Astaga, kenapa aku malah memikirkan dia sih!' Ino menggelang-gelengkan kepalanya membuyarkan lamunan itu.

"Ino~ Mungkin sejak awal Sasuke memang tak berniat menikahiku." rengek Sakura.

Ino mendesah, "Kau ini bicara apa sih Sakura? Kan kau yang biasanya selalu menggumamkan 'aku sayang Sasuke, aku sayang Sasuke'. Kau juga sudah sering mengalami penolakan darinya, kenapa sekarang kau jadi goyah?"

Sakura terdiam. Sepertinya benar juga apa yang dikatakan Ino, memang bukan kali pertamanya Sasuke menolak dengan tegas apa yang tak disukainya. Tapi sepengalamannya dulu, dibalik penolakan itu, ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Sasuke.

Sakura beringsut menjatuhkan kepalanya di atas meja. Mulutnya dimajukan, tanda kalau ia sedang merajuk. Ino kembali menikmati jus jeruknya.

"Mungkinkah Sasuke sedang merencanakan sesuatu? Dia tak mungkin benar-benar tak ingin menikah denganku kan?"

"Kalau dia tak menginginkannya, ia sudah menolakmu sejak awal. Kau yang peling mengerti kalau dia itu bukanlah orang yang suka membuang-buang waktunya untuk hal yang tak menguntungkannya, kan?"

Sakura mengangguk.

"Sudahlah Sakura, daripada kau galau tak jelas seperti ini, kenapa tak kau coba untuk belajar dan lulus di Ujian itu? Dengan begitu kau bisa membusungkan dadamu dan berdiri tegak di hadapannya mengatakan 'jangan remehkan aku!'."

-ooOoo-

Sepulang sekolah, Ino sudah bersiap akan menemani Sakura ke perpustakaan umum untuk belajar. Sebenarnya ia juga harus meningkatkan nilainya sendiri, meski awalnya ia berniat untuk meminta bantuan Sakura. Melihat keadaan Sakura yang runyam, ia juga ikutan susah ruapanya.

Ino terlihat sedang mengotak-atik ponselnya selagi menunggu Sakura dari toilet.

To : Shimura Sai

Hari ini aku dan Sakura akan ke perpustakaan untuk belajar,
kau mau ikut?

-END-

"Send~" sahut Ino sambil menekan tombol enter.

Saat hendak berbalik mengambil sepatunya di loker, ia dikagetkan oleh sosok Sasuke di sampingnya. Dengan segera ditutupinya ponsel itu, takut-takut Sasuke bisa membaca pesannya. Namun nyatanya sang pemuda tak begitu memperhatikannya.

"Ino, ada yang ingin kutitipkan." Sasuke mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya dan menyerahkannya kepada Ino. "Tolong berikan ini kepada Sakura. Katakan padanya untuk mengerjakan bagian yang kutandai."

Ino memasukkan ponselnya ke saku dan menerima buku itu. "Buku apa ini? Kenapa tak kau berikan langsung saja kepadanya saat di rumah nanti?"

"Kudengar kau akan ke perpustakaan dengannya. Tolong berikan pada saat itu."

Blush.

Ino langsung bersemu merah. Sepertinya dugaannya benar, bahwa Sasuke bisa membaca pesannya barusan. Masalahnya apakah ia membaca siapa penerima pesan itu? Bisa gawat kalau iya. Mungkin sepulang nanti masalah Sakura bertambah banyak.

Akhirnya mau tak mau Ino memasukkan buku itu ke dalam tasnya. Tak lama pun Sakura datang menghampiri Ino, dan mereka segera menuju perpustakaan. Di perjalanan Sakura masih saja mengeluh atas sikap Sasuke, Ino juga tak bisa berbuat apapun kecuali mendengarkan keluhan itu.

Sesampainya di perpustakaan, Sakura dan Ino menyerahkan kartu pelajar mereka dan memesan tempat—sudah seperti restoran saja ya? Ternyata perpustakaan di saat-saat mendekati Ujian memang sangat penuh, bahkan sampai sore seperti ini. Beruntung masih ada 3 bangku yang belum ditempati.

"Fuah~ baiklah~ Ayo kita mulai belajar! Yosh!" Sakura berusaha membarakan semangatnya.

"Oh ya Sakura, ada titipan untukmu tadi." Ino mengeluarkan buku dari dalam tasnya, dan Sakura menerimanya dengan bingung. "Dari SA-SU-KE~"

"Haaaa?! Sasuke!"

"Sssssttt!" berkat teriakan Sakura itu, seluruh pengunjung menyuruhnya diam. Sakura dan Ino hanya menunduk menggumamkan kata 'maaf'.

"Kau serius? Sasuke memberikan ini kepadaku?"

Ino mengangguk, "Katanya kau suruh mengerjakan bagian yang sudah ditandainya. Hey Sakura, ternyata begitu-begitu Sasuke perhatian juga kepadamu ya~"

Tanpa menanggapi godaan Ino, Sakura segera membuka buku itu. Ada banyak sekali tulisan tangan Sasuke dan bagian yang ditandai. Ada juga rumus cepat yang dibuat langsung oleh Sasuke. Diam-diam Sakura merasakan adanya perhatian lebih dari Sasuke.

Dengan semangat, Sakura mengerjakan soal-soal yang dibuatnya. Ini hampir sama seperti buku besar yang diberikan Sasuke kepadanya, tapi ini dibuat jauh lebih mudah karena ada penjelasan cara mengerjakannya. Sepertinya buku ini dibuat berdasarkan hasil kerja Sakura di buku besar itu.

Tanpa Sakura sadari, Ino mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat adanya pesan masuk.

From : Shimura Sai

Kau sudah ada di perpustakaan?

-END-

To : Shimura Sai

Iya, cepatlah ke sini!
Perpustakaan hari ini sangat penuh,
tapi ada 1 bangku kosong di sebelahku.
Kalau kau tak cepat maka aku tak janji bangku itu masih tersedia.

-END-

From : Shimura Sai

Bagaimana ini?
Aku ada tambahan pelajaran menjelang Ujian Akhir.
Kurasa aku tak bisa datang kali ini~

-END-

Ino menghela nafas panjang. Entah mengapa rasanya ia cukup kecewa mendengar Sai tak bisa datang. Sakura yang merasa aneh dengan gelagat sahabatnya itu, kini mengalihkan perhatiannya.

"Ino, kau sedang apa? Bukannya kau juga akan belajar?"

"Ah! I—iya, ini aku sedang mengambil buku."

"Mengambil buku lama sekali~ Haiyo~ kau sedang bertukar pesan dengan siapa~?" goda Sakura sambil memainkan pensilnya ke arah Ino.

"Apaan kau ini!" Ino mencubit hidung Sakura, membuat Sakura mengaduh kesakitan. "Aku hanya mengirim pesan pada Kaasan ku."

"Tumben sekali, kau tak sedang jatuh cinta kan, Ino?" tanya Sakura asal sambil mengelus-elus hidungnya.

Blush.

Ucapan Sakura itu kembali membuat Ino ber-blush-ing. Sakura terdiam melihat perubahan sahabatnya itu, suasana mendadak hening di antara mereka. Ino terlihat gugup tak tahu akan menjawab apa.

Siiiiinggg.

Namun nampaknya Sakura mengacuhkan hal itu, dengan cueknya ia kembali mengerjakan soal yang dibuat Sasuke. Ino semakin blush-ing, bukan karena malu, tapi karena kesal Sakura mengacanginya.

"Dasar kau, Sakura!"

-ooOoo-

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari H saat Ujian Akhir Semester. Matematika adalah pelajaran terakhir di hari terakhir. Kini Kakashi-sensei sedang membagikan kertas soal kepada murid-murid.

Sakura menerimanya perlahan, ia sungguh gugup sekarang. Ia berdoa khusyuk-nya, ia berharap apa yang dipelajarinya keluar dalam ujian. Dengan hati penuh harap, Sakura membaca soal ujian itu satu per satu.

"Fuwaaa~"

Tanpa bisa diduga Sakura. Sungguh, ini membuatnya terkejut. Ia merasa bisa mengerjakan soal itu. Sakura menghela nafas semangat, ia mempersiapkan pensilnya dan mulai mengerjakannya.

90 menit dialui dengan 'damai' dan 'selamat' oleh Sakura. Ia menghela nafas panjang saat keluar dari kelas. Ino yang melihatnya langsung menghampiri Sakura. Perlahan Ino memapah Sakura menuju kantin.

Ino membantu Sakura duduk, "Apa kau ingin sesuatu?"

"Aku ingin jus cherry."

Ino mengangguk mengerti. Ia kemudian bergegas menuju kasir untuk memesan. Sakura kini terlihat cukup lemas, seluruh tenaga yang ia punya telah dikerahkan untuk mengerjakan soal-soal matematika itu.

Tak berselang waktu lama, Ino kembali dengan nampan berisi jus cherry pesanan Sakura dan jus jeruk miliknya serta sebungkus kentang goreng. Ino pun menempatkan duduk di depan Sakura. Tanpa pikir panjang Sakura langsung menyamber jus cherry-nya dan meneguknya.

"Jadi, bagaimana soal tadi?"

Sakura menghabiskan jus cherry-nya dengan sekali tegukan, "Fuah~ Sukses!"

"Benarkah? Kau yakin kali ini bisa mencapai nilai diatas 95?"

"Tentu! Aku juga tak habis pikir, soal yang kukerjakan berusan tidak berbeda jauh dengan soal-soal yang ada di buku catatan Sasuke. Karenanya aku mudah mengerjakan itu."

"Hmm~ Tau begitu aku ikut belajar dengan buku itu juga!"

"Ha ha ha. Hey Ino, apa menurutmu Sasuke sudah menganalisa soal-soal itu dan membuatnya khusus untukku?"

"Bisa jadi. Memang ada alasan lain? Itu sudah jelas sekali kalau ia memang ingin menikah denganmu kan?"

"Iya sih, tapi kenapa juga harus ada syarat-syarat begitu sih! Dalam pernikahan itu, yang jadi syarat adalah cinta! Cinta!"

Ino menatapnya malas, "Iya iya, terserah deh."

Kini Sakura sedikit merasa lega, karena sepertinya kali ini ia bisa mengerjakan soal itu. Dan tentu saja ia berpikir kalau nilainya kali ini akan mencapai titik minimum Sasuke sehingga ia mau mengakuinya.

Padahal peperangan yang sesungguhnya itu justru saat pengumuman hasil yang langsung ditempel di papan pengumuman.

-ooOoo-

3 hari setelah hari terakhir Ujian Akhir Semester adalah Free time, saat dimana sekolah mengadakan hari liburan bagi seluruh murid dengan mengadakan berbagai kegiatan permainan di sekolah. Dan seminggu setelahnya adalah hari pengumuman.

Ini dia, hal yang dinantikan seluruh peserta Ujian. Peperangan lanjutan. Sayangnya Sakura bangun sangat terlambat, sial sekali. Ia bahkan mungkin belum akan terbangun kalau Sasuke tak membangun. Belum sempat sarapan, belum sempat berdoa, ia sudah mendapatkan sms dari Ino untuk segera berangkat.

Sakura melirik jam tangannya. Ia sudah telad 20 menit, mungkin ia akan jadi orang terakhir yang mengetahui hasil Ujian itu. Sakura disambut lambaian tangan Ino. Nafasnya terengah karena ia berlari.

"Hah hah hah.. bagaimana hasilnya?" tanya Sakura disela nafasnya yang tersengal.

Ino tak menjawab pertanyaan Sakura, hal ini malah semakin membuat Sakura gusar. Ia berusaha masuk ke dalam kerumunan orang yang sedang melihat hasil Ujian itu, tapi dengan mudahnya ia terdepak begitu saja.

Tak ingin menyerah, Sakura mencobanya lagi. Kali ini dengan bantuan Ino. Akhirnya dengan perjuangan keras pun Sakura bisa masuk ke dalam, ia melihat urutan nomor peserta yang ditempel di sana. Ia mencari namanya dari urutan paling atas. Hingga terus ke bawah, sesuai dengan peringkat nilai. Hatinya mencelos ketika mendapati ia tak ada di urutan peringkat dnegan nilai 100.

'Oh Tuhan. Kumohon, kumohon, kumohon.' batin Sakura menderu.

Bahkan namanya tak tertulis di urutan nilai 99-96. Sungguh, kali ini harapannya sudah setipis kertas HVS dan seburam kertas foto kopi. Ingin rasanya ia menjerit dan air matanya tumpah begitu saja.

Semakin kebawah, harapannya hilang sedikit demi sedikit. Padahal dirasanya ia bisa mngerjakan soal itu dengan mudah. Apalagi ia juga mendapat bantuan langsung dari Sasuke. Masa iya dia masih gagal juga? Mau taruh dimana harga dirinya nanti.

'Oh Kami-sama~'

Sedikit kebawah, akhirnya Sakura menemukan namanya. Sungguh posisi itu bukan seperti yang diharapkannya. Tubuhnya mematung seketika, mukanya pucat pasi, dan tangannya gemetaran. Sakura keluar dari kerumunan itu dengan lemas. Ino langsung menghampirinya lagi.

"Sakura? Kau…berhasil kan?"

-ooOoo-

Suasana sangat tegang di apartemen Uchiha ini. Sakura berdiri di hadapan Sasuke yang sedang duduk bersila di kasur sambil sebelah tangannya memegang kertas. Kertas yang berisi hasil kerja keras Sakura menempuh peperangan dengan 'Ujian Akhir Semester'.

Mata Sasuke mengintimidasi tajam ke arah Sakura, lalu berlanjut ke kertas itu lagi. Sakura yang merasa diintrogasi seperti ini sudah seperti pelaku kejahatan saja. Tangannya mengepal dan lehernya berkeringat. Padahal suhu AC di sana sudah 25 derajat.

"Jadi…ini hasilmu?" Sasuke menatap malas.

"Tapi… setidaknya aku sudah memenuhi syaratmu dengan mendapatkan nilai diatas 95 kan?" Sakura berusaha membela diri.

"Iya sih, diatas 95. Tapi kenapa hanya 0,5?! Jadi buku catatan yang kuberikan kepadamu itu hanya membantumu mendapatkan nilai 95,5?!" Sasuke membuang kertas itu ke atas ranjang.

Sakura hanya bisa bergidik ngeri, "Maaf~ Aku sudah berusaha..."

Sasuke memegangi kepalanya. Sepertinya ia juga cukup syok karena calon istrinya ini benar-benar tak bisa tertolong lagi mengenai nilai matematikanya. Andai saja ia memberikan syarat nilai diatas 96, mereka bisa batal nikah. Sebenarnya Sakura juga tak mengerti kenapa bisa begini, mungkin karena ia ceroboh saja dalam mengerjakannya.

"Sakura, kau ini benar-benar~ 0,5 itu bagiku adalah factor keberuntungan."

"Maaf..." Sakura hanya bisa menggumamkan kata itu sambil menunduk menyesal.

Sasuke tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia juga sebenarnya cukup dheg-dheg-an bila Sakura sampai gagal. Karena ia juga mengatakan syarat itu didepan keempat orang tua mereka, kalau tiba-tiba Sakura tak memenuhi syaratnya dan mereka menikah begitu saja. Itu bisa membuang harga diri Uchiha Sasuke juga.

Nilai Sakura itu benar-benar nyaris. Sakura saja sampai menggigit bibirnya menahan tangis, ia sendiri takut kalau Sasuke menolaknya lagi. Tapi bagaimanapun ini memang kesalahannya, ia tak akan bisa complain lagi.

Sasuke yang melihat tangan Sakura gemetaran kini menghela nafas panjang, "Kemarilah."

Sakura mendongakkan kepalanya, ia melihat Sasuke yang menepuk-nepuk pinggir ranjang di depannya menandakan Sakura untuk duduk di sana. Dengan hati-hati Sakura duduk, ia masih merasa canggung berdekatan dengan Sasuke.

Namun tanpa diduga Sakura, Sasuke memeluknya. Pemuda itu menyandarkan kepalanya di pundak Sakura. Sakura hanya bisa diam dan merasakan nafas berat Sasuke menghela tengkuknya.

"Syukurlah kau lulus~" gumam Sasuke di telinga Sakura.

"Engh…Sasuke, kau terlalu dekat." Sakura memejamkan matanya merasakan sensasi geli menggelitik telinganya.

"Kenapa? Aku sudah lama tak menyentuhmu. Memang kau tak merindukanku?"

"Bu—bukannya begitu~ Aku pun…rindu padamu." Ucap Sakura malu-malu. Kini wajahnya tertunduk, masih menahan geli.

Pelukan Sasuke sedikit mengendur, ia membalikkan tubuh Sakura perlahan dan membuat gadis merah muda itu duduk di pangkuannya. Tatapan mereka bertemu, menghasilkan irama detak jantung yang cukup keras. Tangan Sasuke membelai lembut ranbut panjang Sakura.

Tangan Sasuke menelusup masuk ke belakang tengkuk Sakura. Memberikan setruman hangat di sana. Sakura memejamkan matanya ketika wajahnya ditarik maju. Kecupan pun tercipta. Dengan suasana sunyi dan hanya mereka berdua di sana, ciuman itu terlaksana tanpa malu-malu.

"Enghmm..mgh~mmmmh~" Sakura melingkarkan tangannya ke leher Sasuke. Memberikan tanda pada kekasihnya itu bahwa ia menikmatinya.

Mendapat sinyal itu, Sasuke tak ingin menahan diri lagi. Ia langsung menari tubuh Sakura dan membaringkannya ke ranjang. Ciumannya semakin dalam dan ganas, membuat Sakura kewalahan mengikutinya.

Sudah cukup lama mereka tak bermesraan seperti ini. Sakura jadi lupa caranya untuk memenangkan perduelan dengan lidah Sasuke yang liar itu. Kini ia hanya bisa mengulang lagi pelajaran itu dnegan menikmati setiap gerakan beringas Sasuke kepadanya.

"Engh..hah…emmm…hah hah…mmmh~"

Lepas, cium, lumat. Lepas, cium, lumat. Seperti itu gerakan serangan sasuke kepada Sakura. Tangan Sakura meremas pundak Sasuke saat ia kehabisan oksigen. 15 menit mereka lalui dengan posisi Sasuke di atas dan Sakura di bawah. Akhirnya Sasuke puas dan melepaskan ciuman itu. Matanya menatap ke dalam emerald Sakura yang berkaca-kaca.

"Hah…hah… hah…" mulut Sakura ternganga karena ciuman Sasuke. Bibirnya sudah merah basah, tanda dari ciuman itu.

Sasuke menyeringai, "Haruskah kuberi hukuman atas nilaimu itu?"

Menyadari adanya bahaya datang dari seringai maut Sasuke itu, Sakura langsung membulatkan matanya dan meneguk ludah. Ia berusaha mendorong tubuh Sasuke menjauh, tapi hasilnya malah kini Sasuke mengunci kedua tangan Sakura di atas kepalanya.

"Sa—Sasuke~"

"Bersiaplah, Sakura."

"Hyaaaaa~ Enghh~!"

Dan malam ini pun mereka lewatkan dengan aksi damai(?). Sepertinya ini tipe hukuman manis yang memang cocok untuk Sakura yang sudah berusaha, meski mungkin hasilnya tak terlalu memuaskan. Dengan ini pun Sasuke akan menepati janjinya untuk menikahi Sakura.


-TBC-


Shera buat ini sambil nnton Hitam-Putihnya Dedy,
Ada satu quotes dari Dedy yang Shera inget~
"Orang itu nggak pernah puas akan apa yang dimilikinya, dia selalu bicara dengan memandang rendah orang lain. Tapi bagi saya, cara balas dendam yang paling ampuh adalah… be success. Jadilah sukses di depan orang itu."

Yah, Shera setuju sih sama itu. :D
Sebenernya kalo boleh jujur, Shera bukan tipe org yg lemah lembut banget lho~
Kalo Shera nggak suka akan sesuatu, biasanya ntar dibahaaaaas terus.
tapi kalo udah suka ya suka terus.. xD
#ketahuandeh.

Karenanya kalo Shera ada salah-sala mohon dimaafkan ya~ apa lagi hampir Lebaran lho~
btw besok udah Final chap nih~
nggak terasa yah~
Shera pasti bikin ending yang spectakuler kok~ wk wk wk

Review me ya~
Keep trying my Best!
Shera.