~Balasan Reviews~

makino Yukito-chan : he he he, Sakuranya juga dhed-dheg-an lho nyari nilainya.. :D
Wah? masa sih nggak ada? karna itu viewers-nya jadi menurun drastis nih..
Apa FF lagi ada problem yah? :/

shfly9734 : aduh,...iia semoga selesai masalahmu yah~
Hu.m... dia cakeeeeep banget kayak artis Korea persis, sayang aku-nya bego malah kuputusin. Q_Q
#mendadaksedih, .
Masalah epilog...nanti dulu deh yah~ XO

ayuwahyuni663 : oke dehhh~ salam kenal yah~ :D

Sami-chan : he he, semoga suka sama Final chap-nya yah~ sankyu udah dukung Shera selalu, Sami-chan~ :*

hamster-pink : iia tuh, kalo Sakura nggak lulus pastinya Sasuke nggak akan tinggal diam dong.
Kan dia punya banyak kekuatan khusus-plak-maksudnya koneksi khusus gitu~ ;3
Semoga suka sama endingnya ya~

julia : he he semoga kamu suka sama endingnya yah, Julia-chan~ :)

Rin-chan : Ini Final chapnya... sayang banget Shera cuma sanggup bikin sampe chap 9 ajah~
Sai udah nyerah kok, kan udah ada yang di sampingnya... he he
Semoga suka sama endingnya yah~ :)

aguma : ha ha, iya.. faktor keberuntungan. :3
Seru sih, nanti Shera buat dlu aja konsepnya~ :D

HazukiFujimaru : wahhh~ Shera suka suka banget bikin kamu dheg-dheg-an..he he he
Semoga ending ini bikin kamu semaaaaaaaaakin dheg-dheg-an ya~ :3

Tsurugi De Lelouch : Iia nih, Sakura memang memiliki faktor X, alias keberuntungan.
Waduh, iia Shera juga baru sadar kalo banyak banget typo-nya.. maklum lah~
Update sambil nonton bola~ xD

Olla : eiiitah, jangan salah~
Endingnya cetar membahana badai meletup-letup mengempaskan bumi melewati garis katulistiwa menggebyar ulala... ha ha ha xD #Syahrinimodeon.
wah squel sih nunggu mood sama ide cerita yah~

~Enjoy Reading~


"LOVE PROPOSAL"


.

WARNING!
one char OC, Rey. :)

.


Day 9 : A Kid before Wedding Ceremony

( Hari kesembilan : Seorang Anak sebelum Upacara Pernikahan )


.

.

Enjoy Reading

.

.

"Sasuke, bagaimana dengan dress yang ini?"

"Kalau yang ini?"

"Ini gimana? Apa terlalu simple?"

"Sasuke, bagaimana pendapatmu?"

Sasuke kini hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan gadis bersorai pink di hadapannya yang sedang sibuk mengobrak-abrik isi lemari butik Wedding Dress. Para pelayan pun terlihat semangat melayani Sakura, meski sudah beberapa pelayan yang memilih mundur dan digantikan pelayan lain.

Kini Sakura sedang memilih-milih gaun pengantinnya. Susunan acara, Mc, tema, semua sudah ditetapkan. Kini yang paling penting yaitu memilih gaun pengantin. Sudah 5 tempat di 3 kota mereka datangi untuk survey, tapi hasilnya nihil.

"Sasuke~ pindah yuk~" Sakura kini menarik-narik tangan Sasuke yang sedang santai duduk di sofa.

"Pindah? Kau tidak menemukannya lagi di sini?" Sasuke mengerutkan dahinya, dan Sakura menjawabnya dengan gelengan. "Astaga Sakura, kau ini mau beli gaun pengantin aja ribet banget."

"Huft~ Habisnya~ Aku ingin gaun pengantin yang special, karna pernikahan ini akan jadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku."

Sasuke terdiam mendengarnya. Ia menolehkan pandangan ke samping, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Kemudian tak lama, mereka meninggalkan butik itu. Sesampainya di mobil, Sasuke terlihat masih memikirkan sesuatu.

Sakura meliriknya, "Ada apa?"

"Sakura, gaun pengantin seperti apa yang kau inginkan sebenarnya?"

Sakura berpikir, ia menerawang ke dalam imajinasinya. "Hm…entahlah. Yang kuinginkan, adalah gaun pengantin yang bisa menampilkan kebahagiaanku. Aku juga ingin gaun pengantin yang menunjukan bahwa gaun itu seakan dibuat khusus untukku di hari itu."

Melihat Sakura yang sudah larut dalam khayalannya, Sasuke terkekeh. Mereka termasuk nikah muda. Tapi sepertinya Sasuke sudah siap menanggung semua beban hidup Sakura. Karena mungkin keluarga mereka akan terus ikut campur.

Berkat Sasuke yang mengambil kelas akselerasi, dalam beberapa bulan ini ia akan lulus. Setidaknya ia bertekad tak akan membuat Sakura berhenti sekolah karena hamil. Meski sebagai lelaki ia juga menginginkan seorang anak.

Ah, tunggu! Menikah saja belum, kenapa sudah memikirkan anak? Astaga, Sasuke sendiri syok. Sepertinya ia sudah teracuni pikiran Sakura, kini ia jadi mesum dan sering membayangkan yang masih jauh.

"Mulai sekarang kau tak usah mencari gaun itu, biar aku yang mencarikannya."

Akhirnya mobil mewah berwarna merah darah yang ditumpangi Sasuke dan Sakura itu melaju meninggalkan tempat parkir. Sakura masih bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan Sasuke, tapi kini ia sibuk membahas mengenai souvenier pernikahannya nanti.

-ooOoo-

Di sudut kota, terlihat seorang gadis berambut pirang duduk di sana. Putri keluarga Yamanaka itu jarang sekali menggerai rambutnya, apa lagi mengeritingnya. Ada hari special apa sampai-sampai ia bahkan memakai rok pendek dan boots mahal-nya.

Ino nampak sumringah, ia bolak-balik melihat ponselnya yang dilapisi anti-gores mirror untuk memastikan ia tak terlihat aneh. Jam menunjukkan pukul 9 pagi, artinya itu waktu yang tepat dengan jam janjiannya. Tapi dengan siapa?

"Sudah lama menunggu?"

Ino menoleh, ia langsung bangkit seketika. Pandangannya mematung melihat sosok pemuda di hadapannya itu. Cuaca memang agak dingin sekarang, karenanya sang pemuda pucat itu memakai jaket berbulu dan syal merah di lehernya. Ino jadi malu karena memakai rok pendek.

"Aku belum lama datang kok. Tak kusangka kau tepat waktu sekali, Sai."

Mereka mulai berjalan bersama menelusuri jalan kota itu. Hari itu adalah hari libur, karenanya mereka berpikir untuk keluar bersama mencari hadiah. Hadiah untuk pernikahan Sakura tentunya.

Sai sepertinya sudah mulai menyerah atas perasaannya kepada Sakura, ia juga ingin bisa cepat move on dari gadis itu. Beruntungnya Ino mengerti dirinya dan mau menemaninya memilihkan barang untuk Sakura. Karena ia adalah sahabat dekatnya, pastinya Ino tahu apa saja yang disukai Sakura.

Tujuan pertama mereka ke toko pernak-pernik. Ino sedang melihat-lihat bagian aksesoris wanita. Dipilihnya sebuah kalung dengan lambang penguin. Sai yang mengikutinya dari belakang menghampirinya.

"Itu bagus juga, cocok untukmu."

Komentar Sai yang tiba-tiba membuat Ino salah tingkah dan langsung meletakkan kalung itu ke tempatnya.

"Apaan sih. Kita kan sedang mencari hadiah untuk Sakura, kenapa kau malah membandingkannya denganku? Jangan samakan aku dengannya dong."

Entah kenapa Ino merasa kesal. Sepertinya ia tak ingin Sai menganggapnya sebagai pengganti Sakura, atau melihat dirinya sebagai Sakura. Tapi ia sadar, mereka ke sini kan memang untuk membelikan hadiah kepada Sakura. Pastinya Sai memikirkan Sakura.

Sai hanya terdiam melihat tingkah Ino. Ia kembali melirik kalung penguin yang tadi dipegang Ino. Sepertinya Sai memikirkan sesuatu.

Mereka pun tak menemukan apa yang dicarinya di toko itu. Ino berjalan jauh dari Sai. Sai sendiri merasa aneh, ia mengerutkan dahinya. Sepertinya Ino benar-benar sedang menjaga jarak dengannya. Tapi Ino sendiri melakukannya tanpa sadar.

Sai mempercepat langkahnya, "Ino, ikut aku."

"Eh?"

Ino sampai terkejut saat Sai menarik tangannya tiba-tiba dan membawanya. Langkah kaki panjang Sai sulit sekali diikuti oleh Ino, akibatnya ia jadi kewalahan. Namun Sai sepertinya tersenyum di balik itu.

Tanpa disadari Sai membawa Ino ke sebuah toko souvenier pernikahan. Ino memperhatikan sekitarnya di dalam toko itu. Suasana khas wedding yang menguak di sana membuatnya takjub.

"Wah~ Ini luar biasa, Sai."

Namun saat itu pula, Ino menyadari Sai sudah tak berada di sisinya. Entah pergi kemana pemuda itu. Ino pun memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat. Ia benar-benar kagum, di sini tersedia segala kebutuhan pernikahan. Mulai dari souvenier, wedding dress, panfait, dan aksesories lainnya.

Ino melirik sepasang pria dan wanita yang sedang memilih bersama. Mereka ada di sisi aksesories. Entah apa yang dipikirkan Ino, sepertinya ia iri melihatnya. Apa lagi dipikirnya Sakura juga menikah muda, mungkinkah suatu saat ada lelaki yang melamarnya?

Puk.

"Hey?"

Ino menoleh saat bahunya ditepuk pelan. Ia mendapati Sai sudah berada di belakangnya. Ia memperlihatkan bungkusan yang dipegangnya kepada Ino.

"Itu apa? Kau sudah menemukannya?"

"Iya, aku tak ingin lama-lama. Aku hanya membeli selimut tebal untuk hadiahnya."

Ino memalingkan wajahnya, "Kenapa kau membelinya sendiri? Bukannya kau mengajakku untuk menemanimu membelinya bersama? Aku jadi tak mendapatkan apapun."

"Lho, ini kan hadiah dari kita berdua."

Ino kembali terdiam, kepalanya masih berpaling. Sai memperhatikannya dalam diam. Ino segera berbalik, ingin pergi dari sana. Namun sesuatu mencegahnya.

Ino terkejut saat Sai memakaikannya kalung dari belakang, kalung berbandul penguin yang tadi dipegangnya di toko pernak-pernik. Ino memegangnya, ia segera memutar balik tubuhnya. Sai tersenyum di sana.

"Kalung ini…"

"Sudah kuduga, kalung itu memang cocok untukmu."

"Tapi Sai..bukannya kau memilihkan kalung ini untuk Sakura? Sebagai hadiah pernikahannya?"

"Gimana ya~ Aku sendiri juga nggak mengerti, tapi sebenarnya sejak awal aku sudah memesan selimut ini, jadi aku tinggal mengambilnya." Sai menggaruk kepalanya yang tak gatal, pipinya terlihat bersemu. "Tapi melihatmu, aku jadi ingin jalan-jalan sebentar."

Ino terpaku tak percaya, "Kau tak serius mengatakannya kan? Jangan bercanda Sai." Wajahnya berpaling kembali. "Nanti aku bisa jatuh cinta padamu."

"Sayang sekali." Sai bergumam. "Sepertinya aku baru sadar kalau aku jadi cowok yang plin-plan. Belum lama aku menyerah atas perasaanku, kini aku sudah jatuh cinta lagi."

"Maksudmu?"

Sai tersenyum penuh arti, "Sekarang aku memang sedang membelikan hadiah untuk pernikahan orang lain. Tapi suatu saat aku ingin datang lagi ke sini bersama gadis yang kucintai untuk memilih hadiah pernikahanku sendiri."

Ino menutup mulutnya yang terbuka saking tak percaya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Sai mendekat dan merengkuh tubuh Ino. Isakan tangis bahagia Ino pecah di sana. Sepertinya ia juga menyadari kalau hatinya telah jatuh pada pemuda pucat itu. Dan sikap juteknya karena ia cemburu pada Sakura.

"Nah Ino, kau mau kan menjadi partner-ku untuk datang lagi ke sini suatu saat nanti?"

Ino mengangguk menjawabnya. Tanpa mereka sadari seluruh pengunjung dan pelayan di sana memperhatikan mereka dari awal. Kini sorak-sorakan menggoda membuat suasana meriah seketika. Sai dengan lembut menghapus jejak air mata Ino.

-ooOoo-

Hari sudah malam, matahari telah tenggelam. Kini tersisa beberapa orang yang berlalu menyelesaikan pekerjaannya. Terlihat Sakura turun dari mobilnya sambil membawa sebuah bungkusan. Ia yang masih menggunakan seragam itu terlihat sumringah.

Sakura baru saja pulang dari sekolahnya, namun ia mampir ke toko kue dulu untuk membeli kue tomat kesukaan Sasuke yang dipesannya. Ia berjalan menuju kamarnya. Saat berada di kamarnya, betapa terkejutnya ia mendapati seorang anak kecil tertidur di depan pintu.

"Eh? Anak siapa ini?"

Sakura menunduk untuk bisa mensejajarkan dirinya menatap anak itu. Anak dengan warna rambut sehitam malam dan matanya yang terpejam, terlihat begitu polosnya. Membuat Sakura tak bosan memandanginya.

Namun tak lama waktu berselang, anak itu terlihat bereaksi. Ia mengerjapkan matanya dan mengucek-uceknya. Sakura memuji keimutan anak itu. Batinnya juga bertanya-tanya siapa anak lelaki ini sebenarnya.

Anak itu melirik Sakura dengan mata sayu, "Celana dalam rumbai."

"Eh? Kyaaa~!" untuk sesaat Sakura segera menyadari kalau pandangan anak itu menuju ke selangkangannya.

Sakura tak sadar ia sedang berjongkok sambil memakai rok, sehingga memperlihatkan dalamannya kepada anak itu. Ia kini berubah posisi menjadi duduk, wajahnya merona merah.

"Kakak cantik~"

Sakura hanya tersenyum cangung, "Adik kecil, siapa namamu? Kenapa kau ada di sini?"

"Namaku Rey. Sebenarnya aku ke sini bersama mama, tapi aku tersesat."

"Benarkah? Siapa mamamu? Mungkin neechan bisa bantu menemukannya."

"Em… Rey dilarang menyebutkan identitas lengkap mama di sini. Katanya untuk surprise."

"Surprise? Surprise siapa? Kalau begitu susah untuk mengembalikanmu kepada mamamu lho."

"Nggak apa-apa. Mama bilang, kalau tersesat di sini, Rey harus ke kamar ini. Nanti mama yang akan menjemput Rey di sini." Sahut anak lelaki itu sambil menunjuk kamar apartemen Sakura.

Sakura hanya mengerutkan dahi bingung. Tapi mungkin sebenarnya itu adalah salah satu anak dari kenalannya, atau mungkin anak dari saudara jauhnya yang datang untuk menghadiri upacara pernikahannya beberapa hari lagi.

Akhirnya Sakura membawa masuk anak itu ke dalam apartemen-nya. Selagi menunggu Sasuke pulang, dan juga menunggu Rey dijemput mamanya. Sakura mengajaknya bermain video game, ternyata seru juga bermain bersama dengan Rey.

"Wah, ini kemana lagi? Kenapa hero-nya jadi lemas begitu?"

"Oneechan seharusnya membeli beberapa item langka di Xiford City, nanti di sana akan ada Dragon Quest yang mengharuskan hero kita melawan naga raksasa! Itu, itu, ada perampok. Lawan!"

"Aduh, aduh, gimana ini? Magic-nya sudah mulai habis."

"Isi ulang saja dengan item yang diberikan orang tua tadi. Itu bisa menambah magic point-nya."

"Kyaaa~! Menang!"

"Yeeyyy!"

Sakura sontak memeluk Rey. Ia cukup terhibur juga dengan kehadiran Rey, karena biasanya ia selalu tinggal sendirian di kamar ini. Sekarang ada Rey yang menemaninya bermain sampai puas. Ia juga jadi merasa memiliki adik laki-laki. Berhubung ia adalah anak tunggal, jadi ia sering kesepian di rumah.

Cklek.

Terdengar pintu kamar yang terbuka, mengalihkan perhatian mereka. Sakura tahu siapa yang datang. Ia pun bangkit dan membereskan play station yang baru saja dimainkannya.

"Tadaima~"

"Okaerinasai."

Tak lama, terlihatlah Sasuke masuk. Sakura masih membereskan mainannya, sementara Rey terlihat memperhatikan Sasuke secara keseluruhan. Sasuke malah bingung mendapati ada anak kecil di apartemen-nya.

"Sakura, siapa anak ini?"

"Ah, namanya Rey. Sepertinya ia tersesat, jadi aku memintanya masuk sementara menunggu ibunya datang."

Sasuke hanya mengangguk-angguk mengerti. Ia meletakkan tasnya di sofa dan berjalan mendekati Rey. Sasuke hendak duduk di sofa sebelah Rey, tapi Rey mendadak bangkit dan memeluk Sasuke erat.

Sasuke bingung atas kelakuan anak kecil yang baru dilihatnya ini. Sakura sendiri sampai ikutan terkejut dan menghentikan kegiatannya. Dengan refleks Sasuke menjauhkan pelukan anak itu, tapi Rey malah semakin erat memeluknya.

"Papa~"

JDUAR!

Baik Sasuke maupun Sakura langsung mematung seketika. Mendadak menjadi batu setelah mendengar satu kata yang diucapkan Rey kepada Sasuke. Yang benar saja, apakah ternyata Sasuke adalah seorang ayah? Jadi benar, Rey itu anak Sasuke?

-ooOoo-

Padahal upacara pernikahan tinggal menghitung hari lagi. Tapi masih saja ada yang mengganjal rencana mereka. Setelah Sakura memberitahu ibunya mengenai kejadian di apartement itu, mereka langsung berkumpul di apartemen Uchiha.

Sakura terlihat syok sekali. Ia masih duduk bersandar di bahu sang ibunda, sedangkan yang lainnya hanya saling menatap bingung atas situasi ini. Sasuke sendiri mengaku kalau tak pernah merasa menghamili seseorang. Ia tentu saja pernah melakukan hal itu, tapi saat itu ia selalu menjaga agar pasangannya tak hamil. Tak mungkin pula ia ceroboh tanpa sadar.

Bahkan kini Itachi dan Fugaku yang sedang menjalankan bisnis di luar negri langsung melesat pulang setelah mendengar kabar ini. Itachi kini menghampiri adiknya yang sedang terpuruk di sofa.

"Hey Sasuke, kau ini nggak sedang main-main kan?"

"Niichan! Kau tahu sendiri kan kalau aku tak mungkin melakukan hal seperti itu!"

"Bisa saja kau melakukannya tanpa sadar?"

"Hell no!"

Itachi mengangguk-angguk. Namun sekali lagi ia memperhatikan Rey yang sedang bermain bersama Kaasannya. Ia memperhatikan ciri-ciri fisik Rey, memang Rey tak begitu mirip dengan Sasuke. Meski kadang kilatan matanya bisa menyerupai mata onyx Sasuke.

Itachi kini mendekati Rey, ia berjongkok untuk mensejajarkan dirinya. "Rey-kun, apa kau bisa memberitahu oniichan siapa nama mamamu?"

Rey menggeleng menjawabnya, "Tidak bisa. Soalnya Rey sudah berjanji sama mama. Rey nggak akan memberitahu siapapun identitas mama di sini."

"Hm..kalau begitu kenapa kau menyebut Sasuke—emm..kakak yang disana itu 'papa'? apa mamamu yang mengatakannya?"

Rey hanya menjawabnya dengan gelengan. berkali-kali Itachi bertanya pun Rey akan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Benar-benar sesuatu yang melelahkan. Mereka lagi-lagi harus menghadapi ujian seperti ini. Padahal sedikit lagi cerita ini tamat lho. Kenapa sih harus ada kejadian aneh di saat genting?

Akhirnya mereka memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari publik, mereka takut kalau hal ini bisa mengundang berita negative dan mempengaruhi bisnis kedua Klan ternama ini. Sementara Rey diputuskan untuk tinggal bersama Sasuke dan Sakura. Itu karena Rey mengatakan kalau mamanya akan menjemputnya di sana.

-ooOoo-

Blam.

Sakura menutup pintu apartement-nya perlahan. Kini seluruh keluarga besar telah pulang, tinggal Sasuke, dirinya, dan anak kecil—Rey—di sini. Sakura menghela nafas panjang, ia menoleh saat merasakan bajunya ditarik-tarik.

Rey sudah berada di belakang Sakura. Ia menatapnya dengan pandangan sayu. Sakura berjongkok, ia mengusap-usap lembut rambut hitam Rey dan tersenyum ramah. Rey berjalan maju memeluk Sakura.

"Rey ngantuk, neechan~ temani Rey bobo~"

Sakura yang mendengar rengekan Rey langsung luluh begitu saja. Ia menggendong Rey dan berniat membawanya ke kamar. Saat melewati Sasuke yang sedang menonton televise, ia mengerutkan dahi. Sasuke hanya menggumamkan kata 'apa' kepada Sakura.

Sakura tak memperdulikannya lagi, ia melanjutkan jalannya menuju kamar. Rey yang sedang dipeluk Sakura, menegadahkan kepalanya perlahan. Sasuke melihat hal itu, mata mereka saling bertatapan untuk sesaat. Kemudian sesuatu yang membuat Sasuke terkejut adalah, Rey menjulurkan lidah kepadanya.

"Cih, bocah itu!" decih Sasuke kesal. Ia pun hanya bisa menghabiskan waktu dengan mengganti-ganti chanel TV.

Sementara itu Sakura kini membaringkan Rey di atas ranjang. Rey menggeliyat manja pada Sakura. Ia sepertinya tak ingin ditinggalkan oleh Sakura, karenanya Sakura memutuskan untuk ikut berbaring di sebelah Rey.

"Neechan jangan tinggalin Rey ya~"

"Iya, neechan di sini temenin Rey. Rey bobo ya?" Sakura mengusap-usap rambut Rey lembut.

Rey memeluk tangan Sakura, "Ini baru pertama kalinya Rey ditemenin bobo, biasanya Rey bobo sendiri."

"Kan Rey udah gede, kalo boleh tau..sekarang Rey umurnya berapa?"

"Besok tepat 5 tahun."

"Wah, besok Rey ulang tahun ya?"

Bukannya senang, Rey malah terlihat lemas. Matanya berkilat sedih, tangan mungilnya semakin erat memeluk lengan Sakura. Entah kenapa Sakura seperti diseret masuk ke dalam dunianya. Dengan perlahan Sakura membenarkan posisinya dan kembali membelai rambut Rey.

"Rey kenapa? Oh ya, Rey bilang Rey selalu tidur sendiri. Emangnya mama nggak nemenin? Kenapa Rey nggak bobo bareng mama?"

"Mama cuma perhatian sama adik-adik. Mama bilang Rey udah gede, udah saatnya Rey mandiri tanpa mama dan Rey harus bisa jagain adik. Tapi mama nggak tahu, Rey selalu kesepian."

Sakura jadi terenyuh mendengarnya, "Kalo Rey kesepian, Rey boleh kok bilang ke mama. Mama Rey pasti ngerti, Rey sayang sama mama kan?"

"Rey sayang mama sama adik-adik."

"Nah, mereka juga pasti sayang sama Rey. Jadi Rey tenang aja yah~"

"Iya~" Rey menyunggingkan senyumannya kepada Sakura.

Cklek.

Kali ini pintu kamar terbuka, menginterupsi kegiatan curcol mereka. Sasuke terlihat menatapnya dengan sinis. Rey semakin mendekat ke arah Sakura. Sasuke mendecih melihatnya. Ia berjalan menuju tempat tidur.

"Sasuke, kau sudah mau tidur?" Sakura melirik jam dinding, tumben-tumbennya Sasuke tidur jam segini. Biasanya ia akan tidur sedikit lebih malam lagi.

"Hn. Aku bosan." Jawabnya asal sambil menempatkan posisi di pinggir dan menyelimuti dirinya.

"Yey, tidur sama papa." Sahut Rey girang.

Ucapan Rey itu jadi mengingatkan Sakura kalau Rey memanggil Sasuke 'papa'. Jujur saja, ia kecewa. Ia juga curiga mengenai kebenaran itu, tapi semua belum ada bukti yang bisa memastikannya. Sakura mencoba berpikir positive di saat seperti ini.

"Rey, besok kau mau jalan-jalan?"

Rey berpaling menatap Sakura, Sasuke pun langsung membuka matanya.

"Besok kan Rey ulang tahun, kita rayakan ya? Rey mau ke taman bermain?"

"Iya mau! Rey mau! Asyiiiikkk~!"

Sakura tersenyum melihat Rey yang langsung semangat. Tapi saking semangatnya Rey sampai terbangun dari tidurnya, karenanya Sakura kembali membaringkan Rey dan menyelimutinya.

"Kalian berisik sekali!"

"Kenapa, Sasuke? Kau juga mau ikut?"

"Tidak."

"Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Sasuke. Tidurlah yang nyenyak."

"Hn."

Setelahnya mereka pun tidur bertiga bersama, namun sebenarnya mereka tak langsung tidur. Itu karena Rey yang asyik bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya dan juga ia yang kelewat semangat karena besok diajak Sakura untuk jalan-jalan. Mereka tak sadar kalau semua ini berjalan sesuai rencana seseorang.

-ooOoo-

Sesuai yang telah dijanjikan Sakura, kini ia sedang bersiap akan jalan-jalan bersama Rey ke taman bermain. Sasuke masih berbaring di tempat tidur, ia belum menunjukkan reaksi akan bangun. Sakura berusaha tak membangunkannya, meski ia ingin Sasuke juga ikut dalam perjalanan ini.

"Sakura-nee, ayo ayo cepat~"

Sakura melirik Rey yang menarik-narik bajunya. Ia tersenyum sebelum melanjutkan menyisir rambut merah muda panjangnya. Rey yang sedang berada di tengah-tengah semangatnya langsung naik ke pangkuan Sakura.

Sakura memberikan sela agar Rey bisa duduk dengan tenang. Rey terlihat memperhatikan cermin. Ia memandang pantulan wajah Sakura di cermin, lalu beralih memandang dirinya sendiri.

"Ada apa Rey?"

"Kata mama, kalau ada laki-laki dan perempuan yang berwajah mirip berarti mereka berjodoh."

"Lalu?"

"Sakura-nee dan Rey berjodoh dong."

Sakura terkekeh mendengarnya, "Iya, kita berjodoh. Nah Rey, yuk berangkat. Nanti kita kesiangan."

"Ayooo~!"

Sakura pun menggandeng tangan Rey dan bersiap pergi. Sebelum meninggalkan kamar itu, Sakura melirik sosok Sasuke. Pemuda itu masih berbaring di atas ranjang dengan nyamannya. Sepertinya ia tidur sangat nyenyak. Sakura hanya tersenyum dan menutup pintu itu perlahan.

Saat mendengar pintu kamar tertutup, Sasuke membuka matanya. Ia terdiam sejenak, lalu sepertinya bergumam sesuatu yang tak jelas. Kemudian ia bangkit dan menuju kamar mandi.

-ooOoo-

"Fuwaaaa~! Kyaaa~!"

Rey menjerit-jerit girang melihat wahana-wahana yang ada di taman bermain itu. Hari ini hari libur, tentu saja pengunjung jadi lebih banyak dari biasanya. Sakura sedang membelikan es krim, ia menyerahkan es krim itu kepada Rey.

"Neechan, Rey maunya barengan sama Sakura-nee."

Rengekan manja Rey mau tak mau akan Sakura turuti. Ia menunduk dan menyeruput sisi kanan es krim vanilla itu. Sakura mengusap-usap rambut Rey. Rey langsung melahap es krim itu seketika. Padahal baru saja ia mengatakan akan barengan, tapi kini ia sudah menghabiskannya sendiri.

Rey sedang asyik duduk sambil menjilati es krim itu. Sakura melihat ada krim yang menempel di pipi Rey, ia terkekeh melihatnya. Lucu sekali kalau melihat anak kecil yang lahap makan sampai belepotan begitu. Sakura segera membersihkannya dengan tissue.

"Sakura-nee sadar nggak? Tadi Rey sama Sakura-nee ciuman tak langsung lho~"

Sakura tersentak kaget mendengarnya. Bisa juga anak seusia Rey mengatakan hal seperti itu. Ia mencubit pelan pipi tembem Rey.

"Rey~ Nggak boleh bicara seperti itu. Tuh habisin es krimnya."

"Aduuh~ iya~"

"Sakura?"

Sakura menoleh saat merasa seseorang memanggil namanya, ia kaget mendapati Ino dan Sai berada di sana. Ino pun segera menghampiri Sakura dan Rey. Sakura bangkit dan memeluk Ino sebagai ucapan salam.

Sementara itu Rey menatap tak suka kepada Ino yang memeluk Sakura. Pandangannya pun tak teralihkan dari Sai, mereka saling bertatapan. Sai memiringkan kepalanya, ia tersenyum kepada Rey. Namun entah mengapa Rey sepertinya tahu kalau itu hanyalah senyum palsu, ia mengalihkan wajahnya.

"Hey Ino~ kenapa kau bisa berada di sini~ dan…bersama Sai?"

"Ah, ini~ bagaimana ya~" Ino terlihat malu-malu.

"Astaga~ sejak kapan kalian…"

"Belum lama, hanya beberapa waktu yang lalu. Kau tak menyangka kan? Aku juga tak habis pikir. Bisa juga ya aku punya jalan cerita asmara seperti itu."

"Iya hi hi hi."

Kedua gadis ini sepertinya sedang asyik sendiri, meninggalkan dua orang laki-laki yang menatap mereka dengan tatapan bosan. Sai kini menempatkan dirinya duduk di sebelah Rey, namun Rey sepertinya tak memperdulikannya.

Merasa diacuhkan, Sai melirik Rey. "Hey adik manis~ siapa namamu?"

Rey hanya diam sambil menghabiskan es krimnya, sepertinya ia pura-pura tak dengar.

"Adik kecil, kakak tanya siapa namamu? Kenapa kau bisa bersama kak Sakura?"

Rey masih tak memperdulikan Sai. Ia kini sudah menghabiskan es krimnya, namun tangannya kini lengket semua.

Sai mendengus menahan kesalnya, "Sini biar kakak bantu bersihkan~"

Saat Sai hendak mengeluarkan sapu tangannya, Rey langsung bangkit dan menempelkan tangannya ke mulut Sai. Tangan mungilnya yang dipenuhi krim vanilla ia balut-balutkan ke pipi Sai. Sai pun refleks menjauh, saat itu pula mata Rey langsung berlinang dan menjerit.

Mendengar adanya kegaduhan di belakang mereka, Sakura dan Ino menoleh. Betapa kagetnya mereka mendapati Rey yang menangis tersedu-sedu dengan Sai yang sepertinya sedang kewalahan menenangkan Rey. Sakura dan Ino segera menemui mereka.

"Rey, Rey Sayang~ kamu kenapa?" Sakura berjongkok sambil menepuk-nepuk pundak Rey.

"Huaaa~! Huaaa~ hiks hiks~ kakak ini memakan es krim Rey~ hiks~ Huaaa~ hiks!"

Toeng?

Seluruh pandangan pun langsung tertuju pada Sai. Sakura dan Ino mengerutkan dahinya menatap Sai tak percaya, sedangkan Sai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengibas-kibaskan tangannya memberitahu kalau itu bukan salahnya.

Dibalik Sakura dan Ino yang sedang memarahi Sai, Rey menghapus air matanya dan melirik Sai. Hanya Sai yang bisa melihatnya, melihat Rey menjulurkan lidah ke arahnya. Sai benar-benar geram, ia langsung berlalu pergi. Ino pun menyusulnya, Sakura kini kembali meneruskan jalan-jalannya bersama Rey.

Sepertinya Rey memang mirip sekali dengan Sasuke. Dia begitu protektif kepada Sakura, dan ingin memonopoli Sakura sutuhnya. Meskipun masih anak-anak, sepertinya ia juga memiliki kecerdasan otak seorang Uchiha. Apa benar Rey itu anak Sasuke?

-ooOoo-

"Oneechaaaaan~" Rey berlari menuju Sakura yang sedang memasak di dapur.

"Ada apa, Rey? Kau sudah mulai lapar? Tunggu sebentar yah~ kau duduk dulu saja di sana."

Rey mengangguk dan menuruti Sakura duduk di kursi. Sakura menampilkan senyumannya kepada Rey, lalu ia kembali bergulat dengan sup tomat yang dibuatnya. Tak lama Sasuke masuk ke dapur, Sakura memintanya untuk duduk di sebelah Rey.

Sekilas tatapan Rey dan Sasuke bertemu, menghasilkan setruman magis yang tak terlihat namun bisa mereka rasakan. Sayangnya Sakura tak melihatnya jadi ia tak merasakannya. Sasuke pun mencoba tak memperdulikan Rey dan duduk di sebelahnya.

Tiba-tiba saja Rey menarik-narik kaos Sasuke, membuat sang empunya melirik. Sasuke bisa melihat senyuman Rey yang memiliki daya tarik yang cukup mengerikan baginya. Sasuke mengerutkan dahi. Sepertinya Rey sedang mendeklarasikan perang kepadanya.

"Nah selesai~" Sakura segera menghidangkan semangkuk besar sup tomat ke meja makan. "Ayo dimakan selagi masih panas~"

"Wuaaa~ ini makanan kesukaan Rey~ kok Sakura-nee tau? Waaah~"

"Ini juga masakan kesukaanku."

Rey melirik sinis ke arah Sasuke, "Oh ya? Rey tak menyangka~ Rey pikir Sasuke-nii itu nggak suka hal-hal manis seperti ini. Ternyata memang penampilan bisa menipu yah~"

Sasuke langsung melirik tajam ke arah Rey, mereka saling memancarkan aura membunuhnya. Tapi sekali lagi sayang Sakura tak melihatnya, jadi ia tak bisa merasakannya. Sakura sedang sibuk membagi sup itu ke mangkuk Sasuke dan Rey.

Dengan canggung dan suasana yang kaku, mereka pun menyelesaikan makan malam. Sakura dan Rey bercerita panjang lebar mengenai pengalaman mereka di taman bermain, Sasuke yang tak ikut jadi diam saja mendengarkan. Sesekali Sasuke mengalihkan pembicaraan dan membuat Rey merajuk.

Sakura kini sedang membereskan ruang makan, dan Rey membantunya. Sasuke masih duduk diam di sana dengan segelas air putih di hadapannya.

Sakura menerima piring kotor yang Rey bawa, "Terima kasih~"

Rey pun tersenyum membalasnya, Sakura menghadiahkannya usapan lembut di kepala. Sekali lagi saat Sakura tak memperhatikan, Rey berpaling menatap Sasuke dan kembali menyeringai. Sasuke menggeram melihatnya, ia langsung meneguk habis gelas berisi air putih itu.

"Sakura-neechan~" Sakura kembali menoleh saat Rey menarik-narik kaosnya. "Rey pingin mandi~ Rey belum mandi dari pagi tadi~"

"Ah iya, benar juga. Kau belum mandi, baiklah tunggu sebentar yah."

"Neechan, neechan. Sakura-nee juga belum mandi kan? Neechan juga berkeringat~"

Sasuke memperhatikan mereka dalam diam. Ia menatap sinis ke arah bocah lelaki yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Rey kembali menyeringai dan menampilkan senyuman polosnya kepada Sakura.

"Kita mandi bareng yuuuk~"

BRAK!

Bersamaan dengan rengekan Rey, suara gebrakan meja terdengar. Mereka pun menoleh, ternyata Sasuke yang melakukannya. Kini aura horror sudah terpancar dari sekujur tubuhnya. Sakura dan Rey sampai merinding dibuatnya.

Dengan jalan yang tegas dan hati-hati Sasuke mndekati Rey. Hal ini membuat Rey beringsut bersembunyi di balik tubuh Sakura. Sakura yang sama-sama ketakutan juga hanya bisa melangkah mundur menjauhkan diri.

"Kau mandi denganku, bocah!"

"Tidaaaakkk~! Sakura-neeechaaaaannn~"

Dengan itu pun rencana Rey yang ingin mandi dengan Sakura malah berantakan dan gagal total. Sakura hanya bisa mendengus menahan tawanya saat melihat Sasuke menggendong Rey di pundaknya dan Rey yang meronta-ronta untuk turun.

Sepertinya mereka sudah menyerupai sebuah keluarga. Sakura tersenyum lembut, andai saja benar Rey adalah anak Sasuke. Ia tak bisa menghindarinya lagi, bagaimanapun saat kebenaran terungkap..Sakura sudah siap menerima Rey sebagai anaknya.

-ooOoo-

Setelah kejadian ditemukannya anak lelaki berumur 5 tahun di depan apartemen Sasuke dan memanggil Sasuke 'papa' itu, upacara pernikahan pun siap dilaksanakan. Bertepatan dengan hari ulang tahun Sakura. Kini Sakura sedang mencoba gaun pengantin yang dibawakan oleh Kaasan-nya.

"Wahh~ cantik sekali, Kaasan~"

Sakura mengamati sekujur tubuhnya yang dibalut gaun pengantin berwarna merah muda cerah dan dihiasi berlian-berlian berbentuk kelopak bunga sakura. Sakura sempat khawatir saat Kaasan-nya bilang kalau ia sudah menemukan gaun pengantin yang cocok untuknya, ia takut kalau-kalau Kaasan-nya ini memilihkan yang aneh-aneh lagi.

Sakura bergerak ke sana kemari, ia mengibas-kibaskan gaunnya itu. Saat ini ia merasa seperti seorang putri sungguhan. Dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai dan sedikit bergelombang itu dihiasi oleh mahkota bunga.

"Sakura-neechan cantik sekali~"

Sakura tersenyum melihat Rey yang bersemu melihatnya, ia menunduk untuk bisa menggendong Rey. "Rey juga tampan sekali dengan blazer itu~"

"Rey mau menikah sama Sakura-nee~" Rey langsung memeluk tubuh Sakura.

"Hey, hey, terlalu cepat sejuta tahun untukmu bisa mendapatkan wanita secantik Sakura. Dan sayang sekali, wanita ini adalah milikku~"

Sakura tak menyangka Sasuke sudah berada di sampingnya. Lengan kekarnya melingkar di pundak Sakura, Rey yang melihatnya jadi gusar. Ia memajukan bibirnya ngambek. Sakura hanya tertawa geli melihat tingkah kedua 'pria'nya ini.

"Kau menyukainya, Sakura? Ini adalah gaun yang khusus dibuat untukmu dengan imej-mu di hari ini."

Sakura sempat terkejut tak percaya mendengarnya, Kaasan-nya yang melihat mereka pun hanya bisa tersipu-sipu malu. Tak ingin mengganggu mereka, ia pun pergi meninggalkan ruang ganti itu. Sakura mengangguk, ia seperti akan menangis karena saking bahagianya.

Sekilas mereka sudah terlihat seperti sebuah keluarga sah sekarang. Senyuman kebahagian mengembang diantara mereka. Tanpa mereka sadari seseorang mendekat ke arah mereka.

"Nah, kalau begitu bisakah kalian kembalikan malaikat kecilku itu?"

Semua yang ada di sana pun menolehkan pandangan mereka, dan betapa terkejutnya mereka saat mendapati kalau itu adalah sosok Karin. Karin sudah berdiri di samping pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Karin terlihat tersenyum memandangi mereka, "Rey, kau sudah puas bermain dengan mereka kan?"

"Mama~"

Dheg.

Sakura dan Sasuke langsung membulatkan mata, Rey sebenarnya masih ingin bersama Sakura, tapi Sakura segera menurunkannya dan Rey berlari menuju Karin. Kini Rey berpindah ke gendongan Karin. Karin membelai lembut rambut putra-nya itu.

Sungguh ini bukan suatu masalah baru lagi kan? Tinggal beberapa menit lagi mereka resmi menikah lho~ apa ini merupakan peringatan Tuhan bahwa mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama?

Karin yang merasa adanya aura kebingungan menguak dari sisi kedua calon mempelai, kini tertawa renyah. Hal ini semakin menggelak tanda tanya diantara Sasuke dan Sakura. Kalau mau bersumpah, Sasuke tak merasa pernah menghamili Karin. Lalu sebenarnya apa yang sedang terjadi?

"Ha ha ha, muka kalian itu aneh sekali. Bingung?"

"Karin, katakan yang sebenarnya… Rey itu…anakku?" Sasuke bertanya hati-hati.

Karin melirik Rey, dan Rey menatapnya balik. Mereka sama-sama tersenyum. "Biar Rey yang menjawabnya. Ayo Rey, katakan yang sebenarnya kamu ini siapa?"

"Namaku Reyhan Meiyuki, umur 5 tahun. Papaku Johan Meilogh, adalah seorang jurnalis di Jerman dan Mamaku Karin Shirayuki, adalah seorang wartawan." Rey kembali memperkenalkan dirinya sambil membentuk tanda 'peace' ke arah Sakura dan Sasuke.

"Apa?! Jadi.. Rey itu…" Sakura menutup mulutnya tak percaya. "Lalu kenapa Rey memanggil Sasuke 'papa'?"

Karin dan Rey saling berpandangan dan tersenyum, "Itu karena kami ingin mengerjai kalian saja."

"APA?!"

Syukurlah ternyata Rey dan Karin tak menjadi pengahambat untuk kehidupan mereka selanjutnya. Meski akhirnya Sasuke kesal karena merasa ditipu, dan Sakura juga kecewa karena sudah mempercayainya. Tapi sejujurnya mereka lega, setidaknya ini membuktikan Rey memang bukan anak Sasuke.

-ooOoo-

Teng Teng Teng.

Kini upacara pernikahan berlangsung. Suara lonceng gereja yang menggema membuat hati berdebar-debar. Sakura kini terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantinnya dan buket bunga di tangannya.

Beberapa orang penting hadir di upacara itu. Kedua tetua Haruno dan Uchiha saling berjejeran sambil menatap sosok bahagia anak mereka. Itachi juga seperti biasa sedang dikerubuti oleh wanita-wanita yang menggodanya, namun sayang sekali perhatiannya hanya tertuju pada altar di depan sana.

Tak lupa juga Ino dan Sai ikut datang. Ino terlihat kagum akan kecantikan Sakura yang sedang berjalan menuju sisi Sasuke di atas karpet merah. Sai melirik Ino sekilas, lalu selanjutnya ia meraih tangan Ino dan menggenggamnya.

Pandangan mereka kembali ke altar dimana Sakura dan Sasuke sudah berada di sana. Pernah sekali saat Sai menyatakan perasaannya pada gadis merah muda itu, tapi kini itu adalah masa lalu. Masa lalu yang akan dikenangnya lagi bersama suatu saat nanti. Kini di sampingnya sudah ada seseorang yang berharga untuknya. Sai melirik Ino dengan senyuman lembut.

Hal yang sama terjadi juga pada Karin. Sebenarnya ia datang untuk meliput mengenai resepsi pernikahan kedua Klan terkenal itu, tapi ternyata ia malah dengan jahilnya berkolaborasi dengan Rey untuk mengerjai pasangan muda itu. Alhasil mereka sempat tertipu, beruntunglah Rey bisa terus menjaga informasi mengenai Karin.

Saat buket bunga di tangan Sakura dilempar, seluruh orang berburu buket itu. Namun ada satu orang yang tak bergerak dari posisinya, dan malah orang itu yang mendapatkannya. Tebak orang itu? Dia adalah Sai. Sai sendiri sampai kaget dibuatnya.

Sekilas seluruh pandangan menuju ke arahnya, ia bingung harus dikemanakan buket itu. Namun ia melihat sosok Ino tak jauh darinya. Dengan refleks ia segera menghampiri gadis itu. Sakura yang melihatnya sampai takjup saat Sai berlutut di hadapan Ino.

Sai menyodorkan buket bunga itu ke arah Ino. Dengan mata berkaca-kaca Ino menatap Sai. Dengan senyuman lembut Ino sudah bisa mengerti maksudnya, ia mengangguk menyetujuinya dan mereka berpelukan di sana.

Seluruh tamu undangan pun bertepuk tangan memeriahkan suasana. Di belakangnya, Sakura dan Sasuke berpelukan. Dengan cincin yang mengikat mereka, dan benang merah yang tak terlihat membuat mereka bisa melalui semua rintangan di hadapan mereka.

"Mungkin akan lebih menyenangkan kalau Rey benar-benar anakmu ya?"

"Tidak mungkin. Dia sama sekali tak mirip denganku. Lagipula aku tak ingin memiliki anak senakal dia."

"Memangnya dia nakal bagaimana, Sasuke? Rey anak yang manis kok."

Seketika Sasuke memberikan ciuman janji sucinya kepada Sakura, ia bukannya mencium Sakura sekilas namun malah menarik kepala wanita itu dan membawanya dalam ciuman panas.

Seluruh keluarga besar hanya bisa malu-malu melihat adegan ini. Tapi ini merupakan bentuk kebahagiaan mereka sendiri. Setelah berselang lama, Sasuke melepaskan ciumannya.

"Kalau kau menginginkan anak, aku akan memberikannya kepadamu. Akan kupastikan anak itu menjadi anak yang hebat nantinya. Dan itu akan jadi hadiah ulang tahunmu dariku."

Sakura kini hanya bisa menangis bahagia mendengarnya. Ia tak menyangka, bahwa perjalanan hidupnya yang panjang dan melelahkan itu bisa berakhir sebahagia ini. Tak pernah sekalipun ia berpikir bahwa suatu saat bisa memiliki alur cinta yang begitu rumit, kini ia sadar apa yang tak mungkin itu bisa saja terjadi.

Semua memiliki kisahnya sendiri. Masa lalu yang tak bisa dilupakan dan menyakitkan itu pun bisa menjadi bagian darinya. Kalau semua dirangkai menjadi satu, akan mengahsilkan harmoni kehidupan yang sebenarnya. Seperti sebuah syair yang sering kali disebutkan, bahwa..

Semua akan jadi indah pada saatnya.


Happy End

-OWARI-


Kyaaaaaa, tamaaaatt~! xO
Apakah endingnya bisa membuat kalian geregetan, pemirsa? :3

Shera mau tanya nih, apa FFn lagi trouble yah?
Katanya Fict Shera nggak bisa diliat n harus ke google search dulu?
Soalnya kok viewers-nya menurun gitu~ T.T (bukan karna udah pada bosen sama Shera kan?)

Shera mau ngucapin sankyuu banget nih buat para sobat Shera yang udah dukung Shera terus.
Shera nggak akan bisa bikin Fict bagus kalo nggak didukung kalian semua.. :')
Bagi Shera kalian teman sekaligus guru Shera yang berharga~

Sampai ketemu di Fict Shera selanjutnya ya~
Karna udah mau lebaran, Shera mengucapkan..
Minal Aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin. :)

Salam hangat selalu buat kalian,
Shera Liuzaki