Pagi ini, Eren terbangun ketika telinganya mendengar suara ketukan pintu. Sembari meringis, ia menoleh ke samping untuk membangunkan Armin yang tertidur dengan futon di lantai. "Armin, bangun. Ada yang mengetuk pintu," panggilnya.

Armin membuka matanya yang terasa berat. Ia baru saja akan berdiri saat mendengar ketukan pintu, seperti yang Eren bilang. "Iya, tunggu!" sang pemilik rambut pirang berseru kepada tamunya.

Ketukan tersebut segera berhenti setelah Armin menyuruh sang pengetuk untuk menunggu. 'Sopan sekali,' pikir Eren. Sedari tadi, ia hanya mendengar pintu diketuk dengan lembut, bukan secara tidak sabaran seperti orang yang sudah menunggu dua hari.

Berat, Eren mencoba untuk bangkit. Sedikit banyak ia penasaran juga soal siapa yang mengetuk pintu. "Masuklah," suara Armin menghentikan langkah Eren. Oh, itu pasti temannya. Eren mengintip sedikit dari dalam kamar, tak mau mengganggu mereka yang sedang mengobrol di ruang tamu mungil apartemen milik Armin Arlert.

Mereka berbincang sedikit, tertawa-tawa, berkelakar. Wajah sang tamu tak begitu terlihat di mata Eren, namun ia tahu ada sebaris warna hitam tepat di samping kepala Armin. Tidak begitu dekat, namun masih terlihat.

Tak lama, Armin menoleh ke belakang, memergoki Eren yang sedang mengintip mereka. "Ah, ayo sini, Eren. Kukenalkan dengan teman lamaku," tawarnya. Eren terkejut sebentar, namun segera mengangguk sedikit, dan berjalan menuju sofa tempat mereka –Armin dan tamunya- berbincang.

Untuk sesaat, Eren terdiam.

Rambut sehitam tinta, mata sekelam malam, dan kulit sekuning langsat.

"Mikasa?"


.

.


Other World

Chapter 2:

The Other Mikasa

Disclaimer:

Shingeki no Kyojin (C) Hajime Isayama

Warning:

Sho-ai, (untuk chapter ini sedikit) ErenxArmin, JeanxArmin, dan JeanxMikasa, ooc, awas typo, AR nyelempit AU

Tidak suka jangan baca


.

.

.


"Kau siapa?" tanya tamu Armin, seorang perempuan berwajah oriental yang dipanggil Eren sebagai Mikasa. Untuk sejenak, Eren terperangah, Mikasa sama sekali tidak mengenalnya. Namun ia segera sadar, ini bukanlah dunianya. Tidak semua orang yang ia kenal juga mengenal dirinya.

Armin segera menepuk tangan, untuk mencairkan suasana. "Kenalkan, Mikasa. Dia Eren Jaeger, teman baruku. Eren, dia ini adalah Mikasa Ackerman, temanku saat SMA. Dia setengah Jepang," jelasnya. Mendengar kata 'Jepang', Eren teringat dengan futon yang dipakai Armin tadi malam.

"Futon tadi malam itu hadiah dari Mikasa?" tanyanya, yang langsung disambut dengan anggukan dari Armin. Ketika Eren menghadapkan kepalanya kepada Mikasa, gadis itu segera menundukkan kepala, bersikap seperti mengucapkan salam.

"Saya Mikasa Ackerman, salam kenal," katanya sembari mengangkat kembali kepala hitamnya. Eren terpekur kembali, Mikasa yang ini berwajah sangat mirip dengan Mikasa yang ia kenal. Bermuka datar dan hanya bicara seperlunya.

Hanya, ia tidak menyangka, Mikasa yang ini benar-benar sopan. Padahal di dunianya, Mikasa bisa dibilang sebagai gadis yang kasar, dan memiliki kekuatan berlimpah.

Armin kembali menengahi ketika melihat Eren bengong sendiri. "Mikasa ini, ibunya orang Jepang, ayahnya dari Stuttgart. Keluargaku dan keluarga Ackerman dulunya juga tinggal di Stuttgart, tapi kami berdua pindah ke Munich untuk kuliah, dan mendapat pekerjaan di Berlin setelah lulus."

"Mendapat... pekerjaan?" kernyit Eren. "Eh-hei, memangnya seusia kalian bisa dapat pekerjaan? Ini tahun berapa?" Mikasa dan Armin berpandangan, berkedip bersamaan, dan saling berbisik. Sesekali Mikasa mengangguk-angguk, mungkin Armin sedang menjelaskan sesuatu.

Tak lama, wajah keduanya kembali menghadap kepada Eren. "Ini tahun 1986, kami sama-sama dua puluh lima tahun," Armin menjawab tenang. Eren mengernyit kembali, 1986? Wah jauh sekali, padahal ia kira ini baru tahun 850, dan tahu-tahu sudah 1986? Sudah seribu tahun lebih rupanya.

"Oh iya, Armin. Aku ada oleh-oleh, tempat kerjaku mengadakan wisata ke Rusia minggu lalu, ini untukmu," Mikasa memberikan sebuah boneka bergambar seorang wanita yang agak aneh, gemuk dan tersenyum ramah. "Dan ini dari Jean, kau tahu, dia selalu menanyakanmu. Kalaupun menanyakan pendapatku, pasti dia akan bilang 'hei Mikasa, menurutmu ini cocok dengan Armin?' dan semacamnya. Aku benar-benar muak mendengarnya," tutur Mikasa panjang, di tangannya terdapat sebuah mantel tebal dengan bulu serigala Siberia. Hadiah dari Jean.

Lagi-lagi, Eren menganga. Ia memang tidak mengerti apa itu Rusia, apa nama benda yang dibawa Mikasa, atau disebut apa boneka itu, tapi... "Jean itu... Jean Kristchein?" tanyanya, Armin dan Mikasa berpandangan lagi.

"Iya, Jean Kristchein, dia itu.. dulunya menyukai Mikasa, tapi karena Mikasa tidak akan mempedulikan laki-laki yang lebih lemah darinya, jadi dia berpaling... padaku.." nada bicara Armin yang seakan meratapi nasib, membuat Eren sedikit bersimpati. Kasihan sekali anak ini.

Yah, mungkin beberapa sifat dari orang-orang di dunianya juga ada pada 'kembaran' mereka. Hei, apakah Jean yang ada di dunianya juga seperti itu? Menyerah akan Mikasa dan berpaling kepada Armin? Mentang-mentang Armin itu manis, seenaknya saja dia mau mengembat sahabat baik Eren.

Dan lagi... Eren juga sedikit menyukai Armin. Mungkin...

Tak lama, Mikasa berdiri. Ia meninggalkan kotak hadiah yang ia berikan pada Armin, sebelum berjalan ke luar pintu. "Aku pulang dulu, Armin. Oh, iya, sebaiknya kau lebih tegas menolak Jean, kalau tidak begitu nanti dia tidak akan berhenti mengejarmu," tukasnya sembari menunjuk wajah Armin tepat di hidung. Armin menanggapi dengan senyum ramah dan lambaian tangan yang canggung.

Tubuh rampingnya ia hempaskan di samping Eren, menyandar di atas sofa. Sekilas, mata birunya melihat kepada pemuda berambut hitam itu. Masih memakai seragam militer yang kemarin, walaupun rompinya sudah dilepas, tapi celana ketat dan kausnya masih melekat.

"Sebaiknya kau mandi dan ganti baju, Eren. Pakaianmu sudah kotor," ucap Armin ketika ia memutuskan untuk menyalakan televisi. Bosan. Eren diam saja, tidak beranjak dari tempatnya, bahkan tidak merubah posisi duduknya.

Armin tertawa kecil, dengan wajah yang sedikit memerah. "Kau bisa pakai bajuku yang agak besar, cari saja di lemari," senyumnya, mengerti dengan diamnya Eren. Disambut dengan anggukan canggung dari si pemuda hitam, Armin mengganti channel televisinya.

Selang beberapa menit, Armin mengira Eren sudah berada di dalam bak mandi, dan berendam dengan nyaman. Pikirannya berkonsentrasi hanya ke televisi, bersiap untuk mencerna siaran berita selanjutnya, sebelum ia...

"UWAAAA~!"

... mendengar teriakan dari arah kamar mandi. Pasti Eren. Siapa lagi?

Cepat, Armin melangkahkan kakinya ke kamar mandi satu-satunya di apartemen yang ia sewa. Membuka pintu dengan paksa, ia melihat Eren yang berkeadaan sangat mengerikan. Serta merta Armin menutupi wajah merahnya dengan sebelah tangan.

"Ada apa Er-KYAAAA~!"

Kali ini, ganti ia yang berteriak. Salahkan Eren yang tidak mengunci pintu kamar mandinya dan sedang berada dalam keadaan tidak memakai apa-apa. Polos tanpa sehelai benang pun yang membungkus tubuhnya.

Hei, apa dia tidak pernah mendengar kata 'handuk'? Paling tidak, sebelum masuk ke dalam bak, harusnya siapkan handuk dulu, kan?

"A-Armin!" pekik Eren, secara refleks menutupi bagian privasinya. Masih menutupi matanya, sebelah tangan Armin yang bebas menggapai-gapai dinding, mencari saklar lampu, sekedar untuk menggelapkan pandangannya agar tidak bisa melihat dengan jelas tubuh Eren. "Kau kenapa? Apa ada masalah?"

Eren yang sedikit terkejut dengan gelapnya keadaan, segera menemukan sebuah kain yang bisa digunakan untuk menutupi tubuhnya. Sebut saja kain itu sebagai handuk. "T-tadi aku baru saja mau masuk ke dalam bak, ternyata airnya panas sekali," sahut Eren takut-takut.

"Ka-kalau begitu, tunggu saja sebentar lagi, sekitar lima menit! Setelah itu kau baru boleh masuk ke air," Armin berkata cepat, dan masih tidak ingin membuka matanya. Sedikit canggung, Eren menatapi Armin yang bersikap seperti anak kecil baru saja melihat adegan dewasa.

"Eum... kurasa kau sudah boleh membuka matamu, Armin. Aku sudah memakai handuk, kok," lapor Eren sembari menggaruk tengkuk. Si pirang membuka matanya pelan-pelan, sesaat kemudian, ia bernapas lega.

Eren, yang sudah memakai handuk di pinggang, langsung melangkah keluar dari kamar mandi. Armin segera masuk, mau mengukur suhu air yang telah dimasukkan Eren ke dalam bak.

Armin memasukkan tangannya ke air, namun belum sampai sedetik tangannya keluar lagi. Memang terlalu panas. Apa Eren memasukkan air mendidih ke dalam bak? Entahlah, yang pasti asalkan airnya tidak terbuang, boleh saja.

Si pirang melangkah ke dalam kamarnya, seketika ia melihat Eren dengan punggung yang menghadap padanya. Punggung itu membiru, memar. Mungkin karena sewaktu jatuh kemarin, tubuh bagian belakangnya menghantam trotoar.

Sebenarnya, Armin iba juga melihat warna biru jelas yang tercetak di punggung Eren. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlalu baik dengan membawa orang asing seperti Eren masuk dan menginap di dalam rumahnya.

Armin tersentak sedikit. Bukan, Eren bukanlah orang asing. Mungkin memang kebetulan wajahnya sama dengan temannya, tapi Armin yakin Eren bukanlah orang asing.

Ia pernah... bertemu Eren sebelum ini. Makanya ia berani membawa Eren menginap.

"Kau sedang apa, Eren?" Armin mendudukkan dirinya di atas kasur tempat Eren berbaring. "Menunggu," Eren menjawab sekenanya, tanpa membalik badan. Armin tidak membalas, dan selama lima menit ke depan mereka saling terdiam.

Paling tidak, Eren melihat jejak air mata Armin yang dihapus asal-asalan oleh si mata biru, ketika ia lewat di depannya. Eren tidak tahu kenapa Armin menangis, tapi ia tahu Armin tidak suka kalau hal itu diungkit-ungkit, jadi ia mamutuskan untuk membiarkannya.

Eren menutup pintu kamar mandi, menguncinya, dan melepas handuk yang melilit di pinggangnya sebelum menceburkan diri ke dalam air yang sudah agak hangat. Mungkin suhu air yang sudah mendingan bisa merilekskan pikiran. Haa, sudah lama sekali ia tidak mandi air hangat. Kalau dulu, ibunya pasti akan memasak air dan memasukkannya ke dalam bak untuknya berendam.

Ah, Eren teringat ibunya. Ibunya yang lembut hati namun tegas. Ibunya yang senantiasa tersenyum untuk semua orang. Ibunya yang sangat menyayangi keluarganya. Ibunya yang suka memarahinya. Ibunya yang mengajari Mikasa memasak. Ibunya yang...

... beberapa tahun lalu, menjadi mangsa titan.

Sedetik, Eren mengepalkan tangannya, kuat. Hingga ruas jarinya memutih. Hatinya dibakar api kemarahan. Otaknya dipenuhi dendam. Tubuhnya dikuasai kemurkaan. Ia bersumpah akan menghabisi seluruh makhluk biadab yang memangsa ibunya itu. Pasti.

Untuk itu, Eren harus mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini dulu.

Menit demi menit berlalu, Eren masih berendam dalam bak mandi. Tidak sabunan, tidak sikat gigi, tidak shampoan, hanya berendam. Peduli amat badannya yang masih bau darah dan belum dibersihkan.

Ia hanya ingin merenung sebentar lagi. Eren hanya ingin mengenang masa-masa di mana ia masih berada di dunianya. Dunia yang dikelilingi tiga lapis dinding setinggi lima puluh meter. Dunia yang setiap harinya sejak lima tahun yang lalu selalu dihantui akan keberadaan titan. Dunia di mana Armin, Mikasa, Jean, dan teman-temannya yang lain mengenalnya.

Tak lama, pintu kamar mandi diketuk, sudah pasti Armin. Hei, berapa lama Eren berada di kamar mandi?

"Eren, kau sudah selesai? Kau sudah di sana selama satu jam, kau tidak pingsan, kan?" Armin bertanya khawatir dari balik pintu. Eren menggeleng, meski ia tahu Armin tidak akan bisa melihat. "Tidak apa, Armin. Kau mau pakai kamar mandinya?" ia bertanya balik.

Armin melangkah ke depan pintu, setelah tadinya menuju lemari untuk mengambil pakaian. "Tidak, kukira kau pingsan. Aku nanti saja, kusiapkan pakaianmu," seru Armin, sembari melangkah lagi ke depan lemari. Ia tidak memiliki baju yang muat dengan tubuh Eren, semuanya pasti terlalu kecil untuk ukuran pemuda bersurai hitam itu.

Eren keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang dan rambut yang basah. Tubuhnya memancarkan bau sabun yang biasa Armin pakai, beraroma jeruk lemon. Rupanya ia memutuskan untuk membersihkan diri setelah satu jam merenung di dalam bak mandi.

Armin menarik kaus putih polos, yang tak pernah dipakainya karena kebesaran, dari dalam lemari, beserta celana selutut warna hitam. Pakaian yang dipakai Eren sebelumnya ia masukkan ke dalam keranjang cucian.

Si pirang duduk kembali di sofa, setelah tidak menemukan Eren di dalam kamarnya, mungkin sudah ganti baju. Kalau begitu, ia ingin melanjutkan tontonan berita di televisi yang tadi sempat tertunda.

Tak sengaja, Armin melihat Eren, sepertinya sedang mencari sesuatu. "Armin, kau lihat 3D Manuever Gear-ku? Kau menyimpannya di mana?" ia bertanya, sambil membuka lemari dapur milik Armin, tentu saja isinya hanya panci dan kuali.

Pemuda pirang itu memiringkan kepala, sesaat tidak mengerti, namun otaknya yang cerdas dapat mencerna benda apa yang dimaksud Eren. "Oh, benda itu kujemur di balkon. Tadinya mau kucuci tapi aku lupa, jadi hanya kulap saja dengan pembersih kaca, bau darahnya menyengat sekali," sahut Armin sembari menunjuk balkon. Memang ada benda yang dimaksud Eren, sedang dijemur di atas tiga buah kursi.

Eren segera berlari melihat 3D Manuever Gear-nya. Masih tersisa sedikit bau darah, tapi sepertinya tidak basah. Ia menekan tombol di gagang pedangnya, dan seketika sebuah tali beserta pengaitnya langsung menancap di batang pohon. Masih berfungsi, baguslah. Setidaknya ia tidak perlu menggantinya ketika sudah pulang nanti.

"Sepertinya benda itu sangat penting buatmu, apa fungsinya?" tanya Armin tiba-tiba. Ternyata ia sudah berada di samping Eren saat si hitam sedang menguji senjatanya. "Bukan hanya untukku, tapi juga seluruh anggota militer. Kau lihat ini?" tangan Eren memegang erat mesin pelontar.

Armin mengangguk mantap, penasaran. "Di dalamnya ada mesin pelontar mekanik dan tali yang panjang. Tali di bagian luar menyambung ke kedua pedang ini, kalau tombol ditekan," Eren menekan tombol di gagang pedangnya sekali lagi. Sama seperti sebelumnya, sebuah tali berujung pengait menancap di batang pohon yang lain. "tali di dalam mesin ini akan keluar dengan cepat. Pengait akan menancap di tempat yang menjadi tujuan."

Armin mengangguk-angguk antusias. Sepertinya menyenangkan sekali. "Lalu, orang yang memakai ini akan 'terbang' sesuai jalur tali, didorong dengan gas yang berada dalam dua tabung ini. Kami akan menebas titan dengan pedang," Eren memasukkan lagi tali yang terlontar ke dalam mesin.

Mata biru Armin berbinar-binar, mengagumkan, dalam hatinya. Peralatan dan pemikiran orang-orang di dunia Eren benar-benar canggih. "Keren! Orang-orang di dunia kalian pintar sekali! Boleh kucoba?" Armin menggenggam kedua tangan Eren, mengeluarkan pandangan memohon yang untuk orang-orang tertentu dapat membuat mereka mimisan.

Tes.

Tak terkecuali Eren.

"E... eum..." Armin menyodorkan tisu yang ia ambil dari atas meja dekat tempat tidur kepada Eren. Pemuda itu segera membersihkan hidungnya dari cairan merah. Baiklah, ia akui Armin di dunianya memang manis, tapi ia tidak menyangka efeknya akan sampai seperti ini. Mengerikan.

Armin, setelah menyodorkan tisu, tetap menatap Eren antusias seakan bukan dialah penyebab darah yang keluar dari hidung Eren. "Jadi bagaimana? Apa aku boleh mencobanya?" ia bertanya kembali. Membuat Eren tidak tega.

Meski begitu, bagi pemula seperti Armin –Eren yakin Armin yang ini pasti belum pernah mengenyam pendidikan militer, lihat saja badannya mungil dan ramping begitu meski usianya sudah kepala dua- pasti akan sulit menyesuaikan diri dengan mesin itu.

Ah, Eren jadi teringat dirinya sendiri. Dulu waktu masih sekolah, ia sering sekali bergelantung terbalik saat latihan karena belum terbiasa.

"Boleh, sih, tapi kau harus 'terbang' bersamaku," kata Eren, bermaksud untuk jaga-jaga kalau Armin nantinya terbalik. Karena ia yang sudah membuat Armin penasaran, tentu ia harus bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu, dan untuk mengantisipasinya, ia harus menemani Armin 'terbang'.

Si pirang yang sudah tidak peduli apa pun –yang penting terbang- terus mengangguk-anggukkan kepala kuningnya. Ia tidak peduli mau 'terbang' sendiri atau bersama Eren, yang penting ia harus mencoba menggunakan mesin ini. Pasti menyenangkan.

Eren mendengus bangga, entah kenapa ia senang melihat keantusiasan –kalau tidak mau dibaca sebagai keautisan- Armin. Di mana-mana, Armin yang mana pun tetap memiliki sifat yang mirip, sama-sama berkeingintahuan tinggi. Mungkin sifat itulah yang membuatnya memiliki otak cemerlang.

Tangan Eren memasang 3D Manuever Gear di pinggannya sendiri, setelah sebelumnya mengaitkan tali di sekujur tubuhnya. Ia meraih pinggang Armin, sembari matanya mencari pohon atau gedung untuk jadi tujuan pengaitnya. "Siap?" mata hijaunya melirik si pirang.

Sebenarnya, Armin sedikit takut. Hei, bagaimanapun mereka akan 'terbang', artinya mereka akan melawan gravitasi. Namun dari kemarin ia penasaran sekali dengan mesin ini, Armin memantapkan diri. "Tentu, ayo 'terbang'," ia menyahuti.

Senyum di wajah Eren mengembang. "Pegangan," ucapnya, seketika tangan Armin melilit pinggangnya. Dalam kurang dari tiga detik, keduanya sudah berada di udara.

Armin tidak berani membuka mata, sekalipun ia sangat ingin. "Kau mau lihat pemandangan dari atas, Armin? Deutschland itu ternyata indah sekali, lho," seru Eren santai. Meski tidak melihat ke bawah, Eren tahu kepala Armin menggeleng kuat di dadanya.

Mereka 'terbang'. Sedikit lama, Armin yang begitu sangat penasaran membuka matanya takut-takut. Ia memang 'terbang'. Tidak berpijak di tanah. Tanpa pesawat. Tanpa helikopter. Hanya bermodalkan mesin pelontar mekanik, dua tabung gas, dan tali berujung pengait, beserta Eren Jaeger.

Sejenak Armin menikmati pemandangan di bawahnya. Indah, seperti kata Eren. Orang-orang yang berlalu-lalang tampak seperti semut yang berkeliaran. Sangat menyenangkan. Mereka tak perlu khawatir akan ketahuan, karena Eren, sedemikian rupa, meluncurkan keduanya dengan kecepatan tinggi.

Tali pengait Eren meluncur ke belakang, hendak berbalik. Armin menunjukkan wajah kecewa, entah kenapa ia sangat menikmati 'terbang' tanpa menumpang pada kendaraan seperti ini. Angin menerpa tubuhnya terang-terangan tanpa ampun, membuatnya terbuai dalam lambaian udara.

"Menyenangkan?" tanya Eren ketika kaki mereka sudah menapak di balkon apartemen Armin. "Sangat! Aku jadi ingin mencobanya sendiri!" sahut Armin antusias. Senyum Eren terlukis kembali.

Pemuda hitam itu melepaskan peralatan militernya, dan meletakkan semuanya kembali ke atas tiga buah kursi untuk dijemur. Ia yakin besok pagi bau darahnya sudah hilang. "Kau tahu, Armin di duniaku sangat mahir menggunakan 3D Manuever Gear. Ia bahkan mengisi gas untuk anggota seangkatan," komentar Eren, sembari mengelus puncak kepala Armin.

Untung saja Eren tidak melihat, semburat kemerahan yang tergambar jelas di pipi Armin.


TBC


A/N:

Udah berapa tahun ini fic saya telantarin, ya? /plak/ dan udah berapa kali seseorang –atau dua?- di luar sana menyeru kepada saya untuk mengapdet fic ini ya? /plak again/

Sebagai permintaan maaf, saya banyakin dikit isi ficnya. Oh, iya, balesan review di PM aja ya, paling lambat dua minggu setelah chapter 2 ini apdet~

Ah iya, anggap saja di sini Eren sudah banyak menghabisi titan. Dan mengenai latar tahun dan lain-lainnya, akan saya jelaskan kalau ada yang bertanya /dikemplang

Eum, maksud saya, akan ada alasan-alasannya. Semuanya berhubungan, kok ^^

Pertanyaan? Keluhan? Kekecewaan? Tidak suka? Flame? Pujian? /disambit

Silakan manfaatkan kotak di bawah ini~