YunJaeMin Love Story
Author :
Kim Hyokyo a.k.a Revi killan
Maincast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim (Shim) Changmin
Rate : M (I think like that, hope I'm not wrong)
Warning :
Ini hanya fan fiction, jika ada kemiripan cerita, karangan, tokoh, alur, dll itu tanpa ada unsur kesengajaan karena mungkin daya imajinasi kita mirip aja. Terima flame tapi tidak melayani bashing chara!
This is BL a.k.a boyslove a.k.a yaoi a.k.a boyXboy, many typo, not use good EYD, M-Preg (maybe), DoublePersonality!JaeMin. DON'T LIKE, DON'T READ.
~*~*~*~*~* Happy Reading*~*~*~*~*~
~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~
"Apa Jae hanya budak seks untukmu?"
Pertanyaan itu membuat Yunho menoleh dengan tatapan elang-nya yang tajam. "maaf?"
"ck! Jawab saja Jung Yunho! Kau anggap apa Jae dimatamu?"
Yunho tersenyum lembut, "dia separuh nafasku." Jawabnya sendu. "apakah dia selalu cerita apa yang kami lakukan kepadamu?" tanyanya. Changmin menatapnya sengit, "apa IQ-mu sebegitu rendahnya hingga kau perlu bertanya?" dia mulai mencibir lagi. Yunho mengancingkan kancing terakhirnya. "kalau seperti itu aku tak perlu menjelaskannya kembali kan?" tanggapnya dengan senyum dikulum. Well, bagi sebagian orang-terutama para yeoja- senyum itu benar – benar senyum malaikat, tapi dmata Changmin senyum itu tampak sama menjijikkannya dengan bertumpuk – tumpuk buku tebal yang sering dibaca Jaejoong dirumah. "dasar mesum!" tandasnya tak peduli.
Saat Changmin berniat menghisap rokoknya lagi, Yunho menahan tangannya dan merebut rokok itu lalu menekannya sampai hancur di asbak. "heh, jangan ikut campur!" protes namja manis itu. Yunho-agaknya- tak peduli dengan deathglare yang baru saja dilayangkan oleh namja manis itu padanya. "jangan merusak paru – parumu! Kau berbadi tubuh dengan kekasihku! Aku tak ingin dia kenapa – kenapa karena ulahmu!" ujarnya kesal. Changmin mendengus sebal, "kau bahkan tak mampu mengekangku." Cibirnya tak peduli lalu beranjak menuju paper bag yang tergeletak di sofa. Setelah menemukan pakaian yang dirasa pas dan nyaman untuknya-kemeja biru polos dengan celana santai selutut- dia mulai melucuti bathrobe-nya dan menukarnya dengan pakaian itu.
Diliriknya Yunho yang sepertinya sudah sibuk dengan gatget canggih berlayar 4 inchi-nya. "kalau kau sudah tak ada keperluan kau boleh pergi." Ujarnya tak peduli dan melanjutkan acara bertukar pakaiannya membuat Yunho menoleh. "aku menunggumu, biar ku antar pulang." Jawabnya datar. Changmin menyisir rambutnya dengan santai, "bukankah kau ada acara perjodohan?" tanyanya sinis dan sengaja menekankan intonasinya pada kata 'PERJODOHAN' itu. Yunho tersenyum, "aku tak tau kau suka menguping pembicaraan orang lain." Tanggapnya tanpa menjawab pertanyaan Changmin.
"cih, jika itu berhubungan dengan perasaan Jaejoong, mengirimmu ke neraka jahanan pun akan dengan senang hati aku kerjakan!" tandasnya sarkastis.
"ahahahahaha… kau kejam sekali Max, baiklah aku akan menjaga Jongie dengan sepenuh jiwa dan ragaku." Yunho mencoba menggoda namja manis itu.
"Cih!" Changmin kembali mencibirnya.
Akhirnya mereka meninggalkan nite club tempat Changmin kerja itu dengan lamorgini hitam metallic milik Yunho. Namja tampan itu tampak santai mengemudikan mobilnya seraya menikmati alunan music yang diputarnya di dash-board. Sepanjang jalan Changmin hanya diam dan melempar pandangannya keluar kaca samping mobil seolah – olah ada sesuatu yang sangat menarik disana.
Tiba – tiba mobil Yunho berbelok dan berhenti didepan sebuah game center lalu namja tampan itu turun membuat Changmin mengerutkan kening bingung. Hey! Bagaimanapu bencinya Changmin terhadap Yunho, dia tahu sekali namja tampan itu tak suka bermain game. Lalu untuk apa dia membawa Changmin ke game center? Namja manis itu masih terdiam dalam ketidak pahamannya-bahkan- saat Yunho telah membukakan pintu untuknya. "turunlah!" ujar namja tampan itu lunak. Suara bass Yunho menyadarkan Changmin dan membuat namja manis itu turun lalu mengikutinya memasuki game center itu.
Yunho menggandeng tangannya tanpa ijin dan entah karena malas berdebat atau apa, tapi Changmin sama sekali tak menolak tarikkan namja tampan itu. "untuk apa kita kemari Yun?" tanyanya dingin. Yunho tersenyum manis, "tentu saja untuk bersenang – senang. Bukankah kau suka mengoleksi kaset game?" ujarnya riang. Changmin mendengus kesal, "kau berniat menyogokku?" tanyanya sinis. Kata – kata namja manis itu membuat Yunho terkekeh, "hey, apa untungnya aku menyogokmu sementara tubuh ini adalah raga milik kekasihku?" tanggapnya santai.
Sepertinya Yunho serius dengan ucapannya ingin membelikan kaset – kaset game itu, buktinya kini namja tampan itu hanya diam mengekor kemanapun Changmin melangkah seraya memilih kaset – kaset game yang menurutnya menarik. "kenapa kau mengikutiku terus? Seperti hantu saja!" cibirnya saat mereka sampai diujung rak. "hanya ingin memastikan kau tak kabur saja." Jawabnya enteng seraya masih sibuk dengan i-phone-nya. "cih!" namja manis itu kembali mengumpat.
Tak seberapa lama Changmin berjalan ke meja kasir dan sekurang – kurangnya ada 15 keping kaset game terbaru yang langsung dia letakkan di meja kasir itu. " dia yang bayar." Ujarnya melirik Yunho yang masih sibuk dengan ponselnya seolah menjawab tatapan bingung sang yeoja penjaga kasir itu. Yunho mendongak dan tersenyum lalu mengangguk sebagai jawabannya. "975.000 won sajangnim." Ujar si kasir. Yunho mengangsurkan 10 lembar uang lalu mengambil 3 paper bag berisi kaset gam itu dan menggandeng Changmin keluar.
"kau mau makan sesuatu?" tawarnya begitu mereka memasuki mobil.
Namja names itu menggeleng. "cepat pulang saja! Aku bisa masak sendiri dirumah."
"arraseo!" dan mobil itu kembali melaju menuju apartemen Jaejoong –dan Changmin-.
~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~
"Cepat pulang sbelum kutendang kau dari sini!" Changmin berkacak pinggang dengan malas.
Yunho nyengir dengan tatapan innocent, "kau galak sekali Min. setidaknya aku juga mau koq jadi lawan battle PSP-mu."
"CK!" Changmin duduk disofa dengan malas.
Namja tampan itu menggeser tubuhnya mendekati Changmin yang kini sibuk mengetik sesuatu diponselnya. Dibelainya rambut pirang matahari-namun lembut saat disentuh- milik namja manis itu membuat sang empunya menoleh dengan tatapan protes. "jangan mengelus – elus kepalaku! Aku bukan 'kucing' kesayanganmu seperti Jae." Ujarnya sinis membuat Yunho terkekeh. "gwaenchana, toh aroma tubuh kalian mirip." Tanggapnya seraya menghirup tengkuk Changmin. Namja itu semakin membenamkan wajahnya pada tengkuk namja manis itu. "jebal, biarkan seperti ini sebentar lagi!" bisiknya lirih. "kau menyedihkan Jung Yunho!" omelnya tapi dia bergeming, sama sekali tak berniat melepaskan diri dari namja tampan itu.
Namja manis itu sedikit menggeliat karena terpaan nafas hangat Yunho. Sebelumnya mereka tak pernah seperti ini. Yunho memang manja pada Jaejoong, tapi jika dengan Changmin, mereka lebih terkesan seperti dua orang yang tak saling mengenal dan lebih memilih untuk menjaga jarak. Changmin menahan nafas saat merasakan sensasi basah pada tengkuknya. Bibir Yunho mulai bergerak menyusuri leher jenjang namja manis itu membuat Changmin harus mati – matian menahan desahan yang mendesak untuk keluar dari kerongkongannya. Hey! Mau ditaruh dimana image 'player'nya kalau dia sampai mendesah dibaawah namja ini?
Merasa tak ada penolakkan yang berarti, Yunho mulai membuka mulutnya dan menggunakan lidahnya untuk mengecap rasa manis dari kulit lembut Changmin. "eungh…." Sebuah lenguhan lolos dari bibir Changmin membuat sang empunya suara terhenyak karena mendengar lenguhannya sendiri. Dia berusaha meronta dalam dekapan Yunho. "le-pass…." Desisnya. Yunho menjilati cuping telinga Changmin dan sesekali menyesapnya. "jangan tahan suaramu, Min! mendesahlah! Itu akan membuatmu merasa jauh lebih baik." Bisiknya lembut.
Namja manis itu masih sibuk meronta. "dalam mimpimu!" geramnya. Yunho terkekeh dan semakin mengeratkan pelukkan posesif dipinggang Changmin. "well, aku memaksa kali ini." Tanggapnya kembali mencumbu bawah dagu Changmin. Dia cukup pintar untuk tak meninggalkan bekas kissmark apapun disana karena dia tahu pekerjaan Changmin-yang seorang stripper- menuntutnya agar selalu memiliki tubuh mulus tanpa cacat-termasuk kissmark- karena itulah daya jualnya. Tangan Yunho menyusup dalam kemeja namja cantik itu dan mengelus putting-nya yang tampak mulai tegang.
"hen-ti-kan!" tangan Changmin berusaha menahan tangan Yunho yang berusaha memilin putting-nya.
Namja tampan bermarga Jung itu tersenyum. "ayolah Changmin! Aku sudah setahun bersabar dengan sikap dinginmu ini, aku bahkan sudah bosan selalu mendengar Joongie menggumankan kata maaf untukmu dan kau harus tahu, itu sangat melukai hatiku." Bisiknya.
Changmin terdiam mendengar ucapan Yunho. Dia bukannya tak sadar kalau dia memang harus terikat dengan orang yang telah mendapatkan hati 'saudara'nya, dan orang itu adalah Yunho. Namun perasaan tak ingin didominasi dan harga dirinya sebagai seorang 'player' menahannya untuk membuka hati pada namja tampan itu. Yunho membelai pipinya dengan lembut, sarat akan rasa sayang. "biarkan aku mengenalmu, Min! aku tau kau bukan pemeran antagonis disini." Lanjutnya. Changmin menahan tangan Yunho. "hentikan! Kau membuatku ingin membantingmu hingga patah tulang." Sungutnya kesal.
Namja tampan itu tersenyum, "aku rela jadi bahan latuhan judo-mu, asal setelah itu kita bisa lebih akrab dan kau mau menerimaku." Jawabnya riang. Changmin kembali memberontak dalam dekapan lengan kekar Yunho. "lepaskan aku, brengsek!" umpatnya kesal. Yunho tersenyum seraya melepaskan pelukkannya. Changmin sontak mundur untuk menjaga jarak dari beruang mesum kekasih Jaejoong itu.
"pulang sana! Atau aku akan melemparmu dari balkon ruangan ini!" dia segera beranjak untuk memunguti bantal sofa yang sempat berantakan karena ulah Yunho barusan.
Namja tampan itu menurut kali ini. Dia tahu kalau Changmin sudah berucap dengan dingin seperti ini berarti namja manis itu telah melampaui toleransinya atas ulah Yunho. Dia beranjak, "okay, jangan lupa makan malam dan berhentilah merokok! Bye, Changmin. " ujarnya seraya beranjak keluar dan menutup pintu. Changmin langsung terduduk dengan wajah sendu, "mianhae…." Gumannya menutup mata dan setetes Kristal bening meluncur dari sudut matanya.
~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~
Suasana ruang keluarga itu tampak sepi padahal ada 3 orang disana. "Appa tidak suka kau selalu membantah kemauan Appa! Gara – gara kau menolak acara hari ini dengan keluarga Kwon, Appa jadi kehilangan 2 tender besar. Perusahaan kita bisa hancur kalau sikapmu selalu seperti ini, Yunho! Kau harus ingat, kau ini calon penerus perusahaan ini!" ujar sang ayah. Yunho menghela nafas, "Yunho lelah. Boleh Yunho tidur sekarang? Yunho sudah pusing dengan les bahasa Jerman hari ini. Lagipula Yunho tidak tertarik dengan perusahaan itu, Yunho ingin jadi dancer dan raper." Ujarnya seraya beranjak ke arah tangga.
"Yun, apa ini karena penari jalang itu?" suara Umma-nya membuat Yunho urung menapakkan kakinya ke anak tangga.
"Apa maksud Umma?"
"Umma tahu kau sering ke club malam itu karena seorang penari stripping bagusnya bocah ingusan itu Yun? Dan lagi, dia itu namja! Mau ditaruh dimana wajah Umma dan Appa jika semua orang tahu kau berhubungan dengan namja?"
Yunho menatap dingin pada ibunya, "Jangan sekali – kali Umma mengusik Max kalau umma belum ingin menyesal! Coba saja dan umma tidak akan menemukanku lagi!" dan dia pun melangkah ke lantai 2.
Sang ibu mendengus kesal karena sikap anaknya. Dia memang sudah lama tahu kalau putra semata wayangnya itu punya orientasi menyimpang, tapi dia juga tahu kalau putranya tak sepenuhnya gay karena dia pernah mendengar Yunho memuji salah seorang putri relasi bisnis Appa-nya cantik. Hanya saja dia menolak dijosohkan pada yeoja itu karena Yunho tak suka yeoja yang doyan dandan.
"sudahlah yeobo, mungkin Yunho belum ingin serius sekarang. Kita harus bersabar."
"tapi aku tak rela kalau putra kita terus menerus terjerat oleh pelacur kecil itu!" sang ibu langsung mengambil poselnya dan menghubungi seseorang, "selidiki pelacur itu!"
Sementara dikamar, Yunho baru saja berganti baju dan berbaring diranjangnya. Setelah dari apartemen Jaejoong-dan Changmin tentu saja- dia langsung pergi les bahasa Jerman dan baru pulang pukul 9 malam. Orang tuanya memang tak pernah memaksanya agar segera menikah, namun umma-nya memang selalu mendesaknya untuk segera memilih salah satu dari semua calon yang pernah dikenalkan padanya. Mungkin kaerena dia putra tunggal dikeluarganya. "Jae…" dia mendesah seraya menatap LCD ponselnya yang berhiaskan scelca dirinya dan Jaejoong saat upacara penerimaan siswa baru. Dia langsung memeluk ponsel itu berharap dapat ketenangan.
Dan di nite club malam ini, Changmin hanya memberikan servis stripping tanpa menerima bookingan apapun. "are you allright, Max?" Tanya seorang namja bertubuh molek saat melihat temannya itu terlihat murung padahal dia baru saja turun dari pole table dance-nya. Hey, seumur hidup dia bekerja disini-3 atau 4 tahun kira – kira-dia belum pernah melihat king of having sex, sang primadona di club ini semuram itu, jadi wajar jika dia bertanya.
Changmin menatapnya malas, "aku hanya sedang tak bernafsu dengan siapapun Xiah, jika kau sedang senggang, temanilah para penggila sex itu. Mereka terlihat 'lapar'." Ujarnya mengindahkan tatapan bingung dari namja bernama Xiah itu dan beranjak ke locker-nya. "hah, kenapa denganku?" desahnya dia bengganti bajunya dan mengambil kunci mobilnya. "kau bisa istirahat semalaman Jae, dan malam ini kau tak perlu menangis." Gumannya.
Begitu sampai diapartemennya dia langsung merebahkan tubuhnya dikamarnya, kamar Changmin dan Jaejoong berbeda jika kau mau tahu. Matanya tertutup sesaat. "apa kau mencintai namja brengsek itu, Jae? Kau tau kan dia dari keluarga apa dan bagaimana pandangan keluarganya terhadap orang – orang seperti kita?" dia memulai dialog-nya.
"aku sudah terlanjur terjerat dalam pesonanya, Minnie. Entah bagaimana tapi aku tak bisa hidup tanpanya. Aku sudah terjerumus terlalu dalam." Kali ini suara Jaejoong berdengung dikepalanya. Memang beginilah cara merka berkomunikasi satu sama lain.
"kau masih mencintainya meski dia selalu berbuat kasar padamu saat kalian make love? Demi apapun, aku lebih rela menyebutnya having sex dari pada make love! Dia selalu menyakitimu!"
"mungkin dia memang sadistic, tapi entah sejak kapan aku juga telah menjadi masochist. Minnie, setelah kedua orang tuaku meninggal, hanya kau yang aku miliki didunia ini."
Changmin terkekeh, "well. Sepertinya namja itu telah banyak mengubah Jaejoongie yang manis dan polos serta hanya pintar merengek menjadi pribadi yang tegar dan kembali ceria. Mungkin setelah ini kau tak akan membutuhkanku lagi, Jae." Tanggapnya lirih.
"Minnie… waeyo? Kau ingin meninggalkan Joongie seperti kedua orang tua Joongie? Kau sudah tak sayang pada Joongie lagi?"
"ani, aku adalah pribadi yang tercipta demi melindungimu Jae, aku ada agar kau tak terluka. Dan jika kau telah menemukan pelabuhan hatimu, maka aku sudah tidak punya tempat lagi didunia ini. Kau adalah kakakku. Aku sangat menyayangimu, kebahagiaanmu akan selalu menjadi kebahagiaanku juga. Jika kau bahagia bersama namja Jung itu, aku akan merelakanmu."
"hiks, Minnie… kau… hiks… gomawo minie, Jeongmal gomawo…"
Changmin tersenyum samar,"ne, Jae. Tapi dia harus tahu, jika dia berani menyakitimu walau itu hanya sehelai rambutmu, maka jangan pernah halangi aku untuk mematahkan tangan dan kakinya!" tiba – tiba Changmin menyeringai sinis.
"ish, Minnie kau mirip pycopath!"
Namja manis itu menghela nafas, "aku rela menjadi psycopath jika itu menyangkut dirimu, Jae. Tak peduli hal itu salah ataupun benar."
"ne, ne. aku tahu, sekarang sebaiknya kau tidur karena besok aku ada quis biologi jam pertama."
Lalu Changmin pun menutup matanya dan membawa tubuh itu ke alam mimpi.
~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~
Kelas itu tampak ramai, hamper seluruh siswa dikelas itu sibuk dengan buku – buku mereka. Pagi ini memang ada quis untuk pelajaran biologi. Jaejoong baru saja meletakkan tasnya saat ponsel disaku celananya bergetar. Dibukanya pesan itu.
From : MyLovely Jung Yunho
Subject : istirahat
Datanglah ke ruang ekskul basket saat jam makan siang, love you :*
Setelah membalas pesan itu dia kembali focus pada buku catatannya. Sebenarnya dia tak perlu terlalu serius belajar karena pelajaran biologi bukanlah pelajaran yang sulit untuknya. Empat jam pelajaran itu berlalu dengan tenang. Sekarang jam kosong karena guru geografi sedang tidak masuk. "eh Jaejoong-ah, um… bolehkah aku minta tolong untuk diajari bab 2 ini?" ujar seorang namja bersuara bass dan wajah cool-nya yang tiba – tiba duduk di sebelah Jaejoong.
Namja cantik itu tersenyum lalu mulai menggeser tubuhnya mendekati namja itu, mereka memang baru sekelas tahun ini dan Jaejoong bukanlah pribadi yang bisa akrab dengan siapa saja seperti Changmin. Jadi dia tak terlalu mengenal namja ini kecuali namanya, Choi Dongwook atau yang lebih terkenal dengan sebutan Se7en, mungkin karena namja tampan berwajah cool itu seperti terobsesi dengan angka 7. Who knows?
Keduanya tampak sibuk dengan materi fisika itu. Bahkan keduanya mengabaikan tatapan membunuh yang dilayangkan pada mereka-pada Jaejoong lebih tepatnya-. Para yeoja itu menatap kesal pada Jaejoong yang bisa dengan leluasa dekat dengan Se7en yang memang sejak kelas X adalah prince charming incaran para gadis di sekolah ini.
Tak terasa jam makan siang pun tiba. Se7en menghampiri Jaejoong yang tampak sibuk merapikan buku – buku dan alat tulisnya. "Jaejoong-ah, mau ke kantin bersamaku?" tawarnya membuat Jaejoong menoleh padanya. Beberapa siswi melayangkan deathglare pada Jaejoong dan namja cantik itu menghela nafas. "mianhae, Dongwook-shii. Ung… aku bawa bekal sendiri dan aku harus menemui kekasihku untuk makan siang bersamanya." Tolaknya seraya mengeluarkan sebuah kotak bekal berukuran cukup besar dari tasnya. "annyeong Dongwook-shii." Lanjutnya seraya melangkah pergi.
Namja cantik itu sampai didepan pintu ruang ekstra kulikuler basket. Dengan senyum manis diketuknya pintu ruangan itu. Tak lama kemudian pintu itu terbuka dan Jaejoong langsung masuk. Yunho mengunci pintu itulalu kembali duduk di salah satu kursi kosong. "bagaimana pelajaran hari ini sweety?" tanyanya serayamengulurkan tangan dan disambut oleh Jaejoong. Namja cantik itu langsung duduk dipangkuan Yunho.
"biasa saja. Tak ada yang menarik, Yunnie."
"hm… bagaimana dengan Choi Dongwook itu? Kudengar beberapa yeoja menyumpah – nyumpahimu di kantin tadi." Yunho membelai – belai pipi chubby namja cantik itu.
Namja cantik itu langsung mem-pout-kan bibirnya, "Yunnie menganggap Joongie selingkuh eoh? Kami hanya belajar fisika bersama saja, tadi Dongwook-shii kesulitan dengan materi Bab 2."
Yunho mengecup bibir semerah cherry itu, "tenanglah chagiya, tak ada yang menuduhmu selingkuh. Aku hanya bertanya, kan? Kenapa tiba – tiba orang seperti Se7en bisa mendekatimu, padahal setahuku dia itu straight." Ujarnya santai. Jaejoong menyendok nasi gorengnya lalu mengulurkannya ke bibir Yunho. Namja tampan itu dengan senang hati memakan suapan sang kekasih. "mollayo, bukankah tadi Joongie sudah bilang kalau joongie hanya mengajarinya pelajaran fisika?" tanggapnya tak peduli seraya menyupakan nasi goreng itu untuk dirinya sendiri.
Namja tampan itu memperhatikan bibir Jaejoong yang bergerak – gerak lucu saat namja cantik itu mengunyah makanannya. "ung? Ada yang salah dengan wajah Joongie, Yunnie?" tanyanya saat menyadari sang namjachingu memperhatikannya tanpa berkedip sama sekali. Yunho membelai rambut hitam sehalus sutera milik Jaejoong, "ani, kau terlihat cantik saja." Jawabnya lembut. Namja cantik itu langsung memeluk Yunho, "kau tau Yunnie-ya, semalam Minnie bilang padaku kalau dia merestui hubungan kita." Ujarnya lirih.
Terhenyak, tentu saja. Yunho sangat tahu bagaimana keras kepalanya seorang Kim Changmin, namja manis kelewat tinggi itu belum pernah sekalipun menarik apa yang sudah diucapkannya. Perlahan dibalasnya pelukan hangat sang namjachingu seraya tersenyum, "kita berhasil meyakinkannya ya, Boo. Syukurlah!" desahnya lega. Namja tampan itu membelai punggung Jaejoong, "kini tinggal kita meminta ijin orang tuaku." Lnjutnya. Keheningan menyelimuti keduannya sampai sebuah suara baritone yang sangat dihafal Yunho membuatnya melepaskan pelukkannya pada namjachingu-nya itu.
"aku tak tau kalau kau bisa lembut juga pada Jae."
Namja tampan itu tersenyum saat bertemu pandang dengan irish caramel yang terkesan ingin itu, "hay, Changmin. Tumben kau muncul disiang hari." Sapanya sambil tersenyum. "jangan besar kepala dulu mentang – mentang aku sudah mengizinkanmu menjadi milik Jaejoong." Ujarnya skeptis. Yunho angkat bahu cuek, "well, aku akan lebih bahagia saat kamu juga mau menerimaku dan membuka hatimu." Lanjutnya.
Changmin menatapnya jengah, "aku tak sudi jadi uke-mu!" ujarnya dingin.
"itu masalahnya? Baiklah kalau begitu aku saja yang jadi uke-mu. Beres 'kan?" Yunho tersenyum innocent.
Namja manis itu menatap horror pada namja bermarga Jung didepannya itu, bagaimana bisa Yunho yang bertubuh atletis itu menjadi uke-nya? Demi apapun, Changmin membayangkannya saja sudah ingin muntah. Bahkan kalau boleh jujur-dan dia tak akan sudi untuk jujur-tubuhnya tak sebagus tubuh Yunho yang memang 'the ultimate top seme' itu. "hah, lupakan! Aku tak sudi berurusan denganmu!" ujarnya dingin.
Yunho tak membantah kata – kata Changmin, namja tampan itu pun mengambil sendok yang tergeletak diatas meja lalu menyendok nasi goreng itu lalu mengulurkannya ke bibir Changmin. "makanlah! Aku tak ingin Joongie sakit." Ujarnya sebelum Changmin sempat protes. Namja manis itu memakan suapan Yunho karena tak tahan dengan tatapan memohon namja tampan itu.
Sisa jam pelajaran itu berlalu dengan cepat. Jaejoong memang tak berminat ikut bercanda – canda dengan teman sekelasnya, lagi pula siapa yang mau bercanda dengannya? Bahkan hampir satu sekolah memusuhinya karena dia adalah orang yang bisa membuat Yunho-namja paling populer disekolah-bertekuk lutut kepadanya dihari pertama namja cantik itu menginjakkan kakinya disekolah ini setahun yang lalu. Namja cantik itu kini sedang bersandar di lamborgini hitam metallic Yunho yang terparkir dengan rapi. Tadi mereka janjian untuk bertemu diparkiran, tapi sepertinya namja cantik itu datang terlalu awal.
"menunggu seseorang?"
TBC~~~
Annyeong~~ *lambai –lambai bareng YunJaeMin #plak author sarap*
Ung~~ bagaimana dengan chap ini? Semakin Ancurkah? Semakin Anehkah? Semakin Jelekkah? Semakin Gajekah? *reader : lu kan always gaje Hyo! Me : *pundung* ne Hyo tau readerdeul~~makanya review dong, kritik dong, marahin Hyo dong, poppo Hyo(?) dong~ eh yang terakhir jangan, ntar uke Hyo ngamuk :D
Big thanks to:
Miszshanty05 : ini tidak akan jadi threesome koq chingu, dan ini YunJae dengan sedikit HoMin didalamnya #gubrak :D gomawo suda RnR *hug*
Guest : iya JaeMin itu satu tubuh dengan 2 jiwa(?). tenang mami Jujung sudah terpuaskan(?) oleh papi Jung koq chingu~~ gomawo suda RnR chingu *hug*
KimmieYunjJae : bagaimana NC kmaren? *evil smirk*ini nih dijawab apa papi Jung cintah mami Jujung ato Cuma main-main. Gomawo cuda RnR *hug*
Heeli : udah cukup hot kah kemarin chingu?gomawo dah RnR *hug*
Sienna-w5 :ini dijawab knapa mereka bisa duo-personality chingu. Papi Jung memang selalu mesum kalo menyangkut mami Jujung yang sekseh~~ #plak *ditabok papi Jung* gomawo dah RnR chingu *hug*
Ukekyushipper : hyo juga sakit(?) ngetiknya chingu~~ #plak *papu Jung:lebay lu hyo, me: *pundung*hiks,papi kejam #doeng mohon abaikan -_-" * apakah NC nya begitu ancurnya sampai chingu no coment? o.O? hehehe gomawo dah RnR eoh~~ *hug*
Putrazadi : ne annyeong~~*hug*selamat datang d FFn eoh~~duo personality itu adalah kepribadian yang tercipta dalam diri seseorang karena hal tertentu yang bikin dia terlalu rapuh untuk menghadapinya hingga terciptalah kepribadian lain yang akan meng-cover-nya saat dia kepribadian ganda tapi duo-personality umumnya saling melindungi. Gomawo cuda RnR eoh~~*hug again*
Riska0122 : hehehe,itu efek nonton film yadong rate MM(?)~~padahal belum cukup umur #plak hehehee~~ne changminnie sama mami Jujung itu satu tubuh~~gomawo cuda RnR eoh~~ *hug*
Menerima Flame, cacian, makian, kritik, saran, review, dan lain – lain tapi tidak menerima bashing chara.
Jeongmal gomawo sudah mau mampir dan membaca, semoga FF abal Hyo dapet tanggapan yang bagus. Mohon RnR eoh~~ *bow*
