YunJaeMin Love Story
Author :
Kim Hyokyo a.k.a Revi killan
Maincast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Kim (Shim) Changmin
Choi Dongwook a.k.a Se7en
Rate : T+ a.k.a PG 15
Warning :
Ini hanya fan fiction, jika ada kemiripan cerita, karangan, tokoh, alur, dll itu tanpa ada unsur kesengajaan karena mungkin daya imajinasi kita mirip aja. Terima flame tapi tidak melayani bashing chara!
This is BL a.k.a boyslove a.k.a yaoi a.k.a boyXboy, many typo, not use good EYD, M-Preg (maybe), DoublePersonality!JaeMin. DON'T LIKE, DON'T READ.
~*~*~*~*~* Happy Reading*~*~*~*~*~
~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~
"menunggu seseorang?"
Suara bening itu membuat Jaejoong mendongak dan menemukan sesosok namja tampan yang hari ini banyak berinteraksi dengannya. Dia tersenyum dan mengangguk tanda member salam pada namja tampan itu. Dia bukan orang yang tak beradap dan melupakan sopan santunnya pada orang lain, "annyeong Dongwook-shii." Sapanya ramah. Se7en tersenyum, "jangan terlalu formal begitu. Panggil Se7en saja." Pintanya dengan senyum malaikatnya itu. Jaejoong mengangguk sekilas.
"kau terlihat bosan Jaejoong-ah, mau kutemani?" Se7en bersandar dimobil yang terparkir disisi mobil Yunho.
"ung… tapi kan…" Jaejoong terlihat ragu, tentu saja. Yunho adalah namja pencemburu yang bahkan akan dengan suka rela akan mematahkan leher siapa saja yang terlihat dekat dengan Jaejoong, tak peduli itu namja ataupun yeoja.
Beberapa yeoja yang kebetulan melewati area parkir itu menatap keduanya dengan tatapan yang berbeda – beda. Tapi Jaejoong tahu sebagian besar dari mereka menatap sengit padanya. Dia menghela nafas, oh ayolah! Kalau boleh memilih, dia pun malas berurusan dengan namja tampan didepannya ini. "kau takut pada mereka?" Tanya Se7en saat menyadari kegelisahan namja cantik didepannya itu membuat Jaejoong kontan menggeleng. 'aku takut Yunho akan menghajarmu gara – gara dekat denganku' batinnya tapi dia diam saja. Dia hanya berharap namja dihadapannya ini akan segera pergi.
"apa kau takut kekasihmu marah?"
"kenapa kau tertarik, Se7en-shii?"
Namja tampan itu tersenyum, "karena sepertinya kau ini tak akrab dengan yeoja. Mereka juga selalu menatap iri padamu, membuatku penasaran saja, yeoja mana yang bisa luluh padamu."
"mian, sepertinya kau…" Jaejoong terhenti berucap saat mendengar suara bass yang sangat familiar ditelinganya.
"menunggu lama, Boo?" Yunho langsung mengecup pipi Jaejoong mengabaikan tatapan kaget Se7en.
Jaejoong menggeliat sesaat, "Yunnie, ini tempat umum." Protesnya membuat Yunho dengan terpaksa melepaskan pelukan posesifnya. "oh iya, Yun knalkan ini Dongwook-shii, dia teman sekelasku. Se7en-ah ini Yunho, namjachingu-ku." Ujar Jaejoong memperkenalkan dua namja tampan dan berkarisma itu dengan senyum polosnya. Dia bahkan tak menyadari tatapan bingung dari Se7en.
Yunho yang menyadari tatapan bingung Se7en langsung mengulurkan tangan. "Jung Yunho, jangan menatap kami dengan tatapan sebingung itu! Hubungan kami memang tak lazim dimasyarakat. Tapi kami saling mencintai." Ungkapnya ringan. Se7en mengangguk seraya menjabat tangan Yunho. "nde, aku Choi Dongwook. Kau bisa memanggilku Se7en. Kukira dia tak serius bilang punya keksih, tapi ternyata dia membuatku sangat kaget karena kekasihnya adalah kapten team basket sekolah. Ah aku patah hati sebelum menembak." Tanggapnya seraya terkekeh.
Se7en beranjak, "oh iya, semoga kalian bahagia ne." ujarnya sebelum benar – benar pergi. Jaejoong menatap bingung kepergian Se7en. "apa maksud dari ucapannya tadi Yun?" tanyanya bingung. Yunho tersenyum. "dia bilang dia ikut bahagia dengan hubungan kita, Boo." Jawabnya ringan. "jeongmal?" namja cantik itu mengerjab - kerjabkan doe eyes-nya yang berbinar – binarya membuat Yunho harus ekstra sabar agar tak dikuasai nafsunya dan langsung memakan namjachingu-nya yang kelewat manis ini disini sekarang juga.
Hari ini Yunho janji akan mengantarkan Jaejoong ke pemakaman orang tuanya. Disinilah mereka sekarang, sebuah pemakaman luas yang tertata rapi. Jaejoong tampak bersimpuh didepn dua batu nisan lalu meletakkan sebuket lily putih.
"annyeong umma, annyeong appa. Joongie datang bersama Yunnie lagi, mianhaeyo Joongie jarang mengunjungi umma dan appa. Joongie sedang banyak ujian dan juga Minnie sekarang tak pernah mengambil libur sehingga kami tak bisa sering – sering mengunjungi umma dan appa. Umma, appa, Joongie sekarang bahagia karena ada Yunnie. Joongie juga akan selalu berusaha untuk merelakan kepergian umma dan appa. Semoga joongie bisa segera merelakan kalian, agar kalian juga bisa beristirahat dengan tenang." Jaejoong beranjak, "joongie pulang dulu umma, appa. Annyeong." Dia menggandeng Yunho.
"gwaenchana Boo?" Yunho mengelus pundak namja cantik itu dengan sayang.
Jaejoong mengangguk seraya mengahapus air matanya. "sudah selama ini, tapi Joongie belum bisa merelakan mereka. Joongie anak yang tidak berbakti ya yun?" ujarnya seraya masuk mobil. Keduanya meninggalkan pemakaman itu.
~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~
"Hentikan! Aku sudah bilang jangan ganggu aku Jung Yunho! Aku tak ingin berurusan denganmu!"
Yunho masih tersenym innocent eraya terus berjalan mendekati Changmin yang mundur mencoba menjaga jarak mereka. "ck! Berhenti disana atau aku akan membuat Jae membencimu!" ancamnya sukses membuat Yunho terhenti ditempatnya. Changmin menghela nafas lega, setidaknya beruang mesum itu kini sudah tak membuatnya harus berperang batin. Dia berbalik berniat pergi ke kamarnya namun dengan tiba – tiba saja tubuhnya sudah ada dalam dekapan lengan kokoh seorang Jung Yunho.
"well, sekarang kau benar – benar membuatku marah, Yun!"
"bunuhlah aku setelah ini, aku rela mati ditanganmu Changmin." Namja tampan itu menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Changmin.
Namja manis itu masih berusaha meronta, "hentikan! Aku tak ingin menyakiti hati Jaejoong. Lepaskan aku sekarang juga Jung Yunho!"
"hm… dia tak akan marah, dia sendiri ingin aku akrab denganmu. Dan karena kau selalu menghindariku, aku jadi tak punya cara lain agar kita selalu dekat. " namja tampan itu mengecupi tengkuk Changmin yang terekspose karena namja manis itu tak mengancingkan dua kancing teratasnya.
Namja manis itu menggigit bibir bawahnya kuat – kuat dan tangannya terkepal erat dikedua sisi tubuhnya. Nafasnya yang sudah terburu kian terengah saja. Dia tahu, Yunho tak akan menjamah tubuhnya lebih jauh lagi tanpa seizing darinya meski dia juga sadar kalau meski da menolak, takdirnya tetap harus menerima namja tampan yang tengah mendekapnya ini. Tangannya sudah gatal ingin membanting namja yang kini masih sibuk memberikan butterfly kiss pada lehernya, tapi sepertinya insting Jaejoong dalam tubuhnya tak mengijinkannya meluluskan niatnya itu.
Bosan tak mendapatkan respon, Yunho menggigit leher itu serta menggigitnya pelan sementara tangan kirinya turun ke selangkangan namja manis itu lalu meremasnya membuat Changmin mengerang seketika, "Argghhh…" dan tubuh Changmin lemas seketika. Untung saja lengan Yunho memeluknya dengan cukup erat hingga dia tak merosot jatuh.
Namja manis itu menunduk, "hiks… hentikan, kumohon!" pintanya dengan pundak tergetar. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, rasanya dia sungguh memalukan diperlakukan seperti ini oleh namjachingu 'saudara'nya sendiri. Dia yang tak pernah menangis-kecuali saat upacara pemakaman orang tua Jaejoong.
Yunho makin mempererat pelukkannya pada tubuh namja manis itu, "mianhae, mianhae Changmin. Aku tau hari ini aku agak keterlaluan, mianhae Changmin." Bisiknya seraya memutar tubuh namja manis itu. Diturunkannya kedua tangan Changmin dari wajahnya. Dia mengecup kedua mata Changmin yang masih setia mengalirkan Kristal bening itu.
"sstthhh… sudah jangan menangis lagi!" dia mendekap tubuh namja jangkung itu seraya membuka pintu kamar Changmin.
Dengan sigap diangkatnya tubuh Changmin bridal style. Meski mereka nyaris sama tinggi tapi Yunho masih tak kesulitan membopong tubuh itu masuk ke dalam kamar lalu mendudukkannya dengan lembut di atas ranjang. "sleep well Changmin. Aku harus pulang sekarang," bisiknya seraya mengecup kening Changmin lalu beranjak keluar meninggalkan apartemen itu. Changmin membaringkan tubuhnya dengan pasrah diatas ranjang. "mianhae…." Desisnya menutup mata.
Tak lama kemudian dia pun tertidur dan lambat laun tubuhnya berubah jadi sosok Jaejoong. Memang selalu begitu, kalau salah satu sedang bermasalah, depresi, atau tertekan misalnya, maka 'sosok' yang lain akan menggantikannya agar sang 'saudara' tak lebih terluka lagi.
~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~
Ferrary merah metallic itu memasuki gerbang sekolah. Changmin memarkir mobilnya tepat disisi lamborgini hitam metallic-yang sangat dikenalnya, mobil milik Yunho- lalu dia mematikan mesin mobil itu dan melepaskan seat-belt-nya. "kau yakin akan baik – baik saja?sepertinya anemiamu kali ini sangat parah, Jae." Ujarnya lirih. 'biarkan aku sekolah, Minnie! Aku baik – baik saja.' Suara Jaejoong dikepalanya membuat Changmin menghela nafas.
Namja manis itu menutup matanya dan fisiknya berubah jadi sosok Jaejoong. Namja cantik itu membenarkan letak dasinya lalu turun setelah mengambil tasnya. Beberapa siswi tampak bingung padanya, tentu saja, selama bersekolah disini tak sekali pun Jaejoong membawa mobil ke sekolah. Bahkan dia sangsi siswa-siswi sekolah ini percaya kalau dia punya mobil, apalagi yang semewah Ferrari seperti ini.
"annyeong nae chagi, tumben kau mau bawa mobil?" Yunho lanmgsung mengecup pipinya dengan sayang.
Jaejoong menoleh dan tersenyum, "annyeong Yunnie, kepalaku sedang sakit. Tadi Minnie mengantarkan aku sekolah."
"jeongmal? Kalau begitu sebaiknya kau istirahat di UKS saja. Aku tak ingin kau semakin parah karena memaksakan diri untuk belajar." Yunho terlihat khawatir.
Jaejoong tersenyum, "Joongie hanya sedikit pusing, Yunnie. Jangan khawatir seperti itu! Joongie tidak apa – apa." Ujarnya seraya memeluk lengan Yunho. "sebaiknya kita segera ke kelas karena Joongie risi ditatap oleh para gadis itu, Yunnie." Ajaknya seraya menarik lengan Yunho lembut.
Keduanya berjalan dengan mesra sepanjang koridor lantai 2 itu meski tak sedikit yang menatap benci pada Jaejoong. Sebagai catatan, Yunho itu adalah namja impian dari hampir seluruh siswi disekolah, entah itu para gadis sok sosialita, yang doyan dandan, yang sok modis, bahkan yang biasa – biasa saja juga bermimpi memiliki salah satu pangeran sekolah itu.
Keduanya berhenti didepan kelas Jaejoong, "ok. Kita ketemu di ruang basket saat makan siang, seperti biasa aku yang bawa air dan susu untuk kita. Pai pai Boo."ujarnya seraya mengecup kening Jaejoong dan meninggalkan namja cantik itu didepan kelasnya. Jaejoong memasuki kelas dan langsung mendatangi tempat duduknya.
"coba lihat, siapa yang datang? Kau pasti merayu Yunho dan menjual tubuhmu padanya hingga dia mau membelikanmu Ferrari seperti itu."
Jaejoong menoleh ke asal suara itu. Seorang yeoja cantik bersama beberapa yeoja lain-yang sepertinya mereka satu geng- menatap kesal padanya. "Jessica?" ujarnya tak yakin. Bagaimana bisa, dia selalu menjaga jarak dengan yeoja galak maniak dandan dan terkenal fans fanatic dari Yunho ini. "HEH!" Jessica mendorong Jaejoong hingga namja cantik itu terhempas ke kursi. "siapa yang mengijinkanmu dekat – dekat dengan Yunho,heh? Gara – gara namja centil sepertimu aku jadi ditolak oleh Yunho oppa!" bentaknya seraya mengangkat tangannya tinggi – tinggi-berniat menampar namja cantik itu- membuat Jaejoong menutup mata erat – erat. Dia memang paling anti bertengkar dengan seorang yeoja.
Setelah beberapa menit tak merasakan adayg terjadi padanya, Jaejoong membuka matanya dengan tak yakin. Ternyata Se7en menahan tangan Jessica. Eh? Tunggu dulu, Se7en menahan tangan Jessica? Sejak kapan namja tampan berwajah cool itu ada dikelas? Sepertinya tadi kelas masih kosong-atau mungkin sengaja dikosongkan oleh Jessica, mengingat dia anak salah satu senator sekolah-.
"you are so strong girl, lady. But I don't like strong girl. Girl must be soft and girly, you know?"
Jessica berusaha meronta, "lepas! Aku tak suka diatur – atur oleh namja tidak jelas sepertimu!"
"well." Se7en melepaskan cengkeramannya dengan santai. "jangan pernah memancingku untuk membuatmu menyesal pernah dilahirkan sebagai seorang yeoja, noona." Ujarnya memperingatkan. Dia berbalik pada Jaejoong, "everything is okay?" tanyanya seraya memamerkan senyum sejuta watt-nya yang menyilaukan itu.
Jaejoong mengangguk, "gomawo, Se7en-shii." Gumannya lirih seraya membungkuk. Se7en menepuk pundaknya dengan santai. "it's okay, lagipula banyak orang menyalah artikan yeoja sebagai makhluk lemah, tapi kau harus hati – hati, makhluk lemah itu kalau marah bisa seseram bison yang mengamuk loh. Oh iya, wajahmu sangat pucat. Sebaiknya kau istirahat diUKS saja Jaejoong-ah." Tuturnya.
Namja cantik itu mengangguk dan beranjak ke kursinya. Dia memang mulai merasa pusing, belum sampai dia dikursinya tiba – tiba dia oleng dan langsung ambruk. Beruntung reflek Se7en sangat bagus. Namja cool itu menarik tubuh Jaejoong sebelum namja cantik itu membenturkan kepalanya kesudut meja yang-pastinya- akan berakibat cukup fatal.
"hey, hey, Jaejoong-ah? Kau baik – baik saja?"
Namja cantik itu sudah lemas karena benar – benar pingsan. "ck, dia pingsan." Gumannya menghela nafas seraya mengangkat tubuh itu bridal style. Tak ada yang menyadari ternyata ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan mencemooh. Ponsel android-nya baru saja mengabadikan moment Jaejoong dipeluk-diselamatkan dari pingsan yang akan mengakibatkan kepalanya bocor oleh sudut meja- oleh Se7en. "huh, kena kau sekarang! Yunho oppa akan membencimu dan langsung mendepakmu dari sisinya dasar namja gatel!" ujarnya seraya pergi dengan girang, tak sabar untuk membeberkan foto itu didepan Yunho.
Saat Se7en berniat membawa tubuh Jaejoong keluar dari kelas itu tiba – tiba tangan namja cantik itu menahan daun pintu membuat Se7en menghentikan langkahnya. "turunkan aku!" dua kata yang diucapkan dengan nada dingin menusuk ulu hati itu membuat Se7en terhenyak, "eh?" tatapan shock-nya terlambat untuk disembunyikannya lantaran namja yang ada dalam gendongannya semenit yang lalu itu kini telah berubah menjadi namja asing yang tak dikenalnya. Dia mengernyit saat menyadari namja itu sudah turun dari gendongannya. "kau…"
"calm down! Sepertinya kita pernah bertemu beberapa kali. Aku pernah melihatmu di 'ZERO''." Ujar namja names itu santai tapi berdampak sangat besar untuk namja berwajah cool itu. Terbukti dari kerutan yang menghiasi kening Se7en saat ini. Changmin menatap namja cool itu dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah menilai namja itu.
Setelah terdiam agak lama akhirnya Se7en menyentuh pundak Changmin. "kau… penari telanjang di 'ZERO'?" tanyanya tak terlalu yakin. Changmin terkekeh melihat ekspresi namja tampan dihadapannya itu. Dia tahu siapa saja tamunya di nite club, dan dia pernah berpapasan dengan namja ini beberapa kali. Bukan, Se7en bukan ke 'ZERO' untuk membooking salah seorang stripper disana, namja tampan itu kesana untuk menemani temannya yang sepertinya punya affair special dengan salah seorang stripper disana.
"bagaimana mungkin kau bisa ada disini? Dan… bukankah tadi yang kugendong adalah Jaejoong-ah?"
"kurasa kau terlalu cerdas untuk menanyakan dimana orang yang kau gendong pada orang yang baru turun dari gendonganmu." Changmin menyeringai tipis.
Kening Se7en kembali berkerut bingung, "tidak mungkin! Didunia ini tak ada orang yang bisa berubah – ubah seperti bunglon."
Namja manis itu kembali memamerkan smirk andalannya, "chukkae, kau baru saja bertemu dengan orang yang telah menjungkir balikkan argumenmu. Kami adalah bukti nyata dari double-personality yang tidak identik."
Se7en masih menatap ragu pada namja manis dihadapannya, "jika kau adalah 'saudara' lain Jaejoong dan kalian satu tubuh berarti pekerjaanmu itu… apa Jaejoong juga bekerja sebagai penghibur?" tanyanya berusaha sesopan mungkin menyebut pekerjaan Changmin, dia khawatir namja manis itu akan tersinggung. Changmin menggeleng, "aniya, Jae tak pernah sekalipun mengenal dunia malam. Dalam kasus kami, akulah pelacurnya. Kalau Jae, dia sih pelacur pribadi dari tuan muda egois itu. "jelasnya santai seolah yang diceritakannya hanyalah hal ringan.
Namja cool itu kembali menyentuh pundak Changmin, kali ini sedikit menggenggamnya erat, "jangan melakukan pekerjaan haram itu lagi!" ujarnya tegas membuat Changmin mengangkat sebelah alisnya tinggi – tinggi. "hey, kenapa jadi kau yang meributkan pekerjaankau? Kau kira siapa dirimu?" tanyanya dengan tatapan angkuh. Dia memang paling benci ada orang yang mengatur hidupnya, hal itu mengingatkannya pada namja bermata musang bernama Jung Yunho yang sekarang berstatus sebagai namjachingu 'saudara'nya yang telah dengan sukses mengacak – acak hidupnya.
Namja cool itu kembali menahan pundak Changmin saat namja manis-yang sedikit garang- itu berniat pergi. "mwo?" Tanya Changmin dengan tatapan malas. "jebal, berhentilah dari pekerjaan haram itu, kumohon!" pintanya dengan tatapan serius yang membuat Changmin mendengus sebal.
"ada apa dengan otakmu? Bahkan kita tak saling mengenal."
Se7en menatap Changmin dengan tatapan memohon, "molla, aku hanya merasa aku ingin menghentikanmu."
Changmin menatap Se7en penuh selidik, "cih, kau jatuh cinta padaku eoh?" tanyanya dengan nada mencibir khas seorang Kim Changmin. Namja cool itu angkat bahu, "mungkin saja, aku tak ingin kau semakin terjerumus dalam dunia hitam itu." Jawabnya. Namja manis itu menyandarkan tubuhnya disudut meja, "hey, menjadi jahat adalah takdirku. Jadi jangan mengaturku atau aku akan membuatmu menyesal dengan tingkahmu yang sok suci itu." Ucapnya seraya beranjak keluar kelas. "Max, tunggu!" panggil Se7en menghentikan langkah Changmin.
Namja manis itu menoleh, "namaku Changmin." Ujarnya dan diapun benar – benar pergi, tak ingin berurusan lebih jauh dengan namja cool yang ada dihadapannya itu. Se7en menekan dada kirinya yang berdenyut menyakitkan. "ck! Kenapa rasanya sesakit ini?" gumannya entah pada siapa. Dia sendiri saja bingung kenapa dia jadi begitu peduli dengan Changmin, padahal Se7en bukanlah pribadi yang mau memperdulikan orang lain yang menurutnya tidak terlalu penting dan buang – buang waktu.
~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~
Sepertinya pelajaran hari ini berlangsung tertib, Jaejoong masih tertidur pulas di UKS. Rupanya tadi Changmin membawanya ke sini. Dia mendengar suara bel istirahat itu, tapi karena merasa berat untuk membuka mata, dia berusaha mengabaikannya namun ada yang aneh dengan pipinya. Seperti ada yang membelai pipinya, dia berusaha membuka mata dan dia sedikit terjengkit saat mendapati seorang yeoja yang sedang asyik membelai – belai pipinya. Agaknya yeoja itu tak sadar kalau Jaejoong telah terjaga dari tidurnya.
PLAK! Karena merasa risi dengan ulah yeoja itu, Jaejoong menepis tangan yang membelai pipinya membuat yeoja itu tersentak kaget. "eh? Kau sudah sadar Jaejoong-shii?" ujarnya serba salah karena ketahuan membelai – belai pipi namja cantik itu. Jaejoong menatap dingin padanya. "siapa kau? Dan apa yang baru saja kau lakukan padaku? Tidak sopan." Ujarnya dingin.
Yeoja itu menunduk, "mianhae, namaku Seohyun dari kelas XII-IPA 1." Ujarnya memperkenalkan diri. Jaejoong menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, "mian, tapi aku tidak suka dengan gadis yang lebih tua dariku. Permisi." Ujarnya datar dan dingin seraya beranjak keluar. Dia bahkan tak memperdulikan tatapan shock Seohyung yang seperti baru saja melihat setan itu.
Langkah kakinya membawa namja cantik itu kembali ke kelasnya. Terlihat Se7en sedang sibuk dengan ponsel android-nya. Namja cool itu menoleh saat sosok Jaejoong tertangkap indra penglihatannya, "kau sudah merasa baikan?" tanyanya membuat namja cantik itu mengangguk sejenak seraya mengeluarkan kotak bekalnya. Dia beranjak, "aku duluan, Doongwook-ah. Permisi." Ujarnya ramah seraya berjalan keluar kelas. Namja cool itu masih menatap kepergian Jaejoong sampai namja cantik itu menghilang ditikungan. Dia menghela nafas sejenak, "hhhh, kenapa kau begitu tertutup Jaejoong-ah?" desahnya.
Tak memerlukan waktu lama, namja cantik itu telah sampai didepan pintu ruang ekskul basket. Tangannya urung mengetuk pintu dan lebih memilih untuk langsung membukannya. Pemandangan pertama yang disuguhkan padanya sontak membuat doe-eyes itu membulat lebar saking kagetnya. Dia membungkam mulutnya dengan tatapan ingin muntah.
TBC~~
Annyeong~~ *muncul bareng Changmomo #plak author sarap*
Ung~~ bagaimana dengan chap ini? Ancurkah? Anehkah? Jelekkah? Gajekah? Semoga saja gak banget – banget ancur dan gaje-nya.
Menerima Flame, cacian, makian, kritik, saran, review, dan lain – lain tapi tidak menerima bashing chara.
Jeongmal gomawo sudah mau mampir dan membaca, semoga FF abal Hyo dapet tanggapan yang bagus. Mohon RnR eoh~~ *bow*
