YunJaeMin Love Story

Author :

Kim Hyokyo a.k.a Revan Ananda

Maincast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Kim (Shim) Changmin

Choi Dongwook a.k.a Se7en

Rate : T + a.k.a PG - 15

Warning :

Ini hanya fan fiction, jika ada kemiripan cerita, karangan, tokoh, alur, dll itu tanpa ada unsur kesengajaan karena mungkin daya imajinasi kita mirip aja. Terima flame tapi tidak melayani bashing chara!

This is BL a.k.a boyslove a.k.a yaoi a.k.a boyXboy, many typo, not use good EYD, M-Preg (maybe), Out Of Character, DoublePersonality!JaeMin. DON'T LIKE, DON'T READ.

~*~*~*~*~* Happy Reading*~*~*~*~*~

~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~

"Aku mencintaimu, Min!"

#####

Lantai dansa itu mulai ramai, sang primadona dance a.k.a Max baru saja menyelesaikan tarian panasnya. Kini dia berjalan ke meja bar. "ada yang membooking-ku, Micky?" tanyanya malas pada seorang bartender yang tampak masih sibuk me-mix beberapa minuman beralkohol itu. Namja yang dipanggil Micky –yang juga sang pemilik club- mengulurkan secarik kertas. Alis Max berkerut dengan tidak elitnya saat mendapati hanya ada satu nomor didalam kertas itu. "hanya dia tamuku malam ini?" tanyanya sangsi. Bayangkan saja, seumur hidupnya bekerja di nite club ini, baru kali ini dia Cuma dapat satu tamu dalam satu malam?! Oh ayolah, siapapun pasti menakui pheromone menggoda dan menggugah selera milik seorang Max, sang king of having sex.

"sebenarnya tadi ada 6 orang yang membooking-mu, tapi tamu itu membooking-mu dengan harga 7X lipat dan memaksaku untuk meng-cancel seluruh tamumu. Kau tau peraturan di club ini kan?!" seolah paham dengan isi kepala Max, Micky bersuara.

Max mendecak, "dia pasti milyarder bodoh yang tak tau kemana harus membuang-buang uangnya." Namja manis itu menggerutu seraya berjalan ke arah VIP-Room nomor 7.

"have fun, dan jangan memaki pelangganmu kali ini, Max!" Micky sempat meneriakinya tapi namja manis itu tak menggubris.

Max mengetuk pintu itu lalu masuk, ruangan itu tampak remang-remang. "kupikir tempat ini akan ramai sekali." Gumannya saat mendapati ruangan itu sunyi senyap. Hanya ada seseorang yang duduk disebuah sofa dengan segelas red-whein di tangannya. Posisinya yang membelakangi Max membuat namja manis itu tak bisa mengira-kira seperti apa wajah tamunya malam ini. "tarianmu tadi indah sekali, Min." ujar tamu itu.

DEG!

Langkah namja manis itu kontan terhenti saat mendengar suara baritone itu. "k-kau…" lihatlah,bahkan kini suaranya pun tertahan ditenggorokannya. Namja cool itu meletakkan gelasnya dan beranjak membuat Max bisa melihat dengan jelas wajah namja tampan itu diatara minimnya cahaya di ruangan itu.

"semoga kau tak sibuk sampai besok siang, Min-ah." Se7en berjalan ke arah Max. "karena aku berencana membawamu ke tempatku." Dia tersenyum tipis.

Namja manis itu mendengus, "aku tidak mau melayanimu. Ambil uangmu dan kau bisa cari orang lain saja, Se7en-shii. Permisi!" ujarnya ketus seraya beranjak.

Sepertinya namja cool itu belum menyerah, dia menarik lengan Changmin, "tidak ada yang boleh menolakku, Min-ah. Termasuk kau!" ujarnya dingin. "kau lupa dengan perjanjian kita tadi siang? Ngomong-ngomong aku serius loh dengan ucapanku tadi." Lanjutnya dengan suara rendah nan mengintimidasi membuat caramel Changmin membulat sempurna. "kau-" lagi-lagi ucapan namja manis itu tertahan, namun kali ini ucapan itu tertahan lantaran ada bibir tipis yang menempel dibibirnya. Itu memang bukan pagutan mematikan semacam frech kiss, itu hanya kecupan lembut tanpa dosa dan Se7en mengakhirinya dengan seulas senyum yang pasti membuat para yeoja diluar sana melting di tempat.

Changmin menunduk dengan sedikit rona dipipinya. Ngomong-ngomong ini ciuman pertamanya dengan seorang pria –minus Jung Yunho tentu saja-. "jadi, apa kita bisa ke tempatku?" bisiknya lagi. Changmin mendongak, "aku… um… soal ancamanmu tadi siang… " dia terdiam lagi ingat obrolan a lot mereka tadi siang.

Flash back~

"aku mencintaimu, Min!"

Tubuh Changmin membeku mendengar kata-kata tabu untuknya, 'cinta'. Dengan gerakan kaku dia menolehkan kepalanya ke arah Se7en. Namja cool itu tersenyum-menyeringai lebih tepatnya- pada Changmin. Dengan mendengus sebal Changmin kembali mendekati Se7en. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya, siap memukul wajah tampan namja didempannya. Manic karamelnya sudah berkilat marah, tapi dia mencoba menahannya. Se7en masih memamerkan senyum malaikatnya itu meski disekeliling tubuh Changmin sudah ada aura hitam kelam.

"sepertinya kau harus ke psikiater, Se7en-shii!" ujarnya sarkastik.

Se7en mengendikkan bahunya, "antarkan aku kalau begitu. Aku akan dengan senang hati jika kau mau menemaniku, Min-ah."

Gigi Changmin mengeretuk, "aku tak ada waktu meladenimu, permisi!" ujar namja itu seraya berbalik siap untuk melangkahkan kakinya. "jika kau menolakku, besok pagi kau akan menerima surat DO sekolah atas nama Kim Jaejoong, Min-ah." Ucap Se7en santai namun berdampak begitu besar bagi seorang Kim Changmin. Dengan tatapan nyalang namja manis itu berbalik, "dare you!" geramnya membuat namja cool itu berjingkrak dalam hati karena berhasil mendapat perhatian dari namja manis itu namun karena jaim(?) dia masih mempertahankan poker face nya. "ah, dan aku jamin tak akan ada sekolah regular mana pun di korea selatan yang mau menerimanya." Tambahnya semakin membuat amarah Changmin memuncak.

Namja didepannya ini berbahaya, Changmin sadar itu karena kini namja itu bahkan sudah membawa-bawa kekuasaan ibunya yang seorang kepala senator sekolah. Posisinya sekarang sangat tidak menguntungkan untuk melawan Se7en karena namja itu sepertinya sudah mendapatkan kartu trup atas dirinya. Baginya Jaejoong adalah segalanya dan dia rela melakukan apapun untuk kebahagiaan 'saudara'nya itu. Dengan setengah hati Changmin menghela nafas, "fine! Aku mendengarkan!" ujarnya geram membuat Se7en menyunggingkan smirk-nya.

End of flash back~

Mereka masih di ruangan VIP itu, kini namja manis itu ada diatas pangkuan Se7en. Entah sejak kapan namja cool itu membawanya ke shofa. Mereka juga masih betah bercumbu, Se7en yang mencumbu Changmin lebih tepatnya. "tu,tunghh…guuhhh…" cegah Changmin saat Se7en berniat menggigit perpotongan lehernya. Namja cool itu melepaskan cumbuannya dan menatap wajah tersegal Changmin yang tampak seksi. "Min-ah, apa kau selalu seperti ini dengan tamu-tamumu yang lain?" tanyanya datar. Changmin spontan menggeleng, "aku… tak pernah menerima booking-an dari tamu namja." Jawabnya jujur. Entah mengapa dia jadi enggan berbohong dengan namja yang satu ini.

Se7en merapikan surai pirang atahari itu dengan lembut, "malam ini kau harus menemaniku. Ayo kita pulang ke apartemenku dan kita bisa lebih leluasa disana!" ujarnya seraya beranjak dan menarik lengan Changmin dengan lembut. "ka-kau bisa menungguku di mobilmu Se7en-shii, aku akan mengganti bajuku dulu." Pinta namja manis itu pelan. Dia tak berani membentak Se7en seperti tadi siang karena namja didepannya ini sepertinya sangat suka melihat emosinya meledak-ledak.

Tanpa suara Se7en berbalik seraya melepas mantelnya dan memakaikan ke punggung Changmin, "tak perlu Min-ah. Aku ingin kita pergi sekarang, arra?" ujarnya datar namun tegas. Changmin mengangguk pasrah dan Se7en langsung menggamit pinggang ramping namja manis itu dengan posesif. Mereka meninggalkan nite club itu dengan mobil sport Se7en yang sudah terparkir rapi di baseman.

####

CEKLEK!

Bunyi saklar lampu yang dinyalakan itu sedikit menggema dalam ruangan yang awalnya gelap gulita itu. Yunho baru saja memasuki kamarnya dan harus terlonjak kaget saat mendapati orang asing sedang tidur nyenyak di atas kasur empuknya. Alisnya berkerut dan dia kembali keluar dari kamar itu, menuruni tangga dengan terburu-buru dan berhenti didepan ibunya yang sedang duduk santai diruang keluarga. "eomma, kenapa ada BoA dikamarku?" tanyanya to the point. Sang ibu menoleh padanya dan tersenyum ramah, "ah, tadi eomma yang menyuruhnya tidur disana karena dia kelelahan menunggumu chagi. Lagi pula sebentar lagi kalian akan bertunangan kan, jadi menurut eomma tak masalah kalau BoA tidur dikamarmu." Jelas ibunya santai.

Dengan menggeram tak suka Yunho menyambar kunci mobilnya. "aku mau pulang ke apartemenku saja." Ujarnya bergegas keluar sebelum ibunya sempat protes. " Jung Yunho!" teriak ibunya berusaha mengejar putra semata wayangnya itu. "Yun, tunggu! Apa-apaan kau ini? BoA sudah menunggumu seharian dan kini kau malah mau pulang ke apartemenmu? Apa yang ada dikepalamu hah? Apa pelacur kecil itu yang membuatmu jadi pembangkang seperti ini?" protes ibunya diambang pintu membuat Yunho urung membuka pintu mobil saat mendengar kata 'pelacur kecil' yang diucapkan ibunya.

"apa maksud eomma menyebut Changmin dengan sebutan pelacur? Dia bukan pelacur eomma!" dia membantah sengit.

Sang ibu menatap dengan pandangan meremehkan, "apa sebutan untuk penari telanjang di club malam kalau bukan pelacur, heh?"

"eomma bahkan tak tau apa-apa!" Yunho memasuki mobilnya dan langsung tancap gas.

"DENGAR YUN, SAMPAI MATI PUN EOMMA TAK AKAN MERESTUI HUBUNGANMU DENGAN PELACUR ITU!"

#####

Changmin mendudukkan dirinya diranjang Se7en, kini mereka ada di apartemen mewah milik namja tampan itu. "mengapa kau begitu ingin memilikiku Se7en-shii?" tanyanya antara sadar dan tidak karena dari tadi dia terus termenung seperti orang yang terlibat utang besar. Se7en yang baru saja meletakkan kunci mobilnya menoleh dengan tatapan datar, "kau tau, apapun yang aku inginkan memang harus aku dapatkan." Jawabnya enteng. Namja manis itu menghela nafas, "come on, aku tau kau bukan gay. Jadi berhenti mencoba menginginkanku Se7en-shii!" ujarnya sebal.

Namja cool itu tersenyum ramah, "ani, kau tidak tau terkadang cinta itu bisa datang ditempat yang tak terduga. Seperti halnya Jaejoong dan Yunho, mungkin aku dan kamu juga begitu Min-ah." Tanggapnya seraya mengeluarkan soft drink dari kulkas kecil disudut ruangan dan mengulurkannya pada Changmin.

"Se7en-shii-"

"panggil aku Se7en saja Min-ah. Atau kau bisa memanggilku sichi." Se7en menginterupsi ucapan Changmin.

Malas berdebat, namja manis itu hanya mengangguk. "Sichi, kau tak perlu bertingkah seolah kau benar-benar menginginkanku. Jika kau menginginkan tubuhku, aku bisa saja memberikannya asal kau membayarku." Ujarnya malas. Dia memang malas berurusan dengan namja cool ini. Se7en itu type ambisius, Changmin dapat melihatnya dari perbincangan mereka tadi siang.

Flash back~

"pertama-tama, aku ingin kau setuju jadi pacarku." Ujar Se7en yang diangguki Changmin dengan malas. "lalu kau harus berhenti dari 'Zero'," lanjutnya membuat mata Changmin memicing. "kau nantang berantem ya?" ujar namja manis itu dengan geram. Se7en menatapnya lurus-lurus, "aku tidak suka kau menari telanjang didepan ratusan mata. Baru saja kau jadi pacarku, ingat?" jawabnya enteng.

Changmin mendengus, "jangan konyol! Pekerjaanku bukan urusanmu. Jangan mengusik hal yang tidak ada hubungannya denganmu! Aku dan Jaejoong bukanlah anak dari keluarga kaya raya sepertimu dan Yunho yang hanya dengan menjentikkan jari semua yang kami inginkan terpenuhi." Protesnya kesal. Se7en menyentuh pipi Changmin dengan lembut, "makanya kalau orang ngomong jangan disela. Kau berhenti dari 'Zero' dan aku yang menanggung segala keperluan kalian." Lanjutnya membuat Changmin kembali beranjak.

BRAKK!

Meja tak bersalah itu jadi sasaran kemarahan Changmin (lagi), namja manis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Se7en, "dengar ya . . kau kira dengan aku berhenti jadi stripper dan melayanimu itu lebih terhormat? Aku bukan budakmu!" semburnya. Habis sudah kesabarannya. Dia beranjak pergi meninggalkan Se7en yang sudah memamerkan seringaian yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. "you are mine, Min-ah. Hum, Minku~" gumannya santai. Berhati-hatilah Changmin, sepertinya hidupmu akan lebih rumit sekarang.

Flah back end~

Sentuhan lembut dipipinya membuat Changmin teranjak dari ketermanguannya. "kau melamun, Min-ah." Bisik Se7en tepat ditelinga Changmin membuat namja manis itu spontan mundur sejengkal. "mi-mianhae… "desis Changmin seraya menunduk. Se7en memeluknya, "apa bebanmu begitu berat Min-ah? Bagilah sedikit padaku!" pintanya. Changmin menggeleng dalam dekapan lengan kokoh itu.

"a,aku… aku bukanlah orang yang bisa kau harapkan, Sichi."

"aku bukan berharap padamu Min-ah, aku mengharuskanmu."

Changmin menatap Se7en dalam-dalam. "kau tak tau, aku adalah kepribadian yang tercipta karena kesedihan mendalam Jaejoong. Ketika namja itu menemukan kebahagiaannya maka saat itu pula aku akan lenyap. Jadi kau buang-buang waktu saja dengan semua ini." Ujarnya putus asa. Entah mengapa dia peduli dengan perasaan Se7en saat dirinya menghilang nantinya.

Se7en tersenyum, "tenang saja, aku tak peduli dengan semua itu." Ujarnya membuat Changmin terdiam. Bagaimana ini? Dia mulai bimbang dengan pendiriannya sendiri. Se7en kembali membelai pipi Changmin, "kau hanya milikku Minku." Ujarnya posesif dan keduanya kembali berpagutan.

#####

Drttt… drrttt…drrttt…

Getar ponsel itu mengusik tidur namja manis itu. Perlahan caramel itu terbuka dengan malas dan tangannya menggapai ponselnya yang tergeletak di meja nakas. "annyeong." Ujarnnya malas-malasan. "ung, Jung Yunho ini hari minggu please deh, ini jatahku libur dan aku tak ingin diganggu olehmu." Ujar Changmin begitu tahu siapa yang meneleponnya. "Jae, dia belum bangun. Mungkin nanti siang. Sudah ya, aku sangat mengantuk. Hoamm…" lanjutnya seraya menekan tombol merah di ponselnya.

Pelukkan posesive dipinggangnya membuatnya menoleh ke sampingnya. Se7en masih tidur disana dan Changmin menghela nafas. 'menyebalkan' batinnya seraya perlahan memindahkan lengan namja cool itu dari pinggangnya. Dia beranjak ke kamar mandi. Air dingin akan membantunya menjernihkan pikirannya yang kacau sejak kemarin siang.

~*~*~Y.u.n.J.a.e.M.i.n~*~*~

Yunho baru saja bangun tidur saat mendengar pintu depan terbuka. Dia beranjak dan berjalan keluar kamar. Changmin tampak baru saja mendudukkan dirinya di shofa saat namja tampan itu berdeham menginterupsi keinginannya untuk bersantai sejenak. "oh, selamat pagi Yun." Ujarnya tak berminat. Yunho berjalan mendekatinya, "darimana saja kau? Tidak biasanya kau pulang sesiang ini." Ujarnya tajam. Changmin memandangnya dengan tatapan 'kumohon jangan sekarang, Yun.' Dan Yunho menghela nafas, "okay, kau hutang penjelasan padaku. Sekarang bisakah aku ketemu Jaejoong? Aku sangat merindukannya." Lirihnya. Changmin menyamankan posisi duduknya dan mulai menutup mata.

Hanya beberapa menit, tubuh itu mulai bertukar posisi. Perlahan Jaejoong mengerjabkan doe-eyes itu dengan tatapan bingung. "yun…" ujarnya begitu menyadari namja chingu-nya itu ada disebelahnya. Kontan Yunho menarik tubuh kecil Jaejoong ke pelukkannya. "bogoshipo Joongie." Ujarnya membuat Jaejoong terbelalak kaget. Lebih kaget lagi karena pelukan Yunho yang sangat erat. "engh… yunhh… se-se…sakkhhh…" ujarnya kesusahan membuat Yunho reflek melepaskan pelukan eratnya. "mianhae, aku hanya terlalu merindukanmu, Boojae." Ujarnya seraya menggesekkan hidung mancung mereka.

Jaejoong tertawa geli karena tingkah Yunho. "Yunie lucu, hihihi~ Boojae kan Cuma tak menemui Yunie selama 2 hari." Ujarnya. Yunho mengecupi pipi Jaejoong dengan gemas. "kau tau, ibuku mulai merecokiku." Ujarnya kesal. Jaejoong hanya mengerjabkan matanya lucu. "merecoki?" tanyanya imut membuat Yunho makin gemas. Namja tampan itu langsung menarik tubuh Jaejoong dan memagut bibir kissable yang selalu menggodanya itu.

Diserang mendadak oleh namja chingu-nya itu membuat Jaejoong spontan memberontak, namun sesaat kemudian namja cantik itu menutup matanya pasrah menerima perlakuan sang kekasih. "emhhh… unghhh…" lenguhan Jaejoong mulai memenuhi pendengaran Yunho yang secara tak langsung malah merangsang hasrat namja tampan bermarga Jung itu. Tangan Yunho yang menganggur segera menggerayangi perut Jaejoong, meraba abs yang tak terlalu kentara di perut itu. "ahhh… Yunhh… enghhh…" desahan namja cantik itu makin menjadi-jadi.

Yunho tak peduli dengan ceceran saliva yang sudah mengalir dari sudut-sudut bibir Jaejoong. Namja tampan itu sudah membawa bibirnya turun ke sepanjang rahang namja cantik itu, mengecupinya dengan lembut sesekali menjilati dan ngeulum kulit seputih pualam itu. "Boojae, kau tau. Aku tak suka dengan bau parfum yang menempel di tubuhmu. Itu bau parfum seorang namja." Bisiknya sebal tepat didepan telinga Jaejoong membuat namja cantik itu terhenyak. "par-fum?" tanyanya tak yakin.

TBC~~

Annyeong, konnichiwa, hallo~~ *lambai2 sambil pasang tampang imut O:) #plak *abaikan

Hyo yang manis, imut2, dan innocent *ditimpukin kolornya changmomo XD* #plak *abaikan lagi,hyo kan emang rada sarap* udah update part 6 jangan diprotes karna ceritanya makin gaje XD

Nah, karna lappy tercinta lagi ga hyo pegang, mungkin untuk part2 selanjutnya akan sangaaaaaattttt lammmaaaaaa *deep bow*

Okay sip,silahkan di review,coment,kritik,saran,d-l-l,d-s-b,d-s-t