Chapter 2

KIRĀ NO KOKORO WA...

ルキア クロサキ


Udara yang cukup hangat berhembus lembut di leher Rukia, namun di sisi lain ia juga merasa hawa dingin menerpa tubuhnya. Tunggu, ini begitu dingin dan transparan. Tak nyaman dengan keadaannya, ia mencoba membuka mata amethys nya. Secercah cahaya mulai masuk melewati celah jendela dan gorden tipis di samping ia berbaring sekarang. Ini sudah pagi. Tapi tunggu, dia sedang didekap oleh seseorang. E-eh, kemana busana yang ia pakai? La-lalu.. yang ada di dadanya itu, bukan helaian rambut oranye kan?

"Kyaaaa! Ke-virgin-an kuuu!" Rukia otomatis memekik setelah ia ingat semua nya. Yang ada di atasnya itu.. Ichigo.


BLEACH © I dont belive it! It should be mine!#GEBUK

KIRĀ NO KOKORO WA... © ChapChappyChantik XD

Pairing : Ichigo the vamp x Rukia the chibi

Genre : Fiction, Romance, Action, rather Bloody, Friendship

Rate : T+

Warning : NO FLAME-typo(s){berubung tombol 'n' nya rada eror, jadi mungkin kebanyakan nggak ada 'n' nya}-OOC-AU'ah gelap-semi fiksi

Note : etoo..sebelumnya, saya membuat ini karena beberapa permintaan. Soalnya ada yang kurang puas karena Ichiruki nya dikit. Melihat itu, saya jadi kepikiran untuk bikin chap 2 aja kali ya. Dan sepertinya saya memang PAYAH membuat oneshot. So, onegaishimasu

Special Thanks

KittyLuvBunny

Hehe, iya sih. Aku juga ngrasa klo alurnya kecepetan. Soalnya aku fokus ke oneshot nya sih.
Ternyata anda juga sadar. Aku sebenenya sih juga agak risih pas nulis darahnya yang ditransfer lewat mulut(gimana caranya ya?#plak!) yang aku lebih pikirin tu yang ditrasf sari-sari kehidupannya Rukia. Gomen kalo gitu. Ok, sankyu reviewnya :*

KeyKeiko

Arigatou reviewnya :*

Azura Kuchiki

Haha, feel agresif nya dapet yak? Yokatta..XD Vamp kelas atas terkadang agresif XD#sotoy!
Soalnya klo si cewe tu manusia, ceritanya udah mainstreamXD tapi aku baru tau beberapa hari lalu, kalo si Ruki disini hampir mirip sama Yuki(vampire knight) yang ternyata adalah vamp origin -_-
Soal Byakuya...hehe, I'm sorry...soalnya klo Byakuya perannya protagonis n jadi kakak nya Ruki tu udah mainstream..Gomen klo g suka. Tapi di ch 2 ini mungkin keantagonisan Byakuya mulai terkikis.
Oke, doita. Arigatou revewnya :*

Naruzhea AiChi

Benarkah? Arigatouuuu! Oke, ni aku buat ch 2 :*

Peachy Berry

Haha..iya..iyaa..Arigatou reviewnya ya...:*

Hope you enjoy!


"...Rukia? Bisa tidak jika tak meneriakkan hal yang sama setiap kita habis melakukannya? Seolah-olah aku adalah pria jahat yang menodaimu. Menyakitkan tau." Lelaki jangkung itu duduk dan menggaruk kepalanya. Sesekali ia meregangkan otot-otot lehernya."Lihat, semalam kau menghisapku terlalu banyak. Kau menang telak, Rukia." Ichigo menunjukkan bekas dilehernya dan masih santai menonton Rukia. Sedangkan Rukia? Yah, dia memang akting. Raut wajah polosnya tadi tergantikan dengan mimik sinis dengan seringaian.

"Akh, aku hanya ingin megingat-ingat masa virgin ku."

"Sudah lima kali kau begitu. Rasanya kau tidak puas denganku. Menyakitkan." Ichigo mulai beranjak dari singgasana nya. Menuju kamar mandi yang masih menyatu dengan kamarnya.

"Ck, kau ini tidak bisa diajak bercanda. Tentu saja aku puas. Jika tidak, mana mungkin aku meminummu sampai seperti semalam." Rukia juga mulai beranjak ; mengikuti Ichigo. "Aku mencintaimu tau..." Wanita itu mendekap Ichigo dari belakang. Membuat pergerakan Ichigo terhenti."...suamiku." dan kata itu membuat Ichigo tersenyum.

:

:

Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak

:

:

"Sudah kubilang! Jangan jadi Maid, Rukia!" Ichigo bersikeras denga opininya. Ia begitu melarang sang istri untuk menjadi Maid di cafe nya. Oh ayolah, siapa yang mau istrinya jadi tontonan?

"A~h, kau tidak seru, Ichigo. Beda sekali saat kita pacaran.." Rukia menggembungkan pipinya. Ia mengingat masa-masanya dulu sebelum menikah dengan salvation satu ini. Dua tahun lalu, ketika keluarga vampir itu telah mengetahui jati diri Rukia, Ichigo meminta Orihime bertukar tempat tinggal dengannya. Sehingga Ichigo lah yang tinggal berdua dengan Rukia di rumah origin tersebut, dan Orihime pindah ke rumah Gin. Sekalian, dengan kelebihan Orihime, dia bisa membantu Gin merawat Byakuya dan Grimmjow. Yah, masa-masa sekolah Rukia pun pupus sudah saat setahun itu berlalu. Setelah lulus SMA, Ichigo menikahinya. Dan parahnya, tepat sehari setelah wisuda, upacara pernikahan berlangsung. Sungguh agresif.

"Memang beda. Saat pacaran, kita belum sepenuhnya saling memiliki. Tapi untuk sekarang, yang boleh melihat kecantikan origin ku hanyalah aku. Memangnya kau juga ingin jika para perempuan yang biasa ke sini terus saja memekik karena melihatku? Makannya aku mengurangi aura ku. Hanya untukmu, Rukia." Ichigo terus saja bicara sambil merebut dan melipat seragam Maid yang sengaja Rangiku buatkan untuk Rukia. Dan Ichigo benar-benar tau selera Rangiku.

Sementara Rukia terpukau dengan perkataan Ichigo. Begitu spesial kah dirinya untuk Ichigo?

"Ichigo.." Rukia menempelkan tubuhnya pada Sang Suami seraya menyibak rambut yang menutupi lehernya. Ia persembahkan untuk Ichigo."...daisuki." Ichigo kemudian tersenyum dan menerima pemberian Rukia. Dia memang tak akan bisa bosan dengan darah Rukia. Rasa dari origin memang tak ada bandingannya. Apalagi Rukia bukanlah origin biasa.

"Ichigo...hh..sakit.."

"...manja."

"Ichigo kasar.."

"...hukuman untukmu."

"Ayolah, lembut sedikit.."

"..lain kali."

"Tanganmu nakal."

"...mau protes?"

"Sakit tau.."

"..kau pikir semalam aku tak kesakitan?"

"Tapi aku suka.."

"...aku juga suka"

"Ehem.." suara itu.. Gin."Tuan Barista. Ingin aku memotong gajimu?" Ichigo tertegun. Gin dengan santainya bersandar di dinding dengan memegang popcorn. Kau pikir ini film di bioskop apa? Namun pria oranye itu tau maksudnya. Grimm dan Byakuya belum sembuh betul, dugaan Rukia dan Gin salah ketika mereka menganggap para revenant itu sudah mulai pulih dua tahun lalu. Kerusakan organ dalam yang dibuat Rukia ternyata tak sesederhana yang dia pikir. Wanita itu telah hilang kendali kala Ichigo disakiti. Mungkin dengan sari kehidupan yang sebetulnya sempat Rukia bagi dengan Ichigo melalui sebuah ciuman hangat, dapat menyembuhkan mereka dengan cepat layaknya Ichigo. Namun Rukia enggan. Dia masih belum tau apa yang ada dipikiran vampir berdarah dingin keluarga barunya itu. Karena mereka berdua yang notebene juga bekerja sebagai barista, sedangkan kondisi mereka saja payah, jadi dengan terpaksa Ichigo harus kerja ekstra. Dan tak ada kata terlambat ketika papan cafe berubah menjadi 'open'.

"Maaf menginterupsi kalian, tapi memang suamimu harus bekerja dengan giat, Rukia-chan." Gin akhirnya buka mulut setelah Ichigo berlalu.

"Tak usah dipikirkan. Tapi kudengar dari Orihime, Grimmjow dan Byakuya sudah bisa duduk." Rukia malah mengganti topik. Memang terdengar janggal bila selama dua tahun, Rukia tak melihat revenant yang telah ia lukai itu. Tapi memang keduanya tengah diisolasi oleh Orihime. Jadi wajar bila ia tak tau keadaan mereka.

"Benar. Orihime memang telaten merawat mereka. Tapi tak kusangka, bisa dua tahun lamanya." Gin sedikit tersenyum miris. Sebenarnya ia sangat sayang pada mereka. Sebagai yang paling tua, Gin memiliki perasaan yang paling tua juga. Tapi tingkah terakhir keduanya memang tak bisa ditolelir. Jadi apa boleh buat.

"Aku akan menemui mereka nanti." Bisik Rukia kemudian pergi meninggalkan dapur cafe.

"Kuharap mereka mengerti, Rukia-sama."

:

:

Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak

:

:

"Haaaah..akhirnya pelanggan terakhir tel-"

cup

"Bibirmu rasa kopi. Habis mencicipi punya pelanggan ya?"

"Rukia! Jangan tiba-tiba mencium begitu. Kaget tau!" Ichigo sungguh heran. Ketika ia mengira bahwa Rukia adalah seorang manusia, ia cukup berpikir kalau Rukia begitu agresif. Tapi tetap saja yang menggoda adalah Ichigo sendiri. Tapi, setelah ia tau jika Rukia adalah err..bisa disebut ratu-dalam arti yang sebenarnya, dia jadi sangat sadar bahwa Rukia memang agresif."Lagipula aku tidak mencicipi punya pelanggan. Aku mencicipi punya mu." Ichigo menyodorkan Rukia segelas kopi latte.

"Wah, arigatou." Rukia langsung menerima dan meminumnya.

"Nah, sekarang sudah tutup. Silahkan lanjutkan yang tadi." Gin memasang wajah innocent seraya memegang popcorn (lagi).

BUAK!

"Ngomong-ngomong, apa kau merasakan sesuatu di sini?" Ichigo mengelus perut Rukia dengan lembut. Tatapanya begitu sayu melihat ke arah perut Rukia. Seakan-akan, terdapat sebuah harapan manis di tempat tangan kekar Sang Suami itu mendarat. Seutas senyum tertarik mulus di bibirnya.

"Owh..tentu! Aku merasakan!" Rukia menjawabnya dengan antusias. Membuat Ichigo ikut girang."Setelah makan karee mu kemarin, aku langsung ke toilet! Perutku terasa spektakuler saat itu!"

"..."

...

...

"Baka!" Ichigo pun berlalu meninggalkan Rukia.

"Eeh? Dia kenapa?"

:

:

Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak

:

:

"Kata Gin-san, Rukia akan ke sini." Gadis yang terlihat piawai itu membawakan minuman pada dua orang yang sedang terbaring lemah di kasur pada ruangan yang lumayan gelap. Ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya lilin saja. "Rukia sangat khawatir pada kalian. Dia takut. Sebernarnya, dia tidak mau menyakiti kalian meskipun dari awal dia tau bahwa kalian mengincarnya." Gadis itu terseyum manis pada pemuda di depannya.

"Sudah berapa kali kau cerita seperti itu, ha?" nada kasar yang keluar dari mulut Grimm sama sekali tak membuat Orihime gentar. Apalagi takut.

"Aku mohon, sebagai alter- ah maksudku slave, aku minta pada kalian untuk tidak mengulang tragedi bulan purnama itu lagi. Orang tua kalian juga mati di sana kan?" Grimm terdiam. Tidak lagi melotot pada Orihime. Sedangkan Byakuya semakin menunduk."Aku tau, kalian baik.."

"Kau tak akan pernah tau rasanya, Manusia." Lirih Byakuya. Suaranya agak bergetar. Seketika Orihime terkejut. Tiba-tiba matanya panas dan perih mendengar suara parau Byakuya. Air mata pun tak dapat dibendung lagi.

"Daijoubu da yo...daijoubu..hiks..da yo.." Orihime berusaha merangkul keduanya. Membiarkan mereka berbagi rasa sakit pada dirinya. Rasa sakit hati sebagai revenant.

:

:

Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak

:

:

"Ichigo! Kau selingkuh ya?!" sorot intimidasi terpampang jelas di wajah Rukia. Ichigo hanya cuek dan bertampang –kau-harus-tabah-Ichigo-."Jawab!"

"..apa buktinya?" pantulan mata Ichigo masih terlihat tak tertarik menanggapi topik dari Rukia.

"Seragam barista mu ada bau parfum perempuan, bukan bau parfum yang biasa kau pakai! Tunggu, sepertinya ini tak asing!" Rukia kembali mengendus pakaian yang dipakai Ichigo. Sesekali matanya terbelalak karena serasa familiar dengan harumnya.

"...hanya itu?"

"Bukan hanya ini! Lihat!" Rukia dengan kasar menyibak kemeja Ichigo."Ada bercak lipstick! Bentuk bibir pula! Kau jahat, Ichigo!" Ichigo hanya memutar bola matanya ; bosan.

"Rukia, kalau aku mau, aku bisa menelanjangimu sekarang juga." Kalimat itu membuat Rukia buru-buru memegang erat pakaiannya.

"Kenapa begitu?! Seharusnya aku yang mengancammu!"

"Baka! Kan sudah ku bilang, ini parfum laveder mu! Aku menumpahkannya kemarin lusa! Dan ini bekas ciumanmu saat di kamar mandi! Kau mabuk atau lebih tepatnya kau mengigau karena terlalu banyak minum darahku! Astaga..." lelaki yang tengah frustasi itu menepuk jidatnya keras."Aku tidak akan mengampunimu nanti malam. Aku serius!"

"E-eh, Ichigo.. kau tau kan, aku hanya akting. Aku tau itu semua kok.. jangan marah ya.. " Rukia meringis. Kalau urusan berkelahi, Rukia sudah pasti unggul. Tapi kalau yang seperti ini, mungkin Ichigo bisa lebih ganas. Salahkan Rukia yang suka mempermainkan suaminya dengan akting amatirnya.

Namun pada akhirnya Ichigo hanya bisa menghela nafas panjang.

"Kau bilang ingin mengunjungi Grimm dan Byakuya kan? Aku ikut." Ichigo merubah topiknya. Tapi jujur, ia juga penasaran. Bagaimana keadaan mereka sekarang. Ia tak sanggup mengingat-ingat betapa bengisnya kedua vampir itu yang hendak membunuh dirinya. Ichigo dan mereka selama ini tumbuh bersama. Tak bisakah mereka mengerti apa arti saudara? Apa arti keluarga? Arti dari sebuah kasih sayang yang selama ini tulus diberikan? Ichigo tak pernah berpikir kalau mereka jahat. Karena mereka juga korban di medan perang. Keluarga asli mereka telah mati. Sama seperti Ichigo. Jadi, bisakah mereka sedikit terbuka. Mengeluarkan segala permasalahan yang ada. Dan kembali bercengkrama tanpa ada mata merah tajam itu lagi?

"Ichigo.." Rukia sedikit megguncang tubuh Ichigo. Sepertinya Ichigo melamun."..mereka adalah vampir baik." Sang Istri pun akhirnya memeluk suami tercintanya. Membagi kehangatan yang terkuar. Agar kebekuan itu dapat mencair sedikit demi sedikit.

:

:

Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak

:

:

Ruangan itu masih tetap remang seperti biasa. Namun terdapat penghuni di dalamnya yang mulai gelisah. Perempuan yang menjadi perawat mereka menyadari hal itu.

"Grimm?"

"Aku ingin merasakan sinar matahari."

"Tapi kau belum pulih. Itu bisa membakarmu." Orihime mulai khawatir karena sekali Grimmjow berbicara, sulit untuknya melarang.

"Aku ingin merasakan sinar matahari." Ulangnya dengan sedikit nada yang kasar. Orihime sudah menduganya. Dengan berat hati, dia memapah Grimmjow menuju balkon. Ini sudah mulai sore, mungkin matahari pun sudah mulai terbenam dan Orihime berharap sinar senja tak membakar pasiennya.

:

:

Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak

:

:

Surai nila yang tertimpa oleh jingganya sore sesekali bergoyang menggoda diterpa angin. Si pemilik surai nila yang memejamkan mata itu begitu puas karena selama dua tahun ini akhirnya ia bisa merasakan hangatnya sinar mentari. Seutas senyum pun terukir. Membuat suasana di situ semakin damai.

"Sudah baikan?" suara itu memancarkan energi yang begitu besar dan terasa familiar di luka-luka pria nila tadi. Seketika Grimmjow membuka mata dan menoleh, namun belum mau memperdengarkan suaranya."Setelah kulihat, lukamu tak lebih parah dari kakakmu." Pendatang baru itu- Rukia menghampiri pagar balkon. Meninggalkan Grimmjow yang terduduk di belakangnya.

"Terima kasih."

Tanpa ekspresi terkejut karena kalimat pria itu, Rukia menengok. Grimmjow tertunduk. Tak sanggup menatap wajah predator di depannya.

"...telah membiarkan kakakku hidup."

KRIEET

Suara kursi kayu yang bergesekan dengan lantai tersebut disebabkan oleh beban yang terlalu besar. Rukia memeluk Grimmjow. Sementara Grimm sangat terkejut karena merasakan kehangatan yang tiba-tiba dari perempuan di depannya. Kenapa sangat hangat? Kenapa dia begitu menginginkan pelukan ini darinya? Kenapa begitu nyaman? Seseorang yang tadinya ingin ia mangsa dengan buas, menciptakan kedamaian di hatinya? Dan ia kembali meyunggingkan senyumnya. Ia hendak berujar dengan tatapan sendu menghadap langit. Mengingat hal pahit yang ada pada dirinya.

"Jika boleh memilih, aku sejak awal tak ingin dilahirkan sebagai revenant. Tapi, kakakku lah yang paling tak ingin itu. Aku memang tidak mengerti pikiran orang dewasa ratusan tahun lalu. Mereka membicarakan mangsa, mangsa, dan mangsa. Tapi kini aku mengerti. Kami hidup untuk kekejaman." Grimmjow berkata dengan tenang dan lirih. Rukia menyambutnya masih dengan dekapan. "Terkadang naluri itu terbisik jelas di kepalaku. Membuatku melakukan hal ini dan hal itu. Aku memang butuh mangsa yang ingin ku cabik-cabik. Dari awal aku tak tau kenapa. Hanya saja aku akan merasa puas jika melakukannya."

"Aku sudah tau hal itu." Rukia melepas pelukannya. Membuat si empunya surai nila merasa sedikit kecewa. Rukia pun bersimpuh di depan Grimm. Memperhatikan cidera-cidera yang telah ia buat."Selama ini, kudengar dari Gin, jika kau dan kakakmu tak pernah memakan darah manusia dan baru mengeluarkan naluri asli kalian setelah bertemu denganku. Kau selalu berburu binatang dengan Ichigo di hutan kan?" Rukia kini memandang lekat mata Grimm."Aku tak akan menyalahkan kalian karena memang akulah yang membangkitkan naluri kalian. Darahku memang berbeda dengan darah mana pun. Jadi seharusnya aku meminta maaf dari awal." Gadis itu menundukkan kepalanya tanda menyesal. Grimmjow tak tau harus berbuat apa. Gadis di hadapannya mengerti."Jangan salahkan takdirmu sebagai revenant." Suara Rukia begitu lembut. Tangannya terulur untuk mengelus dada bidang Grimm."...karena sebenarnya hatimu terlalu baik untuk itu." kata Rukia seraya mengingat-ingat cerita Gin tentang dua revenant itu. Walau terkadang sinis dan kasar, tapi mereka selalu mengeratkan ikatan keluarga mereka dengan baik.

Sedangkan Grimmjow kaget. Wanita ini begitu pengertian. Ia bisa merasakan rasa sedih yang ikut Rukia tanggung melalui sentuhan lembut itu ; membuat matanya perih. Dan..

CUP

Grimmjow mencium pipi Rukia. Rukia hanya menengok dan memperhatikan Grimm dengan tenang. Menuggu penjelasan.

"Ucapan terimaka-"

BRAK!

"Rukia, ayo kembali." Tiba-tiba Ichigo datang dan dengan konyol menyeret Rukia.

"Yo, Jaane.." dengan wajah konyol pula, Rukia mengangkat tangannya pendek ; tanda perpisahan pada Grimm seraya membiarkan tubuhya di seret.

Grimmjow hanya bisa sweatdrop sambil memandangi kepergian mereka. Ada apa dengan Ichigo? Apa Ichigo melihatnya mecium Rukia? Mereka hanya pacaran, tak usah seserius itu menanggapinya. Pikir Grimm. Oh ayolah, sadar dirilah kalau selama dua tahun ini kau terus mendekam di kamar bulukmu, Grimm.

Tapi ia benar-benar berterimakasih kepada Rukia untuk hari ini. Dia tak akan lagi menyalahkan dirinya sendiri. Dia berpikir untuk terus melakukan sesuatu berdasar kata hatinya. Dan dia akan berusaha untuk melawan naluri gilanya. Grimm rasa itu cukup keren juga. Dan dia akhirnya dapat benar-benar tersenyum.

:

:

Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak

:

:

"Ichigo..."

"..."

"Oiy, Ichigo.."

"..."

Rukia sudah lelah memaggilnya. Ia akhirnya berhenti dan diam. Sepertinya Si Suami yang tadi sore mengawasi dari balik pintu, melihat jelas Grimm yang mencium pipi istrinya. Akh...cemburu. Dan parahnya, ini sudah hampir tengah malam. Ichigo masih sibuk dengan aktingnya membaca novel. Untung saja bukunya tidak terbalik.

Di sisi lain, Rukia masih memperhatikan Ichigo. Memikirkan sebuah cara agar suaminya tidak marah padanya. Tapi bagaimana?

"Ichigoo... jangan maraaaah."

"..." masih saja diam.

Kini Rukia dengan cepat meraih wajah Ichigo hingga membuat bibir suamiya menempel pada pipi dimana pria nila tadi menciumnya. Setelah itu Ichigo hanya memasang tampang bingung memandangi istrinya.

"Pipiku sekarang sudah netral. Jadi sekarang aku mau tidur. Oyasumi." Baiklah, dengan berlagak cuek sekarang, mungkin Rukia dapat menarik perhatian Ichigo. Dirinya lagsung merebahkan tubuhnya di sisi Ichigo denga posisi memunggungi suaminya. Bahkan selimut yang ada di situ ia gunakan seorang diri ; tak membaginya dengan Ichigo.

Entah kenapa Ichigo sebal melihat itu. Sekarang ia jadi labil. Seseorang yang cemburu selalu seperti itu. Sok cuek ketika diberi perhatian, tapi akan menuntut perhatian jika pasangannya telah cuek. Well, Ichigo sudah tak tahan lagi. Dipeluknya Sang Istri dengan erat. Rukia yang masih membelakangi Ichigo hanya tersenyum jenaka. Rencananya berhasil.

"Apanya yang ucapan terimakasih, cih." Tiba-tiba saja Ichigo melafalkan kalimat yang tidak nyambung. Oke, ia membahas kejadian tadi sore. Membuat Rukia bersikeras menahan tawanya. Ia masih ingin diam di dalam pelukan itu."Kau juga yang tebar pesona duluan." Ichigo malah menonyor kepala Rukia.

"Aduh..ittai.." akhirnya Rukia berbalik. Tak terima dengan Ichigo."Aku hanya tidak ingin mereka menyalahkan diri mereka sendiri tauk!"

TUK!

"Itu ucapan terimakasihku karena telah menyadarkan Grimm."

"Ittai!" Rukia memegang jidatnya yang telah disentil Ichigo."Jangan mengejekku ya!" Dengan sekali hantaman, Rukia sudah berada di atas Ichigo. Bibirnya menyeringai. Memamerkan taringnya.

"Oh, kau ingin duel? Aku tak akan kalah darimu!"

Baiklah...lagi-lagi mereka melakukannya. Dan Ichigo berharap, keesokan harinya tak akan ada teriakan 'kyaa! Ke-virginan-ku!'

.

.

"Kyaaaa! Ke-virginan-kuuu!"

WHAT THE DUCK!?

.

.

:

:

Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak

:

:

"Etoo...umm..yang mana ya? Orihime! Aku bingung..." suasana ramai ini tak asing. Baju-baju yang dipegang Rukia pun juga tak asing. Oke, mereka sekarang sedang shopping- Rukia dan Orihime. Waktu Orihime tak hanya ia habiskan di dalam ruangan gelap berlilin saja, namun sesekali ia bisa ikut bersama Rukia untuk membeli baju baru. Dan sepertinya tak elit jika seorang ratu seperti Rukia hanya pergi bersama kakak perempuan-angkat nya. Itulah gunanya Ichigo ; ia sekarang tengah bosan menjadi pengawal para perempuan itu.

"Akh, kau benar! Aku juga sangat bingung... yang ini murah, lumayan sih. Tapi tak bermerk!"

"Yang ini juga bagus...tapi tak bermerk juga! Akh..bagaimana ini?!"

Sigh. Ichigo memutar pandangannya. Malas memperhatikan jerat-jerit yang menurutnya meyebalkan itu. Mall yang tengah ia kunjungi begitu ramai. Tak ada salahnya memperhatikan kelakar dari satu-satu orang yang ada di sana.

Tiba-tiba Ichigo jadi sangsi, melihat sepasang kekasih saling suap di kedai donat. Berharap Rukia yang akan mengajaknya ke sana dan menyuapinya juga. Lupakan. Lupakan itu, Ichigo.

Lalu ia sedikit terkejut melihat orang yang berusaha mencopet dompet seseorang. Dengan tatapannya, ia membuat si pencopet terjatuh dan orang-orang menyadari pencopetan itu. Ia sedikit bangga karena kekuatan mata vampir nya sudah hampir maksimal.

Selanjutnya ia melihat sesuatu yang begitu familiar. Ia melihat seorang gadis. Seketika ia tertegun.

"...Yuzu?"

Tak mau kehilangan jejaknya, Ichigo lekas berlari ke arah gadis itu. Tak peduli dengan cacian yang diterimanya karena menubruk seseorang. yang penting sekarang bertemu dengan gadis itu. Akh, kenapa hari ini harus ramai?! Oh ayolah, ia tak bisa menerobos orang-orang yang berserakan ini. He-hey...jangan pergi! Dan Ichigo telah mencapai tempat dimana gadis tadi berada. Namun nihil. Gadis itu sudah tak ada. Ia coba memfokuskan mata vampirnya. Tapi tetap saja tak ketemu.

"Kuso!" ujarnya sangat kesal.

:

:

Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak

:

:

FLASH BACK

"Sebenarnya aku juga tidak tau mereka telah mati atau belum. Soalnya, di sana tak ada mayat mereka." Terang Gin pada Rukia. Mereka tegah duduk-duduk santai di teras rumah. Rukia sekedar ingin tau masa lalu keempat pria itu.

"Lalu, dimana kau bertemu dengan Ichigo?"

"Dia mencoba mencariku di tempat berkumpulnya keluargaku saat pesta berlangsung. Dan kami bertemu, atau lebih tepanya ia menemukanku di dalam sebuah gua yang ada di situ." Rukia masih setia mendengar."Dan ketika kutanya mana keluarganya, katanya ia tak menemukannya. Bahkan jika mereka mati, mayat mereka pun tak ia temukan."

"Jadi ada kemungkinan kalau mereka masih hidup?"

"Ya...mungkin saja."

TO BE CONTIUED


Oke, hallo minna.. pada akhirnya saya membuat fic ini mejadi multichap. Akh, kaya nya yang pada nunggu sequel dari SENPAI harus mempuyai sabar tingkat tinggi deh. Gomen ya minna..

Oke deh. Jaane. (˘⌣˘)ε˘`)