Chapter 3
KIRĀ NO KOKORO WA...
ルキア クロサキ
END FLASHBACK
"Aku tidak boleh ikut?" Gin merajuk pada seseorang yang sedang minum kopi di depannya. Kala itu dia tengah berdua. Menikmati masing-masing secangkir kopi hangat buatan Rukia di sore hari sepulang kerja.
"Tidak." Si lawan bicara menjawabnya sengit. Merasa terganggu karena kegiatannya ; menikmati kopi ; merasakan tetesan-tetesan cinta yang tersuguh melalui aliran kopi robusta yang dibuat istrinya telah tercemari dengan parau nya suara rubah-err Gin.
"Jahat sekali! Ah, Rukia-chaaaaaan, Ichigo tidak mau membawaku ikut bersama kalian!" Rukia yang kebetulan kembali ke teras dengan senampan kue kering itu pun dihujam oleh Gin.
"E-etoo.." gadis bernampan itu hanya bisa meringis.
"Makanya, cepatlah menikah! Pokoknya aku tak akan mengijinkan siapa pun mengganggu piknik anniv ku! Jika kutau ada yang berani mengganggu, dia akan bernasib seperti..." Ichigo menampakkan wajah horor.
PRANG!
Akhirnya cangkir kosong itu pecah oleh tatapan Ichigo. Membuat Gin meneguk ludahnya dengan susah payah. Tak disangka kemampuan Ichigo meningkat sepesat ini. Yah, karena apa lagi? Sudah pasti kemampuan itu meningkat dengan cepat karena Ichigo yang setiap hari dengan rajin meminum istrinya.
"KYAAA! ICHIGO! Itu cangkir kesayanganku!" tiba-tiba Rukia berteriak. Ia benar-benar terkejut dengan ulah suaminya. Tak khayal, kini atmosfer di sekitarnya menjadi lebih panas dan mencekik kerongkongan."Grr..kau harus membayarnya, Ichigo.." geram Rukia seraya menampakkan taring-taring tajamnya.
"E-eto..ano...Rukia," terkadang suami tak selalu menang kan? Berdo'a saja untuk suami yang satu itu.
BLEACH © I dont belive it! It should be mine!#GEBUK
KIRĀ NO KOKORO WA... © ChapChappyChantik XD
Pairing : Ichigo the vamp x Rukia the chibi
Genre : Fiction, Romance, Action, rather Bloody, Friendship
Rate : T+
Warning : NO FLAME-typo(s){berubung tombol 'n' nya rada eror, jadi mungkin kebanyakan nggak ada 'n' nya}-OOC-AU'ah gelap-semi fiksi
Note : Wah, bener kan..kalo saya bikin lanjutanya, responnya jadi banyak #plak! Aku sempet frustasi n memvonis diriku kalo aku nggak bakat bikin oneshot. Tapi ya sudahlah. Ini bakal jadi multichap kaya SENPAI. Dan sekali lagi, mohon kesabarannya bagi yang menunggu sequelnya SENPAI. Soalnya saya udah terlajur bikin ini, jadi harus namatin dulu. Gomenne..
Special thanks
darries
Hayo...darries-san ketauan suka yag agresif-agresif XD #plak
Emang tu si buluk, eh si Grim #PLAK! emang kasian. Huhuhu, cinta segitiga..
Kalau untuk keluarga Ichi, itu masih himitsu. hehe
Haha, kalo ngarep anak sih pasti, sapa sih ortu yang g pigin punya anak? Haha, aku sempet ngakak sendiri, ngebayangin Rukia tiap pagi nya yang teriak kaya gitu XD
Wah, arigatou buat "GANBATTTTTEEEEEE \0/" nya ya! :*
Izumi Kagawa
Hai juga ^^
Wah, kayaya orang-orang banyak yang suka keagresifan ya..khukhukhu #plak!
hehe, ketauan nih. Fans nya Byakun ya? Gomen, soalnya mainstream sih XD
oke, mungkin di sini Byakun berubah.#mangpowerager?
dan arigatou reviewnya ya...:*
jessi
Yokatta deh kalo jessi-san suka..^^
Oke, ini update. Arigatou reviewnya :*
Riri Seu
Hehe..soalnya ini pesenan sih. Kalo aku sebenernya suka bikin yang AU, bukan fantasy. Hehe, tapi bagus deh kalo anda suka. Arigatou reviewya ya :*
Azura Kuchiki
Ya dong, kan katanya Ichiruki nya kurang, hehe. Yup, ini jadi multichap ^^
Wah, sama kalo gitu. Soalnya saya nggak terlalu suka kalo Ichiruki yang udah nikah trus karakternya jadi kebapak/ibuan trus biasanya yang udah kaya gitu pasti isinya M mulu. Tapi mungkin di sini aku bikin yang agak childish dan sifatnya agak kocak gitu XD
Oke, ini update. Arigatou reviewnya :*
Lya Awlya
Hay, juga Lya-chan...^^
Kan kita udah kenal di fb :3
Iya nih, vampir2an. Pesenannya Azura Kuchiki sih..X)
Wah, arigatou "Ganbattae" nya ya...luv u :*
Sana Uchiga
Sana-san nggak bilang kalo pingin lanjut sih. Jadi saya bimbang XD#plak
Salam kenal juga, ChapChan di sini ^^
seorang bapak pastinya pingin dong punya momogan.
Ano..saya nggak bisa pasang M. Soalnya menurut saya kontennya masih standar T kok, kan adegan suamiistrinya tidak saya detail. Jadi saya pasangnya T+. Lagian saya nggak tau apa itu M #tampangmalaikat#plak!
Hehe, kalo soal kehamilan Rukia, ikutin terus fic ini XD. Arigatou reviewnya lho ya..:*
Speechless, talkless, sayless, maless, taless, apess #plak!
Oke, hope you enjoy..
"I-Ichigo-san?" Orihime yang kebetulan hendak menonton televisi sempat sweatdrop ketika menemukan seonggok jeruk mandarin terkapar di bawah sofa. Si Mandarin bersama istrinya memang sedang berkunjung ke rumah Gin. Jadi tak khayal jika Orihime bertemu dengan jeruk tersebut. Sedangkan yang dipanggil tak merespon. Terasa begitu menyakitkan untuk menjawab."E-etoo..tulang iga mu patah, tulang belakangmu bengkok dan tempurung tengkorakmu retak-retak. Apa yang terjadi?" Orihime menggunakan mata vampirnya.
Ichigo masih diam. Ia tak bisa melakukan apapun. Salahkan dirinya karena menghancurkan cangkir favorit Rukia. Namun Rukia benar-benar sadis. Walau dari luar Ichigo nampak sehat wal afiat, tapi di bagian dalamnya ..emm.. kalian dengar sendiri apa yang diucapkan Orihime kan?
"Ah, gomen." Orihime kini menyadari kondisi Ichigo. Mau ditanya sampai kiamat pun Ichigo akan tetap membisu karena memang ia tak mampu menggerakkan mulutnya. Dengan segera, Orihime mengambil semacam tabung yang berukuran kecil dengan cairan merah kental di dalamnya dari sakunya. Lalu meminumkan itu pada Ichigo.
Butuh waktu beberapa menit untuk mengetahui kasiatnya. Jadi, dengan sabar, Orihime menanti Ichigo bangkit sendiri.
.
.
"Akh..akhirnya. Terima kasih." Tak lama, Ichigo pun bangun dan mengambil tempat di sofa lain dekat Orihime duduk. Sementara Orihime mencari saluran tv kesukaaannya.
"Doita. Ano..kenapa bisa?" ujarnya singkat. Ia masih sibuk mencari saluran.
"Rukia menghajarku. Sial, dia kejam sekali." Dengus Ichigo dengan nada kasar."Padahal nanti kami akan piknik. Bisa-bisanya dia menghajarku cuma gara-gara cangkir bodoh." Ichigo terus menggerutu. Gadis berambut panjang itu tak menjawab secara cepat. Ah, ini dia salurannya. Pikirnya.
"Rukia baik kok." Orihime benar-benar irit bicara.
"Dengan semua yang telah ia lakukan padaku hari ini. Kau masih bisa bilang begitu?" Dan Orihime hanya mengangguk sebagai respon."Argh!" Ichigo kesal sendiri. Dia berharap kakak ipar-angkat nya itu mau membelanya.
"Kau cengeng ya, Ichigo-san." Kalimat itu dengan lugasnya meluncur dari mulut Orihime. Pandangan gadis berambut panjang itu tak luput dari televisi. Seperti enggan menatap Ichigo.
"He?! Apa maksudmu?"
"Kedua kaki dan tanganku bahkan pernah putus saat berlatih dengan Rukia." Ichigo seketika kaget dengan perkataan Orihime. Pu-putus? Latihan apa yang mereka lakukan? Pikir Ichigo."Kau pasti tidak tau bahwa Rukia adalah vampir yang lebih hebat dari apa yang kau bayangkan. Dan juga kebaikannya melebihi vampir mana pun."
"Kenapa kau bisa bicara begitu?" Ichigo mulai bingung dan sedikit kecewa pada dirinya sendiri. Kalimat Orihime seolah memaparkan dengan jelas bahwa selama setahun menikah, Ichigo tak mengetahui apapun tentang istrinya. Ironis.
"Hm..jika dari awal aku tau ini ulah Rukia, aku tak akan memberimu darah murni tadi." Orihime menegok pada lawan bicaranya. Raut Ichigo semakin bingung mendengar kalimat yang terdengar tak berkaitan dengan pertanyaannya."Sebenarnya, Rukia sedang melatihmu. Yah, mungkin ada sedikit bumbu emosi juga sih, mendengar ulahmu yang memecahkan cangkirnya."
"Melatih?"
"Rukia pernah memberitahuku bahwa pada dasarnya, segala jenis vampir punya kemampuan beregenerasi. Tapi tingkatan waktu yang mereka capai berbeda-beda. Ada yang cepat, ada juga yang sangat lambat hingga akhirnya bisa mati. Dan semakin cepat tingkat regenerasinya, seorang vampir akan semakin kuat. Dengan melatih regenerasinya, maka vampir tersebut bisa bertambah kuat. Setelah kulihat, tingkatanmu lumayan cepat. Tapi kau masih jauh dari ku."
"..." Ichigo hanya bisa terpaku. Dan tak sanggup untuk berujar. Niat Rukia baik. Tapi ia menjadi ngeri sendiri. Begitu jauhkah perbandingannya dengan Rukia? Bahkan dengan Orihime pun dia masih kalah.
"Ano, maaf karena cara bicaraku telah lancang. Hanya saja, aku tidak suka ada yang berburuk sangka mengenai Rukia. Meskipun itu suaminya sendiri." Tak ada nada gurau yang dihasilkan oleh pita suara Orihime. Kalimatnya begitu sopan, tapi juga menunjukkan bahwa dia tak mau ada yang berbuat tak baik pada Rukia.
Sementara itu Ichigo mulai merenung. Mengawang-awang langit yang terlihat dari balik jendela kaca di sampingnya. Pikirannya melayang jauh pada bidadari vampir kecilnya.
:
:
Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak
:
:
"Kuso!"
BLAM
Walau tak retak, pukulan tangan pada dinding di ruangan berlilin itu terdengar cukup keras.
"Grimm, berhentilah." Byakuya yang duduk bersandar di kasur mulai jengah memperhatikan adiknya.
"Ternyata mereka telah menikah! Argh, dan apa ini?! Hari ini ulang tahun pernikahan mereka sedangkan aku jamuran di kamar buluk ini? Oh, ayolah. Bahkan aku baru tau hal itu tadi pagi. Kuso!"
BLAM
Pria biru yang kembali memukul tembok itu terlihat sangat marah atau lebih tepatnya err...cemburu akut. Dia pikir, dia mulai tertarik oleh pesona Rukia. Tau nya Ichigo telah menangkap pesona itu duluan. Yah, salahkan dirinya sendiri yang tertinggal satu langkah.
"Ck, kau baru sembuh Grimm. Tanganmu bisa patah lagi." Nada datar kembali terdengar dari mulut Byakuya, namun entah kenapa, semenjak pertarungannya dengan Rukia, Byakuya menjadi lebih perhatian pada adiknya. Atau mungkin pada semua orang kelak."Aku ingin segera keluar dari sini." Lanjutnya lirih.
"Tapi aku penasaran." Grimmjow mulai duduk di pinggir kasurnya."...bagaimana orang-orang itu akan menerima kita ya?" ia pun membanting tubuh kekarnya ke kasur empuk itu. Menatap langit-langit yang gelap dengan penuh harap.
"Kukira seminggu lalu Rukia sudah bisa menerimamu dengan baik." Jawab Byakuya.
"Bukankah kau juga sama? Tapi, Gin dan Ichigo?"
"Entahlah." Byakuya kini pun membaringkan tubuhnya. Badannya masih sedikit sakit."Kita tunggu saja."
:
:
Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak
:
:
"Rukia~"
"..."
"Rukiaaa~"
"..." Oh ayolah Ichigo. Kenapa keadaannya malah berbalik 180 derajat dari seminggu yang lalu. Kini kaulah yang merajuk pada Rukia sedangkan bidadarimu itu cuek dan lebih memilih membaca majalah dari pada menjawab rajukamu. Dan tentu saja, untung majalahnya tidak terbalik.
Dirasa rajukannya percuma, tanpa basa-basi Ichigo menenggelamkan Rukia kedalam pelukannya. Lebih dalam dan lebih dalam lagi setiap detiknya. Hingga Perempuan itu bisa merasakan peluh yang ada di dada bidang suaminya.
"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf padamu."
"..." masih saja diam.
"Arrgh, Rukia! Jangan diam saja!" Ichigo mulai frustasi, namun ia malah menenggelamkan kepalanya ke pundak Rukia. Seperti membuat penyerangan agar Sang Istri mau bicara padanya.
"Aku nggak bisa nafas." Akhirya Rukia berujar juga.
"Makannya jangan marah." Ichigo pun melonggarkan pelukannya, namun tak berniat untuk melepasnya."Arigatou, sudah mencoba membuat aku lebih kuat." Bisikan Ichigo yang begitu lembut mampu membuat Rukia merona. Ditambah ciuman pada kening istrinya. Rasanya Rukia tak mampu lagi marah pada Ichigo.
"Bagaimana bisa kau tau jika aku melatihmu?"
"Kakakmu.."
"Orihime bertemu denganmu? Pantas saja lukamu cepat sekali sembuhnya." Rukia sedikit jengkel karena Ichigo sembuh bukan karena kekuatannya sendiri.
"Soalnya aku kan tidak tau dari awal." Senyuman Ichigo kembali mengembang."Aku tak menyangka, istriku adalah gadis yang sangaaaat baik. Paling baik di dunia ini." Ichigo tersenyum jahil seraya mengimprovisasikan kata 'sangat' nya dengan rentangan tangan yang lebar. Rukia hanya terkikik."Akhirnya tertawa juga."
"Ah, sudahlah. Aku akan kembali ke dapur dan menyiapkan bekal piknik kita untuk nanti malam."
"Ah~ aku sudah tidak sabar ingin berdua di tempat romantis." Rukia tersenyum sekilas mendengarnya. Kemudian mulai melesat ke dapur.
:
:
Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak
:
:
Tok Tok Tok
"Langsung masuk saja." Suara berat Byakuya tiba-tiba terdengar di ruangan itu.
"Huh, tidak tau apa kalau kita sedang istirahat?" gerutu Grimm lirih.
Cklek
"Ohisashiburi." Pendatang itu mengangkat sebelah tangannya. Tanda sapaan. Namun, bukannya menjawab sapaan dari tamunya, Byakuya dan Grimm hanya bisa terpaku. Mereka begitu kaget dan belum siap untuk pertemuan ini."Boleh ku masuk?" tak ada jawaban cepat. Kedua penghuni kamar masih setia untuk bengong.
"..G-Gin."
:
:
Origin. Alter. Salvation. Dhampire. Kukudhi. Revenant. Verdilak
:
:
Sungguh pas. Malam ini begitu terang. Tak ada awan menggumpal yang menghalangi indahnya bulan purnama. Di tepi danau itu, sesekali berterbangan cahaya-cahaya kecil- kunang-kunang yang cukup untuk memperindah suasana. Angin juga tak terlalu dingin, jadi dress tanpa lengan itu bisa digunakan oleh Sang Ratu. Tapi Sang Raja berjaga-jaga membawa syal hangatnya.
Memang bukan suatu tempat yang mewah ; tepi danau. Tapi di situ malah memunculkan keromantisan yang alami. Dan itulah yang diinginkan Sang Ratu. Pemandangan di sekitar danau juga tak bisa dianggap remeh. Jadi bisa saja mereka tertidur di sana sampai pagi saking betahnya.
"Oke, kita duduk di sini saja." Ujar Sang Raja ; Ichigo sambil memposisikan alas duduk mereka di tempat yang Ichigo sebut."Oh iya, kau bawa apa saja?"
Rukia mulai duduk dan membongkar isi keranjang pikniknya. Lalu menjawab pertanyaan Ichigo,
"Ada sandwich, ada sushi, lalu takoyaki-"
"Bukan makanan manusia."
"Ano, kudengar dari Gin kalau kau suka darah singa. Jadi kucarikan darah singa segar. Lalu sebagai pencuci mulut, ada darah kambing dan ayam segar. Aku juga membawa darah Kukudhi tapi hanya sedikit."
"Aa~ benar kan. Istriku adalah yang terbaik di dunia ini." Ujar Ichigo lantang seraya menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Rukia. Merasakan hangatnya tubuh Sang Istri untuk menghalau jika sesekali ada angin yang dingin. Juga merasakan hangatnya cinta Rukia yang acap kali terkuar menerpa dirinya."Aku mencintai Rukiaaaaaaa!" tiba-tiba saja ia berteriak seolah-olah bumi seisinya harus mengetahui hal itu. Rukia hanya tersipu mengetahui tingkah suaminya. Sesekali ia mengelus lembut kepala dengan rambut jeruk itu.
"Aku juga mencintai Ichigo."
"Eh, tapi kok ada kotoran di wajahmu ya?"
"Ah? Mana?"
"Menunduklah lebih dekat, biar kulihat lebih jelas."
"Segini cukup?"
"Lebih dekat lagi."
"Hey, kau bisa meciumku kalau sedekat itu!"
"Emm..gimana ya?"
"Jangan bilang kalau memang kau ingin itu."
"Ya."
"Argh! Kau ini.."
"Bisa kita lanjut?" sedikit kesal sih, namun pada akhirnya Rukia mendekatkan wajahnya. Lebih dekat..dekat...dekat dan
Kretek ; suara ranting patah.
Mendengar itu, Ichigo dan Rukia berhenti dan menoleh ke asal suara. Dan biarkan mereka bilang,
WHAT THE DUCK!
Segerombol vampir tengah duduk berjejer layaknya audien yang menonton teater dari novel best seller. Mereka- Gin, Orihime, Byakuya dan Grimmjow sebenarnya tak mau mengganggu adegan itu. Tapi salahkan Grimm yang tidak sengaja –mungkin- menginjak ranting pohon itu dengan keras. Sebenarnya mereka sudah ada di situ sejak lama dalam radius 200 meter, bahkan Gin pun membawa popcron (lagi?).
"Ara..tak usah pedulikan kami. Lanjutkan saja." Ujar Gin dengan santainya seraya megibas-ngibaskan tangannya.
"Anggap saja kami tidak lihat." Byakuya mengimbuhi.
Nyut.
Nyut.
"TEMMEEEEEEEE!" Tak terima, Ichigo akhirnya mengejar Gin. Ia tau, pasti provokator dari semua itu adalah vampir rubah di hadapannya.
"Eh? Kenapa hanya aku sajaaaa! Oiyy...Ichigo! Yamette!"
"Aku tangkap nanti, mati kau."
"YAMETTE!"
Yang lainya hanya terkikik melihat kejar- kejaran itu. Byakuya pun tersenyum tipis. Rukia yang tak sengaja melihatnya, juga ikut terseyum.
"Sepertinya keluarga kami akan tambah ramai."
TO BE CONTINUED
Yeah! #plak! Maaf Cuma dikit, soalnya saya keburu mudik XD. Oke, dengan kata lain, ini adalah fic terakhir saya sebelum lebaran. YATTA! MUDIIIK~ MUDIIIIK~ MUUDIIIIIIK~#PLAK!
Etoo..saya yakin ada bagian yang bikin kurang puas dan membuat kalian bingung. Terutama yang para revenant buluk-#PLAK! itu kenapa bisa ikut nimbrung. Oke, saya sengaja bikin begitu. Karena yang lebih jelas bakal saya taruh di ch selanjutnya. Yosh! Kalau gitu, saya sekalian ngucapin. "SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. MUDIIIIIIIIIK~#PLAK!"
Oke..Jaane (˘⌣˘)ε˘`)
