"~maru"
"Shikamaru"
Sayup-sayup suara terdengar memanggil seseorang, hingga membuat Ino mau tak mau membuka kelopak matanya.
Ino terkejut ketika melihat ayah Shikamaru sedang berdiri menatap mereka.
Ino pun dengan segera bangun, namun tubuhnya kembali terjatuh ketika merasakan sakit di bagian punggung.
"Ittai.." ringisnya.
Setelah itu Shikamaru pun bangun.
"Tousan ?" gumam Shikamaru.
"Kenapa kalian berdua tidur disini?" tanya ayahnya.
Ino dengan dibantu Shikamaru pun bangun.
"Benarkah? Ah sudah pagi?" Shikamaru memperhatikan area sekitar.
"Hah? Benarkah sudah pagi?" celetuk Ino.
"Kenapa kalian tidak tidur didalam rumah, disini dingin" ujar ayahnya.
Ino dan Shikamaru saling bertatapan.
"Awalnya kami hanya mengobrol, namun karena tidak dapat menahan kantuk kami pun tanpa sadar tertidur" papar Shikamaru.
"Sou Ka, kalau begitu segera antar Ino pulang Shikamaru" suruh ayahnya.
Shikamaru mengangguk.
"Hai"
"Ino aku mandi dulu, kau tunggulah" ujar Shikamaru lalu berdiri dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Baiklah" sahut Ino.
Shikaku kemudian duduk dan menatap lekat kearah Ino.
"Lama tidak berjumpa Ino?"
"Hai Jichan" jawab Ino lalu menekuk wajahnya.
"Bagaimana kondisi kesehatanmu? Apa sudah membaik?" tanya Shikaku.
Alis Ino berkerut, sepertinya dimata semua orang ia dikenal sebagai orang yang sakit-sakitan.
"Aku baik-baik saja" jawab Ino.
"Itu bagus."
"Apa Shisui mengetahui kau tidur dirumah Shikamaru?" tanyanya lagi.
"Shisui sedang ada misi" Ino tersenyum canggung.
Dilihat dari tatapan ayah Shikamaru, sepertinya ia tidak menyukai Ino berada disini.
"Oh ya benar, aku hampir lupa" Shikaku menepuk dahinya.
"Hai" jawab Ino pelan.
Shikaku menatap Ino serius.
"Ino?" panggil Shikaku.
"Hai Jichan" Ino menggigit bibirnya.
"Karena kau sudah berstatus menikah, saranku jangan terlalu dekat dengan Shikamaru"
Ino terdiam.
Sudah ia duga, Shikaku pasti akan menyuruhnya untuk menjaga jarak.
"Bukan, aku tidak melarangmu berteman dengan Shikamaru."
"Tetapi sebisa mungkin kau dan Shikamaru dapat menjaga perasaan Shisui, agar tidak timbul prasangka buruk terhadap Shikamaru" ujar Shikaku.
Ino mengangguk pelan, "Hai Jichan, aku mengerti"
Ino mengelus pangkal lengannya saat merasa Shikaku masih memperhatikannya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Shikaku pun berdiri.
"Beritahu Shikamaru untuk segera menyusulku keruangan Hokage" ujar Shikaku lagi.
Ino mengangguk, "Hai"
ooOoo
Seakan terkejut kelopak mata Ino reflek membuka, dengan nafas naik turun ia pun duduk.
Dalam hatinya bertanya-tanya, pukul berapa sekarang.
Sejak tinggal dirumah orang tuanya, aktivitas sehari-hari yang dilakukannya hanya tidur, makan dan sesekali mengurus bunga.
Biasanya ia akan banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan Sakura.
Namun karena Sakura sedang bertugas diluar desa.
Ino hanya melewati waktunya seorang diri.
Ino kemudian melangkah keluar, "Kaachan?" panggil Ino dengan suara serak.
Ia sedikit terbatuk, lalu melangkah kearah dapur.
Saat sampai, Ino melihat ayah dan ibunya sedang menikmati makan dengan seseorang.
Ino menajamkan penglihatannya.
"Siapa itu?" tanyanya.
Ia mengusap matanya berkali-kali agar dapat lebih jelas melihat orang didepan sana.
Ayah dan ibunya tertawa, "Ino kau sudah bangun?"
Orang tersebut menoleh, "Ino kemarilah?" ujar pria tersebut.
Lama menatapnya akhirnya Ino tersadar.
"Ah Shisui-Nii ? Kau kah itu?" tanya Ino seraya berjalan mendekat.
"Hai, kemarilah kita makan bersama" ajak Shisui.
Ino duduk didekat Shisui.
"Aku masih kenyang" sahut Ino.
"Kau sudah pulang?" tanya Ino lagi, Shisui mengangguk.
"Sudah" jawab Shisui sambil mengunyah makanannya.
"Sokka"
"Kau bilang akan bertugas selama seminggu, tetapi ini baru 4 hari" ujar Ino lagi.
"Benar, misi diselesaikan lebih cepat" jawab Shisui.
"Kalian berdua sangat serasi" celetuk ayahnya, Ino mengabaikan perkataan ayahnya.
"Kenapa tidak dari dulu kalian berkencan?" tanya ayahnya lagi.
"Tousan" dengus Ino.
"Dahulu Ino belum mengenalku Tousan" Shisui menyematkan senyum tipis, iris matanya menatap Ino.
Inoichi berdeham.
"Benar, dulu Ino terlalu sibuk memperhatikan Itachi" celetuk ayahnya lagi.
Tatapan tidak suka terpancar dimata Ino.
Perasaan senang yang menghinggapinya kini menguar entah kemana.
Dan berganti menjadi perasaan kesal dan marah.
Tanpa berkata apapun, Ino pergi meninggalkan ruang makan.
o
o
o
o
Sekarang hatinya sedang tidak baik, ia sudah merasa tentram selama beberapa hari tidak memikirkan tentang orang itu.
Disaat hatinya senang menyambut kepulangan Shisui, secara tiba-tiba ayahnya menyebut nama seseorang yang ia benci.
"Maafkanlah Otousan, dia hanya bercanda" nasihat Shisui.
Ino masih mengatupkan bibirnya, tatapan kesalnya berpaling kearah lain.
"Tousan itu sok tau, siapa yang memperhatikan Itachi!?" ujarnya kesal.
Shisui tertawa.
"Seakan-akan aku memperhatikan Itachi setiap waktu!" ujarnya lagi.
Shisui menuntun Ino menaiki tangga lalu berjalan membuka pintu.
Ino melepaskan alas kakinya lalu masuk kedalam rumah.
Dengan langkah kesal Ino berjalan memasuki kamar, lalu berbaring diatas tempat tidur.
Ino memejamkan matanya.
Tak lama suara langkah terdengar memasuki kamar, Ino masih memejamkan matanya.
"Apa kau benar-benar marah pada Tousan?" tanya Shisui yang kini berbaring disampingnya.
"Aku hanya tidak mau nama itu disebut di depanku, Tousan tidak tahu seberat apa aku ingin melupakan dia"
Shisui tersenyum, perasaan senang mulai melingkupi hatinya.
"Apa kau yakin ingin melupakan dia?" tanya Shisui memastikan.
Ino mengangguk, "Aku yakin"
"Bagaimana jika suatu hari dia datang kembali kedesa?" tanya Shisui.
Ino diam, lalu kemudian menggeleng.
"Aku akan pergi dari desa" ujar Ino.
Shisui menautkan alisnya, "Benarkah?"
"Aku tidak mau bertemu dia"
Shisui mengangguk-angguk.
Suasana pun jadi hening.
Sedangkan Ino memilih memejamkan matanya.
"Ino" panggil Shisui.
Ino membuka mata, "Hai?" sahutnya.
"Minggu depan aku akan pergi lagi selama 4 hari" ujar Shisui.
Ino memasang ekspresi cemberut.
"Aku akan ditinggalkan lagi?"
Shisui mengangguk, "Hokage-Sama memintaku untuk mengawalnya selama perjalanan kedesa Suna"
"Kenapa harus kau lagi?" tanya Ino.
"Tidak tahu, Hokage-Sama menginginkan aku menjadi pengawal utama" ujar Shisui.
Ino masih memasang wajah cemberut.
"Tidak bisa kah kau menolaknya?" tanya Ino.
Shisui tertawa, "Tidak bisa, perintah Hokage itu bersifat mutlak" jawab Shisui.
Ino mendengus lalu berbalik membelakangi Shisui.
"Selama beberapa hari menjalankan misi, aku selalu merindukanmu" ujar Shisui.
Ino membuka matanya.
Tubuhnya menegang ketika tangan Shisui memeluknya dan menarik tubuhnya agar berbalik.
Tatapan mereka kini bertemu.
Tidak ada kalimat yang keluar, kini pandangan mata tersebut saling beradu.
Seolah saling memahami isi hati masing-masing.
Lama bertatapan akhirnya bibir mereka bertemu.
Shisui mencium bibirnya.
Ingatan Ino kembali berputar ketika pertama kali bertegur sapa dengan Shisui.
Dimana dulu Shisui merupakan sosok yang sangat Ino segani, karena sifatnya yang penuh dengan wibawa.
Ia tidak pernah membayangkan jika seseorang yang sangat dihormatinya itu berakhir menjadi suaminya.
Dan berakhir menjadi teman tidur lelaki itu.
Tautan bibir mereka terlepas, Shisui mulai memejamkan matanya untuk tidur.
Paras tampan itu mulai terlelap.
Ino mengusap wajah Shisui.
Hatinya sangat menyayangi Shisui tetapi perasaan cinta nya belum bisa beralih dari Itachi.
Bahkan sampai sekarang.
Lihatlah, sedetik saja otaknya mengingat tentang Itachi.
Perasaan rindu terhadap sosok itu kembali membuncah, dan momen kebersamaan dengan orang itu tiba-tiba berputar dikepalanya.
Ia rindu rasanya bercumbu dan bercinta dengan orang itu.
Meski tubuhnya sudah berkali-kali dijamah oleh Shisui, tetapi pengalamannya bersama Itachi tidak dapat ia lupakan.
ooOoo
Tokk Tokk Tokk
Terdengar suara ketukan dari arah pintu depan, salah seorang dari pasangan yang sedang tertidur tersebut menggeliat.
Tokk Tokk Tokk
Sebelah lengan Shisui mengusap matanya, ia menoleh kearah Ino yang tertidur pulas.
Shisui dengan perlahan bangun.
Tokk Tokk Tokk
Dengan langkah setengah berlari Shisui berjalan keluar kamar, lalu buru-buru berjalan menuju pintu depan.
"Taicho!?" panggil sebuah suara.
Shisui kenal dengan suara ini, Shisui pun membuka pintu, matanya terpaku ketika melihat cuaca diluar masih gelap.
"Kamachi?" gumam Shisui dengan nada serak.
"Jam berapa ini?" tanya Shisui seraya mengusap matanya.
"Jam 3 pagi Taicho"
Shisui mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya.
"Sumimasen Desu Taicho, tetapi Hokage-Sama meminta kita untuk segera datang keruangan pribadinya"
Pandangan Shisui terlihat menegang.
"Ada apa?"
"Ro telah berhasil menemukan lokasinya"
Kelopak mata Shisui melebar.
"Benarkah?" tanya Shisui.
"Sepertinya kita akan disuruh pergi untuk membawanya kembali"
"Apa Ro sudah yakin menemukannya?" tanya Shisui.
"Benar Taicho"
Shisui mengangguk, "Baiklah kalau begitu aku siap-siap dulu, kau pergilah. Aku akan segera menyusul"
"Hai"
Shisui kemudian menutup pintu.
o
o
o
o
Suara kicauan burung saling bersahut-sahutan, hingga membuat Ino terbangun.
Matanya mengerjap sembari meraba sisi kirinya, namun tempat tersebut kosong.
Sembari menahan selimut agar menutupi dadanya, Ino pun duduk.
Ino menutup mulutnya yang menguap.
Sebelah tangan Ino mengangkat ujung selimutnya, ia berhenti ketika melihat selembar kertas tertera diatas meja.
'Apa kau sudah bangun?
Maaf Aku harus pergi tanpa memberitahumu karena ada misi mendadak dari Hokage-sama.
Maaf lagi-lagi aku harus meninggalkanmu, menginaplah dirumah ibu selama aku pergi.
Setelah pulang aku akan menjemputmu.
Aishiteru Yo'
Ino tersenyum.
o
o
o
o
Ino membuka pintu dan bersiap akan melangkah keluar.
Namun tubuhnya mematung ketika melihat ibu Shisui sedang berdiri tegap dihadapannya.
Dengan tubuh kaku Ino melangkah mundur kebelakang.
Sejak kapan wanita itu berdiri disitu, apa dia berdiri selama berjam-jam ditempat itu hanya untuk menunggunya keluar?
"Dimana Shisui?" tanya ibu mertuanya, Ino yakin kalimat itu hanya sekedar basa-basi.
Wanita itu pasti tahu jika Shisui sedang pergi jauh.
Dengan penuh ketakutan Ino menggeleng.
"Bagus" ujar wanita setengah baya tersebut.
"Tinggalkan Shisui" ujarnya dengan tatapan menusuk.
"Pergilah dari hidupnya"
Wanita itu menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aku tidak akan sudi jika Shisui ikut memelihara anak itu"
Ino bergerak mundur, hingga kini punggungnya menabrak tembok.
"Kau dihamili oleh orang lain, tetapi kenapa harus Shisui yang bertanggung jawab!?"
Tubuh Ino perlahan merosot kebawah dan jatuh terduduk.
"Sebelumnya aku sangat senang dengan kehadiranmu disisi kami, aku berniat menyayangimu seperti anakku sendiri"
"Tetapi sejak mengetahui kebusukanmu, aku sangat membencimu"
Ibu Shisui menatapnya tanpa belas kasihan, kini jari telunjuknya mengarah padanya.
"Kau menggunakan wajahmu untuk merayu semua pria"
"Minta cerailah pada Shisui, semakin cepat kalian berpisah itu akan semakin bagus" ujarnya, lalu tanpa pamit berbalik pergi.
Meninggalkan Ino yang diam mematung.
ooOoo
"Kotetsu-San, aku ingin pergi sebentar" ujar Ino.
Kotetsu mengangguk.
"Kemana?"
"Berlatih, Shisui sudah menungguku ditempat biasa"
Kotetsu dan Izumo saling menganggukan kepala.
"Baiklah" ujar Kotetsu.
Ino pun dengan segera melangkah keluar gerbang, lalu berbelok kearah kanan seolah-olah dirinya akan pergi ke arah belakang desa.
Ino berkali-kali menoleh kebelakang.
Saat merasa tidak ada orang yang mengawasinya.
Ino pun merubah arah tujuannya menjadi lurus kedepan.
Dengan gerakan lincah Ino melompati tiap pohon.
Ino tertawa, lagi-lagi ia harus melakukan hal yang sama, memutuskan untuk pergi dari desa.
Dalam benaknya bertanya-tanya, apakah pelariannya ini akan gagal lagi seperti dulu atau berhasil?
Ino menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikirannya yang kini dipenuhi oleh sosok Shisui.
Perkataan ibu Shisui sangat menyakiti hatinya.
Seingat Ino sebelumnya Shisui pernah menyuruhnya untuk menjauh.
Andai wanita tua itu tahu bahwa ia tidak pernah merayu Shisui.
Melainkan Shisui lah yang selalu mendekatinya, pasti dia akan malu besar.
Lidahnya berkata seolah-olah dirinya merayu Shisui.
Ino mendecih.
Dengan gerakan gesit Ino melompati pepohonan didepan sana.
Ia benar-benar tidak membawa persiapan apa-apa.
Sakit hati mendorongnya untuk cepat-cepat pergi, dan mempengaruhi pikirannya untuk pasrah atas apapun yang akan terjadi nanti dijalan.
Kenapa hidupnya jadi semakin sulit sejak masuk kedalam lingkungan Uchiha itu?
Seharusnya orang yang bernaung dibawah klan terkuat seperti mereka, ditakuti dan disegani.
Tidak ada yang berani mengusik.
Sebenarnya siapa orang yang berani membocorkan rahasia tersebut pada ibu Shisui?
Mungkinkah Shizune?
Apa mungkin Shizune setega itu? Bukankah katanya menganggap dirinya dan Sakura sebagai adik?
Ino berhenti disalah satu pohon.
Lama bergerak mengakibatkan perutnya kram, Ino memegangi perutnya.
Kemungkinan rasa sakit itu diakibatkan oleh pikirannya yang terus berpikir keras.
Ino menggigit bibirnya menahan sakit.
Mungkin orang yang membocorkan rahasia tersebut tidak menyukai dirinya.
Ya..
Pasti.
Ino melanjutkan perjalanan, ia mengabaikan rasa nyeri yang mendera area perutnya.
Yang terpenting sekarang adalah ia harus menjauh dari Konoha.
Ino melompati pepohonan dengan cepat.
Namun seiring dengan gerakannya yang semakin cepat, rasa nyeri diperutnya semakin bertambah.
Kali ini semakin sakit.
Ino melompat turun kebawah lalu bersandar disebuah pohon.
Ia menutup matanya dan menarik nafas berharap rasa sakit tersebut segera hilang.
Namun sepertinya tidak sesuai harapan.
Rasa sakit itu semakin menjalar diarea perutnya.
Kali ini Ino benar-benar tidak dapat menahan rasa sakit.
Tanpa bisa menopang tubuhnya yang lemas, Ino pun jatuh terduduk.
Perut bagian bawahnya bagai ditusuk ratusan jarum.
"Akh!" ringisnya kesakitan.
Cairan berwarna merah segar mulai mengaliri area pahanya.
Ino menekan perutnya yang semakin nyeri.
Pelariannya gagal lagi, sekarang jarak nya dengan desa Konoha belum terlalu jauh.
Pasti ia akan dibawa pulang lagi oleh Shinobi Konoha.
Atau mungkin mati disini.
Ino tersenyum miris.
Ino menutup matanya.
Bibirnya bergetar menahan sakit.
"Ittai.. !" ringisnya kesakitan.
Ino menekan perutnya dengan kedua tangan.
Sekarang ia hanya pasrah.
"Arrrrggg!" teriaknya tanpa sadar.
Nafasnya mulai turun naik, pandangan matanya pun mulai tidak fokus.
"Arrrrh!" teriak Ino kesakitan.
Ino mulai kehilangan kesadaran dan merasakan pandangannya mulai mengabur.
Samar-samar ia melihat, beberapa orang berjalan dan berhenti didepannya.
Terlihat wanita berambut merah meraba darah yang mengalir dari selangkangannya.
Setelahnya kelopak mata Ino menutup.
o
o
o
o
Grebb!
"Apa yang terjadi?" tanya seorang pria yang memakai kaca mata.
Seorang pria bertubuh kekar membaringkan tubuh Ino diatas sebuah ranjang.
"Aku mendengarnya berteriak, dan saat kami datangi keadaannya sudah seperti ini" ujar perempuan berambut merah.
Lelaki berkaca mata memperhatikan penampilan wanita yang dibaringkan diatas ranjang.
"Wanita ini berasal dari Konoha" ujarnya.
Sang wanita berambut merah mendecak kesal.
"Jangan banyak bicara Kabuto, segeralah tolong dia. Dia mengalami pendarahan"
Yang dipanggil Kabuto pun segera mengaktifkan Ninjutsu penyembuhannya.
Tak lama Kabuto membesarkan matanya, "Wanita ini sedang hamil!" serunya.
Wanita berambut merah terlihat berpikir.
"Apa kita harus memberitahu hal ini pada Orochimaru-Sama?"
"Orochimaru-Sama pasti sudah mengetahuinya" jawab Kabuto.
"Apa kandungannya baik-baik saja?" tanya Karin.
"Aku harap begitu" jawab Kabuto.
"Sebaiknya dia diberikan Infus" ujar Kabuto.
Karin pun melakukan hal yang disuruh Kabuto.
"Apa yang sedang kalian sibukkan?" ujar sebuah suara berat yang terdengar horror.
Kabuto dan Karin menoleh dengan gugup.
"Orochimaru-Sama" ujar mereka berdua secara bersamaan.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja" ujar Orochimaru.
Kabuto dan Karin mengangguk.
"Aku dan Juugo menemukan wanita ini dalam keadaan pingsan Orochimaru-Sama" ujar Karin.
"Dia mengalami pendarahan, tetapi sepertinya kandungannya baik-baik saja"
Orochimaru menyeringai.
Lalu mendekat.
"Sou Ka" ujar Orochimaru.
Iris tajam Orochimaru memperhatikan tiap inci tubuh Ino.
"Wanita ini merupakan istri Uchiha Shisui" ujar Orochimaru.
Kabuto terkejut.
"Jadi dia sudah mengandung?" tanya Orochimaru.
"Hai Orochimaru-Sama " jawab Kabuto.
"Hentikan Kabuto" perintah Orochimaru.
Kabuto dan Karin saling melemparkan tatapan bingung.
"Beri dia obat bius" suruh Orochimaru.
Kabuto dan Karin saling menelan ludah.
Hingga mau tak mau Kabuto mengambil obat bius dan menyuntikkannya ke dalam selang infus.
Kabuto dan Karin bertanya-tanya tentang rencana Orochimaru.
"Kabuto, Karin" panggil Orochimaru.
"Hai Orochimaru-Sama" jawab mereka berdua serentak.
"Lakukan operasi untuk mengeluarkan janinnya"
Karin dan Kabuto membelalakkan matanya.
TBC
