DUARRR!

Shisui menaiki dahan pohon yang paling tinggi.

Lalu memfokuskan pandangannya untuk mencari asal ledakan, tak berapa lama sebuah asap tebal membumbung tinggi.

Dengan gerakan gesit, Shisui melesat pergi menuju asal suara ledakan.

SHIIING! SHIIING!

SLASH!

Suara pedang yang saling beradu terdengar samar ditelinga Shisui, saat memperjelas pendengarannya.

Shisui akhirnya mengetahui darimana asal suara tersebut.

Shisui mempercepat lajunya.

DUAKKK!

BUGH!

Sebuah pukulan keras terdengar.

Shisui menarik pedangnya, dan dengan gerakan cepat ia menghampiri lokasi yang menjadi asal suara.

Ia melihat empat anggota Anbu telah terkapar, Shisui memperhatikan dengan teliti seseorang yang menumbangkan kawannya.

Postur tubuhnya, Taijutsu serta teknik serangan dari orang tersebut.

Shisui tersenyum.

Meski penyamaran sosok tersebut berhasil menutupi seluruh fisiknya, namun hal tersebut tidak dapat menghalangi Insting Shisui untuk mengenali karakternya dengan mudah.

"Yappari"

Shisui kembali menyimpan pedangnya.

Ia kini melesat menghampiri orang tersebut.

Hingga kini mereka saling berhadapan, tampak sosok tersebut diam terpaku.

"Dugaanku benar, kau masih hidup" ujar Shisui.

Lelaki tersebut menghela nafas.

Shisui memperhatikan beberapa anggota Anbu yang masih terkapar.

"Lepaskan mereka, Itachi" ujar Shisui.

Dengan patuh Itachi pun melaksanakan perintah Shisui.

Setelahnya mereka saling bertatapan, saling menganggukan kepala lalu secara bersamaan melesat pergi.

Meninggalkan beberapa Anbu yang kini saling melemparkan tatapan bingung.

Shisui dan Itachi secara bersamaan melompati pepohonan.

Mereka melewati beberapa pohon, hingga langkah mereka berhenti disebuah bukit.

"Kenapa kau tidak kembali?" tanya Shisui.

"Aku ingin berkelana dan mengawasi desa dari luar" jawab Itachi.

"Tetapi kau tidak berhak mengambil keputusan sendiri, setidaknya minta izin lah kepada Hokage-Sama" ujar Shisui.

Itachi diam.

"Pesan rahasia yang disampaikan kepada Hokage, tentang penyusupan Shinobi Kiri diKonoha"

Shisui menatap Itachi.

"Hokage mencurigai jika pesan itu datang darimu" ujar Shisui.

"Aku mengetahuinya saat menyusup kedesa Kiri" papar Itachi.

Shisui tertawa pelan, "Aku sependapat dengan Hokage-Sama dan ternyata dugaan kami benar"

"Pulanglah bersama kami Itachi" ujar Shisui.

Itachi tidak menjawab.

"Hokage-Sama memintamu untuk kembali"

Itachi menggeleng, "Tidak, Konoha sudah sudah memiliki pelindung yang tangguh seperti dirimu"

"Bagaimana jika aku yang memintamu untuk kembali?" ujar Shisui.

Itachi menatap lurus kedepan, "Aku butuh waktu" jawab Itachi.

Shisui mengangguk, "Boleh, tetapi jangan terlalu lama"

Itachi tidak menjawab.

"Apa kau sudah mengetahui mengenai kabarnya?"

Shisui menatap Itachi.

"Aku senang mendengar kalian sudah menikah"

Shisui menggeleng, "Tidak, bukan itu maksudku"

Itachi menatap Shisui balik.

"Lantas?"

"Dia hamil anakmu Itachi" ujar Shisui.

Itachi membelalakan matanya.

"Apa?!"

"Saat mendengar kematianmu dia sangat terpukul"

Itachi terdiam Shock.

"Dia sudah mengandung saat kau masih bergabung dengan Anbu" ujar Shisui.

"Benarkah yang kau katakan Shisui"

Shisui mengangguk.

"Sekali-sekali temuilah dia, aku menghendaki pertemuan kalian meski dia telah menjadi istriku" ujar Shisui.

Itachi diam seribu bahasa.

Tap Tap Tap

Shisui dan Itachi serempak menoleh, Shisui bergeming ketika melihat ada anggota Anbu lain yang datang.

"Koaru?" gumam Shisui heran.

Seingatnya Koaru tidak ikut serta dalam misi ini.

"Taicho" panggilnya.

Anbu tersebut melirik kearah Itachi, dan kemudian membelalak kaget.

"Itachi Omae!?" pekiknya kaget.

"Ada apa Koaru?" potong Shisui.

Seakan baru ingat Koaru pun dengan sigap memberikan sebuah gulungan kecil pada Shisui.

"Hokage-Sama menyuruhmu kembali kedesa dan menyerahkan misi ini pada Ro"

Shisui membuka gulungan tersebut dan terlihat membacanya.

Setelah beberapa detik Shisui pun membulatkan matanya, dan melipat gulungan tersebut dengan ekspresi panik.

"Sejak kapan dia menghilang?" tanya Shisui.

"Tiga hari yang lalu" jawab Koaru.

Tanpa membuang waktu sedikitpun Shisui melesat pergi.

Meninggalkan Itachi dan Koaru.

"Ada apa Koaru-San ?" tanya Itachi.

"Itachi kau masih hidup!?" tanya Koaru Shock.

"Kita bahas nanti, apa yang terjadi?" tanya Itachi.

Koaru menelan ludahnya.

"Istri Shisui Aniisan menghilang" ujar Koaru.

Itachi terperanjat kaget.

"Kata penjaga gerbang wanita itu pamit untuk pergi kebelakang desa, namun sampai saat ini belum kembali" ujar Koaru.

Namun saat akan berucap lagi, Itachi sudah pergi melewatinya.

o

o

o

o

Kesadarannya berangsur pulih, ia dapat merasakan tubuhnya sedang terbaring.

Namun untuk membuka mata rasanya berat, badannya terasa lemas.

"Dia sudah sadar" ujar sebuah suara.

Ino berusaha membuka matanya.

"Apa yang akan kita lakukan padanya?" ujar suara lain.

Ino pun berhasil membuka mata, dan pemandangan pertama yang disorot oleh matanya adalah Orochimaru yang sedang duduk disebuah kursi sambil memperhatikannya.

"Kita bisa melepaskannya jika dia ingin kembali ke Konoha" ujar Orochimaru.

Ino dengan gerakan perlahan duduk, ia melihat bajunya kini sudah berganti dengan Yukatta.

Serta tangannya yang kini sedang diinfus.

"Orochimaru-San" gumam Ino.

Orochimaru tersenyum menyeringai.

"Tidak lama lagi orang Konoha akan datang kemari" ujar Orochimaru.

Ino terkejut.

"Tetapi mungkin Shisui akan menjadi orang pertama yang akan datang kemari"

"Jangan khawatir, aku tidak berniat bertarung dengan Shisui." ujar Orochimaru lagi.

"Kau pasti sudah tewas jika Karin tidak membawamu kemari" celetuk Suigetsu.

Ino menatap kearah Karin.

"Jangan memaksakan kondisimu, tubuhmu saat ini masih sangat lemah" ujar Kabuto yang baru datang.

o

o

o

o

"Apa yang kau lihat?" tanya Kiba pada Neji.

Neji masih memfokuskan Byakugan miliknya.

"Ino ada disana" ujar Neji.

"Jadi apa kita akan menunggu disini?" tanya Kiba.

Neji mengangguk.

"Hokage memerintahkan kita untuk masuk bersama Shisui-San kedalam" ujar Neji.

"Hah~ kita akan menunggu lama Akamaru" ujar Kiba, ia mengusap kepala Akamaru.

.

.

.

.

Setelah 1 jam berlalu akhirnya orang yang mereka tunggu tiba.

"Shisui-San, Ino ada didalam" ujar Neji.

Shisui mengangguk, "Baiklah kalau begitu, ayo kita masuk"

"Ayo, Kiba" ajak Neji.

"Baik" sahut Kiba.

Lalu mereka bertiga masuk kedalam markas Orochimaru.

Secara bersamaan mereka melesat kesebuah lorong.

Shisui memimpin jalan, mereka bertiga berlari menyusuri lorong gelap tersebut.

Neji mengaktifkan Byakugan miliknya.

Hingga seorang pria dengan rambut berwarna oranye muncul.

Shisui bersiap menarik pedangnya, namun ia urungkan ketika orang tersebut melambaikan tangannya seolah memberitahu bahwa ia tidak akan menyerang.

"Orochimaru-Sama sudah menunggu kedatangan kalian" ujarnya.

"Baiklah antarkan kami padanya" ujar Shisui.

"Baiklah ikuti aku"

Mereka bertiga kemudian berjalan mengikuti orang tersebut.

Shisui bergerak waspada.

Mereka berempat kemudian berbelok kearah lorong lain, hingga terlihat Kabuto sedang berdiri disebuah pintu seakan menyambut kedatangan mereka.

Kabuto menatap lekat kearah Shisui.

"Disini"

Mereka diarahkan untuk masuk kedalam sebuah ruangan.

Disana terlihat Ino yang sedang tertidur.

"Aku sudah menunggu kedatangan kalian" ujar Orochimaru.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Shisui.

Orochimaru tertawa dengan mimik wajah seram, "Jangan khawatir Shisui-San aku tidak tertarik pada istrimu."

"Karin menemukannya dalam kondisi yang buruk, lalu membawanya kesini untuk diberi pengobatan" ujar Orochimaru.

"Benarkah?" tanya Shisui tidak yakin.

"Jangan membiarkan istrimu pergi sendirian dalam keadaan hamil" ujar Orochimaru.

"Dimana kalian menemukannya?" tanya Shisui sedikit terkejut.

"Dia mengalami pendarahan, dan hampir tewas jika tidak cepat ditangani" ujar Orochimaru.

Shisui mendekati Ino.

"Aku akan membawanya"

"Bawalah, dia harus banyak beristirahat" ujar Orochimaru.

Shisui mengangkat tubuh Ino.

"Terimakasih telah menolongnya Orochimaru-San " ucap Shisui.

Orochimaru menyeringai.

Kiba yang melihatnya pun bergidik ngeri.

"Apa kau yakin Ino baik-baik saja?" bisik Kiba pada Neji.

"Mungkin" sahut neji.

Shisui beserta Neji dan Kiba pun melangkah pergi.

Mereka berlari secepatnya hingga kini berhasil keluar dari markas Orochimaru.

Shisui menatap Neji dan Kiba.

"Terima kasih atas bantuan kalian berdua" ujar Shisui.

"Tidak masalah" jawab Kiba dan diangguki oleh Neji.

"Kalian bisa pergi duluan keKonoha dan melapor pada Yondaime-Sama bahwa misi telah selesai"

"Aku akan singgah dipenginapan bersama istriku" ujar Shisui.

"Baiklah" sahut Neji.

"Kami pergi duluan Shisui-San" ujar Kiba pamit.

"Hai" ujar Shisui.

Setelahnya Neji dan Kiba pun pergi.

Sedangkan Shisui berbalik arah dan pergi.

Ia memijaki tiap pepohonan, hingga bertemu dengan sosok Itachi yang sedang berdiri didepan sana.

"Aku akan membawanya ke penginapan" ujar Shisui.

Itachi mengangguk.

"Kau bisa berbicara dengannya saat dia sudah bangun" ujar Shisui.

"Hai"

o

o

o

o

Ino bergerak meregangkan tangannya, lalu perlahan membuka kelopak matanya.

Ia terkejut ketika mendapati Shisui sedang duduk dan membaca sebuah lembaran kertas diatas meja.

Manik mata Ino kini memperhatikan ruangan sekitar, tempatnya sekarang berbeda dengan tempat sebelumnya.

Yang pasti ruangan ini bukanlah tempat Orochimaru.

Tempat ini lebih rapi, nyaman dan cahayanya lebih terang.

"Shisui Nii.." gumam Ino.

Shisui menyematkan senyum hangat.

"Kau sudah bangun?" tanya Shisui lalu mendekati Ino.

"Kita ada dimana?" tanya Ino.

"Kita sedang berada dipenginapan" sahut Shisui.

"Sou Ka"

Shisui mengangguk, "Lebih baik kau beristirahat dulu, Kita baru akan pulang kedesa besok" ujar Shisui.

"Kemarin aku sakit, aku pikir aku akan mati dan tidak pernah bertemu denganmu lagi"

Shisui menggenggam tangannya.

"Tidak apa-apa sekarang kau bersamaku"

"Hai, jangan tinggalkan aku lagi aku takut." ujar Ino.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, jangan takut"

"Ibumu" ujar Ino yang seketika membuat Shisui terdiam.

"Kenapa dengan ibu?" tanya Shisui.

"Ibumu mendatangi aku, dan menyuruh untuk segera berpisah darimu" sahut Ino.

Shisui diam dengan mimik wajah kesal.

"Aku akan berbicara dengan ibu, jadi tidak usah dipikirkan" ujar Shisui.

"Tetapi aku takut" ujar Ino.

Shisui ikut berbaring disamping Ino.

"Jangan khawatir aku akan selalu ada disampingmu" ujar Shisui.

Ino menautkan jemarinya dengan Shisui.

Lalu berbaring menyamping hingga mereka berdua kini saling bertatap muka.

Ino meraba area selangkangan Shisui, namun gerakannya dihentikan oleh Shisui yang kini menggeleng.

"Kenapa?" tanya Ino.

"Kau masih sakit" sahut Shisui.

Ino menggeleng, "Kita lakukan pelan-pelan" pinta Ino.

Shisui kembali menggeleng, "Tidak sekarang Ino, kondisi tubuhmu masih lemah"

Ino memajukan bibirnya.

"Kata Orochimaru kau mengalami pendarahan"

Ino cemberut.

"Kenapa lagi-lagi kau nekat melarikan diri dari desa?" tanya Shisui.

"Aku sakit hati" sahut Ino.

"Tetapi itu tindakan yang sangat gegabah Ino. Bagaimana jika ada musuh yang sedang berkeliaran?"

Ino memalingkan wajahnya.

"Jika terjadi sesuatu padamu bagaimana?"

Ino tak bergeming.

"Aku akan marah besar jika hal itu terulang lagi" tekan Shisui.

Ino masih diam.

"Aku sedang bimbang, apakah harus berterima kasih pada Orochimaru atau berbalik curiga"

"Orang licik seperti Orochimaru tidak akan pernah melepaskan mangsanya secara cuma-cuma, pasti ada sesuatu yang telah terjadi" ujar Shisui.

"Aku baik-baik saja" sahut Ino.

"Aku harap begitu"

Ino menatap Shisui yang kini balik menatapnya.

"Shisui-Nii" panggil Ino.

"Nan Desu Ka?"

"Aku bahagia dicintai olehmu" ujar Ino.

Shisui tersenyum, "Aku bersyukur jika kau bahagia"

"Maukah kau berjanji untuk tidak mencampakkan aku seperti orang itu"

Shisui tertawa.

"Percayalah padaku" tangan kanan Shisui mengelus puncak kepala Ino.

"Itachi dan Izumi sebenarnya saling mencintai" ujar Shisui yang seketika membuat Ino membeku.

Dadanya berdenyut nyeri mendengar kalimat barusan.

Kenapa tiba-tiba Shisui mengungkapkan sebuah fakta yang menyakitkan padanya sekarang?

Kenapa tidak dari dulu?

Pantas..

Tiap menyatakan kalimat cinta pada Itachi, lelaki itu tidak pernah membalasnya.

Sekarang ia mengerti.

"Tetapi diantara mereka tidak ada yang berani mengungkapkan perasaan masing-masing" lanjut Shisui.

"Saat kau datang pada Itachi. Izumi benar-benar sangat marah dan cemburu" ujar Shisui.

Manik mata Ino bergetar.

"Lalu kenapa Itachi menerima perasaanku" gumam Ino tidak percaya.

"Aku tidak tahu pasti, tetapi mungkin karena kau lebih cantik"

Ino memasang ekspresi wajah masam, "A- apa-apaan itu?"

"Mungkin Itachi menyukaimu karena kau lebih agresif" ujar Shisui.

Ino diam dengan ekspresi kesal.

"Berarti dia hanya mempermainkan aku?" tanya Ino.

Shisui menggeleng, "Aku tidak tahu"

"Tetapi Itachi pernah bercerita jika dia pernah ingin mengakhiri hubungan denganmu" lanjut Shisui.

Ino menatap Shisui tidak percaya, lalu kemudian mendecih.

"Apa Itachi menceritakan semuanya padamu?" tanya Ino kesal.

Shisui mengatupkan mulutnya.

"Memang waktu itu dia ingin mengakhiri hubungan tetapi aku menolak" ujar Ino kesal.

"Wanita mana yang mau ditinggalkan oleh pria yang sudah berkali-kali menikmati tubuhnya!?" ujar Ino setengah memekik.

"Dan ternyata dia menceritakan semuanya padamu?!"

"Apa kau tidak berpikir bahwa tindakan Itachi itu jahat?"

"Setiap hari aku selalu merindukan dia, tetapi saat muncul dia tidak pernah mempedulikan aku" ujar Ino.

Buliran air mata mulai jatuh.

Shisui menarik Ino dalam pelukannya.

"Sudah~"

Ino menghapus air mata nya dan balas memeluk Shisui.

Ia sebisa mungkin mengusir pikirannya dari bayangan Itachi.

Ia tidak mau memberi ruang untuk mengenangnya.

Jika selama ini Itachi mencintai Izumi.

Berarti Itachi hanya mempermainkannya?

Ino mendecih.

Lalu mengapa Itachi menidurinya?

Mereka melakukannya sebanyak dua kali, dan itu selalu membekas diingatan Ino

Dan kenangan penuh gairah tersebut semakin membuatnya jatuh cinta pada Itachi.

Ia bahkan hampir gila saat merasa Itachi mulai menghindar darinya.

Berarti Ino hanya dijadikan alat untuk menyalurkan gairah seksual pria itu?

"BAKA !" tanpa sadar Ino berteriak.

Shisui menepuk punggungnya.

o

o

o

o

Cahaya matahari masuk lewat jendela, tubuh Ino menggeliat ketika terkena biasan matahari.

Ino membuka matanya.

Ia menoleh kekanan kiri untuk melihat keberadaan Shisui.

Namun sosok tersebut tidak ada.

Diatas meja sudah tersedia makanan, Ino perlahan duduk.

Lalu bergeser untuk mendekati meja tersebut.

Ino mulai melahap makanan yang ada disana.

Shrekk

Pintu terbuka, ino menoleh untuk melihat siapa yang datang.

Ternyata sosok yang datang adalah Shisui.

"Ah Ino, kau sudah bangun?" tanya Shisui lalu duduk didekatnya.

"Hai" sahut Ino.

"Habiskan makananmu" ujar Shisui, Ino mengangguk.

Ino memakan makanannya.

"Ino, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" ujar Shisui.

Ino menatap Shisui.

"Siapa?" tanya Ino.

"Makanlah dulu" suruh Shisui.

Ino berhenti makan dan kemudian meneguk air digelas.

"Aku sudah selesai, siapa yang ingin bertemu denganku?" tanya Ino penasaran.

Shisui tertawa. "Chotto"

"Masuklah" panggil Shisui.

Tak berapa lama seseorang berpenampilan aneh masuk, jubahnya menutupi separuh dari wajahnya.

Dan bagian kepalanya tertutupi oleh lilitan kain.

"Duduklah, aku akan meninggalkan kalian berdua" ujar Shisui lalu beranjak pergi.

Namun langkah Shisui tertahan ketika Ino menarik tangannya.

"Shisui-Nii" ujar Ino dengan ekspresi takut dan cemas.

Shisui melepaskan tangan Ino, "Tidak apa-apa, dia orang yang sangat baik"

Ino mencuri pandang pada orang tersebut.

"Jangan khawatir, panggil aku jika orang ini berbuat jahat padamu" ujar Shisui sambil tertawa.

"Aku menunggu diluar" ujar Shisui lagi.

Ino mengangguk, "H - Hai"

Shisui kemudian meninggalkan Ino yang masih terpaku dengan penampilan orang didepannya.

"Bagaimana kabarmu?" tanya orang tersebut, Ino tersentak.

Suara berat orang tersebut persis seperti suara seseorang yang ia kenal.

"Anata Wa Dare?" tanya Ino sembari menelisik penampilan orang didepannya.

Pria tersebut membuka ikatan kepalanya, lalu melepaskan jubahnya.

Hingga Ino mematung melihat pria didepannya.

Sedetik kemudian Ino merasakan nafasnya mulai sesak.

"Ka - kau!" pekiknya Shock.

Sebelah tangannya mencengkeram dadanya.

"Kau masih hidup?" tanya Ino masih Shock.

Sebelah tangannya menumpu dilantai, seluruh tenaganya seakan menghilang ketika mengetahui identitas orang itu.

Tangan Itachi mencoba menyentuhnya, namun terhenti ketika dirinya berteriak.

Ino benar-benar tidak dapat menerima kejadian ini.

"HAaaaaaarh!" kepalanya menggeleng dengan keras.

"Kenapa kau datang lagi?!" pekik Ino.

Ia menatap tajam Itachi.

Nafasnya semakin tersengal, Kedua tangan Ino kini menjambak rambutnya sendiri

"Ino hentikan" ujar Itachi yang kini memegang kedua tangannya.

Ino semakin berteriak histeris ketika merasa disentuh oleh Itachi.

"Aaaaarh!" teriaknya sembari memukul kepalanya.

"Setelah kau mencampakkan aku, setelah menyakiti aku kini kau kembali muncul lagi!" teriak Ino dengan keras.

Ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Itachi.

"Maafkan aku" ujar Itachi yang seketika membuat Ino terdiam.

Bagai sebuah mantra, kalimat tersebut dengan sukses menyihir saraf ditubuhnya untuk berhenti bergerak.

Rasa sakit yang ia rasakan selama ini seolah sirna ketika mendengar perkataan bodoh itu.

Lama terdiam akhirnya Ino tertawa, bahkan kini terbahak.

Sembari tertawa Ino meneteskan air mata.

"Kau tidak tahu aku seperti orang gila saat mendengar kabar kematianmu"

Ino menatap penuh amarah pada Itachi.

"Kupikir kau sudah benar-benar mati!" teriak Ino sekencang mungkin.

Dengan mata memerah ia menatap Itachi dengan penuh amarah.

"Aku pikir sudah kehilanganmu untuk selamanya!"

Ino menangis tersedu-sedu.

"Kau sudah mencampakkan aku, lalu kau datang lagi dengan kata maaf!" teriak Ino sesenggukan.

"Kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu!" teriak Ino.

"Aku sudah menyerahkan jiwa dan ragaku pada Shisui"

"Lalu kau muncul dihadapanku dalam keadaan masih hidup!?" teriak Ino habis-habisan.

"Kau jahat Itachi!" teriak Ino semakin keras.

Ino menangis sejadinya, kini suara tangisannya semakin keras.

"Maafkan aku telah meninggalkanmu sendirian"

Itachi menyentuh tangan Ino namun ditepis kasar oleh Ino.

"Maafkan aku telah membuatmu berada dalam situasi yang sulit"

"Sesungguhnya aku tidak bermaksud membuatmu menderita"

Ino masih menangis.

"Meskipun kau telah bersama dengan Shisui, aku akan tetap bersamamu meski hanya mengawasi dari jauh" ujar Itachi.

Volume tangisan Ino semakin bertambah, perkataan Itachi barusan benar-benar membuatnya sakit hati.

"Ada suatu alasan yang membuatku mengambil tindakan untuk menjauh darimu"

"Meski jarak telah memisahkan kita, tetapi aku akan tetap menyayangimu" ujar Itachi.

Ino menangis sekencang mungkin.

Dalam sekali kedipan mata, Ino merasa telah berada dalam dekapan Itachi.

Ternyata sedari tadi ia telah terkena Genjutsu.

Dan setelah sekian lama Ino dapat merasakan kembali kehangatan tubuh seseorang yang sempat menjauh darinya.

o

o

o

o

Lihatlah sekarang ia kembali luluh dengan kehadiran pria itu.

Betapa menjijikkannya dirinya, setelah menekankan dirinya untuk membenci pria yang bernama Uchiha Itachi.

Kini dengan penuh kesadaran ia malah duduk menikmati pelukan sang pria.

Dan yang lebih menjijikkannya lagi, sebuah perasaan rindu kembali timbul.

Itachi melepaskan pelukannya, Ia mengarahkan pandangannya kebawah.

"Apa sekarang kau merasa lebih baik?" tanya Itachi.

Sekali lagi Ino sebenarnya ingin berlama-lama berada dalam dekapan pria itu.

Hah.

Lucu.

Setelah pria itu mengabaikannya dulu, ia pikir ia bisa melupakan pria itu untuk selamanya.

"Ino" panggil Itachi.

Tanpa sadar Ino menoleh, menyebabkan pandangannya kembali bertemu dengan Itachi.

Memori yang ia kubur dalam-dalam kembali berputar dikepalanya, cintanya terhadap Itachi kembali timbul.

Ino sesegera mungkin mengalihkan pandangannya.

Ia tidak mau semakin jatuh cinta pada pria itu.

"Jagalah kesehatanmu dan kesehatan anak kita.." ujar Itachi ragu.

Lama terdiam akhirnya Ino tertawa, lalu sedetik kemudian ia kembali menangis.

Itachi sudah mengetahui kehamilannya ternyata?

Dan ia datang lagi padanya dengan santai mengucapkan kalimat 'anak kita' ?

"Aku akan terus-terusan mengunjungimu" ujar Itachi.

Ino lagi-lagi tertawa, namun tertawaan nya kini lebih keras dan diiringi dengan tangisan.

Itachi tidak adil.

Setelah mengetahui dirinya mengandung, Itachi baru peduli padanya?

Tanpa memikirkan perasaan Ino yang dulu berharap akan kehadirannya?

"Aku tidak memintamu untuk memaafkanku" ujar Itachi.

"Tetapi aku akan mencoba untuk memperbaiki kesalahan yang telah kubuat terhadapmu dulu" ujar Itachi.

Ino menghapus air matanya.

"Kau beristirahatlah, aku akan menemui Shisui" ujar Itachi.

Itachi kemudian berdiri, lalu berjalan keluar kamar.

Meninggalkan Ino yang kembali meneteskan air mata.

Itachi benar-benar mempermainkan perasaannya.

Disaat ia sudah mulai menyayangi Shisui.

Secara tiba-tiba Itachi datang lagi, dan membuat perasaan cintanya kembali tumbuh.

SRAKK!

Tap Tap

Seseorang memasuki jendela.

Ketika menoleh Ino terkejut melihat kehadiran seseorang yang bertopeng, tangan kanannya memegang erat sebuah pedang.

Dengan gerakan yang sangat cepat, kini orang tersebut menyandera tubuhnya.

Belum sempat Ino membuka mulut, sebuah pedang diletakkan dilehernya.

"Diam!" ancam orang tersebut.

Ino mengangguk pasrah.

"Apa kau istri Shisui?" tanya orang tersebut.

Ino mengangguk lemah.

Setelahnya orang tersebut membawanya berdiri.

Lalu membawanya melompat keluar jendela.

Orang tersebut membawanya melompat keatas atap lalu melesat membawanya menuju kearah hutan.

Tak berapa lama orang tersebut berhenti berpijak disebuah pohon.

Dan saat berbalik Ino melihat Shisui dan Itachi sedang bergerak kearah mereka.

Ino terkejut, secepat itu kah mereka menyadari jika dirinya sedang ditawan oleh musuh?

Sebuah pedang diarahkan kelehernya, Ino tersenyum sinis.

Kawanan ini datang diwaktu yang tepat, kebetulan hari ini semangat nya untuk menjalani kehidupan telah sirna.

Salah satu lelaki yang ada didepan sana telah sukses menghancurkan kehidupannya.

Kali ini perasaan cintanya berdampingan dengan perasaan penuh benci.

"Jangan mendekat, atau wanita ini akan mati" ujar orang tersebut.

Ino memperhatikan gelagat Shisui dan Itachi yang diam ditempat.

"Apa Tsuchikage mengirim seluruh Anbu dari Iwa hanya untuk melawanku?" ujar Shisui.

Lewat ekor matanya Ino dapat melihat jika disamping kiri dan kanannya dipenuhi oleh Shinobi Iwagakure yang berpenampilan serupa.

Grebb!

"Akh!" Ino meringis kesakitan.

Lelaki yang menyanderanya menjambak kuat rambutnya.

"Sedikit saja kalian menggunakan Dojutsu, nyawa wanita ini akan melayang!" ancam orang tersebut.

Terlihat wajah Shisui menahan amarah.

"Apa yang kalian inginkan?" tanya Shisui.

"Kau membuatku muak Uchiha Shisui!" teriak orang tersebut.

Perasaan takut Ino menguar entah kemana, sekarang ia puas melihat tatapan mata Itachi.

Dimata Itachi tergambar dengan jelas sebuah ketakutan yang besar.

Ino tertawa puas dalam hati.

"Berhenti memata-matai Iwagakure. Sudah berapa banyak Anbu Iwagakure yang mati ditanganmu!" teriaknya lagi.

"Kembalikan gulungan rahasia yang kau curi dari Iwa" ujar orang tersebut.

"Benda itu ada di Konoha" sahut Shisui tanpa ekspresi.

"Kisama! Fuzakeruna?!" teriak orang tersebut.

"Kau bisa mengambil benda itu pada Hokage-Sama" ujar Shisui dengan nada datar.

"Teme!" umpat orang tersebut.

Ino merasa pedang tersebut dijauhkan dari lehernya, dan kini berpindah dibelakangnya.

Bagai Slow Motion Ino melihat Shisui dan Itachi secara bersamaan mengangkat tangan untuk memberi isyarat berhenti.

Namun sepertinya permintaan tersebut tidak diindahkan oleh orang yang sedang menyanderanya.

Jleb!

Ino merasa sebuah benda tajam menembus dadanya.

Terasa menyayat dan menyobek pembuluh darah di area jantungnya.

Sakit sekali.

Dan semakin sakit ketika pedang tersebut ditarik kembali.

"INOO!"

o

o

o

o

Itachi menangkap tubuh Ino yang terjatuh dari atas pohon lalu membaringkan tubuh Ino dalam pangkuannya.

Nafas Ino terlihat tersendat.

Melihatnya Shisui jatuh terduduk disamping tubuh Ino.

"Ino bertahanlah" ujar Shisui dengan nada bergetar.

Lalu mengusap wajah Ino yang terlihat kesulitan bernafas.

Itachi hanya bisa menatap nanar wanita di pangkuannya.

Tangan Shisui meraba area luka dengan sebuah Cakra, namun sedetik kemudian ia menghentikannya.

"Luka ini sangat fatal" ujar Shisui serak.

"Ino apa kau mendengarku?" Shisui mulai meneteskan air mata.

Sebuah cairan berwarna merah pekat keluar dari mulut Ino.

Shisui menatap semua Shinobi yang masih berdiri didepan sana.

Kilatan amarah dimatanya, menyebabkan sebuah kekuatan besar akhirnya bangkit.

Hingga membuat beberapa orang didepan sana berdiri dengan ketakutan.

Tanpa membuang waktu sedikitpun dengan beringas monster besar yang melingkupi tubuh Shisui mulai menumpas tiap Shinobi yang ada disana.

Ditempatnya Itachi menggenggam tangan Ino.

Dan menempelkan punggung tangan Ino diwajahnya.

"Ino.." gumam Itachi.

Matanya mulai memanas.

Kelopak mata Ino dengan perlahan mulai menutup, Itachi mengetahui sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi.

"Jangan tinggalkan aku.." ujar Itachi dengan nada lirih.

Tanpa bisa ditahan air mata Itachi pun jatuh, dan semakin mengalir deras ketika wanita dalam pangkuannya sudah berhenti bernafas.

Itachi terduduk lemas.

Lalu memeluk tubuh Ino.

"Onegai~" ujarnya pilu.

Itachi menenggelamkan wajahnya diwajah Ino.

Tak berapa lama sebuah langkah terdengar mendekat, tanpa menoleh Itachi mengetahui sosok yang datang adalah Shisui.

Dalam sekejap tempat tersebut telah berubah menjadi lautan darah.

Dengan langkah lemas Shisui kembali mendatangi Ino.

Tangan berlumuran darah Shisui mengambil tubuh Ino dari pelukan Itachi.

Ia menyentuh pipi Ino yang sudah pucat.

"Ino.. Bangunlah" ujar Shisui dengan nada tercekat.

"Aishiteru Yo~" tangannya meraba area mulut Ino, untuk memastikan nafasnya masih ada.

Namun yang diharapkan Shisui tersebut tidak terjadi.

Ia sudah tidak dapat menahan tangisnya, tenaganya seolah menghilang ketika menyadari tubuh wanita yang dicintainya telah terbujur kaku.

Sembari memeluk erat tubuh Ino, Shisui pun berteriak histeris.

TBC